Sunday, September 17, 2006

Naskah Buku Digital (Spiritual Science)

RENUNGAN TUJUH LANGIT
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Saat ini sains mengenal ada 4 wujud elemen alam semesta, padat, cair, gas, dan plasma, tetapi berbagai percobaan di berbagai laboratorium menunjukkan bahawa ada elemen kelima yang mempengaruhi semua proses interaksi di alam semesta. Elemen super cerdas yang mengkonduktori orkestrasi universal. Sebuah elemen misteri yang diduga merupakan bentuk hibrid dari proses interaksi itu sendiri, elemen yang merupakan bagian dari setiap sistem dan sekaligus bagian dari integrasi semua sistem yang yang ada di alam semesta. Adakah elemen itu ? Apakah elemen itu ? Yang jelas elemen itu bukanlah “buku resep” seperti seuntai DNA, lebih rumit dan lebih tak berwujud. Bisa dibayangkan sebuah teori tentang gang Lagrange, dimana di antara benda-benda langit terdapat “jalan-jalan” bebas hambatan karena terletak di titik dimana gaya gravitasi dari benda-benda langit saling meniadakan, sebuah daerah tak bertuan yang memungkinkan seseorang dengan energi minimal menempuhi jarak yang sedemikian jauh dan tak terbayangkan. Titik semacam titik Lagrange inilah salah satu contoh bentuk interaksi super cerdas yang pandai menempatkan diri serta berada dalam ukurannya yang tepat. Perasaan seorang ibu yang gundah gulana ketika memikirkan anaknya yang bersekolah nun jauh di seberang samudera dan ternyata benar apa yang dikhawatirkannya, adalah satu lagi contoh keberadaan elemen kelima. Kemampuan salah satu staf eselon tertinggi Kerajaan Nabi Sulaiman untuk menghadirkan singgasana Ratu Balqis dari Sana’a ke Jerusalem, misalnya, adalah salah satu lagi bukti bahwa elemen kelima memang nyata dan melebihi hipotesa saat ini yang baru sampai pada Grand Unified Theory.

MEGA SISTEM YANG MAHA CERDAS
Mari sejenak kita renungkan dan juga cermati, setiap sistem di dalam kehidupan senantiasa memiliki suatu keteraturan, adaptif, dan mampu memberikan respon sesuai dengan prakiraan. Sebagai contoh adalah proses transportasi oksigen oleh sel darah merah. Untuk beredar ke seluruh tubuh oksigen diikat oleh molekul hemoglobin, yang terdiri dari gugus besi dan protein globin. Ada sebuah orkestrasi yang indah antara karbondioksida, ion klorida, dan air. Kadar karbondioksida yang tinggi dari jaringan tubuh akan bereaksi dengan hemoglobin yang “dipaksa” melepaskan oksigen yang dibawanya oleh enzim 2,3 Difosfogliserat (DFG). Terlepasnya molekul oksigen akan mengakibatkan hemoglobin akan menangkap molekul karbondioksida. Selanjutnya karbondioksida yang berikatan dengan hemoglobin akan beraksi dengan air dan membentuk molekul asam dihidro karbonat. Asam ini kemudian akan “menyumbangkan” satu protonnya (ion H+ ) kepada molekul hemoglobin. Karena kehilangan satu proton maka asam karbonat dapat bertukar tempat dengan ion klorida. Dari yang semuala ia berada di dalam sel maka kini ia keluar dan bergabung dengan cairan ekstra seluler. Mendekati paru-paru, tepatnya di arteri pulmonalis yang menuju gelembung-gelembung alveoli paru ia akan bertukar tempat lagi dengan ion klorida dan masuk ke dalam sel untuk kemudian dengan azas difusi bertukar tempat dengan oksigen. Bagaimana ia dapat masuk kemabli dan bertukar tempat dengan ion klorida ? Karena adanya perubahan derajat keasaman dan faktor kimiawi yang semakin bertambah ketika sel darah merah semakin panjang jalannya. Dari proses itu kita melihat bahwa setiap elemen yang terlibat di dalamnya memiliki suatu kecerdasan yang sistematis. Sekilas mungkin mereka hanya tampak seolah menjalankan fungsi yang ditentukan oleh posisi tawar lingkungan, tetapi sebaliknya mereka juga dapat mengorganisir diri agar tampil optimal. Seperti sebuah tim sepakbola yang tangguh.
Mari sekarang kita sejenak bersama merenungkan juga, betapa tragisnya kisah dan tragedi kemanusiaan yang setiap hari kini kita tonton sebagai komoditas hiburan di berbagai media. Seorang ayah membunuh anaknya, seorang suami membunuh istrinya, seorang istri membunuh anaknya atau juga suaminya, dan seorang anak membunuh dirinya sendiri. Ada apa ini ? Apakah ini juga bagian dari sebuah proses yang sistematis. Dalam konteks psikologi kepribadian yang mengacu kepada pendekatan biososial, terungkap sebuah teori yang mengklasifikasikan polarisasi seorang manusia. Menurut Millon, penggagas teori tersebut, manusia memiliki kecenderungan untuk mencari kenyamanan dan menghindari kesakitan, lalu manusia juga aktif memodifikasi lingkungan dan bersifat akomodatif adaptif. Manusia membangun orientasi dirinya mengacu kepada dirinya ataupun keapda orang di sekitarnya. Sedangkan menurut Eysenk seorang manusia terpolarisasi pada kesakitan dan kesenangan berdasarkan peran struktur biologisnya seperti sistem limbik. Sedangkan saya pribadi lebih cenderung menggunakan pendekatan aktivitas Reticular Activating System yang berangkat dari formatio retikularis untuk mendistribusikan data-data yang diterima dari lingkungan. Pada dasarnya respon yang diberikan oleh seorang manusia mencerminkan niatan kuat untuk memfiksasi kesenangan, menghindari kesakitan, dan memperoleh penghargaan. Wanita dalam hal ini lebih dapat menata data sensoris dari lingkungan, lebih mudah berempati dan berpandangan keluar, berbeda dengan pria yang didominasi pandangan ke dalam dan mementingkan “penghargaan” diri di atas segala-galanya ( Havilland, Malatesta, dkk)..
Bila berbicara proporsi dan proses maka, Allah adalah desainer agung yang sangat hebat dan presisi, coba perhatikan jumlah prosentasi air di permukaan bumi (samudera dan potensi terestrial) adalah sekitar 70%, demikian juga ynag terdapat di dalam tubuh manusia. Bahkan di dalam matematika biologi dikenal suatu pembagian agung (the divine proportion) atau yang disebut phi. Kondisi tragis yang kini terjadi hampir setiap hari saat ini dapat dikategorikan sebagai sebuah hasil dari sebuah proses.
Dulu seekor katak kita duga menempel pada batang pohon yang tegak lurus, tonggak bambu, bahkan kaca rumah, dengan bantuan lendir di kaki atau di selaput kakinya. Tetapi kini fakta ilmiah menunjukkan bahwa ternyata katak menempel justru karena adanya bentukan heksagonal atau bentukan geometris segi enam di permukaan kulit kakinya. Mungkin kadal basilika si pejalan “air” juga memiliki struktur yang sama di selaput-selaput tungkai belakangnya. Struktur ini mengingatkan kita pada sebuah keteraturan yang efisien dari sarang lebah dan bentuk kristal air yang sempurna. Lalu kita dapat mencermati juga hikmah dari fenomena feromon pada ngengat, rayap, dan semut serta juga mamalia besar seperti gajah. Alomon, feromon, periplanon-B, Dodesen Asetat menjadi suatu sinyal kimiawi yang dpat saling mempengaruhi antar spesies. Bukankah pada manusia tingakt keruwetan yang sesungguhnya bteratur ini bisa dijumpai mdalam level yang lebih tinggi ? Sebagai contoh bila seorang manusia mengalami tekanan yang berat pada mekanisme afeksinya, maka ia cenderung untuk mengeksploitasi elemen lain di sekelilingnya sebagai “hak milik”, mengapa ? Karena ia merasa bahwa ia tidak memiliki dan juga tidak dimiliki oleh siapapun. Bagi yang tereksploitasi akan muncul; sensasi tekanan bahwa ruang hidupnya atau ruang ekspresinya dibatasi secara virtual. Sebuah kebaikan yang tidak disadari ataupun sebuah kebaikan yang menzhalimi. Jangan salah, dalam konteks ini kebaikan dapat menghasilkan ketidakbaikan, sebaliknya sesuatu yang tampak tidak baik bisa saja justru menghasilkan kebaikan. Seorang suami yang tampak secara tulus mencurahkan segala cintanya kepada sang istri, belum tentu dianggap sebagai sebuah kebaikan oleh sang istri, demikian pula sebaliknya. Pertanyaan utamanya adalah, baik untuk siapa ? Rerata manusia yang kemudian mengembangkan perilaku obsesif diawalid ari pembiasan konsep baik menjadi baiknya (menurut saya). Elemen lain yang terjebak dalam pusaran arus kebaikan harus menjalankan peran barunya sebagai alat produksi kebaikan ataupun komoditas kebaikan. Suatu kondisi dimana lama kelaman akan terjadi suatu krisis identitas yang berat. Pada titik dimana krisis identitas ini telah menggerogoti sendi-sendi pemahaman diri, maka yang akan muncul adalah disorientasi, alias “kebingungan” dalam menentukan tujuan hidup. Pada kondisi ini polarisasi Millon menemukan jawabannya, manusia hanya akan terfokus pada kenyamanan pribadinya saja. Jangan kelitu, kenyamanan pribadi bukan berarti selalu terkait dengan materi, tetapi sensasi ketika berhasil mensupremasi, menghegemoni serta menyutradarai sebuah film atau sepenggal fragmen kehidupan saja, sudah merupakan kenayamanan pribadi. Rasa tertekan hebat ini mewarnai proses produksi hormonal, serotonin dan 5-HAAI menurun dan mengumumkan kondisi cemas berkepanjangan. Kondisi cemas berkepanjangan ini akan mendorong terciptanya “kegersangan” proses syukur nikmat. Dunia seolah mengkerut dan tinggal menjadi selebar batok kepala. Semua masalah adalah “aku”, dan “aku” harus selalu senantiasa melakukan upaya-upaya untuk “menyelamatkan” diriku. Sebuah pernikahan bisa menjadi momok yang mengerikan. Sebenarnya dalam konsep Islam sebuah perkawinan adalah sebuah proses ibadah yang bernilai tinggi. Dalam proses perkawinan terjadi peleburan nilai “keakuan”, sehingga nilai “aku” tunggal berubah menjadi nilai kebaikan bersama nirkepemilikan. Mari kita renungkan doa Rasulullah ketika menikahkan Ali Bin Abi Thalib dengan putri beliau, Fatimah Azzahra. Rasulullah memohonkan kepada Allah untuk mempersatukan kebaikan dari keduanya. Lebur, dan menghablurlah 2 manusia menjadi pasangan milik Allah. Pernikahan bukanlah semata prosesi legalisasi kepemilikan, melainkan suatu tahapan pencapaian reidentitas diri. Siapa kita sesungguhnya pada saat hidup yang kita duga “milik” kita saja ternyata harus berbagi. Pernikahan menjadi ajang untuk saling berbagi dan seharusnya untuk saling menyadari bahwa kita sebenarnya tidaklah boleh saling memiliki. Pada saat pernikahan terjebak ke dalam sebuah ikatan untuk saling memiliki maka yang terjadi adalah eksplotaisi berlebih yang bahkan nyaris tak kenal batas pada potensi hati kita.
Di sebuah pagi yang cerah saya bersiap-siap untuk menaiki sebuah kapal motor tua dari sebuah dermaga yang tak kalah tuanya tepat di seberang stasiun kereta api tua “Orient Express”. Kapal motor tua yang saya tumpangi berlantai dua dengan bagian atasnya berupa geladak terbuka. Di lantai bawah tercium bau minyak pelumas yang sangat pekat. Tali temali rami (tambang) dan beberapa rantai terjulur mengikat kapal ke dermaga tempatnya bersauh. Tak lama kemudian suara seruling kapal memecahkan keheningan pagi yang hanya tersaput kecipak ombak dan selapis tipis kabut yang beranjak naik melayang perlahan dari permukaan perairan Golden Horn. Dengan guncangan dan getaran yang agak kasar kapal mulai bergerak meninggalkan tempat berlabuhnya. Saya bersandar berdiri sambil berpegangan pada tepian pagar pembatas di sisi lambung sebelah kanan. Laut yang hijau dengan semburat biru meruyak lapang pandang. Sekilas tampak barisan ubur-ubur putih transparan berlomba-lomba berenang berpacu dengan kapal yang semakin melaju. Spesies yang satu ini dikenal dengan nama latin Aurelia, tetapi dalam bahasa internasional sering disebut sebagai Helm Perang Portugis. Bentuknya sangat indah dengan badan yang mencungkup seperti sebuah kubah masjid dengan juluran tentakel atau alat geraknya yang berumbai-umbai menjuntai. Bila ia berenang maka umbai-umbainya seolah tampak melambai-lambai dalam gerakan yang gemulai. Salah satu saudara dekatnya, yaitu Aplisia, sering dipergunakan sebagai obyek penelitian persyarafan. Sistem syaraf Aplisia sederhana, transparan, dan mudah diamati, mirip dengan Chenorabditis sebangsa cacing yang tergolong ke dalam keluarga Nematoda. Bila dibandingkan dengan sistem syaraf manusia maka sistem syaraf ubur-ubur dan aplisia terlihat sangat primitif dan begitu ringkas. Tapi kita jangan sampai keliru menilai sebuah kesederhanaan. Sebuah sistem yang sederhana terbukti dapat memfasilitasi fungsi yang teramat rumit dan kompleks. Pada spesies-spesies sederhana ini manusia belaajr tentang proses transfer data, jenis data yang dikirimkan (ditransmisikan), metoda pengirimannya, bagaimana data dikemas (dekoding), dan bagaimana data tersebut kemudian diurai kembali serta dimaknai sebagai sebuah pesan. Lalu pada gilirannya pesan itu akan menghasilkan respon, dimana jenisnya amat bergantung kepada sistem analisa dan pengambilan keputusan individu yang terkait. Sistem syaraf berkembang dari sebuah peradaban biologis awal yang diduga berasad dari sekumpulan elemen dasar kehidupan. Proses penciptaan manusia dalam Al-Quran digambarkan seumpama pembuatan keramik dari tanah. Dalam mekanisme itu terdapat suatu proses yang disebut dengan polimerisasi, yaitu terbentuknya suatu kompleks molekul dengan cara menambah jumlah ikatan antar molekul. Bila kita merujuk jauh ke sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu, maka materi awal kehidupan adalah sekumpulan elemen yang belum terorganisir. Satu demi satu terbentuklah organisasi sederhana melalui suatu pola yang pasti. Dalam ketidakteratutan dan ketidak pastianpun tercipta sebuah kepastian. Sinergisasi dari berbagai elemen ini diduga melaui suatu proses belajar yang berkelanjutan. Dalam fluktuasi energi penciptaan yang bergejolak secara dinamis tadi partikel-partikel di tingkat nano mulai mengembangkan pola belajar untuk mencapai posisi dan proporsi yang tepat untuk menjalankan peran jenisnya. Setiap partikel belajar untuk menempatkan dirinya secara tepat dan menjalin interaksi secara simbiosis mutualisma. Sekumpulan partikel kecil bersama-sama membentuk keluarga quark, untuk selanjutnya membentuk keluarga atom, dimana ada partikel yang berperan sebagai elektron yang mengorbiti inti atau nukleus. Ada yang belajar darikebutuhan dan suasana lingkungan yang deterministik dan tanpa disadari mengajari partikel-partikel tertentu untuk menjadi proton dan netron. Ada pula yang berperan sebagai partikel antagonis seperti positron. Di dalam sebuah keteraturan dan proses belajar terdapat pula fenomena keseimbangan. Konsep seimbang ini berlaku dalam kategori jumlah, bobot, serta peran. Semua itu terjadi dalam proses belajar yang berkesinambungan. Kepekaan terhadap kondisi lingkungan dan kemampuan untuk beradaptasi dengan menjalankan peran jenis yang sesuai adalah sebuah sistematika yang luar biasa. Kemampuan untuk berorganisasi secara sinergi dan kemampuan untuk saling mengsisi serta berbagi fungsi sunnguh menunjukkan adanya suprasistem yang menjadi otak sebuah proses. Kondisi keteraturan dan kecerdasan asli (genuine intelligence) inilah yang di masa kini menjadi obyek eksploitasi manusia sebagai makhluk berakal. Sebagian contoh Ehud Saphiro dan timnya dari Weizmann Institute mengembangakan sebuah metoda komputasi dengan menggunakan molekul DNA, prosesor dan superkonduktor juga memanfaatkan sifat dasar partikel yang terjabarkan dalam fisika quantum, juga virus M13 kini dijadikan anoda bagi baterai terkecil di dunia, jamur fusarium menjadi “otak” pencari air bagi sebuah robot yang dibuat di Southampton Inggris. Teknologi kloning dan rekayasa genetika mungkin terjadi karena sifat dasar partikel. Bila merujuk pada konsep dasar bahwa setiap elemen di alam semesta memiliki sebuah sistem yang cerdas, maka akan dapat dijelaskan berbagai fenomena yang terjadi di masa-masa awal penciptaan alam semesta. Kembali ke sistem syaraf, sistem syaraf adalah sebuah sistem yang dibangun sebagai prasyarat untuk mampu megurai tanda dan memberi makna dalam kehidupan. Sistem syaraf adalah perkembangan paling mutakhir dari sistem peringatan dini (early warning system) dari spesies yang secara biologis telah memiliki fungsi kompleks. Pada beberapa spesies bersel tunggal seperti keluarga prokariota, sistem penginderaan dan sensor terhadap lingkungannya diperankan oleh kepekaannya terhadap faktor kimiawi. Hal terpenting yang perlu digarisbawahi adalah kenyataan bahwa setiap elemen di alam semesta memiliki kemampuan belajar ! Konsep belajar secara universal adalah suatu proses untuk mengidentifikasi keadaan, menganalisa, serta menelurkan respon berupa sistem pengambilan keputusan. Kegiatan ini kemudian terpola dan menjadi bagian dari aktifitas dasar kehidupan. Elektron yang tereksitasi dari matahari akan belajar menjalankan fungsi barunya yaitu menjadi bagian dari sebuah kelompok yang yang bernama paket quanta. Paket ini menjalar seperti gelombang dan juga secara bersama-sama menempuh perjalanan antar bintang yang bersifat siklikal. Komitmen untuk menjalankan sebuah fungsi secara berjamaah tampak pada atom-atom karbon penyusun sebuah pokok kayu misalnya, kumpulan atom-atom itu dikelola oleh sebuah sistem biologi yang bertugas untuk mensupport kebutuhan energi, menjalankan aktifitas ekspresi diri melalui proses translasi protein khusus, bahkan setiap jenis pohon diciptakan sebagai bagian tak terpisahkan dari evolusi lingkungannya. Perhatikan tumbuhan kaktus di New Mexico, ataupun tumbuhan gurun berdaun dengan bulu tebal dan stomata dapat tertutup rapat pada hari-hari yang teramat panas. Mari kita perhatikan pula kantong semar (nepenthes), putri malu, ataupun berbagai jenis algae yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Mereka berkembang menjadi sempurna dan selaras dengan ruang hidupnya atau media keberadaannya. Ketika bumi mulai mendingin di hari-hari awal pasca proses penciptaan, maka atom-atom cerdas ini mulai membentuk gugus-gugus kerja dan satuan keberadaan, ada yang menjadi sulfur, ada yang menajdi metana, ada yang menjadi oksida, ada yang menjadi logam berat, logam mulia, halogen, dan ada pula yang muncul dengan bobot ringan dan tampil sebagai gas. Lalu peradaban manusia berkembang, perkakas dan perabotan mulai diproduksi secara masaal, seni telah menajdi semacam bentuk ekspresi dan penanda eksistensi (keberadaan). Lukisan dinding di gua, nekara, menhir, dolmen, waruga, piramida, candi, dan reruntuhan istana menjadi bukti bahwa sistem syaraf manusia telah berkembang cukup jauh sehingga dapat menjadi subsistem aktif yang turut mewarnai proses berkelanjutan alam semesta yang mekanistik. Manusia juga mencerminkan pola-pola mekanistik. Meski terkadang pola tersebut tampak sebagai suatu hal yang bersifat destruktif, tetapi dalam koriodor proses, kerusakan adalah bagian dari perkembangan itu sendiri. Alam semesta senantiasa akan menemukan homeostasisnya. Manusia hadir di muka bumi, secara hipotetikal bisa saja merupakan sebuah konsekuensi logis dari sebuah sistem cerdas yang berkecenderungan untuk semakin bertambah cerdas. Kita, saya dan anda adalah salah satu “sekrup” mekanik yang menjamin berjalannya mesin alam semesta di jalurnya yang benar. Bila keberadaan manusia pada suatu waktu akan mengakibatkan terbabat habisnya hutran trpois dan semakin menunrunnya kualitas lapisan atmosfer bumi, maka itu adalah bagian yang diperlukan bumi dan alam semesta secara keseluruhan untuk berproses. Keberadaan akal dan posisi tawar serta kemampuan berkomunikasi serta berinteraksi dapat menjadi penyeimbang yang bersifat moderasi. Tetapi lama-kelamaan kapasitas akal yang maujud dalam bentuik capaian teknologi akan kehabisan energi ketika berpacu dengan perubahan status daya dukung. Bumi yang bopeng akan menghimpit dan tidak lagi memberi sekedar ruang bagi manusia untuk menghirup sejumput udara segar. Manusia menempa berbagai jenis logam dengan karakteristik yang berbeda dan dipiulah hanya diambil sifat-sifat utama dan mulianya saja, maka kita mengenal titanium alloy. Atom-atom karbon dilatih dan ditempa agar menjalani fungsi barunya yang sangat pedat, lentur, tetapi tidak getas, tahan panas (gerak brown dan efek tyndal minimal). Kondisi ini menggambarkan manusia telah menciptakan kondisi yang harus diterima oleh elemen-elemen lain yang notabene mnerupakan teman hidup di alam semesta. Kehadiran manusia bila mengacu kepada sifat dan proses manipulasinya yang deterministik dapat dianalogikan dengan enzim yang bersifat katalitik. Kehadiran manusia adalah saccharomyces atau ragi kue yang akan emmeprcepat dan menyempurnakan proses pembuatan sebuah kue. Dalam prosesnya ragi melakukan fermentasi atau pembusukan, demikian juga peradaban. Peradaban melakukan pembusukan secara terstruktur. Budaya dan sistem politik membuat manusia terpolarisasi dan terkerangkeng dalam penjara keberpihakan. Manusia banyak kehilangan energi untuk mengaktualisasikan nilai dan konsep yang diyakini dan menganeksasi keyakinan orang lain. Budaya tercipta untuk selalu dibenturkan, dan menciptakan gegar dan sesar. Bumi menjadi terbelah, pemikiran selalu mengundang pro dan kontra. Lalu manusia mulai merasa ketakutan terhadap bayangan suram dirinya sendiri. Agresi menajdi senjata untuk mencari identitas diri yang semakin luntur karena terjadinya disorientasi. Apakah budaya sebuah produk yang salah ? Tidak ! Budaya adalah sudah seharusnya saling berbenturan dan memunculkan perbedaan persepsi dan perspektif yang teramat lebar dan tidak bisa dipertemukan. Karena budaya adalah bagian dari sistem cerdas kesemestaan yang harus berkembang dengan segala implikasi dan konsekuensinya. Jika pada suatu hari gegar budaya yang terjadi sudah tidak terkendali lagi, maka alam akan memfasilitasi hadirnya sebuah tatanan baru (new order). Homeostasis atau keseimbangan unsur akan muncul tidak saja pada budaya yang saling memahami melainkan akan muncul pula pada budaya yang saling menafikan bahkan saling menghancurkan. Sistem cerdas yang berlaku pada aspek budaya sama sekali tidak berbeda dengan sistem cerdas yang menciptakan tatanan di tingkat partikel elementer ataupun di tingkat spesies biologi bersel satu seperti virus. Saat atom diajari menjadi meja maka ia akan berbeda dengan kursi ataupun kulkas. Saat sebuah masyarakat berkoloni, berkumpul, dan dibesarkan di sebuah lokus yang melahirkan budayanya yang primordial maka jelas ia akan berbeda dengan budaya yang dilahirkan di lokus-lokus lainnya. Jika demikian, apakah akulturasi harus dihindari ? Tidak ada yang harus dihindari, bila sebuah sistem dapat menghegemoni sistem lainnya dan itu terjadi bahkan setelah dihambat secara mati-matian, maka biarkanlah terjadi. Bila seisisi dunia nantinya akan bernaung dalam sebuah keyakina terhadapo nilai tunggal, maka memang sudah semestinyalah hal itu harus terjadi.
Kembali ke Ubur-Ubur, Aplisia, dan sistem syaraf. Sistem ini secara evolutif terus berkembang dan memunculkan wacana baru tentang kebijakan. Muncul diskursus antara otak/sistem syaraf dengan pikiran. Pikiran berkembang menjadi produk abstrak yang mewarnai setiap sistem pengambilan keputusan. Keputusan cerdas selama ini diyakini sebagai potensi yang hanya dimiliki oleh manusia. kemampuan mengurai tanda dan “pesan” serta “kesan” sensoris menjadi abstraksi, imajinasi, dan proyeksi prospektif diklaim sebagai pembeda utama antara manusia dengan makhluk lainnya di alam semesta. Sedikit sekali manusia yang menyadari bahwa kecerdasan dan “kelebihan” pikirannya itu sebenanrnya adalah suatu kewajaran yang tercipta seiring dengan proses adaptasi peran diri. Faktor kreasi dan kemampuan untuk “menciptakan” konsep, sistem, serta pola-pola dalamberbagai aspek kehidupan seolah membuat manusia menjadi representasi Tuhan yang berderajat mulia. Padahal secara eksplisit di Al Quran surat At-Tin Allah SWT telah mengingatkan bahwa manusia memang makhluk yang sempurna (taqwim) sebagaimana kesempurnaan semua elemen ciptaan Allah lainnya, tetapi karena “pikirannya” maka kita dapat menjadi makhluk yang berada di derajat yang sangat rendah, bahkan paling rendah. Sistem syaraf pada berbagai spesies bila diamati secara cermat memiliki kesamaan yang sangat mencolok, yaitu terdiri atas dua fungsi utama. Pertama menerima rangsang dari dunia luar dan dari jaringan internalnya serta memberikan respon baik motorik maupun otonom sebagai reaksi cerdasnya. Secara epistemologis jaringan dan sel syaraf merupakan hasil diferensiasi fungsi dari sel-sel primordial atau sel-sel awal. Pada mulanya semua sel biologis adalah sejenis dan berkembang sedemikian rupa dengan mengedepankan acuan kebutuhan situasional serta kondisi deterministik. Di tingkat embrional dapat kita lihat urutan sebagai berikut, setelah sperma membuahi sel telur (proses konsepsi), maka akan terbentuk sebuah sel yang bernama zygot, zygot akan membelah secara mitosis menajdi 2, 4, 8 sel dan seterusnya. Di tingkat blastokista kumpulan sel tersebut akan “menanamkan diri” di dinding rahim atau endometrium (proses ini disebut nidasi). Setelah itu janin akan berkembang dan berdiferensiasi. Ada 3 bagian/lapis utama dalam proses perkembangan janin, yang pertama disebut entodermal, kemudian mesodermal, dan yang terakhir adalah ektodermal. Dari ketiga lapisan itulah kelak akan terbentuk jaringan-jaringan tubuh yang sangat lengkap dan sempurna. Tulang, otot, organ, jaringan penunjang, epitel, kulit, dan syaraf semua berasal dari sel tunas yang sejenis. Pengorganisasian terjadi di dalam rahim dengan cetak biru yang tgercipta karena adanya kecerdasan yang sistematis. Setiap sel menyadari peran diri dan fungsi yang diembannya. Lalu tahap berikutnya adalah proses optimasi potensi melalui tahapan diferensiasi. Sel-sel tunas mengembangkan potrensi komunitasnya melalui sebuah proses komunikasi yang intens, interaktif, dan saling pengertian yang luar biasa. Budaya asertif, atentif, dan empatif menjiwai setiap pengambilan keputusan di tingkat seluler. Perlu diingat bahwa cetak biru pembagian fungsi tidak hanya tertera di dalam untai asam nukleat DNA saja melainkan juga perlu mekanisme pengambilan keputusan di saat proses pengekspresian. Bila di tahap awal semua sel tunas bersifat multipotensialitas atau sering disebut totipoten, maka sebenarnyalah bahwa setiap sel dapat berkembang menjadi apa saja sesuka dan sekehendaknya, tetapi fakta membuktikan bahwa setiap sel senantiasa mengembangkan jati dirinya yang tepat dan sesuai dengan kehendak lingkungan. Misteri ini hanya bisa dipahami bila kita memandang bahwa setiap elemen di alam semesta termasuk sel dianugerahi oleh Allah SWT kecerdasan. Banyak teori yang mengajukan hipotesa bahwa diferensiasi terjadi karena adanya regulasi faktor stimulans atau perangsangan ekspresi protein. Rangsangan yang tepat akan menghasilkan sekumpulan sel yang tepat, begitu sederhananya. Tetapi hipotesa tersebut sesungguhnya semakin menunjukkan bahwa setiap sel memiliki kemampuan logika dan rasionalitas sehingga bisa menunjukkan pengertian dan kepatuhan terhadap kondisi dan stimulans yang menyangkut masa depannya. Setiap elemen tahu secara pasti takdirnya. Inilah yang barangkali bisa disebut sebagai takdir lahir, mereka dan kita sesungguhnya memahami apa arti qadha dan qadar.
Bila kita beranjak dan bangkit untuk sedikit mencermati berbagai teori perkembangan biologis yang kini diyakini, ada suatu arus utama yang meyakini bahwa asal muasal kehidupan terestrial (daratan) adalah berasal dari kehidupan aquatik. Bahkan seorang penulis fiksi ilmiah yang sekaligus seorang guru besar sastra Inggris menulis dalam novel parodi the Da Vinci Code, yang diberinya judul the Va Dinci Cod, bahwa makhluk cerdas yang sesungguhnya mengatur dan menjaga kesetimbangan sistem di muka bumi adalah sekumpulan ikan Cod di sebuah palung nun di lautan Artik sana. Tak pelak teori keluar dari air ini mendapat banyak sanggahan keras. Padahal bila kita cermati dalam beberapa ayat suci Al-Quran tersurat bahwa air adalah dasar dan asal muasal kehidupan, dari airlah segala sesuatu yang hidup diciptakan. Dalam pengertian sains, peran air memang teramat luas mulai dari ranah kimiawi, fisika, sampai dengan biologi. Bahakan kini masalah air telah berkembang menajdi bagian dari kajian politik dan kultural serta ilmu bisnis. Air adalah komoditas terpenting di muka bumi, ia bersama udara menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah bisnis besar yang bernama “kehidupan”. Teori keluar dari air ini akhir-akhir ini mendapat sebuah fakta biopaleontologi yang sangat kuat. Alkisah di sebuah pulau besar bernama Ellesmere (termasuk 10 besar dunia) yang terletak di wilayah Kanada, Neil Shubin dan rekan-rekannya dari University of Chicago menemukan sebuah fosil tetrapoda yang diperkirakan berasal dari era Devonian yaitu suatu era yang berlangsung antara 300-400 juta tahun yang lalu. Fosil ajaib itu diidentifikasi sebagai Tiktaalik Roseae, yaitu sejenis ikan berkaki yang bermoncong bak buaya dan hidup di anatar amasa hidup ikan Panderichtys (385 juta tahun lalu) dan tetrapoda Acanthostega dan Ichtyostega ( sekitar 365 juat tahun yang lalu). Tiktaalik seolah menjadi sebuah ujung lorong yang menawarkan kecerahan sinar mentari pagi. Tetrapoda yang satu ini pada saat ditemukan memang terperangkap di sebuah daerah sekitar 960 km dari kutub utara, tetapi pada masa Devonian pulau Ellesmere adalah bagian dari benua Pangea yang terletak di seputaran garis khatulistiwa. Seiring dengan perkembangan dan penyempurnaan bentuk geologis maka benua-benuapun bergeser, gunung-gunung berlari, dan bertasbih menjalankan fungsi yang telah digariskan oleh Sunatullahnya. Mengapa khatulistiwa menjadi daerah awal peradaban daratan ? Karena daerah ini memiliki intensitas paparan matahari yang tinggi yang memungkinkan sel mengembangkan kemampuannya untuk mendaur ulang energi foton menjadi energi kimiawi berbasis rantai elektron. Alga mengembangkan kemampuan fotosintesa, Xoozanthela adalah alga hijau yang mampu beradaptasi sempurna, berdamai, dan bersinergi dengan teriknya cahaya matahari. Kecerdasan untuk mengoptimasi dan mengefisiensikan energi yang telah dikaruniakan oleh Allah secara berlimpah inilah contoh dari sebuah kecerdasan yang luar biasa. Kecerdasan ini bila ditelaah secara lebih menalam akan terkategorisasi menajdi kecerdasan individual atau kecerdasan personal, setiap elemen memeiliki kecerdasan dasarnya sendiri, atau bisa kita istilahkan sebagai kecerdasan elementer. Pada tahap selanjutnya kecerdasan ini akan bersinergi menjadi sebuah kecerdasan jaringan. Kecerdasan ini terdapat pada setiap tingkatan, apda jaringan atom konsep berpasangan dan adanya mekanisme orbital menunjukkan kecerdasan komunal ini, pada tingkat sel kecerdasan ini terdapat pada keteraturan dan kebersamaan pengambilan keputusan serta pengembangan sistem pengelolaan antara berbagai organela dalam sitoplasma. Pada tingkatan organ kecerdsasan jaringan ini berkembang menjadi kecerdasan fungsional, dimana secara bersama-sama sebuah organ mampu menjalankan tugas yang diembannya. Di tingkat individu maka kecerdasan jaringan semakin meluas dengan berinteraksi di antara kluster-kluster kecerdasan jaringan sekunder. Di tingkat ekosistem, kecerdasan jaringan ini berkembang menajdi suatu harmoni dalam bentuk interaksi. Dengan kata lain hirarki kecerdasan ini dapat digambarkan sebagai sebuah konsep “kecerdasan Ukhuwah”, yaitu suatu kecerdasan yang dibangun secara bersama-sama dan mengoptimalkan peran dari masing-masing kluster kecerdasan di tataran yang lebih rendah. Kecerdasan ukhuwah adalah kecerdasan orbiter atau kecerdasan Thawaf, dimana setiap lapis putarannya adalah wajib dan berperan secara deterministik dalamn menentukan kualitas akhir yang akan bermuara pada kecerdasan kosmik atau kecerdasan yang berkesadaran Illahiah. Marilah bersama kita renungkan firman Allah yang menyatakan bahwa Allah SWT menciptakan segala sesuatu dengan ukuran (proporsionalitas), bukankah kecerdasan adalah ciptaan Allah ? Dan bukankah kecerdasan juga berhak untuk menempatkan dirinya sesuai dengan proporsi yang telah ditetapkan bersama. Mengapa ditetapkan bersama ? Karena kecerdasan elementer adalah kecerdasan adapatif yang mampu mengurai tanda dan mengolahnya agar menjadi respon yang sempurna, maka kecerdasan itu menggolongkan dirinya ke dalam kategori peran yang dijalankannya. Setiap ruang hidup (chora) tercipta karena adanya kecerdasan untuk saling mengisi dan mengayomi, bila di dalamnya terjadi pula berbagai benturan budaya dan agresi antar makhluk, maka itu adalah bagian dinamis dari sebuah perjalanan alam semesta. Cacing perut misalnya, tercipta karena ia dibutuhkan oleh sebuah sistem yang dikenal sebagai imunitas manusia atau mamalia. Sistem imunitas tercipta karena adanya kebutuhan adapatif dari manusia dan beberapa jenis hewan lainnya untuk bertahan dan berkontribusi maksimal pada lingkungannya. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat pada makhluk lainnya ? Tanpa keberadaan manusia maka cacing perut tidak akan langgeng keberlangsungan spesiesnya, sebaliknyapun demikian pula. Setiap sistem harus dilengkapi dengan faktor stimulan dan faktor pengendali, dari fakta ini jelas tampak bahwa sesungguhnya tidak ada sistem yang bersifat chaos. Setiap sistem serumit apapun akan selalu memiliki keteraturan dan berjalan sesuai dengan pola yang telah ditentukan secara musyawarah di antara seluruh elemen yang terlibat. Cacing perut adalah spesies evolutif yang berfungsi untuk mengontrol aktifitas sistrem imun humoral (sistem kekebalan cair) manusia. Kehadiran cacing perut akan mengaktifkan jalur yang disebut jalur Th2 atau jalur yang akan mendorong diproduksinya Imunoglobulin yaitu sejenis protein yang larut dalam cairan tubuh, proses produksi Imunoglubulin akan mengakibatkan konsentrasi sistem imun terfokus pada prosesi itu, akibatnya sistem imunitas kembarannya yang disebut sistem imunitas seluler yaitu sistem kekebalan tubuh yang melibatkan peran aktif sel-sel limfosit menjadi sedikit berkurang aktifitasnya. Kondisi ini mengakibatkan adanya sedikit kelonggaran dalam proses penjagaan jalan masuk ke saluran telur, sehinghgga seorang wanita akan dapat dibuahi oleh sel nutfah pria dengan lebih mudah dan akan memiliki probabilitas kehamilan yang jauh lebih tinggi. Pada tahap selanjutnya kondisi interaksi yang bersifat simbiotik ini akan memudahkan pula proses nidasi atau penanaman blastokista ( hasil pembelahan dari sel telur yang telah dibuahi) ke dinding rahim. Mengapa bisa demikian ? Karena minimnya aktifitas imunitas seluler akan mereduksi kadar interferon gama, suatu zat cair yang biasanya menghambat proses penanaman blastokista ke dinding rahim. Memang tidak semua mekanisme kehamilan berjalan sebagaimana ilustrasi di atas, tetapi dari narasi tersebut kita bisa mengambil hikmah penting bahwa setiap elemen yang terlibat dalam kehidupan kita secara bersama-sama membangun sebuah sistem cerdas yang saling mengisi dan bersifat kontributif. Peran diri yang jelas dan diferensiasi potensi serta posisi juga dapat dicermati pada proses pemilahan sel limfosit di kelenjar timus. Limfosit sebagaimana kita ketahui adalah sebuah sel yang bertugas untuk menjaga tubuh manusia dari berbagai dampak buruk yang terjadi akibat interaksi dengan dunia luar ( lingkungan eksternal). Tetapi dalam proses pematangannya ( proses maturasi) limfosit haruslah melalui suatu mekanisme penapisan ( screening) di kelenjar timus. Mengapa harus ditapis terlebih dahulu ? Karena dalam perkembangannya ada limfosit yang terbentuk tidak sempurna dan tidak mampu mengenali antigen ( protein yang dikenali sebagai agen yang berpotensi menimbulkan masalah) secara proporsional, bahkan sel-sel limfosit ini dapat menyerang bagian-bagian tubuh kita sendiri. Mengapa mereka menjadi tidak mampu mengenali rekan dan saudaranya sendiri ? Hal ini berawal dari kegagalan silaturahmi, dimana pada proses silaturahmi tersebut semua data tentang rekan dan saudara dari sel limfosit dipaparkan dan dijelaskan secara gamblang kepada calon-calon sel limfosit. Tetapi karena adanya intervensi yang bersifat negatif ataupun dampak dari sebuah proses adapatasi yang tercipta dari sebuah interaksi maka terjadilah “kegagalan” sistem. Apakah kegagalan sistem adalah memang sebuah kegagalan ? Tidak, sebuah kegagalan sistem adalah sebuah “keharusan” untuk mengembangkan sub sistem berikutnya yang bersifat reparatif. Sebuah proses kegagalana dalah media untuk emngembangkan sistem perbaikan dan sekaligus sebagai alat penyempurna sistem yang telah berjalan. Terbukti dari kegagalan sistem pengkaderan sel limfosit, maka tubuh mengembangkan sebuah sistem penapisan dengan bantuan kelenjar timus. Beberapa sel yang tergabung di dalam kelenjar timus akan berkoordinasi untuk menajdi tim “penguji” kesahihan sebuah sel limfosit muda sebelum mereka diterjunkan untuk bertugas. Peran baru sepereti ini tentu tidak begitu saja tertulis di DNA manusia yang menurut sebagian pakar disebut sebagai sumber rujukan segala sifat biologis. Seandaninya memang semua pembagian fungsi sudah tertera di DNA maka pertanyaan berikutnya bagaimana setiap sel yang masing-masing memiliki DNA yang sama bisa berdiferensiasi dan memainkan peranya masing-masing dengan karakteristik yang nyaris berbeda sama sekali dengan sel saudaranya ? Ada beberapa mekanisme lainnya yang menyebabkan sebuah sel dapat bertindak cerdas, mampu mengurai pesan lingkungan, menerjemahkan, menganilas, dan memberikan respon yang sesuai. Respon yang sesuai ini memang dimungkinkan dengan keberadaan DNA, dimana semua cetak biru protein sebagai ekspresi respon sel telah tersedia. DNA juga mungkin telah menyediakan berbagai piranti untuk menunjang kemampuan cerdas sebuah sel. Tetapi untuk mewujudkan itu semua diperlukan sebuah algoritma atau diagram alur yang memungkin sebuah sel mengambil keputusan untuk menjalankan peran dirinya. Kelompok sel-sel investigator dan reviewer di kelenjar timus tahu dengan tepat tugas mereka dan siapa yang ahrus mereka evaluasi. Mereka juga tahu secara persis berapa jumlah sel yang diperlukan untuk menjadi sebuah tim investigasi, jumlah mereka tidak berlebihan juga tidak berkekurangan. Kecerdasan semacam ini bila boleh disimpulkan adalah sebuah kecerdasan terintegrasi yang melibatkan seluruh elemen baik internal maupun eksternal dari sebuah sel. Bila kita menyimak tentang penemuan polimer nano komposit yang dipergunakan oleh salah satu industri otomotit terbesar di dunia untuk menjadi bahan dasar pembuatan bemper mobil, maka kita akan melihat bahwa sekumpulan partikel nanao saja dapat belajar dan dapat diajari. Dengan kata lain pengkondisian akan peran akan direspon dengan ekspresi kepatuhan. Metoda skolastik ternyata tidak hanya berlaku pada sekumpulan manusia saja melainkan dapat pula diterapkan di tingkat partikel. Polimer nano komposit secara sederhana dapat digambarkan sebagai sekumpulan partiekel yang telah dikondisikan dan dilatih utnuk emmperthanakan suatu bentuk awal. Sehingga bila terjadi suatu benturan atau adanya kekuatan mekanis yang mengubah bentuk semula maka sekumpulan partikel tersebut akan dengan cepat menyesuaikan diri, mengkonsolidasi potensi dan kembali kepada bentuk semula yang telah “ditakdirkan” kepada mereka. Kenyataan ini meruyak kesadaran kita tentang konsep takdir. Dengan demikian takdir dapat dianalogikan dengan sebuah pengkondisian atau konsep awal yang yang telah ditetapkan. Lalu konsep tersebut dicangkokkan dan dijadikan memori paling dasar dari setiap partikel elementer. Sehingga kelak secara akumulatif “kontrak lahir” yang telah diteken secara massal oleh setiap partikel elementer itu akan menuruti cetak biru yang telah disepakati bersama. Jalanya mungkin berbeda-beda, akan tetapi hasil akhir tidak akan pernah meleset dari apa yang telah didesain di proses awal penciptaan. Bila sekelompok sel timus dapat bertindak sebagai investigator yang cermat dan bersikap adil, maka sesungguhnya setiap sel manusia lainnya dapat pula memainkan peran serupa, tetapi karena sistem cerdasnya telah menganalisa kebutuhan lokal dan kebutuhan “jamaah”nya (komunitas) maka sel-sel lain tidak semua ikut-ikutan menjadi minvestigator. Demikianlah setiap sel dalam tubuh manusia kemudian berkembang berpuak-puak dan bersuku-suku dengan spesifikasi tugas yang berbeda-beda tetapi tetap dalam satu koridor yang menjamin sinergisitas. Itulah keistimewaan algoritme elementer yang dapat mengembangkan varian pola tetapi tetap dengan satu ntujuan dasar yang seragam.
Di sisi lain mari kita cermati pula pola-pola kebudayaan yang berkembang diberbagai belahan dunia dari lapisan kurun-kurn waktu yang berbeda-beda. Semua menunjukkan suatu kesamaan pola yang bersifat konsisten. Marilah kita tengok rumah-rumah peri di Cappadochia Turki, rumah gua di Matmata Tunisia, istana tebing di Petra, marilah kita tengok berbagai piramida mulai dari yang berada di Giza Mesir, piramida Inca, Piramaida Maya, dan Piramida Aztec, serta jangan lupa piramida Budha di pusat tanah Jawa\, Borobudur. Semua berpola serupa, mengkerucut secara vertikal. Sebuah ekspresi monoteisme yang religius. Sebuah tanya menyeruak di benak apakah makna religiusitas itu ? Karen Amrmstrong pernah menulis sebuah buku yang indah, yang diberinya judul Berperang atas Nama Agama. Lalu Yerusalem atau Al-Qadisiyah menjadi sebuah kota suci yang justru mungkin paling banyak menumpahkan darah umat beragama. Pada peristiwa perang legendaris di Tanduk-Tanduk Hittin (Horns of Hittin) 20.000 jiwa pasukan Crusader menemui ajalnya dan 30.000 orang lainnya menjadi tawanan perang, Alhamdulillah, Salahuddin Al Ayubi adalah seorang tokoh bijak yang welas asih dan penuh dengan toleransi, semenjak kepenguasaannya Yerusalem menjadi sebuah kota yang menyediakan kehangatan bagi semua pemeluk agama Samawi. Sejarah panjang negeri yang satu ini memang sangat unik, 3200 tahun yang lampau bangsa Filistin tiba dari Pulau Kreta (wilayah Yunani) di lautan Mediterania menyeberang dan menempati sebagian wilayah yang menjorok dari lembah Jordan sampai dengan dataran tinggi Golan. Di sana mereka berinteraksi dengan bangsa Yahudi yang berasal dari Kanaan. Nenek moyang orang Yahudi yaitu Ibrahim atau dikenal juga sebagai Abraham datang dari Kanaan ke Hebron dan mengembangkan komunitas baru melalui jalur Ishak dan Rachel. Sementara dalam salah satu pengembaraannya iapun menurunkan suku-suku semenanjung Hijjaz melalui jalur Ismail. Ditanah suci semua agama samawi itu pula terdapat sebuah batu sakral yang menjadi altar persembahan Nabi Ismail As atau Nabi Ishaq AS menurut versi Kristiani sebagai bukti ketaatan Ibrahim kepada Allah SWT. Di batu bersejarah itu pulalah Nabi Muhammad SAW mengawali perjalanan mi’rajnya. Batu ini tentulah sebuah gerbang dimensi, sebuah pintu bintang yang menghubungkan manusia dengan sebuah dimensi imajiner dimana semua karakteristik fisik tidak lagi berperan dan berarti. Tanah suci 3 agama ini dapat dikatakan sebagai tempat dimana peradaban diawali, disinilah Nabi Daud mengembangkan kerajaannya, lalu dilanjutkan oleh Nabi Sulaiman yang membangun Baitullah dan memperkenalkan pengertian teknologi. Lalu hampir semua peradaban manusia ingin menjadi penguasa negeri ini. Nebucadnezar dari Babilonia, Iskandar Agung yang membangun imperium Alexandria, Cyrus dari Persia, Bangsa Parthians, Herodes, Pilantus Pontius, bangsa Mamluk dari Mesir, kekhalifahan Ummyah, Abbasiyah, dan Fatimiyah, Timur Leng dari gurun Gobi, dan Kesultanan Ottoman, sampai Amerika Serikat dan Inggris meski secara tidak langsung, juga ingin memiliki akses khusus di tanah suci. Sampai pada akhirnya pada tahun 1917 Jenderal Allenby dari pasukan Inggris menguasai Yerusalem dan sekitarnya. Tak lama kemudian dideklarasikanlah Perjanjian Balfour yang mengawali berdirinya negara Israel. Sebuah negeri bagi orang-orang Yahudi yang selama ini terlunta-lunta dan senantiasa terusir dari berbagai negara. Mulai semenjak zaman Nabi Musa dimana mereka terusir dari Mesir di era Firaun Amenhotep III sampai dari dataran Rusia, Jerman, Polandia, dan sebagian besar Eropa Utara. Bahkan di Ethiopiapun dimana ras melanoid bertempat tinggal mereka terusir. Sebagian dari mereka menjadi tokoh-tokoh dunia yang sangat menonjol, sipa yang tidak kenal dengan Karl Marx dengan Das Capital dan Communist Manifestonya, siapa yang tidak kenal dengan Kafka ? Siapa yang tidak kenal dengan Einstein ? Dan saiap pula yang tidak kenal dengan Rotschild dan Rockefeller ? Bahkan kini Ehud Saphiro dan Kobi Benenson menjadi ilmuwan yang paling dihormati di seluruh dunia dengan penemuan meraka dalam bidang komputasional DNA. Bangsa Yahudi menyebar ke seluruh penjuru dunmia dan mengembangkan peradabannya secara luar biasa. Peradaban yang mereka bawa juga ternyata merubah sebagian besar wajah dunia. Dalam bidang ekonomi makro dan pasar uang dunia mereka merajalela, dengan tokohnya George Soros dan Paul Wolfowitz yang kini menjadi Presiden Bank Dunia. Perkembangan bangsa Yahudi yang luar biasa itu seolah mengajak kita merenung, bahwa peradaban manusia berawal dan bermuasal dari sebuah daerah segitiga emas yang terdapat di sebagian selatan Eropa, Asia kecil, dan sebagian pangkal Afrika. Kita kenal kota Ionia di Turki tempat Thales mengembangkan embrio konsep filosofi Yunani, kemudian kita kenal kerajaan Babnilinoa dengan taman gantungnya yanglegendaris, kemudian kita kenal peradaban Mesir dengan piramida dan kota ilmu pengetahuan Alexandria, lalu kita juga mengenal Baghdad. Marilah kita tengok kubah masjid Nabawi, Haram,. Dome of Rock, Katederal Basilika, berbagai gereja dengan desain Moskovit Rusia yang kesemuanya berujung runcing menuding langit sebagai tempat bersemayamnya kekuatan yang serba Maha. Konsep atas bawah samping kiri-kanan diakui secara aklamsi sebagai penuntun arah yang baku. Manusia membangun piramida del sol dan piramida de luna di Teotihuacan sekitar 100 tahun setelah masehi, piramida dengan konsep yang sama juga ditemukan di Bosnia Hrzegovina tepatnya di perbukitan Visocica di daerah Visoco. Ada suku Azteca yang membangun piramida Tenochtitlan dengan dewa mereka yang bernama Uitzillopochtli. Suatu fenomena yang nyaris serupa berkembang di dalam dinamisitas peradaban manusia, semua tempat suci dibangun dengan konsep pandangan vertikal kubah St Basil di lapangan Merah Moscow, Borobudur, Prambanan, Mendut, Kalasan, Jago, Sukuh, Muara Takus, dan candi Gedong Songo di Indonesia juga menjulang bak hendak membelah langit. Lalu bermunculan pula tempat-tempat suci yang diziarahi dan menjadi inspirasi bagi banyak orang dari seluruh penjuru dunia. Ada beberapa tempat di permukaan bumi yang menjadi “gerbang-gerbang Langit” bagi para penganut monoteisme. Tempat-tempat sakral tersebut itu berkembang menajdi sebuah embrio sistem budaya pontifis, dimana pada skenario lanjutannya biasanya akan dilengkapi dengan identitas dan pembagian peran. Sebagai contoh di Teotihuacan dewa tertinggi bernama Tloquenahuaque, dewa grade dua adalah Tlaloc sebagai dewa hujan, lalu Huehueteotl sebagai dewa api, Xype sebagai dewi kesuburan, dan Chalchitlique sebagai dewi air. Konsep ini juga dapat kita temukan di berbagai peradaban kuno, dewa Osiris di Mesir Purba, konsep Avathara di agama Hindu dengan klasifikasi dewa berdasarkan fungsi, misal Brahma sebagai dewa api, Bayu sebagai dewa angin, Indra sebagai dewa hujan, Darma sebagaidewa akal budi, Kamajaya-Kamaratih sebagai pasangan penguasa cinta, Yamadipati sebagai dewa maut. Lalu kita jumpai pula konsep sejenis dalam konsep mitologi Yunani, Zeus, Venus, Mars, Apolo, Jupiter, Poseidon, Neptunus, Aprodite, sampai Cupid semua memiliki konsep utilitas yang departemental.Di dataran Cina kita mengenal bahkan lebih banyak lagi dewa dan bertingkat-tingkat pula derajatnya, satu yang terkenal adalah Dewi Kwan Im yang tingkat kesakralannya hampir menyamai Dewi Sri di pulau Jawa. Konsep salib suci kristianipun sebenarnya mengacu kepada sakralitas dewi Yunani pramodern, hewan suci umat kristiani yaitu ikan atau ichtus adalah perlambang dari kesucian dewi pagan di eropa selatan. Dalam Islampun konsep malaikat menyerupai konsep-konsep dewa yang telah lebih dulu berkembang. Tetapi kajian epistemologsinya memungkinkan penjabranb makna yang lebih substansial dan sarat nilai. Malaikat bukanlah sessok figur ataupun ikon yang dapat dipersonifikasi. Malaikat adalah suatu diskursus, suatu wacana yang maknanya berkembang seiring perkembangan kognisi sosial. Lalu sekali lagi manusia ingin mengerucutkan logikanya, menyatu dengan kebenaran yang sejati. Tetapi manusia berkembang menjadi makhluk yang kejam dan senangnya menumpahkan darah. Sebuah misteri dimana hampir semua peadaban mengalami sebuah peristiwa yang disebut peperangan. Peperangan menjdi ritual kronis yang seolah wajib dijalankan oleh setiap generasi manusia, sebuah fenomena aneh yang harus kita jawab bersama. Ahuizotl telah mengorbankan 20.000 jiwa musuhnya di kuil Tenochtitlan, peristiwa 11 September 2001 menelan korban sekitar 6000 jiwa hganya dalam hitungan menit, jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki menewqaskan ratrusan ribu jiwa dalam sekejap dan menyisakan derita bagi jutaan lainnya untuk jangka waktu yang lama. Perang di kawasan Teluk yang berkepanjangan telah membunuh puluhan ribu manusia, genosida di Bosnia, pembantaian suku di Rwanda, kekisruhan di Somalia, konflik berkepanjangan di Afghanistan, dan banyak lagi perang yang memakan korban jiwa yang sia-sia terus saja dilakukan dan dipertahankan sebagai sebuah tradisi yang sakral oleh manusia.
Ritual dan tradisi lainnya yang senantiasa berkembang dengan tumbuhnya peradaban manusia adalah keinginan untuk mengembara dan mengeksplorasi media hidup di sekitarnya. Manusia mengembara ke berbagai sudut dan pelosok dunia, bahkan bulanpun dijelajahinya. Berbagai suku bangsa semenjak zaman pra-sejarah sudah mengekspresikan rsa ingin tahunya terahdap keluasan alam semesta. Ibnu Battutah, Marcopolo, Li Sanbao alias Sinbad atau Cheng Ho semuanya dikenal sebagai petualang-petualang penjelajah yang tak kenal takut. Guilberto Zapata Alonzo membuat sebuah hipotesa menarik tentang penyebaran suku Maya ke hampir seluruh dunia, candi tikal di Guatemala mirip dengan piramid Naksei Chan Crong di Angkor, Kamboja,candi palenque di Mexico mirip dengan candi Ajanta di India, beberapa simbolnya dapat ditemukan diberbagai candi di Indonesia (sukuh, muara takus). Dalam buku Educadores del Mundo, Ignacio Magaloni Duarte membuat sebuah hipotesa menarik bahwa bangsa Maya pernah mengembara sampai ke timur jauh dan menyambangi serta berinteraksi dengan komunitas-komunitas di Jepang, Cina, India, dan Mesir. Di India dan Cina mereka di sebut dengan bangsa Naga, di India bangsa Naga disebut juga bangsa Danava dan tinggal di seputaran Nagapur, angka-angka yang dikenal oleh bangsa Maya sama persis dengan yang dikenal kaum Naga. Bahkan nenek moyang orang Jepang, bangsa Ainu mengembangkan 40% perbendaharaan kosakata bahasanya diduga berasal dari bahasa Maya.
Lalu tidak hanya bangsa Maya saja, hampir seluruh suku bangsa manusia mengembangkan budaya mengembara, membangun sebuah harapan. Komunitas Gipsi yang saat ini masih bisa ditelusuri jejak langkahnya di Eropa, khususnya eropa timur diprakirakan berasal dari India. Daerah-daerah baru yang terbentuk pasca berfluktuasinya muka air di muka bumi menjanjikan peluang dan rasa ingin tahu yang sangat kuat. Kota dataran tinggi seperti Bandung adalah contoh suatu lokus hunian manusia yang terbentuk akibat adanya pengerinagn danau purba, sisa genangan air laut yang terp;erangkap di sebuah cekungan pada saat air laut surut. Seiring dengan perkembangan geologis muka bumi , gubahan masa dari ruang hidup manusiapun berkembang. Daratan meluas dan komunitas manusia berkembang diseantero muka bumi, dari gua-gua batu di Perancis selatan yang kaya akan ragam lukisan dinding berwarna merah tembaga, gambaran peradaban tumbuh dari era neandertal yang sederhana sampai di era post modern yang kembali menjadi sederhana lagi. Grafiti di Brooklyn kini kembali mengangkat motif-motif geometris dan organik yang seolah hendak bercerita tentang sebuah proses pencarian seorang manusia.
Teknologi kemudian berkembang dengan melakukan lompatan-lompatan quantum yang terkadang tampak tak dapat diprakirakan dengan tepat. Era penjelajahan secara fisik kini mulai bergeser seiring dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi. Eksplorasi dan eksploitasi kini amat bergantung dan amat memanfaatkan teknologi. Guttenberg dengan mesin cetaknya telah berhasil mendorong lahirnya revolusi industri informasi, dengan cepat tingkat pemahaman dan intelektualitas manusia meningkat secara tajam dan tidak lagi dibatasi oleh kendala geografis ataupun aksesibilitas. Perkembangan itu semakin menggila saat pilot proyek DARPA tentang sistem jaringan world wide web terbukti dapat berfungsi dengan efektif. Kini dunia tampak semakin mengkerut, dengan fasilitas VOIP (Voice on Internet Protocol) misalnya telah mampu menghadirikan fitur komunikasi yang sangat cepat sekaligus juga sangat murah.Video streaming mampu memperpendek jarak yang biasanya harus ditempuh dengan sebuah pesawat Boeing 747 selama 18 jam penerbangan menjadi suatu persitiwa yang “real time”. Bila semula dunia hanya terdiri dari sebuah benua purba Pangea yang luas dan sunyi maka semenjak akhir zaman es, berkembanglah berbagai peradaban modern yang terus saja berkelana dan mengembangkan pola-pola interaksi yang sedemikian rancak. Dari Ionia di Turki dan Al-Qadisiyah di semenanjung Arab berkembanglah budaya intelektualitas yang terus menerus mempengaruhi cara pandang manusia terhadap lingkungannya. Filsuf era awal dari pulau Lesbos adalah Shappos, seorang wanita yang memeprtanyakan eksistensi, lalu disusul oleh Anaximenedr, Phytagoras, Democritus lalu era Socrates di Athena dan Italia, Plato dan sampailah di era Ibnu Rusyd, Farabi, Al Kindi, Renaissance, Augustinus Comte, Derrida, Sartre, Engels dan Marx, Focault, dan Levi Strauss. Sigmund Freud seorang psikiater Austria berusaha mengupas makna manusia melalui pendekatan psikoanalisanya yang terkenal. Konsep dasar Democritus tentang atom adalah dasar pembentuk segalanya termasuk jiwa, menempatkan konjungsi yang hebat antara materialisme dengan eksistensialisme, dan lahirlah pemahaman panteisme atau panta rei.
Perkembangan sejarah keilmuan menunjukkan bahwa proses pencarian terfokus pada hakikat manusia dan etika. Paham positivisme Auguste Comte dan Frederich Nietzhe mengubah cara poandang dunia. Kematian sudah semenjak lama menjadi ketakutan terbesar manusia. Arketipe Ibu menjadi dasar kepribadian seorang manusia, konsep anima-animus dan persona mewarnai pandangan gender manusia. Agama-agama purba saling merivitalisasi dan mempertahankan eksistensi dengan transformasi simbol dan ritual. Mithraisme yang diyakini adalah agama resmi Romawi di era Julius Caesar menegnal hari suci minggu dan peringatan hari besar keagaaman puncaknya jatuh pada tanggal 25 Desember pernanggalan masehi.
Lalu datanglah Islam melalui seorang jujur, yang ummi. Seorang cerdas yang belum terkontaminasi faktor-faktor stimulan manipulasi. Kebeningan hati dan tertatanya hawa nafsu pribadi menjadikan Rasul terbesar ini menjadi nabi pamungkas yang dianugerahi Allah peran sebagai Sang Pembuat Kesimpulan”. Perjalanan panjang dari era Thales, bahkan dari era jauh sebelumnya, era Adam seolah menemukan jawabannya di zaman Nabi Muhammad SAW. Islam dengan indahnya mengawali kehadiran tata nilai dan peradaban baru yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan akhlaq manusia. Parameter keberhasilannyapun terukur dan terangkum dalam sebuah definisi taqwa, “Inna aqramaqum indallahu atqaqum.” Keindahan Islam justru terletak dalam kesederhanaan dan kesaratmaknaan dari setiap detil ajarannya. Islam mengajari kita untuk mengawali segalanya dengan menyebut nama Allah SWT, Bismillahirahmanirrrahim,” sebuah hal yang tampaknya kecil dan mudah tetapi sesungguhnya memiliki konsekuensi esoteris yang sangat luar biasa.
Konsep dengan menyebut nama Allah SWt yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dapat diibaratkan dengan diikrarkannya sebuah sumpah jabatan. Kalimat tersebut adalah sebuah “surat keputusan” yang menjadikan manusia sebagai “duta besar” Allah SWT di muka bumi dan mengemban tugas terpenting sebagai penebar semangat kasih dan sayang. Pada saat seorang manusia telah mendeklarasikan peran dirinya tersebut maka pola pikir yang menginisiasi setiap tindakannya di dalam kehidupan semestinya mengacu kepada konsep menyebarkan kasih sayang. Contoh dalam sebuah prosesi makan, ketika jiwa kasih sayang menjadi acuan maka langhkah pertama adalah pemilihan tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tanggung jawab dalam konsep ini adalah konsep yang luas dimana proporsionalitas, rasionalitas, dan regularitas menjadi tertata dan terjaga karena semuanya berjalan dengan kesadearan sepenuhnya. Mengambil nasi secukupnya sesuai kebutuha ntubuh dan sesuai dengan ketersediaan, serta keadilan distribusinya, mengambil lauk secukupnya dan sesuai selera serta mengacu keapda kaidah gizi yang seimbang, semuanya dapat dihabiskan licin tandas dalam tempo yang terukur dan ritme yang terjaga. Konsep ini melatih kita untuk senantiasa tidak melampaui batas, termasuk batas kemampuan untuk bertanggung jawab terhadap tindakan yang telah kita lakukan. Melatih kita pula untuk tidak tergesa-gesa dan merencanakan setiap langkah kita dengan tenang dan diperhitungkan setiap akibatnya. Tak luput pula kita akan terlatih untuk tidak berkeluh kesah dan mampu menikmati karunia d\engan keselarasan sudut pandang yang berimbang. Bila kaliamat sakti itu benar telah kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita maka segtala sesuatunya akan berjalan di jaluirnyta yang lurus. Kita tidak akan terjebak dalam prose ssaling menzalimi baik disenbgaja maupun tidak. Setiap manusia akan memiliki kecenderungan untuk menegdepakan bentuk kepribadiannyan yang asertif, atentif, dan empatif. Seorang yang akan naik angkot juga akan mempertimbangkan faktor pengguna jalan lainnya dan kemungkinan munculnya kezaliman berantai yang diakibatkan oleh tindakannya. Bila seseorang melakukan senbuah keasalahan kecil dan secara beruntun orang lain emgalami peristiwa yang berujung apda timbulnya rasa disakiti, marah, dan kecewa maka sang inisiator tentu secara berkeadilan akan mendapat beban hukuman terberat. Konsep dosa dalam Islam adalah “multi level marketing”, barangsiapa mendidik, mencontohkan, serta memfasilitasi dengan cara mendorong ataupun menciptakan suasana yang kondusif bagi terjadinya suatu kezaliman maka ia pula yang akan mendapat imbalan terbanyak. Dan konsep ini tidak dibatasi oleh waktu, semua berjalan secara linier dan sewaktu-waktu dapat berubah dan berfluktuasi intensitasnya.Seorang ayah yang “mendorong” anaknya berkembang menajdi pribadi yang posesif misalnya, apda saat anak telah dewasa dan menimbulkan masalah akibat perilaku posesifnya tersebut tentu ayah yang ikut andi atau memeilikis aham dalam proses pembentukan karakter anak akan memikul beban tanggung jawab yang cukup besar. Sungguh tidak mudah menajdi orangtua. Sebaliknya demikian pula yang terajdi apda proses kebaikan. Perbuatan baik yang berlangsung secfara kontinuum dan diklakukan oleh berbagai generasi penberus juga akan menjadi amal jariah, amalan yang tak terputus hanya karena usia. Tak heran bila ilmu, penegtahuan, dan teknologi akan menghantarkan para pejuangnya untuk masuk ke dalam jajaran orang-orang dengan investasi batiniah bersaham “bluechip”. Orangtua yang berhasil emngahjntarkan anaknya memasuki jenjang kehidupan yang jauh lebih baik juga merasakan manisnya “bunga” yang akan mereka petik dari upaya deposito berjangka character building yang telah mereka lakukan dengan berjuang ekstra keras dan penuh dengan kesabaran. Keberhasilan hidup seorang manusia dalam konsep Basmallah, adalah pada saat ia mampu memberi ruang yang sebesar-besarnya kepada mitra hidupnya untuk mengekpresikan dirinya secara optimal. Pribadi yang mampu memfasilitasi berjalannya proses sunatullah bagi mitra-mitar hidupnya agar mereka senantiasa dapat “bertasbih” dengan tenang dan tidak terkacaukan oleh pusaran kezaliman. Pribadi-pribadi yang tidak akan membiarkan sebulir nasi melewatkan kesempatan pertamanya untuk menjalani konsep dirinya. Ada sebuah konsep menarik yang perlu disimak disini, Allah itu sebagaimana prasangka hamba-Nya, dan jika engkau bertanya dimanakah Allah jawablah sesungguhnya Allah itu dekat. Rasa cinta kita terhadap sesama adalah representasi Allah, bila Allah itu dekat dan sesuai dengan prasangka kita maka sebenbarnya nilai Allah maujud dalam diri kita, dalam sikap kita, dan dalam tindakan kita. Cinta itu tidak pernah tumbuh dan tidak pernah pergi, ia hanya kadang terlihat dan ada kalanya tidak. Cinta itu terbingkai dalam suatu rangka masa, dan mata kita menjadi tirainya. Kerinduan itu sebagaimana renjatan gairah sang daun yang jatuh menjunam dan tak kunjung mencumbui bumi. Hidup itu adalah seumpama perjalanan sehelai daun kering nan tua yang melayang dengan gayanya, menghamba pada gravitasi, dan merindu mencumbui bumi. Sesampainya ia di pelukan bumi, seperti juga kematian yang menjadi awal dari sebuah kehidupan. Perjalanan jatuh bebas yang ikhlas, sekedar mendamba terjadinya sebuah pertemuan !

Perlahan kapal motor tua itu merapat di sebuah pelabuhan kecil di dekat istana Dolmabahce. Kini di sepanjang tepian selat Bosphorus saya melihat jajaran rumah-rumah kayu bercat putih yang di teras gantungnya bermekaran bebungaan dengan dominasi warna merah. Bunga-bunga itu, begonia, petunia, aster, tulip, dan anturium lili, beraneka bentuk kelopaknya dan beraneka pula spektrum warna dan aromanya. Mengapa ? Sebenarnya sangat sulit untuk mencari jawabannya, karena mereka membentuk dirinya dengan kecerdasan yang telah dikaruniakan kepada mereka. Konsep ini dikenal sebagai intelijensia yang terdistribusi, dima setiap elemen atau partikel, sekecil apapun ukurannya dan sesedikit apaun jumlahnya tetaplah memiliki peran yang telah melekat sebagai fitrahnya. Fitrah setiap elemen adalah kemampuan berinteraksi dan menempatkan diri secara proporsional. Untuk berinteraksi berarti setiap elemen memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, selanjutnya agar proses komunikasi tersebut terarah dan terukur maka tentu ada proses analisa. Mari kita lihat proses pembentukan tetes-tetes hujan dari perspektif mikrofisika, setiap molekul air amat memperhitungkan variabel gravitasi, suhu, kelembaban, dan arah angin (perbedaan tekanan). Sehingga setiap ikatan antar molekul sedemikian proporsionalnya dan dapat jatuh dengan anggunnya ke permukaan bumi. Demikian pula ketika beraneka tumbuhan memutuskan untuk “mewarnai” bunganya ataupun menjadi tumbuhan penangkap serangga dengan protein lisogeniknya seperti Nephentes, semunya didasari oleh sebuah proses optimasi potensi. Serupa juga dengan manusia yang diwajibkan untuk mengoptimasi dirinya dengan bersandar kepada tuntunan Al-Quran dan Hadist.
Pada prinsipnya Allah SWT telah menciptakan setiap makhluk-Nya memiliki potensi dasar yang ahrus dikembangkannya sendiri agar dirinya mempeoleh kebaikan dan kemuliaan. Kebaikan dan kemulian memiliki parameter yang universal. Bila sesuatu berkontribusi secara positif, bermanfaat, dan bermartabat, maka sesuatu itu dapat dikategorikan sebagai makhluk yang baik dan mulia. Jadi secara sederhana dapat disimpulkan bahwa potensi makhluk belumlah sempurna bila ia belum menjalankan peran dirinya secara optimal. Perannya akan optimal bila manfaatnya telah dapat dirasakan oleh konstituen kehidupan lainnya, dan bukan sekedar diukur dari diri sendiri.
Islam adalah agama dengan konsep dasar optimasi potensi. Berdasar sudut pandang tersebut dalam Islam terdapat suatu pemahaman universal tentang konsep keadilan yang proporsional. Setiap elemen di alam semesta memiliki kecenderungan dan sifat mencari kesetimbangan dan keadilan. Faktor mutlak yang harus senantiasa hadir dalam konsep kesetimbangan atau keadilan adalah pasangan. Setiap unsur yang ada di alam semesta senantiasa berpasang-pasangan. Konsep berpasangan ini tidak hanya yang berasosiasi materi atau kebendaan saja, melainkan juga maujud dalam bentuk sifat. “Dan, segla sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian merenungkan” (QS 51:49). Tetapi pada penghujungnya setiap elemen di alam semesta akan mencari dan menuju kesempurnaan. Kesempurnaan atas azas kesetangkupan adalah dengan menghablur dengan pasangannya dan tak lagi mengenal sisi refleksi ataupun proyeksi. Sebuah kebenaran menjadi nilai absolut bila mufakat bulat dan tidak menyisakan ruang bagi keraguan dan keniscayaan bagi penyangkalan. Dan titik kesempurnaan itu adalah sebuah ujung tanpa percabangan atau bifurkatio lagi. Sebab banyak kebenaran relatif yang mengalami kondisi skizofrenik dan pecah kembali dalam serpihan percabangan yang menyisakan banyak wacana yang perlu diinterpretasi. Setiap percabangan di alam semesta yang terjadi akan menimbulkan algoritme pilihan yang pertumbuhan cabangnya meningkat secara eksponensial seiring lajunya waktu (t). Sebagai contoh kongkret adalah sebuah sel sprema dengan jumlah kromosom haploid (separuh dari jumlah kromosom sel tubuh/somatik lainnya) akan berjuang dengan segala daya dan upaya untuk bersatu dengan sebuah sel telur dan menghadirkan sebuah kesempurnaan. Tetapi kesempurnaan ini masih terlonjak-lonjak dalam energi yang dinamis, panta rei ouden menei, dimana pada akhirnya peleburan dan kongsi kesempurnaan itu bercerai-berai menajdi zigot, morula, dan blastokista, bahkan selanjutnya terjadi dentuman-dentuman besar yang menginisiasi kompleksitas reaksi kehidupan. Tapi pada dasarnya setiap elemen dalam kehidupan telah dibekali dan memiliki rencana untuk kembali. Inilah yang dikenal dengan konsep fitrah, sehingga banyak orang mengartikannya sebagai “terlahir kembali”. Proses capaian kesempurnaan relatif seperti sel sperma yang bersatu dengan sel telur itu sebenarnya dapat diklasifikasikan sebagai suatu proses “reinkarnasi”. Terlahir kembali dalam sebuah wujud kesempurnaan yang sementara. Dalam perjalanan masa banyak sekali reinkarnasi terjadi. Kelahiran demi kelahiran baru bagi setiap unsur yang menemukan hakikat dan jatidiri sementaranya maujud dalam setiap bentuk transformasi. Transformasi adalah prasyarat utama sebelum setiap unsur menemukan jawaban atas pencarian kesempurnaan sejatinya. Marilah bersama kita bayangkan bahwa di dalam tubuh kita ini terdapat begitu banyak “kesempurnaan yang tidak sempurna”. Setiap unsur telah menemukan pasangannya, tetapi mereka masih terperangkan dalam kondisi “fragile engadgement”. Sebuah pertunangan yang rapuh. Mengapa rapuh ? Karena setiap unsur masih dijiwai jiwa yang bertumbuh, nafs hayati, anfus, azwaj, atma, eter, jiwa yang budding yang dividing, jiwa yang bertunas dan membelah diri. Elemen-elemen kita dan juga elemen lainnya di alam semesta yang masih mererpresentasikan sifat dari Grand Unified Theory ( GUT), masih menunjukkan proses pencarian yang progresif. Dengan karakter “kawin-cerai” fusi dan fisi, mengembangkan konsep muamallah dengan mekanisme interaksi lingkungan yang sensitif, atentif, dan asertif, serta adaptif (memiliki medan elektromagnetik), lalu juga masih mematuhi ikatan norma hidup bersama dan hirarki sistemik. Setiap unsur memiliki aspek graviton yang bersifat mengikat dengan materi induk, dengan ibu bumi. Ikatan perkawinan dan kontrak semacam ini menjadikan sebuah tatanan dan bentuk-bentuk optimal dari sebuah sistem yang dikreasikan secara luar biasa. Ikatan-iakatan elementer menjadi dasar terbentuknya tata surya dan pada akhirnya menghadirkan manusia. Berawal dari pengertian tentang masa dan ruang, lalu terciptalah hukum gravitasi, lalu terbentuklah gubahan masa bumi, lalu gas-gas asam dan asam arang serta nitrogen patuh untuk menempati maqomnya yang tidak melebihi ketinggian 30 km. Kondisi ini terjadi bukan hanya karena satu gaya saja yang bekerja melainkan sinergi dari banyak gaya dalam alam semesta. Dan uniknya gaya-gaya tersebut tercipta karena interaksi juga. Setiap elemen terikat dalam kepatuhan gaya dan sekaligus juga turut menentukan agya apa yang berhak mengatur dirinya. Bila dianalogikan barangkali kondisi ini menyerupai undang-undang dan produk hukum buatan manusia. Dirancang, disahkan, diberlakukan, dan dijadikan acuan dengan subjek hukum manusia dan objek hukum juga manusia serta dibuat juga oleh manusia. Dalam hal ini kategorisasi subjek dan objek sudah menghablur dan menjadi tidak penting. Mari kita perhatikan pula bahwa dalam kehidupan kita banyak hal yang memang “penting tetapi tidak penting”.
Mari kita renungkan bersama bahwa seluruh semesta sekalian alam melantunkan tembang-tembang kerinduan. Kita semua termotivasi oleh rasa kangen kronis yang menjadi dosa “asal” bagi kita semua. Segenap komponen di alam semesta tiada hentinya merintih, menangis rindu dalam tasbih yang terimplementasi dalam ketaatan tak berbatas pada sunatullah. Mari kita bayangkan rantai-rantai elektron yang terpisah dari inti selnya, mereka berbaris dengan kaffah di matrix mitokondria untuk menghasilkan sebuah transformasi energi. Mari kita bayangkan pula perjalanan super jauh yang telah ditempuh oleh paket-paket kuanta foton yang terdiri dari gerombolan elektron matahari yang dengan riang gembira menyambangi kita di muka bumi. Mengapa mereka begitu bergembira ketika tercerabut dari akarnya ? karena mereka tumbuh dan wajib mencari sumbernya. Pada akhirnya mereka dan kita semua akan dipersatukan dalam sebuah kesempurnaan yang mampu menafikan gairah mencari. Akhir sebuah pencarian dan muara segala kerinduan.
Lalu apakah sebenarnya manusia ? Lalu apakah pula konsep jender dalam perspektif Islam perenialis ini ? Manusia pada hakikatnya adalah wanita. Semua manusia adalah wanita. Semua manusia adalah pasangan terbelah dari psyche yang dirindukannya. Manusia adalah kupu-kupu bersayap sebelah dan peri yang sedang belajar terbang, mengapung dalam kesempurnaan. Konsep surga dalam Islam menggambarkan secara sangat indah pemikiran-pemikiran ini : “ Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya, tidak juga telanjang, dan kamu tidak akan merasa dahaga dan ditimpa pula terik matahari”. Kondisi ini menggambarkan secara sangat jelas akhir dari sebuah konsep dwi makna “ada dan tiada”. Pada saat sayap-sayap peri telah merekat pada tempatnya dan bersatu dalam kesempurnaan maka melayanglah sejumlah makna yang terkait dengan kesementaraan. Di surga perenial tidak ada lagi nilai multitafsir, “ada” tidak lagi berkonfrontasi radikal dengan “tiada” dan demikian pula sebaliknya. Tidak lapar dapat dipahami sebagai sebuah pernyataan sampiran dari frase “sudah makan” atau “tidak perlu lagi makan”. Tidak telanjang dapat diartikan sebagai “sudah berpakaian” atau tidak perlu lagi berpakaian. Dalam keadaan ini batas antara “ada” dan “tiada” menjadi tidak nyata. Dapat pula disimpulkan bahwa dalam kondisi surga perenial ini sebagai bagian dari akhir sebuah pencarian maka kebutuhanpun akan berakhir makna dan peran genealogisnya. Dalam ayat itu secara indah digambarkan bahwa surga adalah sebuah kebun ekstase di mana harapan, kerinduan, keinginan, kebutuhan, dambaan, obsesi, atau apapun lagi namanya sudah tidak akan lagi dapat ditemukan. Ultimate finish, suatu episoda akhir yang bermartabat.
Konsep tentang wanita dalam Al-Quran yang juga sangat mendukung teori ini adalah peran nilai wanita sebagai “pakaian”. Mari kita bayangkan jubah ayah Harry Potter (dalam novel laris yang ditulis oleh JK Rowling) yang dapat membuat penggunanya tak nampak. Pakaian semacam inilah yang akan menghapus banyak makna dari kamus semiotika dan konsep nilai dunia. Ketika konsep wanita sudah terpasang erat, menyatu, menghablur dan menyelubungi secara rapat, maka tiba-tiba karakter pembeda lenyap bak ditelan bumi. Identitas jender yang selama ini diusung sirna, dan muncullah identitas baru yang utuh, identitas sebenarnya dari jatidiri manusia. Bila selama ini melihat fungsi wanita yang rahim bukanlah sebagai pembawa rahmah atau kasih sayang yang dalam maknanya, maka di saat wanita telah menajdi identitas setiap manusia maka kita diperlihatkan oleh Allah SWT proses “mengandung” atau hamil yang sesungguhnya. Kita semua akan kembali ke dalam rahim yang hangat. Lembut, menenangkan, dan setiap bulir partikel udaranya adalah molekul kasih sayang. “Dialah yang menciptakan kamu dari nafs yang satu, dan daripadanya dijadikan pasangannya agar dia merasa senang kepadanya. Dan ketika dia mencampurinya, dia mengandung yang ringan” (QS 7:189). Interpretasi terhadap ayat ini secara implisit menggambarkan bahwa proses hamil atau mengandung yang kita kenal dan kita ketahui selama ini hanyalah sebuah proses hamil yang “ringan”, dan bukanlah kandungan yang sebenarnya. Konsep “hamil” yang sebenarnya bukanlah sekedar proses menghadirkan sebuah kehidupan biologis baru ke alam dunia, melainkan menghadirkan dan mengentaskan entitas jiwa baru ke dalam kesempurnaan. Proses kelahiran yang sebenarnya adalah justru terjadi pada saat manusia “memasuki” kembali alam rahim. Bagaimana hal tersebut dapat terjadi ? Mekanisme yang paling memungkinkan agar kondisi terlahir kembali ini dapat terjadi adalah dengan bertemu, bercinta, dan menyatu dengan pasangan jiwa yang terbelah. Dalam bahasa Quran konsep pasangan ini disebut dengan azwaj. Jiwa-jiwa yang bergejolak penuh dengan energi pencarian yang selama ini sering disalahartikan sebagai energi pembebasan akan berada di surga bila ia telah berpasangan, berpakaian, dan kembali ke dalam kandungan. Jiwa kita akan bertransformasi menjadi jiwa-jiwa yang tenang, jiwa-jiwa yang dekat dan akan menyatu dengan Allah SWT. Mari kita simak bersama ayat berikut : “Allah mengetahui apa yang dikandung di dalam rahim setiap wanita.” (QS 13:8) dan Untuk orang-orang yang bertaqwa, pada sisi Tuhan mereka ada surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, dan azwaj yang suci, serta keridhaan dari Allah” (QS 3:15) Kapan kita sebagai manusia dapat berubah dan menyatu kembali dengan jiwa “pasangan” kita serta menjadi “wanita” yang sempurna ? Mengolah ayat di atas memerlukan pemikiran yang dalam serta kemampuan eksplorasi yang bersifat integratif. Saat ini berkembang sebuah pengetahuan baru di bidang fisika yang dikenal sebagai konsep “super fluida”. Dean Osherrof seorang penerima hadiah nobel bidang fisika menunjukkan melalui sebuah alat eksperimen yang disebut dengan Pomeranchuk, eksperimen yang dilakukan Dean memperlihatkan sebuah fenomena alam yang sungguh luar biasa dimana suatu unsur (dalam hal ini Helium) tidak lagi mengekspresikan sifat-sifat materi yang selama ini kita yakini. Helium dalam keadaan suhu dan tekanan ekstrem (minus 350 derajat celcius) menjalankan suatu mekanisme sunatullah baru, ia tak lagi terikat dengan aturan dan karakteristik fisikawi yang selama ini mengekangnya. Ia dapat merambat naik ke atas, mengapung, dan terbebas dari berbagai gaya dasar yang semestinya berlaku. Dalam kondisi ini terciptalah suatu keadaan yang dapat dikategorikan sebagai anti teori. Bila mengacu kepada konsep “super fluida”, dimana sungai-sungai mengalir, mengapung, dan menopang surga, maka surga adalah suatu anti teori. Tentu saja hal ini harus dipahami sebagai suatu bentuk pendobrakan terhadap perspektif manusiawi. Surga dimana pasangan jiwa kita menanti dapat diartikan pula sebagai suatu kondisi dimana prasyarat untuk memasukinya adalah bila kita telah “bersatu” dan mengenal peri jiwa kita. Surga adalah media anti teori dimana seluruh karakteristik kemanusiaan tanggal, dimana pengertian rendah tentang konsep wanita yang selama ini kita kenal maujud dalam konsepnya yang sejati. Perintah Allah yang sangat eksplisit agar kita menghormati sesuatu yang haq dan rahim adalah sebuah perwujudan dari pengertian sifat dasar jiwa wanita. Konsep “huri” dalam frase hur al ayn atau hurin in yang terdapat dalam QS 44:54 dan 52:20, menurut Aminah Wadud dalam bukunya Quran& Woman : Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective , Oxford 1999, adalah gambaran peri yang sangat cantik dalam perspektif bangsa Arab jahiliyah. Sebagian mufasir dan ulama menjelaskna bahwa perumpamaan itu disebutkan sebagai suatu upaya untuk menumbuhkan kesadaran dengan mengacu kepada nilai-nilai lokal. Maklumlah ketika itu jazirah Arab dikenal sebagai suatu daerah dengan budaya yang amat terkebelakang. Peradaban bangsa Arab jahiliyah menempatkan wanita sebagai suatu makhluk berderajat rendah dan bisa dihargai seperti sebuah benda yang memiliki nilai tukar. Peri Huri digambarkan sebagai seorang wanita muda dengan kulit putih, mata hitam besar dan perangai yang teramat menyenangkan. Makna kias dari pernyataan ini dahulu dan bahkan juga sampai kini masih dianggap sebagai suatu perlambang dari sebuah capaian kebahagiaan sejati, tentu saja dari sudut materialisme. Tetapi bila kita berpikir dan menerawang lebih jauh, kita akan menemukan sebuah kenyataan, bukankah gambaran peri yang sangat cantik ini juga dapat diartikan sebagai Psyche ? Malaikat, jiwa yang terbang bebas, kupu-kupu yang indah, yang setiap kepakan sayapnya mengguratkan bianglala tempat berpadunya seluruh warna-warna yang pernah terlintas dalam pikiran manusia. Bukankah manusia semenjak dapat berpikir dan memulai sejarah peradaban juga menempatkan sosok ibu sebagai sosok yang berderajat mulia ? Bukankah banyak bangsa terdahulu menjadikan figur wanita sebagai figur pengayom yang menawarkan sebuah oase ketenangan ? Bukankah figur wanita selama ini juga diidiomkan sebagai sumber kehidupan dan tempat untuk kembali ? Gaia misalnya, adalah konsep tentang ibu bumi yang tidak hanya menjadi inspirasi yang menginisiasi kehidupan melainkan juga menjadi tempat manusia berpulang dalam perjalanan mencari perlindungan dan kehangatan. Bukankah Allah SWT telah menciptakan manusia berpasang-pasangan, bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa agar dapat saling mengenal, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan ? “Kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian dalam pandangan Allah adalah yang paling bertaqwa” (QS 49:13). Dalam hal ini konteks wanita terekstrapolasi dalam penertian jamak, di satu sisi wanita adalah sesosok makhluk proyektif dari konsep nilai dirinya sendiri. Di sisi lain, wanita adalah suatu konsep nilai yang bahkan dimiliki oleh semua unsur di alam semesta. Kemulian dalam bentuk taqwa sering diartikan sebagai kesholehan dan ketaatan seseorang terhadap panduan dan aturan main yang telah digariskan oleh Allah SWT, menjadi insan yang fitriah yang dikonotasikan dengan kelembutan adalah salah satunya. Bila kita cermati lebih mendalam, maka kita juga akan emnjumpai fitrah “buruk” manusia yang antara lain digambarkan Allah SWT sebagai senangnya tergesa-gesa, senang melampaui batas, dan biasanya menyikapi suatu keadaan dengan ebrkeluh kesah. Dari ketiga fenomana ini hampir dapat dipastikan akan muncul gejala ikutan lainnya yaitu sulitnya seorang manusai untuk mensyukuri nikmat. Hegemoni dominan isi pikiran memamng sulit terelakkan, bila seorang manusia kecewa maka kekecewaannya itu akan mewarnai setiap “rasa” yang dikembangkannya. Wanita sebagai nilai dapat terwujud dalam bentuk pencapaian eskatologis yang berkorelasi erat dengan kasih sayang, kesabaran, keikhlasan, dan sikap tawakal dalam ikhtiar. Sedangkan wanita sebagai proyeksi dapat dilihat dalam perspektif manusia pada umumnya dilabeli sebagai “hanya salah satu komponen pelengkap lainnya bagi kaum pria.” Konsep ini dapat dicermati dalam ayat berikut ; “Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan pada kesenangan dari perempuan dan anak-anak, dan harta yang banyak dari jenis emas dan perak, dan kuda-kuda yang dicap, dan binatang ternak dan ladang. Ini adalah kesenangan hidup di dunia.Dan, di sisi Allahlah tempat kembali yang baik. Katakanlah : “ Amukah kukabarkan keapdamu sesuatu yang lebih dari itu ?” Untuk orang-orang yang bertaqwa, pada sisi Tuhan mereka ada surga.” (QS 3:14-15). Dan seperti apakah surga itu ? Sepertti telah kita bahas di atas bahwa surga adalah sebuah media dimana jiwa kita yang resah telah menjadi muthmainah karena telah berpasangan dengan huri-nya, peri jiwanya !Pada saat jiwa kita telah diseleimuti pakaian “kewanitaan”, pada saat kita menemukan kelembutan, ketenangan, dan kasih sayang yang abadi, yang tak lekang karena mode pakaian dan nilai kepercayaan yang usang, yang tak surut karena rasa lapar dan dahaga akan rasa kenyang dan kesegaran sementara yang maujud dalam aktualisasi diri tanpa henti, serta yang tak luntur karena teriknya tempaan sinar matahari kehidupan. Sebuah kondisi dimana Allah SWT telah jauh lebih dekat dan rapat dibandingkan dengan perumpaan urat nadi (QS…...). Surga adalah kondisi pada saat prasangka kita pada Allah tidak lagi mengenal skala prioritas dan klasifikasi berdasarkan kepentingan. Yaitu pada saat prasangka kita pada Allah telah menjadi prasangka kita pada diri kita sendiri, pada saat prasangka kita telah menjadi identitas jiwa yang husnul khotimah. Dimanakah surga itu ? Di sebuah masa tak beruang dan tak terbayang dimana prasyarat masuknya sama dengan prasyarat keluarnya. Apakah yang dimaksud dengan “prasyarat keluar surga” ? Ingat kisah Nabi Adam AS dan Siti Hawa yang terlempar dari sebuah kondisi eksklusif kebahagiaan tanpa syarat. Bila kita cermati, saat ini dalam setiap detik kehidupan seorang manusia yang namanya “bahagia” adalah sebuah konsep bersyarat. “Bahagia” akan tercapai asalkan syarat-syaratnya terpenuhi, dari sana muncullah parameter sebagai tolok ukur dan prosedur standar operasional. Variabel-variabel menuju kebahagiaan dirumuskan, konsep penataan jiwa ditegakkan, aturan dan tata sosial diperkenalkan, konsep ekonomi baik yang berideologi kapitalis-liberal, sosialis-komunis ataupun yang ingin menerapkan semuanya diintroduksi dan diyakini kebenarannya. Semua itu adalah upaya untuk menggapai sebuah konsep yang bernama “bahagia”. Padahal di balik itu semua konsep bahagia yang kekal adalah bahagia yang tak bersyarat. Dimana bahagia adalah semata hanya bahagia dan yah begitu saja ! Dan apa yang terjadi pada Nabi Adam dan Siti Hawa ? Mereka dari makhluk tak bersyarat memilih menjadi bayang-bayang yang bersyarat. Setiap bayang-bayang memerlukan kehadiran sumber cahaya dan obyek yang memberi gubahan massanya. Setan dalam konsep ini adalah bayang-bayang proyeksi dari diri dan hakikat manusia yang mulia. Setan adalah sebuah nilai dimana proses interaksi akan menghasilkan sebuah makna dan sebuah keberpihakan yang menghakimi. Setan adalah bayang-bayang proyeksi yang membawa “tabu” relatifitas, dimana sebuah nilai kehilangan makna tunggalnya dan juga menjadi berbayang-bayang. Adam dan Hawa mengira bahwa nilai dalam bayang-bayang yang menawarkan bentuk-bentuk interaksi seperti saling menghargai, saling mengkomunikasikan aktualitas diri, dan saling mengekspresikan keinginan dan kehendak adalah suatu cara untuk mencapai keabadian. Adam dan Hawa ingin mengekalkan eksistensi dengan cara berdamai dan menyatukan dua potensi yang sebenarnya satu. Adam dan Hawa sesungguhnya adalah entitas yang satu, saat yang satu merasa terbelah dua dan ingin kembali bersatu maka di saat itulah kerinduan dan hasrat untuk kembali menggelegak, di saat itulah perjalanan meruaya untuk mencari hakikat sejati dengan disengaja dimulai. Adam dan Hawa bahkan tercerabut dari keberadaan dirinya yang semula nirkehendak. Adam dan Hawa menggerogoti dan akhirnya menelan mentah-mentah buah Quldi yang membawa racun cinta dan menorehkan tanda tangan yang mengekalkan eksistensi setan. Sejak saat itulah manusia dibayang-bayangi oleh setan, bayangan dirinya sendiri yang akan mengikutinya seumur semesta. “….Dan setan membisikkan pikiran jahat kepadanya dengan berkata : Hai Adam, maukah saya tunjukkan sebuah pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa ? Maka keduanya memakan buah (dari pohon itu) dan Adam tidak mematuhi Tuhannya, maka iapun tersesat” (QS 20:115-121). Kapan kita akan kembali ke surga ? Pada saat kita telah berhasil memahami dan menyatukan kembali Adam dan Hawa menjadi satu entitas tunggal yang saling melengkapi dan sekaligus saling meniadakan. Kita akan memasuki surga pada saat kita telah lengkap dan menghablur dalam ketiadaan, kita berada di surga saat kita tidak lagi menjadi kita dan berhasil sirna dan menjadi hampa di hadapan satu-satunya Yang Berhak Ada.
Mengapa huri digambarkan sebagai sisi kewanitaan yang menjadi syarat hadirnya surga ? Karena semua kisah kehidupan ini bermula dari sebuah konsep Adam yang ingin memaknai bagian Hawa dari dirinya. Saat ia berusaha memaknai dan mengenalnya di saat itu pulalah ia kehilangan perspektifnya. Dari sanalah kita manusia berangkat untuk mencari sisi Hawa, emnemukan dan merekatkannya kembali agar semua pertanyaan hidup tuntas dan kita tak lagi terbentuk dalam sosok menyedihkan yang tak pernah puas akan konsep dirinya. Ini adalah dasar psikobiologi yang sangat kuat, bahwa pada prinsipnya setiap manusia baik perempuan maupun lelaki adalah sesosok manusia yang tengah berada dalam perjalanan mencari bagian “kewanitaannya” yang hilang. Ia harus merangkai ulang puzzle demi puzzle, mengidentifikasinya, mewarnainya, menamainya, dan meletakkannya di tempat yang tepat dan memang seharusnya. Semua penyimpangan kejiwaan dapat dikatakan berasal dari konsep ini. Jiwa yang sakit dan merana adalah jiwa yang gagal mengidentifikasi, mewarnai, menamai, dan meletakkan bagian-bagian dirinya di tempat yang benar. Faktor distorsinya amat variatif dan luas, bisa bersifat endogen, eksogen, maupun produk dari sebuah interaksi, atau dapat dikatakan sebagai sebuah produk konsekuensi (apapun penyebabnya). Jiwa-jiwa yang sakit juga tercermin dari keadaan “terbisikkannya” atau terhembuskannya “hal-hal” berkonotosi buruk ke dalam qalbu melalui buhul-buhul yang merindu.
Karena sisi “wanita” yang hilang, maka makhluk proyeksi wanita tentulah membawa sebagian besar cirinya. Tak heran bila wanita dikaruniai sistematika berpikir yang jauh lebih kompleks (rumit), memiliki peran investasi yang jauh lebih dominan dalam hal herediter (seorang wanita menyumbang sekitar 75% materi genetika seorang anak manusia, baik yang berasal dari cDNA maupun mtDNA). Tak heran bila Rasulullah SAW menyebut figur Ibu sebagai tokoh yang paling patut untuk dihargai dan diapresiasi oleh umat manusia. Derajat Ibu secara eksplisit digambarkan oleh Rasulullah SAW 3 kali lipat lebih bermutu dibandingkan Ayah, setidaknya dalam perspektif metoda analisa kandungan pengulangan suatu hal sampai lebih dari satu kali dapat menggambarkan adanya penekanan secara kualitatif. Salah satu dari tujuh dosa besar yang dapat disimak dalam salah satu hadis shahih yang diriwayatkan Bukhari-Muslim adalah menduh/memfitnah pada wanita dengan subjek perzinahan. Bila konsep anima dalam jiwa seorang manusia di fitanh, dituduh telah “berselingkuh” demi dan dengan kepentingan maka tentu kita sebagai manusia telah kehilangan integritas dan kemurnian tujuan. Kita harus mengedepankan prasangka baik pada jiwa murni kita sendiri, bahwa nafs dan qolbu kita akan menjadi pemandu kita dalam menapaki jalan yang lurus.

Psikobiologi Gaya Hidup (Life Style)
Socialite adalah sebuah istilah yang menunjukkan kelas tertentu dalam sebuah tata pergaulan di masyarakat perkotaan modern. Manusia telah mengembangkan kemampuan intelektualitas dan rasa estetikanya sedemikian pesat. Komoditisasi terjadi tidak hanya pada produk-produk yang terkait secara langsung dengan kebutuhan hidup primer, melainkan telah merambah sampai di tingkatan aktualisasi diri. Selera manusia tanpa disadari telah menajdi komoditas yang dapat dikondisikan. Dalam teori Pavlov tentang stimulus dan respon yang dapat dikondisikan, selera manusia dapat dikategorikan sebagai media stimulans yang berfungsi dengan sangat baik. Respon yang ditunjukkan adalah reaksi-reaksi kebutuhan yang terkadang menjadi hal dengan prirotas sangat tinggi. Di sebagian kalangan tertentu, mengikuti perkembangan mode dan selera “massal” yang di”arahkan” oleh sekelompok industriawan fashion bahkan menjadi jauh lebih penting daripada kebutuhan primer. Di beberapa negara dan kelompok masyarakat kegagalan pemenuhan kebutuhan aktualisasi melalui mode ini dapat mengakibatkan depresi dan seringkali juga menimbulkan gejala-gejala kecemasan serta panik. Histeria yang kerap timbul dalam masyarakat seperti ini juga dapat dipicu karena kecemasannya terhadap kegagalan pemenuhan kebutuhan untuk tampil aktual. Memang kondisi ini secara historiografis sulit untuk dipetakan, siapa memulai apa. Apakah industri fashion yang tumbuh dan mulai “meracuni” pikiran masyarakat, ataukah kebutuhan aktualisasi dan estetika masyarakat atau personal yang mendorong lahirnya industri fashion ? Mengapa Milan, Paris, dan New York kini berkembang menjadi ibu kota mode dunia ? Faktor apakah yang menyebabkan seseorang dapat begitu menyukai dan bahkan fanatik terhadap rancangan-rancangan busana Giorgio Armani, Luis Vitton, Donna Karan, Jimmy Cho, Chloe, Vera Wang, Esprit, Benetton, Old Navy, Levi Strauss, ataupun begitu tergila-gila pada tas Prada, Hermes Croco, begitu terpesona pada keharuman parfum Carolina Herrera, Hugo Boss, YSL, Trussardi, begitu bergantung apda stilletto dari Manolo Blahnik, Bally, dan harus berolahraga dengan Reebok ? Mengapa mall-mall di negara dunia ketiga dipenuhi dengan franchise merek internasional ? Zara, Mango, Next, U2 menjadi merek-merek yang dihapal mati oleh para pelajar SMA dan mahasiswa. Manusia juga berkembang menjadi budak hiburan seperti film-film produksi Hollywood dan Bollywood. Selain itu juga industri film Hongkong, Taiwan, Jepang, dan Korea juga maju teramat pesat dan filosofi produknya kini telah bergeser menjadi kebutuhan primer di banyak negara serta berbagai komunitas. Meledaknya serial televisi seperti F4, Dae Jang Geum (Jewel in The Palace), Emergency Room, Six Feet Under, Sex and The City, Friends, Crossing Jordan, the Pretender, sampai X-files telah menajdikan film sebagai suatu hal “wajib” yang sudah sewajarnya bila hadir dan mewarnai kehidupan manusia. Program televisi juga saling bersaing dan saling berebut kavling di benak manusia. CNNnya Ted Turner memasok berita-berita dari seluruh dunia dan menyampaikannya kembali kepada milyaran pemirsa di berbagai penjuru bumi nyaris secara sewaktu (real time). Bahkan beberpa momen penting yang sangat bernilai informasi disiarkan secar5a langsung on the spot, saat itu juga dari tempat berlangsungnya peristiwa yang diliput. Maka tak heran bila kita sambil setengah berbaring di sofa yang empuk dengan ditemani setoples kacang garing yang renyah asyik memelototi hujan rudal di kota Baghdad. Rupert Murdoch dengan jejaring medianya dan korporasi broadcasting Star TVnya juga menjejali benak kita dengan aneka ragam informasi dan hiburan. Di Indonesia tak kalah maraknya, grup MNC dengan berbagai genre sajiannya juga tak hentinya menggelontor benak kita dengan sajian informasi dan hiburan-hiburan yang dibutuhkan. Lalu tak afdhol rasanya bila kita juga tak membicarakan media massa yang lain yang disebut dengan surat kabar. Bila di awal-awal ditemukannya surat kabar lebih memerankan diri sebagai sumber informasi yang bersifat berita, atau mewartakan peristiwa maka kini surat kabar, tabloid, dan majalah sudah emnjelma menjadi media dimana jurnalisme sudah berpadu padan dengan opini, analisa, trend setter, serta panduan gaya hidup (life style). Akurasi dan kecepatan kini bukan lagi sebuah ukuran kesuksesan sebuah media, nilai tambah dan kesesuaian pemenhuhan kebutuhan telah menajdi prasyarat utama laku tidaknya sebuah media. Kebutuhan afeksi kini telah bergeser, teori dinamika kepribadian kini harus lebih mengeksplorasi peran berbagai media dalam menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh seorang manusia.Media telah menjungkirbalikkan teori-teori psikologi tentang konsep thinking-feeling, judging-perceiving, dan berbagai kategori lainnya tentang need manusia. Sifat dasar manusia untuk mensubstitusi kekosongan jiwanya yang bisa terisi ketakutan mengkristal menjadi senang untuk menghibur diri dan menghadirkan kenyamanan yang bersifat sementara. Infotainment yang berisi berita kaum selebriti menjadi program dengan rating yang sangat tinggi. Kaum selebriti menjadi penambal kekosongan dengan menampilkan imaji atau citra ideal manusia. Sebenarnya mereka tidak secara sengaja menampilkan diri mereka dengan citra yang kita kenal saat ini, glamor, dan penuh dengan balutan kemewahan dan berbagai atribut yang tidak akan dapat dengan mudah didapatkan atau dipergunakan oleh kalangan “biasa”. Mereka dibentuk oleh kalangan industriawan media dan dikembangkan menjadi kelompok “dewa-dewi” yang tak tersentuh realita. Saat mereka kesakitan, kita orang biasa, akan puas dan senang sekali rasanya melihat seringai kesakitan di wajah mereka. Saat mereka di dera penderitaan karena hubungan-hubungannya yang tak harmonis, karena sisi kepribadiannya dikupas habil oleh media massa, dan saat mereka terengah-engah berlari mencari sedikit ruang untuk menyimpan sekelumit kisahnya agar tidak menjadi komoditas publik, kita tersenyum bahagia. Kaum “dewa-dewi” ternyata nista dan jauh lebih menederita dibanding kita. Bersyukurlah kita menjadi orang biasa yang masalahnya tak seberat mereka, begitu pikir kita.Lalu semua kesedihan kita pribadi sirna, lalu kepenatan masalah kita terlipur oleh penderitaan mereka. Menurut Roberto Cialdini ini adalah salah satu efek dari comparison atau memperbandingkan. Kita akan merasa bahagia dan nyaman bila melihat bahwa ada hal yang lebih buruk, sebaliknya kita akan merasa bersalah bila kita menduga bahwa penderitaan orang lain disebabkan oleh karena perbuatan kita (resiprositas). Televisi dan Radio kini telah berkembang menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan afeksi. Televisi menawarkan obat penahan dan penawar rasa sakit sementara yang melenakan dan terkadang memabukkan. Reality show menjadi genre acara yang tak kalah menjulangnya. Kemiskinan, kesakitan, dan kesengsaraan orang dieksploitasi habis-habisan. Wajah-wajah manusia yang merintih dan memendam rindu dendam terhadap uang di zoom dan di close-up, sekedar untuk memperlihatkan bahwa ternyata memang uanglah pangkal dari segala kebahagiaan, bahwa uanglah solusi dari segala kesulitan. Betapa peristiwa seperti yang terjadi dalam reality show itupun sebenarnya amatlah kita harapkan terjadi pada diri kita. Tiba-tiba datang rezeki nomplok tanpa perlu bersusah payah berusaha. Lalu kita akan pingsan, tak kuat menahan ledakan dan luapan rasa gembira, seolah semua yang telah kita lalui dalam hidup melulu hanyalah derita. Lalu kita menjadi kalap dan ingin “membeli” semua hal yang selama ini rasanya dijauhkan dari kita. Belum lagi andai kita harus berbicara tentang tayangan mistik dan talkshow atau feature-feature investigatif yang berkonotasi seksual. Tayangan dari genre mistik menunjukkan bahwa “peran” makhluk ghaib dieliminir menjadi sekedar pasangan “kegelapan” yang layak untuk dieksploitasi dan “dipermalukan” oleh manusia. Pasangan kegelapan itu dimanfaatkan sebagai komoditas hiburan yang mampu mengguncang urat syaraf ketegangan dan ketakutan manusia. Melihat betapa menakutkannya fenomena yang terjadi saat kita berhubungan dan berinteraksi dengan dunia ghaib menajdi sebuah kenyamanan tersendiri. Mengapa bisa begitu ? Karena ketika kita menikmati itu semua, kita menjerit-jerit ketakutan dan menutup mata sambil menyeruput secangkir cappucino instan di sebuah sofa yang empuk. Ketakutan orang lain, mitos, dan kehebatan yang bersifat instan serta tak terukur secara obyektif, coba apa parameter untuk mengukur kehebatan seorang dukun ? Begitu menarik dan membetot perhatiannya tayangan ini, sehingga seolah tayangan mistik telah menjadi salah satu contoh agenda setting media yang paling berhasil. Pola pikir masyarakat kini dipenuhi dengan alur pemenuhan jawaban yang bermuara pada sebuah laguna multi kemungkinan. Sebuah jawaban yang tepat dengan cara cepat dan sebuah “alasan” yang saat ini dianggap paling bermartabat. Menagap demikian ? Coba saja kita bayangkan bersama, betapa mudahnya mencari jawaban atas terjadinya keretakan mahligai sebuah rumah tangga atau bagaimana peliknya kisah cinta sepasang remaja dengan mengacu kepada sebuah alasan sederhana, “ini pasti ada keterlibatan unsur supranatural !” Sebuah jawaban instan yang dapat dimasak untuk semua persoalan. Sebuah solusi yang memang sangat dirindukan oleh sebagian besar bangsa kita yang muak dan mengalami keletihan kronis ketika harus merenangi lautan kenikmatan dengan buaian ombak-ombak kemalasannya. Sebuah bangsa yang begitu mengenal ayat-ayat Quran, kecuali satu kata yang membukanya; “IQRA”. Sebuah ironi dimana pengetahuan global tumbuh subur karena kontribusi para cendekiawan muslim, dan saat ini mayoritas kaum muslimlah yang terjebak dalam kejumudan menelan makna-makna supranatural secara harfiah dan tidak melakukan penjelajahan eksploratif yang lebih bersifat ilmiah. Tampaknya kini seluruh naluri dasar manusia tengah diaduk-aduk dan diulen menjadi adonan donat yang krispi, manis dan renyah. Budaya instan dan budaya “kadal” (dabhun) menjadi label kepraktisan yang melonggarkan semua norma akidah, akhlaq, dan adab. Bagaimana semua itu dapat mengisi ruang-ruang pikiran kita ? Bagaimana semua itu dapat menjadi panduan dan acuan hidup kita ? Tetapi kita juga belum menjawab pertanyaan yang paling krusial, mengapa semua itu seolah dengan mudahnya mewarnai dan mengatur segala desain interior benak kita ? Mengapa budaya-budaya bergenre populer dan jelas-jelas bermotif ekonomi itu mampu dan dengan leluasa menjajah benak kita ? Sebelum kita jawab mari kita mengembara dahulu menelusuri lorong-lorong teknologi yang di ujung depannya berlabel informasi dan komunikasi. Kini kita mengenal teknologi internet, sebuah teknologi yang benar-benar merubah wajah dunia. Dimana semua informasi yang selama ini seolah jauh dan tak terjangkau menjadi mungkin untuk diakses siapa saja. Mendadak seiring dengan kehadiran internet ini sebagian besar umat manusia menjadi makhluk yang sarat dengan pengetahuan. Tetapi tidak hanya itu saja, internet juga menawarkan pola interaksi baru yang berhasil menafikan dimensi jarak dan waktu. Radio streaming, video streaming, chatting, dan juga mailing dapat menempuh jarak ribuan mil hanya dalam hitungan detik bahkan boleh dikatakan nyaris sewaktu. Greenwich Meridian Time ( GMT) seolah dipermalukan dan kalah secara telak ketika harus berhadapan dengan internet. Pola tidur-bangun dan aktifitas harian manusia di berbagai belahan dunia bisa diporak-porandakan oleh kehadiran internet. Batas pengetahuan dan eksklusifitas keilmuan menjadi tipis, kini bahkan orang awampun dapat berbicara dengan bebas dan berdasar tentang fisika kuantum, yang dahulu tentunya hanya merupakan hak prerogatif para profesor fisika kuantum di universitas-universitas tua yang bergengsi. Kritisisme dan tatanan psikologi sosial baru yang digagas oleh mahzab Frankfurt dengan Jurgen Habbermas dan Hokkheimer sebagai tokohnya justru maujud bukan dalam bentuk media yang menghegemoni melainkan melalui internet. Protes sosial dan himbauan anti kemapanan mengalir deras dalam media blog ataupun situs-situs komunitas. RRC ketakutan dan berusaha menghambat peredaran informasi yang memang dapat saja bersifat tidak sahih. Banyak negara juga menerapkan kebijakan net nanny, semacam parental advisory yang ditujukan untuk melindungi akhlaq generasi muda. Tetapi itu semua akan terlindas oleh kemajuan teknologi yang kini sudah semakin menampakkan wujud aslinya. Internet tidak lagi memerlukan piranti yang statis tetapi juga telah bersimbiosis dengan piranti mobil yang bersifat multifungsi. Orang dengan berbekal gadget yang semakin lama harga teknologinya akan semakin ekonomis akan dapat mengakses informasi dan data apapun dimanapun dan kapanpun ia mau. Dan aksesibilitas ini akan terus meningkat secara pesat karena salah satu alasannya adalah harga teknologi akan menjadi semakin murah dan akhirnya informasi akan menajdi komoditas nirlaba yang akan dapat dikunyah dan dimuntahkan siapa saja. Muntahan itu bahkan masih dapat dipulung dan didaur ulang berdasar kepentingan kita. Hot spot tidak lagi akan menjadi primadona, jaringan komunitas tidak lagi akan menjadi barang langka karena akan tiba masanya dimana seluruh gadget akan bersatu dalam sebuah sistem multi utilitas yang memungkinkan seorang manusia untuk mendapatkan segalanya dengan mudah termasuk informasi. Akan tercipta sebuah tatanan dunia baru dimana dimensi ruang dan waktu perlu proses pemaknan ulang. Dimana pesawat-pesawat berbadan lebar seperti Airbus A-380 hanya akan menjadi pesawat kargo. Atau mungkin juga bahkan harus dikandangkan karena akan semakin miskinnya tingkat permutasi manusia. Untuk apa manusia bepergian bila seluruh proses transaksi bisnis, manajemen organisasi, proses produksi, marketing, dan research developing dapat dilakukan di mana saja. Untuk apa kita bepergian ke Venezia bila seluruh citra dan nuansa Venezia dapat kita hadirkan di tengah kehangatan ruang keluarga, lengkap dengan suara kecipak air yang biasa terdengar bila sebuah gondola melewati lorong sempit di bawah jembatan Rialto. Untuk apa kita bersusah payah menjelajahi ganasnya hutan rimba di pedalaman Amazon, bila anakonda dan piranha dapat kita proyeksikan di layar lebar ruang keluarga kita ? Dengan efek surround yang sempurna dan teknologi lanjut virtual reality maka sempurna sudahlah pengalaman bathin kita. Tokh sebuah perjalanan yang sesungguhnya juga hanya akan dibingkai dalam satu rangkaian memori yang seiring waktu hanya akan direview sewaktu-waktu, diceritakan ulang dalam even arisand an pengajian. Bukankah kondisi seperti ini yang memang kita harapkan semenjak awal ? Bukankah kita ingin memuaskan imajinasi kita dengan tingkat keamanan dan kenayaman maksimum ? Bukankah hidup kita yang sesungguhnyapun kita anggap sebuah mimpi yang suydah sepatut dan sewajarnya bila indah terus selamanya, dan bila mimpi kita itu memang ternyata indah maka kita berharap tak akan pernah bangun lagi juga untuk selamanya. Karena itu pulalah kematian menjadi guncangan membangunkan yang amat menyeramkan dan menjadi selingan mimpi yang sangat menakutkan. Bukankah ketika kita menjerit-jerit saat menonton film horor di rumah kita yang nyaman, sesungguhnya kita tak alang kepalang gembira dan bahagianya karena sadar sepenuyhnya bahwa kita berada dalam sebuah ruangan yang seratus persen aman ? Bahwa rasa takut yang muncul itu dapat saja kita hentikan sewaktu-waktu ? Sensasi takut yang dimunculkan adalah sebuah proyeksi keinginan yang kuat untuk menafikan dan menertawakan ketakutan yang sebenarnya. Takut itu ditumbuhkan di sebuah ruang yang nyaman, sebuah keinginan untuk memperoleh kemampuan seperti ketika kita menonton film horor, sewaktu-waktu kita mampu untuk menghentikannya, yaitu dengan cara mematikan TV atau merubah channelnya ! Sayangnya kematian tidak dapat diubah channelnya !
Berkembangnya internet dan juga teknologi seluler secara biopsikologis mengakibatkan munculnya sebuah fenomena yang akan meruntuhkan keimanan seorang Nietzhe. Jaringan internet adalah lahan subur bagi tumbuhnya tata nilai di alaf peradaban baru. Satu sistem sosial mengembang dan mekar menjadi “keimanan” di sebuah zaman dan diberi label yang bertuliskan ideologi. Kita telah melihat ideologi kekuasan mutlak sistem kekaisaran yang berkembang semenjak era Babilonia, kaum Helenis, Alexandria, Persia, Kekaisaran Romawi dengan imperiumnya, Kekaisaran Cina, Kesultanan dan Kekhalifahan yang berdasar garis darah, sistem monarki ini lambat laun runtuh dan tertelan zaman karena tidak lagi mampu menmgakomodir ekspresi aktualisasi bersama. Kini sisa-sisa pengusa berciri monarki hanya tinggal di balik dinding-dinding istana seremonial seperti Inggris dan Keraton Ngayogjakarto Hadiningrat. Lalu kita juga melihat Marx, Engels, dan Lenin membangun sebuah sistem yangmereka anggap lebih mengedepankan keadilan dan eksistensialisme manusia, sistem itu dikenal sebagai sosialisme dan komunisme. Dalam sistem ini terjadi pergeseran otoritas dari semula didominasi oleh otoritas personal menjadi sebuah sistem komunal dengan otoritas terletak pada “kamerad” negara. Kesejahteraan menjadi tanggung jawab bersama, proses produksi dan kapitalisasi bisnis berada dalam sistem sel yang diatur dan dikontrol dengan ketat oleh negara. Setiap orang memiliki obligasi dan kewajiban yang wajib untuk dilaksanakan. Reward diberikan berdasarkan tingkat kontribusi dan tetapi dengan batasan yang memungkinkan tercipta pemerataan. Sebuah proses berkeadilan yang nyata tidak adilnya. Tak lama sistem ini bertahan, seusai perang dingin arus globalisasi menggilas dan menggerusnya habis. Bagaiamana globalisasi dan borderless world dapat mengalahkan benteng-benteng tiran komunis ? Jawabannya sebenarnya sederhana saja, produksi, distribusi, dan pemenuhan kebutuhan suatu negeri akan berkembang dalam deret eksponensial, tingkat konsumsi energi ataupun konsumsi “public goods” akan semakin meningkat dan satu-satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan saling berbagi dan melakukan berbagai program sinergi. Sebagai contoh, bila sistem produksi yang dimiliki sebuah negara begitu baik dan efisiennya, maka pada suatu ketika dapat dipastikan negara tersebut cepat atau lambat akan memerlukan pasar untuk diekspansi, lalu pada gilirannya akan diperlukan juga sumber-sumber bahan baku yang akan semakin sulit dipenuhi sendiri. Sebenarnya bukanlah globalisasi yang meruntuhkan tembok-tembok tirani sosialisme dan komunisme melainkan teknologi. Pada glirannya teknologi akan menjadi “tuhan” dan ideologi baru yang akan meruntuhkan keyakinan Nietzhe bahwa tuhan telah mati. Tuhan akan selalu hadir dengan berbagai jalan dan senantiasa mempengaruhi kehidupan manusia. Teknologi kini bahkan telah memungkinkan untuk emnyatukan bebragai proses produksi yang terpisahkan oleh jarak ribuan mil. Mari kita perhatikan, kini banyak surat kabar telah dicetak secara jarak jauh dimana materi berupa data lunak ditransmisikan dan diterjemahkan menajdi perintah cetak dis ebuah percetakan yang terletak ratusan bahkan ribuan kilometer dari tempat data tersebut disiapkan. Di masa yang akan datang bisa saja industri otomotif di Jepang menempatkan kantor desainnya di Tonga yang tenang dan lambain nyiurnya serta deburan ombak pasifik yang biru kehijauan ketika menyapa lembut laguna nan bening akan dapat memberikan inspirasi yang maksimal bagi pra desainernya. Lalu desain tersebut akan dikirim dan didiskusikan ke kantor manufaktur di salah satu perfektur di Kyoto, dan dikirimkan lagi sebagai suatu program kerja bagi pabrik dengan teknologi robotikal di Kun Ming, Szen Szen, atau Guangdong yang kaya akan deposit mineral dan tenaga kerja murah. Apalagi bila negara tempat manufakturing juga memiliki kebijakan fiskal yang kondusif, misalnya diberlakukan tax holiday bagi industri otomotif yang ramah lingkungan. Teknologi juga akan tumbuh sebagai ideologi baru pada saat terjadi krisis energi yang parah, disaat energi fosil telah mencapai ambang kepunahan. Teknologi yang dihasilkan melalui olah pikir sebagai bagian dari konsep IQRA yang telah ditetapkan Allah atas manusia akan dapat mengatasi masalah krisis energi ini dengan inovasi yang sangat penting. Fuelcell akan mendobrak peradaban manusia karena menjadikan sumber energi menajdi sangat berlimpah dan limbah emisinya justru berupa air yang sangat dapat bdimanfaatkan untuk keperluan lain. Fuelcell akan merubah paradigma bahwa energi haruslah berasal dari sumber daya alam yang tak terbaharukan. Hidrogen sebagai bahan baku fuelcell terdapat amat berlimpah di alam dan dapat didaur ulang. Ilmu pengetahuan kini mulai “memahami’ makna sebenarnya dari surat As Syams yang terdapat dalam Al-Quranul qarim. Bila di matahari terjadi reaksi fusi yang berkelanjutan, maka dalam piranti fuelcell hidrogen akan dipecah menajdi elektron dan proton melalui sebuah membran pemisah proton yang disebut sebagai Polymer Electrolyte Membrane, elektron akan melompat ke katoda dan menmghasilkan energi listrik/. Sementara proton akan bereaksi dengan oksigen dan menghasilkan molekul air. Limbah yang terjadi adalah air dan panas, dimana pada tahap lanjut air dan panas ini biusa diubah lagi emnajdi tenaga uap atau keperluan lain. Masih dalam konsep pemanfaatn energi sahabat virtual saya, Mas Arief Budi Witarto malah mengusulkan penggunaan enzim PQQ dehidrogenase untuk mengubah glukosa menjadi glukonolakton yang menghasilkan 1 elektron untuk kemudiuan elektron ini ditangkap di katoda dengan enzim bilirubin oksidase.Metoda ini adalah metoda untuk arus lemah dan daya rendah. Teknologi semakin lama akan tumbuh semakin bijak dan semakin efisien. Handphone atau piranti mobil lainnya seperti PDA akan semakin berkembang fungsinya. Jika saat ini sudah sampai pada tahapan browsing, video streaming, dan penentu lokasi (dengan GPS), maka ke depannya piranti mobil akan dapat dikembangkan menjadi identification device yang menyimpan data pribadi pemilik termasuk data kesehatan teraktual, data asuransi, automatic dialer untuk kondisi emergency, piranti transaksi bisnis dan perbankan, serta menjembatani fungsi-fungsi spiritual tidak hanya mampu menyimpan Quran beserta tarjamahnya melainkan juga kumpulan hadis shahih serta almanak atau ensiklopedia keIslaman. Berbagai pertanyaan serta berbagai tausiyah dan dialog agama dapat muncul baik dalam format basis data maupun dalam bentuk multi media seperti file video ataupun dala format High Definition Television (HDTV). Fungsi gadget mobil ini akan semakin melekat dengan kehidupan manusia kelak bila sumber catu daya (energi) telah berhasil merecharge dirinya sendiri kapanpun dan dimanapun. Konsep ini sudah sedikit dibahas di awal buku, yaitu prospek digunakannya virus (contoh jenis M13) yang direkayasa secara genetika agar mampu mengambil molekul kobal oksida dan molekul emas. Virus ini akan menjadi anoda dan katoda yang terus aktif dan bahkan dapat dengan mudah menggandakan diri. Bayangkanlah suatu masa di mana baterai handphone dan juga gadget mobil lainnya tidak akan pernah lagi perlu dicharge. Uang juga pada akhirnya akan kehilangan bentuk fisiknya, akan terjadi pergeseran arti dari uang kartal dan uang giral, di masa yang akan datang semua transaksi dapat dilakukan melalui gadget mobil. Uang akan semakin bergeser maknanya menjadi nilai yang tidak sekedar nominal, melainkan bernilai prestatif. Konsep dinar atau keping emas sebagai nilai tukar yang terstandarisasi dan tidak mengenal unsur fluktuasi dinamis nilai tukar yang spekulatif akan tergantikan oleh dinar “virtual”. Bila selama ini aktiftitas sosial tidak pernah menghasilkan profit finansial, maka akan datang suatu masa dimana aktifitas sosial bisa saja menghasilkan pertambahan nilai yang berdampak pada alat tukar. Apa yang telah ditetapkan oleh Allah tentang pahala dan konsep kemalaikatan seperti Rokib dan Atid dapat maujud dalam suatu pranata sosial baru. Setiap orang yang berkontribusi positif kepada ummat, beramar makruf nahi munkar ataupun bersodaqoh tenaga, materi, maupun ilmu akan mendapat point reward yang berdampak pada kemampuan membeli (purchasing power parity). Akan datang suatu masa dimana orang-orang sholeh akan memiliki pundi-pundi nilai yang akan dapat didermakan atau ditukar dengan berbagai fasilitas yang akan menghadirkan kenyamanan hidup. Setiap orang akan termotivasi untuk menjadi sholehah dan sholeh. Inilah suatu bentuk sosialisme virtual yang jauh lebih adil dan tidak memukul rata, inilah sebuah sistem di masa yang akan datang yang mungkin bisa disebut sebagai sosialisme prestatif ataupun muammalah prestatif. Setiap orang akan terdorong untuk berbuat kebaikan kapanpun dan dimanapun. Sebuah esai fiktif akan disertakan dalam bab ini agar pembaca dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
Jika kita kembali mengkaji masalah trend dan life style maka kitapun akan menemui sebuah misteri lain yang menyertai perkembangan peradaban manusia. Misteri tersebut adalah selera manusia terhadap makanan dan minuman. Selera kuliner manusia ini boleh dikatakan sebagai salah satu cermin budaya yang dapat langsung diamati. Bebrbagai komunitas mengembangkan berbagai mitos dalam kultur mereka sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakberadayaannya mengubah keadaan. Mitos juga menjadi ventilasi psikologis yang paling ideal dalam “menghembuskan” kekesalan dan ketegangan massal. Sebuah ketakutan yang tersinkretasi dalam gejolak dan gegar budaya yang bersifat multifaktorial. Bisa kita lihat bangsa dravida yang hidup di sepanjang sungai indus menyebut bangsa naga yang datang dari belahan bumi lainnya sebagai Danava, yang dalam bahasa perwayangan yang sampai ke Indonesia sering disebut dengan Denawa atau bangsa raksasa. Kisah perseteruan budaya ini pulalah yang mungkin mengilhami kisah Ramayana, dimana negara Alengkadirja tampaknya identik dengan negara para raksasa. Sementara Rama dan Laksmana dari Ayodya merepresentasikan homosapiens yang berprofil antropologi sebagaimana manusia India pada umumnya. Pasukan kera Prabu Sugriwa dan Hanoman yang diceritakan mungkin saja spesies phitecantropus yang masih tersisa atau ramaphitecus yang masih setengah kera. Dalam hal budaya dan aneka rupa serta warna pranata yang menyertainya, jenis makanan dan minumanlah yang paling lengkap menggambarkan sebuah bangsa ataupun suku bangsa. Makanan dan minuman tidak saja dipengaruhi oleh keanekaragaman hayati di suatu daerah (mengingat ketersediaan bahan baku), iklim, kondisi geografis, maupun kondisi pendidikan, melainkan meliputi hampir semua faktor yang berpengaruh dalm kehidupan seseorang. Selera terhadap rasa, jenis masakan, dan cara memasaknya serta bahan yang dipergunakan adalah cermin terhadap pemuasan kebutuhan yang paling hakiki. Banyak budaya yang terpisahkan oleh jarak berbilang ribuan kilometer memiliki kesamaan filosofi makanan. Bila di Belanda orang memakan ikan Herring dari laut utara tanpa memasaknya cukup dengan hanya membubuhkan garam dan cuka, maka saudara-saudara kita keturunan bangsa Ainu dari pulau Sakhalin di Jepang sana juga memakan potongan ikan tuna mentahnya hanya dengan merendamnya sejenak dalam larutan shoyu alias kecap kedelai asin. Bila dibeberapa negara di daerah sub tropis dikenal minuman berfermentasi seperti anggur maka di jazirah Arabiapun minuman sejenis ini ada dan dikenal sebagai khamar. Meskipun semua rasa makanan secara universal hanya mengikuti 2 jalur utama perasa di lidah yaitu saluran ion dan reseptor protein G serta ditransmisikan ke otak melalui kolesistokinin dan neuropeptida, tetapi varian seleranya amat tinggi. Mulai dari gado-gado sampai burito, mulai dari roast turkey sampai dengan suiseki, mulai dari Papeda Papua sampai dengan caviar Beluga. Makanan berkembang menjadi akar budaya dan mewarnai proses pembentukan karakter. Bangsa yang menyukai rasa pedas dan panas dari ramuan berbagai rempah biasanya memiliki budaya lisan atau bertutur yang dinamis. Berbicara dari perspektif genetika dan biologi molekuler, makanan dimasak denganrasa dan kandungan sebagaimana kini terhidang di berbagai rumatangga dan budaya tidak lain dan tidak bukan adalah sebagai sebuah bentuk adaptasi biologis. Gen-gen yang diekspresikan oleh sel tubuh manusia adalah gen-gen yang akan memproduksi protein yang diutuhkan oleh manusia pada saat itu dan di tempat itu. Untuk itu berdasarkan data lingkungan yang bersifat situasional dan kondisional, ada beberapa gen tertentu yang akan diekspresikan secara dominan. Gen-gen tersebut pada gilirannya akan memerlukan asam-asam amino yang sesuai. Agar asupan asam amino ini terjamin maka dikembangkanlah selera. Dari sejarah dan perjalanan makananlah maka kini kita mulai mengatahui bahwa manusia seiring dengan waktu yang berjalan mulai mensinkretiskan diri dan menuju ke sebuah titik persamaan universal. Selera makanan, musik, dan gaya berpakaian menunjukkan bahwa hegemoni selera tertentu tampak jelas mewarnai hampir semua peradaban. Ukuran dan parameter keindahan dan kesenangan yang semula subjektif dan bersifat sangat relatif dan amat bergantung kepada sisi pengamatan, kini mulai bergeser dan menemukan kesamaan-kesamaan universal. Semula kita berpikir bahwa kapitalisme, kepentingan bisnis, dan gurita ekonomilah yang menjadi mesin penggerak homogenisasi selera manusia. Semula kita mengira bahwa raksasa-raksasa industri bersama kroni-kroni birokratis-politislah yang membidani hipnotisme massal yang “mengarahkan” preferensi atau kecenderungan seseorang. Sepakbola adalah contoh lain, hampir 1/3 penduduk dunia akan duduk melotot di hadapan televisinya di saat ajang piuala dunia yang berlangsung 4 tahun sekali itu tiba. Rokok, contoh lainnya, 1,82 milyar batang diproduksi di Inonesia dan terserap habis setiap tahunnya. Starbucks dan Mc Donald mungkin hanya tidak punya cabang di Antartika dan kepulauan Malvinas/Falkland saja, selebihnya dimanapun anda akan menjumpainya. Keseragaman desain hunianpun terus berkembang menajdi lebih sederhana dari hari ke hari, semula dari kerumitan desain gothic yang kelam, berubah menjadi desain Barok-Roccoco yang detil dan organik, kini kembali menyatu dengan alam dan bentuk-bentuk dasar geometri yang bersahaja. Bila dahulu varian warna pelangi dan keemasan menjadi primadona, maka kini hitam,putih, dan abu-abu serta warna pastel saja yang masih bersisa dalam acuan kegemaran manusia. Makanan Cina dengan bumbu dasar berbasis bawang putih dan rasa gurih kaldu kini mendunia dan bisa dipesan dimana saja, Kari India yang menyengat dan berwarna kuning keemasan dalam balutan kuah yang pekat juga banyak didapati dalam berbagai bentuk modifikasinya. Semua jenis makanan kini hadir di seluruh pelosok dunia, tetapi dalam bentuk yang jauh lebih sederhana daripada aslinya. Semua kesederhanaan ini akan menuju kepada sebuah persatuan. Sebuah kesadaran baru tentang nilai-nilai kemanusian dan kehidupan, tentang peran diri dan implikasinya dalam bentuk-bentuk interaksi, mulai tumbuh subur dan makin merindang saja cabang rantingnya. Pengkajian identitas diri dan peran yang harus dijalankannyapun semakin mengkerucut, kebenaran-kebeanran yang hakiki mengambil posisi superlatif, alias mengungguli berbagai pengertian yang tidak berlandaskan rasionalitas. Kemajuan capaian nalar telah merobohkan banyak mitos yang diciptakan sebagai bentuk interaksi kultural dan pola adaptasi pertahanan diri serta kelompok. Demam buku dan film Da Vinci Code seolah menjadi tonggak kebangkitran kritisisme rasional terhadap warisan kultural yang dogmatis dan tidak logis. Silogisme justru mucul sebagai suatu pencerahan spiritual baru, dimana pra “pencari” kini mulai memahami makna ke Maha Sisteman Allah. Sebagian dari anak-anak muda kini dikategorikan sebagai generasi Indigo oleh para psikolog, hal ini terkait dengan kemampuan mereka untuk menembus batasan dimensi waktu yang absolut dimana semua algoritma kehidupan telah dibentangkan. Kesadaran spiritual semacam ini telah memberikan angin segar kepada tumbuhnya semangat baru untuk merasionalisasi permaknaan di seberang tanda atau ikon. Sebuah film Indonesia yang berkisah tentang seekor ayam yang menjadi maskot sebuah perusahaan kecap merupakan gambaran realistik tentang kekuatan sebuah keyakinan. Keyakinan notabene adalah dasar dari keimanan. Kepada siapakah kita akan beriman ? Dan menaruh seluruh kepercayaan tanpa pretensi. Di penghujung film itu disimpulkan bahwa apalah arti sebuah ikon dibandingkan dengan sebuah nilai yang harus diyakini. Dan nilai yang harus diyakini itu kini mulai merekah seperti mentari pagi yang mulai menyingsing di ufuk timur. Siapakah yang dulu akan menduga bila Mbah Marijan, penjaga gunung Merapi dengan gelar mas Ngabehi Suraksohargo, yang begitu teguh dengan keyakinannya akan mendapatkan kebenaran dan jawaban atas pengharapannya. Kita juga masih terbengong-bengong menyaksikan bagaimana Strabucks, Pizza Hut, Kentucky Fried Chicken, masakan Tiociu dan Hokkien bisa merasuk dan menjadi gaya hidup masyarkat urban di berbagai pelosok dunia ? Bahkan di Bandara kemal Attaturk Istanbul, gerai siap saji yang paling favoritnya adalah Chinese food. Berapa banyak rumah makan Jepang yang dapat kita jumpai di sebuah kota besar ? Mulai dari yang menjual ramen, udon, donburi, tepanyaki, katsu, bento, sampai dengan sushi, sasimi, sukiyaki, dan tempura bertebaran di hampir setiap sudut jalan utama dan sentra bisnis di kota-kota besar dunia. Lalu manusia merupakan makhluk pencari, penjelajah, dan makhluk yang paling penasaran dengan konsep diri dan tempat huniannya. Tak heran bila orang-orang Foenisia telah berlayar dengan rutter navigasi berdasar posisi rasi bintang. Alangkah hebatnya perjalanan ekspedisi penaklukan Iskandar Agung dari daerah Helen (Yunani) sampai melalui celah Kaiber di Afghanistan. Terbayangkah juga oleh kita perjalanan Chang Chien yang menjelajahi gurun-gurun tak bertanda Takla Makan dan Gobi sampai ke daerah Ferghana di negara yang sekarang dikenal sebagai Tazikistan dan Uzbekistan. Bahkan perjalanan-perjalanan yang dilakukan pada tahun 139 sebelum masehi itu sampai merambah ke daerah aliran sungai Danube (kini wilayah Austria). Tetapi bahkan sebelum Chang Chien tiba di eropa, suku Yueh Chih yang terbuang karena intrik politiok di Cina juga telah mendiami Bactria, sebuah wilayah yang terbentang dari laut kaspia sampai dengan laut Marmara. Pada awal abad keempat belas Ma SanBao atau Cheng Ho atau dikenal juga di semenanjung Arabia sebagai Sindbad melakukan ekspedisi pelayaran besar melintasi Laut Cina Selatan, Samudera Hindia, dan berlayar sampai ke Aden di mulut laut merah. Armadanya terdiri dari 317 kapal perang dengan kayu tahan rayap yang dilabur dengan kapur dan getah beracun biji Sryandra Cordifolia. Cheng Ho adalah seorang suku Hui, sebuah suku Mongol Cina Muslim, ia dan ayahnya sudah pernah memnunaikan ibadah haji ke Mekkah. Tetapi sebelum Cheng Ho tiba di selat Malaka, bahkan di Palembang telah lama bercokol dan berkuasa taipan cina selatan yang bernama Chen Tsu’I. Marcopolo penjelejahah Italia juga menelusuri jalur sutra yang keras. Ibnu Battutah menjelajahi laut Merah sampai menjumpai kerajaan Samudera Pasai kerajan Islam pertama dengan seorang Sultannya yang juga seorang ulama besar Malikussaleh. Jauh sebelumnya orang-orang Indian Amerika Selatan dari pegunungan Andes ada kemungkinan telah mencapai Papua atau sebaliknya, terbukti dari tanaman ubi jalar (Cassava) yang kini di dapati di Papua sebenarnya adalah tanaman endemik Amerika Selatan. Selain mencari manusia juga saling menghancurkan. Sudah tak terhitung berapa banyak peperangan dikobarkan oleh manusia demi sepotong otoritas, rasa berkuasa dan aman untuk sementara. Semenjak manusia mengenal peradaban dan terjadi proses tarik emnarik dan benturan kepentingan, maka manusia telah mulai saling menyakiti. Peristiwa pertama terjadi pada saat Habil dibunuh oleh Kabil ( Cain). Semenjak itu manusia seolah menuai kutukan sebagaimana yang semenjak awal telah dikhawatirkan oleh malaikat, yaitu akan saling menumpahkan darah di muka bumi. Seorang khalifah yang gagal dalam menjalankan misi hidupnya. Karena hobinya untuk menghancurkan segala hal yang tidak bisa dimilikinya itulah maka manusia sering disebut sebagai self demolition creature. Spesies yang tidak dipunahkan oleh lingkungans eperti keluarga dinosaurus, emlainkan punah oleh karena ulahnya sendiri. Kita sama-sama dapat melihat dan menelaah bahwa orang-orang besar yang membangun peradaban manusiapun tangannya berlumur darah dan tindakannya diwarnai kekejian. Nyawa seorang manusia khususnya dalam perspektif seorang pria terkadang pada suatu saat menjadi tidak begitu berharga. Di saat yang lain bila kita telah menghilangkannya maka akan timbul penyesalan yang berkepanjangan. Mengapa pria cenderung berpikir pendek dan tergesa-gesa ? Dinasti emas kekaisaran Cina yang terdiri Hsiang, Shang, dan Chou misalnya, selalu saja di setiap era kepemerintahannya diwarnai intrik dan pertumpahan darah. Sun Tzu sebagai seorang cendekiawan yang saat ini begitu dihormati serta dipuja-puja di seluruh dunia sebagai seorang ahli strategi militer yang ulung, serta banyak ilmunya diterapkan dalam konteks politik dan bisnis, sebenarnya adalah seseorang yang sangat kejam dan nyaris tak berperikemanusiaan. Untuk menggambarkan konsep manajemen militernya tak segan-segan ia memenggal dua orang istri selir Kaisar. Pada peristiwa itu Sun Tzu ingin menunjukkan bahwa ketaatan terhadap perintah dan hirarki amat menentukan keberhasilan sebuah unit militer. Sekelompok pasukan wanita yang tidak pernah mengenal dunia militer dilatih secara singkat dan diuji dengan diberikan perintah-perintah militer sederhana. Ternyata kelompok prajurit wanita pimpinan dua selir kaisar itu justru tertawa-tawa geli dan tidak mematuhi perintah. Akibatnya untuk mempertontonkan konsekuensi dari sebuah ketidak disiplinan pasukan, Sun Tzu memerintahkan para algojo untuk memenggal kedua selir kaisar tersebut.Konsep seperti inipun kelak dipraktikkan oleh Goerring, Rommel, dan bahkan mungkin oleh rekan-rekan Laksamana Maeda, perwira tinggi Jepang kongsi bangsa Indonesia di era awal-awal kemerdekaan. Kaisar Sih Huang Ti memabngun sebuah tembok super besar yang melingkar-lingkar bak ular naga untuk melindungi negeri Cina dari serangan musuh-musuhnya yang terdiri dari bangsa-bangsa Nomad. Kekerasan dan saling menyakiti adalah bagian dari pemenuhan aktualisasi diri. Di banyak budaya manusia menumbuhkan bahwa perang, pertumpahan darah, intrik dan kesakitan adalah bagian hidup yang layak untuk dilalui. Tradisi menyakiti diri dapapat kita olihat diberbagai zaman dan kluster budaya. Pada hari Asyura banyak pemuda di kota Qom, Basrah, dan Kufah menyakiti diri mereka sendiri dengan logam dan benda-benda tajam yang menyebabkan darah berceceran ke sana kemari. Di kota-kota bertradisi Cina Kong Hu Cu pada saat-saat toapekong ada tradisi menyakiti diri di salah satu sekte yang bahkan lebih sadis lagi, kedua belah pipi ditusuk tembus dengan sebatang besi. Di India, amerika latin, sampai dengan sekte-sekte tertentu di dalam gereja mengenal budaya menyakiti diri ini. Ordo terkenal yang populer lewat novel Da Vinci code (Opus Dei) misalnya, menyakiti diri sendiri dengan calice atau rantai kawat tajam yang dibenamkan di daging pengikutnya sekadar untuk menghayati penderitaan Tuhan mereka. Dalam genre postmodern dan populer budaya ini berkembang menjadi budaya piercing, dimana sebagian besar anggota tubuh diberi asesoris yang proses memasukkannya akan menghadirkan rasa sakit yang membebaskan. Tato dan rajah dengan motif yang sangat beraneka juga menjadi ventilasi dan jendela katarsis yang sekaligus bertindak selaku pigura pamer. Desain yang rumit dan pilihan ikon adalah cerminan dari sikap dan keyakinan sang pemilik tubuh. Secara fisiologis rasa sakit itu memang diperlukan, sebuah respon relatif yang memberikan arti dan makna terhadap rasa nyaman. Berperan pula sebagai respon peringatan dini yang akan mengubah tanggapan tubuh secara umum. Pada budaya menyakiti diri dan sebenarnya pada hampir semua budaya lainnya, tuuan yang dapat dihipotesiskan sebenarnya adalah “meledakkan” rasa nyaman pasca kesakitan dan pasca ketakutan. Aliran adrenalin yang menggemuruh pada gilirannya akan menghadirkan lautan ketenangan serotonin dan kecipak lembut hormon endorfin. Serotonin adalah hormon yang bertugas menghadirkan kedamaian dan ketenangan, sedangkan endorfin adalah hormon yang fungsinya dikaitkan dengan mood dan kegembiraan. Pada saat seseorang menyakiti dan menindas orang lain atau dalam kontekssosiologi sering dikenal sebagai banalisme sesungguhnya dirinyapun teramat sakit. Bahkan derajat eksakitan yang dialaminya jauh melampaui kesakitan dan ketakutan yang dirasakan oleh orang yant disakiti. Anehnya rasa sakit ini juga multi dimensi sekurangnya bilingual, dua bahasa. Ada rasa sakit dalam ranah jaringan syaraf, rasa sakit ini secara subyektif sering digambarkan sebagai nyeri, pedih, rasa tertusuk, rasa terbakar atau berbagai varian rasa lainnya. Bahasa sakit yang satu ini menggunakan ikon dan alfabet kimiawi seperti turunan amin (kinin dan saudara-saudaranya), turunan asam arakidonat, neurotransmiter dan mengaktifkan jaringan syaraf sensoris dan pusat asosiasi nyeri di otak. Sakit ini dapat pula disebut sebagai nyeri organik. Sakit yang lain adalah sakit pikiran atau lebih dikenal sebagai sakit hati. Yaitu sering dikaitkan dengan ketidaknyamanan perasaan dan kegundahan pikiran.
Bahasa sakit ternyata tidak hanya dilantunkan oleh umat manusia saja melainkan dapat maujud sebagai bahasa alam. Bahasa alam dapat kita simak pada beberapa fenomena alam seperti meletusnya gunung Merapi dan gempa tektonik yang terjadi di Samudera Hindia (8,26 LS dan 110,31 BT). Pada pukul 5.50 Merapi yang telah lama “batuk-batuk” mengeluarkan helaan nafasnya yang berat, awan panas begulung-gulung menuruni punggung gunung ke arah barat dan emamsuki lembah sungai Boyong. Muntahan uap lava itu diawali sebelumnya oleh getraran-getaran gempa vulkanik. Tepat pukul 5.53 sebuah gempa tektonik dengan kekuatan 5,9 skala richter dengan episentrum di kedalaman 33 Km dengan jarak 37,6 Km di selatan Jogja, tepatnya di koordinat 8,26 LS dan 110,31 BT, mengguncang dengan dahsyat pemukiman padat di seputaran lembah sungai Progo-Opak. Masih belum lekang dan pupus dari ingatan kita persitiwa Tsunami dan gempa tektonik dahsyat yang etrajdi di Aceh dan Nias. Apakah itu semua berhubungan ? Tadi pagi di sebuah tayangan di TV seorang Ustadz mengklaim mampu menyembuhkan pasien-pasiennya dengan air putih yang telah didoai dengan doa Nubbuat. Menurut beliau air itu dapat berubah menjadi unsur yang “dahsyat” bila didoakan dengan benar. Apa memang demikian ? Apa memang alampun berbahasa sebagaimana tersurat dalam salah satu lirik lagunya Marcell ? Apakah “penguasa” gunung Merapi berkomunikasi dengan “penguasa” Laut Selatan ? Siapakah dan apakah sebenarnya konsep “penguasa” itu ? Apakah konsep ini berhubungan juga dengan konsep “penguasa” manusia ? Mari kita simak, sebelum rangkaian peristiwa ini terjadi, “raja” Jawa terakhir, mantan Presiden Suharto mengalami penurunan kondisi kesehatan ,lalu terjadi “ontran-ontran” dalam keluarganya. Menantu kesayangannya melabrak putra sulung Pak Harto di kediaman istri mudanya yang seorang artis. Apakah ini yang disebut sebagai sandyakalaning zaman ? Apakah sebenarnya “jin” itu ? Apakah sebanrnya penguasa kegelapan itu ? mengapa terjadi “penampakan” dan permaknaan asosiatif seperti genderuwo, kuntilanak, drakula, vampir, ataupun sundel bolong dan pocong ? Mereka adalah hantu imajinasi, yang tumbuh subur dalam budaya bertutur dan budaya bertukar “rasa” tanpa terasa. Isi pikiran kita, perasaan dan emosi kita, bahkan keculasan dan niat buruk kita secara psikobiologis dapat ditularkan dan dirasakan oleh orang lain di sekitar kita. Melalui media apa ? Salah satu yang sudah terbukti secara ilmiah ialah dengan menggunkaan aktifitas feromonal, yaitu sejenis hormon yang bersifat aerosol dan dapat menguap dengan memanfaatkan panas tubuh kita. Beberapa kelenjar eksokrin di tubuh kita secara reguler memproduksi feromon yang mengkomunikasikan kondisi psikobiologis kita ke lingkungan sekitar. Sebuah organ kecil di atas rongga hidung yangbernama vomero nasal Organ atau Jacobson’s organ menerima paparan feromon tersebut dan meneruskannya ke area pusat penghiduan di dalam sistem limbik (pusat olfaktorius/bulbus olfaktorius). Sistem limbik yang telah emndapatkan sinyal lingkungan ini akan meneruskannya ke area asosiasi yang lain di kortex serebri. Selanjutnya kita akan merasa, dan mampu memebrikan respon berupa mood, emosi, dan aktivitas psikomotorik yang tepat. Tetapi apakah memang ada “penguasa” gunung, sebagaimana malaikat pengatur hujan begitu ? Mari sedikit kita simak konsep dosa da;amperspektif biologid an fisika kuantum, segala perbuatan kiat yang bersifat aktif maupun pasif yang berrsifat dinamis maupun stati akan memberikan kontribusi signifikan berupa perubahan pada semua elemen yang berinteraksi dengan kita. Kita diam saja, elemen di sekitar kitapun akan emncatanya sebagai sebuah perubhan linier tidak beraksi yang tetap akan dikalikan dengan waktu (t). Kondisi ini emngakibatkan suatu proses kodifikasi universal. Barangsiapa yang dapat mendekodingnya, maka akan terkuaklah semua rahasia kehidupan beserta seluruh peristiwa interaksi di dalamnya. Dalam konsep tersebut, malaikat pencatat kebajikan menajdi terlalu old fashion bila masih dibayangkan an digambarkan sebagai sebuah ikon bersayap, dengan pengertian itu ia berubah dan bermetamorfosa menjadi sebuah suprasistem yang jaringan komputernya meliputi semua elemen yang ada di alam semesta. Konsep dosa biologi kuantum yang menempatkan dosa adalah sebuah ketakutan karena pengingkaran juga memberikan simpulan yang sinergi, dimana dosa dicatat justru oleh tubuh dan psike manusia. Seorang pendosa akan semakin berkurang intensitas “energi”nya, semakin meredup pula cahayanya. Tak heran bilas alah satu doa yang luar biasa maknanya adalah doa memohon diberikan cahaya ke sekujur tubuh kita, dengan kata lain kita minta kepada Allah SWT dikaruniai kesempurnaan dan cucuran kebaikan yang akan meningkatkan kualitas “energi” kita. Kita ingin selalu bereksitasi dan menempati orbit-orbit yang lebih tinggi, kita ingin terus menari dan berputar seperti para Darwis Turki yang mewujudkan cintanya pada Allah dengan menggasingkan diri.
Lalu bila para “penguasa” itu kita definisikan sebagai suatu bentuk interaksi, maka penampakan itu bagaimana penjelasannya ? Perwujudan adalah merupakan pengejawantahan imajinasi personal ke dalam imajinasi komunal, teori alam bawah sadar Freud dan ketidaksadaran massal Jung berlaku di sini. Bila seseorang telah mendapatkan doktrinasi budaya yang hegemonik (tanpa disadari), maka sebuah ikon semiotik bersama akan dapat hadir di tengah komunitas yang “dipaksa” untuk percaya ? Bukankah seorang sholeh di jajaran pemerintahan Sulaiman mampu menghadirkan singgasana Ratu Bilqis hanya dalam hitungan seseperkejapan mata belaka ? Bukankah semua musibah dan bencana itu telah tertuliskan dan tergambar di lauh mahfudz ?
Tunkah al mar’atu lil arbain, lijamaliha, wa maliha, wa hasabiha, wa diniha. Sedangkan dalam kondisi berbeda dinyatakan sebagai berikut : kullu mauludin yuladu ‘ala alfitrah, fa abawahu yuhawwidanihi au yunasshiranihi au yumajjisanihi. Takhayaru linuthofikum fa inna al ‘iraqa dassas, pilihlah pasangan hidup (khususnya istri/wanita) berdasarkan sifat yang diturunkan (genetik/sifat herediter)….Am naj ‘al allazina amanu wa’amilus salihati ka al mufsidina fi al ardl (QS Shad 28).
..,.dan (demi) jiwa serta penyempurnaan (ciptaan-Nya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya, beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS 91;7-10). …dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadi mereka (QS 50;16).
Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi diridhai oleh-Nya. Masuklah berkumpul bersama-samahamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS 89;27-30).

Konsep baru yang ditawarkan dalam buku ini tentang keghaiban yang fisikawi didasari oleh berkembangnya teori materi. Saat ini di Cern dan di Palo Alto tengah berlangsung riset-riset yang intens tentang keberadaan anti materi dan teleportasi kuantum. Penggunaan partikel akselerator yang memungkin sebuah proon dipusing dalam lingkaran beradius sekitar 20 Km dan kemudian dibenturkan dengan sesama proton akan menghasilkan sebuah anti materi yang nyaris tidak terlacak oleh alat pengamatan yang ada. Yang dapat ditandai hanyalah adanya sebuah lonjakan energi yang sangat besar sebagai sebuah “gerbang bintang” atau mesin jet propulsi turbo yang diperlukan dalam sebuah proses perubahan materi. Hubungan manusia dengan “nafs” atau jiwa alam semesta dalam bentuk suprasistem yang mengatur pencatatan dosa-pahala, penjaga sunatullah pada berbagai sistem alam, dan pengendali keteraturan yang “tidak terlihat” adalah “nafs”. Mungkin bukan sekadar sebuah entitas melainkan sebuah sistem yang deterministik. Ingatlah bawah Allah telah memperingatkan kita untuk senantiasa selalu berlindung dari biikan (was-was) yang disampaikan ke hati kita, baik dari golongan jin maupun manusia (QS An Nas). Dalam konteks psikobiologi kondisi ini mencerminkan kecenderungan berbuat kebathilan datang dari sistem yang menalar secara cerdas tetapi kehilangan orientasi. Lalu kita bisa memaknainya sebagai bisikan setan atapun gangguan supranatural. Dengan demikian hantu dan barisan dedemit yang telah lama menjadi mitos berubah pengertiannya menjadi hantu budaya. Imajinasi manusia yang melampaui batas pengamatan adalah salah satu kuncinya. Proses sinestesia yang dapat diartikan sebagai sebuah bentuk integrasi fungsional sistem sensoris atau indra manusia, meskipun telah berkembang sedemikian pesat ternyata tidak mampu melampaui imajinasi yang berkembang secara eksponensial atau mungkin dalam deret Fibonachi dimana semua kemampuan kognisi terintegrasi dalam sebuah pencarian yang “liar”. Sifat menular dalam ranah sosial dapat dilihat pada ayat suci Al-Quran berikut….dan tentu kita masih ingat bersama bagaimaan Sayidina Ali bin Abi Thalib menggubah sebuah lagu spiritual dengan makna yang teramat dalam, salah satu liriknya adalah, “…berkumpullah dengan orang yang sholeh.” Kesholehan sebagai sifat psikososial ternyata menular. Bagaiaman dengan sudut pandang psikobiologi ? Menular juga, tentu dengan perantaraan potensi kimia-fisikawi seperti jalur feromonik dan paparan atau interferensi gelombang elektromagnetik sebagai bagian dari sistem bioelektrik dengan arus lemah.
Molekul cinta sebenarnya adalah sebuah partikel yang tidak terkena karakteristik fisikawi sehingga “lolos” dari pengamatan inderawi kita. Mengacu kepada penelitian pemenang nobel fisika Dean Osherrof tentang super fluida (Helium-3), maka substansi karakter yang baku dapat berubah melampaui batas ektrem dan sangat di luar dugaan, pada suhu -275 derajat celcius helium-3 tidak terkena hukum gravitasi dan tidak lagi menjalankan kaidah ikatan kimiawi dalam ranah yang selama ini kita kenal. Bila sebuah unsur dapat distimulasi untuk memiliki karakter yang tidak lagi sesuai dengan kaidah, maka unsur tersebut dapat saja dan sangat mungkin untuk tidak memenuhi syarat-syarat keberadaan seperti “jebakan” ruang. Dalam hal ini sains sekali lagi membuktikan konsep ruh dalam Islam. Sedikit sekali kita diberi pengetahuan oleh Allah SWT atasnya tetapi dengan berbagai penelitian yang ada selama ini kita menjadi semakin yakin bahwa ruh menempati sebuah dimensi dimana ruang dan waktu tidak lagi menjadi faktor yang termaktub di dalamnya. Pada dimensi kehampaan wujud inilah molekul atau partikel sub atomik cinta bekerja. Hasil kerjanya dapat kita lihat dalam skala yang lebih besar dan lebih dari sifat fungsionalnya. Marilah kita bayangkan bagaimana sel-sel dendritik di dalam kelenjar timus kita dapat melakukan seleksi kepada calon-calon sel limfosit T agar calon terpilih bebas dari sel-sel abnormal yang memiliki potensi destruktif alias dapat merusak jaringan tubuh sendiri (autoimunitas). Para sel dendritik yang bertugas menyeleksi itu tentulah memiliki mekanisme dan sistem kerja yang cerdas, dimana memori tentang bentuk dan fungsi yang sempurna telah menjadi acuan. Kecerdasan yang dimiliki oleh sel dendritik ini adalah sebuah kecerdasan murni yang tidak melibatkan hawa nafsu. Bila hawa nafsu terlibat maka yang akan terjadi adalah munculnya subyektifitas. Keinginan untuk berkehendak akan menjadikan setiap unsur memiliki preferensi, dengan demikian fakta dan data yang valid sekalipun dapat menjadi tidak berarti. Sekarang marilah kita lihat uap air yang menguap dalam sebuah proses evapotranspirasi, karena adanya panas matahari yang menerpa sebuah daerah perairan. Uap air itu akan terkondensasi pada ketinggian dan suhu tertentu. Saat ia kembali berubah fasa menjadi cair, maka molekul-molekul airnya akan membentuk butiran-butiran air dalam ukuran yang tepat dan sesuai dengan kondisinya. Kemampuan adaptif dan menyesuaikan diri dengan tuntutan kebutuhan lingkungan memang dapat saja terjadi semata karena adanya faktor deterministik dari alam dan faktor-faktor terkait seperti gravitasi, tekanan, ataupun kelembaban, tetapi kepatuhan untuk menjalankan itu semua tentu memerlukan sebuah kekuatan peneguhan. Sebuah kesadaran fungsional. Sebuah kesadaran yang sanggup membimbing pengambilan keputusan yang tepat ketika situasi berubah dengan cepat. Ketika butiran air menerpa permukaan lautan, maka input tegangan permukaan dari air samudera akan diterjemahkan sebagai sebuah stimulasi untuk membubarkan konstruksi kelompok butiran dan selanjutnya tanpa bentuk yang rigid maka molekul-molekul air tersebut akan dengan lebih mudah bersatu dengan cara menghablur. Para cendekiawan dapat saja menjelaskan bahwa semua peristiwa itu terjadi karena adanya sebuah sistem yang berkesinambungan dan saling mem’back-up’i. Sebuah kompleks interaksi yang rumit, begitu kira-kira penjelasannya. Tetapi yang sering kita lupakan bahwa manusia sekalipun untuk menjalankan suatu aktifitas memerlukan niat ( innama a’malu binniyah). Niat akan menajdi embrio motivasi, tanpa motivasi tidak ada energi, tanpa energi tidak ada dinamika, tanpa dinamika tidak akan ada aksi-reaksi. Semua kerumitan dan kompleksitas sistem itu membangun sebuah akumulasi energi yang diperlukan untuk menjaga keberlangsungan dan kebersinambungan sebuah proses. Guardian of Proccess inilah yang memastikan bahwa komitmen dan “sumpah setia” atau bai’at setipa elemen di alam semesta berjalan dilaksakana di dalam koridor yang benar. Setiap energi yang tercipta tentu memerlukan materi dan materi ini tidak harus berada dalam dimensi yang terukur dan terpindai. Sebagai contoh gelombang otak yang dapat diamati dengan Elektro Ensefalogram (EEG) misalnya telah diasosiasikan dengan keadaan-keadaan faali tertentu, gelombang delta (antara 0,5 sampai dengan 3 Hz) diasosiasikan dengan tidur tenang masih dengan mimpi, gelombang Theta ( 0-0,5 Hz) diasosiaskian dengan tidur dalam tanpa mimpi dan sangat tenang, gelombang alfa (antara 3-7 Hz) diasosiasikan dengan pikiran tenang, dan gelombang beta (antara 7-13 Hz) dikategorikan sebagai cerminan dari proses berpikir aktif yang reaksioner. Energi interaksi ini diorkestrasi sedemikian sehingga mampu bersinergi, tetapi untuk itu tentu harus ada efektornya. Contoh lain adalah fenomena Bonelia, yaitu suatu spesies cacing laut yang dalam proses reproduksinya jenis kelaminnya ditentukan berdasarkan seleksi alam. Menjelang kematangan usia telur sang Induk akan berenang ke arah permukaan laut dan melepaskan telur-telurnya, telur yang menyentuh dasar laut akan berkembang menjadi cacing betina, sedangkan telur yang “hinggap” di atas tubuh cacing betina yang sudah ada di dasar akan berkembang menjadi cacing jantan dan selama sisa hidupnya akan tinggal di dalam rongga perut cacing betina. Dari fenomena tersebut kita akan melihat bahwa interaksi yang terajdi antara telur atau larva bonelia dengan tanah dasar lauta akan mengarahkan larva tersebut berkembang menjadi cacing betina. Interaksi ini tentu rumit dan melibatkan serangkaian proses enzimatis. Tetapi karena ada “energi” penjaga yang terlibat maka sistem ini dapat berjalan dengan mulus. Demikian pula ketika larva jantan menyentuh tubuh cacing betina, maka terstimulasi pula rangkaian proses yang sangat rumit sehingga larva tersebut tidaklah tumbuh besar dan “bersedia” tinggal di dalam rongga perut. Fenomena lain yang tak kalah menariknya adalah peran protein Heat Shock Protein (HSP-70 dan rekan-rekannya) yang muncul dan bekerja pada saat sel-sel kita terkena “musibah”, baik itu luka karena rudapaksa ataupun karena intrusi kimiawi. Protein HSP ini merangsang jalur perbaikan dan mengarahkan respon sel agar menyikapi cidera dengan sabar dan mengedepankan pendekatan konstruktif. Protein HSP merangsang proses pembangunan kembali dan perbaikan sistem-sistem biologis yang rusak. Fenomana lain yang tak kalah heboh adalah apoptosis atau kematian sel secar terprogram. Kematian sel model ini adalah kematian yang paling bermnartabat, dimana sebuah sel berdasar kondisi lingkungan dan menakar potensi dirinya memutuskan secara mandiri untuk mengakhiri keberadaannya demi sebuah kemaslahatan. Sistem komunikasi yang canggih diantara sel dan sistem tubuh memungkinkan sebuah sel mengukur kualitas peran dirinya, bila ia tidak lagi memberikan kontribusi maksimal kepada jaringan terlebih bila ia ternyata membahayakan sistem secara keseluruhan, seperti pada kasus kanker, maka ia berkompeten untuk membatasi peran dirinya. Mekanisme apoptosis juga dapat kita simak bersama pada proses embriologi khususnya pada saat terjadinya pembentukan jari-jemari. Pada awalnya lengan dan tungkai kita adalah sepenggal tulang yang terbungkus daging dan kulit serta tidak memiliki bentuk sebagaimana yang kita lihat pada jemari tangan dan kaki kita saat ini. Sebagian sel yang semula ikut membentuk bakal lengan tersebut dengan sangat terorganisir serta sangat “sadar diri” melakukan proses apoptosis alias mengakuisisi diri ataupun menarik diri dari peran fungsionalnya. Sel-sel yang melakukan proses apoptosis ini menjadikan gumpalan bakal lengan ini kemudian membentuk desain yang sempurna. Kearifan mereka untuk berhenti pada saat yang tepat menjadikan terciptanya sebuah harmoni kesempurnaan. Siapa yang mendirigeni itu semua ? Para ahli biologi molekuler tentu akan menjawab DNA (deoksi ribo nukleik asid) sebagai cetak biru dan resep semua protein tubuh. Tetapi dalam hal ini DNA hanyalah sebuah buku resep, kapan resep itu akan dimasak harus ada yang menggerakkan dan mengupayakan. Semua orang memiliki gen-gen pengatur apoptosis tetapi kenyataan menunjukkan bahwa tidak setiap saat sel-sel kita berapoptosis. Mekanisme apoptosis hanya terjadi pada situasi dan kondisi yang memang membutuhkan apoptosis. Siapa yang menakar, menggerakkan, dan mengatur tanggapan tersebut ? Dan apa pertimbangan serta mekanisme yang dipergunakan agar dari sekian milyar resep yang tersimpan di dalam kode DNA diekspresikan dari segmen (ekson) yang tepat ? Ada sebuah energi regulasi yang bukan sekedar fenomena, selalu berlangsung tetapi tidak terukur serta tidak teramati. Kita hanya bisa menyimpulkan secara sementara dan sangat dangkal bahwa setiap keteraturan berawal dari “tawar-menawar” dalam proses interaksi yang rumit. Dimana setiap variabel yang terlibat memiliki posisi tawarnya sendiri yang khas. Pertanyaan berikutnya tentu adalah “kekuatan” apa yang memungkinkan sebuah variabel untuk ”ditawar” dan juga untuk “menawar” ? Tentu ada sebuah sistem yang sangat cerdas dibalik itu semua. Bila kumpulan fenomenanya mengarahkan kita kepada pemahaman tentang adanya materi-materi khusus yang berkarakter regulatif serta sangat super sehingga tak teramati. Ada sebuah riset menarik yang saat ini tengah dilakukan di Inggris, yaitu pembuatan bahan pakaian dengan materi yang dapat membuat penggunanya tidak terlihat secara visual. Bahan pakaian itu dibangun dari materi komposit yang disebut metamateri. Jika riset itu berhasil maka sebuah kenyataan baru akan muncul bahwa sesuatu yang nyata ada belum tentu dapat diamati secara inderawi. Sebuah terobosan besar untuk menjelaskan adanya materi dan energi yang selama ini tak terukur. Contoh lain dari proses tanggapan DNA sebagai buku resep dapat kita lihat pada berbagai proses rekayasa genetika yang kini marak dilakukan, sebagai ilustrasi mari kita simak proses penggunaan sel ragi Pichia Pastoris yang disisipkan gen human erythropoietin. Pada akhirnya sel ragi itu akan mengekspresikan dan memproduksi glikoprotein yang dibutuhkan oleh manusia untuk membentuk dan mematangkan sel-sel darah merah (eritrosit). Dari contoh tersebut kita dapat melihat, manusia saja dengan satu kekuatan, dalam hal ini teknologi olah protein, dapat “memaksa DNA untuk menghasilkan produk yang diinginkan. Dengan demikian bila kita melihat respon demi respon yang terjadi secara berkesinambungan maka kita dapat memetik suatu kesimpulan bahwa energi responsif yang muncul dari bentuk-bentuk interaksi adalah suatu maha kekuatan yang menjaga keteraturan semesta. Sifat-sifat energi itu mencerminkan konsep Asma’ul Husna. Bila partikel-partikel materi Asm’ul Husna itu bergabung dan bersinergi di setiap kondisi yang dinamis dan diwarnai dengan karakter yang berbeda-beda maka kumpulan partikel itu akan membentuk kluster-kluster molekul cinta. Cinta dan kerinduan akan sebuah kepastian adalah semangat paling mendasar dari setiap elemen semesta yang berproses untuk mencari kesetimbangan. Bukankah Allah SWT dalam firman-Nya telah menyatakan bawha yang dapat mendekatinya adalah jiwa-jiwa yang tenang, jiwa-jiwa yang penuh dengan kasih sayang dan kelembutan, muthmainah. Semua elemen di alam semesta senantiasa bertasbih dan menjalankan sunatullah yang telah ditetapkan atasnya dengan energi penggerak utama yang terhimpun dalam molekul cinta.
Mari kita simak peristiwa yang terjadi sehari-hari di dalam, dunia bisnis. Untuk mempertahankan merek atau identitas orang telah menggunakan beragam cara. Seperti mengoptimalkan fungsi asosiasi, kesadaran ( awareness), menjadikan mereknya likuid, diposisikan dengan benar di benak konsumen. Sebagian teori ini adalah teorinya David Acker. Sementara berdasar teori dari Philip Kotler dan Al Ries maka manusia sibuk melakukan proses diferensiasi melalui serangkaian proses inovasi dan melakukan pemantapan serta pencarian posisi. Persaingan dalam kancah bisnis juga menjadikan aktifitas ini seperti sebuah poerang baik terbuka maupun tertutup dengan pesaing. Berbagai strategi bisnis seperti kebijakan harga, strategi promosi dan kampanye, komunikasi bisnis, dan berbagai kejelian dalam memanfaatkan keunggulan komparatif dioptimalkan. Semua “bertempur” untuk mencapai kemenangan berupa tercapainya tujuan material. Para pelaku bisnis kini sibuk mempertajam intuisi utnuk memantapkan posisi “jual” mereka. Berbagai upaya seperti positioning, diferensiasi, dan segmentasi dikerjakan, berbagai upaya untuk meningkatkan brand ekuitas dilakukan secar maksimal. Para pelaku bisnis sibuk dengan konsep brand awareness, brand asosiasi, dan brand image. Kita menjadi semkain ketakutan dengan ketidakberdayaan rentang kendali, dimana banyak benak atau pikiran orang lain yang berada jauh di luar kontrol kita. Kita menjadi gelisah di saat kita “buta” terhadap pengetahuan seperti apa yang sebenarnya ada di benak orang lain. Ketakutan akan rentang kendali yang terbatas menjadikan sebuah pemahaman baru dalam ranah ilmu psikologi. Bila selama ini kita mengenal beberapa kategorisasi emosi negatif seperti marah, sedih, kecewa, dan putus asa, maka berangkat dari proses ketakutan seorang manusia yang mengacu kepada rentang kendali maka hampir semua emosi negatif tersebut memiliki genre yang sama. Yaitu suatu kondisi dimana idea atau harapan tidak seusai atau menjadi kenyataan. Kondisi ini diperkuat dengan fakta-fakta endokrinologi atau respon hormonal. Semua hormon yang terlibat dan berperan aktif dalam menghasilkan respon emosi negatif diatas terdiri dari sekumpulan hormon yang sama. Dari kelenjar gonad ada androgen, androstenedione, ataupun progesteron, dan vasopresin serta prolaktin (lebih utama pada wanita), sedangkan dari keluarga anak ginjal kita mengenal adanya hormon adrenalin, kortisol, dan glukokortikoid. Lalu dari kelenjar pineal kita mengenal adanya hormon serotonin dan melatonin. Masih dari kelompok hormon otak ada pula endorfin, pre-opioid melano kortin, enkefalin, dan skotofobin serta feniletilamin. Kesemua hormon ini secara bersama-sama terlibat dalam proses pengekspresian respon emosi. Sebagai contoh pada saat kita marah, hormon adrenalin kita meningkat, tetapi sebenarnya yang meningkat tidak hanya hormon adrenalin saja melainkan juga hormon-hormon seperti kortisol, glukokortikoid, dan ada beberapa hormon yang menurun seperti serotonin, emdorfin, dan POMC. Penurunan dan kenaikan beberapa hormon ini terkait erat dengan mekanisme defensif, dimana tubuh yang memiliki kecerdasan futuristik mampu meramalkan skenario-skenario terburuk yang dapat terjadi pada diri kita. Pada saat seseorang merasa terusik kepentingan atau teritorinya maka sebagai respon defensif akan muncul sifat agresi yang termanifestasi dalam bentuk kemarahan. Pada saat marah kita akan mengaktifkan sistem persyarafan simpatis yang merupakan bagian dari sistem syaraf otonom yang meregulasi kinerja dari berbagai organ tubuh. Ciri dari rangsang simpatis yang terjadi saat kita marah adalah terjadinya peningkatan hormon adrenalin yang pada gilirannya akan mengakibatkan terjadinya peningkatan aktifitas jantung dan pembuluh darah, insulin akan diproduksi oleh pankreas, dan gula darah hati (glikogen) dipecah menjadi glukosa. Agerakan persitaltik usus melambat dan suplai gula darah ke otot rangka menjadi bertambah. Sekresi atau produksi air liur berkurang selera makan menurun. Suhu tubuh meniungkat, muka memerah karena pembuluh darah tepinya melebar untuk mengalirkan lebih banyak lagi darah ke bagian-bagian tubuh yang akan bekerja berat. Faktor pembekuan darah teraktifasi serta hormon endorfin dan POMC berada dalam kadar rendah yang sewaktu-waktu akan melonjak tinggi dalam rangka meredakan rasa sakit yang mungkin terjadi. Faktor pembekuan darah yang siap beroperasi secara maksimal itu merupakan suatu petunjuk penting bahwa sebenarnya tubuh kita sudah bersiap sedia seandainya terjadi suatu trauma atau luka yang dapat membahayakan sebagai bagian dari ekses proses marah.

“Dan sesungguhnya Dia menciptakan kalian dalam berbagai tingkatan” (Surat Nuh ayat 14)
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran” (surat Al-Qamar ayat 49)
“Dialah Allah yang telah menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit lalu disempurnakan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (Surat Al-Baqarah ayat 29)
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’, mereka berkata : ‘mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah padanya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau ?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (surat Al-Baqarah ayat 30)
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di lautan (dengan muatan) yang berguna bagi manusia, dan apa-apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air (hujan), maka Dia menghidupkan dengan air itu bumi yang tadinya mati, dan dia sebarkan di bumi itu semua hewan, dan dari peralihan angin, dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi (atmosfer), sesungguhnya itu adalah tanda-tanda bagi kaum yang mau memikirkan.” (surat Al-Baqarah ayat 164)
“Dan sungguh Kami telah menempatkan kamu di bumi dan Kami jadikan di dalamnya penghidupan bagi kamu. Sedikit sekali kamu bersyukur.” (Surat Al-A’raaf ayat 10)
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi sesudah baiknya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Surat Al-A’raaf ayat 56)
“Dan tidak ada sesuatu yang melata di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat menyimpannya. Semuanya ditetapkan dalam Kitab yang nyata.” (Surat Huud ayat 6)
“Dan apakah orang-orang yang ingkar itu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya langit dan bumi adalah keduanya berpadu, lalu Kami pisahkan keduanya. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Maka apakah mereka tidak beriman ? Dan Kami jadikan di bumi gunung-gunung yang kukuh supaya ia meneguhkannya. Dan Kami jadikan padanya celah-celah sebagai jalan supaya mereka mendapat petunjuk.” (Surat Al-Ambiyaa ayat 30-31)
“Apakah engkau tidak mengetahui, sesungguhnya sujud kepada Allah siapa-siapa yang berada di langit dan siapa-siapa yang berada di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, binatang yang melata, dan banyak dari manusia. Dan banyak yang berhak azab atasnya. Barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Surat Al-Hajj ayat 18)
“Tidakkah engkau mengetahui sesungguhnya bertasbih kepada Allah apa-apa yang di langit dan di bumi beserta burung-burung yang berbondong-bondong ? Masing-masing mengetahui shalat dan tasbihnya. Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Surat An-Nuur ayat 41)
“dan janganlah kamu turuti perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang membuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” (Surat Asy-Syu’araa ayat 151-152)
“Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (Surat Al-Ambiyaa’ ayat 107)
Manusia diciptakan Allah SWT dengan segala potensi ruhiyah dan jasmaniah. Potensi terpenting dari seorang manusia adalah akal budinya, dimana akal ini terkait erat dengan kemampuan organik otak. Perkembangan otak manusia telah memungkinkan manusia untuk melakukan proses analisa, evaluasi, serta pengambilan keputusan. Dengan demikian seorang manusia memiliki konsekuensi ‘pertanggungjawaban’. Pertanggungjawaban sebagai suatu konsekuensi dari kemampuan berpikir manusia adalah manifestasi pilihahn yang dilakukan. Kemampuan berpikir manusia membuat seorang manusia harus mempertimbangkan setiap hal yang akan dilakukannya. Dengan demikian pilihan tindakan yang akan dilakukan oleh seorang manusia membawa dampak bahwa ia harus bertanggung jawab atas pilihan tindakannya dan segala implikasi yang menyertainya.Kemampuan akal dan potensi pikir inilah yang menyebabkan manusia menyimpan potensi dasar kebenaran dan sebaliknya memiliki pula potensi dasar kesesatan. Alter ego dan rasio berlaku sebagai efektor yang dapat memanipulasi keluaran (output) sikap manusia. Secara fisiologis Allah SWT telah menetapkan batas restriksi pertanggungjawaban seorang manusia dengan mengacu kepada kematangan biologis dan kesehatan jiwa. Seseorang yang telah akil baliq dan memiliki jiwa yang sehat akan dimintai pertanggungjawabannya atas segala perbuatan dan tindakan yang dilakukannya. Akil baliq sebagai parameter restriksi dapat dijelaskan melalui pendekatan endokrinologi, secara umum tingkat kematangan organ reproduksi akan tercapai seiring dengan telah optimalnya fase pertumbuhan organ otak. Dengan demikian pada saat seorang manusia memasuki akil baliq ia telah dilengkapi dengan organ otak yang sempurna. Hormon-hormon yang terkait dengan faktor pertumbuhan sel otak antara lain adalah Dehidroepiandrosteron (DHEA), bila DHEA tinggi maka faktor pertumbuhan otak seperti NGF (Neuron Growth Factor) akan aktif memicu proliferasi sel-sel otak, sebaliknya bila hormon ini menurun atau dipergunakan untuk kepentingan lain, seperti pertumbuhan gigi, maka laju pertumbuhan sel-sel otak akan berkurang. Pada otak terdapat banyak reseptor testosteron, sedangkan pada masa tumbuh kembang testosteron dari testis belum diproduksi, bahkan pada wanita sampai dewasapun tidak diproduksi. Testosteron baik pada pria maupun wanita di usia tumbuh kembang didapatkan dari hasil konversi DHEA, sehingga pada masa-masa ini DHEA sangat diperlukan. Semakin tinggi kadar DHEA yang diproduksi oleh zona retikularis kelenjar anak ginjal (adrenal) maka tingkat pertumbuhan sel otak akan semakin pesat. Perkembangan otak yang pesat, terutama di daerah lobus frontalis, akan berakhir pada usia sekitar 11-14 tahun pada saat kadar testosteron dari alat reproduksi mulai meningkat, pada saat itulah stimulasi transkripsi oleh testosteron mulai didominasi oleh sel-sel somatik dari anggota tubuh (kompetisi dimenangkan oleh pertumbuhan anggota tubuh). Pertumbuhan gigi dan otak juga mengalami kompetisi, dimana kadar DHEA yang tinggi akan dipergunakan oleh sel-sel otak selama belum terbagi dengan pembentukan gigi.
Secara filosofis penggunaan akil baliq sebagai parameter restriksi waktu pertanggungjawaban juga terkait erat dengan konsekuensi faktor reproduksi. Konsekuensi kematangan reproduksi adalah munculnya kemampuan untuk menikmati stimulasi seksual. Dengan tingkat kenikmatan yang teramat tinggi tak pelak kiranya bila faktor reproduksi juga merupakan komponen egosentrisme terbesar (ingat teori tentang agresifitas dan mekanisme defensif bermotif reproduktif yang telah kita bahas di bab sebelumnya). Motif egosentrisme dengan ‘keuntungan’ ragawi yang sulit disubstitusi oleh ‘keuntungan’-‘keuntungan’ lainnya akan menempatkan faktor reproduksi sebagai ujian yang sangat berat bagi kemampuan awal potensi analitik dan seleksi serta pengambilan keputusan akal manusia. Implikasi dari dari konsekuensi faktor reproduksi juga merupakan tanggung jawab yang berat berupa kehadiran generasi penerus, buat manusia akil baliq kondisi ini menempatkan mereka pada ujian pertamanya untuk memilih opsi : kemauan untuk mengendalikan kemampuan reproduktifnya dengan lebih memfokuskan kepada proses penyiapan generasi penerus yang merupakan objek replikasi ‘nilai’ yang kita harapkan dan angankan (idea prediktif/hipotetikal), ataukah sekedar menjadikannya alat pengeruk ‘keuntungan’ dan pemuas egosentrisme sesaat ? Ini ujian yang sangat berat dan merupakan masa perploncoan bagi seorang manusia dewasa baru.
Konsekuensi lanjutan dari anugerah akal selain kemampuan untuk mengendalikan diri dan potensi kesesatan, adalah kewajiban untuk mengenali diri baik sebagai entitas fisik maupun sebagai entitas ruhaniah. Kewajiban untuk mengenali diri erat kaitannya dengan proses kontemplasi dalam mencari hakikat keberadaan dan keyakinan akan adanya sang Maha Pencipta. Sebagaimana telah diwahyukan Allah SWT dalam surah Al-Hajj ayat 5 sebagai berikut : Hai sekalian manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan, maka sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging yang terbentuk atau tidak terbentuk, supaya Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tempatkan di dalam rahim-rahim apa yang Kami kehendaki sampai kepada waktu yang telah ditentukan. Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian kamu menjadi dewasa. Dan diantara kamu ada yang diwafatkan (dalam usia dewasa) dan sebahagian dari kamu ada yang dikembalikan kepada keadaan serendah-rendah umur sehingga dia tidak mengetahui sesuatu sesudah mengetahuinya. Dan engkau lihat bumi itu kering (mati) maka apabila Kami menurunkan hujan di atasnya, ia hidup dan berkembang serta menumbuhkan beraneka tanaman yang indah.” (Surat Al-Hajj ayat 5). Maha benar Allah dengan segala firman-Nya, ilmu pengetahuan modern telah membuktikan bahwa unsur utama dari asam deoksi ribo nukleat (DNA) dan asam ribo nukleat (RNA) sebagai unit terkecil sistem kehidupan biologis setiap makhluk hidup, termasuk manusia, terdiri atas unsur-unsur utama karbon, nitrogen, oksida, gugus hidroksida, hidrogen, dan fosfat, sehingga dikenal juga gugus basa (purin atau pirimidin) bergula fosfat. Kesemua unsur tersebut adalah unsur utama tanah, dan persis serupa dengan unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah tembikar/keramik, sesuai dengan firman Allah berikut : “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.” (Surat Ar-Rahman ayat 14). Setelah terbentuknya unsur-unsur dasar kehidupan dalam tampilan struktur DNA dan RNA maka tahap selanjutnya adalah pengorganisasian unsur dasar kehidupan tersebut ke tingkat yang lebih kompleks, yaitu sel mani atau sel nutfah, atau sel-sel reproduksi. Sel mani adalah satuan biologis dengan struktur organisasi yang sudah mencerminkan pemenuhan kriteria manajerial, dimana fungsi service dan maintenance untuk menunjang performance dalam konteks produktifitas dan pencapaian tujuan utama (objective aims) dari pembentukan organisasi sel mani telah dikreasikan dengan sempurna. Pada struktur sel mani terdapat membran sel yang terdiri dari dwi lapis lemak yang memungkinkan sel mani bebas intervensi dan memiliki otoritas internal (otonomi), syarat manajerial organisasi ini sesuai dengan prinsip locus delicti (adanya persamaan tempat dan ruang lingkup). Otonomi sel diperlukan untuk menghindari terjadinya power sharing dalam hal energi, seperti sebuah organisasi terbuka yang sangat rentan terhadap pelbagai perubahan lingkungan karena tidak memiliki eksklusifitas internal (terlalu banyak masalah yang bukan core bussiness). Dengan adanya membran sel, maka tercipta suatu lingkungan internal yang terkendali dan dapat menjalankan fungsi-fungsi service, maintenance, dan produksi dengan lebih baik. Sementara hubungan dengan dunia luar tetap terpelihara dengan adanya sensitifitas reseptor di permukaan membran sel serta adanya berbagai media komunikasi baik itu bersifat antar sel maupun yang bersifat antara sel dengan dunia ekstra sel. Di tingkat sel mani (germ cell) dan sel-sel somatik (sel anggota tubuh atau organ) pola komunikasi dengan lingkungan eksternal dibangun secara spesifik dan sangat selektif, sehingga informasi yang diterima adalah informasi yang bersifat menguatkan (sinergis konstruktif), sedangkan citra yang dikirimkan/dibangun adalah citra sebenar (real time-real data) sehingga feedback yang didapat dari lingkungan adalah feedback yang memang dibutuhkan untuk perbaikan internal. Pola komunikasi ini sebenarnya merupakan acuan bagi sistem komunikasi korporat, dimana selama ini banyak korporat membangun citra palsu hanya sekedar untuk meraih kredibilitas masyarakat dalam rangka mereguk keuntungan dari terdongkraknya nilai saham, terutama bagi perusahaan publik. Terjadinya disregulasi dan kekacauan manajerial pada kasus kanker terutama sekali merusak sistem komunikasi ini, sehingga terjadilah suatu penyimpangan objective aims di tingkat sel, sel-sel tidak lagi menjalankan fungsi pencapaian tujuan utamanya. Tampaknya tanpa manajemen yang baik akan terjadi pergeseran perspektif, dan bila hal ini terjadi di tingkat manusia sebagai individu tak pelak kiranya dapat terjadi fenomena syirik atau musyrik. Tetapi sistem manajemen sel tidaklah serapuh itu, yang hanya dengan sedikit krisis bisa merusak tujuan hidup sel. Sel memiliki suatu kiat manajemen krisis atau manajemen solusi. Adapun tahapan-tahapan manajerial yang akan dilakukan oleh suatu sel dalam menghadapi krisis/intervensi pada keseimbangan adalah sebagai berikut :
• Mengidentifikasi masalah, sel telah dilengkapi oleh unit pengawasan internal yang secara rutin melakukan proses audit untuk semua unit fungsional.
• Sistem pengambilan keputusan berjenjang, dimana kepala unit terkecil sistem pengawasan internal dituntut untuk melakukan suatu telaah berbasis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat) dimana hasil analisisnya akan menentukan pengambilan keputusan terhadap tindakan yang akan diambil. Aspek penjejangan terjadi pada saat keputusan telah diambil (arrest-repair-apoptosis), arrest adalah suatu keputusan untuk menghentikan (membekukan) sementara semua kegiatan dalam sel, hal ini dilakukan bila identifikasi masalah dan solusi belum dapat dirumuskan, serta dimaksudkan untuk menghindari tingkat kerusakan yang lebih tinggi. Repair, adalah konsep kuratif dimana sumber masalah telah teridentifikasi dan dapat dilakukan upaya-upaya perbaikan, penganalogian di tingkat komunitas perusahaan adalah antara lain melakukan upaya-upaya divestasi, difersifikasi, fokus, peningkatan kualitas sumber daya manusia, peningkatan product liability-after sales services, atau segmentasi. Upaya-upaya tersebut dilakukan untuk mengeradikasi masalah dan mengembalikan performance. Sedangkan proses apoptosis adalah proses terminasi dimana tingkat kerusakan sudah tidak dapat diatasi, atau sumber masalah tidak teridentifikasi, maupun teridentifikasi tetapi tidak diketahui metoda./cara untuk menghentikannya. Analogi pada komunitas korporat adalah adanya multiplier effect dari sektor makro-mikro seperti kondisi malaise (kelesuan global), tingkat suku bunga tinggi, laju inflasi tinggi, keterbatasan resources , kejenuhan pasar (negative captive market), perubahan tingkat kebutuhan, pergeseran fungsi produk (semula substitutif atau komplementatif, saat ini mungkin menjadi menjadi produk tersier), dan akumulasi berbagai kondisi yang tidak mungkin diatasi. Karena manajemen sel adalah sistem sel, artinya setiap sel sesungguhnya termasuk bagian dari suatu networking, maka apoptosis pada satu-dua sel akan sangat membantu proses pemulihan sel-sel lainnya karena prinsip resources sharing. Sementara fungsi services dan maintenance akumulatif sebagai parameter produktifitas network dapat disubstitusi oleh konstituen jaringan, sehingga dengan demikian proses pencapaian tujuan utama akan tetap dapat terjaga. Demikianlah pula hendaknya kita sebagai manusia, dalam hidup ada beberapa prioritas yang mungkin harus kita sisihkan bila ingin tujuan akhir hidup kita yang “Lillahita’ala” dapat tercapai.
• Sistem komunikasi krisis, sebenarnya sel dilengkapi dengan sistem komunikasi yang tidak hanya berperan dalam kondisi krisis melainkan juga pada kondisi-kondisi normal. Sistem komunikasi sel terdiri sitokin dan hormon/endokrin baik yang bersifat autokrin (internal information/local area network), parakrin (komunikasi dengan komunitas lokal, lingkungan terdekat, intranet), ataupun endokrin (komunikasi lintas budaya/lintas lokus dengan bantuan hormon (steroid), internet). Sistem komunikasi di tingkat sel dan jaringan kerjanya ini sangat membantu dalam memberikan informasi akurat tentang status entitas sel, baik untuk bahan kajian internal, regional, maupun global. Sistem komunikasi sel sangat berperan dalam membantu sistem pengambilan keputusan di tingkat networking untuk menghasilkan tindakan manajerial yang tepat. Sistem komunikasi memungkinkan sel untuk mewartakan citra sebenar, dan mendapatkan data aktual tentang pengaruh regional dan global, sistem komunikasi sel juga memungkinkan terjadinya sinergisasi proses perbaikan dan proses eradikasi masalah. Dengan kata lain perilaku komunikasi sel mencerminkan suatu perilaku komunikasi bersemangat silaturahmi (lokal/internal, regional, dan global), terbuka, apa adanya, citra sebenar bukan palsu, dan selektif dalam memilah data aktual. Demikianlah hendaknya seorang pribadi muslim mengelola perilaku komunikasinya, tidak semata bersifat manipulatif untuk kepentingan diri (egosentrisme) dan tidak berkontribusi positif bagi komunitas. Efektor lain dalam sistem komunikasi intra/antar sel adalah integrin junction dan inhibisi kontak, serta keberadaan reseptor-reseptor faktor pertumbuhan (sitokin) dan hormon-hormon steroid (testosteron dan estrogen). Efektor-efektor komunikasi tersebut adalah manifestasi dari suatu implikasi pola komunikasi kekerabatan yang hangat dan erat dengan tetangga (neighborhood) atau keluarga. Kebersamaan menjadi faktor kunci dalam pola komunikasi kekerabatan ini, dimana kesamaan visi, misi, dan persepsi dalam proses realisasi adalah suatu prasyarat dalam keberhasilan pencapaian tujuan bersama. Sehingga nilai-nilai yang terbangun adalah nilai yang secara komplementatif membentuk suatu anak tangga yang secara bersama bertujuan untuk mencapai cita-cita komunal, cita-cita ummat, cita-cita manusia muslim pengikut Nabi Muhammad SAW. Sinyal-sinyal rindu baik dari individu maupun secara beregu adalah sinyal rindu mutlak hanya kepada Allah SWT yang selalu membara di setiap kalbu !

“Kenalilah wujud dirimu dan kau akan mengenali Tuhanmu !”

Secara garis besar dapat dijabarkan di sini bahwa sistem manajerial sel nutfah terdiri atas visi sel, yaitu membentuk generasi penerus yang sehat dan sesuai dengan kode genetika (DNA) yang diwariskan orang tua, yang dijabarkan dalam misi menyediakan lingkungan internal yang kondusif bagi keamanan kode genetika, menghantarkan kode genetika dengan selamat sampai bertemu dengan sel telur, melaksanakan fungsi pelayanan dan pemeliharaan (services dan maintenance). Untuk menunjang visi dan misi tersebut sel nutfah dilengkapi oleh unit security (membran sel, nukleus), environmental control (sitoplasma, lisosom), service & maintenance (mitokondria untuk suplai energi, retikulum endoplasma, ribosom, dan apparatus golgi untuk pemeliharaan struktural). Pada sel-sel somatik berlaku hal serupa dengan titik berat maintenance pada proses sintesa protein dengan mengacu kepada kode genetika DNA yang akan diterjemahkan ke dalam bentuk RNA dengan bantuan enzim RNA Polimerase untuk selanjutnya ditranslasikan menjadi untai-untai asam amino yang akan membentuk protein yang dibutuhkan baik itu berupa enzim, sitokin, faktor pertumbuhan, blok protein untuk menyusun lipoprotein, hormon, ataupun mediator pertahanan tubuh. Itulah dunia sel yang sangat well organized-well managed dengan best output. Di antara sistem-sistem tersebut dikembangkan suatu pola komunikasi yang akurat, tepat, dan efisien inilah sesungguhnya konsep dasar TI (teknologi informasi) dimana penguasaan data merupakan suatu assesment penting dalam pengambilan keputusan baik itu yang terkait dengan produktifitas maupun yang terkait dengan penataan sistem internal. Sistem manajerial sel juga dilengkapi dengan fungsi pembagian habis tanggung jawab dengan menempatkan setiap unit sebagai unit otonom yang telah dilengkapi dengan kemampuan artifisial intelijen yang dianggap laik dalam menunjang sistem pengambilan keputusan berjenjang. Dengan otoritas yang jelas dan peta posisi dalam jaringan yang tegas, maka seorang manajer madya dan pratama akan dapat melakukan keputusan besar dengan resiko kegagalan minimal, demikianlah yang harus kita lakukan sebagai manusia muslim, meneladani sel tubuh kita sendiri dalam mensinergikan potensi. Satu hal lagi yang sangat menonjol dalam sistem manajerial sel adalah tidak adanya fenomena one man show melainkan selalu diterapkan sistem manajerial non-linier yang melibatkan banyak pihak dalam jaringan. Kondisi ini memecah faktor resiko secara berjenjang pula dengan harapan penyelesaian/solusi masalah akan jauh lebih komprehensif bila ditelaah dan didekati secara multi aspek.
Dalam perjalanannya sel nutfah akan bergabung dengan sel telur dan melakukan suatu aliansi strategis untuk membangun suatu networking yang lebih komprehensif dengan multi fungsi pelayanan fisiologis. Sel nutfah akan melakukan capital sharing dan akan membentuk sistem alel baru yang memungkinkan terjadinya sinergisasi potensi genetik dari 2 belah pihak yang terlibat dalam kontrak biologis (ayah dan ibu). Keutamaan sistem alel ini adalah terbukanya kemungkinan-kemungkinan untuk memunculkan potensi baru yang inovatif dan tidak terdapat di generasi-generasi sebelumnya. Berdasar filosofi tersebut jadikanlah tali silaturahmi kita dengan sesama, ataupun ikatan perkawinan kita dengan pasangan menjadi suatu hubungan yang dijiwai sistem alel, dimana terjadi resultante nilai yang diharapkan bermotif saling menguatkan.
Fase tumbuh kembang sebagai seorang manusia telah kita bahas di permulaan tulisan ini maupun di bagian lain buku ini, sehingga yang masih perlu kita bahas di sini adalah peran repositioning seorang manusia pasca akil baliq. Dengan kemampuan analitikal dan sistem pengambilan keputusannya seorang manusia yang dianggap telah mampu bertanggung jawab sesungguhnya dilimpahi wewenang yang luar biasa. Visi yang diterapkan atasnyapun sungguh luar biasa, “rahmatan lil alamin.” Pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana seorang manusia muslim memposisikan dirinya sebagai khalifah di muka bumi Allah yang segala sesuatu di dalamnya boleh dimanfaatkan dan dipergunakan bagi kepentingan dirinya, sekaligus disaat yang bersamaan keberadaan dirinya dituntut dapat membawa rahmat bagi alam semesta ? Ketika alam semesta diciptakan dari sesuatu yang padu (QS surat Al-Ambiyaa 30-31), singularitas tersebut berproses atas kehendak Allah SWT untuk membentuk berbagai tata surya dan melebarkan medium langit (“Dan langit Kami bangun dengan kekuatan, dan Kamilah yang meluaskannya.” surat Adz Dzaariyaat ayat 47), terciptalah bumi dan langit. Gambaran ini sesuai dengan teori Big Bang dimana gumpalan-gumpalan materi pasca ledakan lambat laun mulai mendingin dan mengering. Terciptalah bumi yang panas dan mulai membentuk kerak-kerak aktif di permukaannya. Penguapan gas sulfur (H2S), karbondioksida (CO2), metana (CH4 ), serta nitrogen perlahan mulai terkondensasi dan menghasilkan hujan asam. Lambat laun dalam tempo jutaan tahun, air hasil kondensasi tersebut keasamannya berkurang, dan dengan bantuan sambaran petir sebagai katalis fisik maka NH4 (amoniak), metana, dan air akan membentuk gugus gula fosfat, basa nukleotida, dan 8 jenis asam amino, “Dan di antara ayat-ayat-Nya, Dia memperlihatkan petir yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi setelah matinya ; sesungguhnya dalam gejala alam itu terdapat ayatullah bagi mereka yang menalar.” surat Ar-Ruum ayat 24. Dari fenomena tersebut bermunculanlah berbagai tanaman hijau yang indah dan sangat bermanfaat, demikian pula berbagai jenis makhluk hidup lainnya dengan berbagai tingkatan serta berbagai ukuran (QS surat Nuh ayat 14 dan Al-Qamar ayat 49), lalu terjadi proses adaptasi dan persesuaian kemampuan bagi seluruh isi bumi, spesies apapun yang mampu bertahan secara evolutif akan menjadi pemenang dari ‘survival of the fittest”, “Dan Tuhanmu menciptakan apa saja yang diinginkan dan memilih ; tak ada pilihan bagi mereka ; Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” Surat Al-Qashash ayat 68.
Demikianlah manusia yang harus mempertahankan eksistensinya dihadapkan kepada suatu keseimbangan yang mutlak harus dijaga. Pada saat gunung-gunung bersikap istiqamah, konsisten mempertahankan gerak maju kerak bumi, sebagaimana kita ketahui pegunungan adalah suatu konsekuensi geologis dari pertemuan dua lempeng kerak bumi, dan seisi bumi bertasbih dengan jalan memainkan peran sunatullahnya, manusia dikaruniai akal untuk mengkoordinasi, membina hubungan yang tidak mengubah kesetimbangan, sembari di sisi lain manusia dengan kelebihan akalnya juga dituntut untuk mampu memberikan suatu nilai tambah (added value). Pola hubungan manusia dengan seisi bumi yang pada dasarnya istiqamah menjalankan sunatullahnya, menjadi suatu hubungan yang menarik di mana akal menjadi suatu alat yang bak pendulum dapat bergeser dari motif manipulatif/egosentrisme ke motif khalifutullah, dimana manusia dituntut untuk bertindak selaku regulator kedamaian dan koordinator pendistribusian keuntungan bersama. Semua spesies adalah pilihan Allah SWT (Al-Qashas ayat 68) dan semua konstituen baik biotik maupun abiotik di luar unsur manusia senantiasa bertasbih dan memuji kebesaran Allah SWT dengan jalan memainkan perannya secara proporsional. Coba kita lihat patahan Lembang, yang proses pembentukannya menandai berakhirnya riwayat Gunung Sunda Purba yang berkawah di Situ Lembang, patahan geologis itu menunjukkan bahwa gunung-gunung itu ‘berlari’ sesuai dengan proses desakan lempengan yang menjadi bagian integratifnya (Indoaustralia-Eurasia). Gunung-gunung menunjukkan bahwa sunatullah adalah bagian dari proses agung penciptaan alam semesta yang terus berkembang dan bertransformasi. Eksploitasi lingkungan yang dilakukan manusia tanpa memperhatikan sunatullah masing-masing komponen yang terlibat di dalamnya akan berakibat pada terjadinya pergeseran kesetimbangan yang akan direspon sebagai suatu proses awal dari suatu proses kerusakan yang berkesinambungan. Suatu sistem yang terintervensi akan melakukan proses lanjutan/hilir tidak sesuai dengan komitmen awal, dengan demikian polah manusia yang ‘mengganggu’ proses ‘tasbih’nya konstituen alam semesta maka kerusakan demi kerusakan yang diprediksi oleh para malaikat sebagaimana termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 30 tak pelak akan menjadi kenyataan. Perlu diingat pula bahwasanya setiap komponen dan konstituen alam semesta adalah unit-unit yang telah ‘diridhoi’ keberadaannya, karena Allah SWT secara tegas telah menyampaikan hak prerogatifnya dalam hal menentukan apapun yang hendak diciptakan-Nya. Dengan demikian berdasar dalil setiap ciptaan memiliki ukuran, tingkat, dan fungsi, maka keberagaman biotik dan keseimbangan abiotik tampaknya perlu dijadikan acuan dalam pola hubungan manusia dengan lingkungannya. Pada bagian lain dari buku ini telah dibahas bagaimana sesungguhnya sepucuk pohon pinuspun dapat mempengaruhi profil psikoneuroendokrinologi seseorang. Demikianlah kiranya Allah SWT telah menciptakan alam semesta dengan kelengkapan konstituennya untuk bersama-sama berproses mencapai suatu tujuan komunal kosmik, dimana pada setiap bagian integratif yang terlibat sudah jelas tergambar visi, misi, dan SOPnya, yang merupakan penjabaran manajerial dari sunatullah, dan sekali lagi peran manusia adalah yang tersulit, karena dengan karunia akal sebagai alat analitiknya manusia telah ditakdirkan berperan sebagai regulator transformasi, dimana arah transformasi bisa bermanifestasi kehancuran ataupun berimplikasi kemaslahatan bagi semesta sekalian alam. Secara fisiologis fungsi biologi yang terkait dengan pengaturan sikap dan respon manusia terhadap lingkungan meliputi hampir keseluruhan bagian otak. Pengekspresian sikap bergantung kepada pesan sensoris yang diterima dari seluruh panca indera (mata, telinga, hidung, kulit, lidah pengecap) yang merupakan prekursor informasi. Dimana prekursor informasi yang diterima merupakan simbol-simbol dengan wahana energi foton (untuk organ sensoris visual), gelombang bunyi (untuk audio sensoris), tekanan dan suhu (untuk sensasi sensoris), dan aneka ragam molekul rasa (untuk sensor pengecap). Simbol-simbol yang diterima akan diolah dan dianalisa sebagai dasar manusia untuk merespon dan menentukan sikap. Prekursor informasi pada tahap lanjut merupakan suatu format pembelajaran yang sangat penting bagi manusia dalam proses adaptatifnya dalam jenis kehidupan yang dipilihnya. Memori atau ingatan akan menjadi basis data bagi manusia untuk menentukan pilihan sikapnya dan bekal kemampuannya untuk berkomunikasi dan mensosialisasikan ide dirinya tentang entitas dan keberadaannya. Semua prekurosr informasi yang diterima dan ditangkap oleh reseptor-reseptor sensoris di seluruh sistem tubuh manusia akan ditransmisikan melalui formasio retikularis untuk diproyeksikan melalui talamus ke daerah proyeksi primer di lapisan korteks otak. Prekursor informasi akan dianalisa di daerah-daerah dengan persesuaian jenis informasi dan suseptibilitas respon. Daerah proyeksi primer yang berada di korteks antara lain adalah daerah pengaturan kesadaran, emosi dan fungsi vegetatif. Jaras retikuler dan jaras asosiasi bertugas menghubungkan reseptor sensoris dengan daerah proyeksi di korteks otak Nukleus kolumna dorsalis membantu mentransmisikan prekursor informasi mengenai tekanan, rabaan, dan proprioseptif serta sensasi postur ke talamus dan selanjutnya ke daerah korteks otak. Kemampuan menerima dan menangkap prekursor informasi tersebut dapat dikendalikan dan diatur intensitasnya secara sadar oleh manusia dengan menngaktifkan fungsi hambatan sensor melalui jaras descendent Prekursor informasi sebenarnya tidak diolah secara parsial oleh organ otak, melainkan diperlakukan sebagai suatu prekursor yang dapat mengaktifasi satu atau lebih sistem pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil dapat berada di ruang lingkup fungsi kesadaran ataupun emosi, akan tetapi secara fungsional berjalannya kedua sistem tersebut tentu memerlukan aktifasi sistem vegetatif yang merupakan efektor dari sikap dan reaksi penerimaan. Sistem vegetatif pada manusia meliputi seluruh fungsi vital sistem tubuh manusia seperti respirasi, sirkulasi, regulasi endokrinologi, dan semua respon simpatis dan parasimpatis.

Daerah korteks yang bukan merupakan area proyeksi utama (kesadaran, emosi, dan fungsi vegetatif) adalah bagian dari daerah korteks yang bertanggung jawab dalam melakukan fungsi asosiatif, atau sebagai pengintegrasi dan mengkombinasi berbagai fungsi yang terangkum dari berbagai area organik. Korteks non spesifik atau asosiasi terdiri atas bagian pre-frontal, bagian limbik dari daerah frontal, daerah temporal, parietal, dan oksipital. Fungsi integrasi dari korteks nonspesifik antara lain ditunjukkan oleh area 3 yang diduga merupakan daerah kendali aktifitas sensoris tertinggi dengan mengintegrasikan alir prekursor informasi dari formasio retikularis, pengolahan di korteks frontalis, hipotalamus, hipofise, sampai pada mengefektori respon motorik melalui jalur serebelum. Sedangkan contoh lain adalah fungsi area 2 sebagai pengendali tingkah laku bawaan (genetically herediter) yang mensubordinasi suatu sistem kendali yang didapat (aqcuired) dalam bentuk sistematika perencanaan dan pelaksanaan dalam rangka mensinkronkan motivasi internal dengan fakta/realitas prekursor informasi dari lingkungan.
Hipotalamus adalah pusat pengendali fungsi vegetatif dan endokrin dalam sistem tubuh manusia. Hipotalamus adalah pengendali fungsi homeostasis lingkungan internal. Untuk pengaturan suhu tubuh hipotalamus medial dilengkapi dengan termoreseptor, sedangkan untuk pengaturan tekanan osmotik dilengkapi dengan osmoreseptor, dan juga terdapat reseptor pengendali umpan balik negatif dalam fungsi endokrinologis. Hipotalamus dapat mengatur hormon dan juga proses saraf otonom dan somatik, termasuk di dalamnya (a) tingkah laku defensif (reaksi penanda bahaya), (b) reaksi konduktif terhadap nutrisi dan pencernaan (tingkah laku nutrisi), (c) reaksi pengaturan suhu, (d) tingkah laku yang terkait dengan sistem reproduksi (reaksi reproduksi). Sistem endokrin merupakan efektor dari berbagai reaksi yang dipilih untuk dijalankan sebagai suatu respon terhadap prekursor informasi.
Sistem limbik mengendalikan tingkah laku bawaan sejak lahir dan yang didapat dari asupan prekursor informasi (berasal dari lingkungan),sistem limbik mengendalikan insting, tingkah laku, motivasi, dan emosi (inner soul). Sistem limbik mempunyai bagian kortikal yang secara organik terdiri dari hipokampus, girus parahipokampus, girus cingula, dan bagian korteks olfaktorius. Bagian lain dari sistem limbik adalah subkortikal yang terdiri dari badan amigdala, area septa, dan nukleus talamik anterior. Terdapat hubungan timbal balik antara hipotamus medial-lateral (proses pengolahan memori sebagai basis data dalam pengambilan keputusan), dan hubungan bilateral dengan korteks frontalis dan korteks temporalis. Hubungan dengan korteks temporalis dimaksudkan untuk mengolah dan menganalisa data dengan bantuan fungsi luhur frontalis dalam rangka menghasilkan suatu harmonisasi antara prekursor informasi yang diterima dengan basis data memori dan kemampuan analisis fungsi luhur frontalis untuk menghasilkan suatu persepsi yang akan terwujud dalam suatu wujud tingkah laku dan sikap. Sistem limbik juga mengatur dan mengendalikan ekspresi emosi (takut, marah,gusar, jenuh, bahagia,riang), dimana salah satu faktor kimiawi penting yang terlibat didalamnya adalah molekul-molekul hidu yang memiliki reseptor sensoris organ penghidu. Molekul penentu bau/aroma ternyata memiliki efek sentral dengan mempengaruhi sistem pengambilan keputusan di sistem limbik-frontalis.
Neurotransmiter, sedikit banyak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap respon tingkah laku. Hal ini terutama diperankan oleh sistem jalur monoaminergik (neuron noradrenergik,dopaminergik, dan serotoninergik).dimana sistem ini meliputi jaringan kerja batang otak, formasi retikularis, talamus, dan daerah korteks otak.

Aktifitas neurotransmiter di sinap-sinap sel neuron
Stimulasi pada daerah adrenergik akan menimbulkan suatu perkuatan sikap positifisme yang ditunjukkan dengan perhatian dan penghargaan/menghargai. Sedangkan stimulai pada daerah serotoninergik menunjukkan respon penarikan diri (egois) tidak berkepnetingan dengan proses interaksi lingkungan yang merupakan manifestasi pembangunan keamanan dan kenyamanan diri/pribadi. Sebenarnya secara biofisika ritme regulatorik internal otak dapat terbaca melalui penyandapan dan pemindaian impuls elektrik sistem konduksi otak melalui alat pindai otak EEG (Electro Enchephalography), dimana gelombang alfa () yang ritmik dikesankan sebagai suatu keadaan ‘tenang’.

Peran Gen
Peneliti di bidang neurobiologi, psikiatri, dan biologi molekuler saat ini mulai mengembangkan suatu hipotesa baru tentang sistem sikap, perilaku, dan respon terhadap prekursor informasi, yang ditengarai merupakan suatu sistem integratif dengan sifat-sifat genetis yang diturunkan (herediter). Dengan demikian gen menjadi faktor penentu sikap sosial beserta implikasinya. Berbagai penelitian menunjukkan adanya beberapa lokus STR (Short Tandem Repeated) (lebih dari 9) yang menunjukkan adanya kemiripan pada penderita-penderita masalah sosial (perceraian, tingkah laku agresif, dan egoisme), pada beberapa penelitian lain meskipun secara genotip belum terbukti, pembuktian secara tidak langsung dengan mengamati dan mengevaluasi kaitan korelatif antara perilaku dengan parameter efektor fenotip dari hormon-hormon limbik (ACTH, kortisol, adrenalin, atau serotonin) menunjukkan adanya unsur korelasi yang sangat signifikan di antara keduanya. Pertanyaan mendasar pada pendekatan ini adalah,”apakah potensi-potensi genetis tersebut hanya terdapat pada individu tertentu ?” Mengingat secara struktural tentulah gen penyandi neurotransmiter (chemical variable in behaviour) tentu dimiliki setiap orang. Dalam agama Islam bahkan secara eksplisit ditegaskan bahwa setiap manusia yang terlahir ke dunia melalui rahim ibunya adalah ‘fitrah’, suci bersih tidak berdosa dan tidak membawa kesalahan struktural terkait dengan aspek sosial. Bagaikan lembar-lembar halaman buku tulis yang putih bersih dengan ornamen seragam garis-garis bantu pemisah, maka manusia menurut Islam adalah makhluk multipotensi yang dibekali dengan beragam potensi yang bersifat terbuka, dapat ditulisi dan digambari serta dibentuk oleh dirinya sendiri dan lingkungannya. Manusia dalam Islam perlu dan harus menjadi khalifah atas dirinya sendiri dan atas dunia mikrosnya (mangku jagat cilik), sebelum berpotensi untuk menjadi kontributor nilai positif bagi dunia makrosnya (mangku jagat rat). Secara biologi molekuler menyalahkan gen adalah suatu hal yang teramat sangat prematur. Gen bukanlah faktor tunggal yang dapat menentukan ‘abang-ijone’ tampilan fenotip. Gen adalah satu sumber dari berbagai sumber penting tampilan fenotip. Dalam sistem alele yang mencerminkan suatu sikap check and balances suatu gen tidak akan terekspresikan dengan hanya berdasar kepada panduan herediter satu pihak saja. Dalam sistem kendali mutu, produksi protein dari suatu gen juga di kerjakan dalam suatu jenjang sistem pengambilan keputusan dengan TOR dan juklak yang ketat. Supervisi tidak hanya dilakukan oleh satu unit melainkan berlapis dan melibatkan banyak unsur genetis. Faktor promotor sebagai inisiator transkripsi memang memiliki peran yang signifikan dalam mengendalikan proses mulainya suatu transkripsi, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa faktor promotor sendiri haruslah diaktifasi oleh faktor lain yang secara hirakis memiliki garis komando lebih tinggi. Faktor transduksi adalah inisiator aktifasi promotor, akan tetapi perlu diingat pula bahwa faktor transduksi dalam mengaktifasi promotor amat bergantung kepada faktor lingkungan baik eksternal maupun internal. Adanya lingkungan promotor yang tidak menunjang (seperti adanya kekacauan mikrosatelit) ataupun tidak adanya asupan prekursor informasi dari jenjang transduksi hulu (sitosolik dan membran) akan mengakibatkan tidak terjadinya (inhibisi) proses transkripsi. Pada tahap selanjutnya transkripsi tidak akan berjalan tanpa bantuan RNA polimerase, sedangkan RNA polimerase membutuhkan kehadiran molekul pemicu yang wajib terkait di salah satu ujung gugus amino asilnya, dengan demikian bukan hanya faktor transkripsi saja yang berperan penting melainkan ada sistem back-up lain yang terlibat dalam aktifasi jalur tersebut (multi sistem berjenjang). Bukan itu saja kesalahan nukleotida cetakan (DNA) sudah diantisipasi dengan sistem repair yang terdiri dari protein-protein montir yang antara lain dikenal sebagai MLH-1 atau MSH-2. Sistematika gena yang rumit tidak berhenti di situ saja melainkan secara holistik juga meliputi evaluasi pasca transkripsional dan pasca translasional. Bila produk protein telah dilaunching dan ternyata terbukti tidak dikenal dalam ruang lingkup (klasifikasi) normalitas maka protein tersebut akan didegradasi melalui aktifasi anti bodi ataupun sistem kekebalan tubuh lainnya secara komprehensif. Dengan demikian sulit kiranya untuk menimpakan kesalahan pada sistem pewarisan sifat dengan hanya bersandar pada pendekatan fenotip semata.

Patososiobiologi
Secara patobiologis untuk menghindari terekspresinya sifat bengis, keji, culas, pembohong (reaksi defensif terhadap bahaya), egois dan sombong (reaksi tidak peduli/tidak berkepentingan) dapat ditelaah baik melalui pendekatan organik maupun pendekatan fungsional termasuk fungsi genetis. Agresifitas dan kemarahan biasanya terkait erat dengan jalur adrenergik yang mempunyai efektor adrenalin, tetapi adrenalin tidak begitu saja dirilis oleh depo kelenjar anak ginjal bila tidak ada suatu impuls dari sistem saraf pusat. Dengan demikian kemampuan seorang manusia untuk mengendalikan efektor (hormonal) emosinya banyak terkait dengan kemampuan aktifasi dan sensitisasi jalur desenden (ingat sub bab I). Jalur desenden berperan penting dalam menyaring prekursor informasi sensoris dari organ sensoris manapun. Langkah berikutnya adalah mensinergikan faktor integrasi yang diperankan oleh korteks non spesifik, dimana asupan prekursor informasi dari jalur inlet didistribusikan secara proporsi fungsional, apakah mempengaruhi kesadaran, emosi, ataupun respon vegetasi. Area korteks dengan berbekal basis data memori haruslah melakukan suatu analisa fungsi luhur dengan langkah-langlah intelijensia yang bersifat futuristik. Memori menjadi bagian yang teramat penting dalam sistem pengambilan keputusan korteks frontalis. Dengan basis data memori yang berisi informasi-informasi ‘sebab-akibat’, experiences (pengalaman yang baik dan buruk), hipotesa, dan asumsi maka korteks akan dapat menentukan respon spesifik. Tipologi basis data menjadi bergantung kepada informasi pedagogik natural dan artifisial yang diterima, pengalaman atas respon terdahulu, dan kemampuan sel-sel neuron untuk mengembangkan berbagai alternatif hipotesa pada suatu kasus (hipotesa alternatif selalu ada pada setiap jalan pikiran manusia yang tidak linier). Tipologi memori pada akhirnya akan menjadi software enhancer bagi pemilihan efektor terkait. Memori juga mennetukan tingkat ‘bahaya’ yang teridentifikasi dan secara tidak langsung juga mempengaruhi pengambilan keputusan yang akan dilakukan. Sumber informasi pada usia tumbuh kembang adalah prekursor informasi audio dan visual yang bisa ditemui pada lingkungan internalnya. Patronisme orangtua dan nilai keteladanan tampaknya merupakan suatu model yang sulit terbantahkan sebagai suatu sumber pengalaman yang sangat penting. Seiring dengan perkembangan teknologi, fungsi-fungsi tersebut banyak disubstitusi oleh media-media audio-visual dan individu lain yang berperan sebagai substitutor orang tua. Di tingkat gen, respon korteks frontalis secara tidak langsung akan mempengaruhi proses transkripsi gen efektor (melalui faktor transkripsi dan sinyal transduksi). Dengan demikian peran gen disini adalah sebagai penyedia potensi, bila dikehendaki untuk terus menerus ditranskripsi dan memproduksi protein efektor tertentu maka gen akan menjalankannya sesuai perintah. Reaksi defensif juga dapat dianalisa melalui pendekatan ‘penolakan’ atau rejeksi. Toleransi terhadap prekursor informasi yang berwujud rejeksi amat menentukan reaksi korteks frontalis. Proses ini dikenal juga sebagai suatu parameter kesabaran. Rejeksi sendiri dapat dikategorikan dalam 2 terminologi, yaitu rejeksi yang bersifat internal, minder (under estimate), terpuruk dengan asupan informasi terdahulu yang menggambarkan kekurangan diri/pribadi, ketidakmampuan mengkomunikasikan ide secara verbal, dan rejeksi eksternal dari pihak kedua dalam lingkungan. Toleransi terhadap rejeksi bergantung kepada kemampuan mengendalikan jalur desenden dimana prekursor informasi yang diterima disesuaikan dengan realitas dan kebutuhan internal (egosentrisme terbatas).
Mekanisme defensif yang berlebih juga dapat terwujud dalam bentuk pengingkaran dan kebohongan, serta pengekspresian kesombongan. Mengeksploitasi suatu potensi secara berlebih dan melebih-lebihkan suatu potensi adalah bentuk proyeksi kegagalan penerimaan atas entitas diri. Ketidakmampuan untuk tampil apa adanya adalah suatu kegagalan pengintegrasian antara memori nilai ideal diri dengan prekursor informasi aktual menyangkut keberadaan diri. Kebohongan adalah suatu fenomena patologis yang dipicu antara lain adanya gangguan terhadap internal secure system, yang perlu ditambal dengan ilusi dan fantasi agar tidak ‘mengancam’ keselamatan dan integritas personal. Fenomena kesombongan dan kebohongan secara patobiologis sesungguhnya adalah kombinasi yang sangat menarik antara dua jaras sistem sosial saraf pusat, yaitu; sistem noradrenergik yang progresif, terbuka, komunikatif, dan mempengaruhi lingkungan eksternal (dengan kebohongan), dengan sistem serotoninergik yang berimplikasi pada ketidakbertanggungjawaban sosial (tidak peduli atas dampak kebohongan dan kebanggaan semunya). Kedua jalur tersebut dalam jalur utama monoaminergik adalah dua jalur yang kontradiktif, akan tetapi pada pendekatan kebohongan-kesombongan dapat berlaku serial dan linear dimana ketidakpedulian serotoninergik muncul sebagai pemicu penguatan positif ekspresionis adrenergik dalam program penyelamatan citra diri. Di sisi lain kebohongan adalah manifestasi hasil analisa berbasis data memori alur sistematik ‘keuntungan’. Bohong dilakukan karena adanya informasi dasar yang secara impulsif mensuplai imaji bahwa kebohongan akan menguntungkan individu bersangkutan.
Pada dasarnya bengis, keji, culas, sombong, dan pembohong adalah mekanisme defensif terhadap berbagai reaksi fisiologis yang pasti dialami oleh setiap manusia. Reaksi tingkah laku reproduksi yang penuh dengan potensi rejeksi dapat menjadi pemicunya, demikian pula reaksi tingkah laku nutrisi yang penuh dengan kompetisi, dan interaksi antar citra pribadi yang secara tidak sehat sering dijiwai semangat kompetitif dapat pula menjadi faktor pemicu. Tetapi terlepas dari semua faktor pemicu yang perlu diamati, dipelajari, dan dibenahi adalah bagaimana mengaransir dan mengintrodusir basis data yang baik serta sistem pengambilan keputusan sistem saraf yang rasional dan terukur.

Saran Patososiobiologis
Berdasarkan pendekatan patobiologis fungsi integrasi korteks otak sebenarnya dapat dikondisikan dan dimanipulasi. Meski sedikit berbeda pendekatan manipulatif yang telah terbukti adalah pengendalian neurotransmiter derivat monoaminergik melalui penggunaan obat-obatan/unsur kimia yang tergolong dalam neurofarmaka/psikofarmaka. Kemampuan pengembangan potensi positif sistem sosial saraf pusat dalam konteks pembangunan masyarakat dengan ruang lingkup regional-global hendaknya lebih mengedepankan aspek preventif dan pengkondisian awal ketimbang memperbaiki dan membayar konsekuensi logis dari suatu kondisi patologi sosial. Hipotesa yang diajukan dalam artikel ini sesungguhnya adalah hipotesa teoritik dengan pendekatan organo-fungsional, dimana peran organo sensoris dan faktor prekursor informasi menjadi subjek manipulasi. Adanya kesepakatan teoritis bersama yang menempatkan fungsi luhur korteks otak secara bermakna ditentukan oleh memori dasar, merupakan suatu pijakan dasar dalam proses pengkondisian awal. Pengintegrasian antara prekursor informasi yang diterima individu dengan kemampuan kognitif berbasis data memori, disertai kelayakan efektor untuk berespon adalah poros fungsional yang menjadi kerangka konsep. Dari konsep tersebut faktor genetis merupakan variabel perancu (confounding variable) yang cukup signifikan untuk mempengaruhi keluaran dari faktor kelayakan efektor. Tidak adanya regulator yang mampu mengendalikan re-uptake serotonin, misalnya, akan menjadikan impuls serotoninergik tidak akan menghasilkan keluaran yang sama dengan individu normal (secara fisiologis). Pada faktor analisa fungsi luhur memori atau informasi dasar merupakan faktor paling dominan dalam mempengaruhi keluaran respon tingkah laku dan sikap, serta kadar emosional. Untuk mengimplantasikan dasar memori yang baik dalam sel-sel neuron area korteks frontalis kiat berikut dapat diuji kesangkilannya;
• Membiasakan komunikasi intra keluarga dengan media yang akrab dengan kehidupan keseharian, yang kental dengan nuansa budaya dan nilai acuan keluarga. Mendongeng dan mendengarkan ekspresi verbal dari setiap anggota keluarga adalah cara yang paling mudah dan efektif. Pada fase pertumbuhan psikologis seorang manusia kesempatan untuk berekspresi dan diapresiasi merupakan suatu titik awal tumbuhnya kepercayaan diri yang berlandas kepada kenyataan dan pengalaman adanya rassa ‘aman’ untuk berekspresi dan ‘bebas’ dari subordinasi dan kemungkinan dimarginalisasi serta direndahkan secara emosional. Mendongeng sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada balita ataupun anak-anak usia sekolah saja, melainkan juga kepada setiap konstituen dalam dunia makros manusia (keluarga, teman, lingkungan). Dalam dongeng terkandung upaya transmisi nilai. Upaya ini adalah upaya yang sebenarnya cukup signifikan dan tidak semudah teorinya. Transmisi nilai yang baik hendaknya tidak sekedar menyampaikan kebenaran faktuil yang dangkal melainkan juga menjadi suatu ajang pelatihan sistem analisa. Baik untuk disimak kiranya penuturan Dr.Damardjati Supadjar dalam sebuah retorika sinoptik kehidupan berikut ; Seorang guru berdiri di depan kelas, memegang pulpen, dan bertanya kepada seorang siswa. “Ini apa ?” Siswa langsung menjawab ,”Itu pulpen.” Guru tersebut menerangkan kepada siswanya, bahawa jawaban itu benar, hanya saja kebenarannya merupakan pernyataan yang lonjong. Pernyataan kebenaran yang agak bulat akan berbunyi : “Maha pencipta Allah SWT, yang karena kodrat-iradat-Nya, saya menjadi ada, yang sekarang ini di sini, melihat bapak guru memegang sebuah pulpen, yang dapat disambung dengan pernyataan lebih substansial berikut ; “karena kebesaran Allah pula tercipta melalui ijtihad ilmiah para cendekiawan yang berhasil menemukan dan merumuskan idenya dalam suatu produk bernama pulpen”. Selanjutnya pernyataan kebenaran tersebut dapat menjadi lebih panjang dengan menguak berbagai variabel lain yang berperan dalam menimbulkan posibilitas (memungkinkan) keadaan awal tersebut terwujud. Kewaskitaan dalam mendongeng merupakan suatu media dalam meregenerasikan nilai ideal, dan mengimplantassikannya dalam korteks frontalis. Tampaknya dongeng konvensional seperti kancil mencuri ketimunpun dapat menjadi suatu pemicu opini yang berada di wilayah ‘abu-abu’ (gray area), dimana mencuri tidak sepenuhnya hitam, dan petani yang pelit dan tidak peduli lingkungannya (membiarkan kancil kelaparan, atau mungkin bahkan menjarah areal penunjang kehidupan sang kancil) tidak sepenuhnya mewakili nilai-nilai ideal tentang kebenaran yang absolut. Membiasakan konstituen keluarga dan masyarakat untuk menelaah dan menelisik permasalahan dengan pendekatan multi aspek dan tidak selalu linear, dapat bereplikasi secara eksponensial ke dalam sejumlah hipotesa alternatif, akan menjadikan kita selalu mengedepankan pendekatan holistik/komprehensif di dalam menghadapi permasalahan sesederhana apapun. Lambat laun pola berpikir seperti ini akan mengasah sistem pengambilan keputusan yang akan sangat dijiwai oleh kesabaran dan ketenangan. Pada kondisi ini dengan asumsi efektor neurologis dan endokrinologis normal, respon sikap, tingkah laku, dan kesadaran emosional akan lebih terkendali dan tertata. Pengelolaan media informasi keluarga yang baik dengan materi yang sehat secara kognisi sedikit banyak juga memiliki peran yang tak kalah pentingnya dalam menumbuhkan keterbukaan sikap dalam mengadopsi nilai-nilai dasar/acuan sebagai piranti lunak/alat bantu proses analisa yang terkait dengan fungsi integrasi sistem pengambilan keputusan saraf pusat. Media hendaknya bersifat rekreatif dan mengandung embrio prekursor informasi yang tidak represif dalam menentukan nilai kebenaran. Upaya lain yang juga perlu dikedepankan adalah mengimbangi egosentrisme yang diperankan oleh jalur serotoninergik sebagai implikasi ‘ketidak pentingan’ terhadap hal lain yang tidak terkait secara langsung kepada diri kita. Pada batasan tertentu egosentrisme diperlukan untuk mengupayakan suatu ‘achievement’ yang bersifat personal, tetapi di sisi lain perlu dibatasi dengan cara pembekalan terhadap memori di korteks mengenai adanya ‘kepentingan’ personal lain dan tuntutan komunal yang bersifat timbal balik. Egosentrisme diperlukan dalam mengelola egosentrisme. Egosentrisme bahwa mengedepankan kepentingan komunal dan individu lain pada akhirnya akan ‘menguntungkan’ diri kita baik dalam citra maupun dalam bentuk riil, akan menjadi motivasi internal yang ampuh dalam mengobarkan semangat untuk saling berbagi. Upaya lain yang tak kalah penting adalah mengelola faktor rejeksi. Seperti telah dibahas diatas bahwa rejeksi adalah salah satu faktor dominan dalam mekanisme defensif. Adanya sindrom rejeksi baik yang berasal dari sumber internal (meliputi ketidak sukaan, ketidak nyamanan, ketidaksetujuan) maupun eksternal (benturan nilai, terjebak dalam pranata sosial, inferioritas yang dikondisikan) akan menjadi pertimbangan dominan dalam fungsi integratif pembangunan respon oleh korteks otak. Pengelolaan rejeksi dapat pula mengacu kepada hipotesa ‘egosentrisme untuk kendali egosentrisme’, dimana nilai kontradiktif harus mampu diterima sebagai bagian dari memori ‘perbedaan’ , sehingga menerima suatu nilai yang berbeda dan hidup berdampingan dengannya adalah suatu hal yang wajar serta tentu saja ‘menguntungkan’ dalam bentuk peningkatan rasa aman dan nyaman (secure and comfortable). Manusia memang “homo economicus.”
• Pada tingkat lebih dewasa (juvenile) manipulasi memori memang akan sedikit lebih sulit, terkait dengan kapasitas kognisi yang juga telah memasuki fase kejenuhan atau saturasi. Pengendalian jaras desenden, yang secara organik dapat diartikan pengendalian impuls sensoris di stasiun-stasiun persinggahan impuls (ganglion spinalis, medula oblongata, dan talamus) yang secara fungsional akan meregulasi ambang batas sensitifitas impuls dan menyusun suatu skala prioritas respon. Pada pengertian yang lebih filosofis ‘jalur/jaras desenden’ adalah pengendalian pengaruh prekursor informasi dalam menetukan keluaran respon baik kesadaran, emosi, ataupun fungsi vegetatif. Fungsi vegetasi yang terkait erat dengan persyarafan otonom (simpatis/parasimpatis) dapat dikondisisikan dan menjadi media/wahana untuk memanipulasi jalur desenden dengan mengacu kepada reaksi konduktif terhadap nutrisi dan pencernaan (tingkah laku nutrisional) yang diatur dan diefektori secara organis oleh hipotalamus. Pengendalian terhadap ‘rasa lapar’ sebagai prekursor informasi tinglah laku nutrisional merupakan latihan regulasi yang baik dalam meningkatkan ambang batas sensitifitas dalam proses penyaringan impuls sensoris. Tauladan Rasulullah SAW untuk melakukan puasa sunah senin-kamis secara berkesinambungan, dan kewajiban berpuasa selama 1 bulan penuh di bulan ramadhan merupakan metoda yang paling efektif untuk proses pembelajaran sistem pengambilan keputusan poros hipotalamus-limbik-korteks frontalis. Pengendalian ambang batas penerimaan prekursor informasi ‘lapar’ berdampak kepada tercapainya stabilitas dan keseimbangan (homeostasis) baru dari pemicuan faktor efektor. Epinefrin, norepinefrin tidak diproduksi secara berlebih, sementara itu serotoninpun tidak mendominasi profil endokrinologi, demikian pula kadar ACTH dan kortisol akan mencapai suatu kesetimbangan baru. Parameter-parameter tersebut secara tidak langsung menggambarkan tercapainya suatu homeostasis yang terintegrasi antara sikap, tingkah laku, kesadaran,emosi, dan fungsi vegetasi. Mungkin puasa ‘senin-kamis’ perlu menjadi agenda nasional !
• Pengendalian jalur desenden dapat dilakukan pula dengan melatih dan mengintrodusir homeostasis baru hormon-hormon yang bersifat sirkadian seperti ACTH (Adeno Corticotropin Hormone) serta kortisol dan transkortin yang merupakan hormon glukokortikoid. Sebenarnya ACTH dan kortisol adalah parameter hilir dari suatu sistem jam biologis yang diperankan oleh sistem saraf pusat. Efektor hormonal yang berperan di proses hulu adalah CRF (Corticotropin Releasing Factor) atau dikenal juga sebagai kortikoliberin. Adanya prekursor informasi yang diterima oleh reseptor sensoris sistem jam biologis dalam hal ini reduksi cahaya dan orientasi waktu akan mengaktifasi jaringan kerja efektor hormonal saraf pusat yang terdiri dari Melatonin-DHEA-POMC (Pre-Opio Melanocortin)-Endorfin. Kondisi ketenangan yang dicapai melalui penyeimbangan rasio efektor akan memberikan sensasi relaksasi kepada individu yang ditandai dengan penyelarasan potensial listrik korteks otak, kita mengantuk. Jaringan efektor sistem jam biologi dalam kaitannya sebagai suatu alat pengambilan keputusan fisiologis tentu memiliki mekanisme umpan balik (feed back) baik yang bersifat positif (penguatan) maupun yang bersifat negatif (penghambatan). Salah satu mekanisme penghambatan dan pemfasilitasi derajat kesiapsiagaan atau pengaturan waktu ‘bangun’, siaga, dan siap beraktifitas, adalah terjadinya peningkatan kadar sirkadian ACTH dan kortisol yang dimulai dari tengah malam (pukul 12.00). Upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai suatu kesetimbangan efektor baru adalah dengan melakukan shalat malam, dimana waktu terbaik untuk melakukannya adalah 1/3 penghujung malam atau antara pukul 02.00-04.00 waktu setempat. Upaya untuk bangun di 1/3 penghujung malam dapat berarti suatu usaha untuk menstimulasi percepatan sintesa ACTH dan kortisol, dimana kedua efektor hormonal tersebut berperan penting dalam mempersiapkan kondisi ‘siaga’. Percepatan stimulasi ACTH dan kortisol secara tidak langsung akan mempengaruhi aktifitas epinefrin yang sesungguhnya merupakan efektor yang bertanggungjawab dalam sintesa ACTH. Proses rejeksi untuk bangun dari tidur yang nyaman dan hangat akan memicu peningkatan epinefrin (kesal, gundah, marah). Kondisi ketidaknyamanan temporer tersebut tercipta karena adanya kontradiksi antara kesadaran internal untuk menikmati tidur dengan kesadaran dapatan yang mengharuskan kita untuk melakukan aktifitas shalat malam. Pemicuan epinefrin dan ACTH pada onset waktu yang lebih dini akan memunculkan suatu keseimbangan baru, dimana puncak produksi epinefrin dan ACTH tidak lagi berada di sekitar pukul 06.00 pagi hari, melainkan akan membentuk kurva dengan skewness dan derajat kurtosis baru, lebih mendatar dan tidak membentuk fluktuasi harian yang radikal. Kondisi tersebut terkait erat dengan ‘mood’ harian dan kemampuan untuk mengendalikan emosi (tidak beringas) karena terkendalinya efektor-efektor mekanisme agresifitas. Tentu saja kondisi inipun akan meningkatkan kemampuan manajerial, analisa, dan negosiasi, karena individu akan dapat lebih menyeimbangkan fungsi integrasi dengan lebih mengedepankan pendekatan aspek korteks frontalis yang berbasis memori untuk menjalankan fungsi-fungsi luhurnya. Selain itu aspek pencerahan dari shalat malampun tidak terbatas hanya pada pengaturan keseimbangan baru sistem efektor, melainkan juga meliputi ketenangan kimiawi yang ditandai dengan adanya rilis endorfin. Rasa mencintai, dicintai, dan kedekatan ruhaniah akan memicu munculnya kegembiraan dan kebahagiaan yang dipersepsikan secara internal oleh sistem neuroendokrin melalui sintesa endorfin. Kegembiraan dan ekstase karena cinta dalam ruang lingkup teodisi akan memunculkan optimisme dan kerinduan akan kebenarang dan cinta yang hakiki. Demikianlah, mari kita perbanyak shalat malam !
• Penyeimbangan jalur desenden dan kepekaan kesadaran emosional dalam kegiatan keseharian dapat pula dioptimasi melalui mekanisme zikir. Dimana dalam proses zikir kita dituntut untuk melakukan revitalisasi cinta dengan mengulang simbol verbal subjek yang dicintai. Ketenangan yang terjadi dapat dijelaskan berpijak pada proses pembebasan diri dari mekanisme rejeksi yang membebani. Ungkapan cinta kita pada yang hakiki dengan setulus hati adalah suatu bentuk dimana rejeksi dinafikan. Allah adalah yang maha welas asih dan manifestasi samudera kasih sayang yang rahman dan yang rahim. Allah adalah tempat kita mengadu dan menumpahkan kasih sayang tanpa khawatir akan ditolak dan dihinakan. Ketenangan fungsi luhur korteks frontalis yang seperti inilah yang dapat digambarkan dalam parameter konduktifitas listrik otak gelombang  dengan amplitudo sebesar 50 V dan frekuensi getaran sekitar 10 Hz. Gelombang ini pada keadaan fisiologis dapat dijumpai pada keadaan relaksasi total, dimana mata tertutup tetapi individu tidak tertidur. Periode ekstase cinta yang reguler ini juga secara fisiologis cocok dengan hasil penelitian Dr.Larry Young dari Emory State University yang membuktikan bahwa tikus jantan dengan jumlah reseptor vasopresin yang ditingkatkan (diintrodusir dengan transfer gen pada sel-sel neuron di daerah globus pallidum sisi ventral) dan tikus betina dengan jumlah reseptor oksitosin yang juga ditingkatkan akan mengalami suatu keabadian cinta yang termanifestasi pada rasa setia dan senantiasa saling menyayangi. Secara fisiologis aktifitas pengekspresian suatu gen dalam konteks biomolekuler (dalam hal ini gen penyandi protein reseptor vasopresin dan oksitosin) amat dipengaruhi oleh faktor transduksi. Faktor transduksi yang terlibat dalam proses transkripsi secara teoritis terdiri dari faktor pemicu eksternal (horman dan faktor pertumbuhan), penyeranta kedua (second messenger) yang biasanya diperankan oleh ion kalsium (Ca2+), dan molekul-molekul transduktor yang tersebar mulai dari membran sel, sitoplasma, sampai dengan intra nukleus. Terkait denga peran reseptor dan hormon vasopresin serta oksitosin yang termasuk dalam domain hormon-hormon hipotalamus, maka aktifitas transduksi yang terlibat dalam proses pengekspresiannya sedikit banyak amat terpengaruh oleh profil hormon dalam domain terkait. Ketenangan jiwa dan rasa cinta yang memenuhi kalbu akan menekan transkripsi hormon-hormon agresifitas terkait hipofise-hipotalamus-adrenal, sebagai gantinya akan terekspresikan protein-protein terkait reseptor dan hormon yang berperan dalam menjaga keseimbangan baru tersebut, yaitu antara lain vasopresin dan oksitosin. Umpan balik endokrinologis yang ditimbulkan oleh rasa tenang penuh kecintaan tersebut secara teoritis akan berimplikasi pada munculnya rasa cinta yang lebih hebat lagi, tepat seperti penggalan lirik lagu Tuhan yang dinyanyikan oleh kelompok Bimbo, “aku dekat Engkau dekat, aku jauh Engkau jauh.” Relaksasi jiwa yang didominasi rasa cinta ini akan menimbulkan ‘kenyamanan’ internal dan rasa aman seolah terbebas dari tekanan persaingan dan deraan berbagai penolakan terhadap kenyataan. Perbanyaklah berzikir menyebut asma-Nya !
• KH.Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) pada suatu talk show di TVRI siaran nasional (Jumat pagi) mengatakan bahwa shalat yang baik adalah shalat yang mampu diaplikasikan kepada kehidupan keseharian. Aa Gym menyatakan bahwa andai waktu yang dipergunakan untuk melakukan ibadah shalat wajib adalah sekitar 1 jam, maka waktu yang tersisa dan harus dijalani dalam kehidupan keseharian seorang manusia adalah 23 jam. Dengan demikian aspek terpenting dari ibadah shalat adalah penjabaran esensinya dalam sisa waktu dalam sehari. Dari sudut pandang patobiososiologis, ibadah shalat wajib yang 5 waktu dalam sehari adalah mekanisme utama dalam menumbuhkan rasa cinta, kedamaian, ketenangan, kedisiplinan, dan pengujian komitmen. Dalam ritual shalt sekurangnya terdapat beberapa gatra utama. Gatra motivasi ditunjukkan melalui niat di dalam qalbu, dimana niat ini merupakan manifestasi semangat untuk mengakui dan semangat untuk mencintai, mengakui adalah implikasi dari kesadaran terhadap keterbatasan (dalam hal ini keterbatasan manusia yang merupakan makhluk/ciptaan), sedangkan mencintai adalah manifestasi suatu hubungan yang bersifat interaktif dan bebas kepentingan. Mencintai bisa timbul karena merasa dicintai, dan merasa dicintai adalah implikasi dari rasa syukur sebagai makhluk yang telah dikaruniai berbagai kenikmatan. Secara endokrinologis kemampuan untuk mengakui adalah suatu kondisi kontra adrenergik, dimana pada jaras adrenergik diwarnai agresifitas dan hasrat deterministik untuk memegang kendali. Dengan mengakui kita memposisikan diri sebagai objek kendali dan menekan kemauan untuk menang sendiri. Secara kontradiksio interminis yang musykil bagi pemikiran fisiologis, semangat untuk mencintai yang berangkat bersamaan dengan semangat untuk mengakui sebaliknya merupakan impuls sekunder bagi aktifasi jaras adrenergik, yang pada keadaan normal (normatif) akan bermanifestasi pada kegiatan eksploitatif dan manipulatif. Kita mencintai untuk memiliki dan bukan untuk dimiliki. Inilah mukzijat shalat, niat yang dicetuskan dari qalbu secara parafisiologis akan dapat menciptakan suatu homeostasis (keseimbangan) antara jaras adrenergik yang berimplikasi pada motivasi dan semangat untuk mengekspresikan rasa cinta, dengan jaras serotoninergik untuk merasa ‘hanya’ mencintai saja tanpa pamrih. Keseimbangan motivasi berbasis endokrinologis ini akan melahirkan suatu stimulasi hipotalamikus yang mengakibatkan terjadinya ekskresi endorfin. Endorfin adalah suatu hormon yang identik dengan perasaan riang, gembira, dan optimistik. Dengan niat yang tulus lahir dari qalbu maka prosesi shalat akan menjadi suatu pemicu kegembiraan tersendiri yang dapat bertahan 5-6 jam seiring dengan optimasi ekskresi ACTH dan Kortisol, diawali di waktu subuh (sekitar pukul 04.30) dibooster dengan shalat dhuha dan dipicu kembali melalui shalat dzuhur. Pada saat kadar ACTH dan Kortisol mulai menurun secara tajam selepas tengah hari maka frekuensi shalat wajib menjadi lebih rapat, sehingga kadar endorfin tetap terjaga. Dengan niat yang tepat sesungguhnya secara patobioendokrinologis shalat dapat menciptakan 1 hari yang 24 jam penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan, subhanallah ! Jaras adrenergik yang terkendali dan jaras serotoninergik yang dibatasi serta kadar endorfin yang tinggi akan membuat kita menjadi manusia yang sabar, rendah hati, tenang dalam mengambil keputusan, dan tidak agresif serta bersifat manipulatif/eksploitatif, sementara motivasi dan semangat untuk berkreasi dan berpikiran positif tetap terjaga dan didasari niat yang terorientasi pada satu tujuan, lillahita’ala. Gatra berikutnya adalah kontemplasi, dimana surah wajib yang selalu kita lafalkan dan hayati maknanya dalam shalat adalah surah Al-fatihah. Di dalam surah ini kita mengingat kembali bahwa semua yang ada di alam semesta termasuk kita sebagai konstituennya adalah ciptaan Allah, dengan demikian segala puji adalah mutlak kepunyaan-Nya. Kondisi ini bila dihayati akan mereduksi jaras hipotalamik egosentrisme (we are nothing), ketidakberdayaan yang tercipta akan menumbuhkan rasa berutangbudi bermuara cinta yang muncul karena kesadaran bahwa semua nikmat dikondisikan untuk kita dan kta tidak mungkin untuk mengintrodusirnya. Kontemplasi berikutnya adalah kesadaran paripurna (global) bahwa kita adalah makhluk yang terkungkung dalam koridor keterbatasan dan ketidakmampuan, termasuk ketidakmampuan dalam potensi intelejensia. Kesadaran akan ketidakmampuan kognisi ini pada gilirannya akan melahirkan pemahaman bahwa kita adalah sekedar makhluk yang kaya dengan potensi kesalahan disamping kaya pula akan potensi kebenaran. Untuk itulah kita selalu memohon untuk selalu ditunjuki jalan yang lurus dalam wacana kasih sayang dan kerahiman Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Gatra berikutnya adalah gatra pengekspresian, dimana secara naluriah menurut Abraham Maslow manusia memiliki keinginan untuk mengekspresikan tentang nilai dirinya. Pada proses ruku’ keinginan untuk berekspresi manusia diwadahi dalam suatu bingkai yang indah yang menempatkan manusia sebagai lukisan berentitas (memiliki nilai, dapat menentukan harga diri, dan mampu menkar keberadaan dan posisi harga diri) tetapi menyadari keterbatasannya dan rela serta pasrah untuk menjadi bagian dari keindahan paripurna lukisan sang Pelukis agung. Sami’- Allahu-liman-hamidah, mudah-mudahan Allah berkenan dengan orang yang memuji-Nya ! Gatra berikutnya adalah sterilisasi atau mensucikan hati, dimana pada prosesi sujud dan duduk diantara dua sujud kita hanya mengulang-ngulang dan menghayati kesucian Allah dan kehinaan kita yang perlu kita mohonkan ampunan. Periode ini adalah periode krusial dimana kita sebagai manusia ‘dipaksa’ untuk mau menerima kenyataan bahwa kita ‘berlumur’ kesalahan yang perlu pengampunan. Pada tahap ini terjadi kristalisasi kesadaran akan potensi kesalahan yang kita miliki, dengan kata lain periode ini adalah booster bagi gatra kontemplatif dimana manusia diajak untuk lebih mengenal dirinya. Alfa ritmik akan tercipta di korteks cerebri bagian frontal yang menandai terjadinya keseimbangan neuroendokrinologis yang tercapai sebagai manifestasi ‘penerimaan’ keadaan diri. Bentuk aplikatif dari gatra sterilisasi yang diharapkan adalah kita menjadi lebih berhati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan serta lebih terlatih dalam menyelaraskan asupan fakta dengan analisa rasional berbasis memori dan kesadaran internal (berpotensi salah) berbasis pada sistem limbik dan hipotalamus, yang pada akhirnya akan melahirkan suatu sikap yang menyejukkan dengan rasionalitas tinggi pada 23 jam yang tersisa dari 1 hari kita. Gatra terakhir adalah gatra penyelarasan, dimana pada proses attahiyat dilakukan suatu ‘pengingatan’ kembali dan pengikraran kembali sendi-sendi ketauhidan. Pemantapan keimanan, kesadaran, penerimaan fitrah dan kodrat manusia, penekanan ego yang disertai apresiasi terhadap sesama manusia yang lebih utama di hadapan Allah (Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim AS), akan membuat kita mensegmentasi nilai dan hakikat keberadaan kita dan dapat secara bijak menyikapi kompetisi dalam hidup. Dengan iman, keasadaran, dan kemampuan untuk menerima termasuk menerima kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak mampu kita kendalikan, tidak mampu kita tundukkan, dan tidak mampu kita dapatkan, akan membuat kita mampu membangun ‘ruang’ dan dimensi yang tepat untuk mengintegrasikan faktor-faktor internal dan eksternal yang berlaku atas diri kita. Diakhiri dengan salam, dapat ditafsirkan dalam bahasa jingle iklan “katakan pada dunia….”, konsep atau pemahaman ini berimplikasi pada fakta bahwa ajustifikasi nilai yang kita lakukan haruslah berdampak pada lingkungan sekitar. Gatra penyelarasan pada prosesi penutup shalat dapat dismpulkan sebagai bentuk pengintegrasian keimanan, kesadaran internal, dan penerimaan diri ke dalam suatu nilai yang mampu dikomunikasikan dan diekspresikan dalam sikap dan perilaku seorang manusia dalam kapasitasnya sebagai konstituen ciptaan Allah. Sekalian bakti lisan, sekalian bakti wadag, serta sekalian bakti materi hanya layak teruntuk Allah, mudah-mudahan turun sejahtera atasmu hai Nabi dalam rahmat dan kurnia Allah. Mudah-mudahan turun sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang sholeh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan akupun mengaku bahwa Muhammad adalah rasul-Mu………Ketika di penghujung attahiyat kita secara simbolik menengok perlahan ke kanan dan kiri maka kitapun dibawa mendarat dalam realitas dan ujian yang sebenarnya. “Katakan pada dunia…..”

Psikobiologi Haji  Lompatan Ibrahim, melampaui ambang batas nalar mengedepankan cinta dan percaya  konsep trust.
Ibadah haji adalah suatu ibadah paripurna yang di dalamnya terintegrasi dan terakumulasi seluruh nilai keutamaan yang dapat dipetik dari seluruh ibadah fardhu maupun sunnah. Seseorang yang pergi menunaikan ibadah haji sebenarnya tengah memasuki sebuah perjalanan mencari hakikat diri dan menjalani proses re-eksistensi diri. Proses re-eksistensi diri ini pada akhirnya kan menghasilkan suatu proses identifikasi diri yang lebih jujur dan lebih terstruktur orientasinya. Dalam rangkaian ibadah haji kita dibawa menuju sebuah nihilitas, dimana semua konsep dan atribut yang melekat serta mempengaruhi secara signifikan pengambilan keputusan dalam diri kita ditanggalkan. Kesadaran bahwa kita adalah makhluk Allah yang merindu sumbernya ditunjukkan dengan lokus delikti. Satu titik tujuan geografis yang disepakati sebagai tempat pulang basamo. Titik sentral itu adlah Baitullah di kota Makkah Al Mukaromah. Kita semua mengikrarkan diri untuk pulang dengan mengacu pada satu niat dan pernyataan bahwa kita pergi berhaji semata hanya karena Allah dan panggilan-Nya, Labbaik Allhumma Hajjan ! Memasuki garis Miqat kita bak ikan Salmon yang meruaya yang telah tiba di danau dambaan haribaannya. Ikan Salmon yang lahir dan bersumber dari danau nun jauh tinggi di daerah pegunungan bersalju akan merentas hidupnya, tumbuh dan berkembang menjadi Salmon dewasa setelah menjunami riam dan ngarai serta menyelami dalamnya samudera. Di titim akhir Salmon dewasa ini akan melakukan perjalanan serupa ibadah haji. Ia akan “pulang”, kembali mengenali jatidirinya melalui sebuah perjalanan meruaya menelusuri kembali jejak kehidupan. Salmon sadar, sejauh apapun ia mengembara di dunia amak ia harus menemukan kembali sumber kehidupannya. Ia rindu akan kehangatan dekapan cinta yang Maha Sumber. Salmon, Sidat, dan beberapa spesies peruaya lainnya akan pulang ribuan mil jauhnya hanya untuk menunaikan sebuah kewajiban terakhirnya, yaitu melahirkan generasi baru dari sumber yang sama. Sebuah perjalanan batin yang menempatkan orientasi dan tujuan hidup hanya untuk kembali ke yang maha Sumber. Dari sana mereka melahirkan generasi-generasi Salmon muda yang terlahir dari rahim yang sama yang sarat dengan kasih sayang dan makna. Re-eksistensi mereka maujud dalam gerombolan Salmon muda yang mewarisi keimanan, keshalehan, serta berjuta kerinduan yang sama. Pada saat kita memasuki daerah miqat maka tanggal pulalah seluruh “kerinduan” palsu yang selama ini kita duga dapat mengobati secara sementara “kerinduan” hakiki kita. Rasa rindu kita yang bak obat simtomatik yang hanya dapat mengobarti gejala saja kita sirnakan di sejuknya “air” danau miqat. Di danau ini kerinduan sejak semula ditumbuhkan, dihirup, serta melekat pada setiap inci sel-sel tubuh kita, ke sini pulalah kita mencari kembali pemahaman maknanya yang kian memudar seiring perjalanan hidup kita ke berbagai samudera di permukaan bumi. Sebagaimana prinsip dasar shalat sebagai sebuah oase ataupun danau kerinduan yang bisa kita kunjungi setiap hari sekurangnya lima kali. “ Seusai shalat berjamaah maka menyebarlah engkau ke segenap penjuru bumi untuk mengais rezeki yang telah ditetapkan Allah.” Memasuki miqat juga melunturkan seluruh topeng kepalsuan, citra dan imaji palsu dimana semua nilai adalah bagian dari interaksi dan proses pengekalan eksistensi nilai diri yang diyakini. Luruhlah semua itu dalam lautan miqat. Ketika bacaan talbiyah berkumandang maka, jelaslah bahwa tujuan akhir perjalanan ini adalah kembali hanya pada Allah sebagai sang Maha Sumber.
Memasuki kota Makkah kita dihadapkan pada sebuah ritual tarian kerinduan yang ketika kita melakukannya sirna pulalah dogma, norma, dan nilai yang didoktrinkan sebagai suatu konsekuensi dari sebuah proses interaksi. Leburlah kemampuan akal dalam sebuah anti tesis, dimana mencintai sepenuhnya adalah melompati pagar-pagar kriteria. Bahwa mencintai adalah sebuah proses suci yang melampaui ikatan-ikatan asosiatif. Bila kanan diasosiakan dengan kebaikan dan berkonotasi kemuliaan, maka dalam mencintai Allah kanan-kiri menjadi absolut dan tak lagi mengenal arah. Allah berhak dan wajib dicintai dari segala arah, Allah mampu untuk dicintai dengan cara apapun oleh hamba-Nya. Allah memberikan tujuh kali kesempatan agar cinta itu tumbuh dan terbebas dari belenggu relatifitas. Putaran pertama belajar mengenal tujuan mencintai Allah, putaran kedua menguji kelurusan niat, putaran ketiga menguji kesungguhan, konsentrasi, dan fokus, putaran keempat menafikan rasionalitas dan menyemaikan bibit cinta tanpa batas, putaran kelima menumbuhkan kesabaran dan kepasrahan, putaran keenam tawakal dalam cinta, putaran ketujuh ikhlas dalam mencintai, ikhlas dalam merindu, ikhlas dalam dambaan untuk menyatu.
Pada saat kita sholat dan berdoa di multazam, dengan bekal kristal-kristal cinta yang telah menggumpal, membatu, dan terbentuk keras, kokoh bersemayam di qolbu kita, maka kita seolah “ngapel” di hadapan sang Kekasih. Multazam yang merupakan maqom Istijabah dimana semua doa yang tulus dan ikhlas akan diijabah, menjadi “teras” tempat kita ber”wakuncar” alias waktu kunjungan pacar. Rasa “deg-degan” yang spektakuler senantiasa akan mengiri cucuran air mata haru karena kerinduan yang dalamnya tak bertepi. Kita seoalh didamparkan di sebuah oase yang menyejukkan pada saat kita edang mengarungi sebuah perjalanan melelahkan melintasi gurun kehidupan. “Teras” Multazam menawarkan sebuah episode “mampir” yang akan mampu meneguhkan keimanan, menginisiasi energi baru untuk mencapai tujuan kehidupan. Multaza seolah mewartakan kebenaran akan hari kemudian, dimana kita yang merindu akan berpulang dan bergabung dalam sebuah komunitas kampung akhirat. Komunitas yang dibangun dengan berlandaskan keyakinan, keimanan, dan ketaqwaan, Inna aqromaqum indallahu atqoqum. Sebuah definisi derajat mulia dalam perspektif Allah yang menerapkan ketaqwaan sebagai tolok ukur utamanya. “Teras” taqwa Multazam menampung segala keluh, segala harap, dan segala kegundahan serta kerinduan, ia menjadi sebuah “kotak Pos” pengaduan yang paling efektif dan paling istimewa secara psikologis. Dalam perspektif psikologis Multazam dan berbagai maqom istijabah lainnya adalah sebuah jendela atau ventilasi besar dimana kita berkesempatan untuk menghembuskan segala kepenatan hidup serta berkesempatan pula untuk menghirup dalam-dalam optimisme dan harapan.
Lalu kita beranjak untuk meminum air zam-zam, sesosok air yang membawa warisan keimanan dari Siti Hajar dan Nabi Ismail AS, dimana keduanya “tertular” semangat taqwa dari sang ayahanda Nabi Ibrahim AS. Allahumma inni as aluka ilman nafian wa rizqan wa syifaan….. sebuah air yang bila diyakini akan mampu menghadirkan kesegaran ilmu, keterbukaan pintu-pintu rizki, dan limpahan kesehatan. Mengapa bisa demikian ? Air adalah substandi ciptaan Allah yang senantiasa bertasbih, menjalankan sunatullah. Konsep sunatullah di sini harus kita makanai sebagai sebuah sistematika, sebuah mekanisme cerdas yang runtut dan tanggap terhadap perubahan yang terjadi disekelilingnya. Bila mengacu keapda manusia respon ataupun tanggapan dapat terjadi karena kita memiliki alat sensor atau alat pemindai yang dapat menerima informasi dari lingkungan. Selanjutnya alat pindai tersebut dilengkapi pula dengan alat pemroses data atau sebuah alat yang mampu mengasosiasikan data yang masuk dengan sistem pengolahan berbasis memori dan hasil belajar. Dari sana muncul tanggapan yang tepat. Tanggapan bisa berupa suatu hal yang dikomunikasikan ataupun suatu sikap yang dipertunjukkan. Konsistensi terhadap sistem dan pengembangannya ini menjadi ciri bertasbihnya semua elemen di alam semesta. Air juga menajlankan perannya secara kaffah, bahkan sebuah penelitian Dr.Masaru Emoto dari Jepang menunjukkan bahwa air yang diprasangkai baik akan memberikan respon yang juga baik. Kristal-kristal esnya akan membentuk struktur heksagonal yang sempurna. Sementara bila air dicaci maki serta diperlakukan dengan buruk, misal dengan “diracuni” oleh zat pencemar yang berbahaya maka airpun akan “bete” dan bersikap buruk pula. Mari kita kembali ke air zam-zam, bayangkanlah kedahsyatan air zam-zam ini, sesosok air (saya tidak ingin lagi menyebut air dan benda lain sebagai sesuatu karena mereka juga cerdas dan merupakan entitas beridentitas sebagaimana juga kita) yang dijadikan Allah SWT sebagai alat bukti dari keteguhan sebuah keyakinan dan ketulusan sebuah doa. Doa tiga orang kekasih Allah, yang bersama-sama menggagas sebuah konsep “Lompatan Iman”, atau bahsa gaulnya mungkin bisa disebut “Quantum Iman”. Mari kita bayangkan bersama seorang Ibrahim ikhlas dan begitu yakin jika Allah akan menjaga anak dan istrinya yang tercinta. Padahal Ismail adalah anak lelaki pertamanya yang baru saja dianugerahkan kepadanya. Sungguh suatu bukti keikhlasan yang luar biasa, Ibrahim tamnpaknya meyakini sepenuhnya bahwa manusia dan makhluk lainnya adalah nirkepemilikan, semua yang melekat apda makhluk hanyalah sekedar titipan. Keyakinan itu sedemikian kuat sehingga Ibrahim dengan tenang, ikhlas meninggalkan anak dan istri tercintanya, “dipercayakan” begitu saja kepada Sang Maha Pemilik. Konsep ini adalah sebuah awal dari keyakinan yang dapat mengubah takdir. Konsep kepercayaan atau trust ini sudah berada di ranah seberang nalar. Melampaui semua batas-batas obyektif kewajaran. Semakin dipikir semakin tidak masuk akal dan semakin tidak mungkin. Mengapa ? Karena kuasa Allah ada di seberang kemungkinan. Secara semantik dan semiotik kata mungkin hanya diperuntukkan dan berlaku bagi manusia. Tetapi perlu diingat juga bahwa ada prasyarat yang harus kita penuhi dahulu sebelum kita mampu melakukan lompatan Ibrahim. Bila seorang peloncat tinggi mampu melampaui mistar setinggi 3 meter tentu bukannya tanpa proses bukan ? Diperlukan otot-otot tungkai yang kuat, tulang dan persendian yang elastis serta olah gerak dan gaya yang tepat. Untuk bisa melakukan lompatan Ibrahim yang mampu melampaui “mistar” batas nalar yang diperlukan adalah eksplorasi maksimal sampai ke titik ujung. Yang diperlukan adalah semnagt mencari yang dilambari kecerdasan dan ketelitian di dalam memaknai setiap fenomena dalam kehidupan. Jurus Lompatan Ibrahim baru bisa dikuasai sepenuhnya bila jurus Iqro telah dikuasai dan dilatih terlebih dahulu. Belajar memang tidak akan membawa kita kepada sebuah hasil akhir yang ajeg, melainkan akan selalu membawa kita ke sebuah “padang perburuan” baru dengan horizon atau cakrawala baru. Tetapi justru dari efek multiplisiti itulah kita akan mendapatkan sebuah pemahaman bahwa keadaran dan kebenaran ternyata berlapis-lapis dan satu sama lain saling berhubungan dengan sebuah “benang nasib” yang tak kasat mata. Dari proses belajar terhadap sistem demi sistem yang telah kita lalui maka kita akan menyadari bahwa ada sebuah suprasistem yang merancang segalanya. Pada saat kita percaya dan berhasil menumbuhkan cinta, maka molekul-molekul cinta itu akan tumbuh danmenerabas semua hormon logika. Semua molekul cinta itu memanjat dan terbang berkeliling seperti laron yang mendambakan cahaya. Ia membutuhkan sebuah muara tempat dimana semua kerinduan meruaya. Seperti para ikan Salmon yang berjuang keras sampai titik darah terakhir untuk bersatu dengan “asal”nya dan menumbuhkan cinta baru yang tanpa pretensi. Sebuah cinta di dataran tanpa logika. Secara agregat, bila molekul cinta ini mendominasi orang dan semua sosok yang yakin, maka semua elemen semesta akan kembali kepda fitrahnya. Kepada bentuk suci dimana nafs tidak menjadi lawammah karena kita berkehendak. Kehendak bebas sebagai bagian dari pemahaman temporer dalam sebuah interaksi tidak akan mampu menembus batas lokalitas atau proksimitas. Sementara molekul cinta akan merambah dan menembus batas-batas kefanaan. Kita mengenal batas ruang dan jarak serta waktu tempuh, maka molekul cinta merobohkannya. Kita mengenal batas-batas sosiologis yang terangkum dalam pranata budaya dan etika, maka molekul cinta akan “menyihir”nya agar menjadi aliran sungai yang mengalirkan kesejukan, kelembutan, dan kesepemahaman yang dinamis. Banyak sekali kisah dimana cinta mampu mengalahkan segalanya. Bagaimana cintanya helium dan hidrogen yang sedemikian pada fitrah penciptaannya dan tentu saja Penciptanya sehingga ia rela melepaskan elektronnya melakukan perjalanan sepanjang 150 juta kilometer untuk menyempurnakan tugas yang menjadi konsekuensi wajib penciptaan dirinya. Dari kisah sang elekrtron kita dapat mengambil sebuah kesimpulan sederhana bahwasanya molekul cinta adalah molekul-molekul yang bersifat dinamis dan mencari pertubuhan yang abadi. Ia menjadi daya pendorong kita semua untuk mencapai suatu persatuan abadi. Sebuah sensasi tenggelam dalam laut cinta tanpa dasar, dalam sebuah samudera dambaan. Molekul cinta akan berjuang terus dan terus dalam sebuah pencarian pasangan, . Dengan demikian prosesnya menajdi tiada henti, karena ia terus mencari apsangannya. Molkul dinamis yang termotivasi emncari keseibnagan dengan berpasangan.
Marilah kita simak perjalanan ruhiyah Nabi Ibrahim AS yang sangat luar biasa. Perjalanan panjangnya dari Hebron di semannjung Palestina telah menghantarkannya untuk tiba di sebuah dusun terpencil nan gersang di tengah kepungan gurun berbatu nan tandus, semua perjalanan itu dilakukannya semata karena Allah. Dalam kabilahnya ia hanya ditemani oleh Siti Hajar mantan budak wanita berkulit hitam asala Habbasyah yang telah diperistrinya dan anak lelaki pertamanya, Ismail AS. Setibanya di dusun Baka atau yang kelak dikenal sebagai Makkah Al Mukaromah maka ia mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk meninggalkan keluarganya di sana. Pada masa itu meninggalkan seorang wanita dan seorang anak bayi yang berusia dibawah satu tahun di bawah teriknya mentari Mekah adalah sama saja adengan mengumpankan mereka pada burung bangkai.
Yaitu orang-orang yang beriman dan tenang hatinya ketika mengingat Allah, ketahuilah sesungguhnya dengan mengingat Allah itu hatimu menjadi tenang.” (QS Ar Ra’duu28)
..tsumma taliinu juluuduhum wa qulubuuhum illa dzikrillaahi, kemudian menajdi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah (QS Az Zumar; 23)
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (AL Quran) yang serupa lagi berulang-ulang. Bergetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah
Allahu nuurus samaawati wal ardhi… Allah adalah cahaya langit dan bumi (QS An Nur 35)
…dan jika kamu sekalian kafir (kepada Allah), maka sesungguhnya segala yang ada di langit dan segala yang di bumi itu adalah milik Allah, dan Allah Maha Kaya lagi Maha Tterpuji(QS An Nisa 131)
Sesungguhnya Aku Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikan sholat untuk mengingat-Ku (QS Thaha 14)
Bacalah apa yang telah diwahyukan keapdamu, yaitu Al-Kitab dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (pahalanya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Ankabut ; 45)
Dalam konteks pencarian molekul cinta dan partikel elementer Asm’ul Husna kita telah emnyimak beberapa ayat dari kitab suci Al-Quran yang menerangkan adanya konsep keteraturan dan diiringi oleh penggambaran sifat Allah yang menjadi rujukan (Asma’ul husna). Khusus mengenai ibadah fardhu yang dikenal sebagai sholat maka dalam beberapa ayat Allah telah digambarkan bahwa sholat adalah suatu ibadah yang dapat menghindarkna terciptanya kemungkaran dan kekejian. Agar sholat dapat mencapai tujuannya maka satu prasayarat utama yang harus terpenuhi dahulu adalah kita memahami konsep “sabar”. Menarik untuk disimak adalah bahwa ternyata sabar secara psikiatris diterjemahkan oleh dr. Teddy Hidayat, SpKJ,seorang dokter jiwa di Bandung yang Insya Allah sangat soleh, sebagai suatu kemampuan untuk memaknai, menyikapi, dan menerima kenyataan atau fakta yang terjadi atas diri kita. Sebelum kita menjalankan ibadah sholat rupanya kita diharuskan oleh Allah mengenal dan memanajemeni diri kita terlebih dahulu. Konsep sabar di sini menjadi bersifat aktif dinamis, dimana kita sebagai manusia harus terus menerus berusaha mendamaikan antara keinginan yang dilandasi oleh ahwa nafsu dengan hasil yang dicapai serta implikasi dari produk-produk inetraksi yang senantiasa kita jumpai dalam kehidupan. Tidak selamanya apa yang direncanakan, dicita-citakan, serta apa yang diharapkan menjadi kenyataan. Sebaliknya bila kenyataan sudah terjadi dan ternyata tidak sesuai dengan harapan apa yang harus kita kerjakan ?
DNA kini memang terbukti sudah bukan lagi sang maha pengatur sebagaimana yang selama ini digadang-gadang oleh Richard Dawkins. Sebuah penelitian mendalam yang dilakukan oleh Geodfrey Louis dan timnya dari Mahatma Gandhi University terhadap sel-sel yang berhasil dikumpulkan dalam peristiwa hujan darah di India, ternyata menunjukkan bahwa sel-sel kemerahan yang diduga berasal dari luar angkasa itu meski tidak memiliki materi DNA yang mencukupi ternyata dapat menjalankan proses reproduksi dan perkembangan. Penelitian ini juga didukung oleh Chandra Wikramasinghe dari Cardiff University yang semenjak seperempat abad silam telah getol mempopulerkan teori panspermaisme. Bila kita bertanya dimanakah sebenarnya molekul cinta berada ? Maka kita dapat menajwab dengan bukti bahwa dalam setiap 1 km3 air laut mengandung 0,009 s/d 0,01 mg tetapi apakah kita bisa memisahkannya dari laut ? Unsur emas (Au) itu nyata tetapi kita tidak bisa melihat dan memetakan keberadaannya, demikian pula pada materi metamaterial yang sudah kita bahas di atas. Sesuatu yang tidak nyata dan tidak terukur bukan berarti tidak ada. Teori Democritus, Dalton, Thompson, Rutherford, sampai teori orbital Bohr dan tabel unsur berkala Mendeleev dibangun secara teoritis. Akhirnya manusia dapat mengukur berat netron, proton dan elektron ( berturt-turut : 1,673 x 10-27, 1, 675 x 10-27, 9,109 x 10-31). Lalu manusia dapat merumuskan teori fusi nuklir sebagai berikut 1H2 + 1H3  2He4 + 0n1 + E. Hidrogen sebagaimana juga karbon adalah unsur terpenting dalam kehidupan. Kini bahkan ada satu fakta yang muncul terkait dengan “identitas” atom karbon. Karbon yang dikenal sebagai C12 alias terdiri dari 6 elektron, 6 proton, dan 6 netron sering dikaitkan dengan mitos trio angka 6 yaitu 666, tetapi teori pasangan partikel yang kini diyakini dan telah terbukti menunjukkan bahwa elektron berpasangan dengan positron bukan dengan proton yang telah berpasangan dengan netron. Jumlah positron pada atom karbon tentu juga adalah 6, sehingga seluruh partikel sub atomik yang menyusun atom karbon adalah sebuah deret 6 sebagai berikut 6666, sesuai dengan jumlah ayat yang ada di dalam Al Quran. Bila kita meyakini adanya aspek regularitas dan konsistensi (istiqamah) maka keajaiban karbon selaku representasi dari faktor dominan dalam kehidupan manusia (sebagaimana juga hidrogen) maka kesamaan itu tentulah bukan sebuah peristiwa kebetulan, dan memang dalam konsep Islam kebetulan itu tidak ada.
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun
Maka kami telah memberikan pengertian keapda Sulaiman tentang hukum (regularitas), dan kepada masing-masing mereka (daud dan Sulaiman) telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakaukannya.(QS AL-Anbiya ; 79)
Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadinya. (QS Qaaf ; 16)
Yaa ayyatuhannafsuhul muthmainah irji’I ilaa rabbiki raadliyataam mardliyah fadchuli fii ibaadi wadchuli jannatgii, Wahai jiwa yang tenang kemabalilkah keapda Tuhanmu dengan penuh kepuasan dalam ridho-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS Al fajr 27-30)
Apakah orang-orang kafir itu tidak tahu bahwa langit dan bumi itu dulunya padu, lalu Kami pisahkan keduanya dengan kekuatan, dan Kami jadikan dari air setiap yang hidup, apakah mereka tidak percaya ? (QS Al Anbiya 30)
Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar kamu merasa senang keapdanya (QS Al A’raaf 189)
Dia menciptakan segala sesuatu, lalu mengaturnya menurut ukuran tertentu (QS Al Furqaan ;2)
Dan sekiranya ada suatu bacaan yang denganbacaan itu gunung-gunung dapat diguncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. (Ar-Raadu 31)
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang sempurna dan dirancang secara teramat sistematis (QS 95;4). Seiring dengan didegradasikannya ummat manusia ke alam dunia yang bersifat perseptif, maka manusia terkena konsekuensi relatifitas. Dimana suatu nilai kebenaran secara paralel akan berbayang maya potensi kesalahan. Syaithan bekerja dalam kegelapan dimana bayang-bayang/refleksi kebaikan (kejahatan) menjadi nilai acuan (QS 113 ; 3-4). Konsep relatifitas manusia melahirkan suatu dinamika kehidupan yang mengedepankan arti pentingnya keseimbangan (homeostasis) (QS 55; 7-9). Sebagai contoh sederhana, motivasi dasar untuk pemenuhan kebutuhan nutrisional, bila proses pemenuhannya melampaui batas dan tidak terkendali (oleh rasionalitas) maka mekanismenya akan menjadi pola yang paten serta dapat terekstrapolasikan di dalam proses pemenuhan rasa “lapar” lainnya. Manusia akan menjadi makhluk dengan sederetan sindroma “multi kelaparan” (mengikuti hawa nafsu)(QS 5;48,QS28;50,QS30;29). Keseimbangan fitriyah yang berperan sebagai jalur penyelamat (jalan yang lurus) dapat diraih dengan menata berbagai potensi fitrah manusia (dengan kontraversinya) secara proporsional dan tepat guna. Untuk mencapai suatu proporsionalitas fungsi yang ideal manusia dibekali semua piranti yang dibutuhkannya untuk menyempurnakan hidup.

Fitrah Insaniyah (Lasut) (QS 30;30)
Dikarunia rizki yang tidak terhingga, mulai dari “ada” sampai media yang tersedia (QS 70;19-20). Memiliki kecenderungan hanif (pecinta kebajikan) (QS 16;120). Dikaruniai akal pikiran/kecerdasan multi dimensional (QS 2;164,269). Diciptakan secara proporsional dengan sistematika adaptasi dan koordinasi sempurna (QS 82;7-8). Dikarunia piranti dasar untuk bertahan hidup dan respon defensif terhadap kondisi yang membahayakan (QS 32;9,QS 11;6). Senantiasa “dibimbing” untuk menuju jalan yang lurus, bahkan diberi modal instrumen kebenaran absolut dalam bentuk Ruh Mustaqil (QS 2;142,213,QS 32;9). Dikaruniai kemampuan asosiatif,perseptif,korelatif yang maujud dalam kemampuan analitik (QS 2;31-33). Dikaruniai reseptifitas, kepekaan terhadap lingkungan internal dan eksternal, yang disertai dengan kemampuan mengurai tanda/simbol (QS 3;190-191,QS 9;114). Dikaruniai cinta,takut,dan ingatan/memori,serta mekanisme lupa (QS 3;103,QS 24;52,QS 18;7,QS 2;152). Dikaruniai kemampuan mengekspresikan diri dan berkomunikasi (QS 2;31-33, QS 55;4). Dikaruniai kemampuan empatif untuk menumbuhsuburkan kasih sayang semesta/Rahmatan lil Alamin (QS 21;107,QS 19;96).

Kontraversi Fitrah (Nasut) ( QS 16;48)
Senantiasa berkeluh kesah,menyesali kondisi (QS 70;19-20). Senang melampaui batas dan berlebih-lebihan (QS 7;55). Mengedepankan kepentingan pribadi (egois) dan menilai dari perspektif tunggal (QS 28;50,QS 30;29). Kekacauan prioritas,kesulitan mengendalikan ketertarikan dan pemenuhannya,diakhiri dengan kesyirikan dan munculnya banyak tuhan baru (QS 2;86,QS 25;43). Mengembangkan mekanisme manipulatif untuk mengamankan kepentingan diri (QS 2;10,QS 6;5,QS 9;77). Mengembangkan kemampuan abstraktif dan terjebak dalam dunia imajiner (QS 2;111,QS 21;3). Senantiasa tergesa-gesa dan menginginkan segala sesuatu dengan upaya minimal (QS 17;11,QS 21;37). Mengembangkan persepsi dan nilai diri semata untuk merepresentasikan nilai kenikmatan dan kenyamanan hidup (QS 11;116). Berkecenderungan eksploitatif dalam memanfaatkan potensi dan sumber daya (QS 7;56,QS 2;11,30). Kecenderungan rasionalitas dan kemampuan analitik untuk “meminta” bukti empirik, dan keterwakilan kepentingan (QS 2;55-59,QS 4;153). Kecenderungan tidak mensyukuri nikmat (kufur), kesulitan berterima kasih, dan mengakumulasi kekecewaan (QS 14;34, QS 23;78). Kegagalan merespon kebutuhan secara proporsional (respon defensif nutrisional,reproduktif, dan aktualisasi/ekspresi diri), pribadi sombong dan solipsistik (QS 5;48, QS 28;50,QS 30;29).

Premis Teologi
Allah SWT menciptakan makhluk-Nya dengan sistematika dan proporsionalitas ukuran (kadar) beserta kapabilitasnya di setiap tingkatan (QS 54;49,QS15;19,21,QS25;2,QS13;8,QS22;5,QS 23;14). Allah SWT juga menciptakan seluruh komponen di alam semesta berpasang-pasangan (dalil relativitas) (QS 51;49,QS35;11,QS43;12,QS13;3). Konsep kebenaran absolut dekat dan melekat pada sifat dasar (fitrah) manusia (QS 50;16,QS 2;115,QS 32;9). Berdasar ketiga premis di atas, dengan semangat “Wa fi anfusikum afala tubshirun”, dan “Man arofa nafsahu, wa man arofa Robbahu”, maka kita dapat memulai sebuah perjalanan teknospiritual menjelajahi mikrokosmos entitas diri kita, dalam sebuah ekspedisi mencari bentuk keseimbangan (mizan) yang tepat, Insya Allah.

Parameter Fungsional Fitrah
a.Berpasang-pasangan
Konsep berpasang-pasangan ini merupakan Sunatullah yang dapat diamati pada setiap tingkatan. Di tingkat sub atomik sebuah elektron memiliki anti partikel positron, di tingkat molekuler seutas asam deoksi ribonukleat (DNA) terdiri dari ikatan rangkap (berpasangan) basa purin dan pirimidin(Adenin-Timin dan Guanin-Sitosin), ditingkat lokus genetik dikenal konsep alela, di tingkat kromosomal dikenal konsep diploid, di tingkat regulator ekspresi protein ada faktor pemicu (promoter) dan faktor penghenti. Pada tingkatan yang lebih filosofis, sifat selalu memiliki bentuk kontrarefleksi. Fitrah berpasang-pasangan ini menjadi prasyarat penting tercapainya kesetimbangan. Sebagai makhluk yang telah ditakdirkan untuk memiliki kecerdasan “super” sebenarnya manusia dapat mengelola mekanisme keberpasangan ini.
Kegagalan kelola proses berpasangan ini dapat disimak pada kasus penyakit jantung koroner (PJK), dimana faktor penyebab utama dari aterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah) adalah kehadiran molekul radikal (radikal bebas) baik yang berasal dari proses radikalisasi senyawa lemak (LDL) maupun dari asam amino reaktif (homosistein). Proses radikalisasi antara lain dapat terjadi melalui aktifitas peroksidasi berantai, dimana terjadi pemutusan ikatan rangkap pada gugus lemak tak jenuh yang mengakibatkan adanya elektron-elektron yang tak berpasangan. Sistem oksidasi di hati (Mixed Enzymes Oxydation System) yang diefektori sitokrom P-450 dan mekanisme ledakan respiratorius di sel-sel fagosit (pemangsa) juga merupakan kontributor hilangnya pasangan elektron pada gugus radikal. Ketidakseimbangan yang terjadi pada orbit elektron radikal bebas akan menimbulkan bencana berantai, di luar kendali sistem. Dari perspektif Fitrah, kondisi seimbang yang ideal adalah pada saat keberadaan radikal bebas di dalam tubuh dapat berfungsi secara optimal. Mengapa demikian ? Karena rupanya Allah SWT telah mendesain dengan sangat sempurna fungsi setiap molekul yang ada di semesta. Pada jumlah yang terukur, radikal bebas merupakan bagian dari sistem silaturahmi tubuh yang dikenal sebagai sistem imunitas. Untuk mengawal aktifitas radikalisasi Allah SWT telah menciptakan pasangan fungsionalnya yang bersifat kontra versi, yaitu anti oksidan endogen seperti : Super Oksida Dismutase, Katalase, Mieloperoksidase, Glutation Peroksidase, Glutation Reduktase, sampai dengan asam urat. Lho ? Ternyata asam uratpun pada proporsi yang tepat merupakan bagian dari proses kontrol di dalam tubuh kita. Subhanallah !
Contoh lain dari kegagalan kelola konsep berpasangan adalah penyakit keganasan (neoplasia) atau yang lebih dikenal sebagai kanker. Kanker diawali dengan terjadinya sebuah ataupun serangkain proses mutasi di tingkat DNA. Mutasi atau perubahan yang terjadi dapat berupa mutasi titik tunggal (point mutation) ataupun mutasi sebingkai (frameshift mutation). Lokasi terjadinya mutasipun amat bervariasi, bisa di daerah gena faktor transkripsi, faktor pertumbuhan, regulator siklus sel, protein supresor, protein perbaikan, sampai dengan daerah pengkode protein yang mendukung progresifitas sel. Perubahan pasangan secara sepihak sebenarnya secara fitriyah akan diantisipasi oleh sistem perbaikan yang diperankan oleh mikromolekul MSH-2 dan MLH-1. Akan tetapi pada saat molekul service tersebut gagal menunaikan tugasnya dengan baik maka terjadilah kesalahan pengkodean lanjut. Kekacauan kendali akan mengakibatkan teraktifasinya sistem pengambilan keputusan oleh otoritas lokal (sel). Langkah pertama yang biasa dilakukan adalah mensubstitusi nukleotida basa yang hilang dengan elemen sejenis (belum tentu sama). Perubahan ini dapat mendorong terjadinya perubahan yang lebih mendasar, yaitu perubahan penyandian asam amino, yang akan berakibat pada konformasi struktural protein. Allah SWT yang Maha Adil sesungguhnya selain telah menciptakan penyeimbang berupa sistem perbaikan, juga telah menyiapkan ladang amal bagi para sel untuk berkontribusi maksimal dalam meningkatkan kualitas bermuamalah, yaitu dengan mendesain suatu proses jihad sosial. Proses jihad sosial ini disebut Apoptosis, yaitu suatu proses peleburan diri sel yang bermasalah ke dalam komunitas demolekulisasi (memecah diri untuk diangkut oleh sel fagosit) agar kerusakan yang dialami oleh satu individu (sel) tidak berdampak pada komunitasnya, sebuah pengorbanan yang layak kita teladani. Selain proses apoptosis, sebenarnya Allah SWT juga telah melengkapi sistem keamanan berkesinambungan di tingkat sel dan jaringan dengan suatu sistem pengambilan keputusan hirarkial, dimana sebuah sel sebelum diperkenankan untuk memperbanyak diri haruslah melalui serangkaian mekanisme seleksi seperti tahapan ujian siklus sel : izin prinsip dari protein regulator/supresor (p53) dengan prasyarat telah lulus tahap Gadd 45 dan MDM-2, selanjutnya mampu menempuh ujian p16 dan p18 yang akan terkorelasi dengan keluarga enzim siklin dan siklin bergantung kinase (CDK). Kegagalan pada satu saja tahap ujian akan menghentikan rangkaian seleksi dan mengundang kehadiran pengawas ujian, yaitu keluarga protein p21 dan bcl sebagai tim evaluasi keberlanjutan program. Pertanyaannya adalah : Mengapa sistem yang begitu komprehensif ini bisa gagal ? Jawabannya sederhana, manusia senantiasa berlebih-lebihan dan senang melampaui batas, termasuk di dalam menzalimi dirinya sendiri. Ketidakmampuan manusia untuk menjaga keseimbangan (memapari diri dengan faktor penyebab kanker/karsinogen,merusak lingkungan) akan mengakibatkan DNA secara simultan akan terus kehilangan pasangannya, dan sistem kendali mikro di tingkat sel akan terlampaui pula batas toleransi maksimalnya. Terjadilah bencana kanker, dengan demikian sesungguhnya kanker adalah tragedi kemanusiaan dimana manusia tidak mampu mengelola fitrahnya dan cenderung melampaui batas (eksploitatif dan destruktif terhadap sistem tata nilai).

b. Proporsional, terstruktur, dan sistematis
Parameter lain dari konsep fitrah yang tidak kalah pentingnya adalah keterukuran, kesahihan struktur, dan terorganisasinya sistem yang diterapkan. Kondisi ini terekstrapolasi pada setiap makhluk yang ada di alam semesta. Di tingkat molekuler dan seluler kisah tentang kanker di atas dapat menjadi bukti nyata. Dalam dunia sel proporsi, struktur dan sistematika tercermin dalam domain fungsional sebagai berikut : regenerasi, mempertahankan hidup dan kinerja hidup dalam bentuk metabolisme (absorbsidigestide/rekonstruksi enzimatisdetoksifikasitransportasi seluler/trans membransiklus asam sitratrantai elektron mitokondriamolekul berenergi tinggi ATP),katabolisme, dan anabolisme, perbaikan dan rehabilitatif, sistem komunikasi (potensial aksi, sitokin, faktor pertumbuhan, dan hormon), dan sistem pengambilan keputusan terstruktur (nafsendokrin/parakrin/autokrinreseptorsinyal transduksifaktor dan regulator transkripsi/replikasifaktor kontrol/supresorfaktor penghenti (ubiquitin).
Contoh sistematika yang merupakan penjabaran konsep fitrah dapat kita simak pada penjelasan tentang mekanisme memori dan fungsi luhur otak sebagai berikut:
Kerja otak adalah misteri terbesar yang dianugerahkan Allah SWT dalam hidup kita. Secara hipotetikal prinsip kerja otak dapat digambarkan sebagai suatu sistem rumit yang melibatkan setiap tingkatan dalam struktur kehidupan. Dalam bentuk apakah ingatan disimpan ? Kemungkinan yang paling realistis adalah dalam bentuk bit yang tercipta dari proses polarisasi bolak-balik (antara kutub positif dan negatif). Proses pengkutuban ini memerlukan adanya partikel (besi dan yang sejenis) untuk dimagnetisasi melalui suatu kumparan (listrik) pemicu medan (akselerator dan pengarah partikel). Karena data yang disimpan dalam bentuk satuan bit adalah data biner ,1 dan 0 atau “ya” dan “tidak”, (contoh nyata fitrah berpasangan), maka untuk menyatakan “1” dibuatlah dua lintasan pengkutuban, dimana satu dan lainnya berlawanan arah (hal ini terjadi karena adanya pembalikan arus pada kumparan). Sedangkan proses untuk menyimpan bilangan “0” dilakukan dengan membuat dua lintasan searah (satu kutub). Data yang menunjang hipotesis ini adalah hasil penelitian Dr.Kirschvink dari Caltech yang menemukan partikel magnetite (mineral campuran feri-fero oksida,Fe3O4, dan bijih besi) sebanyak sekitar 7 milyar tersebar di otak manusia. Proses magnetisasi partikel dapat terjadi melalui perambatan potensial aksi dari jaringan syaraf (sensoris) maupun dari perubahan (de dan repolarisasi) potensial membran istirahat (perubahan gradien elektrokimia). Dinamika persamaan Nernst dan hukum Ohm akan mengakibatkan bervariasinya influks K+/Na+. Dimana pertukaran kedua ion tersebut dapat dikuti oleh ion lainnya yang bisa menembus membran. Fluktuasi gradien elektrokimia bergantung kepada mekanisme aktifasi yang antara lain diefektori oleh peptida hormon dan katekolamin. Ikatan antara peptida hormon/katekolamin pada reseptornya akan meningkatkan influks Ca2+ dan sintesa cAMP. Dimana keberadaan Ca2+ ataupun K+ akan mempertahankan status tereksitasi (terangsang) sambil dimbangi pencapaian equilibrium Nernst (potensial aksinya naik turun). Kondisi ini menjelaskan mengapa memori kita menjadi sangat kuat (sangat hafal) terhadap suatu hal, bila hal tersebut menyentuh perasaan kita atau pada saat yang bersamaan terjadi hal-hal lain yang menyentuh perasaan (sentimentil). Hampir setiap orang tidak bisa melupakan kenangan terindah bersama orang yang dikasihinya. Potensial aksi yang naik turun rupanya menjadi penulis bit yang baik dan siap mencatat semua data yang masuk. Kecintaan kita yang kuat terhadap Allah SWT (Mahabatullah) akan meningkatkan peptida hormon endorfin,oksitosin, prolaktin,preopioid melanocortin,dan enkefalin yang pada gilirannya akan mengaktifkan serotonin dan pada saat yang bersamaan semua hal dan data yang terkait dengan peristiwa “jatuh cintanya” kita kepada Allah SWT akan terekam dengan baik. Sementara itu sebagai pasangan fitriyahnya, cAMP bertugas untuk mereduksi pola eksitatori promemori. Tugasnya tak kalah mulia, karena terkait dengan “pembersihan” dan pemerataan alokasi ruang penyimpanan memori di otak. Bila kita belajar dan berupaya keras semata hanya karena AllahSWT, maka dengan niat yang lurus dan kuat tersebut cAMP akan terurai oleh kompleks Ca2+/K+ kalmodulin (melalui aktifasi enzim fosfodiesterase), sehingga otak bisa terus merekam dengan baik.
Akan tetapi hipotesis pertama memiliki kelemahan pembuktian pada sebaran serta kapasitas partikel magnitite selaku partikel pengkutuban, untuk itu penulis mengembangkan hipotesa kedua tentang metoda penulisan bit di otak. Dengan mengacu kepada 4 gaya dasar semesta (gravitasi, elektromagnetik, nuklir kuat, dan sub atomik lemah) maka penulis berasumsi bahwa partikel magnetik yang terlibat dalam proses pengkutuban dapat diperankan oleh partikel sub atomik seperti Meson dalam perpindahan trans nukleus ataupun Gluon dalam perpindahan antar Quark dalam netron dan proton. Perpindahan partikel sub atomik yang mengikuti alur diagram generik dari Feynman dapat diasumsikan seperti terintervensinya suatu kelompok awan foton maya sehingga menghasilkan suatu besaran energi yang bisa diamati (misal sinar X). Pada mekanisme memori, sekumpulan awan foton maya yang ditembak partikel akselerator (kemungkinan berasal dari potensial membran) akan menjadi penulis bit. Untuk merancang bahasa biner (1 dan 0) maka dirancanglah proses pasca depolarisasi (After Depolaryzation/ADP). Bila hipotesis ini menjadi acuan, maka sumber dari partikel yang akan terlibat dalam proses pengkutuban dapat diambil dari struktur makromolekul protein (gugus berujung –NH/amin). Dengan demikian proses penulisan bahasa biner/bit pada sel neuron dapat terjadi melalui suatu konformasi bentuk dan fungsi protein intraseluler. Hipotesis ini ditunjang oleh hasil penelitian tentang cAMP Responses Element Binding Protein (CREBP). Dimana CREBP bertugas untuk menset-up kembali protein-protein memori ke konformasi semula (kosong). Inilah yang disebut mekanisme penghapusan memori (proses lupa). Subhanallah, tanpa adanya proses lupa ini bisa dibayangkan betapa menderita dan tertekannya hidup seorang manusia. Karakterisasi gelombang otakpun (alfa sampai tetha) dapat menjadi bukti adanya perubahan sifat pada awan foton maya akibat terjadinya stimulus yang bersifat dinamis. Perubahan pada karakter amatan dapat pula diartikan sebagai petunjuk akan adanya perpindahan berbagai unsur sub atomik yang senantiasa mencarai bentuk keseimbangan baru (bertasbih).
Hipotesis pembentukan memori dan kecerdasan di tingkat sub atomik (meson dan gluon) akan membuka wacana bahwa memori dan kecerdasan tidak saja bisa tersimpan dan berlaku di sel neuron, melainkan di seluruh sel-sel tubuh manusia. Berbagai perubahan dan rangsangan yang diterima oleh setiap sel kita (sesuai dengan hukum Newton III/aksi-reaksi dan hukum kekekalan energi) akan dapat diamati sepanjang proses yang berjalan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Fushshilat ayat 21, dimana kelak kulit akan berbicara. Subhanallah.
Sistematika lain yang tak kalah mengagumkannya dari kerja otak adalah kemampuan analitiknya. Kemampuan ini didukung oleh adanya struktur yang tertata dan organisasi pengelolaan data yang sangat baik. Secara mendasar otak dilengkapi dengan sistem BIOS (Basic Input Output System) alias sistem penunjang hidup (vegetatif) yang diperankan oleh batang otak dan medula oblongata, yang bersifat spartan,terus menerus dan tidak dipengaruhi oleh sistem memori sementara (sistem persisten ini dikenal sebagai flash memory). Ada pula sistem Random Acces Memory (RAM) yang diperankan oleh sebagian sistem limbik, sebagian talamus dan hipotalamus, korpus amigdala,hipokampus, dan korpus kalosum. Tugas dari sistem dapar ini adalah mempertemukan kepentingan/kebutuhan dengan data tersimpan dan program operasi. Bila sistem BIOS diperlukan untuk mempertahankan fungsi vital kehidupan, maka fungsi RAM adalah mengorkestrasi kerja otak. Data yang masuk dari jalur manapun akan diproses berdasar kebijakan dan kapasitas elemen-elemen dalam kompartemen RAM. Sistem operasi yang dipergunakan adalah program yang terdiri dari sederetan variabel fitrah insaniyah (lahut) dan serangkaian variabel kontraversinya (nasut). Secara sederhana dapat digambarkan bahwa RAM otak manusia mensinergikan secara proporsional kebutuhan BIOS,kebutuhan kekinian/keadaan yang dihadapi misal perubahan suhu, dan ketersediaan program serta data yang dapat dipergunakan dan dioperasikan. Sementara itu sistem prosesing diyakini dijalankan oleh bagian neocortex khususnya kortex frontalis. Dalam hal ini korpus kalosum dan kawan-kawan bertindak selaku bus interface unit alias unit pengakomodasi data. Selanjutnya data yang masuk akan diproses secara aritmetika, mengingat bahasa yang disepakati (hipotetikal) adalah bahasa biner. Hasil pengolahan data secara aritmetika di Arithmetic Logic Unit ini dapat dieksekusi dalam bentuk tindakan,ingatan, maupun ketidakpedulian. Penentuan sikap keluaran ini dipengaruhi oleh sistem pengambilan keputusan yang sedikit banyak memiliki alur seperti rantai Markov, yaitu membentuk suatu algoritma dari berbagai macam input dan menganalisanya untuk mendeduksi sebuah keluaran logaritmik.
Bahasa biner dalam hal ini menjadi sangat menarik karena tampaknya akan lebih tepat disebut sebagai bahasa Tauhid : Lailaha ilallahu, Tiada tuhan selain Allah. Bila Allah satu (1) yang lainnya tidak ada (0).

Mengoptimasi Fitrah Menuju Manusia Sempurna (QS 95;4)
Dari sekelumit pemaparan di atas tampak prasyarat utama untuk mengoptimasi fitrah seorang manusia adalah keseimbangan atau kemampuan untuk mengenal dan mengendalikan diri. Secara praktis kunci untuk mencapai kesetimbangan (mizan) itu adalah sabar,cerdas, dan syukur. Kemudian diikuti cinta, takut, dan peduli. Dalam ranah implementatif : shalat,shaum, dan zakat. Untuk menggapainya dalam hidup, kita tak perlu takut, karena bagian tak terpisah dari fitrah manusia adalah keberadaan Allah SWT yang teramat dekat dengan makhluk yang mencintai-Nya : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka , bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS 2;186).

Psikobiologi Puasa
Manusia dalam menjalankan hidupnya memiliki 3 komponen dasar yang terdiri dari 3 K, yaitu Kapital alias Modal, Kompetensi atau kumpulan potensi yang terarah, terukur, serta termanfaatkan dengan optimal, serta Konsekuensi. Modal utama dari manusia adalah kesempurnaan wujud, akal pikiran, dan adanya hati (QS Al-Hijr ayat 15; As-Sajdah ayat 9; Al-Infithar;Ayat &). Modal kemampuan berpikir dengan kapasitas yang, Subhanallah, teramat luas dilengkapi oleh Sang Khalik dengan reseptivitas, atau kepekaan perasaan, quwaih istidadiyah. Sedangkan pada elemen kompetensi manusia memiliki keunggulan komparatif yang maujud atau tercermin dalam firman Allah SWT sebagai berikut : “Inna hadainaahus sabiila immaa syaakiraw wa immaa kafura,” Sesungguhnya Kami menunjukkan jalan kepadanya, adakalanya dia bersyukur dan ada kalanya kufur (QS Al-Insaan; Ayat 3). Sebagaimana pula firman Allah SWT tentang Nabi Ibrahim AS yang bersifat hanif, atau berkecenderungan baik dan merupakan agen pengubah yang bersifat rahmatan lil alamin. Kompetensi yang memadukan antara kekuatan pikir dalam menafsirkan petunjuk dan peran diri, yang dibarengi dengan kelembutan dan sifat saling mengasihi merupakan gabungan 3 motivasi dasar hidup; yaitu : respon dasar nutrisional, reproduksi (nilai), dan aktualisasi (ekspresi) diri yang dibungkus dalam kemasan Iqra, belajar dan membaca untuk memaknai hidup. Setiap manusia di setiap detik dalam kehidupannya senantiasa dipenuhi pertanyaan akan makna dirinya, peran yang harus dijalankannya, ataupun kesempurnaan hidupnya. Konsekuensi dari karunia Allah SWT yang terdiri dari Kapital dan Kompetensi adalah munculnya Konsekuensi secara relatif terhadap utilisasi keduanya. Konsekuensi dari peran selaku penebar rahmah dan “peneliti” kehidupan adalah munculnya bisikan kesesatan yang berupaya untuk mendekonstruksikan/mengeliminir pemahaman nilai kebajikan. Peran “syaithan” dalam kehidupan adalah sebagai suatu ujian dan proses seleksi yang berkesinambungan dalam pelajaran memaknai hidup. Konsekuensi yang harus dihadapi oleh manusia tercermin dalam firman Allah SWT dalam Surat Ibrahim ayat 22 dan An-Nas ayat 4,5, dan 6. Motivasi destruktif, egosentris, mengejar kenikmatan dan kesenangan semata, mencari kemudahan dengan berbagai cara (budaya hedon dan instan), tidak peduli kepada kepentingan bersama, tidak merasa perlu untuk bekerjasama dalam membangun kebaikan dan kebajikan merupakan petunjuk nyata tentang keberadaan agen kesesatan di dalam relung rongga dada masing-masing kita.
Potensi kebaikan pada manusia diperankan oleh satu kesatuan antara pikiran, rasa, dan perbuatan. Di dalam tubuh kita pengatur segala tampilan dan fungsi biologis-sosial adalah gen. Gen diturunkan, diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Gen juga senantiasa diaktualkan, diperbaiki, dan beradatasi dengan lingkungannya. Sebagai suatu bagian integratif dari sebuah sistem wujud yang sempurna, maka gen dalam berikhtiar dan menjalankan tugasnya senantiasa patuh dan tunduk kepada entitas manusia yang menjadi khalifahnya. Gen dapat diatur ekspresinya oleh niat manusia, Innama a’malu binniyah. Kebajikan komunal yang maujud dalam bentuk ibadah mahdoh dan ghoirumahdoh (muammalah) diawali dengan sensitifnya perasaan (empati), cinta, dan takut yang terjaga hanya kepada Allah SWT. Gabungan ketiganya (peka,cinta, dan takut) bila ditata maka akan menghasilkan “misykat” atau qalbu yang jernih dan teramat lembut. Gen amat berperan dalam mengatur produksi hormon-hormon yang menggugah cinta kepada Allah SWT dan kepada sesama, gen berperan pula dalam mengatur hormon-hormon yang membangkitkan ghirah/semangat/motivasi untuk memaksimalkan ikhtiar, gen pula yang bertanggung jawab untuk mengatur respon adaptif/kepekaan terhadap perubahan, dan menstimulasi kecerdasan dan kebijaksanaan. Bila manusia berawal dari nutfah yang hina, maka gen adalah “alaqah” yang sarat potensi. Gen kita dapat menjadi gen yang lembut dan bersifat sosial bila kita melatihnya. Shalat dan Shaum adalah latihan yang terbaik bagi gen kita, sehingga secara refleks respon dari gen kita di setiap detik kehidupan akan mendorong kita untuk semata berbuat kebaikan di jalan Allah SWT, Insya Allah.


Manusia adalah satu entitas yang terdiri atas fisisk ruh inderawi, otak dan qalbu. Secara fisik ia tersusun dari berbagai sistem yang saling berintegrasi, seperti : sistem peredaran darah, pencernaan, penginderaan, otot tulang, reproduksi, pertahanan tubuh dan sistem ekskresi. Potensi fisik manusia tersebut dihubungkan dengan potensi qalbunya melalui kerja otak, yang meliputi sistem AKMP ( asosiasi, korelasi, memori, dan persepsi).
Naluri dasar manusia makan, minum, seks, melindungi diri, dan dorongan adaptif lainnya- diatur dan diperankan oleh subsistem batang otak. Motivasi dasar (nafs) yang diwakili subsistem batang otak tersebut, dihubungkan dengan kelembutan perasaan dan akal budi melalui subsistem limbik. Sub sistem ini disebut juga inner soul, atau manifestasi pengendali diri internal. Pada subsistem limbik ini, tuntutan kebutuhan dasar diselaraskan dengan memori tentang kebaikan dan kelembutan hati, sekaligus dirancang pula alur data yang ideal agar dapat menjadi bahan kajian bagi sistem analisis otak (kortex frontalis).
Parameter manusia yang baik adalah manusia yang mampu mengoptimalkan potensi internal dan eksternal yang dimilikinya. Hal ini sesuai dengan kenyataan dalam QS. Ar-Rahman(55) : 8-9, dimana proporsionalitas digambarkan sebagai mizan yang harus dicapai dan dipertahankan.

Peran Shaum
Puasa Ramadhan merupakan sebuah kesempatan bagi manusia untuk men-tune up dirinya secara menyeluruh. Pada bulan tersebut kita diberi kesempatan seluas luasnya melatih diri, mengoptimalkan, dan menyeimbangkan potensi fisik dan ruhiyah yang kita miliki. Secara umum, peranan puasa pada peningkatan kualitas manusia dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Mengendalikan kebutuhan dasar manusia, khususnya kebutuhan terhadap makanan. Secara naluriah manusia menginginkan pemenuhan yang cepat, mudah dan hasil yang maksimal. Hal ini biasanya mengakibatkan lahirnya sikap tergesa gesa, tidak perduli dan menghalalkan segala cara. Karena itu, tidak mengherankan bila hawwah yang berarti perut sering diasosiasikan dengan hawa nafsu. Manifestasi rasa lapar yang berawal dari perut dapat menjadi motivasi utama yang mendasari setiap gerak dalam hidupnya. Puasa bisa melatih dan mengendalikan motivasi dasar ini agar tampil proporsional dan optimal dalam kehidupan manusia. Melalui puasa tidak hanya sistem pencernaan saja yang terlatih menahan lapar, melainkan sistem pengambilan keputusan kita pun akan terlatih. Hal ini terjadi karena seluruh sistem tubuh terintegrasi, saling mempengaruhi dan saling bekerjasama. Karenanya tidak mengherankan apabila dampak positif dari puasa dapat diukur dari performa fisik yang bersangkutan. Seperti berkurangnya penyakit saluran pencernaan, stabilnya kadar kolesterol, jantung jadi lebih sehat, dan lainnya.
2. Allah merancang manusia dengan sangat sempurna. Salah satu buktinya manusia memiliki jam biologis pengatur kegiatan tubuhnya , mulai dari bereproduksi sampai dengan beristirahat. Pengaturan tersebut dilakukan oleh jaringan kerja hormon otak, yang dikendalikan oleh kelenjar Pineal ( seat of the soul ) yang menjadi tempat bersemayamnya jiwa. Ibadah yang dilakukan semasa Ramadhan merupakan sebuah proses pelatihan yang sangat tepat untuk mengoptimasi jam biologis manusia. Tidur sehabis tarawih dan bangun di sepertiga malam terakhir adalah waktu istirahat yang paling sesuai dengan fluktuasi kadar hormon otak. Istirahat yang optimal akan berdampak pada kinerja perbaikan sistem tubuh dan peningkatan produktifitas di hari berikutnya.
3. Melatih hati menjadi lembut dan penuh empati. Kelembutan hati tumbuh seiring dengan meningkatnya kepekaan perasaan. Secara biologis kelembutan hati dan kepekaan perasaan diatur oleh hormon otak yang bernama serotonin, endorfin dan pre opioid melanokortin. Ketiga hormon otak tersebut secara bersama sama akan mendominasi kinerja otak melalui latihan kesabaran dan rasa empati terhadap penderitaan orang lain seperti yang kita rasakan saat puasa.

Sistem Imun dan Puasa
Sistem pertahanan tubuh pada manusia atau yang lebih dikenal sebagai sistem imun sering diartikan sebagai suatu efektor dalam menghalau “musuh” yang terdiri dari zat asing yang akan memasuki tubuh. Sesungguhnya secara historiografi kata ‘imun’ berasal dari suatu istilah era Romawi yang diasosiakan dengan suatu keadaan ‘bebas hutang’. Dengan demikian sistem imun lebih tepat diartikan sebagai suatu sistem yang menjamin terjalinnya suatu komunikasi antara manusia dengan lingkungannya (media hidupnya) secara setara dan tidak saling merugikan. Dalam konteks muammalah, sistem imun adalah suatu efektor silaturahmi yang bertugas untuk mengembangkan suatu pola interaksi yang sehat. Hal ini dapat diamati pada proses vaksinasi, dimana sebagian elemen mikroba patogen (penyebab penyakit) yang telah dilemahkan atau bagian yang tidak berbahaya diperkenalkan ke dalam tubuh sebagai faktor ‘pengingat’ bagi sistem imun. Interaksi yang sehat, dapat diartikan pula sebagai interaksi yang proporsional serta tidak saling merugikan. Kehadiran mikroba patogen dalam kuantitas yang berlebihan tentu akan membahayakan sistem tubuh yang menjamunya. Untuk itu proses vaksinasi dilakukan, dimana sistem imun spesifik yang telah memiliki ingatan (memori) terhadap mikroba patogen yang berbahaya akan segera melakukan upaya-upaya strategis untuk meminimalisir efek buruk dari keberadaan mikroba yang bersangkutan.
Secara umum sistem imun manusia terbagi dalam dua ranah fungsional, yaitu : alamiah dan adaptif (spesifik). Sistem imun alamiah terentang luas, mulai dari air mata, air liur, keringat (dengan pHnya yang rendah/asam), bulu hidung, kulit, selaput lendir, laktoferin dan asam neuraminik (pada air susu ibu), sampai asam lambung termasuk di dalamnya. Secara lebih mendetail di dalam cairan tubuh seperti air mata atau darah terdapat komponen sistem imun alamiah yang antara lain terdiri dari fasa cair seperti IgA (Imunoglobulin A), Interferon, Komplemen, Lisozim, ataupun c-reactive protein (CRP). Sementara fasa seluler terdiri dari sel-sel pemangsa (fagosit) seperti sel darah putih (polymorpho nuclear/PMN), sel-sel mono nuklear (monosit atau makrofag), sel pembunuh alamiah (Natural Killer), dan sel-sel dendritik. Sedangkan pada sistem imun adaptif terdapat sistem dan struktur fungsi yang lebih kompleks dan beragam. Sistem imun adaptif terdiri dari sub sistem seluler yaitu keluarga sel limfosit T (T penolong dan T sitotoksik) dan keluarga sel mono nuklear (berinti tunggal). Sub sistem kedua adalah sub sistem humoral, yang terdiri dari kelompok protein globulin terlarut (fasa cair), yaitu : Imunoglobulin G,A,M,D, dan E. Imunoglobulin dihasilkan oleh sel limfosit B melalui suatu proses aktivasi khusus, bergantung kepada karakteristik antigen yang dihadapi. Secara berkesinambunangan dalam jalinan koordinasi yang harmonis, sistem imun baik yang alamiah maupun adapatif senantiasa bahu-membahu menjaga keselarasan interaksi antara sistem tubuh manusia dengan media hidupnya (ekosistem).
Siapakah ‘koordinator’ sistem imun ? Tak lain dan tak bukan adalah sistem komunikasi dalam tubuh manusia. Subhanallah, ternyata di dalam tubuh manusia yang sangat rumit dan terdiri atas milyaran sel, terdapat suatu mekanisme komunikasi yang sangat canggih. Sistem komunikasi dalam tubuh manusia berdasar ruang lingkup konektifitas terbagi atas divisi : autokrin, parakrin, dan endokrin. Autokrin adalah komunikasi intrasel, diperankan oleh faktor transduksi, transkripsi, dan pertumbuhan. Parakrin adalah komunikasi intra jaringan (lokal), diperankan oleh sitokin dan faktor pertumbuhan. Sedangkan endokrin adalah komunikasi antar jaringan bahkan organ yang dioperankan biasanya oleh hormon. Pada perspektif Psikoneuroimunologi, sistem imun amat dipengaruhi oleh kinerja sistem hormon dari poros (axis) hipotalamus-hipofise-kelenjar anak ginjal. Kualitas kinerja sistem imun amat dipengaruhi oleh kadar hormon glukokortikoid dan mineralokortikoid dari kelenjar anak ginjal. Sementara kinerja kelenjar anak ginjal amat bergantung kepada keberadaan hormon ACTH dan CRF (Corticotropin Releasing Factor) dari poros hipotalamus-hipofise. Kadar kortisol yang tinggi akan menekan (mensupresi) baik sistem imun seluler maupun humoral. Tertekannya sistem imun akibat tidak berimbangnya sistem endokrin biasa didapati pada keadaan ketegangan psikis (ansietas dan depresi). Kecurigaan serta kekhawatiran berlebih (paranoia) termasuk dalam masalah kesehatan pribadi (hipokondriak) juga dapat mengakibatkan tertekannya sistem imun melalui jalur hormon otak. Akibat nyata dari tertekannya sistem imun adalah rentannya manusia terhadap penyakit-penyakit infeksi. Pada akhirnya kondisi ketidakseimbangan hormon dan tidak optimalnya sistem imun dapat juga memicu munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti jantung koroner dan perdarahan serebrovaskular (stroke).
Ibadah puasa di bulan Ramadhan dapat menjadi metoda yang sangat efektif untuk mengoptimasi kinerja sistem imun dan sistem endokrin manusia, khususnya bila dijalankan dengan niat yang kuat, keihklasan yang tinggi, dan disertai pengaturan pola hidup yang berkesinambungan. Adapun mekanisme peran positif ibadah shaum terhadap profil imunologi dan endokrinologi seorang manusia, dapat dipelajari melalui penjelasan tentang 3 gatra utama ibadah shaum di bawah ini.

3 Gatra Shaum Ramadhan
Pengertian atau esensi Ramadhan yang terkait dengan proses penyucian diri, perbaikan, serta peningkatan kualitas diri ini, tercermin dari kegiatan ibadah yang kita jalani di dalamnya. Sekurangnya ada 3 gatra utama ibadah shaum yang perlu kita cermati, yaitu : 1).Pengendalian dan pengelolaan Proses Nutrisional, 2).Pengaturan kembali ritme kehidupan dan siklus sirkadian (jam biologis), serta 3).Optimasi potensi fisik melalui pengenalan fitrah manusia.
Gatra Pertama, pada bulan Ramadhan kita diminta untuk mensinkronisasikan antara tuntutan kebutuhan dasar manusia (energi) dan pola atau mekanisme pemenuhannya. Sinkron dan selarasnya tuntutan hawa nafsu/motivasi dasar hidup manusia dengan pola pemenuhannya yang terkendali serta tertata secara sistematis (rasional) dan terbalut empati yang dalam, akan menempatkan kebutuhan terhadap energi melalui proses makan sebagai suatu bentuk ibadah ghoirumahdoh yang dapat menjadikan manusia bersifat welas asih, sabar, mampu memandang masalah secara proporsional/berimbang, serta dapat menempatkan diri pada berbagai situasi dengan mulus/perilaku adaptif. Kemampuan mengendalikan rasa lapar dan kebutuhan akan zat pangan ini akan menjadikan manusia (berikut seluruh sistem tubuhnya) makhluk mulia yang produktif, tidak bersifat instan (ciri dari manifestasi hawa nafsu dalam kehidupan), serta mengenal secara utuh dirinya dan lingkungan di sekitarnya.
Gatra Kedua, manusia diciptakan Allah SWT, sebagaimana semua makhluk di semesta, dengan ukuran dan kapasitas yang khas serta sangat terukur. Manusia memiliki ritme kehidupan harian, sebagaimana mentari dan rembulan yang tertata dan senantiasa beredar sesuai jalurnya. Manusiapun senantiasa berinteraksi dengan seluruh elemen lain dalam kehidupannya. Hasil interaksi tersebut mempengaruhi pula optimasi diri seorang manusia. Bulan Ramadhan melatih manusia utnuk melakukan penjadwalan hidup yang ideal, dalam artian mampu mengakomodir semua potensi manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang sempurna. Proporsi ibadah, waktu tidur-bangun, serta kegiatan harian yang kita lakukan sepanjang bulan Ramadhan adalah esensi nilai ideal yang merupakan pencerminan suatu proses manajemen waktu yang sangat sesuai dengan potensi seorang manusia. Tidur setelah kita melakukan ibadah shalat tarawih/Qiyamul La’il, dan terbangun di penghujung 1/3 malam untuk makan sahur, adalah pola tidur yang paling tepat untuk seorang manusia. Tepat dalam artian mampu mengoptimasi tampilan dan kinerja sistem tubuh (khususnya endokrin/hormonal) dan sistem pengambilan keputusan seorang manusia. Hormon seorang manusia fluktuatif mengikuti irama harian elemen lain di alam semesta (sinar matahari, gravitasi bulan, suhu udara, kelembaban, dan kadar CO2). Elemen-elemen dasar tadi ternyata juga tidak berdiri sendiri, melainkan suatu bentuk interaksi yang mengkomposisikan secara selaras berbagai peran dari sub-sub elemen kehidupan, seperti tumbuhan, hewan, bakteri, ataupun jamur.
Gatra Ketiga, Ramadhan juga mengajari kita tentang fitrah diri seorang manusia. Bila waktu beraktivitas harian telah tertata maka kita sebagai manusia juga dituntut untuk mampu menyelaraskan kegiatan fisik yang secara simultan selalu kita lakukan dalam keseharian. Ilmu faal telah menerangkan bahwa komposisi tubuh manusia didominasi oleh air (lebih dari 70%). Apakah komposisi makanan kita telah mencerminkan itu ? Reseptor kelezatan di lidah serta enzim pencernaan di usus adalah 2 karunia Allah yang sekaligus merupakan ujian terberat bagi seorang manusia. Di satu sisi kelezatan dan kenikmatan ingin kita reguk sebanyak-banyaknya dan selama-lamanya, di sisi lain kelezatan dan kenikmatan yang berlebih akan membuahkan bencana. Apakah kita sudah mengatur dalam hidup kita untuk mencicipi sedikit kelezatan dan kemudian panjang lebar mensyukurinya ? Banyak dari kita sedikit bersyukur serta tamak dalam mereguk kenikmatan. Kondisi inilah awal dari suatu bencana hedonisme, budaya instan, dan kekeroposan berbagai sistem tubuh manusia (misal munculnya penyakit jantung koroner, diabetes melitus, ataupun berbagai penyakit degeneratif lainnya). Hal yang paling sederhana dan hampir setiap saat kita lakukan dalam kehidupan, berjalan kaki, apakah kita sudah mengatur dan mengelolanya dengan baik sebagai suatu bentuk ibadah. Ingat dalam salah satu rangkaian ibadah haji dan umrah, sa’i antar bukit Shofa dan bukit Marwah telah menggambarkan mekanisme pengaturan jalan yang ideal. Ada tahap adaptasi, tahap akselerasi, dan tahap relaksasi. Tiga tahap utama ini hendaknya mampu kita manifestasikan dalam setiap aspek kehidupan yang mengedepankan unsur gerak motorik dan keseimbangan, karena akan berdampak kepada tercapainya optimasi semua sistem yang terlibat di dalamnya.
Ibadah Shaum mengajarkan kita metoda yang efektif untuk mengefisienkan berbagai pranata dan fungsi fisik yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada kita, termasuk di dalamnya sistem imun dan endokrin tubuh, Insya Allah kita mampu menyadarinya dan mengimplementasikannya dalam “jatah” hidup pasca Ramadhan yang diberikan kepada kita.
Paragaraf Inspirasi
Fungsi Gelombang Schrodinger
Sebuah partikel tunggal menunjukkan dua perilaku berbeda pada waktu yang sama. Dengan kondisi tertentu, fungsi gelombang akan memprediksi skizofrenia yang tak berhingga jumlahnya, dimana vektornya dalam ruang konfigurasi bercabang menjadi empat kemungkinan, delapan, enam belas, dan selanjutnya sampai ad infinitum (tak berhingga).
The Garden of Forking Paths (Jorge Luis Borges)
Berkisah tentang bangsawan Cina bernama Ts’ui Pen yang memiliki anggapan bebrbeda dengan Newton dan Schopenhauer yang deterministik. Ts’ui Pen menganggap waktu tidak seragam dan absolut, melainkan tak berhingga, deret waktunya tumbuh berputar dan selalu menyebar, bercabang, mengumpul dan paralel. Jaring waktu Ts’ui Pen saling mendekati (interferensi), bersilangan, atau saling mengabaikan, meliputi setiap kemungkinan. Kita tidak berada di dalam sebagian waktu, saya berada, dan bukan saya ketika di dalam sebagian waktu lain saya berada. Dan anda tidak berada di sana, dan di dalam sebagian waktu yang lain saya dan ada berada pada waktu yang dan ruang yang sama. Pada waktu ini dimana kesemapatan telah datang pada diri saya, anda datang ke pintu saya (nasib saya). Di lain waktu, anda, yang sedang melintas di halaman, mungkin akan menemukan saya yang telah meninggal.
Semesta yang Paralel
Hipotesis Everett-Wheeler-Bryce De Witt : Alam secara konstan membelah menjadi cabang-cabang yang tak terhingga jumlahnya, semua berasal dari pengukuran seperti interaksi antara beribu-ribu komponennya. Lebih dari itu setiap transisi kuantum yang terjadi di setiap bintang, di setiap galaksi, di setiap sudut alam semesta yang jauh sedang membelah dunia lokal kita di bumi ini menjadi beribu-ribu salinannya sendiri. Fungsi gelombang Schrodinger menyebabkan alam semesta memiliki kemungkinan untuk bercabang secara paralel dalam jumlah yang infinitum (tak berhingga), setiap kucing Schrodinger yang bertahan hidup di alam nyata sesungguhnya ia mati di alam paralelnya.

Desain Kehidupan
Konsepsi DNA sebagai regulator utama dalam penentuan tampilan makhluk hidup/fenotip, perlu dipertimbangkan kembali, dengan mengedepankan suatu grand design yang lebih bersifat teleologis. Harold Saxton Burr dari Yale mengadakan suatu penelitian tentang adanya intervensi dari medan-medan elektrodinamis yang mempengaruhi pengkodean struktur-struktur entitas kehidupan (medan ini disebut juga medan L).

Layar Kesadaran
Otak manusia dengan 100 juta reseptor sensoris (indrawi) dan 100 triliun sinaps antar sel syaraf, akan mengembangkan suatu kesadaran holografik yang menjadikan proses-proses dalam otak seperti penyimpanan memori, asosiasi, pembentukan memori, dan imajinasi bisa dijelaskan secara nyata.Setiap memori dalam otak akan menjadi acuan bagi setiap unit informasi lain secara tidak terbatas dalam sebuah pola ambiguitas yang murni, sempurna, dan kreatif ( Keith Floyd). Layar kesadaran menurut Floyd adalah adalah sebuah bentukan lempeng holografik organik yang memproses persepsi-persepsi tiga dimensi dan gambar-gambar yang terekonstrusi dengan kecerdasan internal. tak akan membentuk realitas dalam yang dikembangkan dari sensasi dan kemampuan pengolahannya. Realitas ini terletak di ‘ruang proyeksi multidimensional kognitif’. Dengan demikian persepsi terhadap lingkungan eksternal atau bahkan terhadap alam semesta sesungguhnya adalah pola-pola / jara energi neuronal di dalam batok kepala.

Kesadaran Mempengaruhi Realitas
Kesadaran Nabi Ibrahim AS dengan bimbingan dan petunjuk dari Allah SWT, serta keteguhan imannya untuk senantiasa percaya kepada lindungan serta ridho Allah SWT pada akhirnya mampu mengintervensi vibrasi molekul-molekul akselerasi dan menahan proses nyala api yang normal beserta konsekuensi karakteristik fisisnya (suhu tinggi). Panas dari api adalah panas yang terjadi akibat adanya akselerasi vibrasi molekul-molekul yang bersifat akseleratif. Kemampuan untuk menstrukturkan realitas ini dapat diumpamakan seperti kemampuan kesadaran untuk berperilaku acak sesuai dengan gerak Brown.

Hakikat Elektron
Elektron memiliki sifat baik sebagai partikel maupun gelombang, sehingga secara inheren elektron tidak memiliki suatu lokasi geografis yang absolut (multi dimensi).
Menurut Einstein ruang tidak bersifat 3 dimensi dan waktu bukanlah sebuah entitas yang terpisah. Ruang dan waktu merupakan aspek-aspek yang berbeda dari sesuatu yang sama. Ruang dan waktu berisikan sebuah kontinuum 4 dimensi dimana tidak ada aliran waktu universal sebagaimana dalam pandangan alam semesta yang deterministik (Newtonian). Ruang waktu memiliki sifat geometris atau lekukan yang tampak dengan sendirinya dalam fenomena seperti gravitasi. Secara konseptual fenomena tersebut dapat diabstraksikan sebagai berikut : “Massa bumi berada di dalam lembar-lembar karet yang luas dan massa bumi akan tenggelam ke dalam struktur ruang-waktu.” Menurut WK.Clifford materi tidak lain adalah kekosongan ruang yang melengkung. Sedangkan JA.wheeler mengkonklusinya menjadi;”Tidak ada sesuatupun di dunia ini kecuali ruang kosong yang melengkung, materi, muatan, elektromagnetisme, dan medan-medan lain (nuklir lemah dan gravitasi) hanyalah manifestasi dari lekukan ruang.”

Richard Feynman : “Positron yang bergerak maju dalam hitungan waktu sebenarnya adalah sebuah elektron yang bergerak mundur dalam hitungan waktu, elektron juga bisa terhambur ke ‘luar’ ruang waktu dengan kecepatan tachyonic yang lebih cepat dari cahaya.

Sarfatti : “ Alam semesta saling menembus pada titik-titik persilangan konstruktifnya pada proses sejarah ruang waktu.

Talbot&Tauhid
Alam semesta mungkin diawali dengan satu elektron, dimana tidak bisa dibedakannya seluruh partikel elementer sebuah benda hanya dapat dipahami dalam pengertian gambar layar multi-alam-ruang-waktu. Elektron tunggal di dalam alam semesta tersebut terhambur mundur dalam hitungan waktu dan juga dapat keluar meninggalkan layar alam semesta yang relatif dan masuk ke dalam tempat-tempat khusus di ruang waktu, atau sebaliknya. Jika elektron tersebut kembali dari tempat/ruang waktu absolut maka ia akan bertabrakan dengan dirinya sendiri dan bermanifestasi pada seolah-olah ada dua elektron yang identik, padahal hanya refelksi dari elektron yang asli. Bila proses ini terjadi berulang-ulang maka akan tercipta banyak sekali partikel-partikel yang identik di alam semesta yang bersifat relatif.
Kearifan Suku Terpencil di Afrika
John Wilson ternganga, terheran-heran. Film penyuluhan kesehatan dan sanitasi pribadi yang diputarnya di lapangan sebuah dusun suku terpencil di pedalaman lubuk Afrika, dilaporkan tak terlihat dan menjadi maya. John Wilson yang turut hadir di sana merasa yakin bahwa film itu nyata dan terlihat jelas dengan organ mata. Tetapi sekumpulan warga suku itu bahkan bersumpah, bahwa tak sepotong gambarpun sebagaimana yang dideskripsikan John Wilson, tampak atau terpampang di layar. Menurut pengakuan mereka, mereka hanya melihat ayam.
Ayam dalam terminologi suku tersebut adalah perlambang kesucian yang transenden, ayam adalah simbol teofani yang selalu meraka harapkan kehadirannya di setiap detik kehidupan. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa apapun objek amatan dan karakteristik fisik pencitraannya, akan diterjemahkan dan dipersepsikan berdasar kesadaran serta ‘kerinduan’ subjek pengamatnya. Hakikat cinta kasih, kedamaian, dan kebenaran beserta berbagai kecenderungannya akan senantiasa menumbuhkan kemampuan refleksionis yang membentuk piranti lunak asosiatif transendental.

Api di Tulang Ekor
Pemuda tummo gundul itu duduk bersila di pucuk pegunungan Himalaya. Astaga, setelah diamati dari jarak lebih dekat, gila, sangat gila, ia tak berbusana, bahkan tak tampak selembar celana dalam sekalipun. Suhu di puncak sana tak kurang dari -200C, dinginnya menembus tulang tentu. Sudah tak memiliki sehelai rambut, sehelai kainpun ia tak punya. Tetapi, Subhanallah, disekelilingnya, dalam radius kurang lebih satu meter mengitari tubuh kurus bak papan penggilasan itu salju dan es mencair dan udara terasa hangat. “Bagaimana bisa, bagaimana mungkin, bagaimana caranya ? “ Sembur kita pasti. “Sederhana saja”, katanya. “Aku hanya membayangkan ada seonggok api unggun kecil yang menyala membara di tulang ekorku !”, ujarnya.”Aku percaya dan menempatkan itu sebagai realita.”
Kisah ini nyata, sebagaimana kisah yang jauh lebih nyata dan jelas otentik serta tercantum sebagai bagian dari hikmah Al-Qur’an. Yaitu kisah tentang seorang sahabat Nabi Sulaiman AS yang mampu mengngguli wakil tercerdik dari bangsa jin (Ifrit) dalam hal memindahkan singgasana Ratu Balqis. Sang sahabat yang ahli kitab itu (Zabur dan Taurat) mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis, bahkan sebelum Nabi Sulaiman AS mengejapkan matanya.
Apakah penjelasan rasional yang paling mungkin pada kedua fenomena ini ? Tampaknya telah terjadi suatu interferensi yang bersifat konstruktif antara kesadaran yang dibangun di ruang waktu absolut dengan kesadaran inderawi yang terjadi di ruang waktu atau layar alam semesta yang relatif serta kita kenal. Pada ruang yang absolut, entitas materi tidak mengalami konsekuensi fisis dan menjadi tidak terbatas oleh ruang dan jarak, ia menjadi bebas dan tidak memiliki lokasi geografis (ingat fenomena elektron). Ketika kita mampu menginterferensikannya secara konstruktif maka pola’tembus-menembus’ ini akan menafikan keberadaan ruang waktu yang bersifat Euclidian. Fenomena lubang cacing juga tampaknya mendasari dirinya pada fakta ini.

Sifat Gelombang dan Partikel dari Cahaya
Cahaya tampak adalah suatu contoh radiasi yang disebut radiasi elektromagnetik. Contoh yang lain adalah sinar-X, sinar ultraviolet, sinar infra merah, gelombang radar, dan gelombang radio. Jenis-jenis radiasi ini terdri dari medan listrik dan medan magnet yang berosilasi saling tegak lurus dan kedua-duanya tegak lurus terhadap arah propagasi atau arah penerusan dari radiasi. Jenis-jenis radiasi tersebutmemiliki perbedaan pada macam frekuensinya. Osilasi yang berhubungan dengan radiasi elektromagnetik berupa gelombang sinus dengan propagasi gelombang v, panjang gelombang , dan frekuensi . = v/.
Teori cahaya sebagai gerak gelombang, dikemukakan oleh Huygens yang menerangkan bahwa apabila cahaya yang berupa gelombang bertemu dengan suatu penghalang (celah), titik-titik pada celah dapat berfungsi sebagai gelombang baru yang akan meneruskan gelombang-gelombang baru tersebut ke segala arah. Gelombang-gelombang tersebut akan membentuk garis-garis lengkung (difraksi). Bila pada celah datang 2 gelombang atau lebih maka akan tampak pola perpaduan antara 2 gelombang. Perpaduan 2 gelombang dengan frekuensi dan fasa yang sama tetapi dengan amplitudo yang berbeda akan saling memperkuat (interferensi) secara konstruktif. Superposisi 2 gelombang dengan frekuensi sama tetapi dengan fasa berlawanan akan menghasilkan interferensi destruktif.

Hipotesa Bagaimana Data Dapat Terekam di Otak
Struktur data yang bersifat fisis seperti foton, laju kinetik partikel, ataupun perubahan tekanan dapat disimpan oleh sel-sel neuron melalui suatu proses konformasi. Pada ranah responsif, atau rangsang yang memerlukan tindak balas, impuls akan berindak selaku suatu stimulator fisis, dalam hal ini sinyal elektrik. Tetapi untuk data yang akan dikemas menjadi data nukilan maupun bentuk-bentuk memori lainnya, struktur fisis data tersebut harus disimpan dalam suatu bentuk protein yang khas. Kekhasan protein informatif tersebut sekurangnya harus mampu mencerminkan karakteristik data, baik adanya muatan elektrik khusus, konformasi bentuk, spin, koefisien Debye-Huckel-Onsager, radius putaran makromolekul, koefisien gesekan dan geometri molekul, kepekaan magnetik, koefisien difusi, viskositas intrinsik, konduktivitas, maupun konstanta pengandengan hiper-halusnya. Bentukan-bentukan protein intraseluler yang khas di masing-masing neuron memori/pengingat sebenarnya dapat dianalogikan dengan sistem biner pada prosesor semikonduktor, hanya saja jauh lebih rumit dan memiliki dimensi yang eksponensal. Peristiwa konformasi, transformasi, serta asosiasi, dan pengenalan molekul penyimpan tidak hanya sekedar ‘ya’ dan ‘tidak’ (0 dan 1) saja, melainkan akan memunculkan konfigurasi 01,02,03…..ad infinitum. Pengorganisasian informasi yang rumit ditandai pula dengan tidak liniernya proses berpikir, dimana pada proses tersebut terjadi secara serentak (dalam waktu yang bersamaan), paralel, aktifasi dari bberapa jaras asosiatif dan perseptif sekaligus, di saat jaras sensoris masih mengamati serta mengup-load data dari lingkungan (eksternal maupun internal). Kecepatan transmisi data dan koordinasi antar sel neuron, serta kemampuan regulatif dalam suatu proses yang teramat kompleks menjadikan sistem otak sebagai sistem CHAOS (non linier) yang paling deterministik dalam domain mekanisme, tetapi sekaligus paling unpredictable dalam keluarannya.
Secara organik (makromolekul/protein) eksplorasi untuk membuktikan hipotesa tersebut terus berjalan dan berkembang sangat pesat. Kini sekurangnya terdapat 3 ruang lingkup seluler dan 1 ruang lingkup molekuler terus ditekuni oleh para ahli neurofisologi. 3 area seluler meliputi antara lain; (1) Protein dan faktor-faktor membran seperti PIP2, sampai FAAH (Fatty Acid Amide Hydrolase) dan GIRK-1,2, yang berperan amat penting dalam stimulasi protein G dan jalur kaskade rangsang di daerah soma/sel neuron, (2) Protein intarseluler yang berperan pada proses transduksi seperti IP3, Kalmodulin, protein-G, MAP, MAPK, JAK,STAT,Ras, et cetera, (3) Protein atau faktor-faktor yang berperan dalam mengelola energi seluler dari metabolisme (mitokondria), seperti kompleks I (NADPHOksidoreduktase, Ubiquinon,etc). Sedangkan pada domain molekuler (intra nukleus), telah diketemukan pula beberapa protein khas seperti faktor-faktor transkripsi (myc,jun,fos, FT I, FT II, etc), serta penemuan penting terbaru yaitu protein CREBP yang diduga sebagai ‘gudang’/tempat penyimpanan memori, lengkap dengan enzimnya PP-1 yang bertugas untuk merevitalisasi serta mengosongkan memori yang dianggap tidak bermanfaat lagi.

Howard Gardner :
Multiple Intelligence terdiri atas; (1) Kemampuan untuk membaca, menulis, dan berkomunikasi, (2) Kemampuan untuk membayangkan suatu hasil akhir, mengimajinasikan sesuatu secara spasial/ruang), (3) Kemampuan untuk menghitung, matematis, dan berpikir sistematik. (4) Kemampuan untuk mengekspresikan diri melalui bunyi, mengapresiasi nada, dan menikmati keindahan harmoni. (5) Kemampuan untuk menggunakan kecakapan dan kecekatan tubuh untuk menyelesaikan masalah dan bersikap (tubuh) secara proporsional, (6) Kemampuan untuk berempati dengan sesama, bekerjasama, dan mau saling memahami, (7) Kemampuan untuk mengevaluasi diri, mendesain suatu sistem perencanaan personal/pribadi, meningkatkan kepekaan terhadap tuntutan internal, (8) Kearifan untuk mampu membina relasi dengan konstituen alam lainnya, (9) Kemampuan untuk mengembangkan diri secara spiritual dan mengedepankan norma serta moralitas dalam berhubungan dengan komunitasnya.


Latihan Berjalan
Konsep berjalan yang baik dan bermanfaat bagi pembentukan pola pikir sistematik (kontra heuristik) serta bagi kebugaran fisik (kepadatan tulang, optimasi fungsi muskuloskeletal dan keseimbangan), adalah cara berjalan yang mengacu kepada pola jalan ibadah thawaf dan sa’i di tanah suci Mekkah Al-Mukaromah. Secara sederhana dapat digambarkan bahwa 20-25% awal berjalan digunakan untuk adaptasi dan pemanasan, 21-40% tahap kedua akselerasi, 41-65% tahap konsistensi (mempertahankan kecepatan dan gaya berjalan), 66-80% perlambatan/deselerasi, dan 20% terakhir adalah fase relaksasi.

Lingkar Ketakberhinggaan
Konsep kesetimbangan manusia didominasi oleh kecenderungan ‘hanif’, yang tercermin dalam keseimbangan vestibuler, dimana seseorang dengan manipulasi apapun akan selalu mencari arah ke kanan dan bila diteruskan akan melingkar. Ekstremisasi kanan akan terdefleksi kedalam busur lingkaran penuh (3600), demikian pula sebaliknya. Secara konseptual, ‘perjalanan’ manusia akan berakhir di tempat ia berawal. Kebenaran mutlak akan dapat dijumpai baik berjarak maupun berhimpit dengan kematian. Dalam konteks ‘arah’, konsep thawaf dan hanifnya vestibuler seolah berseberangan. Dalam konteks iman, ‘arah’ dalam kehidupan yang fana juga fana (relatif) (“kemanapun kau menghadap maka akan mendapati wajah Allah”), ke kanan bisa berarti ke kiri, ke kiri bisa berarti ke kanan. Vektor resultante tetap tegak lurus ! Yang absolut tetap absolut. Riyadah, memutar ke kiri pada konsep thawaf dapat diartikan sebagai peringatan anti waktu, anti ruang, dimana dimensi waktu dan ruang dinafikan. Berjalan dengan keterbatasan, berpacu dengan kepastian. Waktu dan ruang bisa sirna, secara relatif, bagi kita. Mari kita nafikan sejenak dengan berputar ke kiri, ‘menyentuh’ tubir keabadian, dimana kebenaran mutlak bersemayam. Berputarlah ke kiri, maka “sang sekrup”pun akan makin meninggi ! (Ini filosofi Doktor Suparno). Dari suatu ketiadaan tercipta semesta yang terus berkembang secara teratur dan diluaskan dengan kekuatan. Kenisbian dalam suatu keabadian, materi dan energi adalah saksi penciptaan yang membeku dalam perangkap waktu. Reverse forecasting akan mendapatkan menemukan rangkaian sejarah dan kisah materi abadi yang terus berubah dan dinamis menata diri sesuai dengan stimulasi dari transformasi energi. Karbon itu berasal dari zaman langit dan bumi masih menyatu. Energi yang luwes berganti rupa dan bersilang makna adalah energi primordial yang tercipta seusia semesta. Setiap aksi dengan manipulasi energi dan bermedia materi akan tercatat dalam kurva waktu perubahan (time lines motion curve). Berbagai perubahan akan terekam oleh pengamat pasif yang ‘dipaksa’ ikut berubah pada setiap peristiwa dan akan menjadi saksi bisu yang banyak berbicara. Perubahan gelombang elektromagnetik yang tidak statis akan merancukan jalur hantaran yang semula statis. Pancaran gelombang radio, sebagaimana sifat rambatan gelombang akan mengintervensi media yang dirambatinya. File cache sisa rambatan pada media dapat bercerita bila didecoding dan di dicarikan padanan operasionalnya, seperti ketika kita membuat DNA probe yang tingggal dipasangkan dengan “soul mate”nya. Free willing atau kebebasan berkehendak adalah entry point bagi perangkap data perubahan, bahkan pada saat kita memilih untuk diam. Kumparan energi yang pasif akan mengingat bahwa kita pernah terdiam sesaat. Berdasar perspektif tersebut folder-folder kesadaran dapat menyimpan tak berhingga memori, kenangan indah, suasana, perasaan, dan rekaman peristiwa, di dimensi keabadian semesta yang bak diary raksasa mencatat setiap kesedihan dan juga kegembiraan, menulis setiap pikiran dan juga gerakan. Kepedihan,kesalahan, dan keadaan yang tidak diharapkan tidak akan pernah terhapus dari sistem memori sejati, demikian pula kebahagiaan, kegembiraan, dan keberhasilan. Penyesalan yang terdalam sekalipun tidak akan mampu menafikan rekaman kesalahan yang terbekukan. Penghapusan memori yang terbaik adalah dengan tidak “melakukan”. Ketidak tergesaan dan kemapanan rasionalitas akan menghindarkan kita dari kesalahan yang tak akan terlupakan. Cache-cache di hipokampus berkapasitas kecil berukuran kilo bytes, merupakan shortcut kita, jalan tercepat mengurai/mengekstrak folder yang telah dimampatkan (zip.files). Setelah terhubung maka folder diekstraksi dan dikodifikasi serta dicarikan komponen pendukungnya, yang biasanya berasal dari bahasa aplikasi yang digunakan (situasi dan kondisional). Setelah didapatkan isi folder “di luar sadar” dapat dijadikan referensi proses pengulangan kesalahan yang tidak perlu dilakukan lagi, identifikasi faktor-faktor kondusifitas yang terbukti telah mampu menghadirkan prestasi, komfortabilitas, dan kenyamanan bathin.

DOSA dan HARAM, di LANGIT YANG BARU
Ketika seorang ayah memberikan uang kepada ibu untuk membelikan makanan bagi kedua anak mereka yang masih balita, maka sang ibu dengan sigapnya segera berbelanja ke tukang daging di pasar langganan.Semuanya tampak biasa dan wajar-wajar saja. Tetapi bila ternyata uang yang didapat sang ayah tadi bukanlah terkategori sebagai pendapatan yang halal, maka jalan ceritanya akan panjang dan pasti tidak akan “happy ending”.Apalagi tokoh sang ibu dalam cerita ini rupanya tengah berbadan dua. Dongeng punya cerita, ternyata setelah diusut-usut oleh KPK, uang yang dibawa pulang oleh sang Ayah adalah uang komisi yang tidak semestinya diterima. Sang ayah yang pegawai senior sebuah instansi itu tentulah tahu dan dapat membedakan, mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan. Akan tetapi karena desakan hawa nafsu ingin tampil sebagai seorang kepala keluarga yang prestatif serta dapat menduduki maqom yang terhormat di mata istri dan keluarganya, maka uang itupun diterimanya. Dengan senang hati ? Tentu tidak. Dengan jantung yang berdebar sangat kencang, sampai-sampai ia sendiri merasa bahwa jantungnya bisa saja putus saat itu juga. Keringat dingin meleleh disepanjang tulang punggungnya, dadanya terasa sesak, sampai-sampai kemeja yang dikenakannya serasa melekat erat bak pakaian senam.Nafas tersenggal-senggal, dan kepala terasa pening melayang. Ya, itulah pertanda seluruh tubuhnya sepakat menolak untuk ikut berpartisipasi dalam sebuah dosa.
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, (Al-Quran) yang serupa lagi berulang-ulang. Bergetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.” (QS Az-Zumar ayat 23)
Getaran rasa bersalah itu mengguncangkan sistem normalitas dan homeostasis alias keseimbangan internal manusia. Hormon ketakutan (skotopobin) membuncah dan terus mendorong ketidakseimbangan hormonal lainnya. Metabolisma tubuh mengalami perubahan secara drastis. Para elektron, proton, quark,lepton,bosson, dan fermion yang tengah bertasbih dan berthawaf terganggu ritmenya dan membangun sebuah keseimbangan baru sebagai suatu efek kompensasi.Sebagian dari mereka menjadi liar karena kehilangan pegangan. Sunatullah yang termanifestasi sebagai berbagai aturan yang menjamin keteraturan yang bersifat sistematik tidak lagi berjalan semestinya. Sebagai contoh, konsep larangan Pauli yang memisahkan antara elektron dengan arah spin yang sama dalam orbital Bohr yang berbeda,tidak lagi dipatuhi dan para elektron berloncatan semaunya, semuanya semau “gue”.
Uang yang notabene hanya sekedar sekumpulan karbon yang berbentuk kertas dan sama sekali tidak berdosa,bila terpegang oleh tangan-tangan yang chaos akan ketularan dan menunjukkan sifat (fenotip) serupa. Kertas uang akan menjadi media penghantar multi level dosa (MLD). Sang ibu yang kemudian berbelanja dan membeli ½ kg daging has dalam dari seekor sapi yang nyata-nyata halal karena disembelih dengan menyebut nama Allah,akan kecipratan efek tidal dosa yang seperti molekul dalam gerakan Brown, membentur sana-sini dan berzig-zag kian-kemari menciprati tetesan dosa kesana-kemari,terdorong oleh panasnya energi kinetik rasa bersalah. Dan daging has dalam sapi yang halal itu, ketika terpegang oleh lengan ibu yang terkena efek gerak brown dosa, maka akan berubah pula menjadi sekumpulan atom C,H,O,N,P,dan K yang resah dan gelisah (ingat hampir semua elemen di alam semesta bersifat dielektrik). Ya, daging itu telah menjadi medium turunan ketiga dari sebuah dosa. Jangankan terpegang,dikantungi plastik saja dan plastik itu “dicengkiwing” hanya oleh 1 ibu jari dan 2 jari anak buahnya, maka sifat semi konduktornya tetap akan menjadi penghantar bagi proses MLD. Kemudian daging itu disemur, dan dimakan beramai-ramai.Ketika ia sampai di lambung dan saluran pencernaan,amilase,gastrin,pepsin,tripsin,garam empedu,dan juga lipase ogah-ogahan menjamunya karena merasa tak kenal. Jadilah daging itu diolah seenaknya dan tentu semau gue juga dong ! Blok pembangun yang semestinya kelak dapat menjadi bagian dari keshalehan dan kejeniusan otak seorang anak,gagal menjadi protein dan banyak diantaranya menjadi gugus sterol alias lemak. Lemak ini akan terakumulasi menjadi hormon steroid dari anak ginjal yang mendorong terciptanya rasa cemas,gelisah,khawatir, dan ketakutan. Coba bayangkan, hanya dari sekerat daging sapi yang semestinya halal, anak-anak dari keluarga muda itu akan tumbuh menjadi anak-anak yang pemarah,murung,gelisah, dan ketakutan, tanpa mereka pernah tahu apa sebabnya. Dan bila kelak mereka dewasa serta menjadi pribadi yang berakhlaq kurang mulia, siapakah sebenarnya yang bertanggung jawab dan terbebani oleh dosanya ? Tentu bukan para downliner bukan ? Kitalah, para orangtua yang berperan sebagai up-line yang akan menuai badai bonus dosa,Naudzubillahi mindzalik.
Ternyata proses dan fenomena ini tidak hanya terjadi pada kegiatan makan-memakan saja, melainkan pada semua aspek kehidupan seorang manusia. Setiap rasa bersalah karena melanggar perintah dan larangan Allah, yang merupakan kebenaran absolut, maka setiap sel dan setiap unsur di dalam tubuh kita akan bersikap chaos yang pada gilirannya akan mengakibatkan munculnya dampak akumulatif yang mengacaukan sistem bio-psikologis. Jiwa-jiwa kita menjadi sulit untuk mencapai tataran muthmainah,naudzubillahi mindzalik. Seorang ibu yang tegang dan kecewa (tanda-tanda kufur nikmat), pada saat mengandung putranya berarti dapat pula dikatakan berinvestasi pada kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa anaknya di kemudian hari. Demikian pula seorang ayah yang pemarah dan pembohong, setiap belaiannya pada sang anak akan menularkan ketakutan,kegelisahan, dan kekacauan quantum biologis pada anaknya. Oh anak, engkau rupanya sebuah cermin bagi keimanan kedua orangtuamu.
Maka bertaubatlah kita,berdoalah kita, dan berwudhulah kita untuk mensucikan setiap proses interaksi dengan setiap elemen dalam kehidupan. Karena itu pula di setiap perjumpaan diwajibakan bagi kita untuk mengucapkan salam, sebuah doa bagi sesama, dan sebuah doa bersama bagi keselamatan kita semua.
Oleh karena itu pula terkuak makna dalam doa sebelum makan yang memiliki arti tidak sekedar mengharapkan barokah dari makanan yang tersedia, tetapi juga permohonan agar terhindar dari azab api neraka. Doa makan itu rupanya bagian dari proses sterilisasi dan pengeliminasian unsur-unsur dosa (haram) dalam sebuah makanan.
INTELIJENSIA TERDISTRIBUSI DAN SINESTESIA,
Pada beberapa waktu yang belum lama berselang, Ir.H Sonny Sugema,MBA mencetuskan gerakan hati nurani untuk peduli pada kejeniusan bangsa. Dari beberapa solusi sistematis yang beliau tawarkan ada satu hal yang amat menarik, yaitu mencerdaskan bangsa melalui game multimedia. Sebuah game, khususnya Role Playing Game baik secara langsung maupun tidak langsung dapat menjadi media pengubah perilaku dan sistematika berpikir. Tentu saja anda berpikir dan bertanya-tanya, bagaimana mekanisme sebuah game dapat mempengaruhi kualitas kognitif, afektif, dan psikomotorik seseorang ? Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas marilah kita simak bersama uraian di bawah ini.

Potensi Pikiran Manusia
Manusia secara umum dibekali 3 perangkat dasar untuk mampu bertahan hidup dan mengembangkan kualitas hidup. Perangkat pertama adalah kompartemen archipalium atau gugus fungsional batang otak yang bertugas untuk menjalankan fungsi vegetatif dan pemenuhan kebutuhan biologis dasar. Perangkat kedua adalah sistem limbik dan kelenjar neuroendokrin yang bertugas untuk memadupadankan fakta yang dihadapi di lapangan dengan tuntutan kebutuhan dasar kehidupan serta basis data berupa memori. Secara umum sistem limbik, khususnya korpus amigdala sering disebut sebagai pusat emosi. Bila disederhanakan fungsi sistem limbik dapat disebut sebagai mediator atau fasilitator yang bertindak sebagai “play maker” dalam proses pembentukan respon seorang manusia. Untuk mengoptimalkan fungsinya, sistem limbik diharuskan untuk berkoordinasi dengan kortex serebri atau daerah kulit otak yang berperan sebagai pusat asosiasi dan efektor fungsi luhur alias kemampuan kognitif. Sebagai makhluk cerdas, manusia dilengkapi pula dengan kemampuan berkomunikasi atau berbahasa yang memungkinkannya untuk dapat berinteraksi dengan sesama. Proses interaksi ini penting, dikarenakan manusia memerlukan sebuah jaring sosial untuk mengamankan kepentingannya dan kepentingan komunalnya. Gen kemampuan berbahasa pada manusia diduga telah melalui suatu proses evolusi yang cukup panjang. Penelitian terakhir dari Enard dkk menunjukkan bahwa gen kemampuan berbahasa yang dikenal sebagai gen FOXP2 dan terletak di kromosom 7, tepatnya di lengan q (7q31), telah berkembang dan melalui proses penyempurnaan selama kurang lebih 200.000 tahun (Alec McAndrew,2005). Selain kemampuan berbahasa otak manusia juga dilengkapi.berbagai pusat asosiasi yang bertugas untuk mengolah data eksternal yang diterima oleh sistem penginderaan. Ada pula pusat asosiasi yang bertugas untuk menerima data internal dari berbagai organ tubuh, dikenal sebagai pusat asosiasi somatosensorik. Adanya berbagai pusat asosiasi ini memungkinkan manusia untuk mengkoordniasi, meregulasi, serta memfasilitasi proses-proses faalinya agar kualitas hidupnya baik secara mental maupun biologis optimal.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin terkuak pula berbagai potensi kecerdasan manusia. Selama ini bila kita berbicara tentang kecerdasan, maka asosiasi kita langsung tertuju kepada otak. Tetapi kini telah dikenal kecerdasan feromonik, yaitu kecerdasan manusia dalam merespon suatu kondisi berdasarkan masukan dari molekul-molekul “hidu” (bebauan) yang diterima oleh reseptor Vomero Nasal Organ atau organ Jakobson. Organ ini terletak di langit-langit rongga hidung dan memiliki hubungan langsung dengan pusat analisis di otak (hipokampus). Ada pula kecerdasan lain yang disebut sebagai potensi Sinestesia. Yaitu suatu kemampuan untuk mengoptimalkan semua pusat asosiasi di otak dalam mengolah stimulus. Potensi ini ditemukan pada bayi-bayi yang baru lahir. Sebagai contoh misalkan seorang bayi dipapari sinar pada matanya dengan intensitas tertentu, maka bagian otak yang terdeteksi aktif oleh Electro Enchepalogram (EEG) bukan hanya pusat penglihatan saja melainkan hampir semua pusat penginderaan menjadi aktif (Dr.Robert Hoffmann, Departemen Psikologi Universitas Carleton Ottawa). Kondisi ini memunculkan sebuah hipotesis, bahwa setiap fungsi indera bersifat substitutif dan komplementatif, atau dapat saling menggantikan dan saling melengkapi. Sehingga bila dilatih dengan metoda yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan (kondisional), seorang manusia dapat mendengar dengan hidungnya, melihat dengan kulitnya, ataupun meraba dengan telinganya.
Teori baru lainnya yang mendukung potensi sinestesia adalah intelijensia atau kecerdasan terdistribusi (distributed intelligence). Yaitu suatu hipotesis molekuler yang menyatakan bahwa setiap sel di dalam tubuh kita memiliki kemampuan cerdas untuk menyimpan data (memori) dan mengambil keputusan. Tentu saja sesuai dengan hirarki fungsionalnya. Hipotesa ini dibuktikan melalui pengamatan pada aspek biokimiawi, yaitu adanya molekul protein C-AMP Element Binding Protein (CREBP) hampir pada semua sel, dimana fungsi dari protein ini adalah menyimpan data. Penyimpanan data diketahui dilakukan melalui proses konformasi protein dan perubahan karakteristik fisiko-kimia (medan elektromagnetik dan struktur molekul) dalam bahasa biner (ya dan tidak). Michael Crichton dalam novel fiksi ilmiah “Prey” (mangsa) menggambarkan bahwa partikel-partikel nano yang diprogram dengan bahasa konformasi molekul ternyata dapat memiliki kecerdasan individual serta dapat mengakumulasikan kecerdasan individualnya menjadi kecerdasan komunal (entitas). Masing-masing partikel nano dapat menjalankan peran kontributifnya sebagai bagian dari suatu individu yang utuh. Aspek amatan lainnya adalah aspek imunologi, dimana setiap sel dan setiap jaringan serta organ memiliki sistem komunikasi yang dikenal sebagai sitokin. Adanya sistem ini memungkinkan sel-sel tubuh kita untuk “bermusyawarah”. Fenomena lain yang dapat membuktikan adanya kecerdasan terdistribusi adalah proses apoptosis atau kematian sel secara terprogram, yang dilakukan bilamana peran sel tersebut sudah tidak signifikan bagi lingkungannya. Konsep kecerdasan terdistribusi dan adanya molekul “cerdas” yang dapat menyimpan serta mengolah data ini bahkan telah mulai diteliti pada tahun 1956 oleh McConnel dkk dengan menggunakan cacing Planaria. Sekelompok cacing planaria diberi stimulasi terkondisi berupa kejutan listrik. Bila cacing tersebut berenang menuju titik yang ditandai dengan lampu maka ia terbebas dari sengatan listrik. “Ingatan” akan kondisi ini ternyata masih ada dan melekat ketika tubuh cacing dibagi 2 dan menjadi 2 cacing baru (pembelahan asesksual). Bahkan lebih ekstrem lagi, saat cacing “bermemori” dicacah dan dicincang serta diumpankan pada sekelompok planaria yang belum mendapat “pelajaran” kejutan listrik, maka kelompok planaria tersebut memiliki memori terhadap sistem kejutan listrik (Dr.Stephen Juan,2005). Masih dari dunia cacing, ada spesies cacing laut yang dikenal sebagai Bonellia yang dalam proses reproduksinya memperlihatkan kecerdasan terdistribusi. Kecerdasan ini tercermin dari seleksi gender yang dilakukan, bila telur menyentuh dasar laut maka ia berdiferensiasi menjadi cacing betina, sedangkan bila telur “jatuh” pada tubuh cacing betina maka ia akan berkembang menjadi cacing jantan yang kelak akan terus hidup dalam rongga tubuh cacing betina. Proasyarat dan kondisi lingkungan ternyata diserap oleh sel telur dan dijadikan acuan dalam sistem pengambilan keputusan biologis.
Kemampuan sinestesia dan kecerdasan terdistribusi ini dapat diamati pula melalui percobaan sederhana. Saat ini teknologi seluler (telpon genggam) sudah sangat marak dan sangat berkembang. Salah satu fasilitasnya yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat adalah SMS (short message services). Penulis pernah meminta beberapa mahasiswa untuk mengetikkan pesan pendek sekitar 100 karakter yang dilakukan dengan tanpa melihat papan kunci (keypad) di telpon genggam. Walhasil tingkat kesalahannya sangat kecil. Bahkan 25% dari mahasiswa percobaan berhasil mengetik tepat dan betul semua sampai titik komanya. Ketika mahasiswa yang bersangkutan diminta untuk memproyeksikan kemampuan pengetahuan abstraknya terhadap keypad di papan tulis, tingkat kesalahannya cukup tinggi. Dapat disimpulkan secara sederhana bahwa
”memori” keypad mungkin tersimpan di sel-sel ibu jari. Atau indera peraba di kulit ibu jari dapat memproyeksikan gambaran keypad ke otak. Atau mungkin pula kedua hipotesa tersebut berlaku secara paralel. Percobaan lain yang tidak kalah menariknya adalah percobaan rendam air dingin. Orang percobaan diminta untuk berendam air dingin hampir sebatas bahu, lalu perlahan ditetesi segelas air hangat di daerah pundak. Apa yang terjadi ? Bersamaan dengan dimulainya proses penetesan air hangat, orang percobaan merasakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh, termasuk tentu saja pada bagian-bagian yang terendam air dingin. Hal ini menunjukkan bahwa sel-sel tubuh (somatik) memiliki kemampuan memilah, memilih, dan menganalisa kondisi yang kompatibel bagi dirinya. Fenomena ini menunjukkan adanya kerjasama yang sinergis antara sistem memori dan pengambilan keputusan di tingkat pusat (otak dan jejaring syarafnya) dengan kebijakan-kebijakan lokal di tingkat sel yantg tersebar merata di seluruh tubuh. Preferensi sel tubuh untuk menyikapi kondisi yang dihadapi merupakan hasil kompromi antara otoritas lokal dengan kebijakan di tingkat pusat. Dengan demikian kemampauan sensoris untuk merasa bukan lagi semata monopoli sistem syaraf, melainkan dibangun secara bersama-sama oleh segenap komponen tubuh manusia. Silahkan pembaca simpulkan sendiri apa makna dari percobaan ini.

Masalah yang Dihadapi
Saat ini terjadi sebuah fenomena pada anak dan remaja yang menunjukkan adanya pergeseran pranata sosial yang meliputi penurunan kualitas akhlaq dan perubahan perilaku. Anak-anak cenderung bersikap lebih kasar, tidak taat azas, serta tingkat kepatuhannya menurun drastis. Bahkan dapat diamati pula banyak anak dalam usia balita sering “mempertontonkan” ledakan “tempertantrum” alias mengamuk di area publik dalam rangka “meneror” orangtuanya agar menuruti kehendaknya. Banyak pula kalangan remaja yang melakukan kegiatan vandalisme seperti berbahasa sangat kasar dan mencoreti berbagai fasilitas umum dengan grafiti. Sebenarnya apa yang terjadi ? Bila manusia mengembangkan nilai dirinya mengacu kepada optimasi pikirannya, maka peristiwa di atas dapat disimpulkan secara sederhana sebagai suatu kegagalan proses adopsi nilai dari lingkungan. Mengaap demikian ? Manusia mengembankan dirinya dengan “mengolah” nilai dan data dari lingkungan. Sistem syaraf, otak, sistem kecerdasan terdistribusi, maupun kemampuan sinestesia merangkum dan memilah serta mengembangkan jalur-jalur asosiasi dalam membangun konstruksi anatomi pikiran. Bila proses “pembangunan” jalur asosiasi ini “diwarnai” dengan ketegangan, ketakutan, dan kecemasan maka jalur asosiasi yang akan terbentuk akan didominasi oleh ketiga unsur tersebut. Secara endokrinologis atau sistem perhormonan, yang akan berperan dominan adalah hormon agresivitas dan hormon “ketidaksabaran”. Dari sini terbitlah budaya instan dan hedonis. Stimulus atau impuls tegang, cemas , dan takut ini bisa muncul dari kondisi lingkungan biotik yang tidak bersahabat (indeks biodiversitas rendah), lingkungan fisik yang tidak ramah, lingkungan psikologis yang gersang, dan yang juga sangat berpengaruh adalah pola pendidikan ,baik formal maupun non formal. Sistem pendidikan berorientasi pada hasil misalnya, akan mendorong anak untuk mengembangkan jalur atau jaras asosiatif berbasis pada nilai kuantitatif. Kondisi ini pada gilirannya akan mendorong pola konsumerisme dan sifat materialistis.
Bagaimana pola pendidikan yang baik dan harus dikembangkan ? Sistem pendidikan yang baik sebenarnya dapat mengacu kepada anatomi dan konstruksi kecerdasan serta pikiran manusia. Pikiran dan kecerdasan manusia dapat diprogram secara sistematis dengan menginstalasi “program generic competencies” alias piranti lunak pengembangan kemampuan dasar seorang manusia. Apa kemampuan dasar seorang manusia ? Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir secara sistematis (mind routing), manusia mampu mencerap informasi dari berbagai sumber melalui berbagai reseptor, manusia mampu berkomunikasi secara efektif, dan manusia mampu mengembangkan pola-pola pemikiran abstrak, serta manusia mampu melakukan proses interaksi dan membangun jejaring sosial budaya. Optimasi “generic competencies” akan menghasilkan kemampuan aksepsi “diciplinary content” yang lebih maksimal, untuk selanjutnya akan memudahkan terserapnya “contextual content”. Sistem pendidikan kita banyak berkutat pada dua ranah yang disebut terakhir.

Peran Role Playing Game
Game multimedia sesungguhnya adalah media yang sarat dengan potensi edukasi. Kemampuan sebuah game untuk memvisualisasikan suatu kondisi yang bahkan hampir tidak memungkinkan untuk digambarkan secara verbal, menjadikan game sebagai alat komunikasi pendidikan yang sangat efektif. Dalam konteks pengembangan kompetensi generik melalui optimasi kecerdasan terdistribusi dan sinestesia, maka game multimedia adalah sarana belajar yang paling tepat. Pengembangan jaras asosiatif melalui game dapat dilakukan melalui jalur biokimia dan fisika, dengan mengoptimalkan paparan spektrum warna, bentuk, dan intensitas serta frekuensi bunyi melalui sajian gambar dan lagu pengiringnya. Warna, bentuk, dan bunyi yang tepat pada gilirannya akan merangsang pusat asosiasi yang tepat pula di sistem otak. Bila diimbuhi dengan muatan yang merangsang pola berpikir sistematis, maka sebuah game setidaknya sudah menjadi stimulus untuk proses aksepsi kompetensi generik. Keterlibatan hampir seluruh sistem indera pada saat memainkan game juga sangat membantu kita mengembangkan kemampuan sinestesia. Aktifitas motorik halus, koordinasi pikiran, serta kecermatan menelaah persoalan dalam simulasi game juga merangsang tumbuhnya kecerdasan terdistribusi. Mengkorelasikan tombol pada keyboard atau joy stick dengan fungsi yang diperankan pada sebuah game adalah kemampuan generik kecerdasan terdistribusi yang terjadi pada aktifitas motorik halus di tangan.
Pemilihan genre role palying game atau RPG didasari pada kemampuan sebuah game RPG untuk memproyeksikan secara virtual peta pikiran dari sang pemain. Tokoh dalam game RPG adalah representasi entitas intelektualitas kita sendiri. Pada sebuah game RPG yang baik dan berbasis masalah ( problem based), tidak saja komponen kompetensi generik yang dapat terangkum, melainkan juga dapat menyampaikan muatan dengan konteks multi disiplin. Tata nilai seperti budaya hidup sehat dan bersih dapat ditanamkan melalui sebuah simulasi yang menggembirakan. Contoh : bila kampung yang dibangun dalam game simulasi penduduknya “jorok” dan membuang sampah sembarangan, tokoh yang dimainkan bisa saja sakit tifus dan perlu dirawat di rumah sakit dengan biaya yang cukup besar. Pemain bisa “tekor” dan poin permainannya bisa menurun. Dari secuplik fragmen game tadi dapat diharapkan munculnya korelasi antara budaya hidup sehat dan bersih dengan ketidaknyamanan berupa kondisi sakit dan terserapnya jatah keuangan. Tertanamnya nilai ini pada benak anak yang memainkan game, akan menjadi “acuan” bagi dirinya dalam bersikap dan bertindak di kehidupan nyata.

LANGIT BIRU UNTUK PESANTREN BARU
Ukuran dunia dan alam semesta sebenarnya tak lebih dari diameter tempurung kepala. Persepsi dan pembentukan kesadaran (conciousness) serta pemahaman pada hakikatnya dibangun, diolah, diyakini di dalam benak yang diefektori otak. Pengertian neurosains mendasar yang teramat penting untuk diketahui adalah terdapatnya korelasi, interferensi, dan resonansi antara berbagai osilasi gelombang elektrik (berbagai karakter magnitudenya) dengan terbentuknya kesadaran.(1) Pada usia bawah tiga tahun terbentuk kurang lebih 1000 triliun koneksi antar sel syaraf dari berbagai bagian fungsional dio otak. Masing-masing sel syaraf mengembangkan tidak kurang dari 15.000 koneksi ke jaringan kerjanya yang berada dalam satu kompartemen. Jaringan-jaringan itu memiliki tujuan rasionalnya masing-masing (objective) yang merupakan penjabaran visi dan misi biologisnya. Secara umum jaringan kerja setara unit bisnis strategis di dalam organisasi otak, bertujuan menjadi penyedia jasa (provider) pengolahan informasi mulai dari hulu (source) sampai hilir (product). Proses yang terjadi di dalamnya dikembangkan berdasar desain alur algoritmik yang teramat rumit. Bila disederhanakan dapat digambarkan dalam tahapan proses sebagai berikut :
1. Proses pembentukan jaras konektif yang fungsional atau dikenal sebagai neural network. Pada jaras konektif ini terpetakan jalur-jalur distribusi data, aras pengolahan, jalur distribusi reaksi, dan jalur pengendalian.
a. Jalur distribusi data terkait dengan kemampuan sensoris seorang manusia. Kemampuan sensoris ditandai dengan kemampuan mengumpulkan, mengenali/mengidentifikasi, mengembangkan kompatibilitas, mengelola dan mengolah data, serta kemampuan mengendalikan serta menyelaraskan data awitan dengan jaringan kerja yang sesuai..
b. Aras pengolahan merupakan analogi prosesor pada sebuah Central Processing Unit (CPU). Pada fase ini terjadi penyelarasan lanjut, yaitu kesesuaian antara kebutuhan primordial dengan data awitan dan analisa prospektif. Kompartemen fungsional penting ini diwakili secara organik oleh kortex cerebri.
c. Jalur distribusi reaksi merupakan faktor tindak balas (respon) yang ditandai kemampuan ekspresi gerak, roman, maupun lisan. Di dalam kompartemen ini bergabung potensi refleks, pengendalian keseimbangan (vestibuler), maupun jaras motorik traktus piramidalis dan otak kecil (serebelum).
d. Jalur pengendalian adalah suatu sistem swakelola yang meregulasi proses pengolahan data dengan mengacu kepada kerangka sistem operasi (operating system) dan data nukilan sekunder yang mewarnai perilaku dan gaya menghadapi hidup.
2. Pembangunan sistem operasi dan kemampuan pemilahan data (data selecting), pengolahan data (data management), serta pengarsipan data (storage).
a. Sistem operasi mulai dibangun semenjak manusia berada di alam rahim yang bersifat marhamah. Sistem operasi didesain untuk mengakomodir kebutuhan dasar seorang manusia yang secara terminologi disebut respon defensif. Alam rahim adalah kondisi ideal bagi seorang manusia, dimana terpadu kenyamanan, keamanan, dan kehangatan cinta tanpa ketakutan dan harapan berlebihan. Sehingga manusia selalu diingatkan terhadap fitrahnya (kodratnya) state of the art dari kondisi idealnya, di pembuka bulan Syawal setelah ditempa bulan kontemplasi nan suci Ramadhan.
b. Pengolahan data secara konseptual dimaksudkan untuk mensinergikan serta menghasilkan keluaran yang optimal dimana perlu suatu keseimbangn dan kesetimbangan yang saling menguatkan. Konsep Selfish gene dan fenomena altruistik ( Holmes Rolston ) tampak tak relevan pada tingkatan analitik. Dimana pada tingkat ini analisa secara komprehensif akan mempertimbangkan berbagai data dan fakta sehingga pengabaian suatu kepentingan atau klasifikasi prioritas menjadi lebih rasional. Pada beberapa spesies non mamalia terdapat suatu fenomena mengorbankan diri bagi keberlangsungan generasi kelompok. Jihad spesies ini ditujukan untuk melanjutkan keberlanjutan kekhasan genetis spesiesnya. Semut-semut menjadi martir suci bagi kelanggengan speiesnya di dunia. bagaimana dengan manusia ? Ide altruistik ini apakah masih relevan dengan tingkat intelijensia manusia ? Kecenderungan altruistik ini masih berlaku dengan gradasi/ tingakatan nilai. Dimana tingkatan nilai altruistik setara dengan niat yang ditetaokan (Inama a’malu binniyah). Berjuta-juta prajurit Shogun Tennohaika dengan semangat Bushidonya mengantarkan nyawanya bagi ‘sekedar’ sebuah negara. Sebaliknya semangat altruistik Nabi Ismail yang merelakan batang lehernya untuk ditebas ayahanda tercinta, tentu berbeda nilai dan maknanya. Kata kunci dari kedua kasus tersebut adalah rasionalitas, sehingga ayat pertama yang diturunkanoleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah “Iqra” (Al-Alaq ayat –1).
c. “Man arofa nafsahu wa man arofa Rabbahu”, respon defensif dan motivasi akan membentuk dan membangun ‘cara pandang’ (weltanschaung) atau ‘mind set’. Sebaliknya respon defensif dan motivasi fisiologis dapat dilatih serta diarahkan agar dapat mendorong menuju arah yang benar (Ihdina shirotol mustaqim), dan menjadi tonggak atau ‘darimana’ manusia akan berangkat menelusuri perjalanan hidupnya.
3. Penentuan orientasi dan arahan obyektif hidup yang termanifestasi dalam penanaman/penyimpanan nilai acuan, capacity building (peningkatan kapasitas), penentuan prioritas tujuan riil ke dalam berbagai tingkatan pemenuhan, serta membangun suatu pendekatan dasar (visi) yang akan diterjemahkan dalam protokol kehidupan (misi). Proses penentuan orientasi dipengaruhi oleh :
a. Kesesuaian infrastruktur kesadaran, sejauh mana perkembangan organ otak untuk mampu mengakomodir proses penetapan tujuan hidup seorang manusia. Parameter obyektif yang dapat dijadikan acuan terejawantah sebagai : Inteligentia Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ). Dengan demikian ketiga parameter tersebut secara parsial belumlah dapat menjadi tolok ukur penilaian tujuan hidup manusia beserta seluruh interaksi sosial dan transendental di dalamnya (Hablum Minnanas, Hablum Minallah). Parameter kecerdasan ini hanyalah sekedar tolok ukur keberhasilan proses penyelarasan kemampuan fisologis organik dengan penetapan tujuan hidup atau bahkan hanya sekedar dengan pola operasional hidup (kit aplikatif).
b. .Transformasi cinta, dari cinta yang horizontal menuju cinta yang perenial. Cinta yang hakiki dipupuk dengan malar (continuosity) agar berkesinambungan (sustainable). Langkah ini seklaigus membumikan niat Lillahi ta’ala, dimana berbuat nista dan zalim akan dihindari bukan karena takut neraka, melainkan karena tak tega mencederai tulusnya cinta. Cinta Illahi yang tulus akan berimplikasi secara vis a vis/kausatif terhadap penjabaran Lillahi ta’ ala. Karena cinta Illahi yang tulus pastilah mendorong dan mengarahkan serta termotivasi hanya karena Allah semata. Cinta dan konsekuensinya adalah tataran rasionalitas yang tertinggi, dimana akan bermuara semua tanya ‘mengapa’ ? Cinta itu tidak buta, cinta itu tidak absurd, hanya saja cinta itu berbeda-beda nilainya.
c. Cinta secara epistemologis sering dikaitkan dengan sifat eksploitatif dan ingin memiliki (egosentrisme dan id-nya Freudian). Akan tetapui dalam pandangan kontra oksidentalisme cinta diterjemahkan sebagai suatu ruang hampa (suwung), gerbang tanpa gerbang (chan/zen), cinta itu imaterialisme. Sehingga cinta yang hakiki adalah cinta yang sudah mampu menafikan rasa ingin memiliki dan dimiliki. Manusia secara fitrahnya tak akan mampu mencapai strata tersebut, akan tetapi secara ideal dapat mencapai tahap tidak ingin memiliki dan sekedar ingin tetap merasa dimiliki (kodrat makhluk).
d. Berdasarkan uraian-uraian pada candra a-c diatas maka dapat dismpulkan bahwa pembentukan orientasi bergantung kepada 2 domain (ranah) cinta manusia, yaitu : Cinta Limbikus yang penuh dengan motivasi dasar berupa hasrat dan dorongan hawa nafsu, dan Cinta Pre-frontalis yang bersifat analitis dan mengedepankan rasio.

Mengenal Kerja Otak dan Sistem Limbik(2,3,4)
Secara fisiologis fungsi biologi yang terkait dengan pengaturan sikap dan respon manusia terhadap lingkungan meliputi hampir keseluruhan bagian otak. Pengekspresian sikap bergantung kepada pesan sensoris yang diterima dari seluruh panca indera (mata, telinga, hidung, kulit, lidah pengecap) yang merupakan prekursor informasi. Dimana prekursor informasi yang diterima merupakan simbol-simbol dengan wahana energi foton (untuk organ sensoris visual), gelombang bunyi (untuk audio sensoris), tekanan dan suhu (untuk sensasi sensoris), dan aneka ragam molekul rasa (untuk sensor pengecap). Simbol-simbol yang diterima akan diolah dan dianalisa sebagai dasar manusia untuk merespon dan menentukan sikap. Prekursor informasi pada tahap lanjut merupakan suatu format pembelajaran yang sangat penting bagi manusia dalam proses adaptatifnya dalam jenis kehidupan yang dipilihnya. Memori atau ingatan akan menjadi basis data bagi manusia untuk menentukan pilihan sikapnya dan bekal kemampuannya untuk berkomunikasi dan mensosialisasikan ide dirinya tentang entitas dan keberadaannya. Semua prekurosr informasi yang diterima dan ditangkap oleh reseptor-reseptor sensoris di seluruh sistem tubuh manusia akan ditransmisikan melalui formasio retikularis untuk diproyeksikan melalui talamus ke daerah proyeksi primer di lapisan korteks otak. Prekursor informasi akan dianalisa di daerah-daerah dengan persesuaian jenis informasi dan suseptibilitas respon. Daerah proyeksi primer yang berada di korteks antara lain adalah daerah pengaturan kesadaran, emosi dan fungsi vegetatif. Jaras retikuler dan jaras asosiasi bertugas menghubungkan reseptor sensoris dengan daerah proyeksi di korteks otak Nukleus kolumna dorsalis membantu mentransmisikan prekursor informasi mengenai tekanan, rabaan, dan proprioseptif serta sensasi postur ke talamus dan selanjutnya ke daerah korteks otak. Kemampuan menerima dan menangkap prekursor informasi tersebut dapat dikendalikan dan diatur intensitasnya secara sadar oleh manusia dengan menngaktifkan fungsi hambatan sensor melalui jaras descendent Prekursor informasi sebenarnya tidak diolah secara parsial oleh organ otak, melainkan diperlakukan sebagai suatu prekursor yang dapat mengaktifasi satu atau lebih sistem pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil dapat berada di ruang lingkup fungsi kesadaran ataupun emosi, akan tetapi secara fungsional berjalannya kedua sistem tersebut tentu memerlukan aktifasi sistem vegetatif yang merupakan efektor dari sikap dan reaksi penerimaan. Sistem vegetatif pada manusia meliputi seluruh fungsi vital sistem tubuh manusia seperti respirasi, sirkulasi, regulasi endokrinologi, dan semua respon simpatis dan parasimpatis.
Daerah korteks yang bukan merupakan area proyeksi utama (kesadaran, emosi, dan fungsi vegetatif) adalah bagian dari daerah korteks yang bertanggung jawab dalam melakukan fungsi asosiatif, atau sebagai pengintegrasi dan mengkombinasi berbagai fungsi yang terangkum dari berbagai area organik. Korteks non spesifik atau asosiasi terdiri atas bagian pre-frontal, bagian limbik dari daerah frontal, daerah temporal, parietal, dan oksipital. Fungsi integrasi dari korteks nonspesifik antara lain ditunjukkan oleh area 3 yang diduga merupakan daerah kendali aktifitas sensoris tertinggi dengan mengintegrasikan alir prekursor informasi dari formasio retikularis, pengolahan di korteks frontalis, hipotalamus, hipofise, sampai pada mengefektori respon motorik melalui jalur serebelum. Sedangkan contoh lain adalah fungsi area 2 sebagai pengendali tingkah laku bawaan (genetically herediter) yang mensubordinasi suatu sistem kendali yang didapat (aqcuired) dalam bentuk sistematika perencanaan dan pelaksanaan dalam rangka mensinkronkan motivasi internal dengan fakta/realitas prekursor informasi dari lingkungan.
Hipotalamus adalah pusat pengendali fungsi vegetatif dan endokrin dalam sistem tubuh manusia. Hipotalamus adalah pengendali fungsi homeostasis lingkungan internal. Untuk pengaturan suhu tubuh hipotalamus medial dilengkapi dengan termoreseptor, sedangkan untuk pengaturan tekanan osmotik dilengkapi dengan osmoreseptor, dan juga terdapat reseptor pengendali umpan balik negatif dalam fungsi endokrinologis. Hipotalamus dapat mengatur hormon dan juga proses saraf otonom dan somatik, termasuk di dalamnya (a) tingkah laku defensif (reaksi penanda bahaya), (b) reaksi konduktif terhadap nutrisi dan pencernaan (tingkah laku nutrisi), (c) reaksi pengaturan suhu, (d) tingkah laku yang terkait dengan sistem reproduksi (reaksi reproduksi). Sistem endokrin merupakan efektor dari berbagai reaksi yang dipilih untuk dijalankan sebagai suatu respon terhadap prekursor informasi.
Sistem limbik mengendalikan tingkah laku bawaan sejak lahir dan yang didapat dari asupan prekursor informasi (berasal dari lingkungan),sistem limbik mengendalikan insting, tingkah laku, motivasi, dan emosi (inner soul). Sistem limbik mempunyai bagian kortikal yang secara organik terdiri dari hipokampus, girus parahipokampus, girus cingula, dan bagian korteks olfaktorius. Bagian lain dari sistem limbik adalah subkortikal yang terdiri dari badan amigdala, area septa, dan nukleus talamik anterior. Terdapat hubungan timbal balik antara hipotamus medial-lateral (proses pengolahan memori sebagai basis data dalam pengambilan keputusan, lihat gambar memori), dan hubungan bilateral dengan korteks frontalis dan korteks temporalis. Hubungan dengan korteks temporalis dimaksudkan untuk mengolah dan menganalisa data dengan bantuan fungsi luhur frontalis dalam rangka menghasilkan suatu harmonisasi antara prekursor informasi yang diterima dengan basis data memori dan kemampuan analisis fungsi luhur frontalis untuk menghasilkan suatu persepsi yang akan terwujud dalam suatu wujud tingkah laku dan sikap. Sistem limbik juga mengatur dan mengendalikan ekspresi emosi (takut, marah,gusar, jenuh, bahagia,riang), dimana salah satu faktor kimiawi penting yang terlibat didalamnya adalah molekul-molekul hidu yang memiliki reseptor sensoris organ penghidu. Molekul penentu bau/aroma ternyata memiliki efek sentral dengan mempengaruhi sistem pengambilan keputusan di sistem limbik-frontalis.

Mengenal Intelijensia Tauhiid
Kategori intelijensia yang selama ini dikenal adalah IQ,EQ, dan SQ, dimana IQ mewakili ranah analitik/rasiona, EQ mewakili ranah motivasi dan perilaku dasar manusia (Jean Paul Sartre), sedangkan SQ mewakili ranah kebutuhan manusia terhadap pemenuhan jawaban akan ketidakberdayaannya (Dannah Zohar). SQ dalam terminologi oksidentalisme maupun orientalisme (sebagaimana diwakili oleh Ary Ginanjar dengan ESQnya) masih berbicara tentang interaksi dan pengembangan pola-pola hubungan kausalistik. Parsialitas SQ/ESQ tampak pada kajian eksploratif yang dititikberatkan pada ‘keuntungan’ aplikatif yang akan diterima oleh manusia sebagai konsekuensi penerapannya dalam kehidupan. Pola ini sesungguhnya masih mencerminkan dominasi motivasi dasar terhadap pemenuhan kebutuhan (limbikus). Dengan demikian pengembangan metoda ini secara hipotetikal akan mendorong terjadinya komoditisasi nilai ketuhanan, dengan menempatkannya menjadi ‘supplement’, atau katalis (enzim). Pada tataran lanjut penjabaran ritual-ritual ibadah sebagai upaya/metoda peningkatan derajat SQ hanya akan berujung pada ‘semangat’ profitisme. Apakah perbedaan yang mendasar antara pendekatan ini dengan Kaizen yang berkembang di Jepang ? Motivasi itu sama-sama semu karena tidak dilakukan dengan proses yang ilmiah. Ciri dari proses ilmiah adalah adanya pola berpikir yang runtut (sekuensial), rampat (simplifikasi/deduktif), ratah (berlaku secara umum pada setiap kasus), sangkil, dan mangkus. Mekanisme pemahaman ilmiah yang runtut biasanya didahului oleh suatu proses identifikasi (masalah, kesenjangan antara teori dan fakta), diikuti dengan proses prokreasi desain, selanjutnya pengumpulan data pendukung (eksploratif ataupun eksperimen), diteruskan analisa hasil, dan membangun suatu simpulan (konklusi). Pada mekanisme pembentukan kesadaran tersebut diperlukan suatu kegiatan integratif yang melibatkan hampir semua kompartemen fungsional di otak manusia.
IT pada hakikatnya adalah suatu kecerdasan perseptual yang merupakan alat untuk membangun suatu pemahaman akan hubungan imanensial tanpa pamrih. Dalam kacamata esoteris setiap hubungan imanensial biasanya selalu diiringi konsekuensi adanya mekanisme ‘reward and punishment’ (Skinner), akan tetapi pernyataan ‘tanpa pamrih’ menempatkan ranah kajian hubungan yang akan digali oleh IT berorientasi kepada cinta hakiki/Illahi (Mahabatullah). Untuk melahirkan IT diperlukan suatu upaya pengintegrasian rasionalitas, respon defensif (terhadap ketakutan tak terpenuhinya ‘kebutuhan’ dasar manusia), dan motivasi dasar (egosentrisme dan id). Ketiga faktor tersebut akan menghablur dalam bentuk kristal-kristal cinta. Peningkatan kualitas cinta sampai pada tataran Mahabatullah memerlukan suatu proses transformasi yang mengacu kepada peristiwa Isra Mi’raj yang dialami oleh Rasulullah SAW. Ada transformasi horizontal (antara Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa), dan ada pula transformasi transendental (antara Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha) yang menghasilkan perintah Sholat.
1. Transformasi IT secara horizontal adalah upaya mengubah cinta-cinta semu yang didominasi oleh cinta limbikus (dorongan untuk dimiliki dan memberi kenyamanan maksimal) menjadi tataran-tataran cinta yang rasional dan mengerucut. Menjadi aliran sungai induk cinta kepada Allah SWT, Deduksi Tauhiid (DT).
2. Dengan landasan-landasan cinta yang rasional dapat dilakukan suatu reidentifikasi dan redefinisi hubungan transendental antara manusia dengan Khaliqnya. Hubungan yang sehat dalam konteks IT adalah hubungan yang tidak lagi bersifat eksploitatif dan profitisme. Profit hanya sekedar dampak yang tidak penting. Regularitas (keteraturan), pola, dan perilaku adalah kegiatan ibadah yang semata ditujukan untuk memupuk cinta Illahi.
3. Ranah kognisi, afeksi, dan motorik menjadi alat dalam mengkristalkan cinta, sehingga setiap tarikan nafas, segeser gerak, maupun perubahan sikap didasari oleh cinta kepada Allah SWT.
4. Sholat bukan lagi menjadi sekedar upaya ‘pelarian’ yang absurd, tempat menumpahkan ketidakberdayaan dan sekedar ‘kotak pos’ keluh kesah getirnya hidup, melainkan sholat akan menjelma menjadi ‘surat cinta’ yang penuh dengan kerinduan ‘suwung’. Kerinduan yang tidak ingin memiliki, rasa sayang yang profan (tulus ikhlas) yang tidak berharap akan semata ganjaran. Lillahi ta’ala.
5. Shaum, zakat, Haji, dan ibadah sunnah akan menjadi lahan serta wacana untuk membangun rasionalitas baru dalam proses transformasi transendental. Ibadah-ibadah tersebut akan menjadi ajang latihan (exercise) dalam mengendalikan cinta/sifat dasar limbikus untuk mencapai ‘mizannya’ (kesetimbangan baru) dan mengintegrasikannya dengan cinta pre-frontalis untuk membentuk EQUILIBRIUM TAUHIID (ET).

Mengenal Equilibrium Tauhiid (ET)
Kesetimbangan antara rasionalitas dengan absurditas dan dorongan hawa nafsu (limbikus) secara hipotetikal akan menghasilkan suatu potensi luhur (fitrah) manusia. Contoh kasus fitrah manusia pada keadaan equilibrium adalah pada saat manusia berada di alam rahim yang marhamah (penuh kehangatan cinta kasih). Daya pikir rasional belum berkembang, motivasi kebutuhan belum mencuat (karena telah tercukupi melalui plasenta/tali pusat), sedangkan absurditas dan abstraksi belum terbentuk. Dengan demikian pada model alam rahim ini berlaku fenomena ‘suwung’, ‘kosong’, ‘non volatil movement’, atau pada reaksi kimia kondisi ini adalah kesetimbangan stoikiometri. Pada saat seorang manusia mampu menempatkan dorongan motivasi dasar terhadap kebutuhan dalam kapasitas fisiologis (sekedar mencukupi) dan bukan sebagai obsesi, menjalin setiap hubungan dengan kasih sayang yang tulus (marhamah), maka manusia akan mampu membangun rasionalitas baru berbasis cinta Illahi (Mahabatullah). Sebagaimana secara teatrikal digambarkan bahwa Mahabatullah didukung oleh sayap Khauf dan Roja’, maka cinta yang rasionalpun berangkat dari proses identifikasi dorongan dasar (nutrisional, reproduksi, dan aktualisasi/keberadaan diri) yang dalam perjalanannya kan memunculkan data ‘harap’ dan ‘ketakutan’.
Contoh kasus yang sangat menarik bagaimana rasionalitas akan memunculkan cinta Illahi yang suci melalui ‘hidayah’ atau pemahaman ynag meneguhkan keimanan, dapat disimak pada kisah berikut.
Di alam semesta secara fisika ditengarai ada 4 gaya dasar, yaitu : (1) gaya elektromagnetik yang mengendalikan perilaku cahaya, (2) gaya nuklir lemah yang mengendalikan peluruhan radioaktif, (3) gaya nuklir kuat yang mengikat proton dan netron, (4) gaya gravitasi yang bekerja antar massa dari suatu jarak .(1)Keempat gaya dasar inilah yang mennetukan berbagai fenomena alam yang berlangsung secara malar (continuos), pada tataran aplikatif terjadi interaksi dan integrasi diantara gaya-gaya tersebut seperti yang dirumuskan oleh Abdus Salam dalam teori electroweak, selanjutnya berkembang pula Grand Unified Theory, yaitu penyatuan antara gaya elektro lemah Abdus Salam dengan gaya nuklir kuat. Penyatuan gaya dasar lainnya adalah teori Super String yang teramat sangat mendukung adanya proses penciptaan, diawali dari suatu dimensi yang mampat, sangat berat dan kecil. Dengan teori ini yang biasa disebut juga Theory of Everything (TOE), 10 dimensi prasyarat (secara kuantum dan gravitasi) dikerutkan hanya menjadi 4 dimensi ruang waktu yang realistis. Apa yang didapat dari pemahaman rasionalitas alam semesta tersebut ? Pemahaman dengan dasar teori-teori tersebut akan melahirkan suatu peluang hipotetikal untuk merekonstruksi sejarah penciptaan. Dari rumusan tersebut dapat dihipotesiskan bahwa tahapan-tahapan dalam proses penciptaan alam semesta mulai dari bergabungnya proton dan netron untuk membentuk inti sampai dengan terinflasinya larutan quark panas semenjak 10-10 dengan dorongan energi yang tiinggi sekali sehingga mampu meniadakan kesetangkupan (simetri). Ketidaksimetrian memisahkan gaya nuklir kuat terpisah dari ketiga gaya lainnya. Darimanakah itu diawali ? Secara matematis keadaan inisial dikodifikasi dengan t, t=0. t=0 adalah titik krusial penciptaan, dari tiada menjadi ada, singularitas tak berdimensi, Kun Faya Kun. Akhiirnya rasionalitas membuktikan dirinya dapat berperan pula sebagai salah satu variabel hidayah. Stephen Hawking berkata : “ Dunia dan alam semesta memang di desain sebagai wahan kehidupan, karena kemelesetan/ketidakpresisian sebesar 10-17 detik saja pada saat penciptaan akan mengakibatkan runtuhnya alam semesta sebelum kehidupan dapat terbentuk.”(1) Subhanallah.


Mengenal Mahabatullah Quotient (MQ)

Bila IT adalah tahapan pencapaian maka MQ adalah parameter yang dapat menjadi tolok ukurnya. Secara sederhana di ranah IT parameter yang dapat menjadi ukuran temaktub dalam uraian berikut :
1. Hubuddunya (cinta duniawi/limbikus), merupakan suatu ikon refleksi yang mencerminkan kegagalan mengelola kemampuan rasionalitas dalam menakar prioritas (miskin wacana, miskin imajinasi). Tercermin dalam sikap tamak, ambisius, berorientasi profit, aktualisasi berlebihan.
2. Kemampuan menerima keberadaan diri (self acceptance ability), dimana kemampuan untuk mampu memposisikan diri secara proporsional serta mampu menakar antara kebutuhan absolut dengan kebutuhan semu akan mengarahkan kepada tercapainya suatu kesetimbangan/ “mizan” hidup.
3. Kemampuan mereformulasikan kondisi alam rahim yang marhamah, yang tergambar dalam penentuan ambang batas kebutuhan, kesabaran, ketenangan hati, kejujuran (tanpa pretensi dan praduga), keseimbangan asupan data (proporsional dan tepat), mengembangkan kemampuan rasionalitas secara terarah (inilah mungkin salah satu faktor kausatif diturunkannya Al-Qur’anul qarim, sebagai pengarah rasionalitas [Al-Furqon], dengan tetap mengedepankan kualitas analitik, sehingga diturunkan dengan surat Al-Alaq sebagai pembuka).
4. Hasil reformulasi kondisi alam rahim mampu dijabarkan dan diaplikasikan dengan panduan tata nilai (Al-Qur’an dan Hadist).


Diagram 1. Pemetaan Konsep IT,ET, DT, dan Parameter MQ

Dampak IT,MQ, dan ET

Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa perluasan IT dengan parameter MQ (ekspresi) dan pencapaian kesetimbangan ET akan berdampak pada perubahan pola hidup (mindset) menuju suatu upaya Deduksi Tauhiid (DT). DT perdefinisi dapat diartikan sebagai suatu metoda hidup yang menghantarkan seorang manusia menuju haribaan kasih sayang Allah SWT (Mahabatulah). Secara geobiometrik DT dapat digambarkan sebagai suatu kesetimbangan (Mizan) struktur hidup berupa segitiga sama sisi dengan kesetaraan nilai (zikir, pikir, ikhtiar). Dimana terjadi suatu interferensi dan penguatan resonansi nilai-nilai MQ secara simultan di setiap sisi dalam setiap proses kehidupan. Konsekuensi sederhana yang dapat menjadi contoh adalah frase berikut : “Komponen sesnsoris yang dibekali dengan IT akan menampilkan karakter MQ (jaga pandangan, mensyukuri keindahan, mendengar ajakan kebaikan) dan merangkum ketiga elemen DT (menjadi zikir yang mengingat Allah SWT, merangsang pikir akan kebesaran Allah SWT, serta memacu upaya/ikhtiar untuk mengoptimalkan potensi diri, termasuk didalamnya menumbuhkan kreatifitas dan semangat inovasi [mujaddid]).”
Perluasan IT dengan parameter MQ dan ET melalui kerangka DT mengarah kepada upaya optimasi pemahaman terhadap hakikat diri (Man arofa nafsahu wa man arofa Rabbahu/barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya), sehingga konsep DT akan mengerucut pada tata nilai personal berfokus pada perbaikan diri sendiri dengan merangkum semua variabel yang mempengaruhi beserta tata nilainya (aqidah, syariah, muamalah). Konsep DT ditujukan untuk mencapai suatu kondisi equilibrium/kesetimbangan (ET) sehingga manusia akan mampu menempatkan dirinya secara proporsional dalam peran yang diembannya di kehidupan (minimal menjadi khalifah bagi diri sendiri beserta interaksi dengan lingkungannya). Benchmark yang dijadikan rujukan dalam proses pembentukan kesetimbangan adalah kondisi alam rahim yang marhamah, hangat, penuh dengan kasih sayang yang tulus, tanpa pretensi.
Berdasar pemahaman tentang konsep DT maka perluasan IT dan upaya pencapaian ET dengan parameter MQ perlu mengedepankan beberapa pola pendidikan dasar sebagai berikut :
1. Early Childhood Learning Method,
a. Pendidikan dini pada anak-anak di usia tumbuh kembang haruslah mengedepankan upaya mengoptimasi fitrahnya. Pada usia 0-5 tahun secara organik anak telah dibekali dengan komponen otak yang telah lengkap kompartemen fungsionalnya. Optimasi yang dapat dilakukan oleh orang tua dan para pendidik adalah dengan melatih jaras-jaras konektif/komunikatif dalam rangka membantu pengembangan infrastruktur dasar sistem syaraf pusat. Pada usia krusial ini pelatihan yang tepat (pemilihan gerak/motorik, pemilihan bentuk dan warna, pemilihan bunyi dengan frekuensi, amplitudo, dan intensitas [desibel], pemilihan rangsang proprioseptif [sentuhan, rabaan, pelukan]) amat berperan dalam proses perkembangan anak. Tidak cukup sampai disitu saja, melainkan selain berbagai pemilihan materi didik tersebut, perlu pula diperhatikan ketepatan waktu dalam melakukan suatu tindakan, apa yang baik dilakukan serta diberikan pada pagi hari, siang hari, sore hari, ataupun pada malam hari. Pemilihan materi didik juga tidak semata bersifat pemanfaatan alat bantu melainkan juga harus memenuhi kriteria/karakteristik sains yang dibutuhkan, sehingga misalkan pada proses pemaparan terhadap bunyi dan warna bukan menggunakan permainan melainkan bermain di tepi sungai pada pagi hari tanpa alas kaki mendengarkan gemericik suara air dan menikmati aroma serta aneka warna dedaunan dan bebungaan. Apa dampaknya ? Embun yang dingin di rerumputan akan memberikan sensasi proprioseptif yang meningkatkan kepekaan (ingat kepekaan fisik dapat berdampak pada kepekaan hati), warna-warni yang memantulkan spektrum fotonik di pagi hari memiliki intensitas cahaya yang lembut dan amat menstimulasi pusat pengolahan pandang (visus sentral) (pelatihan pola ‘memandang’ dengan intensitas yang tepat akan melahirkan sikap/kemampuan ‘memandang’ secara jernih di saat dewasa), bakteri di rerumputan akan bersilaturahmi dan membangun suatu bentuk komunikasi (recognition) sehingga membantu proses pembentukan kekebalan tubuh. Frekuensi air yang bergemericik (sesuai dengan frekuensi zikir) merupakan nada yang tertala (finetuned) bagi perangsangan pusat pendengaran dan sistem analisis bunyi (sehingga anak kelak akan peka terhadap simbol semiotik lisan, mampu mendengar ajakan kebaikan). Intensitas fotonik cahaya matahari yang tepat akan merubah provitamin D menjadi vitamin D yang amat berperan dalam metabolisme Kalsium (penting bagi pembentukan tulang), terpaannya yang menyapa hangat permukaan kulit akan melahirkan sensasi keramahan dan bibit cinta Illahi (sehingga di waktu kemudian sang anak akan senantiasa memproyeksikan / memantulkan nilai-nilai kasih sayang kepada sesama [muamalah]). Demikianlah, bercengkerama pagi hari di tepi sungai sambil bertelanjang kaki sekiranya dapat menjadi contoh betapa Allah SWT telah menyediakan fasilitas belajar, lengkap di sekeliling kita.
b. Bila pada candra di atas telah sedikit dibahas pemilihan media didik, maka faktor yang tak kalah pentingnya dalam pola asuh adalah perencanaan pola hidup (adab dan akhlaq). Pola hidup dapat dipelajari melalui pola-pola yang lebih sederhana (tersubordinasi) seperti pola makan dan pola tidur. Pola makan sebenarnya adalah ajang latihan dalam pengendalian respon defensif terhadap nutrisional, yang memiliki imlikasi pada pengendalian hawa nafsu (limbikus). Komposisi dari makanan yang dimakan juga berperan amat penting dalam penyiapan infrastruktur sistem syaraf pusat anak. Sedangkan pola tidur adalah suatu ajang pula bagi pelatihan pengendalian respon defensif nutrisional dalam konteks mengendalikan tuntutan kenyamanan. Secara fisiologis pengaturan pola tidur akan berdampak pada optimasi sistem endokrin sirkadian yang berperan dalam menentukan kinerja metabolik tubuh. Semenjak dini biasakanlah anak mengikuti kegiatan shalat wajib dan shalat sunat termasuk shalat tahajjud. Gerakan sholatnya sendiri merupakan senam otak yang paling ideal, manajemen waktunya akan membentuk memori nukilan yang permanen.
2. Transition Teenage Learning Method,
a. Berbekal optimasi struktural dengan opendekatan ECML maka diharapkan pada masa transisi ini (12-18 tahun) telah memiliki infrastruktur analitik yang baik, kepekaan yang terarah, serta kebeningan pandang, sehingga mampu menimba sebanyak-banyaknya dasar-dasar ilmu yang bermanfaat bagi proses pikir di saat dewasa. Tantangan terbesar pada kelompok ini adalah terjadinya maturasi (pematangan) biologis yang membawa konsekuensi ujian bagi kemampuan pengendalian dirinya. Pada masa ini sangat ideal bila dikembangkan suatu kit pedagogis yang mampu merangsang kreatifitas dan daya inovasi serta dapat mengakomodir kebutuhan akan informasi (buku yang menarik, multimedia, tadabbur alam, berdiskusi dengan para ahli).
b. Membagi peran dan tanggungjawab secara proporsional, dengan mulai memberikan kepercayaan pengelolaan diri dan pengelolaan interaksi dengan lingkungan.
c. Mengkristalisasi konsep IT dengan mengedepankan pemahaman fungsional dan sistematika kerja setiap kompartemen di otak/Susunan Syaraf Pusat. Konsep aplikatif ini menembus batas dikotomis yang saat ini berkembang yaitu pelatihan dan optimasi otak berdasarkan belahan kanan dan kiri. Secara neurosains tidak ada kerja otak yang hanya melibatkan salah satu segmen dan kompatemen fungsional dari otak. Pendekatan parsial semacam itu akan menjadi sangat berbahaya dan memunculkan suatu budaya berpikir/rasionalitas sektoral. Untuk mencapai suatu optimasi pertumbuhan Mahabatullah (cinta Illahi) diperlukan ciri-ciri fungsional otak sebagai berikut :
i. Melakukan identifikasi data sensoris berdasar kepekaan terhadap keindahan nilai yang diperankan oleh bagian ‘rasa’ atau sisi kanan hemisferium,
ii. Secara paralel data sensoris tersebut akan diolah sebagai data sekunder yang akan diadjust dengan sistem operasi dan piranti lunak aplikasi. Proses ini terjadi di hemisferium sebelah kiri (analitis),
iii. Pengelolaan data tetap dijiwai kepekaan/sensitifitas terhadap keindahan nilai dan data nukilan (retrieval memory) sehingga terjadi poros kerja corpus callosum yang mengintegrasikan belahan otak kanan dan kiri,
iv. Respon atau tindak balas (reaksi) akan dirangkai dan didesain agar dapat tampil setangkup (simetri), kompatibel (cocok dengan stimulan/rangsang) sehingga dapat menjadi respon yang tepat, dan dapat ditampilkan secara elegan. Analisis dan perencanaan reaksi terjadi di pusat penalaran, sedangkan sentuhan keindahan, keanggunan, dan art of expression (seni menyajikan) diolah di pusat ‘rasa’. Dengan demikian dalam proses menguntai kata-kata yang indah, merdu, serta penuh dengan muatan kebajikan, bukan semata peran area Broca atau Wernicke yang merupakan pusat bahasa lisan, melainkan melibatkan pula secara paralel hampir semua jaras konektif beserta kompartemen fungsional otak.
3. Adult Learning Method,
a. Infrastruktur SSP yang baik, perilaku yang tertanam sebagai memori nukilan, pelatihan melalui distribusi tanggungjawab, serta berbagai keunggulan fisiologis berupa ‘jam biologis’ yang tepat, dan bebrbagai kepekaan sensoris akan menjadi ciri generasi yang telah melalui tahapan ECLM dan TTLM. Akan tetapi pada tingkatan kedewasaan akan terjadi suatu polarisasi dan keadaan tidak homogen. Mengacu kepada konsep DT yang mengedepankan eksplorasi diri maka ALM haruslah memenuhi kriteria konseptual berikut :
i. Student/Santri Oriented, setiap manusia pada hakikatnya adalah santri atau pelajar yang berupaya menyibak misteri makna hidup. Orientasi pada sang pelajar sesungguhnya menunjukkan bahwa proses belajar yang sesungguhnya dimulai dengan mengenali diri sendiri (Wa fi anfusikum afala tubshirun), lengkap dengan segala potensi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
ii. Problem Based, proses belajar dimulai dengan langkah mengidentifikasi masalah, mendesain pemecahan masalah/solusi, mengumpulkan data untuk menunjang pemecahan masalah, mengelola data secara obyektif (berdasar penalaran dan tuntunan yang secara hirakis lebih tinggi, orang tua, guru, buku, hadist, dan Al-Qur’an), untuk akhirnya dapat menghasilkan simpulan-simpulan sementara yang akan menjadi bekal bagi proses penalaran yang bersifat malar (menghadapi masalah baru). Berangkat dari masalah pula peran Al-Qur’an sebagai Al-Huda (rumusan visi hidup manusia), Al-Bayyinah (penuntun pencapaian visi atau dengan kata lain misi hidup), dan Al-Furqon (parameter pembeda/kekhasan orientasi) mengejawantah sebagai rambu yang paling signifikan dalam menentukan kelurusan suatu jalan (Ihdina shirottol mustaqim).
iii. Integrated, keterpaduan, keserasian dalam menggabungkan serta menyusun potensi (aqliyah, naqliyah), mengoptimasi potensi analitik, potensi fisik, dan potensi inovasi.
iv. Community Oriented, senantiasa berinteraksi dengan masalah-masalah kemasyarakatan dan aktif bermuamalah. Orientasi komunitas memungkinkan terjadinya suatu mekanisme ekstrapolasi nilai-nilai kebajikan, sekaligus sebagai suatu reseptor penerima informasi-informasi adanya kesenjangan antara fakta dengan teori (masalah).
v. Environment, senantiasa berinteraksi dengan lingkungan sekitar baik fisik maupun non fisik (memes [dibaca me’em]/lingkungan psikologis). Lingkungan merupakan media yang sangat penting dalam konsep DT untuk mencapai suatu tataran ET.
vi. Self Directed Learning, kemauan dan motivasi untuk terus melakukan kegiatan belajar mandiri dalam rangka memperbaiki diri, merupakan faktor yang sangat berpengaruh kepada proses perluasan IT. Transformasi motivasi untuk belajar merupakan kunci utama dalam pengendalian dan penggiringan hawa nafsu (rasa ‘lapar) untuk menjelma menjadi alat identifikasi untuk lebih mengenal Sang Khaliq !
b. Demikianlah, dengan pendekatan SPICES ini Insya Allah konsep pesantren multidimensi yang saat ini banyak digagas akan menemukan bentuk solutifnya. Kemultidimensian pesantren akan terejawantah tidak hanya dalam bentuk keanekaragaman media melainkan juga pada keragaman metoda serta sumber pendidikan, mulai dari kristal bening embun di pagi hari sampai dengan lembutnya usap hangat terik mentari akan menjadi sumber ilmu yang tak putus-putusnya. Sedangkan format pendidikan pesantren akan menjadi lebih fleksibel dengan kemampuan menakar serta mengukur derajat kemampuan, kepentingan, dan prudensialitas masalah yang akan diipecahkan sebagai tujuan rasional suatu proses pendidikan. Pendidikan hidup akan lebih bersifat personal dan evaluasi dengan parameter MQ akan menjadi umpan balik yang konstruktif dalam proses pengembangan diri berbasis Tauhiid. Insya Allah pesantren masa depan adalah pesantren yang berlokasi di batok kepala masing-masing santrinya, termasuk kita ! Amin.

PATOBIOLOGI OLAHRAGA
Meneladani sabda baginda Rasul, Muhammad SAW, bahwa generasi muda muslim hendaklah berolah fisik dengan cara berkuda, memanah, dan berenang, maka esensi yang perlu ditelaah dari anjuran tersebut adalah adanya kontribusi status biologis fisik terhadap pembentukan jiwa manusia yang sehat (ora et labora). Secara konseptual ketiga olah tubuh pilihan Rasulullah tersebut mencerminkan suatu pola sistematis dalam suatu tahapan pembangunan ruhiyah menuju jiwa yang istiqamah (konsisten), pengendalian emosi dalam proses pengambilan keputusan, kecepatan dan ketepatan analisa, kemampuan berbagai rasa (simpati dan empati), kemampuan koordinatif terhadap berbagai anggota gerak dan organ tubuh, kecepatan dan ketepatan dalam bertindak (mengambil tindakan), kemampuan adaptif terhadap lingkungan, dan penyelarasan antara kemampuan analitik serta kemampuan pengambilan keputusan.

a.Berkuda
Olahraga berkuda melibatkan 2 spesies yang berbeda, dimana hewan equiin (kuda) menjadi objek atau alat olahraga. Secara teknis olahraga ini melatih seseorang untuk mampu melakukan proses komunikasi antar spesies dengan kendala adanya perbedaan simbol komunikasi dan kemampuan saling memahami. Sebagai makhluk biologis kuda memiliki karakteristik fisiologis yang harus dikenali oleh penunggang (termasuk morfologi), dimana sub karakteristiknya juga meliputi siklus biologis dan insting dasar makhluk hidup. Untuk dapat melakukan suatu proses olah tubuh yang baik dengan bantuan kuda, maka seorang manusia perlu mengetahui dan memahami karakteristik mitranya disertai suatu upaya membangun suatu komunikasi antar spesies. Manusia yang merasa superior dengan kemampuan akalnya biasanya menghendaki suatu pola komunikasi instan dengan pendekatan reward dan punishment. Dimana si kuda atau hewan tunggang lainnya dianggap sebagai makhluk bodoh yang akan bekerjasama dengan sekedar hadiah bagi perilaku kooperatifnya dan hukuman (cambuk) bagi perilaku defensifnya. Menjadi khalifah tentu bukan sekedar berada dalam tataran penakluk (conqueror), melainkan lebih berlaku sebagai seorang pengayom, pemelihara keberadaan sesama makhluk ciptaan Allah. Dengan demikian pada tahap awal olahraga berkuda yang mengedepankan suatu seni komunikasi lintas spesies, terdapat suatu hikmah penting yang mungkin diharapkan baginda Rasul dapat kita petik dan semai di jiwa kita, yaitu, kemauan dan kemampuan untuk membina komunikasi/silaturahmi yang tulus dan bebas kepentingan diantara sesama kita (makhluk ciptaan Allah. Mengingat saat menghadapi kuda, suatu makhluk yang mungkin kita anggap hina dan tidak sejajar dengan kemuliaan manusia saja kita harus menerapkan prinsip komunikasi setara yang bersifat welas asih, rahmatan lil alamin, Wa maa arsalnaaka illa rahmatal lil’aalamiin (Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, Al-Ambiyaa’ ayat 107), mengayomi dengan kasih sayang yang berprinsip bahwa kita semua sesama makhluk ciptaan Allah dan tidak bertindak sewenang-wenang sebagai ekspresi agresifitas penakluk yang superior, apalah kita ini di hadapan Allah SWT ? Kemampuan untuk menempatkan diri sebagai sesama makhluk inilah suatu kunci untuk dapat menjalin kerjasama dan membina hubungan antar sesama makhluk dengan dasar cinta kasih. Tahap awal olah raga berkuda yang ditujukan untuk membentuk suatu pola komunikasi antar makhluk ini, bila berhasil dilatih dan dijalani maka akan berbuah kepada suatu saling pengertian yang berwujud pada munculnya kemampuan koordinatif. Olahraga berkuda memerlukan suatu kemampuan koordinatif yang luar biasa, terutama untuk mempertahankan keseimbangan. Dalam olahraga berkuda dikenal cabang equestrian, tunggang serasi, maupun pacuan kuda, dimana ketiga cabang tersebut dapat diterjemahkan secara kontekstual sebagai : ketepatan dalam dinamika yang harmonis, keserasian dalam saling pengertian, dan kecepatan. Dengan demikian dalam olah raga berkuda ini secara keseluruhan dari proses awal sampai akhir, seorang manusia dapat mengambil hikmah dan nilai sebagai berikut :
• Kemauan untuk mengenal dan memahami sesama makhluk ciptaan Allah, meskipun makhluk itu seekor hewan, inilah kunci silaturahmi global (menyeluruh), mau mengenal dan mau memahami dengan segala konsekuensinya. Bila kita berhadapan dengan seekor kuda maka jelas kita jangan berharap untuk bercakap-cakap dengannya, atau dengan kata lain kemauan untuk mengenal dan memahami ini juga melatih kita (manusia) untuk merubah perspektif pandang yang secara naluriah selalu berorientasi egosentrisme alias berbicara untuk kepentingan diri kita sendiri. Kemauan untuk memahami mengharuskan kita belajar untuk melihat dari sudut pandang pihak yang ingin dipahami dan ingin dikenal. Hal ini akan sulit terlaksana bila perspektif kita masih dijiwai egosentrisme yang memiliki kecenderungan manipulatif. Kita mau kenal karena adanya faktor kepentingan, dimana hubungan seperti ini biasanya merupakan hubungan yang tidak equal/egaliter dimana satu pihak pasti akan termanipulasi. Belajarlah untuk menghentikan keserakahan dan keinginan mengeruk untung dari setiap pihak dan setiap kesempatan, dengan belajar berkuda maka Insya Allah di dalam jiwa kita terpupuk suatu keinginan untuk bersilaturahmi tanpa embel-embel sifat manipulatif dan cari-cari kesempatan. Belajarlah memandang pihak lain bukan sebagai objek manipulatif yang berhubungan dengannya akan selalu memberi keuntungan bagi kita.
• Koordinasi, manusia dibekali dengan berbagai potensi yang luar biasa akan tetapi seringkali gagal mencapai hasil yang optimal karena kurangnya sinergi. Dalam olahraga berkuda koordinasi yang baik antara manusia dan kudanya akan menghasilkan suatu sinergi keserasian, keakuratan gerak, ketepatan momen (equestrian/halang rintang), dan kecepatan yang optimal. Hal yang mendasar yang menjiwai kordinasi adalah : pengertian/pemahaman, analisa, perencanaan, ketenangan, konsistensi (istiqamah) dalam melaksanakan. Faktor terakhir baru dapat terjadi bila itu semua dilandasi hati yang bersih dan bebas dari motif manipulatif atau motif keuntungan egosentrisme. Keuntungan bukanlah hal yang tabu asalkan bersifat ‘dalam’ atau keuntungan bagi kita juga berarti keuntungan bagi semua pihak.
• Menurut penulis jenis-jenis olahraga yang disunahkan Rasul jangan dikerangkeng dalam perangkap simbolik eksplisit, melainkan harus ditelaah secara kontekstual serta dibicarakan di tataran konsep. Sebagai suatu konsep olahraga berkuda tidak mutlak harus dipelajari dalam bentuk sebenarnya, melainkan dapat pula dipelajari sebagai ‘nilai’ yang bisa saja maujud dalam bentuk-bentuk kegiatan keseharian yang lebih relevan dengan kebudayaan dan ritme kehidupan kita, maklum untuk ukuran orang Indonesia olahraga berkuda adalah olahraga yang tergolong elit dan muaaahal ! Bila nilai dari olahraga berkuda adalah antara lain “kemauan untuk mengenal dan memahami” , “membebaskan diri dari egosentrisme”,serta “kemampuan koordinatif”, maka pelatihan keseharian yang dapat kita lakukan untuk meng’adjust’ nilai-nilai tersebutpun menjadi lebih bervariatif, sederhana, dan tidak perlu kuda. Seorang petani dapat mempelajari pola komunikasi lintas budaya dengan mau mengenal dan memahami kerbaunya, dengan demikian tingkat harmoni dan keserasian dapat terukur melalui tertatanya garis bajakan di sawah, yang tentu saja harus memenuhi kriteria akurasi dan kecepatan yang sangat memerlukan ketrampilan koordinatif. Sebenarnya itulah hakikat manusia sebagai khalifah, mampu mensinergikan potensi dengan kekuatan silaturahmi. Kita tidak perlu berteriak-teriak tentang isu lingkungan hidup, lapangan pekerjaan, dan ketidakadilan apabila masing-masing individu manusia telah menjalankan fungsi kekhalifahannya dengan mau kenal, mau paham, tidak egosentrime, tidak manipulatif, serta mampu berkoordinasi dengan siapapun dengan terlebih dahulu mengkoordinasi dirinya sendiri.
• Sebagai bagian dari keluarga inti jadikanlah istri/suami kita sebagai ‘kuda’ pertama yang harus kita pahami, kenali, dan berbagi ego serta motif manipulatif, berkoordinasilah dengannya untuk mensinergikan potensi-potensi keluarga. Salah satu bentuk latihan terbaik dalam kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengendalikan motif manipulatif serta egosentrisme adalah proses hubungan badan suami-istri (jima’). Pada peristiwa sakral ini diperlukan kemampuan koordinatif untuk dapat saling memahami aspirasi dan keinginan, serta sangat diperlukan kesabaran dan ketenangan untuk mengekang motif manipulatif (istri/suami diperlakukan sebagai objek pemuas), diperlukan pula sikap istiqamah untuk mempertahankan pola komunikasi yang setara dimana kebahagiaan dan kesenangan adalah karunia Allah milik bersama, dan lakukanlah proses ini berdasar cinta kasih karena cinta yang tulus adalah sensasi rasa ingin memberi tanpa berharap kembali. Cinta inilah cinta sejati yang sesungguhnya, bila kita pupuk dan kita sirami, dan kita jaga maka cinta ini akan bertumbuh sebagai cinta Illahi, yang akhirnya akan bertunas di ladang hati yang bening. Betapa selama ini cinta itu terus tercurah kepada kita dan semesta sekalian alam, tanpa kita sadari, cinta itu cinta tulus yang tak berharap kembali. Hubungan suami istri janganlah sekadar menjadi ekspresi cinta sesaat yang berdasarkan kepentingan (ingat penggalan lirik lagu yang dinyanyikan Reza Artamevia: “…bukan hanya cinta yang sesaat terus menghilang bila hasrat telah usai…..”), melainkan bagian dari latihan mencintai yang akan bermuara kepada tumbuhnya cinta Illahi ! Allah SWT dalam Al-Qur’anul karim dengan indahnya telah mentamsilkan para istri sebagai ladang-ladang yang siap didatangi dari berbagai arah, atau dalam kata lain ladang-ladang itu merindu untuk diolah dan disanalah akan disemai bibit-bibit cinta Illahi, yang semakin sering dijaga, dipelihara, dan dipupuki akan semakin tumbuh subur pula, menjulang, cemerlang, membaur dengan cahaya Ar-Rasyi.
• Dengan nilai-nilai olahraga berkuda diatas maka sebagai dasar dari olah tubuh yang berkontribusi pada kesehatan jiwa maka ‘nilai’ atau esensi dari olahraga berkuda dapat pula dikembangkan pada bentuk-bentuk latihan lain yang melibatkan komunitas. Dalam bentuk latihan yang bersifat non individualistik seperti olahraga tim (sepak bola, bola basket, bulu tangkis, tenis, sampai arung jeram) kemampuan koordinatif dan kemampuan untuk saling memahami akan memasuki wacana non linier atau keos (chaos). Manajemen keos inilah yang sangat penting dalam proses penataan masyarakat baik itu di tingkat RT ataupun di tingkat kehidupan berbangsa. Kesulitan terbesar adalah begitu banyaknya variabel yang tak terkendali, sehingga pengambilan keputusan tidak dapat mengacu kepada data yang bersifat determinan, tidak ada yang tahu isi kepala setiap oarng lainnya, bahkan kitapun tak sepenuhnya tahu isi kepala kita sendiri. Apa yang harus dilakukan ? Seolah-olah semua latihan berkuda dengan konsep pengenalan, pemahaman, dan kemampuan menahan diri dari motif egosentrisme yang manipulatif tak berguna. Bukan itu, kemauan untuk mengenal dan memahami haruslah diimbangi dengan kemampuan untuk meredam motif manipulatif, dengan demikian kita atau para pemimpin kita mampu melakukan analisa yang akurat dan melakukan tindakan yang tepat dengan cepat. Yang perlu disetarakan adalah kesadaran paradoksial tentang adanya ‘nilai’ baik dan buruk. Dan kesadaran paradoksial tersebut baru dapat dibangkitkan dengan pengetahuan, sehingga dapat disimpulkan seorang muslim mempunyai kewajiban diseminatif, dimana ia wajib membangkitkan kesadaran paradoksial setiap manusia di sekitarnya. Sampaikanlah meski hanya satu ayat ! Tetapi kesadaran paradoksial yang universal tersebut tidak akan tercapai tanpa jembatan kasih sayang dan motif cinta. Yang pertama harus dilakukan oleh setiap pribadi muslim adalah tumbuhkanlah rasa cinta kepada sesama sebagai sesama konstituen makhluk ciptaan Allah SWT.”Dicintai mencintai ….fitrah manusia”, barangsiapa merasa dicintai (karena dicintai adalah manifestasi aktualisasi keberadaan seorang manusia) maka ia akan memposisikan dirinya sebagai manusia yang setara sederajat. Ekspresi cinta ini bermacam-macam mulai dari sekedar sapa sampai memperhatikan saat ia bicara. Bila cinta sesama mulai merekah di belahan hati umat manusia maka kesadaran paradoksial akan tumbuh bak cendawan di musim hujan tanpa siraman kata-kata. “Senyumlah…dengan seluruh jiwa….” kesadaran akan nilai kebenaran akan bertunas seiring dengan meruyaknya rindu yang mendalam, merana karena cinta, dan mereka akan berlomba-lomba mencari…. siapakah sesungguhnya sang Maha Pencinta, yang mencintai-Nya tak akan dikhianati, yang mencintai-Nya tak pelak pasti berbalas lagi. Di manakah cinta itu ? Manusia-manusia akan terus bertanya-tanya, dan mereka…perlahan mulai akan mencari ….! Manusia muslim yang baik dimana senyumnya menularkan cinta, dan sapanya menyiram panasnya hati melepuh dendam, akan tiba pada tugasnya menghantarkan saudara-saudaranya mereguk nikmatnya cinta Illahi, di rumah-rumah sederhana, di warung-warung pinggir jalan, di mesjid kecil di ujung gang sempit, dan di rumah sakit-rumah sakit, di hotel-hotel, serta di pesantren-pesantren dan terminal bis, bandara, trotoar ? ya di mana saja di bumi Allah. Bila kita bisa mencintai kuda (hewan) sebagai makhluk Allah tentu kita lebih bisa mencintai sesama manusia yang jelas-jelas saudara.

b.Memanah
Bila berkuda secara kontekstual menghasilkan konsep kemauan mengenali, memahami, meredam egosentrisme, mengahpus motif manipulatif dan mempertajam kemampuan koordinatif, maka memanah melatih dan mempertajam akurasi, tenaga sebagai manifestai akurasi, kecepatan tindakan, dan sekali lagi koordinasi. Esensi dasar yang nyaris serupa, altius, citius, fortius. Untuk membidik sasaran dengan tepat diperlukan kejelian dalam menyaring informasi berupa : jenis sasaran, jarak sasaran, ukuran sasaran sebenarnya, arah angin, sudut sasaran, jenis tali busur, berat anak panah, kondisi bulu di hulu anak panah, dan sebagainya. Nilai yang terkandung dalam filosofi olahraga ini adalah kemampuan kita untuk mengakses informasi seluas-luasnya serta menapisnya menjadi informasi yang benar-benar esensial (dibutuhkan), karena tidak semua informasi berharga. Seorang pribadi muslim haruslah memiliki kemampuan untuk mengakses informasi baik itu dengan cara mengadaptasi teknologi tepat guna sederhana, motivasi untuk rajin membaca, kemauan untuk mendengarkan orang bicara, keinginan untuk mempelajari alam, mempelajari fenomena sosial, dan mempelajari diri sendiri, Kenalilah wujudmu dengan baik ! Seorang pribadi muslimpun diwajibkan untuk secara tajam dan cermat menganalisa serta mengevaluasi informasi apakah yang berguna bagi dirinya, agar kelak bidikannya akurat dan berhasil guna. Untuk itu seorang pribadi muslim haruslah fokus. Mencurahkan perhatian pada hal-hal yang secara teoritik mampu dikuasainya dan akan berdaya guna, percuma tahu banyak hal tetapi menguasai sedikit kemampuan. Seorang pribadi muslim yang baik dapat memilih menjadi spesialistis, yang hasil bidikannya akurat, tajam, dan terpercaya serta menjadi sub struktur dari masyarakat muslim yang kuat terintegrasi dan merupakan bagian komplemnetatif dari masyarakat dengan keahliannya. Seorang perawat sangat penting dalam pola komunikasi dokter-pasien, sebagaimana juga cleaning service menjadi sangat penting dalam suatu pola komunikasi kesehatan lingkungan kerja. Dalam kereta api tak ada yang lebih penting di antara masinis, kondektur, mekanik, dan penumpang, semua adalah komponen komplementatif yang saling melengkapi suatu entitas nilai. Seorang generalispun penting artinya dalam suatu komunitas, mungkin saja sang generalis adalah dapar atau bahkan seorang katalis, si agen perubahan.
Penguasaan informasi terkait erat dengan fungsi diseminatif seoarang muslim, bila di awal pembicaraan seorang muslim haruslah bertindak sebagai agent of changing, maka penguasaan informasi adalah kunci ketepatan perubahan, sebagaimana ketepatan bidikan anak panah. Penguasaan informasi tidak berarti sekedar menguasai akses terhadap informasi melainkan pula berimplikasi kepada kemampuan untuk menyampaikan informasi. Langkah kedua pada konsep berkuda setelah menebar cinta adalah menjentreng pengetahuan. Penyebarluasan pengetahuan inilah yang memerlukan pendekatan sistem informasi. Pepatah lama mengatakan ‘tak kenal maka tak sayang’, bisa jadi merupakan suatu konklusi dari fenomena ‘mencintai’ karena penetrasi pengetahuan. Orang yang mengetahui memiliki kecenderungan untuk penasaran (curiosity), dan rasa penasaran tersebut menimbulkan suatu kehausan terhadap informasi lanjutan, akibatnya terjadi suatu ketergantungan informasi. Sebaliknya orang yang telah sedikit terkuak benaknya oleh informasi dan mulai adiksi (ketergantungan) akan mulai mengenal pula idiom cinta. Benih-benih cinta inilah yang perlu kita jaga agar tumbuh dan besar serta mekar sebagai cinta Illahi yang bibitnya tersemai di ladang sains. Memang lewat sains orang ingkar, dan lewat sains pula orang mengenal hakikat kebenaran.
Informasi adalah sederetan data baik yang berupa audio, visual, literal, maupun gabungan ketiganya (multi media). Karena informasi adalah sekedar deretan data maka isinya (content)pun dapat beraneka rupa. Sebagian besar adalah sampah, dimana sebagaian lagi adalah sampah yang dikemas indah. Motif manipulatif dan keuntungan diri sendiri amatlah kental dalam distribusi informasi. Info komersial (iklan dan berbagai bentuk promosi gaya hidup lainnya) adalah salah satu bentuk sampah yang dikemas indah. Selain cinta fitrah manusia lainnya adalah serakah, bila sampah-sampah organik dapat menjadi pupuk kompos yang menyuburkan tanaman, maka sampah-sampah info komersial adalah pupuk yang luar biasa bagi penyebaran motif manipulatif, egosentrisme, dan naluri keuntungan diri sendiri. Pergeseran fungsi luhur lobus frontalis dapat terjadi bila sebagian besar data dasar hakikat hidup manusia telah terganti sampah info komersial, yang bahkan dapat mereset sistem BIOS otak manusia menjadi sederetan program hedonisme pemuasan diri sendiri yang sarat dengan software manipulatif dan bersemangat egosentrisme. Pada saat manusia direprogram untuk mengaksepsi bahwa tujuan hidup hanyalah sekedar menggapai kesenangan pribadi, maka tertutuplah rasa cinta akan hadirnya kedamaian abadi serta kerinduan akan kehadiran sang Maha Pencinta. Pada saat itu pula kesadaran paradoksial benar-benar menjadi paradoks yang relatif, dimana snilai salah-benar tak jelas lagi, terkadang motivasi membunuh hanya sekedar ingin mencicipi sebatang rokok mahal.
Itulah informasi, sederet data yang mampu merubah perangai manusia, dan budaya suatu komunitas. Itulah informasi, sederet data yang sebenarnya dapat tersaji sangat menarik berkat berbagai piranti (device) seperti komputer dan televisi. Itulah informasi, sederet data yang selayaknya bisa berisikan muatan pengetahuan akan arti hidup, akan sains yang membantu kita mengenal sang maha Pencipta, dengan sains yang dapat membantu kita meringankan penderitaan saudara kita, mengenal saudara kita, dan meringankan beban-beban hidup kita karena terbatasnya kemampuan fisik kita untuk saling bertegur sapa ‘real time’ dengan saudara kita yang terpisah dimensi ruang. Itulah informasi yang prasarana penunjangnya mampu menampilkan sederet data itu menjadi hal-hal menarik yang pasti akan langsung terekam oleh girus-girus dan sulkus-sulkus penuh sel neuron di otak kita. Itulah informasi, basis data yang terekam di otak kita untuk selanjutnya menjadi alat bantu analisa yang memungkinkan kita memiliki bidikan dengan akurasi yang tepat. itulah informasi yang kita butuhkan untuk membuat keputusan manajerial yang benar dengan waktu yang cepat. Tanpa informasi yang akurat dan tepat maka kita tidak akan pernah bisa mengevaluasi dan mengestimasi sasaran, dengan demikian kita tidak akan pernah bisa tepat dalam membidiknya. Bagaimana kalau yang menjadi sasaran adalah tujuan hidup ? Bukankah kita akan menjadi pecundang selamanya ? Barangkali hidayahpun sebagian variabel bebasnya adalah aksesibilitas informasi, dan kemampuan untuk menganalisa informasi sebagai dasar bagi pengambilan keputusan mikroprosesor neuron kita.
Sinergisasi potensi, kesabaran, konsistensi, ketenangan dan kemampuan meredam iming-iming keuntungan pribadi adalah tahap krusial dalam proses pelaksanaan peluncuran anak panah. Basis data berupa olahan informasi yang diterima setelah diramu dengan pengetahuan dasar dari pengalaman dan proses belajar yang telah terekam di sel-sel neuron akan menghasilkan suatu keputusan analitik yang akan diterjemahkan sebagai TOR dan SOP. Perintah manajerial sangat jelas dan terperinci sampai detil-detil posisi kaki dan jarak rentang busur harus dipenuhi agar hasil sesuai prediksi. Koordinasi antar mata-otak-otot lengan-dan tumpuan kaki adalah kunci keberhasilan tembakan. Dalam konteks komunitas, warga muslim seharusnyalah meningkatkan kemampuan dirinya dalam hal penguasaan informasi, serta dilengkapi kearifan dalam memilah serta memilihnya, dengan berbekal informasi yang baik disertai kemampuan mengintegrasikan dengan knowledge based yang telah dimiliki, pribadi muslim haruslah mampu melakukan suatu evaluasi, prediksi, dan analisa kelayakan untuk melakukan suatu revitalisasi sasaran disertai dengan proses perencanaan bagaimana dapat mencapai sasaran tersebut. Dalam kehidupan keseharian olahraga memanah dapat dipraktekkan secara kontekstual dengan berlatih menyaring informasi, mengolah, menyusun rencana pencapaian sasaran, dan melaksanakan rencana dengan sabar, kreatif, dan konsisten. Menerima curhat istri/suami, meramu info baru tersebut dengan knowledge based yang mungkin juga diperkaya dengan merujuk kepada Al-Qur’an dan hadis, bertanya kepada orang yang lebih pandai, membaca literatur, melanjutkan dengan merencanakan langkah yang akan diambil setelah tergambar sasaran, fokus pada masalah, dan laksanakan peluncuran solusi dengan konsisten, terkoordinasi, dan dengan tenaga yang terukur (tidak bereaksi berlebih-lebihn serta tidak perlu), Insya Allah masalah selesai, istri/suami tersenyum kembali !

c.Berenang
Berenang adalah suatu jenis olahraga yang sangat unik karena menempatkan manusia dalam suatu medium yang tidak kondusif dengan sifat biologisnya. Kita semua tahu bahwa manusia tidak akan mampu bertahan hidup bila terbenam di dalam air lebih dari waktu yang dapat ditolerirnya. Berenang secara filosofis boleh dikatakan sebagai latihan bagi manusia untuk mengatasi titik kritikalnya. Kemampuan manusia untuk survive dengan mengoptimasi kemampuan koordinatifnya terhadap organ dan anggota gerak telah menempatkan proses renang sebagai ekstase kemenangan manusia terhadap rasa takutnya, atau secara khusus rasa takut matinya. Ekstase kemenangan itu menghasilkan kenikmatan yang sensasional, manusia berdiri di ambang batas kesadaraannya bahwa kemampuan mengkoordinasi serta mensinergikan potensinya ternyata mampu membuatnya bertahan hidup dan memberinya suatu kesenangan. Renang melatih manusia untuk berani beradaptasi dengan suatu dunia yang baru, lingkungan yang secara teoritik dapat membahayakannya. Secara kontekstual proses renang mengajari manusia bahwa kemampuan sinergisasi potensinya serta kemampuan koordinatifnya mampu menyelamatkan kepentingan hidupnya. Kondisi ini membuat manusia akan lebih tabah dan siap untuk memasuki ‘lingkungan-lingkungan’ asing yang tak dikenalnya dalam siklus kehidupan. Bayi yang nyaman berenang di dalam cairan amnion sesungguhnya telah berlatih dalam keadaan ektrem untuk memenuhi fungsi vitalnya melalui tali plasenta yang sebenarnya merupakan device alternatif (tidak menggunakan paru dan jantung), ketika lahir ia memasuki ‘lingkungan asing’ yang kaya akan oksigen dan milyaran mikroba, tapi ia menikmatinya dengan seruan kemenangan tangisan yang kita sambut bersama dengan “Alhamdulillah”. Dalam siklus hidupnya ia akan terus memasuki ‘lingkungan asing’ demi ‘lingkungan asing’. Masuk sekolah, menikah, masuk tempat kerja, masuk rumah sakit, bahkan ada yang masuk rumah jompo, dan pada akhirnya segala latihan berat tersebut pada tujuan akhirnya adalah menyiapkan kita memasuki dunia yang benar-benar ‘asing’, yaitu kematian. Renang melatih kita untuk mampu beradaptasi dengan keadaan sesulit apaun yang harus kita hadapi, bahkan renag mengajari kita untuk menikmatinya. Dengan kata lain orang yang menghayati renang sebagai suatu latihan adaptasi, tidak akan berputus asa sekalipun ia terjebak pada ‘lngkungan’ yang secara implisit akan ‘mematikannya’. Renang mengajari kita untuk bersyukur nikmat atas potensi yang dianugerahkan Allah kepada kita. Atas kemampuan kita untuk mengkoordinasikan anggota gerak dan organ pernafasan, mensyukuri nikmat bahwa suhu air yang dingin justru terasa menyejukkan. Renang juga mengajari kita bahwa apapun dan bagaimanpun kondisi kita, kita wajib bersyukur dan menikmatinya, karena meskipun kita berada di tempat yang tidak sesuai dengan karakteristik ternyata dapat dinikmati juga. Renang juga mengajari kita untuk tahu batas dan tidak berlebih, dengan kata lain renang mengajari kita untuk mengukur kemampuan diri. Sekuat-kuatnya seorang perenang ia harus memperhitungkan cadangan tenaga dan kemampuan adaptifnya. Bila tidak sang perenang akan mengalami penumpukan asam laktat (keram otot) dan bisa berakibat fatal, mati tenggelam. Perenang juga harus tahu waktu, sekuat-kuatnya orang bila tak keluar-keluar dari air dapat pula mengalami hipotermia atau terjadinya penurunan suhu tubuh secara drastis. Yang jelas renang mengajarkan kepada kita bahwa beradaptasi dengan lingkungan baru (termasuk dunia kematian) bukanlah hal yang mengerikan asalkan sudah melakukan persiapan yang memadai, sebagai berikut :
• Mengetahui secara garis besar kondisi yang akan dihadapi (suhu air, kedalaman air,salinitas air terkait dengan berat jenis, jenis hewan air, bahaya-bahaya-nya). Jadi sekali lagi informasi adalah modal utama dalam merencanakan suatu tindakan. Dalam kaitan dengan kematian maka informasi itu adalah apa yang akan terjadi di alam barzah, apa yang akan dihisab, bekal apa yang perlu dipersiapkan manusia ? Dengan demikian kematian bagi kita bukanlah hal yang mengerikan bila persiapan dan bekal yang diperlukan mencukupi. Dalam konsep renang seorang perenang yang tidak pernah mempelajari teknik renang, tidak dilengkapi pelampung, dan berniat berenang di lautan yang ramai akan ikan Hiu sudah jelas nasibnya.
• Mempersiapkan penalaran rasional berupa teori dan aplikasi teknik renang yang dipadukan dengan hasil latihan berupa kemampuan koordinatif anggota gerak dan organ pernafasan. Hal tersebut menunjukkan bahwa untuk memasuki suatu lingkungan baru manusia haruslah sepenuhnya mengerahkan segala daya upaya untuk mempersiapkannya. Oleh karena hidup di dunia ini sesungguhnya hanya sepenggal proses transformasi menuju kehidupan yang abadi maka sebaiknya sepanjang sisa hidup kita, kita manfaatkan untuk mempersiapkan datangnya kematian, banngunlah kesadaran paradoksial itu, perkayalah diri kita dengan informasi yang dapat menjadi pupuk berseminya rasa cinta Illahi, penuhilah kalbu kita dengan rasa cinta Illahi, dan biarkanlah rasa itu meluber menggenangi orang-orang di sekitar kita, biarkanlah mereka dimabuk cinta dan jangan bikin mereka pusing dengan kata-kata. Di saat mereka merindukan sentuhan cinta itu mata hati mereka akan terkuak dari kabut kegelapan yang menyelimuti, mereka akan silap dan terperangah mendapati wajah-Nya, merasakan hangat dekap peluk-Nya, dan…dan mereka akan larut terbuai indahnya rindu…rindu menanti saat mendapati-Nya.
• Tak semua dari kita mungkin berkesempatan untuk mempelajari renang secara eksplisit, akan tetapi bila kita berangkat dari esensi nilai maka latihan renang dapat kita lakukan setiap hari. Saat kita beranjak dari tidur yang lelap untuk memamsuki ‘lingkungan asing’ baru dengan suhu udara yang menusuk tulang dan kehangatan selimut yang membelai-belai kulit ari, kita harus sigap mengolah informasi dasar di sel neuron untuk menjalankan program shalat Subuh. Koordinasi fisik di bawah kendali otak harus mampu beradaptasi dengan kenyamanan tidur serta bangkit untuk berwudhu, di saat sesungguhnya kita serasa terhempas ke sebuah lingkungan yang tidak menyenangkan, tercerabut dari lelapnya tidur yang nyaman. Panglima akal mengendalikan rasio berbasis data dasar kewajiban shalat sebagai konsekuensi kesadaran paradoksial akan membuat kita terjaga dan berjuang melawan motif manipulatif, egosentrisme, dan buaian hedonisme. Konsepsi renang yang mampu beradaptasi bahkan menikmati dinginnya air atau ekstremnya lautan menjadikan shalat suatu prosesi yang menyenangkan, memberi kenikmatan, dan menenangkan. Tanpa adanya koordinasi yang baik antara otak dan efektor tubuh lainnya maka niat yang kuat untuk bangun akan dinafikan oleh otot-otot yang lelah dan lebih memilih untuk dibelai-belai lembutnya kasur bulu angsa. Begitu banyak latihan ‘renang’ lainnya yang dapat kita lakukan sehari-hari tanpa perlu kehadiran kolam renang. Pergi ke kantor, ke sekolah, ke pasar, ke arisan, atau pengajian adalah wahana latihan yang secara konseptual sama-sama memerlukan kemampuan adaptif, pengendalian diri, koordinasi potensi, fokus pada permasalahan, redefinisi tujuan, revitalisasi perencanaan, akurasi tindakan, kecepatan pengambilan keputusan, dan konsistensi dalam pelaksanaan hal-hal yang telah direncanakan. Koordinasi potensi yang dilakukan setelah proses penyaringan informasi serta pengolahan data analitikal, dalam segala situasi akan menghasilkan akurasi tindakan yang tinggi serta proses pengambilan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan, dengan demikian manusia akan selalu dapat beradaptasi dengan berbagai ‘lingkungan asing’ yang akan selalu ditemuinya dalam keseharian kehidupannya. Jadilah ikan yang mampu bertahan dan berenang di air tawar, payau, maupun asinnya lautan.

Sebagaimana juga shaum yang bukan sekedar tempaan fisik, melainkan suatu latihan peningkatan ambang batas penerimaan diri (self acceptance) yang dapat dimanifestasikan sebagai suatu bentuk latihan pengendalian diri terhadap rasa ‘lapar’ universal, maka berkuda, memanah, atau berenang juga perlu dimanifestasikan sebagai suatu latihan fisik yang berimplikasi kepada perkembangan ruhiyah secara komprehensif.

LENTERA CAHAYA DI LANGIT DIRI
Seorang Ibu tertunduk lunglai, nanar tatapan matanya bak tak menyisakan harapan. Di hadapannya terbujur kaku sesosok tubuh beku, seorang pemuda yang tak lagi bernyawa. Hari menjadi pilu, puluhan lidah menjadi kelu. Pemuda itu dikeroyok massa hingga menemui ajalnya. Penyebabnya, sungguh di luar akal sehat, hanya karena motor yang ditumpanginya (membonceng) menyerempet seorang anak kecil yang ternyata hanya lecet dan baret-baret.

Truk itu melaju, kencang dan berpacu dengan waktu. Jalan pintas dipilihnya agar cepat sampai tujuan. Viaductus kereta itu menghadang tepat selepas suatu desa kecil yang telah dilaluinya. Tertera tegas, tinggi terowongan di bawahnya hanya 2,40 meter, dan pak Pengemudi juga tahu bahwa tinggi truknya 2,60 meter. Viaductus itu diseruduknya. Truk itu mengaum, menderam-deram dengan sekian ratus tenaga kuda mesinnya. Tepat diatasnya rel kereta bergeser, meski tak banyak, cukup sudah untuk menghantar bahaya. 15 menit berlalu, sebuah kereta api ekspres terjungkal dengan dahsyatnya. 6 manusia meregang nyawanya. Barangkali ada yang belum sempat mengatupkan rahangnya setelah tawa yang berderai, ataupun ada yang tak sempat terjaga dari kelelapan tidurnya. Pak Pengemudi truk sesaat ternganga, ia tahu bahwa perbuatannya mungkin salah, tetapi kalau sampai mencelakakan banyak orang apakah itu urusannya ?

Di kampung nan indah di punggung pegunungan yang di lekuk lembahnya mengalir sungai-sungai berjeram, jernih, gemericik, mengalun, penduduknya senantiasa bertegur sapa, tolong-menolong bak sekeluarga sahaja. Itu dulu ! Kini amarah berkobar dimana-mana, pencuri kabel listrik yang menyebabkan dusun gulita harus rela dibakar meregang nyawa, Naudzubillahimindzalik ! Di kota-kota yang ramai, kedamaian itu agaknya telah menguap terlebih dahulu. Membohongi diri (ilusi, delusi, dan justifikasi) dan membohongi orang lain sudah menjadi budaya. Orang menjadi semakin asing dengan dirinya dan tujuan hidupnya.

Di kampus-kampus nan ilmiah, diskusi wacana-wacana saintifik perlahan mulai bergeser, sivitasnya lebih senang menduga-duga siapa diantara rekannya yang telah tampil nirbusana atau bahkan berprofesi ganda sebagai atlet olahraga Gulat Asmara ! Dekadensi akhlaq sebagai konsekuensi logis melunturnya iman Tauhiid tampak telah menggeser visi hidup lebih ke arah materi yang bersifat realistis (relatif) dengan menafikan tujuan makhluk, menggapai kebenaran yang absolut. Innalillahi wa inaillaihi rojiun !

Mari kita tengok sejenak di halaman kita, segerombolan semut menggotong ulat bulu yang seolah tak berdaya. Akan dimangsakah sang ulat ? Ternyata tidak, ulat bulu itu memang menjadi sumber makanan bagi para semut tetapi bukan dengan cara menjadi mangsa. Ulat bulu menghasilkan sejenis cairan yang kaya akan zat pati dan protein yang dibutuhkan semut, dan semut dapat mengambilnya setiap saat selama ulat bulu berada dalam sarang semut. Sementara sesungguhnya keberadaan ulat bulu di dalam sarang semut justru akan melindungi dirinya dari ancaman para pemangsanya. Bila tiba masanya sang ulat bulu menyelesaikan transformasi metamorfosisnya, para semut akan menghantarnya terbang mengapung mengarungi tahapan kehidupan barunya sebagai rama-rama. Persahabatan itu cerdas sekali !

Nun di pelosok pesisir pedalaman Sulawesi, seorang lelaki bercaping enau memilin dan memintal sarang laba-laba hutan. Sarang itu sebentuk polimer yang teramat kuat. Pada diameter dan ukuran yang sama bila dibandingkan dengan kawat baja kekuatan regangnya berkali-kali lebih unggul. Lelaki itu menaiki perahu bersema satunya, melaju merentas buih, membelah ketenangan laguna. Polimer arachnida itu diikatnya diujung tali pancing yang segera dihanyutkan di belakang perahu semanya. Tak lama seekor ikan Cendro bermoncong panjang terekat pada polimer laba-laba. Lelaki itu dapat menafkahi keluarganya, laba-laba itu aman, tidak terusik kehidupannya, dan justru terjaga populasinya. Karena memang setiap hari, sesuai fitrahnya laba-laba giat membangun sarangnya, lelaki itu hanya mengambil sebagian kecil saja. Kebijakan semacam itu masih adakah kini ?

Kemudian Dia Menyempurnakan dan Meniupkan ke dalam (tubuh)nya Ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS As-Sajdah, ayat 9)

Al-Ghazali menyatakan bahwa perasaan, hati, ataupun qolbu adalah sesuatu yang lembut (lathifah). Apakah ada korelasi antara ruh yang mustaqil, indra, kepekaan (sensibilitas), dan rasionalitas (aql) ? Sebelum menjawab ada baiknya kita simak pemaparan berikut; Manusia memiliki potensi dan preferensi (kecenderungan) untuk berbuat baik (hanif), hal ini tentu merupakan suatu konsekuensi dari keberadaan ruh mustaqil yang fitrah (suci). Mengapa manusia dapat terlepas dari kendali ruh mustaqilnya ? Secara sederhana dapat digambarkan bahwa manusia adalah suatu unit manajemen yang memiliki sistem pengambilan keputusan dan fungsi kendali. Pengambilan keputusan dalam hidup dilakukan secara kumulatif oleh berbagai dimensi kecerdasan dan kesadaran. Minimal dalam 7 dimensi dan 2 satuan waktu ( waktu yang relatif dan waktu yang bersifat absolut) Waktu relatif hanya berlaku pada konstituen dimensi waktu, sehingga mengenal awal akhir. Sedangkan waktu absolut adalah suatu dimensi kekekalan/keabadian dimana tidak ada awal dan tidak ada akhir. Bila diamati dari ranah kekekalan maka ruang waktu yang bersifat relatif adalah penggalan-penggalan episodik yang silih berganti dan bersifat siklikal. “Maka Dia jadikan tujuh langit dengan dua masa/waktu dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap langit ketentuannya (masing-masing). Dan Kami hiasi langit dunia dengan bintang-bintang serta pengaturannya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi maha Mengetahui.” (QS Fushilat ayat 12), “Katakanlah, sesungguhnya apakah kamu (pantas) mengingkari Yang menciptakan bumi dengan dua masa dan kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya? Itulah Tuhan semesta alam.” (QS Fushshilat ayat 9). Kita semua hidup dan beraktifitas dalam ruang waktu relatif, tetapi secara paralel kita juga membangun dan berinvestasi pada ruang waktu absolut. Modal inilah yang menentukan keberhasilan perjalanan transdimensional kita.Secara paralel pula kita menempatkan diri kita pada dua ranah yang berbeda (episodik dan eternal) dimana salah satu domain tersubordinasi dan merupakan bagian integratif dari domain utama/induk. Pathfinder kita untuk mensinkronkan perjalanan di dua domain tersebut adalah Ruh yang dihembuskan ke dalam tubuh kita. Ketika Aku sempurnakan dia dan Aku tiupkan di dalamnya sebagian ruh-Ku, rebahkanlah dirimu bersujud kepadanya. (QS Al-Hijr ayat 29). Ruh itu adalah manifestasi teofani Allah SWT, yang merupakan pelita penuntun, Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus (misykaat), yang didalamnya ada pelita. Pelita itu dalam kaca (lensa). Dan kaca (lensa) itu laksana bintang yang berkilauan yang dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati, yaitu minyak zaitun yang bukan di timur dan tidak juga di barat. Minyaknya hampir menerangi sekalipun tidak disentuh api.Cahaya di atas cahaya. Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya kepada siapa dikehendaki-Nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nuur ayat 35). Bila Ruh adalah cahaya kehidupan maka jalan yang lurus, sebagaimana termaktub dalam ayat-ayat Al-Qur’an berikut; Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus maka turutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, maka kamu akan bercerai berai dari jalan-Nya. Demikianlah Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. (QS Al-An’aam ayat 153). Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS Ali Imran ayat 101), bukan sekadar pengarah melainkan penuntun (guide) dan safety element (faktor penyelamat) dalam periode episodik. Bagaimana ruh mustaqil dapat menjadi penyelamat ? Cahayanya harus dapat menjadi pembimbing dan panutan hidup. Bagaimana agar cahayanya dapat memberi arah yang benar dari hidup seorang manusia ? Karena ruh dalam jasad manusia terintegrasi dengan sensibilitas dan hati (perasaan) maka efektor pengelolanya adalah aql (rasionalitas). Dengan demikian ruh mustaqil, bersama nafs atau daya hidup biologis, aql, dan sensibilitas ditentukan kualitasnya juga secara akumulatif. Kecenderungan untuk berlaku negatif juga tumbuh seiring dengan perkembangan kemampuan sensibilitas, analitik, dan kemampuan biologis fungsional (fisiologis) sebagai suatu bentuk refleksi dan konsekuensi kesetangkupan (simetris). Ighwa dan Kidzlan serta gambaran sifat kebinatangan (sabu’iyyah dan bahimiyyah) pada manusia merupakan bentuk-bentuk ekspresif yang dapat diidentifikasi. Secara organik fernomena tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : Manusia memiliki struktur otak yang terdiri atas Otak besar, otak kecil, batang otak, dan medula spinalis. Secara fungsional terbagi atas sistem dasar yang mengkoordinasi fungsi nafs atau daya hidup biologis/vegetatif yaitu medula oblongata (MO) dan otak kecil. MO dan otak kecil mengatur fungsi pernafasan, sirkulasi darah, dan keseimbangan postural. Sedangkan sistem limbik yang terdapat di bawah otak besar merupakan fungsi intermediasi yang meregulasi respon tubuh terhadap berbagai kebutuhan hidup Tercatat 3 respon utama dalam sistem limbik yaitu ; respon defensif nutrisional, reproduktif, dan keberadaan diri. Sistem limbik inilah yang yang secara organik mencerminkan hawa nafsu (hawwah). Dalam ilmu tasawuf hawa nafsu terdiri atas hawa nafsu yang bersifat muthmainah, lawwamah, dan amarrah. Apakah kriteria hawa nafsu yang bersifat muthmainah ? “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak ada petunjuk dari Allah ? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kaum yang zalim.” (QS, Al-Qashash ayat 50)

Sel syaraf atau sel neuron adalah sel yang meiliki kemamuan untuk menerima, meneruskan, dan mentransmisikan sinyal daei sel sensoris yang terangsang. Keberagaman dan spesifisitas adalah ciri dari sel neuron. Secara umum sel neuron terdiri dari soma, akson, dendrit, dan mikrotubul. Soma adalah bagian dari neuron yang terdiri atas nukleus dan sitoplasma, akson adalah serabut syaraf tunggal yang panjang berselubung mielin. Fungsi utama akson adalah meneruskan impuls syaraf. Dendrit adalah percabangan-percabangan seperti antena yang keluar dari badan sel (soma) dan berfungsi untuk menerima sinyal yang berasal dari akson sel-sel syaraf tetangga.
Otak belakang yang tersusun atas otak kecil/serebellum, pons (jembatan), dan medula oblongata bersama bagian lain dari mesenchepalon akan membentuk batang otak. Batang otak merupakan unit intermediasi antara hemisferium serebri dengan medula spinalis. Secara umum otak belakang berfungsi sebagai pusat pengaturan pernafasan, sirkulasi darah, dan mengkoordinasikan gerakan tubuh dan keseimbangan.
Dalam anatomi perbandingan (komparativa), fungsi paling mendasar dari makhluk hidup disejajarkan dengan kemampuan maksimal otak reptilia ,Sesungguhnya, seburuk-buruk makhluk melata (reptilia) di sisi Allah ialah mereka (manusia) yang tuli dan bisu, yang tidak menggunakan akalnya. (QS Al-Anfal ayat 22),Tidak ada binatang melatapun (reptilia) kecuali Dialah yang memegang ubun-ubunnya (lobus frontalis/akal). Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. (QS Hud ayat 56), yaitu mampu menjalankan fungsi fisiologis, kecerdasan di sini adalah kecerdasan fisiologis yang semata dimanfaatkan untuk menyambung dan mempertahankan hidup. Tataran kedua adalah kecerdasan limbik (primitif) dimana respon defensif sudah dapat berkembang menjadi suatu dorongan yang tidak sekedar memenuhi kebutuhan. Fungsi memori yang terbatas pada hewan terintegrasi dalam bentuk respon pemenuhan kebutuhannjya, sementara pada manusia corpus amygdala, girus cingula (cortex cingulate anterior), corpus kalosi, dan cortex cerebri yang telah berkembang pesat memberikan efek interaksi dan intermediasi yang lebih luhur (banyak pertimbangan). Kecerdasan pada hewan adalah kecerdasan yang merupakan cerminan refleks kebenaran berbasis memori dan sistem analisa yang terbatas. Pada manusia kecerdasan itu berkembang menjadi kemampuan untuk berekspresi (komunikasi), bersikap, dan bersifat prospektif (antisipatif). “Demikianlah Tuhan memberi pertanda-pertanda bagi kamu, agar kamu berpikir.” (QS, Al-Baqarah ayat 219).

Kecerdasan Sensibilitas Terintegrasi
Kecerdasan sensisbilitas yang dimaksud adalah kecerdasan dalam mengakses data sekaligus mampu merangkai suatu pemahaman ilmiah, menumbuhkembangkan keingintahuan (bila belum mengetahui), kejelian pengamatan, kecerdasan spasial yang mampu menafsirkan interaksi antara obyek amatan dengan elemen lain di sekitarnya, melahirkan kecerdasan abstrak yang ditunjukkan dengan kemampuan mengkorelasikan objek amatan dengan berbagai kepentingan di ranah lain serta kemaslahatan baik yang langsung maupun tidak. Kecerdasan sensibilitas adalah kecerdasan yang membuat kita dapat turut merasakan (empati). Yang diharapkan  refleks rasionalitas/intelijensia. Iqra Bismirabbikaladzi khalaq.Kecerdasan sensibilitas adalah kecerdasan yang secara selektif dan obyektif membentuk lensa-lensa hati, karena adanya kecerdasan yang mampu mengintegrasikan antara kepentingan diri (emosi/perasaan/dunia dalam) dengan rasionalitas, serta fakta yang dijumpai akan melahirkan entitas hati yang jernih dan lapisan lensa-lensanya bening. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu, kamu tak tahu apa-apa,dan ia memberikan kepada kamu pendengaran dan penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS An-Nahl ayat 78),”Dan janganlah mengikuti apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra; ayat 36),”Kemudian, Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS As-Sajdah ayat 9).

Apakah fungsi hawa nafsu ?
Hawa nafsu adalah suatu potensi yang dikenal sebagai motivasi. Motivasi adalah jembatan antara kebutuhan fisiologis dan berbagai upaya untuk memenuhinya. Di sisil lain hawa nafsu adalah efektor ujian yang menentukan intensitas personal.;
Kewaskitaan dan kesasmitaan  refleks kebenaran (rasionalitas).”Dan apapun orang yang takut akan kebesaran tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya,” (QS, An-Naazi’aat ayat 40),”Hanya sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu,..”(QS, Faathir ayat 28), “Kalau sekiranga kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, niscaya binasalah langit dan bumi dan apa-apa yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah datangkan kepada mereka peringatan (Al-Qur’an), tetapi mereka berpaling dari peringatan itu.” (QS, Al-Mu’minuun ayat 71), “Sesungguhnya Kami menunjukkan jalan kepadanya, adakalanya dia bersyukur dan adakalanya kufur.” (QS, Al-Insaan ayat 3),“Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kejahatannya dan ketaqwaannya.” (QS, Asy-Syams ayat 8).

Prisma Kebenaran
Prisma Kebenaran, Rasulullah SAW ketika ditanya sahabat, dimanakah kebenaran ? Hanya diam dan tidak menjawab, ketika didesak beberapa kali, Rasulullah meletakkan tangannya di median dada, barangkali di atas sternum (tulang dada). Berarti apakah jawaban simbolik ini ? Sebagai suatu hipotesa atau ijtihad, letak median tangan Rasulullah tersebut dapat digambarkan sebagai suatu persilangan/titik sentral, suatu keterpaduan (integrasi) antara nafs (daya hidup biologis) yang diwakili jantung di sisi kiri, hawwah (respon defensif nutrisional sistem limbik) yang diwakili hati, lambung, dan usus di sisi kanan, serta aql atau rasionalitas yang diwakili oleh otak. Dimanakah cahaya ruh mustaqil ? Didepan membimbing ke arah kanan, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika allah tidak mengecewakan nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil berkata ‘Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (QS, At-Tahrim ayat 8), jadilah sebuah prisma dengan dasar aql, nafs, dan hawwah. Sensibilitas menjadi dindingnya bersama respon perilaku dan respon perbuatan (bil hal)/ekspresif (lisan, tulisan, aktifitas motorik). Cahaya diatas membimbing dan mengarahkan jalan untuk menyatu dengan kebenaran yang hakiki, cahaya di atas cahaya. “Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki,….” (QS an-Nuur ayat 35)









Bagaimana cahaya ruh mustaqil dapat membimbing kita ? Cahaya secara optik dapat diperkuat dengan lensa yang tepat. Kekuatan lensa diukur dalam besaran dioptri, dan arahan sebar cahayanya dipengaruhi oleh bentuk (kecekungan atau kecembungan), densitas, ketebalan, serta kejernihan permukaannya. Bila ruh mustaqil adalah sumber cahaya yang berada dalam qolbu kita, maka agar cahayanya dapat memancar sempurna maka lensa selubungnya haruslah proporsional tebalnya, tepat bentuknya, sesuai densitasnya, serta tentu harus jernih kedua permukaan serta bagian dalamnya. Apakah penyusun lensa-lensa tersebut ? (1) Kecerdasan sensibilitas, (2) Kecerdasan rasionalitas, (3) kecerdasan motorik/respon motorik, (4) Kecerdasan perilaku/respon afektif (al-Bayan/lisan),(5)Kecerdasan kesetimbangan/proprioseptif. Kegagalan memenuhi prasyarat sabar dan shalat (al-baqarah) menjadi entry point untuk masuknya penyakit-penyakit hati yang akan mengeruhkan lensa-lensa qolbu. Pada hari itu ada wajah-wajah(tampilan) yang menjadi putih berseri-seri (bersinar) dan ada wajah-wajah yang menjadi hitam muram. Maka adapun orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (akan dikatakan kepada mereka), ‘Mengapa kamu ingkar sesudah kamu beriman ? Maka rasakanlah azab karena keingkaranmu itu.” (QS, Ali Imran ayat 106).

Bagaimana kiat meningkatkan kecerdasan sensibilitas dan responsif ?
Kata kuncinya adalah sabar. Sabar dapat diartikan sebagai suatu kemampuan mereduksi ketidaknyamanan akibat tidak terpenuhinya suatu keadaan ideal. Hal ini paling tampak pada pengenda;lian 3 respon defensif utama (nuutrisonal, reproduksi, dan aktualisasi). Keberhasilan menempatkan ketiga respon defensif tersebut secara proporsional dan menjadi hawa nafsu yang muthmainah (motivasi) akan menimbulkan suatu kesetimbangan baru, “Langit ditinggikan dan mizan diletakkan-Nya, supaya kamu jangan melampaui batas pada mizan itu. Dan tegakkanlah kesetimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi (memanipulasi) mizan itu.” (QS Ar-Rahmaan ayat 7-9). Dimana respon neuroendokrin akan mengekspresikan suatu tatanan keseimbangan emosi, serta feed back berupa ketenangan gelombang otak. Taufiq Pasiak, Danah Zohar, Denis Pare, dan Rodolfo Llinas mendefinisikan fenomena ini sebagai osilasi 40 Hz, dengan daerah aktif otak didominasi oleh lobus temporal (God Spot-Vilyanur Ramachandran). Ketenangan ini diatas osilasi delta dan teta tetapi memberi dampak positif yang tidak kalah magnitudenya. Ketenangan dalam kesadaran indrawi. Sabar dapat dilatih dengan zikir dimana pada proses tersebut terjadi suatu multi training yang meliputi; (1) konsentrasi yang mengarahkan sensibilitas dan rasionalitas untuk fokus pada satu tujuan, cirinya kata repetitif (2) menumbuhkan rasa cinta Illahi yang hakiki dengan jalan kontemplasi, Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang adalah tanda bagi orang-orang yang berpikir, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia; Maha Suci engkau maka hindarkanlah kami dari siksa neraka. (QS, Ali Imran ayat 190-191), Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya..(QS Al-Ahzab ayat 41), (3) Menyeimbangkan karakteristik fisik (osilasi, konduksi, dan ritme metabolis). Shalat adalah bentuk ibadah paripurna yang memadukan secara cantik dan selaras olah pikir, olah gerak, dan olah rasa (sensibilitas). Kontemplasi dan riyadah yang terintegrasi sempurna, saling melengkapi dari dimensi perilaku/lisan (al-Bayan), sikap/respon motorik, rasionalitas (menempatkan diri secara proporsional), dan kepekaan terhadap jati diri, kepekaan dan kehalusan untuk merasakan cinta dan kasih sayang Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan” (QS Al-Hajj ayat 77),”Sesungguhnya manusia diciptakan (bersifat) keluh kesah. Apabila kesulitan menimpanya dia mengeluh. Dan apabila dia memperoleh kebaikan, dia amat kikir (egois). Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS, Al-Ma’arij:19-22). Sabar dan shalat melembutkan hati, menghantarkan sebuah kemenangan yang manis atas dorongan syaitaniah untuk menuruti ketidakseimbangan pemuasan hawa nafsu. Dalam shalat dan proses sabar terintegrasi proses latihan yang meletakkan kendali diri secara proporsional, mulai dari gerakan (kecerdasan motorik), inderawi (kecerdasan sensibilitas), aql, dan pengelolaan nafs menjadi motivasi yang bersifat muthmainah. Jiwa yang muthmainah inilah yang akan memiliki karakteristik malakut atau mengekspresikan nilai-nilai kebenaran absolut. “Hai jiwa yang tenang (nafs yang muthmainah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang bening dalam ridha-Nya.” (QS, Al-Fajr ayat 27-28)
“Hai oran-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS 2: 155)

Shalatlah kamu sebagaimana kamu lihat aku shalat. Demikian sabda Baginda Rasul ketika memerintahkan serta mencontohkan ibadah shalat kepada ummatnya. Hal tersebut menunjukkan betapa sangat pentingnya peran ibadah shalat bagi seorang manusia, sampai-sampai detil gerakan dan apa yang dilisankannyapun dicontohkan secara langsung oleh Raulullah. Dalam ayat yang dikutip di atas juga tampak bahwa prasyarat shalat adalah sabar. Sabar dal;am terminologi psikologi dapat didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Orang yang sabar dapat diukur dengan salah satyu parameternya, yaitu mampu menempatkan diri dan bersikap optimal di setiap keadaan. Konsep sabar ini mencerminkan bahwa sabar bukanlah sebuah bentuk keputusasaan, melainkan sebuah optimisme yang terukur. Pada saat kita menghadapi sebuah situasi dimanan kita harus “marah” misalnya, maka marahlah dengan bijak dan bertujuan untuk saling mengingatkan serta diniatkan semata-mata untuk kebajikan dan kebaikan bersama, dalam hal ini marah dapat juga digolongkan dalam salah satu kegiatan fastabikhul qoirot. Ternyata Allah menjelaskan keapda kita bahwa sabar dan shalatlah yang akan emnjadi penyelamat kita semua baik dunia maupun akhirat. Sabar dalam konsep ini adalah sabar dimana seluruh potensi kecerdasan manusia, baik spiritual, emosional,maupun intelektualitas dieksplorasi secara optimal. Shalat yang baik akan emnghasilkan kemmampuan bersabar, sebaliknya kesabaran yang baik akan menghasilkan shalat yang berkualitas. Ciri dari shalat yang berkualitas adalah antara lain hati menjadi tenang dan komunikasi dengan Allah tidaklah didasari “titipan” kepentingan. Dengan terbebas dari distorsi atau gangguan “kepentingan tersebut maka shalat kita atau proses komunikasi kita dengan Allah akan mencapai derajat komunikasi pada level tertinggi.
Secara olah fisik shalat diawali dengan gerakan takbir. Rasul mencontohkan bahwa ketika bertakbir maka lengan diangkat sehingga bahu berada dalam keadaan sejajar. Takbir adalah sebuah konsep keseimbangan dan pengenalan diri yang paling dini. Saat bertakbir dimana kedua lengan diangkat sejajar, maka pada saat itu pulalah korpus kalosum atau jembatan antara dua belahan otak dilatih dan diaktivasi. Aktifnya keduabelahan otak akan emnghasilkan sebuah sinergi indah dimana estetika berpadu dengan rasionalitas. Untuk emnyadari bahwa Allah itu Maha Besar diperlukan poendekatan cinta (keindahan) dan akal sehat (intelektualitas). Bila gerakan ini dilakukan dengan benar serta diulang-ulang, diperkuat setiap harinya, maka ciri dari pribadi ahli shalat dapat dicerminkan apda sikapnya yang seimbang, cerdas, sekaligus penuh dengan kelembutan cinta. Lalu Rasul mencontohkan gerakan berikutnya adalah dengan meletakkan kedua lengan diatas perbatasan dada dengan perut dan dalam posisi lengan kanan di atas lengan kiri. Sebuah gerakan indah, dimana naluri psikologi manusia yaitu hawwah nafs alias “dapur emosi dan motivasi” di daerah perut dan jantung dilatih dan dikelola. Lengan kanan di persyareafi serta dikoordinasi oleh belahan otak kiri, yaitu otak rasional. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa kecantikan, keindahan, dan ketertarikan harus diatur oleh kecerdasan dan keinginan kuat untuk belajar.Pada hirarki dibawahnya hawa nafsu harus menjadi “obor” yang mensuplai energi, akan tetapi dengan syarat harus benar-benar dimanajemeni dengan baik dan istiqamah. Dengan demikian kita bisa menyimpulkan secara sederhana bahwa untuk dapat meraih prestasi kesabaran dan kesuksesan shalat kita harus mampu menempatkan hawa nafsu pada proporsi yang tepat dan bukanlah menjadi sesuatu hal yang ‘naudzubillahi minzalik, malah sering kita pertuhan. Al Fatihah sebagai surat “wajib” yang dicakan apda setiap shalat juga harus dicermati dan dimaknai secara mendalam kalimat- demi kalimat, kata demi kata, mengapa ? Karena shalat adalah sebuah “olah entitas”, yaitu sebuah metoda pengoptimalan hakikat diri manusia. Yang diolah di sana bukanlah sekedar fisik, pikiran, ataupun alam bawah sadar kita, melainkan segala hal yang melekat pada diri kita sebagai manusia. Al Fatihah berisi rangkaian konseptual dan filosofi dasar menjadi seorang muslim. Bila dapat disarikan maka Al Fatihah adalah suatu penjabaran konsep hubungan manusia dengan Khaliqnya. Peran diri, keterbatasan, ketergantungan, dan kerinduan menajdi pokok-pokok pikirannya. Dengan mengunyah, menyerap, serta mendistribusikan makna dari Al Fatihah ke sekujur tubuh kita maka sel-sel kita akan memperoleh nutrisi yang akan mampu mengalirkan kesadaran baru tentang “siapa kita sesungguhnya”. Sebuah doa “orientasi”, sebuah doa yang membimbing kita untuk menemukan tujuan hidup. Dalam tinjauan psikologi, tujuan atau orientasi hidup berperan sangat penting dalam menentukan tingkat kebahagiaan seseorang. Seseorang yang tidak memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya, jiwanya akan kelelahan dan “sakit” karena terkuras energinya dalam proses memahami dirinya dalam pusaran pikiran yang keotik.
Pada saat kita ruku’ dalam hadis Bukhari dan juga Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah mencontohkan kesempurnaan gerakan yang menyerupai huruf L. Dimana kedua tangan menyentuh lutut dan posisi punggung rata serta kepala menunduk tidak terlalu dalam. Sebuah garis lurus antara sumsum tulang belakang (medula spinalis) dengan batang otak, dan badan otak. Sebuah penihilan atas hirarki dan penjenjangan berdasarkan jabatan atau fungsi. Posisi ini juga menempatkan sumber hawa nafsu (lambung dan sekitarnya) berada dalam posisi sejajar bahkan sedikit lebih tinggi dari otak dan pusat kecerdasan serta kehidupan lainnya. Seiring doa yang kita lisankan :”Maha Suci Allah yang amat mulia” maka kita akan diarahkan untuk mencapai suatu kesadaran bahwa sistem apapun yang ada di alam semesta, baik yang kita konotasikan atau artikan buruk maupun yang baik memiliki peran dan merupakan ciptaan Allah yang semuanya memiliki tujuan. Dengan demikian seseorang yang berhasil mempraktekkan konsep ruku’ dalam hidupnya akan menjadi seseorang yang pandai memaafkan dan tidak menjadi pendendam. Suatu hal yang dipandang rendah, nista, ataupun buruk bisa kita terima sebagai suatu “keindahan” yang memang merupakan bagian dari sistem Allah yang Maha Sistematis. Sistem pengolahan impuls syaraf kita akan belajar bahwa pada waktu-waktu tertentu speerti pada saat kita ruku’, bahwa kebaikan tidak saja bisa mengalir dari kecerdasan atau kebaikan saja melainkan dapat pula mengalir dari sesuatu yang “rendah” dan sederhana. Ciri lain dari ruku’ yang baik adalah kebersahajaan dan kesederhanaan. Bukankah teman-teman kita yang tidak ruku’ menjadi begitu tergila-gila hanya pada sekerat merek baju tertentu misalnya ? Ketika kita berdiri seusai ruku’ maka kita mengucap “Semoga Allah memperhatikan orang yang memuji-Nya”. Sebuah pernyataan yang sangat dalam bila kita pikirkan secara cermat. “Menerima” adalah sebuah kondisi yang dapat diartikan mendekati “meridhoi”, konsep ridho sangat komprehensif, tidak sekedar mengacu kepada tahapan sensoris (sekedar mendengar dengan benar) melainkan juga menilai tahapan implementatifnya. Bila kita berlatih untuk pandai memaafkan, pandai mensyukuri nikmat, pandai mengelola nafsu kepemilikan, mampu bersahaja secara proporsional, maka Allah juga mengevaluasi kita pada saat kita berinteraksi dengan seluruh komponen lain di alam semesta. Shalat dengan demikian bukanlah sekedar ibadah dalam dimensi sosial saja, melainkan juga menembus jauh sekat-sekat eksklusif yang secara primordial diakui menjadi pembatas fungsi setiap makhluk. Seseorang yang emnajlankan shalat dengan baik dan benar akan menjadi representasi nyata kesempurnaan makhluk Allah yang berderajat paling tinggi.
Lalu kita bersujud, tujuh anggota tubuh kita bersentuhan dengan bumi. Dalam salah satu riwayat sahih dijelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan tujuh titik persentuhan adalah dahi-hidung (menyatu), tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kaki. Ada tujuh langit dan ada pula tujuh titik sentuh yang menghubungkan kita dengan Allah. Lalu lisan kita berucap “Maha Suci Allah yang Maha Tinggi”, ketika tujuh titik bersatu dengan bumi maka kita berubah menjadi makhluk esoteris, makhluk universal tanpa derajat yang menangis dan merindu. Dalam posisi ini semestinya sirna jugalah konsep yang bernama “harga diri”, yang ada tinggallah “harga Allah” yang direpresentasikan oleh kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Bila selama ini kita bersikap agresif dalam hal yang terkait dengan “ketersinggungan” harga diri, maka apakah kita bayangkan betapa memalukan dan dzalimnya kita “melecehkan” harga yang telah dibanderol Allah atas diri kita ketika kita dengan mudahnya berperilaku lebih rendah daripada hewan-hewan yang memang sudah ditakdirkan Allah untuk hidup melata. “Laqodkhalaqnal insana fi ahsani taqwim, summa rodadnahum ashfala shafillin.” Sebuah keterpurukan konsep diri yang sangat memalukan. Pada saat kita bersujud maka rasionalitas diminta tunduk dan tidak terjebak dalam perangkap kuantitatif, segala sesuatu inginnya diukur, ditimbang, dan distandarisasi. Bersujud di hadapan Allah, semestinya menjadikan kita pribadi yang sadar sepenuhnya bahwa “harga diri” setiap makhluk semuanya sama, hanya taqwalah yang membedakan satu sama lainnya, Inna aqrmaqum indallahi atqoqum. Kita yang rendah ini berpasrah diri dan bertawakal, kondisi ini akan membantu manusia untuk tidak berkembang menajdi pribadi yang obsesif, yang rasa kepemilikan dan keakuannya menghablur bersama “Sang Maha Pemilik”.
Di penghujung shalat kita berattahiyat. Sebuah pelatihan sosial yang paling komprehensif. Di dalamnya termaktub dasar-dasar manajemen komunikasi, pembangunan komunitas (community development), dan persemaian sifat empatif. Kemampuan untuk emnghargai sesama manusia, tetrutama yang jauh lebih prestatif serta lebih mulia di hadapan Allah dilatih. Rangkaian pelatihan sosial itu dibarengi dengan “ikrar” tentang konsep muslim sejati (pembacaan syahadat), lalu secara fisik jemari telunjuk kita menghantrakan impuls ke seluruh tubuh bahwa kita hanya memiliki satu memori tentang tujuan hidup, hanya kembali keapda Allah semata jua ! Salam yang membawa perdamaian, kehangatan, dan kelembutan kita tebarkan ke seantero semesta, menutup shalat dengan sebuah janji bahwa kita akan senantiasa mendoakan, mengharapkan, serta memprasangkai secara baik, lembut, dan penuh kasih sayang yang membangun, seluruh makhluk Allah yang hidup dan diciptakan untuk bersanding, berdampingan, dan berinteraksi dengan kita.

“ Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah..”
Allah SWT menciptakan alam semesta dalam sebuah proses yang sangat sistematis. Tahap demi tahap, ukuran demi ukuran, proporsi demi proporsi senantiasa dapat kita jumpai pada setiap sistem di alam semesta. Dalam proses penciptaanpun skala, fungsionalitas, serta waktu sudah dirancang sedemikian presisinya. Yang terhebat dari semua itu adalah kenyataan bahwa setiap elemen di alam semesta ternyata memiliki kemampuan untuk berinteraksi dan menghasilkan sinergi. Bahkan dalam bentuk-bentuk yang sangat ekstrem dimana dalam pengamatan sekilas tampak sebagai sebuah disharmoni, ternyata yang terjadi adalah justru sebuah orkestrasi. Setipoa elemen dalam berbagai bentuk dan ukuran senantiasa bereaksi persis seperti apa yang telah dirancang akan berlaku pada dirinya. Ketentuan inilah mungkin yang dimaksu dengan sunatullah. Suatu rancangan primordial Allah yang maujud dalam bentuk ketaatan dan keteraturan. Sampai di sini mungkin sebagian dari kita akan protes dan membantah pernyataan tersebut, bagaimana dengan ulah dan tingkah polah manusia yang secara kasat mata nyata-nyata merusak dan mengganggu keseimbangan lingkungan ? Bukankah itu bagian dari sebuah proses asistematis atau berada di luar sistem ? Ajaibnya justru penyimpangan perilaku ataupun yang biasa kita sebuat dengan anomalipun sesungguhnya adalah sebuah keteraturan yang memang diperlukan kehadirannya.
Berbicara tentang keteraturan, ketaatan, dan sebuah mega sistem yang maha sistematis, tentulah kita “wajib” untuk mengupas konsep kecerdasan dan kesadaran. Apakah yang dimaksud dengan cerdas ? Apakah sebuah ketaatan dan keteraturan yang sistematis dapat disebut cerdas ? Dan apakah untuk cerdas itu perlu sadar ? Ataukah justru yang terjadi sebaliknya ? Sesuatu hal bisa menjadi sangat cerdas justru bila ia tak menyadari makna dirinya. Menyadari dan memaknai nilai diri secara sepihak akan menghalangi sesuatu untuk menghablur dengan sesuatu yang lebih besar dan lebih global. Pada saat sesuatu terperangkap dalam sebuah konsep diri maka dunianyapun akan terbatasi pada sebuah prasangka “keakuan”. Kecerdasan luar biasa yang ditunjukkan oleh setiap elemen di alam semesta adalah pada saat mereka kehilangan kesadaran terhadap keberadaan dirinya. Satu-satunya kesadaran yang mereka miliki adalah kesadaran untuk berserah diri dan kerinduan untuk kembali. Mengapa demikian ? Sesuatu yang ikhlas dan berserah diri sepenuhnya akan mengembangkan sistem kecerdasannya untuk dapat mengakses arus utama keteraturan (Sang Maha Pengatur yang Maha Perkasa atas segala sesuatu), dengan demikian keadaan ini dapat digambarkan seperti seorang bayi yang merindukan belaian lembut dan hangatnya dekapan seorang Ibu. Seorang bayi tidak sepenuhnya menyadari keberadaan dirinya, tetapi kehadiran seorang Ibu senantiasa dirindukannya karena dalam skala hidupnya Ibu adalah sebuah tujuan.
Dengan demikian sesungguhnya setiap elemen di alam semesta bukannya tidak memiliki atau membangun kesadaran, melainkan telah mengembangkannya menjadi sedemikian mulia dan menempatkannya untuk hanya bisa dilihat melalui perspektif ataupun sudut pandang “peran bersama” dan bukan “peran diri”. Kesadaran dan kecerdasan dari setiap elemen alam semesta jelas ada dan bahkan secara eksplisit telah digambarkan oleh Allah SWT dalam bentuk “perintah” untuk menjalankan proses penciptaan yang berkesinambungan dan “kewajiban” untuk bertasbih. Bukankah proses bertasbih, mengingat Allah, dan memahami makna diri sebagai makhluk memerlukan kecerdasan ?
Untuk kita ketahui bersama, sampai saat ini dan juga Insya Allah kelak sampai di akhir zaman nanti, proses penciptaan tidak akan pernah berhenti. Sebuah penelitian dari Arno Penzias dan Robert Wilson menunjukkan bahwa kemanapun kita mengamati di seluruh penjuru alam semesta, selalu saja kita akan menemukan gelombang mikro dengan frekuensi 10-9 siklus/detik. Hal ini sejalan dengan pendapat Bob Dicke dan Jim Peebles dari Universitas Princeton yang mengemukakan teori bahwa proses awal penciptaan dimulai dengan adanya akumulasi energi yang maha tinggi. Alam semesta masih “sangat panas” dan bersinar putih sangat terang. Seiring dengan proses pengembangan alam semesta, atau ekspansi sebagai yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Quran bahwa langit dilebarkan atau diluaskan dengan kekuasaan dan kekuatan Allah, maka berangsur-angsur panas alam semesta terdispersi (menyebar). Bila semula sinar yang dipancarkan berintensitas sangat tinggi dengan frekuensi yang juga maha tinggi dan berwarna putih terang, maka kini warnanya berubah menjadi kemerahan dan berwujud sebagai gelombang mikro yang mengayomi seluruh alam semesta. Allah telah menggambarkannya dengan sangat indah bagi kita : Kemanapun engkau menghadap maka engkau akan menemukan wajah Allah…”
Di seantero alam semesta ciptaan Allah inilah kita dapat mengamatidan mencermati berbagai sistem yang sangat seimbang dan proporsional. Tanpa kita sadari ada semacam jejaring halus yang menghubungkan setiap elemen kesemestaan. Sebuah teori dari Edward Lorentz, seorang ahli klimatologi dan meteorolgi (ahli iklim dan cuaca), menunjukkan bahwa terjadi sedikit saja perubahan dalam nilai desimal sebuah angka pecahan ( dari 0,506127 dibulatkan menjadi 0,506 alias berbeda 0,000127 saja) maka rangkaian angka lanjutannya yang bersifat dinamik akan mengalami perubahan yang kontinyu. Tetapi perubahan ini tetap berada dalam koridor keteraturan, dimana semua perubahan ikutan akan memiliki pola yang sama. Teori ini dikenal sebagai efek kupu-kupu dari Lorentz. Sekecil apapun tindakan, perbuatan, dan sikap kita (bisa aktif dapat pula pasif), akan memberikan dampak bagi lingkungan kita, bahkan pada alam semesta. Teori Lorentz ini kemudian berkembang menjadi teori Chaos, sebuah teori indah tentang sistematisnya ketidakteraturan. Dalam alam semesta ciptaan Allah SWT ini ternyata tidak ada yang namanya ketidakteraturan. Helge Von Koch seorang matematikawan asal Jerman membuat sebuah model matematika geometris sederhana dengan menggunakan bentukan dasar struktur segi tiga. Segitiga yang disusun bertumpuk-tumpuk dan dalam jumlah yang berkembang menajdi banyak sekali hingga tak terhingga dapat memunculkan citra yang sama sekali berbeda dengan gambaran tentang segitiga. Gambaran yang terbentuk tampak bersifat organik dan nyaris tak keruan serta menyerupai segerumbul semak belukar, siapa menduga bahwa ternyata bentukan dasarnya adalah sebuah bangunan geometris sama sisi (segitiga) ? Inilah bukti bahwa di balik berbagai fenomena yang menurut pengamatan sepintas kita tampak tidak beraturan dan tidak memiliki pola yang jelas ternyata disusun dan dibangun dari sebuah keteraturan yang sistematis, Subhanallah ! Kurva Koch membawa kita pada suatu pemahaman baru tentang hakikat dan keberadaan Allah SWT sebagai sang Maha Pencipta. Berangkat dari fenomena inilah peran manusia dalam kehidupan di dunia sedikit demi sedikit mulai dapat kita kuak. Bila melihat potensi aqliyah dan nafsiah yang selama ini melekat sebagai suatu kelebihan sekaligus kekurangan manusia, maka manusia inilah sebenarnya yang merupakan faktor Lorentz Atractant, alias faktor pengubah yang seolah hadir sebagai variabel perancu. Bila setiap unsur dan elemen lain di alam semesta senantias bertasbih dan menjalankan perannya secara kaffah karena tidak mengedepankan kepentingan pribadi yang bersumber dari persepsi dan pengetahuan, maka manusia adalah sebaliknya. Kita seolah terlahir untuk memanipulasi dan mengubah dunia. Semua nilai yang didapatkan dalam berbagai proses interaksi akan diinternalisasi dan dikembangkan menjadi suatu “motivasi” yang bersifat egosentris. Kondisi ini bila diperhatikan secara sepintas akan mendorong kita untuk berpendapat bahwa manusia sebenarnya adalah makhluk paradoksial yang di satu sisi merupakan agen kebaikan sementara di sisi lainnya adalah agen perusak. Apakah Allah SWT akan membiarkan pernyataan para malaikat, bahwa manusia hanyalah akan menjadi perusak yang saling menumpahkan darah serta menimbulkan kehancuran di muka bumi ? Tentu saja tidak, bahkan Allah telah menugaskan manusia sebagai sang penebar rahmah, pembawa kebaikan dan kebajikan, “wa ma arsalnaka illa rahmatallilalamin..”, tetapi dalam konsep kesetangkupan dan relatifitas makhluk, manusia “wajib” untuk memiliki bayang-bayang atau zona gelap sebagai sebuah konsekuensi ilmiah. Mari bersama kita ingat-ingat salah ayat Allah dalam surat Al-Falaq, dan kita berlindung kepada Allah SWT sang Penguasa Subuh dari kegelapan apabila ia menjadi gulita. Sisi gelap adalah bagian dari konsekuensi biner, dimana sebuah perintah baru akan dapat dijalankan bila telah mewakili kesetangkupan. Bukankah Allah sendiri menyukai bilangan ganjil atau bilangan prima, sebagai sebuah perlambang bahwa Allahlah yang akan melengkapi seleuruh elemen ciptaan-Nya, dan Allah pastilah hadir dalam elemen ciptaan-Nya. Mari kita perhatikan sebuah alat kecil yang senantiasa menemani kita dalam bekerja atau beraktivitas dengan menggunakan perangkat komputer personal, alat itu bernama Mouse. Sebuah alat kecil berkabel dengan dua tombol lembut di permukaannya. Cobalah kita buka isi perutnya, maka menggelindinglah sebuah bola berat yang bernama “track ball”. Apakah fungsi bola ini ? Ternyata bola ini adalah alat penggerak dua buah tuas beroda gigi yang terhubungkan dengan papan sirkuit terintegrasi (IC) yang dilengkapi dengan transistor dan sejumlah kabel halus catu daya. Teliti dan perhatikan benar bentuk roda gigi yang terpasang pada sumbu vertikal dan horisontal itu, pada daerah keliling rodanya tampak berlubang-lubang secara teratur. Apa maksud dibuatnya lubang-lubang ini ? Letak setiap roda gigi diapit oleh dua alat mungil yang merupakan bagian dari papan sirkuit. Logika sederhananya adalah demikian, roda gigi yang dibuat dari bahan isolator tersebut sebenarnya adalah sebuah mesin pengkode yang memberi isyarat 0-1, 1-0 ataupun putih-hitam, hitam-putih, dapat pula gelap-terang, terang-gelap. Suatu isyarat diskontinuum yang dinamis. Dimana pada keadaan diam, aliran listrik arus lemah yang tidak terpotong ataupun terpotong sama sekali memberikan efek diam pada kursor di layar monitor komputer. Prinsip dasar bekerjanya mouse komputer ini mirip sekali dengan konsep “All or None” pada transmisi jaringan syaraf. Bila intensitas impuls atau rangsangan tidak mencukupi batas minimal untuk ditransmisikan, maka jaringan syaraf tidak akan mengirimkannya. Kondisi ini berlaku, sekalipun andaikata kurangnya intensitas impuls tersebut hanya berbilang mikron saja. Cara kerja mouse komputer menunjukkan kepada kita bahwa ternyata untuk menggerakkan kursor di layar monitor bukanlah hanya dapat dilakukan oleh arus listrik yang statis tetapi harus melalui rangsangan yang terputus-putus tetapi terus maju ! Dalam bahasa filsafati atau tasawuf, kondisi ini dapat digambarkan sebagai “diam dalam bergeraknya, dan bergerak dalam diamnya”. Manusia adalah instrumen Allah yang akan mampu menggerakkan kursor di layar alam semesta justru dengan sifat paradoksialnya. Peradaban dan pencapaian hakikat baru akan bergerak maju bila kita senantiasa “melompat-lompat” dan menimbulkan bayang-bayang gelap di sela-sela sinar terang nan cemerlang. Sifat buruk itu adalah cermin terindah, satu-satunya yang mampu merefleksikan wajah kebaikan kita !
Itulah tasbihnya mouse komputer, selain ia membantu kita bekerja dengan kompuetr personal iapun membantu kita untuk memahami dan berdamai dengan “kesalahan-kesalahannya”. Bila kita menyimak kembali kurva Koch maka kitapun akan semakin mahfum, bahwa ternyata sifat-sifat dasar kita sebenarnya adalah segitiga-segitiga yang menyusun gerumbul semak yang tampak keos tak beraturan. Tetapi bukankah gerumbul semak itu sesungguhnya indah sekali dipandang mata ? Bukankah hawa nafsu kita sebenarnya mengajari dan memperkenalkan kita pada sebuah jalan pencarian kebahagiaan ? Bukankah rasa marah, sedih, dan putus asa kitalah yang akan menghantarkan kita untuk tiba di teras pengetahuan tentang indahnya kebahagiaan ? Tanpa semua rasa kecewa dan marah itu maka kita tak akan pernah sanggup untuk mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkan-Nya.
Kini tentulah kita akan tiba di sebuah pertanyaan mendasar, “bagaimanakah keteraturan itu dijalankan ?” Penjelajahan ilmu pengetahuan yang telah berhasil melompati dan mendobrak benteng-benteng kejumudan, akan selalu menghadapi “zona-zona” kosong baru yang senantiasa terbentang luas tak terbatas di setiap batas tepian penemuan. Einstein dengan teori relativitasnya, Phillipe Lennard dengan teori kecepatan tumbukan elektronnya, ataupun Max Planck dengan konstantanya yang membatasi besarnya energi dengan ketinggian frekuensi ( h = 6,63 x 1027 erg/sec), pada akhirnya akan tiba pada sebuah samudera “kosong” dimana sepanjang mata memandang lautan jawaban terhampar menanti untuk direnangi. Einstein akan tiba pada sebuah gosong karang pemahaman bahwa batas kecepatan cahaya mungkin saja ada yang dapat melampaui, sehingga konsep relatif berubah menjadi relatif terhadap apa ? Lennard akan tiba di sebuah pantai dimana lidah-lidah ombaknya akan mendeburkan pertanyaan, apakah atau siapakah yang menjaga agar kecepatan elektron-elektron dalam satu paket quanta tetap terjaga dan bersifat konstan ? Max Planck juga akan terdampar di sebuah pulau kegamangan yang helai-helai daun nyiurnya akan membisikkkan pertanyaan tentang energi atau frekuensi yang tak lagi bisa diperbandingkan secara linier. Teori ketidakpastian Heisenberg dan ilustrasi kucing Schrodinger telah menghantarkan kita pada perkenalan dengan faktor “X” yang sangat menentukan dalam setiap “peluang” yang tidak bisa diprediksi dengan teori probabilitas manapun. Marilah kita simak dan analisa percobaan difraksi gelombang yang dilakukan oleh Thomas Young, sebagai berikut : Thomas Young melewatkan suatu berkas cahaya melalui sebuah celah sempit di suatu bidang pembatas, ia lalu mengamati titik jatuhnya cahaya di dinding sebelah belakang bidang pembatas. Apa yang terlihat ? Cahaya terdifraksi sempurna dan membentuk sebuah lingkaran terang. Hasil ini sejalan dengan teori gelombang yang menyebutkan bahwa bila sebuah gelombang “dipaksa” untuk memasuki sebuah celah yang lebih pendek dari panjang gelombangnya, maka gelombang itu akan dimampatkan dan dihamburkan kembali (terdifraksi). Percobaan berikutnya adalah dengan menambah satu lagi celah di bidang pembatas. Apa yang terjadi ? Gelombang cahaya tidak lagi terdifraksi dan dihamburkan dalam bentuk lingkaran, melainkan menjadi pita-pita cahaya dengan intensitas yang berbeda-beda. Pita paling tengah tersinari cahaya paling terang, berturut-turut semakin ke tepi kiri dan kanan maka intensitas cahaya di dinding menjadi semakin gelap atau berkurang. Pada fenomena kedua ini yang terjadi bukanlah lagi difraksi, melainkan interferensi gelombang. Yang dapat saling berinterferensi sebenarnya adalah partikel cahaya, sehingga dengan demikian kita mendapat sebuah pemahaman bahwa sebenarnya cahaya memiliki dualisme sifat, yaitu sifat gelombang dan partikel. Partikel-partikel yang saling berinterferensi adalah partikel-partikel yang terdapat dalam puncak gelombang tertinggi dan dasar gelombang terendah. Percobaan ini semakin meneguhkan kita terhadap pemahaman bahwa sebagai manusia sudah seharusnyalah kita mampu mensinergikan sifat-sifat dasar kemanusiaan (nafs yang lawwamah dan muthmainah), yang pada gilirannya akan menghantarkan kita kepada “jalan yang lurus…Ih dina shirottol mustaqim.” Ilustrasi lain tentang jalan yang lurus juga tercermin dari percobaan pistol foton. Bila percobaan Thomas Young menggunakan berkas cahaya, maka pada percobaan pistol foton yang ditembakkan atau dipancarkan adalah satu buah foton. Ketika foton melalui 2 buah celah pada bidang pembatas, maka ia dapat memilih untuk melewati salah satunya dan kemudian membentuk pita cahaya seperti yang dihasilkan oleh berkas lengkap cahaya. Bagian paling terang pada pita cahaya itu tetaplah pita yang terletak di tengah. Dua hikmah muncul dari percobaan tersebut, “bagaimanakah foton tunggal dapat memilih celah yang akan dilaluinya ?” Dan “bagaimanakah foton tunggal itu dapat membentuk pita cahaya ?” Inilah fenomena “malaikat”. Dimana Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yangs enantiasa “ingat” kepada-Nya. Inilah fenomena elemen kelima, dimana suatu bentuk energi cinta yang bekerja di dimensi yang berbeda mempengaruhi hukum-hukum fisika. Sebuah energi yang sama yang mengatur aktivitas ekspresi DNA dan menggerakkan “pengetahuan” di tingkat molekul. Pernahkah anda berpikir bagaimana DNA bekerja ? Watson dan Crick memang telah berhasil menunjukkan kepada kita struktur asam nukleat utas ganda yang merupakan “buku resep” kehidupan, tetapi siapakah “sang Koki” sesungguhnya ? Miliaran asam nukleat yang terbagi dalam empat abjad, Adenin-Guanin-Timin-Sitosin menyusun resep-resep asam amino dalam rangkaian-rangkain triplet yang disebut sebagai kodon. Lalu mereka membagi diri dalam area-area ekspresif dan non ekspresif, yaitu ekson dan intron. Untaian DNA yang melingkar-lingkar bak ular melilit batang kayu, bergelung dan membentuk gelendong-gelendong benang kromatin. Gelendong-gelendong ini akhirnya akan dipersatukan dalam sebuah “bal” besar yang bernama kromosom. Tetapi untaian DNA tetaplah untaian DNA, sekedar asam nukleat yang meski sudah dibariskan berurut tetaplah hanya bagaikan sebuah lembaran buku resep yang terbuka. Ia akan disalin oleh faktor transkripsi dan difoto kopi menjadi RNA caraka atau asam ribo nukleat utas tunggal utusan. RNA caraka akan mengalami proses penyandian di ribosom dan pada akhirnya di ribosom akan diproduksi berbagai jenis asam amino. Asam-asam amino ini pada gilirannya akan membentuk beraneka jenis protein yang dibutuhkan oleh makhluk hidup. Itulah sekilas gambaran tentang peran dan kinerja DNA. Tetapi pernahkah kita berpikir, faktor-faktor apa sajakah sebenarnya yang mempengaruhi fungsi DNA tersebut ? Bila kita menelaah secara berurutan proses biokimiawi yang terjadi di tingkat sel, maka kita akan segera melihat bahwa semua faktor yang terlibat seperti faktor mediator (sitokin dan hormon), faktor fisika seperti medan elektromagnetik dan gaya-gaya dasar, faktor kimia seperti tonisitas, ikatan molekul, dan pertukaran ion serta reaksi entalpi-entropi, sampai dengan faktor biokimiawi seperti enzim dan kadar-kadar metabolit tertentu hanyalah terlibat dalam proses interaksi. Di balik semua itu tentu ada proses perencanaan dan cetak biru yang maha canggih yang dirancang untuk mampu meregulasi atau mengatur berbagai proses interaksi yang terjadi. Kondisi ini tampaknya mengikuti permodelan teori ketidakpastian Heisenberg, dimana “peluang” ditentukan oleh berbagai proses tawar-menawar yang terjadi pada semua unsur yang terlibat. Sebuah gen yang bertanggung jawab sebagai “resep” bagi proses produksi sebuah protein misalnya, bisa diekspresikan dan bisa juga tidak. Bahkan pada kondisi yang nyaris serupapun terkadang sebuah gen memiliki respon yang berbeda. Dalam satu kondisi protein yang disandinya diproduksi, sedangkan dalam kondisi yang nyaris serupa di waktu lain, protein tersebut tidaklah diproduksi. Siapakah yang mengatur itu semua ? Memang proses interaksi merupakan sistem inputan yang sangat multivariabelo, dimana setiap perubahan yang sangat kecil sudah pasti akan menghasilkan reaksi yang berbeda, ingat teori Lorentz. Tetapi keteraturan itu benar-benar terlalu canggih, bahkan sampai stimulus yang sangat kecilpun dapat mempengaruhi hasil akhir. Sebagai contoh, di masa embrional setelah melalui tahapan janin (zygot)-morula-gastrula- dan blastokista, maka mulailah embrio seorang manusia berdiferensiasi, alias membangun berbagai kelengkapan tubuhnya. Pembangunan infrastruktur tubuh itu disertai pula dengan pengembangan piranti lunak sistem operasinya, persis seperti sebuah komputer personal yang sedang dirakit dan piranti lunaknya sedang di-install-kan. Sistem operasi dasar memungkinkan kelak di masa-masa pertumbuhannya seorang manusia akan dapat mengadopsi dan mengkopi berbagai piranti lunak aplikasi. Pada saat proses diferensiasi ini berlangsung terbentuk lapisan-lapisan mudigah yang terdiri dari lapisan ektoderm, mesoderm, dan endoderm. Dari masing-masing lapisan itu akan terbentuk cikal-bakal berbagai jenis organ tubuh manusia. Misal terbentuk tuba neuralis yang kelak akan berkembang menjadi susunan syaraf pusat dan tulang belakang (medula spinalis), lalu tulang akan mulai terbentuk diikuti oleh jaringan otot dan juga kulit. Demikianlah, keajaiban itu seolah terus berlangsung tanpa kita sadari siapakah sebenarnya yang mengaturnya sehingga dapat berlangsung sedemikian indah ? Ada sebuah proses dalam masa embrional yang luar biasa ajaibnya, yaitu pada saat jari-jemari tangan dan kaki kita terbentuk. Semula lengan dan tungkai kita bentuknya menyerupai sosis besar, alias mirip dengan tabung daging berujung tumpul. Lalu sebagian dari sel-sel penyusun “sosis” itu mulai melakukan proses yang disebut apoptosis, atau proses kematian sel yang bermartabat. Dalam bahasa biologi proses ini dikenal juga sebagai proses kematian sel terprogram. Dari sekian banyak sel yang jumlahnya miliaran bagaimana sel-sel yang harus menjalani apoptosis tahu bahwa dirinyalah yang mendapat kepercayaan ? Bila faktor interaksi menjadi faktor yang deterministik atau sangat menentukan, maka yang terimbas dampak interaksi baik itu dengan hormon, faktor pertumbuhan, maupun enzim tentu tidaklah hanya sel-sel “pilihan” yang akhirnya berapoptosis itu. Tentu ada sebuah mekanisme lain yang membantu proses penentuan dan pemilihan itu, inilah hakikat takdir yang dapat dipelajari di sistem biologis. Sebelum kita melangkah terlalu jauh di dalam proses apoptosis ada baiknya juga bila kita renungkan sejenak bagaimana berbagai organ yang berlainan fungsi dan jaringan pembentuknya dibangun. Proses diferensiasi atau proses pembedaan fungsi sel terjadi secara berkesinambungan dan terus menerus. Bagaimanakah sekumpulan sel itu membagi diri dan “memilih” peran yang akan dijalaninya ? Jika kita berbicara tentang genom, maka setiap sel memiliki gen yang sama. Setiap sel embrional atau sel tunas bahkan sudah diklasifikasikan sebagai sel yang bersifat multipotensial atau totipoten. Sifat totipoten ini ternyata pada gilirannya akan ditanggalkan dan setiap sel akan segera menjalani pilihan hidupnya masing-masing. Apakah yang mendorong sebuah sel untuk tinggal diam dan bergabung menjadi lapisan mesodermal, misalnya, apakah gennya yang memilih ? Tentu tidak, karena gen bersifat pasif, persis seperti lembaran buku yang terbuka, tanpa disalin atau dibaca maka semua resep itu akan tetap statis, diam dan ada di sana. Pada saat kita telah beranjak dewasa dan telah memiliki kelengkapan serta kesempurnaan organ tubuh, maka sesekali waktu terjadilah kerusakan di sana-sini. DNA yang rentan terhadap paparan sinar ultra violet misalnya, akan mengalami berbagai kerusakan dan keausan meski dalam intensitas yang rendah. Tetapi jangan khawatir, ternyata di dalam tubuh kita ada sistem “servis”nya, persis seperti sebuah bengkel dan montir bagi mobil atau motor. Protein tukang reparasi itu dikenal sebagai MLH-2 dan MSH-1, mereka senantiasa berpatroli dan giat memperbaiki berbagai kerusakan DNA yang mereka temui. Kita dapat mahfum bila berdiskusi tentang bagaimaan protein repair tersebut diproduksi, tetapi yang masih sulit untuk kita pahami adalah “siapakah yang merencanakan serta mengatur proses operasionalnya ?” Ada sebuah interaksi yang berjalan di balik setiap interaksi. Ada “malaikat-malaikat” yang bekerja dalam sebuah dimensi yang memiliki karakter berbeda dengan dimensi fisika yang dapat kita amati, tetapi gaya-gaya yang bekerja di dimensi itu ternyata dapat “berpartisipasi aktif” di dimensi fisika, atau dimensi pengamatan kita. Sebaliknya, gaya-gaya yang bekerja di dimensi pengamatan kitapun sangat mungkin mempengaruhi kinerja sistem “malaikat” tadi. Teori superstring atau dawai super menunjukkan bahwa konsep ruang dan waktu hanyalah 4 dimensi yang berasal dari 7 dimensi yang saling berhimpit. Ingatlah bahwa Allah telah menciptakan tujuh langit dan tujuh jalan-jalan bagi elemen ciptaan-Nya, dan yang kita sebut dan lihat sebagai langit saat ini disebutkan oleh Allah SWt dalam Al-Quran sebagai “langit yang dekat”, yaitu langit yang dihiasi bintang-bintang. Ada sebuah wahana demonstrasi sains yang sangat menarik di Pusat Sains Singapura, yaitu sebuah gitar berdawai karet hitam yang dijadikan alat peraga gelombang. Pada saat dawai karet hitam dipetik biasa maka terdengar bunyi dan tampak sekilas bahwa dawai bergetar, itu saja. Tetapi pada saat sebelum dawai karet hitam dipetik, sebuah silinder berlapis kertas putih dengan garis-garis horizontal hitam yang dipasang di belakang dawai diputar cukup kencang, maka ketika dawai kita petik maka terlihatlah bentukan gelombang lengkap dengan puncak dan lembah amplitudonya. Alat peraga ini memperlihatkan kepada kita bahwa sebenarnya banyak “peristiwa-peristiwa” yang terjadi tetapi luput dari pengamatan kita. Gambar gelombang itu seolah menunjukkan pada kita bahwa sebagian dari proses yang berlangsung baru dapat diamati bila dikomparasikan, disandingkan, atau dikompetisikan dengan proses yang lainnya.
Sekarang marilah kita tengok air, unsur dominan dalam kehidupan kita. Kecerdasan partikelnya tidak perlu diragukan lagi, sangat teratur dan sangat adaptif, setiap stimulus yang diterimanya dari proses interaksi akan segera ditanggapi secara tepat dan sangat presisi. Sebagai contoh, ketika proses evapotranspirasi terjadi, maka air akan mulai menguap dan berubah fasa pada saat suhu atau kalor yang diterima telah mencukupi untuk merubah konformasi atau bentukan dasarnya. Ia terbang membumbung dan mencapai ketinggian dengan lapisan suhu udara yang dingin. Masuknya inputan kedua tentang penurunan suhu akan kembali disikapi dengan mengubah konformasi, menjadi fasa cair. Suhu yang lebih rendah di ketinggian yang jauh lebih tinggi akan membuatnya mengkristalkan diri. Pada saat tercapai kondisi ideal untuk kembali ke permukaan bumi, maka air akan tercurah dalam bentuk butiran-butiran atau tetesan air yang sangat proporsional. “Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran…” (QS 23;18). Coba kita bayangkan seandainya air tidak cerdas dalam membatasi diri, maka dapat saja ia berikatan dengan sebanyak-banyaknya molekul-molekul yang belum berikatan, akibatnya butiran air dapat saja berukuran sebesar meja makan ! Kecerdasan air sebagai suatu “strategic business unit” ini dapat kita teladani dan nilainya kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita. Air memberi tauladan yang indah tentang efektifitas dan kemampuan mengoptimalisasi serta membatasi diri. Konsep ini mengingatkan kita akan prinsip mengoptimalkan estimasi, kemampuan mengukur diri. Meskipun potensi yang dimiliki sangat-sangat memungkinkan, tetapi air memilih untuk membentuk suatu unit bisnis strategis yang sarat manfaat dan tidak menzhalimi unsur lain di lingkungan sekitarnya, coba bayangkan bila tetes air hujan berukuran semeja makan ? Setiap hujan akan banyak rumah sakit yang kewalahan dan toko material yang menjual genteng akan laku keras.
Subhanallah, Allah telah menciptakan semua elemen dalam kehidupan secara sangat sempurna, dan setiap elemen itu mengandung hikmah, baik dari skala ontologis sampai dengan aksiologis. Komposisi air di tubuh manusia mencapai lebih dari 70%. Sedemikian pentingnya air hingga semua proses metabolisma dan reaksi kimia di dalam dan di luar tubuh manusia memerlukan kehadirannya. Bahkan Allah SWT dalam QS 21:30 berfirman bahwa segala sesuatu yang hidup (kehidupan) diciptakan/dijadikan dari air. Sedemikian istimewanya kedudukan air dalam proses kehidupan di alam semesta ini. Melihat kenyataan tersebut hikmah apa sesungguhnya yang dapat kita petik dari keteladanan sifat air ?
Air memiliki sifat dasar kesederhanaan (zuhud). Secara struktural hanya terdiri dari dari 3 molekul (ganjil) yaitu 1 oksigen dan 2 hidrogen. Ikatan antar molekul air juga sangat sederhana tetapi sangat istimewa. Ikatan itu dinamai ikatan hidrogen. Keistimewaan ikatan hidrogen ini adalah karakter ikatannya cukup kuat,cukup erat, dan cukup akrab, tetapi tidak terlalu kuat dan tidak berkehendak untuk saling memiliki. Karakter ikatan hidrogen ini menjadikan air sebagai molekul yang sangat adaptif dan dapat bertindak sebagai stabilisator. Pada saat suhu meningkat dan gerakan molekul menjadi sangat dinamis maka ikatan hidrogen akan terputus dan gerakan molekul yang berlebihan akan tereduksi. Kondisi ini juga akan mendorong terjadinya proses penyesuaian berupa perubahan fasa, misal dari cair menjadi gas (uap). Pada saat tubuh kita mengalami infeksi dan terjadi proses peradangan, maka suhu tubuh akan meningkat, peran air sebagai stabilisator suhu menjadi sangat penting. Suhu tubuh yang naik tadi menandakan adanya energi kinetik yang ebsar, dengan sifat air yang adaptif maka energi tersebut diserap untuk memutuskan ikatan hidrogen.,dengan terputusnya ikatan hidrogen maka energi kinetik bebas yang tadinya meningkatkan kalor akan tereduksi. Sifat air lainnya yang berperan penting di dalam tubuh adalah sifat kohesif, yang memungkinkannya merambat naik secara kapilaritas, memiliki tegangan permukaan (meniskus), dan kemampuan untuk membawa nutrisi ke seluruh pelosok tubuh. Kohesifitas air menjadi sangat istimewa karena dengan kemampuan kohesif air mampu mensiasati gravitasi atau gaya tarik bumi. Sifat lain yang tidak kalah penting adalah polaritas atau perkutuban air yang netral. Sifat netral air membuatnya menjadi pelarut paling ideal. Ion-ion dan molekul polar dapat terdispersi (tersebar) secara merata dalam medium air. Sesungguhnya ada satu lagi keajaiban air, yaitu bila dalam kondisi padat (menjadi es) maka tangan-tangan ikatan molekul air justru menjadi saling menjauh. Sehinggga dalam rapatnya barisan air justru terdapat kerenggangan (celah) yang memungkinkannya untuk tidak bersifat serakah dan menyita ruang bagi molekul lainnya. Coba perhatikan saat air di gelas yang hampir penuh ditambahi es batu, ternyata tidak luber meskipun prakiraan kita semula tentu air dalam gelas akan tumpah keluar.
Hikmah dari keutamaan air ini, khususnya yang terdapat di dalam tubuh kita adalah kebijkasanaan air dalam menyikapi kondisi yang terjadi pada dirinya. Manusia dalam sistem pengambilan keputusannya melakukan proses pertimbangan dengan melibatkan sub sistem pertahanan diri (respon defensif) yang diwakili oleh batang otak (action brain), kenangan, memori, dan perasaan yang diwakili oleh sistem limbik (feeling brain), dan juga rasionalitas yang diwakili oleh neokortex. Untuk itu mengacu kepada sifat air yang telah dibahas diatas, seharusnya manusia dapat meniru sifat air yang ikhlas , tidak semata ingin memiliki dan terwakili kepentingan dirinya sendiri. Sifat kedua yang perlu ditiru adalah adaptif, dimana keputusan dan keberanian untuk bersikap haruslah mengacu kepada fakta dan kondisi obyektif yang dihadapi, untuk itu diperlukan rasionalitas dan kecerdasan emosional yang terjaga.Sifat ketiga adalah kohesif, dimana dengan persatuan dan kebersamaan maka segala rintangan akan dapat dihadapi. Pada kemampuan anti gravitasi air misalnya, sekumpulan molekul air yang berenergi rendah dapat menjalin kerjasama harmonis dengan molekul-molekul dinding permukaan media yang dilaluinya (jika berasumsi pada dunia manusia dapat diartikan sebagai “ruang hidup”) , untuk selanjutnya dapat ‘merayap’ naik melawan energi gravitasi yang merupakan bagian dari gaya dasar alam semesta, proses ini dikenal sebagai efek kapilaritas. Fenomena ini menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin untuk dilakukan, asalkan kita memiliki kemauan dan kesadaran terhadap arti pentingnya kebersamaan. Kemauan maujud dalam bentuk niat dan tekad, sedangkan kesadaran terimplementasi dalam bentuk evaluasi diri dan proses belajar mengoptimalkan potensi yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT.
Ilmu pengetahuan modern semakin meneguhkan betapa pentingnya peranan air dalam kehidupan. Lebih dari 70% unsur kimiawi dalam tubuh kita adalah molekul air. Atmosfer menjadi lembab dan lapisan udaranya layak untuk dihirup oleh paru-paru juga karena peran air. Proses metabolisme dalam sebuah sel juga dapat berlangsung serta reaksi kimianya dapat berjalan secara proporsional juga karena peranan air. Proses fotosintesa untuk menghasilkan gula dan oksigen juga di awali oleh peran air. Bahkan cahaya matahari yang kita rasakan sehari-hari dan merupakan karunia Allah yang tak berbatas serta menyokong penuh kehidupan, ternyata tak terlepas pula dari peranan unsur air. Sebagaimana kita bersama ketahui bahwa cahaya matahari yang kita terima di bumi sebenarnya adalah paket foton yang terdiri dari sekumpulan elektron yang terlontar dari sebuah proses eksitasi helium yang berasal dari reaksi fusi atau plasma trivalensi hidrogen (hidrogen, deterium, dan tritium). Helium sendiri adalah keluarga hidrogen, alias unsur utama sebuah molekul air. Jadi matahari yang panas sebenarnya masih kerabat dekat dengan air yang sering kita konotasikan sebagai sesuatu yang bersifat dingin. Dalam firman Allah lainnya bahkan air juga disebut sebagai salah satu unsur penting firdaus atau surga. Digambarkan dengan sangat indah di dalam Al-Quran bahwa di surga mengalirlah dibawahnya sungai-sungai. Mendengar ini kesan pertama yang kita dapatkan adalah kesejukan dan ketenangan yang menghanyutkan, terlebih bila kita menghayati benar gemericik percikan-percikan air yang memecah permukaan. Gambaran-gambaran tadi seolah mengaskan kepada kita betapa penting dan bermaknanya air bagi kehidupan manusia.
Mengingat betapa pentingnya air dalam kehidupan maka kita selaku muslim yang kaffah sudah semestinya dapat memanfaatkan peran air seoptimal mungkin sesuai dengan besarnya kemanfaatan yang telah diciptakan Allah SWT. Air sebagai pengganti cairan tubuh haruslah memenuhi persyaratan kandungan yang tepat, jumlah ion, mineral, dan derajat keasaman, serta sebaran bakteri haruslah proporsional. Untuk itu sebelum mengkonsumsi air minum pelajarilah dulu dengan seksama kualitas air yang akan diminum. Air minum yang baik tidak mengandung mineral secara berlebiha ataupun memiliki derajat keasaman dan kebasaan yang juga berlebihan. Sebagian air minum perkotaan diproses dengan bantuan zat kimia tertentu seperti tawas dan kaporit, bila secara fisis kedua zat tersebut masih teridentifikasi ada baiknya air yang akan dikonsumsi diendapkan terlebih dahulu dan disaring agar zat pembersih itu tidak turut dalam air minum kita. Berapa banyak sebaiknya kita minum ? Sebenarnya tubuhlah yang memiliki sensor cerdas kebutuhan terhadap air. Jumlah konsumsi air minum sangat bervariasi. Bergantung keapda aktifitas serta proses metabolisme yang sedang terjadi di tubuh masing-masing orang. Kebutuhan akan air dapat dihitung dan diamati berdasar tingkat diuresis dan jumlah keringat serta penanda dehidrasi. Diuresis diukur dari volume air seni harian, semakin banyak dan sering kita buang air, maka semakin banyak pula kita membutuhkan substitusi air dari air minum. Demikian pula bila kita banyak beraktifitas dan berkeringat maka semakin banyak pula kita membutuihkan air pengganti beserta ion dan mineralnya. Jika pada suatu ketika kebutuhan akan air kita meningkat dan pemenuhannya terhambat maka akan tampak tanda-tanda dehidrasi yang antara lain dapat dilihat pada turgor kulit yang menurun, bila dicubit sulit dan agak lama untuk kembali kepada posisi dan bentuk semula. Waktu dan cara yang tepat untuk mengkonsumsi air adalah waktu-waktu ba’dha shlat baik fardhu maupun sunat, termasuk sunat rawatib. Minumlah dengan cara meneguk air satu gelas (sekitar 250 sampai dengan 300 ml) sekali teguk bagi orang dewasa, dan tidak diselingi dengan proses bernafas. Mengapa demikian ? Karena air adalah unsur yang sangat mempengaruhi aktifitas fisika dan kimiawi tubuh, maka bila dikonsumsi sehabis sholat yang merupakan proses pengoptimasian sistem tubuh dan tidak diselingi dengan proses bernafas yang merupakan awal dari sebuah proses rantai elektron, air yang masuk tubuh akan menajdi media penyejuk dan penyelaras sistem tubuh dengan mengedepankan sifat polaritasnya yang netral. Kehadiran air akan memberikan sumbangan proton dan gugus oksida yang pada gilirannya akan membantu setiap sel untuk bertasbih dengan khusyuk. Bila setiap sel berhasil bertasbih dengan khusyuk maka hati kita akan tenang, sifat kita menjadi sabar, dan lisan, pikiran, serta perbuatan kita akan menjadi cerdas serta terjaga. Fungsi air lainnya yang tak kalah penting adalah saat berwudhu. Air yang mengalir di ujung-ujung permukaan tubuh kita akan menghasilkan sebuah mekanisme penyaluran muatan “negatif” dari sekujur tubuh kita. Secara umum manusia terkena sunatullah berupa adanya 4 gaya dasar yang bekerja di alam semesta, yaitu gaya elektromagnetik, gaya fusi kuat dan fusi lemah, serta gaya gravitasi. Peranan air ataupun debu ketika kita bertayyamum atau berthaharoh adalah menyeimbangkan kinerja gaya-gaya dasar tersebut yang bekerja di tubuh kita. Sehingga pada saat kita beribadah ataupun melakukan aktifitas lainnya dalam keseharian kita (bukankah kita senantiasa diminta untuk menjaga wudhu ?), kita senantiasa berada dalam kondisi pikiran dan tubuh yang optimal. Mengapa bisa demikian ? Karena pada saat kita berwudhu lonjakan energi yang mendorong ke segala arah disinergikan dalam bentuk vektor untuk membentuk poros vertikal dari hawa nafsu (batang otak) ke sistem limbik dan akhirnya bermuara di korteks otak. Dengan kata lain, orang yang benar proses wudhunya akan memiliki prioritas hidup yang berjenjang mulai dari pemenuhan kebutuhan hawa nafsu yang proporsional, berpegang teguh pada kenangan akan kebaikan dan keyakinan (keimanan), serta mengekspresikan esensi diri dalam bentuk-bentuk cerdas. Bukankah untuk kenal, dekat, dan dikasihi Allah kita harus menjadi pribadi yang cerdas ? Bukankah kata pertama yang turun sebagai pembuka Quran adalah Iqra ? Marilah bersama-sama kita jadikan air sebagai sarana utama untuk menggagas semangat Iqra dalam kehidupan kita. Berikut ini rangkaian hikmah yang dapat kita pelajari bersama dari air; Dalam setiap 12 km3 terdapat 0,01-0,09 mg emas (Au) dalam bentuk aslinya, secara tersirat hal ini menunjukkan bahwa di balik kesederhanaannya air sesungguhnya menyimpan “nilai” yang sangat berharga, hanya saja air adalah “penjaga” yang sangat unik. Emas itu dapat diidentifikasi, diukur, serta dinilai, tetapi sulit sekali untuk dipisahkan atau dimurnikan. Bayangkan berapa kandungan emas yang bisa kita dapatkan dari seluruh air di samudera ? Tetapi air dengan arifnya “membiarakan” emas itu untuk tidak tersentuh. Air mengajarkan kepada kita, bahwa tanpa proses yang benar dan sistematis maka potensi apapun tidak akan pernah akan dapat menghasilkan manfaat. Sangat dekat terlihat, tetapi tidak dapat dinikmati. Dengan demikian air mengajari kita bahwa yang namanya berproses adalah fardhu a’in, suatu kewajiban personal yang harus kita lakukan. Negeri ini tampaknya perlu belajar dari air, mengingat banyak hal di sini dilakukan tanpa melalui proses yang benar. Budaya instan yang menggejala dan kita terapkan di hampir setiap sektor kehidupan tampaknya mendorong air untuk berperilaku yang sama, maklumlah dalam kesemestaan Allah ini ada pola-pola yang senantiasa berulang dan memiliki sifat-sifat baku. Maka airpun “protes” dalam bentuk gelombang pasang Tsunami mengikuti proses pergeseran lempeng bumi, dan iapun mengikuti fitrah dan sunatullahnya yang mengharuskan air menjalani pola difraksi gelombang, menyebar dalam bentuk lingkaran yang baru terhenti ketika terhempas ke bibir-bibir pantai. Tetapi setelah mendapat berbagai pelajaran dari alampun, kita manusia belum saja tergugah kesadarannya. Masih belum pupus dari ingatan kita betapa dahsyatnya Tsunami di Aceh, gempa bumi tektonik di DIY dan Jawa Tengah, longsor dan banjir bandang di Sinjai, kita sudah diingatkan lagi melalui gempa dan tsunami di pantai selatan Jawa. Tetapi benar menurut Butet Kertaradjasa, seorang budayawan dari Yogya, bahwa elan atau etos moral bangsa kita telah melorot sampai ke titik nadir. Orang-orang Bantul yang ulet berubah menjadi orang-orang yang “beringas” menyerobot bantuan, menjadi kehilangan harga diri dengan “menghadang” setiap orang untuk dimintai sumbangan. Bencana alam ini sesungguhnya seolah direncakan Allah sebagai suatu pintu pembuka untuk memperlihatkan “bencana” kemanusiaan yang sesungguhnya, di mana wajah-wajah kita yang sebenarnya muncul ke permukaan. Banyak kebaikan dan ketulusan hati mendapatkan jalan dan media berkreasi, dan banyak pula kekurangan yang manusiawi terkuak dari persembunyiannya. Perilaku manusia ini digambarkan Millon dalam salah satu teori biologi sosial tentang polarisasi, yaitu senantiasa mengejar kesenangan dan menghindari kesakitan, lalu secara aktif memodifikasi lingkungan dan terkadang bersifat pasf atau akomodatif, semua itu didasari oleh orientasi pada diri sendiri atau berorientasi pada lingklungan terdekat. Kondisi bencana yang sesungguhnya merupakan suatu proses “kesakitan” pun akan diakomodasi sebagai suatu jalan untuk mendapatkan kesenangan. Contoh mutakhir tentang fenomena ini dapat kita cermati pada kasus lumpur panas Lapindo Btrantas di Porong. Ada sebagagian warga desa yang bahkan desanya sama sekali tidak terkena dampak lumpur panas justru berdemo menuntut aparat desanya agar mengusahan santunan bulanan sebesar tiga ratus ribu rupiah perbulan. Ditinjau dari logika manapun, tuntutan ini tentu sulit untuk dijelaskan. Tetapi itulah kita, itulah manusia. Dengan berbagai bencana yang terjadi di tanah air, maka sudah seharusnyalah kita semakin menyadari apa yang sebenarnya selama ini telah terjadi dan kita alami. Kita telah berubah menjadi manusia-manusia manipulatif yang semata-mata hanyalah mengejar bahkan mempertuhan kebutuhan duniawi. Mari kita simak sejenak berbagai fenomena “aneh” lainnya yang terjadi di sekitar kita. Menjelang hari kemerdekaan kita. Banyak sekali pungutan sumbangan untuk perayaan peringatannya, permohonan sumbangan itu “setengah” memaksa dengan cara menghadang di jalan-jalan. Untuk memperingati hari kemerdekaan, mengapa justru kita “menjajah” orang lain agar menyukseskan acara kita. Acara yang kelak hanya akan diukur makna kesuksesannya melalui seberapa ramai panggung hiburan dan lomba-lomba yang diselenggarakan. Ya, tampaknya memang jujur harus kita akui bahawa even-even semacam itu pada dasarnya juga merupakan salah satu cara manusia memperturutkan kesenangan dirinya. Tetapi inilah sesungguhnya kesalahan mendasar kita bersama, inilah kesalahan kita dalam berfardhu kifayah, sebuah kesalahan dalam ranah habluminnanash. Kita membiarakan diri kita terlena dalam jebakan “law of effect”nya Thorndike, dimana sebuah pengalaman yang mendatangkan kesenangan akan meningkatkan dan menjadi motivasi yang luar biasa kuatnya untuk mengulangi lagi perbuatan tersebut. Kita sudah terbuai akan nikmatnya mengurus surat ijin mengemudi tanpa ujian, kita sudah terlena akan nikmatnya mengurus kartu tanda penduduk tanpa perlu bertemu dengan pak RT dan Pak Lurah, kita sudah ternina bobokkan dengan nikmatnya mencegat angkot tepat di muka halaman rumah kita, dan kita sudah lama “pingsan” atau terbius dengan sangat dalamnya dengan berbagai kemudahan nirproses yang telah kita ciptakan sendiri. Tak heran bila ternyata secara neurologi sikap dan perilaku itu akhirnya tertanam dan tercangkokkan sebagai sebuah memori yang senantiasa mendasari sistem pengambilan keputusan kita. Gray mengkategorikan berbagai kesenangan nirproses ini sebagai sistem penggerak perilaku atau “Behaviour Activation System”. Sebaliknya proses berliku-liku dan berbagai ketidaknyamanan yang menyertainya akan menajdi bagian utama dari “Behaviour Inhibition System”, dimana semuanya akan terekan di sistem limbik dan pusat produksi hormon-hormon otak. Akibatnya bahkan sebelum proses dimulai hormon-hormon “penolakan” telah terlebih dahulu diproduksi !
Fakta lain tentang keindahan air yang sistematis dapat kita cermati pada sistem ikatan molekulnya. Ikatan antara H-O adalah ikatan kovalen yang terjadi karena adanya struktur elektron dan sifat elektronegatifitas dari oksigen. Ikatan ini sangat solid dan memerlukan energi untuk memutuskannya sebesar lebih dari 80 kcal/mol. 1 kilo kalori sama dengan 4,186 joule dan 1 mol dalam persamaan Avogadro sama dengan 6 x 1023 gram/nomor molekul. Molekul air juga bersifat asimetrik dalam muatannya (asymmetric charge). Sebuah atom hidrogen yang telah berikatan dengan O misalnya telah menyumbangkan elektronnya pada pasangan akan tetapi ia masih memiliki muatan positif parsial yang dapat membentuk ikatan dengan atom elektronegatif. Ikatan ini lemah, energi yang diperlukan untuk mengurainya hanya sekitar 180 pikometer saja, ikatan ini dinamakan ikatan hidrogen. Bila kita simak secara cermat maka kita akan melihat suatu fenomena yang sangat harmonis, dimana kelebihan dan kekurangan pasangan justru menjadi faktor perekat yang menghasilkan sinergi. Oksigen dan hidrogen masing-masingnya memiliki kelebihan dan kekurangan lalu mereka berkolabaorasi, tetapi hasil kolaborasi itu ternyata tidak menutup potensi masing-masing untuk berinteraksi dan memaksimalkan potensi dengan menajlion kerjasama dengan unsur lain. Untuk itu air dikenal memiliki bentuk-bentuk kerjasama lain seperti melalui ikatan non kovalen yang menghasilkan polaritas. Ikatan non kovalen terjadi karena adanya perbedaan muatan ( charge) dan tidak bergantung kepada struktur orbital dan jumlah elektron. Ikatan non kavlen menghasilkan bentuk asimetrik dan menghasilkan polaritas. Dengan adanya polaritas ini maka air dapat menjadi media perantara dan pelarut banyak zat di alam semesta. Air bisa bersikap sebagai pembawa yang tidak emncampuri urusan zat-zat yang dibawanya, tidak pula merubah atau menuntut penyesuaian dari zat yang diangkut tersebut. Air memberi contoh kepada kita untuk bersikap proporsional, dimana hal-hal yang bukanlah kewenangan atau otoritas kita janganlah dicampuradukkan dengan tugas pokok kita. Memang benar bawha kita dikenai kewajiban untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, untuk berlomba-lomba dalam kebajikan, tetapi mencoba untuk menanamkan kebajikan secara paksa kepada unsur lain yang mungkin lebih bajik dan bijak dari kita adalah sebuah perbuatan yang melampaui batas. Sebuah perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh air. Air mencontohkan pula kepada kita, bagaimana sesungguhnya pola interaksi yang tidak saling memanipulasi atau saling menyakiti. Ketika tiba saatnya air harus melepaskan zat yang telah larut di dalam dirinya, maka ia dengan ikhlas akan melepaskan sesuatu yang disadarinya memang bukan miliknya seutuhnya. Rasa nirkepemilikan serta kekaffahan menjalankan peran diri inilah yang menyebabkan air tidak pernah satu kalipun emnyakiti mitra interaksinya. Coba kita bandingkan dengan diri kita sendiri, bila kita berhubungan dengan orang lain, khususnya yang menyangkut cinta dan kasih sayang maka dengan egoisnya kita akan segera merubahnya menjadi sebuah bentuk kepemilikan. Sebuah bentuk ikatan yantg tidak asimetris karena telah didominasi oleh tuntutan kenyamanan sepihak. Rasa kepemilikan adalah bagian dari “behaviour Activation System” yang dimanifestasikan sebagai sebuah perlindungan terhadap munculnya gelombang tsunami rasa takut akan kehilangan. Sayangnya mekanisme perlindungan inia dalah sebuah “bunker” palsu yang sejatinya hanyalah menunda gelombang rasa kehilangan sehingga biasanya justru gelombang itu akan terakumulasi dalam sebuah gelombang beramplitudo raksasa yang pada gilirannya akan menghancurkan dan memnghempaskan apa-apa saja yang dilaluinya. Perpisahan bagi seorang manusia, apapun bentuknya dan apapun obyeknya selalu saja menajdi sebuah badai yang menyakitkan. Mengapa ? karena semenjak awal kita sudah berlari menghindarinya. Pada saat rasa kehilangan itu masihlah berupa riak-riak kecil yang semestinya dapat kita arungi dengan sampan sederhana yang akan menghantarkan kita ke pantai-pantai keikhlasan, justru kita enggan berlayar dan memilih menunda-nunda waktu dengan harapan gelombang-gelombang akan menajdi sirna. Sebuah fantasi utopis yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Air mengajari kita untuk senantiasa siap menghadapi kenyataan tentang sebuah perpisahan, air juga mengajari kita tentang konsep dasar kepemilikan, air mengajari kita bahwa semua yang ada p-ada diri kita sebenarnyalah hanya pinjaman belaka !
Air juga aktor yang luar biasa hebat ! Ia dapat memerankan tokoh protagonis seperti yang telah banyak kita bahas di atas, dan juga dapat memerankan tokoh antagonis sebagaimana perannya “menakut-nakuti” molekul-molekul hidrofobik (molekul takut air). Molekul hidrofobik akan saling mengagregasikan diri untuk meminimalisir kontak dengan air. Kondisi ini terjadi kareana molekul hidrofobik adalah molekul non polar (sudah stabil dan seimbang dalam sistemnya). Hidrofobik adalah kasus nyata dimana air mendamaikan dan mempekuat aliansi yang sudah terbentuk. Antagonis bukanlah berarti “musuh”, melainkan juga sebuah sikap yang dikedepankan bagi kebaikan sesama. Mungkin pada suatu saat kita dituntut untuk menjadi pribadi yang menjengkelkan, menyebalkan, dan kehadiran kita diemohi oleh hampir setiap orang, tetapi justru dari rasa jengkel itulah mungkin suatu tujuan bersama dapat dihasilkan. Contoh kongkretnya adalah profesi guru. Kehadiran sosok guru terkadang justru disambut oleh koor cemoohan dan tatapan kekecewaan murid-muridnya, yang kenyamanan bersantainya terganggu. Sebuah peristiwa yang menggambarkan konsep insentif dari Steven D Levitt, dimana setiap kegiatan manusia akan selalu diasosiasikan dengan seberapa nyaman hasil yang akan di dapatkannya. Proses belajar di sekolah, sosok guru, dan materi-materi pelajaran memberikan insentif negatif jauh lebih kuat daripada insentif keberhasilan menjadi orang yang terpelajar. Sebagai contoh lain dapat kita simak dari sepenggal kisah penelitian yang disampaikan oleh Levitt dan Dubner dalam bukunya (Freakonomics), sebuah kisah tentang penelitian di pusat penitipan anak di Israel. Para pasangan orang tua karier, dimana baik ayah maupun ibu sama-sama bekerja, maka anak-anak mereka dititipkan di sebuah pusat penitipan anak. Karena tingkat kesibukan para orangtua yang tinggi, acapkali mereka terlambat menjemput anaknya. Memang keterlambatan itu secara individual tidak begitu signifikan maknanya bagi bisnis penitipan anak, karena hanya berkisar sekitar beberapa menit saja. Tetapi bila diakumulasikan secara total maka biaya operasional yang harus dikeluarkan ternyata besar juga. Kasus yang nyaris serupa terjadi apda seorang rekan saya (mitra siaran di radio Zora Bandung), Alhamdulillah rekan muda yang satu ini memiliki jiwa kewirausahaan yang amat kuat, sehingga meskipun masih duduk di bangku kuliah sudah emngembangkan bisnis rental mobil pribadi disamping karier kepenyiarannya. Menurut penuturan beliau, seringkali apra pelanggan atau penyewa mobilnya melampaui batas waktu yang telah ditetapkan. Tetapi demi menajga hubungan baik dan sebagai bagian dari proses menservis relasi, maka rekan tadi membiarkannya saja. Ia baru akan menegakkan denda ataupun penalti bila waktu keterlambatannya sudah emlebihi 2 jam. Apa yang terjadi pada kedua usaha jasa ini ? Ketika mereka mulai mengakkan aturan dan memberlakukan program denda, maka justru pelanggan yang “terlambat” semakin bertambah banyak jumlah dan frekuensinya ! Apa yang terjadi ? Ketika sangsi pada akhirnya dilegal-formalkan dan menjadi semacam ritual normatif maka rasa sungkan dan tidak enak hati akan luntur. Azas “tidak enak hati” ini dipopulerkan oleh seorang psikolog persuasif Italia yang bernama Roberto Cialdini sebagai azas resiprositas. Terjadi pergeseran nilai dari “tidak enak hati” menjadi “sama-sama enak” !
Air juga mengajari kita tentang fleksibilitas dan dualisma, dimana satu molekul air dapat menajlin hubungan yang harmonis dengan dua jenis ion yang karakteristiknya nyata-nyata berbeda. Kemampuan untuk “merangkul” semua golongan ini tampaknya mutlak kita pelajari, mengapa ? karena selama ini kita senantiasa mengedepankan pola orientasi ke dalam. Ada saatnya kita harus pula mengembangkan pola yang ebrorientasi “melingkar” seperti air, jadi baik ke dalam maupun keluar dapat berjalan di waktu yang bersamaan. Kepentingan internal kita akan dapat bersinergi dengan kepentingan unsur-unsur lain di luar kita. Ikatan ion akan terjadi bila air bertemu dengan sebuah molekul yang terdiri dari anion dan kation yaitu ion bermuatan negatif dan ion bermuatan positif. Seperti dalam proses pelarutan garam dapaur, sisi positif air akan berinteraksi dengan sisi negatif ion (Cl-) sebaliknya juga demikian sisi negatif air akan berikatan dengan ion natrium. Dengan demikian air juga berfungsi sebagai perekat, pemimpin, dan koordinator dari sebuah orkestrasi unik ionik. Marilah kita teladani peran air yang dapat menjadi “juru damai” kepentingan yang senantiasa menerpa dan merupakan bagian dalam keseharian hidup kita. Dua hal yang semula bermusuhan dan bertolak belakang, berkat peran mediasi air akan dapat mengoptimalkan fungsinya masing-masing.
Salah satu keajaiban air lain yang patut untuk kita renungi adalah fenomena berat air. Bobot air paling berat adalah pada suhu 4 derajat celsius. Sehingga kita dapat menemui sebuah fenomena unik Air laut beku di daerah antertika ternyata hanya etrdapat di sisi permukaannya saja. Air laut yang lebih hangat dengan suhu sekitar 4 derajat justru emnajdi media apung bagi lapisan es di atasnya. Konsep ini dapat kita petik hikmahnya sebagai sebuah kebijakan dalam menciptakan ruang hidup dan ruang-ruang ebrkspresi. Allah dengan sangat sistematis telah memebrikan kemudahan dan keleluasaan bagi makhluk-makhluk aquatik di daerah kutub untuk terus dapat emmepertahankan eksistensi kehidupannya. Kita sebagai amkhluk Allah yang secara eksplisit telah ditunjuk untuk menjadi khalifah ataupun perpanjangan tangan Allah SWT di muka bumi, semestinya dapat meneladani akhlaq air yang teramat mulia itu. Kita seharusnya senantiasa menyediakan ruang-ruang ekspresi bagi unsur-unsur dan elemen-elemen lain dalam kehidupan. Sudahkah kita memberikan ruang yang cukup agar anak-anak kita, istri atau suami kita, tetangga kita, rekan kerja atau sekolah kita sebuah ruang kondusif untuk menentramkan hatinya ? Gangguan afeksi yang terjadi pada sebagain besar manusia Indonesia saat ini, salah satunya karena adanya gangguan ataupun hambatan di slah satu fase tumbuh kembang psikologi. Seorang anak yang direpresi dan ditekan terus menerus akan emnbgalami perlambatan fase oral. Mengapa demikian ? Fase oral adalah sebuah fase dimana hubungan primordial dengan ibu dan kehangatan alam rahim biasanya dimanifestasikan dalam bentuk kontak-kontak dengan daerah sensistif di bibir dan mulut. Keadaan ini mengingatkan seorang manusia pada sebuah memori kinestetik yang menghantarkan kita kepada proses mengulum ibu jari yang kita lakukan ketika kita berada di dalam rahim yang rahmah. Lalu bibir, lidah, dan mulut yang mengulum ibu jari juga akan menghantarkan sistem limbik dan hipokampus kita untuk mengenang masa-masa bahagia ketika air susu ibu yang hangat bukanlah barang eksklusif yang sulit untuk mendapatkannya. Mengapa kini kita “senang” menghambat aliran kasih sayang kepada sesama manusia dengan cara menutup dan mempersempit ruang-ruang ekspresi sesama kita ? Sekolah dan target-targetnya yang disertai rangking menjadikan tujuan pendidikan bergeser dari semula upaya meningkatkan kualitas manusia menjadi sekedar sebuah bengkel las untuk membangun “robot-robot” peradaban. Lalu di balik semua topeng dan kepalsuan, anak-anak kita terlahir dengan kecemasan yang mewarnai alam bawah sadarnya. Ketakutan akan masa depan yang materialistik tercermin dari tingginya tingkat depresi yang dialami oleh sebagian besar kaum urban di perkotaan. Ketakutan dan kecemasan sistematik itu bagiakan sebuah “seismic gap” yang tercipta karena adanya rekahan-rekahan lempeng bumi yang berpotensi untuk saling bertumbukan. Ketika tumbukan itu terjadi, maka kelembaman materi yang terkena gaya akan menghantam dalam bentukan gelombang Tsunami yang menghancurkan. Sistem-sistem sosial, peradaban, dan budaya kita dapat digambarkan sebagai “energi-Energi” tak kasat mata yang emnciptakan “seismic gap”, dimana sewaktu-waktu tumbukan kejenuhan terjadi maka badai kehancuran akan merontokkan setiap pertahanan jiwa manusia. Sistem yang kejam dan menempatkan sosok manusia sebagai sebuah alat atau bagian dari roda kehidupan yang emkanistik akan direkam oleh gen-gen yang gelisah. Seorang anak yang dibesarkan dalam ketakutan, kecemasan, kegelisahan, dan kekalutan seolah “direndam” di dalam saus hormon kemuraman (frown hormone). Maka kini kita mengenal dunia yang sarat dengan kesedihan, kegetiran terasa dimana-mana, gejalanya membekukan dan mematikan sebagain dari hati. Mengapa kita tidak belajar dari air yang dibalik “kekerasan” bentukan kristal esnya, ternyata ia menyimpan kelembutan yang cair dan menghanyutkan !
Bisakah juga kita meneladani gaya Van Der Walls yang diperankan air ? Ketika berada dalam jarak optimal sangat erat ikatannya dengan molekul sekitarnya, sedangkan bila berada dalam keadaan jauh maka dapat saling hidup mandiri, serta bila sangat dekat justru akan saling tolak menolak. Hikmah apakah yang bisa dipetik di balik semua fenomena ini ? Kembali air mengingatkan kita kepada prinsip dasar konsep “amanah”. Allah SWT telah menganugerahkan kepada kita anak,suami atau istri, keluarga, rekan, lingkungan yang indah dan kondusif, kutu kepala, lalat, semut, dan nyamuk serta banyak lagi alinnya yang sulit untuk disebutkan satu-persatu, lalu kita mengembangkan konsep kepemilikan dan kapitalisasi. Semua yang dititipkan kita sertifikasi emnajdi “hak milik”. Rasa memiliki yang sangat kuat ini biasanya beralasan karena “mencintai”. Bukankah sesuatu yang dicintai menjadi wajar apabila “dijaga” dan “dilindungi” ? Pertanyaan sesungguhnya adalah, siapakah yang dimiliki dan memiliki ? Karena sebenanrnya semua manusia menyadari bahwa konsep kepemilikan di alam dunia ini semu belaka, yang diberikan keapda kita hanyalah “Hak Guna Pakai” saja dan bukan hak milik yang berkekuatan hukum tetap. Hukum yang kita jadikan acuan saja tidak berkekautan tetap, dan hanya berdasarkan akalmasi dan konsesnsus semata, apalagi soal kepemilikan dan hhak atas sesuatu yang nyata-nayat bukan milik dan ciptaan kita. Manusia yang terjebak dalam rasa kepemilikan yang teramat dalam akan terbenam dalam sebuah lautan yang rasa “asin” garamnya akan memberikan dampak seperti rasa “asin”nya air laut. Apda saat kita kehausan di tengah laut, semakin banyak kita reguk air laut yangasin maka kan semakin hauslah kita. Semakin banyak air laut kita minum selain semakin haus maka semakin pula kita tidak bisa membuang air kecil. Tubuh kita akan membengkak dan sela-sela jaringan tubuh kita dipenuhi oleh deposit air laut. Mengapa demikian ? Semakin tinggi konsentrasi garam di air, khususnya kadar ion natriumnya, maka akan semakin reaktif pula cairan itu menarik molekul air. Proses tarik menarik ini dapat terjadi akrena adanya sifat khusus ion natrium dan fenomena kimia-fisika yang disebut osmosis. Perostiwa osmosis terajdi apda saat cairan dengan konsentrasi dan tekanan osmotik tinggi akan menarik sebagai cairan hipotonis yang etrpisah membran dalam rangka menyetarakan konsentrasi muatannya. Inilah satu lagi contoh dari sistem Allah SWT yang Maha Seimbang. Manusialah yang menggangu proses kesetimbangan ini dengan melakukan tindakan-tindakan yang tidak memiliki dasar keilmuan ! Fenomena ini sekaligus dapat menganalogikan “rasa haus” akan kebutuhan duniawiah yang bersifat sangat-sangat sementara. Jiwa-jiwa kita menjadi resah dan sistem fali tubuh kita tentu akan segera berubah, kacau balau tak tentu arah.
Hikmah lain dari air yang Subhanallah, sangat luar biasa, adalah bentukan struktural molekul dan kumpulan/kelompok molekulnya. Pada perhitungan teoritis yang mengacu dan berdasar kepada jenis ikatan dan atom yang terlibat dalam pembentukan moleku air, maka didapatkan air molekul air yang terdiri dari 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen akan memiliki bentukan 3 dimensi menyerupai prisma dengan sudut angulasi sebesar 109,50 atau kira-kira sama dengan sudut yang kita bentuk pada saat melakukan proses sujud dalam ibadah shalat ! Air ternyata tidak hanya bertasbih, tetapi juga bersujud, menyerahkan dirinya kepada Allah SWT dengan ikhlas dan menjalankan fungsinya secra kaffah. Ternyata air yang bersujud dapat menjalankan perannya dengan sempurna, tentu demikian pula dengan kita, bila proses sujud kita benar adanya dan dilandasi niat yang lurus, maka Insya Allah sikap kaffah kita sebagai makhluk Allah akan maujud dalam perilaku keseharian kita. Sabar dan shalat adalah penolong kita, tentu bila kita menjalankannya dengan sempurna. Untuk menjadi sesempurna air tentu sulit, karena kita manusia dikaruniai akal yang mendorong kita untuk senantiasa “menguji” diri kita sendiri, dengan soal-soal yang yang juga selalu kita ciptakan sendiri ! Pada saat kita bersujud sebenarnya tidak saja secara psikologis kita menempatkan diri dalam posisi terendah di hadapan Allah, melainkan pula secara fisik ataupun postural kita “belajar” berendah hati dan berendah diri. Di hadapan Allah minder itu wajar kok ! Di hadapan orang-orang yang sholeh malu itu wajib kok ! Pada saat secara psikologi dan postural kita bersujud merendahkan diri, maka akan terjadi suatu proses pendobrakan terhadap dinding yang disebut oleh Gray sebagai “Behavioural Inhibition System”. Yaitu suatu sistem pengatur perilaku yang kerjanya membatasi rasa ketidaknyamanan dan rasa “kalah” yang menyedihkan. Apdahal bersikap rendah hati dan bahkan rendah diri adalah sebuah ketidaknyamanan yang luar biasa. Pada saat kita bersujud terjadi suatu proses integratif yang diperankan oleh beberapa sistem fisiologis tubuh secara bersamaan. Posisi dengan letak dahi menempel di lantai dan sejajar dengan lutut menimbulkan titik gravitasi terbesar pada bagian frontal korteks serebri. Bagian ini adalah bagian yang mengembangkan konsep-konsep rasional. Rasionalitas kita akan terfokus, terkonsentrasi, dan tersedot menuju satu arah secara konvergensial. Mengkerucutnya logika dan rasionalitas ini akan diikuti oleh “keruntuhan” sistem emosi dan memori dan memudarnya konsep-konsep ketidaknyamanan. Mari kita perhatikan, bila shalat kita terpaksa atau hanya karena menjadi sebagian dari obligasi sosial, maka rasa malas dan enggan akan menghantui pada saat akan mulai melaksanakannya. Tetapi bila rasionalits telah terkonsentrasi dan semua perilaku yang didasari oleh keinginan untuk pemenuhan kebutuhan duniawiah masih mendominasi jalur “Behavioural Activation” dan “Inhibition System” kita maka shalat semata hanya akan menjadi sebuah ritual saja. Terintegrasinya aspek hormonal, psikososial, dan fisikal dalam sebuah ritual shalat memang sebuah keniscayaan. Mengapa misalnya shalat diwajibakan untuk dilakukan pada waktu-waktu tertentu, dan tidak bisa kita kerjakan kapan saja dan seenaknya ? Karena pemilihan waktu yang tepat juga merupakan kunci keberhasilan shalat. Apa indikator dari shalat yang berhasil ? Hati menjadi tenang, sifat sabar menjadi dominan, dan logika menjadi jernih, kemudian cara bersikap dan berperilaku kita pada gilirannya akan “menolong” diri kita sendiri. Inilah yang dimaksud oleh Allah SWT sebagai jiwa-jiwa yang muthmainah, tenang dan penuh dengan keridhoan-Nya. Jiwa-jiwa inilah yang akan rukun, sakinah, mawwadah, warrahmah dengan keluarga besarnya, keluarga besar seluruh elemen ciptaan Allah SWT. Orang yang berhasil shalatnya tidak akan menginjak atau melangkahi sebutir kerikilpun tanpa sempat ia berpikir tentangnya. Jiwa shalat adalah jiwa empatis, yang emndorong kita untuk emnjadi khalifah yang rahmatan lil alamin. Allah merancang dan menciptakan kita dalam bentuk jejaring yang berhubungan dan berkesinambungan. Saya pribadi agak kurang setuju ketika seorang ahli gempa dari Badan Meteorologi dan Geofisika menyatrakan bahwa berbagai gempa yang terjadi ditanah air kita belakangan ini saling tidak berhubungan. Tetapi sekali lagi sang ahli gempa juga benar, dalam artian ia memang harus berperan seperti itu untuk merangsang kita bertanya dan berpikir. Dengan demikian setiap unsur ciptaan Allah ternyata emmiliki arti dan peran yang jelas. Kita yang terdorong untuk berpikir kemudian akan mengembangkan pengamatan. Beberapa hari setelah gempa tektonik dahsyat yang mengguncang pantai selatan Jawa, terjadilah hujan badai yang cukup hebat di seputaran kota Bandung. Kristal es seukuran ibu jari orang dewasa berjatuhan bak dicurahkan dari sebuah freezer di langit yang pintunya terbuka. Apakah fenomena alam ini berhubungan dengan Tsunami di Pangandaran ? Insya Allah tentu ada ! Dinamisitas dan kelembaman adalah ciri energi Allah yang senantiasa berputar dan bergerak terus untuk mencapai tujuan hakikinya. Perubahan kolom air sebesar yang terjadi di saat tsunami hampir dapat dipastikan merubah karakter siklus hidrologi, belum lagi perubahan muatan medan elektromagnetik yang muncuk karena friksi dan percepatan perjalanan gelombang. Pernah dengar seorang remaja usia belasan tahun di salah satu negara Anglo Saxon yang tersambar petir karena asyik masyuk berHP ria di saat hujan ? Di sekitar tempat ABG tersebut berteduh, tumbuh subur berbagai jenis pohon rindang yang batangnya tinggi menjulang. Dalam kasus ini prinsip dasar bahwa petir akan menyambar tempat tertinggi untuk “membumikan” muatannya, untuk melepaskan kerinduan para elektronya, ternyata bisa berubah tujuan di saat ada stimulans. Dalam hal ini pancaran gelombang mikro dari piranti seluler yang berbasis gelombang elektromagnetik “menggugah” barisan elektron petir untuk berempati dan “mampir” untuk mengajak saudara-saudaranya mengikuti perjalanan “merindui” bumi ! Sekecil apapun intensitas faktor pengubah tentulah akan menghasilkan resultante perubahan yang signifikan secara proporsional. Perubahan terjadi secara linier meskipun terdapat beberapa faktor pereduksi (distorsi) dan juga faktor penguat (stimulan sekunder). Arah perubahan bergantung kepada interaksi yang terjadi, tetapi perubahan itu sendiri pasti, pernahkah anda melihat air sungai yang sama 2 kali ? Sungai yang kita lihat dan beri nama sebenarnya bukanlah sungai yang sama lagi saat keesokan harinya kita sambangi lagi. Air dan dasar serta tepiannya adalah selalu baru. Molekul air baru, pasir baru, lumpur baru, dan juga ikan dengan sel-sel tubuh baru. Sel tubuh kitapun senantiasa berubah, sebagian tumbuh sebagian lagi menua dan mati. Kita inipun bukanlah kita sesungguhnya, kita adalah sesosok yang selalu perlu dimaknai lagi dan dikenali lagi terlebih dahulu. Siapakah aku kini ? Dan siapakah aku nanti ?
Kembali kepada keutamaan shalat yang pada awal paragraf ini kita bicarakan berangkat dari sujudnya air, maka kini layak kiranya kita bahas dari sudut pandang waktu. Mengapa shalat harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan ? Sebagai bagian dari sistem Allah yang terintegrasi, maka manusiapun tidak terlepas dari sebuah interaksi hirarkial dan saling mempengaruhi yang berlaku sebagai suatu hukum (Sunatullah). Manusia adalah bagian dari tata surya, maka kita memiliki hubungan yang sangat erat dengan matahari sebagai sebuah reaktor kehidupan. Yang kita petik dari matahari bukan hanya sekedar energi fosfat melainkan juga keteraturannya sebagai inti orbital. Kondisi ini dapat dicermati pada fenomana siklus sirkadian tubuh manusia yang diatur oleh hormon-hormon harian. Kelenjar Pineal di tengah-tengah batok kepala kita berespon dengan sangat sensitif terhadap peredaran (manzilah) matahari dan rembulan. Coba kita lihat dan renungkan rembulan yang mampu menimbulkan pasang, apakah darah kita tidak lagi cair dan bebas gravitasi ? Maka tak heran bila pada malam-malam bulan purnama ada hal-hal “aneh” yang terjadi pada manusia dan juga cumi-cumi. Darah yang naik ke kepala karena gravitasi akan dapat memunculkan aktivasi kelenjar-kelenjar hipotalamus dan hipofise. Bila pada keluarga cumi-cumi kondisi ini akan merangsang hormon-hormon reproduksi, maka pada manusia semestinya bisa meningkatkan arus impuls dan menimbulkan pusaran logika. Maka tak heran bila di malam-malam purnama kita kelebihan energi dan bermain-main di bawah romantisnya sinar rembulan. Secara garis besar hormon sirkadian (ACTH dan Kortisol) manusia naik dan turun mengikuti siklus alam. Shalat Fardhlu dan Qiyamul lail menjadi utama salah satunya karena waktu yang diperintahkan untuk emlakukannya menjadikan kita berlatih untuk senantiasa tampil optimal. Bangun disepertiga malam sebenarnya sangatlah berat dan menyulitkan bagi kita yang amat mencintai kenyamanan, bahakan terkadang rasa cinta itu melebihi segalanya. Dengan rutin bangun disepertiga malam maka hormon “tegang” kita yang biasa mengiringi kondisi tidak nyaman (ACTH dan Kortisol) akan tertata dan menjadi terbiasa untuk tidak bersikap reaktif. Kondisi alam di sepertiga malam juga dapat membuat tubuh kita merasa tidak nyaman, kadar oksigen minim karena di malam hari semua makhluk hidup bernafas dan tidak ada yang berfotosinetsis memproduksi oksigen. Khusus disepertiga malam, kondisi ini menjadi lebih ekstrem karena “cadangan” oksigen sudah semakin berkurang, maklum terus menerus dikonsumsi. Regurgitasi dan peningkatan viskositas terjadi di pembuluh dan aliran darah karena adanya pengaruh gravitasi, kadar oksigen yang kurang, dan banyaknya sisa metabolit yang terlarut. Dan bila kita berhasil bangun kemudian berwudhu, menetralkan muatan negatif, maka untuk selanjutnya kita sudah memiliki settingan yang adaptif bagi sistem tubuh kita. Hormon seimbang dan kurva sirkadian akan mendekati garis lurus. Cirinya ? Jiwa tenang dan emosi relatif stabil. Shalat Subuh sebagai pembuka hari akan meredam hormon adrenalin yang diproduksi sebagai akibat “kecemasan” yang berlarut semalaman. Ketegangan dan ketakutan terhadap datangnya hari baru yang “tidak jelas” akan berdampak apa pada diri kita membuat pagi menjadi segmen waktu yang amat sensitif. Ketenangan hati setelah shalat Subuh adalah modal utama dalam menata hari dan menata hati. Shalat Dhuha adalah penguat yang tepat karena membantu hormon sirkadian untuk senantiasa berada di garis yang lurus (Ihdina shirottolmustaqim). Shalat Dzhuhur dengan shalat sunat rawatibnya yang maksimal menjadi ajang optimalisasi pengendalian diri. Apda saat inilah garis lurus ACTH dan Kortisol tercipta. Kondisi ini diikuti oleh optimalnya kadar hormon lainnya seperti serotonin, Pre Opioid Melano Kortin, Enkefalin, dan Endorfin. Sebaliknya Dopamin dan Norepinefrin serta Skotofobin menurun. Pada kondisi ini seseorang akan kehilangan mood terhadap hawa nafsunya, karena sistem hormon batang otaknya tereduksi. Ini bagi yang shalat dan shalatnya benar. Kondisi yang dirasakan adalah pikiran kita seolah emlayang-layang, sebagian dari kita menyebutnya “mengawang-awang”, seperti mengantuk tetapi tidak tidur. Apda saat inilah sebenarnya saat yang paling tepat untuk menggunakan kemampuan akal dalam hal analisa dan logika. Mengapa ? karena apda saat ini sesungguhnya otak dan sistem kecerdasan kita tidak dipengaruhi secara dominan oleh nafsu. Akibatnya produk-produk pikirannya bisa lebih bersifat “Lillahita’ala”, dan bukan “saya” ta’ala, sebuah fenomena yang disiratkan oelh Allah SWT sebagai syirik kecil alias Ria’. Para pengambil kebijakan di bidang pendidikan dan sumber daya manusia sebanranya haruslah memperhatikan kenyataan ini. Karena segala sesuatu yangt diekrjakan sesuai dengan ilmu dan “maqom”nya maka ia akan menghasilkan hasil yang optimal. Pagi hari sampai saat dhuha semestinya dipertimbangkan sebagai waktu untuk relaksasi dan menumbuhkan kedamaiana serta ketenangan, mengingat hormon gelisah kita ketika itu tengah bergolak. Pelajaran dan alokasi waktu kerja yang tepat akan menghasilkan kinerja yang jauh lebih baik. Pada pagi hari pelajaran budi pekerti dan aqidah serta penuntun akhlaq mulia tepat kiranya diberikan. Dalam dunia kerja waktu pagilah waktu yang ideal dalam pembenahan komunikasi bisnis ataupun perbaikan pola-pola interaksi. Selepas Dhuha dapat dipertimbangkan pelajaran-pelajaran dan aktivitas kerja yang mengedepankan ketelitian dan kecermatan. Di satu sisi aktifitas adrenalin dan dopamin mulai menurun tetapi masih cukup tinggi, sementara hormon-hormon kecerdasan mulai “terbit”. Gabungan potensi hormonal ini dapat disalurkan dalam hal-hal yang memerlukan setengah potensi cerdas dan setengah potensi cermat. Usai Dhuhur tepat sekali untuk dijadikan masa-masa menganalisa dan memunculkan gagasan kreatif. Daripada mengkonsumsi narkoba untuk emndapatkan efek mengawang-awang, lebih baik sholat Dhuhur beserta sunatnya. Matematika, fisika, Biologi, Kimia dan Seni tepat dikerjakan di saat ini. Antara Azhar ke Maghrib, hormon sabar kita memuncak, sementara hormon cerdas masih tinggi. Sebaiknya kondisi ini dipergunakan untuk saling menasehati dan mengasihi orang-orang disekitar kita. Hadis tentang pengendalian marah yang meminta kita agar duduk ketika sedang berdiri dan berbaring ketika telah duduk masih marah juga dapat ditafsirkan sebagai indikator waktu. Bila marah terpicu di pagi hari maka tundalah menjai agak siang dan tundalah lagi sampai senja datang. Marah di sore hari tidak lagi melibatkan nafsu dan memori dendam, emlainkan semata didasari oleh rasa sayang dan mengasihi. Waktu ini jugalah yang idela untuk dipergunakan sebagai waktu olahraga berintensitas tinggi. Kondisi sitem tubuh yang tidak didominasi oleh persyarafamn simpatis akan emnajdikan olahraga di sore hari dapat dilakukan dengan “sukarela” oleh semua sistem tubuh. Bayangkan bila olahraga berat dilakukan di pagi hari, maka sistemm tubuh kita yang bverada dalam kondiri “tegang” justru akan berespon negatif. Maklum darah masih kental (viskositas tinggi), kortisol tinggi, adrenalin tinggi, dan semua faktor itu akan dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah koroner misalnya. Lebih parah lagi bila ternyata aktivitas radikalisasi molekul meningkat, maka faktor resiko penyakit justru bertambah. Waktu antara Maghrib ke Isya adalah waktu ideal untuk berkontemplasi dan mengevaluasi diri. Hormon takut mulai terbit dan menyentil perasaan kita agar ingat bahwa hidup itu sebenarnyalah hanya sementara. Tidurlah selepas Isya karena itulah waktu yang paling ideal bagi tubuh untuk beristirahat. Sebuah proses tidur yang dibuai oleh hormon endorfin yang melenakan, sebuah tidur yang mimpinya Insya Allah adalah hadiah karangan bunga dari Allah.

Subhanallah, kehebatan air bukan hanya itu saja, sekumpulan molekulnya ,terutama dalam keadan membeku atau dalam bentuk kristal es, dapat membentuk struktur heksagonal yang sangat efisien dan indah itu. Konsep geometris heksagonal pada kristal es ini mengingatkan kita pada bentuk dan struktur sarang lebah yang demikian indah, fungsional, dan efisien. Bila Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran dan perbandingan yang sistematis, apakah struktur heksagonal ini juga merupakan bagian kesetangkupan geometris ? Mengingat prosentase air yang sama persis antara di bumi dan yang terkandung di dalam tubuh, apakah bentuk kristal es yang mirip dengan bentukan sarang lebah juga merupakan mata rantai kesistematisan Allah ? Insya Allah memang demikian adanya. Struktur heksagonal ini mungkin dapat dikatakan sebagai “divine structure” sebagaimana juga ada angka Phi yang merupakan “divine proportion” atau angka proporsi agung. Keteraturan dan keseimbangan memang merupakan ciri yang sangat khas dalam setiap unsur dan elemen kesemestaan. Tapi yang ingin penulis angkat dan sentil di sini, apakah struktur heksagonal itu hanya sarang lebah dan kristal es ? Sebagai “divine structure” tentunya heksagonal akan mudah dan banyak ditemui. Masih ingat kurva Koch ? Bahwa segi tiga sama sisi bisa menjadi bagian dari semua struktur yang ada di muka bumi ? Bagaimana segerumbul rumpun semak ternyata terdiri dari milyaran segi tiga yang disusun sedemikian sehingga tidak lagi bersudut dan dapat berbentuk organik ? Struktur heksagonal banyak sekali terdapat di sekitar kita, hipotesa penulis bahkan gelombang dan partikel cahaya juga berstruktur heksagonal. Selama ini pertanyaan yang berkisar pada konsep dasar cahaya adalah apa hakikat sebenarnya cahaya ? Fisika kuantum telah sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa cahaya terdiri atas paket-paket kuantum, dimana di dalamnya foton berperilaku sebagai partikel dan juga mencerminkan sifat-sifat gelombang. Mari kita perhatikan percobaan Thomas Young yang ditujukan untuk membuktikan efek difraksi gelombang cahaya, cahaya yang lolos dari celah bidang pembatas akan menimbulkan daerah terang di dinding sebelah belakang bidang pembatas. Cahaya terdifraksi sempurna menjadi semacam lingkaran terang, perhatikan tepian dari lingkaran terang itu, apakah mulus ? Tidak, tepian lingkaran tampak bergerigi. Tepian bergerigi itu membuktikan adanya sekumpulan paket kuanta yang memiliki bentuk atau struktur geometris khusus. Dan struktur geometris yang paling mungkin adalah bentukan heksagonal. Struktur ini pula yang dapat menerangkan fenomena pita cahaya pada percobaan celah ganda, dan pemilihan arah pada percobaan pistol foton. Mengapa ? Karena untuk dapat beradaptasi dan memerankan kecerdasan kinestetik fungsional, sebuah partikel haruslah berada dalam unit satuan yang memiliki struktur geometris paling adaptif dan paling efisien dalam merespon perubahan. Tampaknya struktur heksagonallah yang dapat mewadahi kepentingan-kepentingan tersebut.
Bila kita terbiasa beribadah dengan visualisasi 3 dimensi sebagaimna kita memandang dunia selama ini, maka Kakbah akan tampak seperti apa yang ingin kita lihat, yaitu bernetuk kubus. Tetapi bila kita dalam beribadah dapat menghablurkan dimensi virtual dan melintasi batasan-batasan dimensi, maka kakbah dapat terlihat terlipat menjadi heksagonal. Mengapa demikian ? Ini adalah sebuah kenyataan yang meskipun pahit “wajib” untuk kita akui dan bersama-sama kita perbaiki. Sebagian besar ibadah kita masih terjebak di dalam dimensi simbol. Dimana bila kita sholat maka yang menjadi bagian dari persepsi visual kita adalah gambaran ebuah kotak batu bernama Kakbah yang menjadi muara segala doa. Keterjebakan kita dalam dimensi simbol menjadikan kita “sulit” untuk melihat sisi-sisi lain yang mungkin mengandung nilai kebenaran absolut. Kita sulit untuk melihat “bentukan” lain dari Kakbah selain yang sudah terpatri di benak kita sebagai sebuah bangunan berbentuk kubus yang statis. Keterjebakan kita dalam dimensi simbol pada gilirannya akan mempersulit kita untuk mengurai makna dan kebenaran di balik tanda. Dalam ilmu semiotika, simbol dan tanda sesungguhnya hanyalah representasi dari sebuah bentuk komunikasi dengan tataran yang lebih tinggi. Jadi menjadikan sebuah simbol atau tanda sebenarnya sudah merupakan suatu proses degradasi, penurunan kualitas. Kenapa bisa begitu ? Karena melalui penandaan dan penyimbolan proses komunikasi akan mengenal sebuah faktor yang bernama distorsi. Distorsi akan semakin besar dan jurang perbedaannnya melebar bila antara komunikator dan komunikans (orang yang menyampaikan dan orang yang menerima informasi) memiliki latar belakang budaya dan antropologi yang berbeda. Simbolisasi memang ditujukan untuk menumbuhkan kesepahaman dan pengerucutan permaknaan, tetapi bila kita tidak memiliki pengetahuan untuk “membaca” apa yang sesungguhnya ada di balik tanda, maka kita justru akan kehilangan kesempatan memaknai pesan yang disampaikan. Sholat dan juga zikir, serta doa adalah sebuah proses komunikasi antara kita dengan Allah SWT, bila sholat, zikir, dan doa kita terjebak dalam dimensi simbolis maka kita akan kehilangan kesempatan untuk memaknai kebenaran-kebenaran yang berada di balik tanda. Dalam kemaha proporsionalitasan Allah dan keruntutan sistem ciptaan-Nya terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir, termasuk kita, Insya Allah. Keruntutan struktur menjadi sebuah ciri yang wajib kita cermati. Bila kita melaksanakan ibadah semata hanya menuju kepada simbol, maka kita akan kesulitan untuk memasuki dimensi ibadah yang bersifat virtual. Padahal hampir setiap jenis ibadah kita berada di dalam dimensi virtual, bukankah tidak setiap hari kita apat shalat di depan kakbah, atau bahkan mungkin tidak setiap orang mendapat kesempatan untuk shalat di depan Kakbah ?. Desimbolisasi ditunjukkan oleh struktur Kakbah, bila semula kita hanya melihatnya dalam bentuk kubus 3 dimensi, maka pada persepsi 2 dimensinya akan tampak bentukan heksagonal. Memang tidak penting membedakan antara struktur kubus dan heksagonal, tetapi yang terpenting adalah Allah memerintahkan kita beribadah dengan cara melakukan dekonstruksi nilai dan dekonstruksi persepsi dimana nalar tidak lagi dikerangkeng oleh ruang, dimana Allah bisa berada dimana saja dan bahkan lebih dekat dari urat nadi kita ! Penjelajahan dimensi virtual akan menghantarkan kita kepada pemahaman-pemahaman baru tentang kemahasisteman Allah yang senantiasa akan selalu dapat kita jumpai di setiap peristiwa. Allah memerintahkan kepada kita untuk senantiasa ber-Iqra, mengupas lapisan kebenaran dan mencari sebuah jawaban. Kakbah yang heksagonal memberikan pencerahan kepada kita, bahwa dibalik citra yang teramati masih banyak nilai kebajikan lain yang harus dipelajari, dengan demikian Kakbah tidak akan menjadi sekedar bangunan batu kotak penentu arah shalat belaka, melainkan sebuah bangunan suci yang merupakan pintu gerbang pengetahuan dan titik awal pelipatan dimensi, dimana kebenaran relatif yang selama ini diyakini ternyata masih dapat lagi dipertanyakan ! Dimana keyakinan terhadap suatu nilai yang telah diaksepsi selama ini, masih harus dilipat lagi agar dapat teruji kebenarannya.Kakbah heksagonal adalah Kakbah validasi, dimana semua pemikiran dan pendekatan harus menjalani proses kalibrasi atau penyesuaian dan standarisasi. Keterperangahan dan keterjebakan pada bentukan-bentukan 3 dimensional akan menjadikan kita melupakan misi untuk mencari serta mempelajari prinsip-prinsip dan struktur dasar yang terkadang justru merupakan hakikat sesungguhnya. Hal ini dapat dicontohkan seperti seseorang yang asyik masyuk menjalankan ritual syariah tanpa mencoba untuk lebih mendalami pemahaman terhadap aqidah. Seharusnya keduanya dapat dikerjakan sejalan-seiring, segendang-seirama, sehingga kita terbiasa dan terlatih untuk mengembangkan sistem ibadah dan menganalisa makna hidup secara multidimensional.
Fenomena simbolisasi ibadah ini pada akhirnya akan dapat termanifestasi dalam sebuah konsep “waralaba doa” ataupun “franchise ibadah”, dimana ikon atau simbol ibadah yang kuat diprasangkai akan dapat memuluskan harapan serta doa-doa kita. Pola komunikasi kita dengan Allah yang Maha Tahu seolah kita distorsi sendiri dengan asumsi. Sebuah asumsi bahwa Allah akan lebih memperhatikan serta mengapresiasi doa atau ibadah yang di”delegasikan” kepada orang “sholeh”. Tentu saja doa orang sholeh makbul dan lebih didengar oleh Allah karena “prestasinya”. Bisa berada dalam posisi yang eksklusif dan dekat dengan Allah tentu sebuah kesempatan langka, yang memungkinkan terciptanya akses “kilat khusus”, tetapi tentu saja itu berlaku secara personal dan bukan berarti “doa-doa dan ibadah titipan” akan menapat perlakuan yang sama. Allah berada dekat sekali dan bahkan menyatu dengan diri kita, sebelum seuntai harapan kita bisikkan Allah sudah jauh-jauh sebelumnya mengetahui. Ikon, simbol, dan tanda biarlah menjalankan perannya sebagai “guideline”, petunjuk untuk mengakses jalan yang lurus dan Insya Allah benar. Mari jadikan ikon atau simbol Kakbah yang kotak 3 dimensi itu peta, kita lipat dari benak kita dan sisipkan erat-erat tepat di mata hati kita !

Manajemen Marketing mengacu pada Keutamaan Air
Paradoksial air-es à semakin rapat semakin renggang, semakin padat semakin jarang. Strategi pemasaran ditengah pasar yang jenuh. Pasar sudah terkepung banjir (sesama air), kita harus menjadi es agar kita dapat terapung memanfaatkan mekanisme pasar. Syarat molekul jarang dan adanya ruang diwujudkan dalam bentuk rantai distribusi dan manajemen logistik (inventory) pada sentra-sentra pemasaran regional (Bandung,Tasikmalaya,Cirebon,Jakrta,Pekalongan,Semarang,Yogya,Solo,Surabaya), tidak perlu menjangkau semua kota dan daerah.
Memanfaatkan azas kohesifitas dan sifat kapilaritas, pola distribusi yang dapat dipergunakan adalah pipe line atau pipa air minum, dengan beberapa reservoir. Pipa pemasaran disini adalah jalur atau komunitas berdasar keminatan. Untuk itu perlu dibangun komunitas khusus dengan cara gathering/bussiness interest gathering. Contoh produk buku buat kelompok proove reader, bedah buku di titik simpul, discount khusus member, performance based and modification MLM,mind identity. (memanjat ceruk kompetitor/mitra) bisa berupa fokus pada produk antara/sekunder bagi rantai produksi dan marketing mitra bisnis kita
Branding (the soul of marketing) dengan manajemen air, yaitu mengoptimalkan hukum alir Bernoulli (merek bergulir) dan Hagen Poisseule, menghitung jari-jari (dalam hal ini ruang lingkup/cakupan pemasaranà target market,segmentasi), dengan prinsip focusing and brand sthrengtening, merek dikuatkan dalam pipa/kapiler,merek dan pencitraan dipompa dengan knowledge endorser berupa up-dating produk dan knowledge sharing (free)
Behaviour identity, penekanan pada perilaku kelompok, misal pada produk buku penekanan dilakukan pada perilaku haus ilmu.
Perubahan wujud dan adaptif à diversifikasi dan perubahan genre produk yang cepat dan dinamis sesuai dengan tuntutan pasar dan iklim lokal. Dalam hal pemasaran kuantitas setiap produk dapat dioptimasi dalam paket-paket quanta, paket produksi kecil dengan daya serap pasar maksimal
Dari poin 5 didapati pengetahuan marketing berupa produk substitusi bisa muncul pada saat bersamaan segaris waktu (real time)
Produk komplementer bisa berlainan sama sekali genrenya dibandingkan dengan produk induk (main product)
Air adalah solusi hidup,media, dan pembawa berbagi unsur kehidupan, tempat semua reaksi metabolisma terjadi. Pemasaran air harus dititik beratkan pada solusi (solute).Pemasaran air mempertemukan sekurangnya 2 elemen produk menjadi 1 kebutuhan konsumen.

“Dan diantara ayat-ayat-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya….” (QS 42;29)
“Dan sesungguh-Nya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan.. “ (QS 23;17)
“Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran…” (QS 23;18)

“Tuhanku mengetahui semua perkataan di langit dan di bumi…” (QS 21;4)

LANGIT DIGITAL MENGATAPI DUNIA KITA
Kita akan segera memasuki suatu era dimana uang tidak akan pernah lagi menampakkan wujudnya. Nilainya akan menjadi semakin seragam dan batasan antara golongan kartal dan giral akan semakin menghablur. Uang, khususnya nilai tukarnya, disebut dimana-mana tapi tak secuilpun wujudnya terlihat. Fenomena ini sudah dimulai, lihat saja yang terjadi di Uni Eropa, dimana mata uang bersama Euro sudah menggantikan berbagai jenis mata uang yang selama ini kita kenal. Mark Jerman, Gulden Belanda, Frank Perancis dan beberapa mata uang lainnya kini sudah menjadi bagian dari sejarah. Dalam skala mikropun secara personal wujud uang semakin termarginalisasikan. Penggunaan kartu kredit dan kartu debet dalam bertransaksi serta semakin berkembangnya sistem pelayanan perbankan bermobilitas tinggi, sudah memungkinkan orang untuk saling mentransfer dana hanya melalui piranti telepon genggam. Pelayanan perbankan berbasis pesan pendek bahkan sudah mampu mengakomodasi fungsi-fungsi perbankan yang meliputi pengecekan saldo, pemindahbukuan, transfer, pembayaran rekening secara digital, dan juga dapat menjadi media transaksi antar benua, antar bank, dan antar moda (internet ke seluler dan sebaliknya). Kini dengan sebuah telpon genggam yang “biasa-biasa” saja seseorang telah dapat melakukan 75% aktifitas bisnisnya. Sebuah telepon genggam yang terkoneksi dengan jaringan maya akan memungkinkan seseorang mengamati pergerakan bursa saham, bursa komoditas, nilai suku bunga, nilai index, nilai tukar mata uang, sampai dengan berita-berita “breaking news” secara sewaktu (real time). Melalui piranti yang sama pula seseorang dapat melakukan presentasi berbasis power point (office), membuat tabel penjualan dengan fungsi spread sheet (excel), dan menjalankan berbagai sistem aplikasi, mengirim e-mail, mengirim foto, video, melakukan video chat (video conference), mencari lokasi dengan GoogleEarth, reservasi dan membayar tiket penerbangan, membayar dokter, membeli obat, belanja sayur di Super mArket, dan banyak lagi fungsi lainnya yang dapat diperankan oleh sebuah piranti telepon genggam. Dunia kita kini menciut, tinggal menjadi segenggaman telapak tangan !
Akan tiba suatu masa kelak, dimana nilai yang “sesungguhnya” akan mulai menggantikan nilai-nilai yang selama ini masih berlabel nominal. Keseragaman nilai tukar akan mengglobal. Tidak masalah siapa yang mendominasi apa, sudah sunatullahnya bahwa mungkin nanti negara adikuasa yang akan menghegemoni percaturan bisnis dan tata nilai ekonomi dunia. Tidak apa, sekali lagi tidak apa, karena semuanya akan bermuara pada sebuah kesetimbangan hakiki, dimana mereka sendiri tidak lagi dapat menentukan nilai-nilai yang mereka tetapkan. Kemarahan-kemarahan dan reaksi-reaksi keras yang selama ini didengungkan oleh berbagai kalangan pada gilirannya akan mereda dan sistem baru akan mulai berjalan dengan sendirinya. Bila nilai tukar mata uang dan distribusi komoditas sudah tidak mengenal sekat dan batas, maka kapitalisme akan berubah wujud menjadi koperasi global. Modal kelak akan dimiliki bersama, dan tidak hanya mengacu kepada sub sistem finansial akan tetapi lebih mengedepankan faktor kontribusi. Uang yang semakin sulit untuk dilacak wujudnya itu perlahan tapi pasti akan berubah menjadi nilai bermakna imbalan (point reward). Pada era ini nilai yang masuk dalam proses perhitungan dan turut menentukan paritas daya beli (purchasing power parity) adalah amal sholeh ! Semakin baik akhlaq seseorang kepada elemen-elemen yang berinteraksi di dalam hidupnya, maka semakin tinggi pula paritas daya belinya. Semakin seseorang disenangi dan tidak dimusuhi oleh masyarakat, terlebih lagi bila ia juga berkontribusi positif pada masyarakat, maka ia akan “dapat” membeli banyak hal dalam hidupnya. Pada masa ini keshalehan sosial sudah menjelma menjadi konglomerasi akhlaq, dimana seorang konglomerat akhlaq akan dapat memetik jatah “kebahagiaan” dunianya sambil sekaligus mendepositokan “kebahagian” akhiratnya ! Bila saat ini sebuah piranti telepon seluler sudah dapat menajdi media “bisnis” yang komprehensif, maka tak usah ragu bila seorang manusia yang jauh lebih canggih dapat melakukan fungsi-fungsi yang jauh lebih optimal.
Sebagai contoh sederhana saja dari peradaban yang akan kita hadapi dan akan kita lalui bersama di era digital ini adalah dalam hal transaksi perdagangan. Saat ini salah satu operator telepon genggam berbasis GSM (Indosat) telah memperkenalkan suatu fitur layanan yang sangat interaktif, yaitu transfer pulsa. Layanan ini sangat inovatif dan sangat memudahkan bagi pelanggan untuk memperoleh pulsa, kapanpun dan dimanapun. Tinggal sedikit lagi saja Indosat memolesnya maka proses transfer pulsa ini sudah akan menjadi alat transaksi yang sangat canggih dan memudahkan. Andai saja Indosat bekerjasama dengan sebuah bank yang juga inovatif seperti (Bank Central Asia) BCA, maka proses tranfer pulsa akan menjadi alat bayar paperless baru di luar kartu kredit dan kartu debet. Skenarionya demikian : Mitra-mitra bisnis Indosat yang merupakan pemilik kartu IM3 dapat menerima pembayaran produk atau jasanya melalui transfer pulsa. Nilai pembayaran disesuaikan dengan nilai pulsa yang ditransfer. Pelayanan ini akan meningkatkan penggunaan kartu prabayar IM3, karena pembeli yang akan berbelanja haruslah sesama pengguna IM3 (saat ini, ke depan mungkin dapat berlaku lintas operator). Insentif atau iming-iming bagi pembeli adalah adanya kemudahan, berbelanja apapun tidak perlu membawa-bawa uang dalam jumlah banyak, bila ternyata nilai pembayaran lebih besar dari pulsa yang dimiliki, maka ia tinggal meminta transfer dari istri,suami, saudara, ataupun rekan yang juga menggunakan IM3. Proses pembayaran sah pada saat proses verifikasi telah diterima di telepon genggam penjual. Keuntungan lainnya adalah dalam proses transaksi ini tidak ada biaya servis dan bunga, karena bukan kredit. Ini adalah salah satu bentuk transaksi tunai di era digital, persis sama dengan fungsi kartu debet, hanya saja pembeli tidak harus menjadi nasabah salah satu bank tertentu, asal saja menggunakan kartu pra-bayar IM3. Selanjutnya Indosat haruslah menjalin kerjasama dengan sebuah Bank yang akan bertindak sebagai agensi pembayaran kembali (refund agency). Contoh simulasinya adalah sebagai berikut : Seorang remaja datang ke sebuah kedai juice dan makanan ringan di stasiun Bandung. Ia memesan 2 gelas juice Melon dan Alpukat ukuran Jumbo seharga Rp.20.000,00,-. Sejenak ia membaca nomor telepon IM3 yang ada di depan mesin register kasir. Segera ia mengetikkan TP 085624xxxx 20000. Tidak berapa lama kemudian piranti telepon genggam kasir berbunyi dan tampak pesan verifikasi dan validasi di layar LCD-nya. Tanpa bon, tanpa uang tunai, tanpa mesin gesek, tanpa mesin debet, dan tanpa buku kas bon hutang, transaksi telah berlangsung dengan mulus. Tahap berikutnya, pedagang Juice yang memiliki rekening di BCA dalam bentuk Tahapan (tabungan hari depan), mengirimkan pesan singkat perintah “refund” ke nomor bebas pulsa milik pusat layanan pelanggan bisnis Indosat. Pulsa yang diuangkan kembali itu secara otomatis akan ditambahkan pada saldo di Tahapan BCA pemilik kedai Juice. Pusat layanan bisnis Indosat akan mengirim konfirmasi bahwa proses “refund” sukses. Pemilik kedai juice tinggal mengakses fasilitas Mobilista BCAnya dan melihat jumlah saldo terakhir. Beres ! Mudah dan sangat praktis. Indosat dan IM3nya dapat dengan agresif mengembangkan pasar, serta merangkul mitra-mitra bisnisnya, terutama di bidang retail dan sektor jasa. Semakin banyak mitra bisnis yang mau diajak bekerjasama, maka akan semakin mudah bagi Indosat untuk menjaring pengguna kartu pra-bayar IM3nya. Program ini tentu saja didukung sepenuhnya oleh BCA, karena dari program ini pihaknya akan mendapatkan banyak sekali nasabah baru dari sektor bisnis, khususnya skala menengah dan kecil.
Akhirnya akan datang suatu masa dimana “transfer pulsa” tidak lagi memerlukan piranti telepon genggam. Kemajuan biometrika akan memungkinkan seorang manusia untuk dipindai oleh manusia dan elemen lain dalam hidupnya. Penilaian ini kemudian dikirim ke pusat data kehidupan. Pusat data inilah yang menjadi bank sentral “nilai tukar”. Setiap kebaikan yang ditabung akan memberikan akses kepada kebutuhan dan kenyamanan yang sepadan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menunjukkan bahwa koneksi antara pikiran manusia dengan perangkat keras di sekitarnya adalah hal yang sangat mungkin untuk diaplikasikan. Sebagai contoh seorang Matthew Nagle yang berusia 25 tahun dan mengalami kerusakan jaringan syaraf motorik yang membuatnya nyaris lumpuh total dapat mengoperasikan sebuah komputer personal dengan bantuan Neuro Motor Prothesa yang ditanamkan (diimplantasikan) di daerah kortex serebrinya. Keberhasilan tim Rumah Sakit Massachussets ini menandai terbukanya kemungkinan-kemungkinan pengembangan sistem komunikasi baru antara manusia dengan lingkungan sekitarnya. Pada generasi-generasi awal, NMP masih dihubungkan dengan komputer personal melalui seutas kabel, tetapi di masa yang akan datang barangkali gelombang mikro, radio, ataupun koneksi blue tooth sudah akan dapat diterapkan. Dengan demikian kita tidak usah terheran-heran bila sekali waktu kita kita akan tiba di suatu zaman di mana perintah-perintah dari otak kita dapat langsung ditransmisikan ke lingkungan sekitar kita. Pada kisah fiksi yang menjadi penutup bab ini, khususnya pada bagian kedua, kita dapat merenungkan, betapa sesungguhnya sistem Allah untuk menilai hamba-hamba-Nya teramat canggih, sistematis, dan melibatkan peran serta aktif dari seluruh elemen kesemestaan. Bila orang sudah mampu mentransformasikan sikap dan perbuatan baik menjadi nilai bermakna di pusat data kehidupan yang selanjutnya dapat menjadi alat tukar dan parameter kesuksesan duniawi, maka bagi Allah tentu tidak ada yang sukar ! Subhanallah.

Games of Life: Aa Gym Side
(DIALOG VIRTUAL ANTARA AA GYM DENGAN USTADZ AAM AMIRUDDIN)

Mari kita bayangkan andai kita dihadapkan dengan sebuah program yang dibangun dengan C++ dimana kita diminta untuk memasukkan perimetri seorang manusia.
Andai pula kita adalah seorang Aa Gym yang senantiasa menyerukan kebenaran, kesejukan, dan rekonsiliasi hati (manajemen Qolbu).Lalu kita disodori sebuah ketakterbatasan dalam sebuah media kreasi yang bernama microsoft visual studio. Kita boleh merancang apa saja asal tentang manusia. Kemudian kita diberi buku panduan pemrograman yang berisi langkah-langkah strategis dan praktis dalam membangun entitas yang bernama manusia virtual. Bahkan kita diberi akses ke gudang basis data nano genom yang lebih kompleks dan komprehensif dari gudang data genom manusia (NCBI dan OMIM serta gene card dari Weizmann institute). Kita diberi otoritas untuk merancang, mengkomposisikan, dan mengubahsuaikan partikel-partikel elementer di level quark. Tapi kita juga dibatasi oleh sebuah aturan yang bernama fitrah dan sunatullah. Kita bukanlah the alchemistnya Coelho yang dengan seenaknya saja dapat mengubah segumpal karbon menjadi emas. Bagi proses pemrograman kita karbon ya tetaplah karbon dengan 6 proton dan 6 netron, dan bukan hal yang mudah untuk menjadikannya emas dengan 79 proton dan 118 netron.
Kini kita berada dalam sebuah permainan penciptaan yang terstruktur, dimana sistematika dan kemampuan menduga (forecasting) adalah tiang penyangga utamanya.
Sebagai sebuah game RPG yang dapat dimainkan di semua konsol (Xbox,PS3, dan PC, serta tentu saja on-line berbasis server) maka identifikasi pemain adalah bagian yang terpenting dalam proses point reward.
Level : easy
Mode : auto
Player : Aa Gym
Character : Jhony the Hedgehog (Maya 3D)

Option
Aa Gym dipersilahkan memasuki Area biohazard level 3 di bangunan induk Human Factory©
Setiap pemain dimodali dengan 5000 token atau point yang dapat ditukar dengan asesoris karakter yang akan dimainkan. Dengan batasan 5000 token ada beberapa sub karakter yang dapat mencapai full mode tetapi dengan konsekuensi ada beberapa sub karakter lainnya yang “agak” kurang kemampuannya. Nilai optimal suatu sub karakter adalah 9. Jumlah token yang anda miliki bila dimanfaatkan seluruhnya akan mampu memperlengkapi karakter ikon anda sebanyak 5 sub karakter (item).
Aa Gym bila anda sudah mengerti, silahkan klik kotak bertuliskan SKIP.Bila memerlukan penjelasan lebih lanjut silahkan klik kotak bertuliskan LEARN MORE.

Aa mengklik SKIP
Sebuah Neon Box dengan cahaya ungu berpendar dan terbaca tulisan animatix : HUMAN BIOLOGY FACTORY
Aa Gym di hadapan anda tersedia panel kontrol robot nano yang akan membantu anda mendesain dan memilih karakter berdasarkan kotak-kotak bahan baku. Untuk tahap pertama silahkan anda memulai dari kotak yang bertuliskan GENETIKA.

Aa tertegun, didalam kotak genetika, berdasar nilai tokennya hanya dapat mengoptimalkan 5 potensi genetika pada karakternya.Aa berpikir keras, mau jadi apa si Jhony nantinya ya ?
Aa mengklik huruf M yang ada di toolbar dan scroll menu segera terbuka.Aa mengklik gene card. Keluarlah peta gene library lengkap dengan resume dari masing-masing gen yang dikoleksi.Disana berurut sekitar 80.000 gen dengan akronim nama-namanya yang terbagi atas kelompok-kelompok berdasar kelompok kromosom tempat tinggalnya.Aa melhat-lihat resume gen pengatur sintesa kortisol (CYP 17) yang berperan dalam proses stress, gen pseudo autosom di kromosom Y yang merangsang maskulinitas (SRY), atau DAX di kromosom Y yang berkorelasi dengan feminitas dan matronly instinct, ada lagi gen misteri diferensiasi orientasi seksual (Xq28), terus ada gen ADRB2 yang mengatur ekspresi reseptor beta-2 adrenergik di bronkus paru kita, dan ada pula gen D4DR yang meregulasi reseptor dopamin, ced-9, p53, kaskade caspase,ICE,myc, tep-1 yang mengatur ekspresi enzim telomerase dan panjang telomer alias penentu umur sel.

Aa memilih dengan hati-hati perpaduan 5 potensi genom yang diperkenankan sesuai dengan jumlah token. Aa memilih kekuatan ekspresi pada gen kecerdasan, kesabaran, dan keperkasaan (maskulinitas). Aa ingin Jhony the Hedgehog menjadi pribadi mulia, pejuang akhlaq yang cerdas, bijak dan juga kuat. Tiba-tiba di monitor muncul kotak peringatan yang menginformasikan bahwa gen pranata sosial memiliki opsi kehendak bebas (free will),serta kompleksitas dengan pranata lainnya yang dapat saling mempengaruhi dengan signifikan.

Aa berpikir sejenak, lalu mengklik HELP.Muncul kotak dialog notepad yang berisi teori tentang peran faktor lingkungan dalam stabilitas profil genom.
“Marilah sejenak kita lihat virus, makhluk biologi dengan ukuran mikro yang sangat cerdas. Kemampuannya mengefisienkan dirinya membuatnya mampu meng”outsourcing” beberapa fungsi vitalnya pda lingkungan sekitar. Salah satu aspek yang paling menarik adalah kemampuannya untuk memanfaatkan enzim reverse trasnkripatase yang ada di sel manusia untuk mengkopiukan RNA-nya kembali menjadi DNA dan menyelipkannya di urutan genom manusia lengkap dengan sistem transkripsinya, sehingga virus dapat bereplikasi murni dengan sistem yang ada di sel manusia dan tentu saja juga dengan pasokan energinya.Sistem manajemen yang amat indah, dimana semua potensi lokal dapat diolah maksimal dengan sedikit modal. Lalu kita bertanya mengapa di genom manusia terdapat beberapa sistem yang memungkinkan untuk dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain seperti virus ? Apakah ini suatu kesalahan struktural ? Mengapa harus ada enzim reverse transkriptase di dalam sel ?
Lalu mengapa ada untaian gen LINE-1 yang terdiri dari sekitar 1000 sampai dengan 6000 nukleotida dan diduga tidak punya fungsi apa-apa selain memiliki untaian ekspresif untuk enzim reverse transkriptase. Ternyata sistem ini tidak sesederhana itu. Sistem ini menyimpan potensi dahsyat yang disebut dengan sistem adaptasi lingkungan. Untaian genom LINE-1 memiliki fungsi mengkopi dan menyandi paparan lingkungan yang kerap dihadapi manusia, yang sering dan rutin dilatih dan dikerjakan oleh manusia menjadi sistem reaksi protein. Tanpa kemampuan mengkopi respon lingkungan maka sistem memori pada imunitas seluler (sel T memori) tidak akan dapat menyimpan memori tentang patogen, apalagi kini terbukti bahwa memori dalam sel T diwariskan. Pewarisan biologis tak terhindarkan hanya akan bermuara pada profil genom. Genom manusia dan makhluk biologis lainnya mampu mengubahsuaikan pesan berdasar pada proses hidup yang dijalaninya. Dengan demikian seorang ibu yang tidak ingin anaknya mengalami autis,ADHD, dan sindroma asperger haruslah banyak mengkonsumsi makanan dengan kadar asam amino triptofan tinggi, dibarengi dengan asupan gula dan lemak (kolestrerol) yang mencukupi agar triptofan mampu sampai di daerah otak produsen serotonin dengan selamat dan bebas kompetisi. Mari para Ibu ngemillah bila ingin anak anda cerdas, mari para ibu gendutlah agar anak kita sehat jasmani dan ruhani. Triptofan yang tinggi akan dienkripsi akan didekoding menjadi untaian asam nukleat RNA dan pada gilirannya akan reverse menjadi DNA anak yang cukup permanen, dan serotonin anak kita akan diproduksi secara cukup, setidaknya sampai dengan usia tumbuh kembangnya.
Fungsi mengkopi dan mengaksepsi tuntutan lingkungan ini juga maujud dalam proses silaturahmi dengan elemen lain di alam sekitar. Sebagai contoh kongkret adalah proses terjadinya asma. Asma dalah penyakit saluran pernafasan yang disebabkan terjadinya reaksi alergi atau hipersensitifitas. Dampak dari reaksi hipersensitifitas adalah bronkospasme, dimana saluran bronkus menyempit dan nafas menjadi irit. Alergen penyebab asma mencetuskan reaksi imunitas Th2 yang mendorong IgE berakumulasi serta mengaktivasi rilis histamin dari sel mast dan eosinofil.Dengan adanya sistem adapatasi dan pengkopian basis data LINE-1, dapat dilakukan ijtihad dengan cara memperkenalkan antigen-antigen yang bersifat pro Th1. Dimana aktifitas sliding Th1 ini akan mengaktifkan mekanisme peradangan umum dengan dominasi sistem imun seluler (Il-1,Il-6, IFNγ, dan TNFα). Sehingga kita saat ini bisa berhipotesa bahwa suntukan vaksin BCG (bacillus Calmet Guerrin) antigen dari bakteri jenis bacillus dapat membantu proses pengenalan alergen pada penderita asma. Dengan kata mlain asma dapat disembuhkan dengan suntikan BCG.

Aa, menutup kotak dialog HELP, dan beranjak mengamati barisan gen-gen homeotik dan dan 39 sequence gen hog. Ketigapuluh sembilan gen Hog ini bertanggung jawab penuh dan berperan sebagai manajer proyek dalam proses pembangunan dan diferensiasi anggota tubuh. Siapa menjadi organ apa ditentukan oleh pak mandor Hog yang bertugas menmgimplementasikan cetak biru desain manusia menjadi bangunan tubuh yang sempurna.

Setelah berpusing-pusing dengan DNA, Aa men-skip semua requirement yang muncul. Termasuk moda pendidikan,keluarga, dan sosial ekonomi dari ikon Jhony the Hedgehog. Aa memilih normal mode yang akan menjadikan Jhony akan mendapat perlakukan standar dengan transmisi auto mengacu kepada kemampuan artificial intelligence dari komputer.

Tapi Aa, agak ragu dalam hal pendidikan dan sosial ekonomi, tampaknya Aa ingin menentukan perimetrinya sendiri. Tapi krisis waktu yang merupakan bagian penilaian dari game ini menyebabkan Aa tetap memilih opsi auto.Sambil terus memainkan game, Aa meng-SMS sahabatnya, Bapak Al-Muqarom Ustadz Aam Amiruddin.

Jhony the Hedgehog tumbuh dan berkembang menjadi mujahid,mujaddid, dan mujtahid. Jhony menemukan metoda untuk meminimalisir tingkat polusi dalam kota. Penemuan Jhony dapat digambarkan sebagai berikut :
“Sebuah kotak kaca yang tertutup dilengkapi dengan 5 exhaust fan, di sebelah dalamnya terdapat kubus-kubus zeolit yang ditopang tiang tembaga. Setiap 15 menit kubus zeolit itu disemprot dengan deras dari 4 penjuru dengan air sadah yang kaya kalsium dan magnesium. Untuk selanjutnya air sisa semprotan ditampung dan disalurkan pada sebuah kolam yang berisi eceng gondok (tumbuhan istimewa ini mungkin punya lapisan polisakarida di dinding selnya yang mampu berikatan dengan kation, atau ada unsur pengkelasi?)Atau mungkin ada endofit dengan kemampuan menyerupai thiobacillus,bacillus, atau pseudomonas ?). Ditepian kolam tersebut ditanami secara berderet-deret pohon tanaman keras dan holtikultura. Temuan Jhony ini mampu menurunkan kadar karbon monoksida diperkotaan, demikian pula konsentrasi logam berat seperti timbal (Pb) yang berbahaya bagi kesehatan. Temuan ini juga mendorong bermunculannya taman dan hutan-hutan kota yang merupakan sumber oksigen bagi para penduduknya.

Di usia virtual yang ke 37 tahun Jhony menggebrak lagi dengan penemuannya untuk memanfaatkan sifat multipotensialitas dari sel-sel bakal (stem sel). Jhony mengambil sebagian sum-sum tulang seorang penderita sirosis hepatis (pengerutan jaringan hati), dipisahkan dan dibersihkan dengan metoda sentrifugasi dan ditrasplantasikan kembali ke daerah porta hati dengan menggunakan alat peniru sistem sirkulasi lokal. Temuan Jhony ini membantu banyak penderita penyakit hati untuk menyambung hidupnya, dan tentu saja Insya Allah jadi sempat bertobat.

Pada usia 37 tahun lewat 6 bulan, Jhony terjun ke Kitchen Stadiumnya Derry Drajat di Allez Cuisine Indosiar. Tidak tanggung-tanggung Jhony langsung menantang 3 Super Chef sekaligus. Dalam waktu 1 jam Jhony akan memasak 9 jenis masakan sekaligus, 3 Chinesee Food, 3 Indonesian Food, dan 3 European Food. Sementara para Super Chef hanya akan memasak 3 makanan sesuai dengan keahlian khususnya saja. Sungguh luar biasa. Para Super Chef yang ditantangnyapun bukan para Super Chef biasa, melainkan para jawara yang telah memenangkan ajang ini di atas 10 x berturut-turut. Sontak rating acara ini melonjak tajam, seluruh pemirsa televisi di Indonesia ingin menyaksikan pertandingan masak spektakuler ini. Bayangkan, 3 Super Chef yang tak terkalahkan ditantang oleh seorang Jhony the Hedgehog yang profesi aslinya “pengamat teknologi”. Tak lama kemudian Derry Drajat muncul di atas pentas dan memanggil semua peserta untuk maju mendekati bibir panggung. Derry akan mengumumkan bahan dasar yang akan dipertandingkan. Tetapi alangkah terkejutnya Derry ketika beliau membuka peti tempat penyimpanan bahan dasar, peti itu kosong ! “Penonton gempar, mereka bersorak-sorak dan sebagian lagi bahkan menjerit-jerit histeris. Apa yang terjadi ? Mendadak Bung Gunardjo, sang komentator, menginterupsi,”Bahan dasar kali ini bebas dipilih oleh para peserta !” Lho kok begitu ? Yah kali ini perang tanding di Kitchen Stadium adalah “perang terbuka”. Jadi setiap peserta bebas untuk memasak apa saja, asalkan terdiri dari 9 jenis masakan. Tak lama kemudian acara masak-memasakpun dimulai. Tampak tim Super Chef Li Tung Hwa dari Hotel Mandarin Oriental bersama timnya yang terdiri dari 3 jagoan naga bertatto mulai membersihkan haisom, sirip hiu, sarang burung walet, dan bebek peking.Sementara itu tim Chef Paul de Gaultiery dari Hotel Hilton International yang terdiri dari Sang Super Chef dengan 3 orang pembantunya yang berasal dari Belgia dan Jerman tengah menyiapkan hati angsa, keju mozzarella, lobster, dan fillet Salmon, tak lupa mereka juga mulai membuka kaleng-kaleng caviar beluga. Di sudut lainnya terlihat tim Super Chef Bambang Wagiono dari Hotel Borobudur Intercontinental tengah mengeluarkan potongan-potongan buntut sapi New Zealand, Ikan Tuna dari Benoa, ayam kampung van Pracimantoro, serta tak lupa Ikan Patin dari Palembang. Chef Bambang Wagiono dibantu oleh 3 orang asisten yang semuanya sarat dengan pengalaman. Asisten pertama pernah bekerja di Rumah Makan Nelayan Pondok Indah Mall, sedangkan 2 asisten lainnya adalah juru masak khusus di Istana Tampak Siring. Luar biasa, para monster dunia kuliner hari ini turun gunung dan akan berlaga melawan seorang Jhony the Hedgehog. Dewan jurinyapun tak kalah serem, ada William Wongso pakar kuliner Indonesia nomor 1 dan diakui sebagai salah satu ahli gastronomy terbaik di dunia. Lalu ada Bondan Winarno, dedengkot makanan enak yang rela “ngluruk” ke belahan manapun di dunia sekedar untuk mencicipi makanan yang dianggap “aneh” atau unik. Pak Bondan ini benar-benar dapat dikategorikan”food hunter” paling kuat di Indonesia dan Asia Tenggara. Dan juri berikutnya adalah Laksmi Pamuntjak, seorang penulis buku penunjuk makanan enak se-Jakarta Raya. Jangan salah, meskipun mbak kita yang satu ini langsing dan cuantiiiik banget, selera makannya ruaaar biasa ! Lalu juri yang terakhir adalah tokoh gastronomy yang sudah layak untuk disebut Empu Makanan, Sang Legendaris Kelirumologi Jaya Suprana ! Sungguh suatu pertarungan yang luar biasa. Kali ini Bung Gunardjo bahkan sampai tidak bisa berkomentar apa-apa. Jumlah peserta lebih banyak, jumlah asisten lebih banyak, jumlah juri lebih banyak dan jelas lebih berbobot ! Lalu apa yang tengah dipersiapkan oleh Jhony ? Hadirin terpekik-pekik terkejut dan nyaris tak percaya dengan pandangannya. Jhony memasuki arena kitchen stadium tanpa ditemani seorang asistenpun. Buntelan bahan dasarnyapun sangat kecil, tidak banyak yang dibawanya. Bahkan Jhony tidak menggunakan celemek ataupun topi koki yang menjadi tradisi dan simbol para juru masak. Walhasil pemirsa sudah dapat menduga-duga dan yakin bahwa Jhony tentunya akan menjadi pecundang dalam pertandingan kali ini. Yah inilah barangkali akhir karier dari pria yang dijuluki “manusia Indonesia masa depan”. 1 jam berlalu dan tak banyak kejutan yang terjadi. Masakan hasil olahan para Super Chef tersaji indah dengan keelokan garnish yang luar biasa. Baru melihat penampilannya saja sudah menetes air liur kita. Apalagi jika kita cicipi rasanya, amboi semerbak pula harum aromanya. Chef Li Tung Hwa mempersiapkan sajian kuliner Cina nomor satu di dunia, Bebek Peking Emas dengan saus rebung muda Himalaya dan kaldu kambing liar Gurun Gobi ditambah saus jamur shitake dan hyoko dari dari Gunung Tian San. Masakan Cina kedua yang disajikan oleh Chef Li Tung Hwa adalah Bubur Mutiara Haisom dengan tebaran tiram Pulau Lantau dan bawang Mongol yang bearoma tajam tetapi lembut. Masakan ketiga dari Chef Mandarin Oriental ini adalah Sup Hisit Sirip Ikan Hiu yang dipadukan dengan kikil Penyu Yang Tze serta di atasnya ditaburi potongan belut goreng minyak wijen. Sungguh penampilan dan rasa yang luar biasa. “Hidup Chef Li Tung Hwa !” Demikian sorak-sorai pengunjung Kitchen Stadium membahana. Sementara itu di meja dan troley saji Chef Paul de Gaultiery tertata dengan manis 3 jenis makanan dengan garnish terindah yang pernah disaksikan penonton Kitchen Stadium. Tepung manis goreng dibangun menjadi bentuk kastil dan larutan karamel menjadi saluran di sekelilingnya, sungguh cantik. Di menara-menara kastil umbul-umbul dan bendera-bendera dari potongan wortel dan paprika menambah semaraknya warna. Sebagai main course, Chef Paul menghidangkan Foie Gras hati angsa yang direbus setengah matang dengan anggur merah Bordeux dan di marinade sebelumnya dengan larutan cuka, pala, dan lada. Juice peterselly dan dan daun Arnott dicampur dengan kaldu sapi dan mentega marigold, sungguh sangat istimewa. Masakan kedua adalah Salmon Steak dengan saus jamur Champignon dan keju mozzarella. Juice dagingnya diaduk dengan mentega cair dan diberi kepala susu bergaram. Di atas potongan fillet salmonnya diberi irisan-irisan tipis belut asap Normandy. Kentang bulat-bulat kecil yang dipanggang dengan saus kaldu kental Brittany menjadi sumber karbohidrat yang serasi dengan garnish broccoli dan wortel kipas. Masakan yang terakhir adalah rissotto caviar. Nasi panggang keju dibuat berlapis-lapis dengan caviar. Warna makanan yang tercipta indah sekali, seperti sebuah menara dengan warna hitam putih yang berselang-seling. Di puncaknya bertengger udang merah penaeus rebus. Chef Bambang Wagiono tak mau ketinggalan, di atas meja sajinya telah terhidang beberapa mangkuk yang mengepulkan uap panas beraroma sangat lezat, itulah kuah kaldu sapi kental dengan kacang merah bakar tumbuk. Untuk memperkuat rasa Chef Wagiono mempergunakan bawang putih, bawang merah, daun bawang, seledri, pala, merica, dan biji cengkih. Kuah kaldu yang hebat. Sementara itu buntutnya yang telah dipresto dimarinade terlebih dahulu dengan beras kencur dan wedang jahe, lalu dipanggang dengan bumbu oles kecap, mentega, saus tiram, dan tomat tumbuk. Hidangan kedua dari tim Chef Wagiono adalah Fillet Tuna Panggang Saus Padang. Tuna tanpa tulang direbus setengah matang dengan tumbukan bawang putih dan garam, lalu ditiriskan serta dilumuri santan kental yang telah dicampur kunyit , bawang merah, bawang putih, dan sedikit jahe, miri, serta daun salam. Tuna dan bumbu lumurnya diungkep. Setelah itu Tuna dipanggang perlahan-lahan di atas api kecil. Setelah Tuna matang, dibuatlah saus padang dan disiramkan diatasnya selagi panas. Untuk membuat saus Padang, Chef Wagiono mempergunakan tomat Lembang, cabe merah, cabe rawit, potongan paprika kuning yang diiris tipis-tipis, lada, bawang Bombay, garam, gula putih, dan minyak zaitun. Untuk mengentalkan saus, Chef Wagiono menggunakan larutan tepung Maizena, hanya saja yang dipergunakan untuk melarutkan bukan sembarang air biasa, melainkan kaldu kaledo tulang pipa sapi yang sarat dengan sum-sum ! Masakan terakhir dari Chef Wagiono adalah Ayam Bangkong, alias ayam kodok yang terbuat dari ayam kampung. Keistimewaan ayam ini adalah bahwa daging cincang isiannya tidak hanya terdiri dari ayam, buncis, dan wortel seperti ayam kodok biasa melainkan ada ramuan rahasianya. Kunci kelezatan daging isian pada ayam bangkong Chef Wagiono adalah penggunaan daging ikan Patin yang kaya lemak dan bertekstur lembut. Untuk menghilangkan aroma amis yang biasanya muncul apda ikan air tawar, Ikan Patin itu oleh Chef Wagiono direndam dulu selama 2 jam dengan menggunakan larutan jeruk-jahe ( 2J) dan disimpan di dalam kulkas dengan suhu sekitar 100 C. Walhasil tampaknya semua hasil karya para Super Chef memang dahsyat dan tentu punya citarasa luarbiasa !
Lalu apa yang semua penonton Kitchen Stadium lihat di atas meja saji Jhony ? 9 piring saji yang isinya sama semua ! Di atas setiap piring terdapat 3 pastel berwarna putih transparan. Jelas itu adalah kulit dasar tapioka dari hidangan dim sum Cina. Tetapi kok 9-9nya sama semua ? Apakah Jhony tidak tahu aturan permainan di Kitchen Stadium ? Lagipula dari segi bentuk dim sum Jhony agak janggal, mau dibilang sebagai ha kau tidak mirip, mau di bilang udang kulit tahu kok tidak kelihatan udangnya, apa mungkin lebih mendekati bentuk siomay ? Kelihatannya malah lebih menyerupai bak pau cha sau ! Tapi Jhony tenang-tenang saja dan bersikap seolah tak perduli.
Akhirnya waktu penjurian tiba juga, Jhony mendapatkan giliran terakhir. Satu demi satu para Super Chef menghidangkan sajiannya kepada para juri. William Wongso tampak terus menerus berdecak kagum dan terpesona akan kelezatan citarasa masakan yang diperlombakan. Begitu pula Pak Bondan Winarno, pujian seolah-olah banjir dari mulutnya. Tampaknya hutan-hutan kendali “rasa” di lidah dan otaknya sudah gundul, sehingga tak heran bila terjadi erosi dan banjir pujian yang tak putus-putusnya kepada setiap masakan para Super Chef. Mbak Laksmi Pamuntjak tampak merem-melek dan tangannya sibuk meremas-remas tepian taplak. Bahkan ketika mencicipi masakan Rissotto Caviar, Mbak Laksmi sampai harus “menggeraut” meja dan mulutnya tak henti-hentinya mendesah. Wajahnya memerah dan air mata bahagia menggenang di pelupuk matanya. Berbeda dengan gaya Pak Jaya, beliau hanya mencuil sedikit-sedikit lalu tenggelam dalam lamunannya sendiri, sungguh misterius ! Akhirnya tibalah giliran masakan Jhony disajikan. Para juri terbelalak heran, hanya seperti inikah kemampuan sang penantang ? 9 piring berisi dim sum lokal itu tidak segera mereka sentuh. Mereka trenyuh melihat kebersahajaan masakan Jhony. Bahkan untuk membedakan pinggan mana yang di atasnya berisi makanan Cina, Eropa, dan Indonesia, Jhony terpaksa menggunakan secarik kertas kecil yang ditulisi pensil : Mas CINA, Mas INDO, Mas ERO. Para juri saling menatap, bahkan Pak Wiliam Wongso sampai memerah mukanya, kerut-kerut di dahinya menunjukkan ketersinggungannya yang teramat mendalam. Memang ini pukulan yang amat telak bagi dunia kuliner Indonesia, sebuah ajang kuliner prestisius telah dinodai oleh seorang pria sok tahu yang dijuluki “manusia Indonesia masa depan”. Untuk menetralisir suasana akhirnya Pak Jaya sebelum semua mencicipi, bertanya; “ Apa konsep masakan anda ini Mas Jhony ?” Jhony tersenyum dan memamerkan untaian gigi mutiaranya pada Mbak Laksmi. “ Masakan saya ini adalah adaptasi dari sebuah makanan lokal yang sarat dengan perpaduan budaya global, makanan itu adalah Cakue Pontianak !” Pak Jaya melotot mendengarnya, “maksud anda ?” “ Ya Pak, Cakue Pontianak adalah jajanan sederhana yang murah dan banyak digemari oleh berbagai lapisan masyarakat di Kalimantan Barat, bentuknya menyerupai dim sum tetapi isinya berbahan dasar rebung dan berbagai bumbu khas Kalimantan !” “Mohon maaf Mas Jhony,” Sela Pak William agak kurang sabar, “mungkin Mas Jhony agak belum begitu memahami aturan permainan kita di sini, Mas Jhony kan seharusnya membuat 3 jenis makanan yang berbeda dari 3 jenis aliran masakan ?” Jhony tersenyum.”Yang kami lihat di sini adalah bahwa Mas Jhony hanya berhasil menghidangkan 1 jenis masakan yang sama sebanyak 9 pinggan !” Pak Bondan ikutan menimpali. Pak Jaya tampak kurang tertarik pada perdebatan itu,”sudahlah mari kita cicipi saja !” Seiring dengan pernyataan Pak Jaya itu maka para juri mulai meraih piring saji masakan Jhony, meskipun tampak jelas keengganan di raut wajah mereka. Pak William mengambil pinggan dengan kertas bertuliskan Mas ERO-1 dan mulai menyumpit dengan ragu-ragu. Gigitan kecilnya jelas sekali menampakkan ketidakniatannya untuk benar-beanr mencicipi. Semua mata juri lainnya terfokus dan melotot pada Pak William , mereka ingin melihat reaksi dari makanan masakan Jhony itu. Perlahan Pak William mengatupkan mulutnya dan mulai menguyah. Tiba-tiba wajahnya membiru dan air matanya bercucuran teramat deras. Mbak Laksmi kaget bukan alang kepalang, mengira Pak William tersedak atau terkena serangan jantung. Segera ia melompat dan bersiap-siap untuk memberikan pernafasan buatan serta pijat kejut jantung. Tetapi ketika Mbak Laksmi hampir saja menempelkan bibirnya, mendadak Pak William membuka matanya, sontak Mbak Laksmi terlonjak dan terduduk kembali. Mata Pak William berbinar-binar dan seolah memancarkan sejuta pelangi yang menyorot deras. Pak Jaya tersenyum tipis seraya menggumam, “Pak William hidup kembali !” “Tepat !” Seru Pak William, “aku merasa hidup kembali !”.”Ini adalah makanan penyegar dan pembangkit jiwa !”. Para juri yang lain terbekap dalam belitan tanda tanya yang segera saja memenuhi seluruh ruang benak mereka. “Bisakah kau jelaskan apa kandungan dim sum Eropamu ini Jhony ?” Tanya Pak William setelah nafasnya perlahan mulai teratur dan keterkejutan mentalnya sudah sedikit mereda. “ Kulitnya bukanlah terbuat dari tepung tapioka seperti biasa melainkan dari tepung sagu putih Lembah Baliem yang direbus dengan kaldu Karaka ( kepiting rawa dalam bahasa Kamoro) dari hutan mangrove muara sungai Wania di Timika, isinya untuk jenis masakan Eropa-1 adalah hati kambing jawa yang direndam dengan air Nira Gentong Tasikmalaya dan kecap madu Sumbawa serta dipanggang dengan batok kelapa dan dibungkus dengan keju mozzarella cair yang telah diberi garam, merica, dan whip cream kental. Selanjutnya isian bersama paprika dan kapri manis rebus air kelapa dimasukkan dalam kulit sagu dim sum, lalu dikukus tentu saja. Tetapi air kukusannya bukan sembarang air biasa, melainkan air laut selat Bosphorus, untuk mengawinkan antara budaya Eropa dan Asia, Pak !” Pak William tercenung dan membayangkan sebuah dunia rekaan Kenichi Ohmae yang “borderless world”. Masakan Jhony memang tak lagi mengenal batas dan sekat wilayah, ia menusuk tepat di pusat sensor rasa. Mbak Laksmi mengajukan diri untuk menjadi ‘tester’ Mas ERO-2. Perlahan tapi pasti ia menusuk dim sum dengan label ERO-2 itu dengan garpu kecil. Saat kulitnya tertembus garpu, mengepullah sebaris uap putih yang langsung memancarkan aroma lezat. Aroma tersebut melayang di udara dan mengepung hidung para juri beserta seluruh isi ruangan lainnya. Lengan Mbak Laksmi yang mengangkat garpu bergetar hebat, kejutan apa pula yang dapat akan muncul dari masakan yang satu ini ? Suapan perlahan Mbak Laksmi yang membawa dim sum kecil itu masuk ke rongga mulut, diikuti dengan seksama oleh para juri lainnya, tak terasa menitik pulalah air liur mereka ! Tubuh Mbak Laksmi tiba-tiba menegang dan kaku, sesekali tampak kedutan yang lebih mirip gelinjang-gelinjang kecil tertahan. Bulir-bulir keringat dingin mulai menghias dan menetes dari batas rambut di dahinya. Bibir Mbak Laksmi sedikit mengerucut dan terdengar sebuah bisikan halus, seperti desau siulan yang teramat pelan, “Subhanallah !” “ Apa komposisi masakan kedua ini Mas Jhony ?” Sambar Pak Bondan tak sabar dan tak lagi ja’im menjaga etika.”Kulitnya sama Pak, genuine resources from Papua, lalu isinya adalah perpaduan antara cincang halus bawang putih dan bawang Bombay yang ditumis dengan butter dan dicampurkan dengan kulit Kalkun asap kayu jambu batu yang membungkus telur ikan Terbang selat Makassar hasil Mottanga para nelayan Polewali. Telur ikan terbang ini dimarinade dengan garam dan perasan jeruk lemon cui Manado, sehingga rasanya asin, asam, dan getas. Sementara kulit Kalkun yang diasap dengan kayu Jambu Batu akan terasa kesat dan tebal serta memberi citarasa lemak yang kaya gugus aldehid meskipun sebenarnya rendah kolesterol.”Dari luar gurih dan pekat dengan aroma kepiting yang lezat, kemudian sensasi rasa itu berubah menjadi keharuman bawang yang memabukkan dan kesedapan roombotter Holland yang bergajih, dan mendadak muncul sensasi mangut Semarangan yang kental aroma asapnya, lalu semua itu diakhiri dengan kejutan asem-asin dan “kletusan-kletusan” telur Ikan terbang yang sensasional !” Demikian laporan pandangan “rasa” Mbak Laksmi Pamuntjak, Sang Dewi Kuliner Indonesia. Pak Bondan bersiap-siap, dan tanpa tedeng aling-aling serta aba-aba langsung memasukkan dua potong dim sum ERO-3 ke dalam mulutnya. “Kramus,kramus”, blebet… begitu saja 2 dim sum tersebut bablas meluncur menuruni kerongkongan Pak Bondan. “ Mas Jhony !” Teriaknya, “ cepat jelaskan apa yang saya makan ini ?””Oh itu kulitnya sama saja Pak, hanya isinya gulungan daging asap dengan lapisan saus jamur kental kaldu tulang dan di tengah-tengahnya ada irisan strawberry yang diaduk dengan ‘slagroem’ dan gula putih.” Pak Bondan lemas, bertahun-tahun bolak-balik dan mondar-mandir di Amsterdam, Den Haag, Leiden, Utrecht, Rotterdam, Groningen, Mastricht, sampai kota kecil macam Soes, Delft, Volendam, dan Breda belum pernah beliau mencicipi makanan yang memadukan antara slagroem ( kepala susu sapi) dengan daging asap !
Suasana di Kitchen Stadium memanas, tampak di salah satu sudut Chef Paul de Gaultiery tertunduk lemas. Aroma kekalahan mulai merebak, demikian pula para asistennya, setelah mereka menyaksikan roman muka dan reaksi para juri tampaknya babak ini sudah jelas dimenangkan oleh Jhony. Dan benar saja, tak lama kemudian Derry Drajat mengumumkan dengan suara yang terdengar agak lemas, mungkin shock, bahwa pemenang jenis masakan Eropa adalah Jhony the Hedgehog, anak asuh Aa Gym dari Ponpes Daarut Tauhiid Geger Kalong Bandung.
Kini para juri mulai mengalihkan perhatian kepada pinggan-pinggan saji yang dilabeli kertas sobekan tissu berlepot sambal dengan tulisan “ Mas INDO-1”. 3 juri yang telah mendapat giliran mencicipi masakan Eropa serempak berpaling dan mengarahkan pandangan mereka pada Pak Jaya. Beliau melengos dan melambaikan tangan pada Mas Gunardjo lalu setengah berteriak memanggil Derry Drajat. Ketika kedua orang itu datang menghampiri, dengan santainya Pak Jaya meminta keduanya untuk menjadi “juri tamu” khusus masakan Indonesia. Pak Jaya dengan tenang menyuap dim sum berlabel INDO-1, lalu matanya mendelik sebentar dan berputar-putar seperti komedi, pipinya bengkak memerah, dan seolah tampak 7 burung kenari berputar-putar mengelilingi kepalanya. Ketika semuanya terhenti, mulutnya langsung membuka dan berkata; “ Wah, perpaduan yang serasi antara kulit lumpia Papua dengan isi areh ( kepala santan kental yang sangat gurih), suwiran dodho menthok ayam liwet, rebusan singkong tumbuk, dan botok teri daun pepaya !” Pak Jaya tersenyum dan mengernyit secara bergantian, efek pahit daun pepaya mulai menjalari simpul-simpul syaraf di lidahnya. “ Nyindir kamu ya ! Kamu pikir apa bangsa Indonesia ini bisa disamaratakan ? Manis di depan berpahit-pahit kemudian ?” Sentaknya sembari tertawa senang. “Oh bukan Pak, ‘kepahitan’ hanyalah sebuah sarana yang dapat membantu bangsa ini untuk mensyukuri nikmat Illahi, karena bila sudah kena pahit biasanya baru bisa ingat kegurihan sebelumnya !” Pak William Wongso tersedak, dan wedang jahe di genggamannya tumpah membasahi sebagian taplak dan pantalonnya. Pak Bondan melirik ke arah Derry dan menganggukkan kepalanya ke arah piring dengan label INDO-2. Tanpa menunggu diperintah secara lisan Derrypun mencomot dim sum INDO-2 dengan tangan kosong. Benar-benar kastria Indonesia, Derry ini. “Keceplak,keceplok, kecepluk” begitu bunyi “nyeplak”nya Derry. Kurang dari 30 detik 3 dim sum dalam piring itu licin tandas. “Lapar atau maruk Der ?” Tanya Mbak Laksmi. Derry tidak menjawab, matanya mendelik merah bak pemain kuda lumping yang habis “mengeremus” botol kecap. “Air !” teriak Derry membahana ke seantero Kitchen Stadium. Petugas property datang dengan seember air dari bak kamar mandi. “Air minum !” Teriak Derry lagi setengah histeris. Air liurnya meleleh dari sudut-sudut bibir dan ( maaf) ingus naik-turun dari lubang hidungnya. Air mata jangan ditanya, Derry menangis Bombay ! “Apa itu Jhony ?” Pekiknya meminta penjelasan. “Itu Cakalang Fufu garo Rica dipadupadankan dengan sambal rawit Belacan Tempoyak Lahat, dan sentuhan akhir berupa sedikit kari kambing cincang Meulaboh, jadi heboh kan Mas ?” jawab Jhony dengan santainya. “Gila lu, mau bunuh gua apa ?” Cecar Derry tak beradab dan jelas mengabaikan akhlaq. “Oh tidak Mas, hanya saja itu masakan “kejujuran” Indonesia, bangsa yang senangnya berkeluh kesah dan mudah mencaci maki sesamanya ! Terbuktikan Mas ?” Pak Jaya berguncang hebat dalam badai gelak tawa, perutnya yang membuncit oleng ke sana-kemari, dan bangku yang didudukinya berkeriat-keriut sambil sesekali terdengar bunyi gemeretak, dan akhirnya “brukk !” Bangku Pak Jaya ambruk. Mas Gunardjo yang kalem dan klemar-klemer khas priyayi Solo membantu Pak jaya berdiri sambil tangan kirinya mencomot satu Dimsum dari pinggan berlabel INDO-3. Dengan elegan Mas Gunardjo menyuap dim sum itu ke dalam mulut. Wajah Mas Gunardjo sangat tenang dan dingin, malah nyaris tak berekspresi. Cukup satu dan Mas Gunardjopun kembali ke kursinya. Ia duduk tenang dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi yanmg memang agak tinggi. Suasana menjadi hening, Mas Gunardjo menarik nafas panjang melalui hidung dan menghembuskannya perlahan melalui rongga mulut. “Ngelaras roso.” Begitu saja komentarnya, dan diapun terlarut kembali dalam meditasi pernafasannya. “ Bagaimana Mas Gun ?” Tanya Pak Bondan penuh selidik. “Hmmmh !”, “Hemmh apanya ?” Pak Bondan makin curious. “Pokoke yo hmmmh wae !””Mas Jhony bisa jelaskan ?” Tanya Mbak Laksmi lembut. “ Tentu Mbak, kulitnya tetap sama masih made in Papua, isinya adalah Udang Bago bakar batok kelapa dan udang galah rebus air kelapa yang diberi saus petis kacang dengan irisan rawit dan daun kemangi, itu saja. Dan itulah nyanyian “Nyiur Melambai”,suatu harmoni nusantara antara pusaka samudera dan warisan keragaman hayati Indonesia !”
Di dekat tangga podium kehormatan tempat Derry Drajat biasa mengumumkan pemenang kompetisi, Chef Bambang Wagiono merasakan hangatnya sebuah kekalahan yang “sumeleh” alias ikhlas. Ya, beliau ikhlas kalah dari seorang juru masak yang memang berkelas dan berkualitas.
Ronde terakhirpun tiba, kini tiba giliran masakan Cina. Tetapi para penonton sudah semakin mengendur semangatnya, aura kompetisi yang panas semakin mendingin seiring dengan skor 2-0 yang telah diraih Jhony. Para dewan juripun tampaknya enggan untuk mencicipi lagi, karena masih terkenang akan kelezatan berbagai masakan yang baru saja usai mereka cicipi. Akhirnya Pak Jaya berinisiatif untuk meminta Chef Li Tung Hwa sendirilah yang harus menjadi juri bagi ketiga masakan Cina hasil karya Jhony. Chef Li Tung Hwa adalah seorang juru masak yang berjiwa besar dan amat menggemari masakan enak, dengan senang hati iapun bersedia untuk menilai masakan Jhony. Dimsum pertama diambil oleh Chef Li Tung Hwa dengan sepasang sumpit bambu yang bergerak-gerak luwes di tangannya. Dengan kecepatan luar biasa, Chef Li menggerakkan sumpit seolah mengiris dimsum, hasilnya dimsum seolah terbelah dua. Satu bagian segera disambar dan diangkat dengan sumpit. Chef Li memeriksa isinya dan membaui dengan cermat. Dari kulit dimsum atau Cakue yang terbuka itu menyembul potongan-potongan rebung tipis yang sangat bersahaja. Hanya saja Chef Li sempat mengerenyit bingung, mengapa warna potongan rebung ini bisa berkilau keemasan ? Terjebak di bagian tengah yang menyerupai rongga ada saus merah kecoklatan yang kental dan tampak lengket seperti bumbu colek lumpia. Chef Li lalu menyuapkan potongan cakue itu. Sejenak Chef Li memejamkan mata, perlahan sebaris senyum tipis menyungging dari bibirnya. “Kulit Cakue Papua tentunya, lalu rebung yang direndam semalaman dengan larutan tapioka, beras merah, dan jahe, setelah itu direbus dengan irisan bawang putih, ceker ayam, dan kecap asin. Setelah ditiriskan direndam kembali dalam minyak bekas menggoreng ikan Layur, disusun diatas kulit cakue dan di tengahnya diberi saus kental Sichuan. Saus ini terbuat dari kecap manis, saus tiram, parutan jahe, sedikit tauco, dan tomat serta cabe merah yang dihaluskan. Sebagai penguat rasa, saus dan rebung ditaburi garam halus dan lada hitam.” Para juri memandang chef Li dan tak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Chef senior itu. Hampir tanpa ekspresi Chef Li menarik piring kedua mendekat dan mengulangi prosesi yang sama. Dari cakue yang terbelah kali ini tampak gulungan mie kuning dengan saus coklat kental tersebar merata di mana-mana. Bila diperhatikan lagi secara mendetail dapat terlihat potongan-potongan halus jamur shitake dan hyoko, cumi, haisom, dan cincangan udang. Saus kental itu menebarkan aroma bawang putih, saus tiram, dan kecap inggris. Chef Li memandang sejenak dan langsung melahapnya. Ketika dikunyah cakue itu meninggalkan jejak masam yang segar di rongga mulut Chef Li. “Acar asinan lobak dan sedikit Kimchi ( sawi asin khas semenanjung Korea).” Gumamnya perlahan yang diikuti decak kagum. Cakue ketiga tentu juga diperlakukan sama. Kali ini seru keheranan terlontar serentak dari keempat dewan juri yang sedaritadi asyik memperhatikan. Cakue ketiga itu kosong ! Atau tampak seperti kosong ! Tetapi mengapa bisa menggelembung ? Ternyata di dalamnya terdapat sebuah bentuk semacam kristal yang kini terbelah dua secara sempurna.Kristal itu bening dan menyerupai bagian putih telur Penyu, tetapi konsistensinya lebih padat dan dapat terbelah seperti telur ayam rebus.Benda apakah itu gerangan ? Tentu pertanyaan ini menggelayut di pikiran setiap anggota dewan juri. Chef Li Tung Hwapun tampak termenung dan wajahnya disaputi kabut misteri. Apakah benda itu ? Chef Li karena tak segera menemukan jawabannya langsung saja menelan cakue ketiga. Lalu matanya membelalak lebar, dan wajahnya berangsur-angsur menjadi tampak jauh lebih muda. Keceriaan dan kesegaran hidup seolah kembali menyapa ketika cakue itu telah terkunyah dan “rasanya” terserap di seantero papila bonggol syaraf perasa di lidah. Dewan juri yang sangat penasaran berlompatan dan bak anak kecil saling menarik berebutan cakue yang tinggal bersisa 2 saja. Piring porselen putihnya nyaris terlontar dan terbanting pecah berkeping di kaki meja, untung jatuhnya tepat di pangkuan Pak Jaya. Dan beruntunglah Pak Jaya, karena di atasnya masih terdapat sebagian cakue yang dibelah dua oleh Chef Li. Sementara Pak William, Pak Bondan, Mbak Laksmi, Mas Gunardjo, dan Derry Drajat sibuk berjuang menutul remah-remah dan mengais cuilan-cuilan kristal cakue yang tersisa. “Apakah…apakah… ini “telur naga” ? Tanya Chef Li terbata-bata.”Yah boleh dibilang seperti itulah…” Jawab Jhony santai sambil menatap berkeliling ke arah para penonton yang hadir di Kitchen Stadium, siapa tahu ada yang kenal ! Pak Bondan yang berasal dari Jawa Timur kehilangan kendali dirinya, ia melompat dan menerkam ke arah Jhony. Kedua tangannya meraih kerah kemeja Jhony, mencengkeramnya dan mengangkat Jhony hingga melayang sekitar 10 cm dari permukaan lantai. “Sabar Pak.” Ujar Jhony tersenggal.”Telur naga atau mutiara naga itu sebenarnya adalah warisan kuliner nusantara Pak, bukan dari Cina atau Tiongkok sana.”Berpasang-pasang mata keheranan menatap tajam ke arah Jhony.”Itu adalah kitin yang dikelasi dari rebusan kulit udang dan kepiting asli Inderamayu. Pada saat direbus dibubuhi kaldu kikil dengkul sapi dan kepiting lemburi. Agar tetap bening dan transparan maka cairan hasil rebusan itu disaring dengan menggunakan kain dan tumbukan talas rebus. Walhasil hasil saringan menjadi lebih pekat karena mendapat gelatin dari talas. Setelah bening maka cairan pekat ini dipanaskan lagi sampai setengah memadat, masukkan ke dalam kulit cakue dan kukus sampai kristal menjadi lebih keras karena kandungan airnya menguap. Karena kandungan airnya berkurang maka kristal menjadi getas dan dapat terbelah seperti bola. Masalah rasa jangan ditanya, inilah saripati kelezatan samudera !”
Akhir cerita tak banyak detil yang bisa dilaporkan, semua yang hadir di Kitchen Stadium meminta Jhony untuk angkat bicara dan menerangkan filosofi masakannya.
“Saya menganggap bahwa memasak itu adalah Ibadah. Dan Ibadah yang baik itu adalah ibadah yang bisa menhadirkan pengetahuan dan kebahagiaan bagi semua orang. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa barangsiapa menghendaki kebahagiaan dunia maka ia perlu memiliki ilmu, dan barangsiapa menghnedaki kebahagiaan akhirat maka ia juga perlu memiliki ilmu, terlebih lagi bagi yang menghendaki keduanya tentu sangat perlu untuk memiliki ilmu. Jadi masak yang bernilai ibadah adalah yang prosesnya dan hasilnya bisa menjadi ilmu serta dapat menghadirkan kebahagiaan bagi semua yang menikmatinya. Dan ritual ibadah wajib yang merupakan titik puncak kulminatif dari serangkaian ibadah wajib harian adalah Haji. Maka dari itu dalam kesempatan yang amat berharga ini saya mengusung filosofi Haji dalam konsep masakan saya !” Jhony menarik nafas dan meneguk sedikit air putih dari gelas yang terdapat di meja kecil disampingnya.”Ketika kita berangkat berhaji, maka kita berlomba menyongsong panggilan Allah SWT dengan membawa diri kita apa adanya, tokh Allah Maha Mengetahui seperti apa sesungguhnya kita sebenarnya. Berbondong-bondong kita bermunajat melepas kerinduan dengan menanggalkan segala atribut dan simbol-simbol kepalsuan. Semua yang hadir dalam apel akbar di padang Arafah yang menyerupai padang Mahsyar di hari penahbisan itu, hanya berpakaian putih-putih yang sederhana dan bersahaja. Putih adalah lambang kesucian dan kejujuran. Maka malulah kita bila di saat sudah berdandan dan diseragami dengan lambang kejujuran kita masih juga menyimpan berbagai kebohongan dan kemunafikan. Cakue dengan kulit yang seragam terus dari satu jenis masakan ke jenis masakan yang lainnya adalah perlambang ihram, perlambang kesucian dan kejujuran yang naif dan sederhana. Menjadi jujur itu sederhana kok, yang pertama dan terberat untuk memulainya adalah jujur pada diri sendiri ! Lalu bila kita amati bersama, isi dari cakue itu berbeda-beda, disesuaikan dengan tradisi dan preferensi dari akar budaya tempat dimana makanan itu dikreasikan. Ini juga perlambang, bahwa mencintai Allah itu beragam jalannya, dan beragam pula cara “ngapelnya”. Jadi dalam semangat kejujuran yang sama, bisa terjadi doa dan harapan dengan niat yang tidak berbeda diartikulasikan dalam langgam,corak, warna, dan irama yang beraneka ! Itulah manusia, diciptakan Allah berkaum-kaum dan beragam pula potensinya, agar perbedaan di antara mereka menjadi rahmat bagi semesta !”
Seluruh ruangan Kitchen Stadium hening. Diam-diam di balik monitor Aa Gym tersenyum bahagia, tak terasa dua bulir hangat air mata meluncur perlahan membasahi hati dan menjalarkan kehangatan cinta-Nya sampai di sana.

Aa Gym, tertunduk hening.
Jhony meninggal dalam usia virtualnya yang ke-38.
Pada saat perancangan kromosom 6, Aa rupanya terlalu banyak memberi nukleotida CAG. Sehingga perulangan CAG yang lebih dari 100 di kromosom 6 menghantarkan Jhony mati muda karena Huntington Chorea.

Aa mengklik kotak REPLAY
Let’s play the game !
Games of Life : Ustadz Aam Amiruddin Side

Beep,beep,beep….
Aa melirik display LCD communicator 9500nya, 1 pesan baru.
Beep…beep…beep,
6 pesan baru.
Sender : Aam Amiruddin
New Message :
Wah game Aa asyik jg. Soal pdkkn sy gak mau ikut2an.Tp soal prnata sosial-ekonomi blh jg tuh. Kalo itu game emang bs mereprogram hdp kt/artificial life gt, sy mau usul gini :
Stp org perlu insentif utk berprestasi & berbuat baik, maklum homoeconomicus 
New Message :
Sblknya nilai tukar mt uang dan kapitalisasi mmbwt orang selfish dan egosentris.Sstm sosialis membunuh kreativitas &free will.Alat tukar bernilai jg mendorong org konsumtif.Udah baca Richard Brodie ? Virus pikiran. Ada meme pembeda,strategi dan asosiasi.Bhwa org bisa meniru dan mereplikasi nilai. Krn alat tukar (uang), manusia dipupuk sifat manipulatifnya.
New Message :
Human mjadi instant creature, mdh protes, dan hidup dalam tempo tinggi (setel kenceng bkn setel kendho).Hidup ini jd tegang.Org mengukur prestasi dari daya beli.Dan parameter jasa adalah kontribusi positif pada daya beli, bukan sekedar terima kasih yg ikhlas. Gawatkan A’?
New Message :
Trus welfare,bkn lagi nilai kompre ttg kesejahteraan bathin,tapi welfare yang kudu measureable,money,money,money….
New Message :
Org gak mau lg nyebrangin nenek2 di jalanan rame krn gak ade dwtnya. Org buta tertatih tanpa ada yg mengulurkan tangan.Malah skrg bnyk bayi dan anak busung lapar,smntara 1 porsi Sup Haisom di Mandarin 200 rebu,kepriben man ? So how?
New Message :
Org ogah nyegat angkot di tmpt yg gak ada S dicoretnya atawa kalo ada di halte.Org gak demen bkn SIM yg pake ujian, org gak suka skolah lama2 bwt jd sarjana, bayar aja beres !
New Message :
Trus gimenong ?
New Message :
Hapus mata uang ! Pake sistem reward. Setiap bayi yg lahir di Indonesia pasangin barcode,trus cangkokin alat pindai barcode biometric di retina untuk nyensor. Pasangin microtransmitter dr tiap org indon utk sending data ke server nasional.Ini pusat pemerintahan e-Gov digital bo !
New Message :
Bentuk presidium antara legislatif dan eksekutif,lebur jadi satu  kekhalifahan digital.Tgsnya cuman buat aturan,reward dan punishment udah diotomasi (artificial law yg bebas korupsi dan kolusi).Caranya ?
New Mail ( Blackberry) :
Setiap prestasi (studi,kerja,keshalehan sosial)akan dinilai oleh sesama warga negara melalui persepsi dan identifikasi barcode.contoh: org yang sopan,nyegat angkot di tempatnya akan dipandang org dan dikenali identitas biometricnya.Slnjutnya dinilai (misal +8),lalu disend deh ke server nasional. Di folder org yg bersangkutan akan terkumpul point reward/token. Dr token yg dimilikinya dia bs beli rumah,mobil,beras,buku,skolah,dll. How come ? Kan di era digital kita connected,National Area Network.Org sholeh yg cerdas,prestatif,dan santun akan masuk surga (dunia dan akhirat).Di dunia senang,Insya Allah jg kelak di akhirat.teknisnya; bgt org ini dtg ke tk buku,pilih buku,disensor ID biometricnya dan didebet deh pointnya,beres and simple kan ?
New Message :
Bwt kebaikan berjamaah lbh Ok lg, penilaian akumulatif akan didpt dr kuantitas sejumlah jamaah.Mangkanye kalo sholat pade berjamaah ye ! Infaq juge…Jgn lupa kewajiban fardhu kifayah,termasuk bebersih sampah di RT kite cing !
New Message :
Gimana org jahat,kurang ajar,dan brjiwa preman ?
Gampang aja, point reward dari penilaian masyarakat akan berwujud sekumpulan besar point negatif.Dia tdk akan dpt mengakses berbagai kebutuhan dasar hidup,inilah hukuman mati sosial. Jd brgsiapa mau hidup,maka berprestasi dan sholehlah !
New Message :
Kalo mo bkn perusahaan gimane ? Ya, gampang kumpul aja bbrp org sholeh setor modal point. Mkn sholeh customer,byk infaqnya, mkn byk pula ia dpt discount.
New Message :
Gimenong A’,ide ini bisa buat memprogram gamenya ?

Aa Gym buru-buru mengklik menu dan menuju sub menu GAME OPTION. Aa segera memasukkan perimetri baru buat sistem sosial ekonomi yang akan dihadapi oleh si Jhony.
Reply :
Jazzakumulloh khoiron katsiraa Kang Aam ! Upami aya kalepatan nyuhunkeun dihampura.
Message Sending to Aam Amiruddin
New Message :
Amin ! A’, udah pernah mengunduh m-Quran ? Ada program berbasis wml yg berisi search engine Quran yg bs nyari ayat dan surat yg kt butuhin dan nampilin terjemahannya via HP. Caranya gampang bgt, tgl setting GPRS trus browsing pake WAP dan ketik aja : http://wap.quran.org. Jd Quran bs slalu kt bw kemana2,bahkan keliling dunia.
New Mail ( Blackberry) :
A’ sy br baca tentang diferensiasi al Rizal dan An-Nisa neh,it’s amazing they are similar but deeply different bo ! Bs gak tuh dimasukan jd salah 1 perimetri gamenya? Dlm DNA ada gen-gen yang make pengenal berasal dr ayah atau ibu, disbtnya gene imprinting, misal H19 yg bersifat maternal (py fungsi reseptif terhadap IGF2 paternal). Yg lbh shocking lg adlh kenyataan bahwa striatum ,kortex, dan hipokampus pada manusia adalah hasil kerja gen maternal (dr ibu, sdgkan amigdala,hipotalamus, dan daerah preoptik adalah sumbangan gen paternal. Pdhl yg disebut terakhir adalah daerah “selfisH” manusia ! Ibu kau beri kami pasokan energi lwt mitokondria dan jajaran NADPH Oksidasenya,lalu kau jadikan kami juga cerdas karena gen maternalmu, oh mama !
New Mail ( Yahoo Mobile) :
Pernah nonton matrix A’?Kan pernah tuh ada scene ttg docking Nebucadnezar di kota manusia setelah dikejar2 sentinel. Alaqah post fertilisasi jg kayak gitu, docking ke dinding rahim. Jangkarnya bernama alfa-integrin dari kromosom 16. Dan alfa-integrin ini jg yang merekat sistem elektrik konformasi protein CREBP dan CREBBP. Bersama heat shock protein dan c-AMP, mungkin alfa-integrin adalah jalur masuk altered states atau Extra Sensory Perception. Atau lebih tepat kondisi retrokausalitas. Allah menciptakan alam semesta dalam 7 dimensi (langit) dan 2 waktu (relatif dan absolut).Lauh Mahfudz, dimana 6 dimensi berperimeter waktu dan 1 dimensi absolut, Lauh Mahfudz. Dimensi itu dulunya adlh sesuatu yg padu lalu dipisahkan dan diekspansikan dgn kekuatan entropi. Dan dimensi itu bergulung-gulung saling berhimpit seperti gulungan kertas koran, maka alam barzah,padang masyhar, dan akhirat membentuk paralelitas sekaligus singularitas. Harmoni katastropik yang mampu menafikan sentrifugasi,entalpi, dan entropi pd 1 titik kembali.
New Message :
Lalu kini lahirlah anak2 indigo, krn mrk bs melompat2 antar gulungan dimensi dgn mudah, krn gulungan dimensi kini smkn merapat.Dan Allah mendekat pd manusia, lbh dkt dari urat nadinya, dan kemanapun anak2 indigo itu menatap,hanya wajah Allah semata yang terpampang di retinanya.
New Mail ( Yahoo Mobile) :
Lalu ada bbrp jama’ah pengajian remaja Percikan Iman spt Azwar,Alya, dan si genit berjilbab yg entah siapa namanya, yg py mata retrospective, sdh tahu apa yg akan terjadi. Lalu jg, mrk senang bercengkerama dgn Allah, memainkan pikiran yg mereka kira harapan,padahal tentunya itu doa. Mgkin itu salah kt sbg ulama ya A’ ? Doa itu kt kesankan formal dan institusional gitu loh !Jd bhasa pengantar dan protokolor eh kolernya kudu formal. Eh,doa-doa jmn skrg kok mlh jd doa syntax, yg kalo salah tajwid jd syntax error !
Doa Azwar Cs, doa curhat, jd mrk dgn enak memaknai nafs,cinta, dan sayang sama Allah dgn bahasa mrk sendiri,malah srg jg kok mrk berdoa cuman lwt SMS !
New Message :
Jempol kesemutan nih A’, jamaah Kajian Intensif Percikan Iman jg udah pd ngantre noh !
BTW,si Sofie kena demam berdarah tuh. Apa bener bisa diobatin kloroquin ? Ngurangin faktor TNF alpa gitu ? Lwt inhibisi ribosomal ? Bener gak seh ? Mg dpn jd ketemuan di Pusdai ?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home