Sunday, September 17, 2006

Naskah Buku Digital Jalan-Jalan Sambil Bersyukur

JALAN SYUKUR,





Prolog
Jalan Syukur












“Dan Dia membuat jalan-jalan (berbagai mekanisme ibadah) di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS Al-Zukhruf ayat 10)
Semula buku ini akan diberi judul: “Gerbang Umami” Hikmah di Balik Setiap Kelezatan, maka “jalan-jalan ibadah” sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah dalam ayat di atas dapat juga “ditelusuri” melalui kemampuan kita dalam mengungkapkan hikmah di balik setiap kelezatan makanan. Umami adalah sebuah kata bersahaja yang enak sekali didengar di telinga. Tetapi artinya sendiri bermakna sangat dalam dan sangat luas. Umami dapat menjadi padan kata yang tepat bagi sebuah frase dalam bahasa Inggris berikut : “Ultimate Pleasure”. Kenikmatan atau kelezatan puncak. Hanya saja Umami berkorelasi secara khusus dengan indera perasa dan pengecap makanan. Sehingga Umami dapat diartikan pula sebagai titik kulminasi kelezatan makanan. Semua rasa berpadu di sana dan membentuk sebuah orkestrasi yang harmonis dan sinergis. Sedangkan pengertian “Gerbang Umami” sebagai sebuah frasa adalah: Pengantar atau Titik Awal untuk Memasuki Samudera Hikmah yang Tercipta Seiring dengan Terciptanya Kelezatan Makanan. Tetapi akhirnya dipilih sebuah judul yang lebih bersahaja dan membumi, yaitu:Jalan Syukur,Hikmah di Balik Keindahan dan Kelezatan . Pemilihan judul baru ini dikarenakan saya teringat akan perintah Allah pada kita, umat manusia untuk “menyebar” di seantero penjuru bumi seusai kita sholat mengingat Allah. Allah telah menjadikan hamparan rizqi dan “laboratorium” hakikat terbesar yang dapat kita cermati dan pelajari di setiap pelosok bumi ciptaan-Nya.Untuk itu saya memutuskan untuk menuliskan berbagai perjalanan dan pengalaman hidup yang telah saya lalui dan lampaui, agar kita bersama dapat menapis butiran-butiran hikmahnya yang mungkin sangat remeh dan tampak tak berbobot, tetapi di balik itu semua tentu ada “misteri” ilmu yang diberikan oleh Allah agar kita “membacanya”. Tokh sedikit demi sedikit bila setiap hikmah itu kita rawat dan kita biarkan untuk bertumbuh, maka ia akan menjelma menjadi kristal pengetahuan yang bersinar-sinar. Setiap perjalanan selalu menyisakan tanda tanya besar tentang eksistensi dan kemampuan kita untuk mengeksplorasi diri kita sendiri. Semakin jauh kita berjalan, semakin pula kita mengenal diri kita sendiri, Wa fi anfusikum afala tubshirun, sebaik-baiknya mnanusia adalah manusia yang mengenal dirinya sendiri. Dengan mengembara dan menghayati “takdir” hidup kita dengan ikhlas dan apa adanya maka “jalan yang lurus” akan semakin tampak di hadapan kita. Sedikit banyak kita mulai mendapatkan pengetahuan tentang “kemana” sesungguhnya kita akan menuju. Sebuah pertanyaan mendasar yang diujikan juga kepada Nabi Ibrahim AS. Setiap perjalanan dan setiap detik waktu dan ruang hidup yang telah kita lalui adalah sebuah proses “bermiqraj”, beruaya kembali ke haribaan lembut Sang Maha Sumber !
Dalam buku ini kita akan berbincang santai tentang kisah perjalanan, keunikan sebuah peradaban, pengalaman hidup yang telah dilalui, kelezatan dan keunikan berbagai jenis penganan, jajanan, makanan, dan masakan dari berbagai penjuru dunia dan berbagai pelosok tanah air. Dari setiap proses “mampir intip-intip dan icip-icip” ini kita akan selalu berusaha memetik hikmah spiritual dan manajerial yang bisa kita amati, cermati, dan rumuskan kembali. Beberapa persinggahan memberikan begitu banyak hikmah dan begitu banyak nilai-nilai pengetahuan yang ber”gizi” bagi keimanan. Sementara ada beberapa persinggahan lain yang memberikan hikmah “ringan” dan “menyegarkan” serta menawarkan “keceriaan” dalam menatap hadirnya masa depan. Semua itu terangkum dalam kompartemen “Melanglang Isi Kepala”, lalu proses mensyukuri dan mencari hikmah di balik setiap kelezatan terangkum di dalam kompartemen “Kembara Kuliner dan Lautan Hikmahnya”. Dan yang tak kalah serunya untuk disimak sebelumnya adalah kompartemen “ Fiksi Kuliner”, sebuah pengembaraan imajiner tentang hakikat seorang manusia dan betapa dahsyatnya mega sistem ciptaan Allah SWT.
Jalan-jalan yuk….

Melanglang Isi Kepala…

LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK

Gugusan gemintang terhampar berkerlap-kerlip cemerlang di langit berwarna biru kelam. Sembilan jam tepat pesawat Boeing 747-400 ini menjelajah di ketinggian 37.000 kaki. Malam yang sangat hening dan syahdu, dan aku meluncur dengan kecepatan 910 Km/Jam. Aku sangat bersahaja, hanya ada dua helai kain putih yang terikat di pinggang dan tersampir di bahu kiri. Sandal jepit menjadi alas kakiku, dan aku larut dalam seruan tipis talbiyah. “Tung !”,Tung”,Tung !”, Ibu, Bapak Rahimakumullah,para tetamu Allah, Ghoyfurrahman, dalam beberapa saat lagi kita akan segera melintasi garis Miqat.” Kapten Pilot Garuda Indonesia mengumumkan dengan suara baritonnya yang meneduhkan. Hatiku bergetar hebat, “Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah !””Labbaik Allahumma Umratan !”, niat itu aku teguhkan dengan segenap jiwa raga. Seluruh kerinduan kini menggumpal menyatu dalam setiap desah tarikan nafas. Perlahan Madinatul hujjaz atau Embarkasi Haji di kota Jeddah tampak semakin dekat. Ribuan saudara muslimku dari seluruh penjuru bumi Allah tampak telah menyemut memenuhi seluruh lapang pandang. Semua putih, dan bersahaja. Di hadapan Allah kami semua tampak menjadi sangat sederhana, makhluk lemah yang haus akan cinta-Mu ya Allah ! Perjalanan menuju Mekkah alias Bakka, kampung tertua di dunia tempat Baitullah berada, kulalui dengan setengah tak percaya…Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik kala syarikallakalabbaik innal hamda wanikmata laka wal mulk la syarikallak !” Segala puji dan nikmat hanyalah kepunyaan-Mu ya Allah ! Dan angin lembut lembah Mekkah menyambutku di pagi yang dingin ini. Aku berjalan menelusuri tepian lintasan Sa’i antara bukit Safha dan Marwah. Lalu ketika kujumpai pintu no 25 segera aku berbelok ke kanan, memasuki Babbussalam, sesuai sunnah Rasul ketika mengerjakan umrahnya. Lalu sontak di depan mataku tampaklah rumah-Mu ya Allah…dengan bibir bergetar kuseru “Allahumma antasalam waminka salam fahaina Robbana bi salam !” Lututku terasa lemas, bulir-bulir air mataku bercucuran bercumbu dengan gravitasinya. Aku yang merindu, kini terpatung membiru. Angin pagi yang bertiup lembut seolah membelai jiwaku. Jiwa yang selama ini kering kerontang dan terpuruk layu dalam setiap hela nafas ketakutan. Kini tersapa tetesan air kerinduan, dan benih-benih rahmatan mulai mencuat tumbuh bermekaran. Masih bergetar aku menatap Hajar Aswad dan beri’tilam, “Bismillahi Allahu Akbar !” Aku beringsut maju menuju maqom Ibrahim, hijir Ismail, maqom Yamani dan terus berputar melawan normalitas kehidupan. Aku berdiri, berlari dan menghancurkan semua kepalsuan, aku berdiri berlari dan menentang semua nilai kefanaan. Aku berputar merentas waktu, melawan arah jarum jam menuju sebuah kenisbian. Aku ingin hilang, menyatu dan melepas rindu hanya pada-Mu ya Allah ! Thawaf itu anti logika. Dimana semua nilai duniawi menghablur dalam kesementaraan, dan aku terus berputar melawan arah mencari sebuah jawaban ! Sholat 2 rakaat di maqom Ibrahim dengan berdiri menghadap Multazam adalah sebuah perhentian, sebuah terminal permenungan. Aku ringan, seringan kapas yang seolah terbang ke sana kemari ditiup angin semenanjung Hijjaz. Hidup adalah perjuangan, dan setiap langkahnya juga dapat berarti beban, tetapi kini di depan Multazam aku ringan. Aku mengapung di udara, dan menghirup serta mereguk begitu banyak udara kebahagiaan. Lalu aku mencoba merapal sederet doa, panjang sekali, sampai aku tercekik malu dan tak kuasa untuk menyampaikan satu buahpun permintaan lagi, “…sudah terlalu banyak nikmat-Mu yang kuingkari ya Robb !”
Air itu, kupandang, kujilat, dan kubasuhkan ke paras wajahku. Sejuk, dingin, dan menyegarkan. Tetapi kulihat lagi dan tetap saja itu air yang bening. Air yang bening ini banyak juga mengalir di sungai-sungai pegunungan di dekat rumahku nun di punggung Tangkuban Perahu sana. Lalu perlahan sambil membisikkan,”Allahumma inni asaluka ilman nafian warizqan wasi’an wasyifaan min kulli dain wasaqa min birahmatika ya arhamar rahimin,”kuteguk sejumput air bening itu. Dunia menjadi hening, barangkali yang kurasakan rotasi berhenti berputar. Air bening ini melarutkan kesedihan,kesombongan, keakuan, dan seluruh ketakutan. Air bening ini adalah air mata. Suatu air mata kebahagiaan. Air mata Ibunda Hajar, yang cinta tulusnya diganjar dengan sebuah keajaiban. Keajaiban cinta, yang diteguhkan dengan sebuah keistiqamahan, sebuah konsistensi sikap dan pendirian. Sebuah keteguhan keyakinan dan kepercayaan. Itulah aku kini yang menapak lintasi bebukitan Shafa dan Marwah.”La Illaha Illallah, wahdahula syarikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ala kulli syain qadir.” Kuteguhkan keyakinanku akan janji Allah, dengan berlari-lari kecil 7x bolak-balik. Menguji konsistensi. Menguji sebuah cinta. Belajar beradaptasi, belajar berakselerasi, belajar relaksasi dengan kata lain belajar menata diri dan merencanakan kehidupan sehari-hari. Mengenal masalah, berusaha optimal, dan pasrah menerima hasil ikhtiar. Di bukit-bukit cinta ini jiwaku terus berlari, dan membebaskan diri dari kejumudan dan pembodohan diri. Kuncinya satu : Konsistennya cinta !
Tepat di puncak bukit Marwah, aku di wisuda. Sejumput rambutku beterbangan melayang dan terpisah dari diriku. Sebuah ikrar sebenarnya sedang berkumandang. Selamat tinggal sebuah penantian dalam ketidakpastian. Di puncak bukit Marwah seharusnya seorang manusia baru dilahirkan. Puncak bukit ini adalah sebuah gerbang Re-eksistensi !
Aku yang euforia, berjalan gontai menuju Sofitel. Sejenak aku mampir di WC umum untuk berganti baju duniawi yang penuh corak dan aneka warna. Sebuah lembar kepalsuan, dimana citra diproyeksikan. Perutku berbunyi keras berkeroncongan. Lalu akupun singgah di sebuah kedai di depan WC umum, kubeli seekor ayam panggang berbumbu dan nasi berkuah kari. Tak lupa kubeli pula es krim seharga 1 real dengan rasa vanila. Aku duduk di hamparan pualam putih yang dingin, dan menatap bahagia sekumpulan burung dara yang tak akan pernah mengenal arti sebuah dosa.

KERDIPAN BINTANG DI MUZDALIFAH
Hari ini tepat tanggal 8 Dzulhijjah. Kota Mekkah kembali memutih dengan lautan manusia yang bergerak bak gelombang, ke sana kemari dalam satu irama. Semua berjalan bergegas, ada yang bersijingkat takut menginjak ujung kain ihramnya, ada pula yang sibuk mengibas-ngibaskan kain penutup bahunya yang tersingkap terus menerus. Kaum Ibu bermukena dan berpakaian dominan putih, berbanjar rapi menunggu bus dengan sabar dan tertib. Sebagian dari mereka membawa serta anak-anaknya. Pandangan mata anak-anak itu membulat dan berseri-seri, seolah tak sabar untuk mengikuti petualangan baru yang tengah mereka hadapi. Masjidil Haram berangsur-angsur sepi. Koloni jutaan manusia itu bergerak ke satu arah, meninggalkan sib Amir, meninggalkan Azziziyah, meninggalkan Jarwal, semua serempak berjalan menuju lembah Mina. Sebuah lembah tua tempat sebagian sejarah peradaban manusia berawal. Lembah itu adalah lembah di mana Nabi Ibrahim AS berkontemplasi dan berdialog dengan nilai “kesyaithanan” yang melekat pada diri manusia. Lembah ini adalah sebuah “milestone” dimana manusia menancapkan panji kemerdekaan atas penjajahan hawa nafsu yang meliputi dirinya. Lembah Mina, sebuah lembah sunyi yang menyimpan sejuta arti, hari ini dibanjiri hiruk pikuknya manusia yang sedang mencari jati diri. Kami semua berniat mabit atau bermalam disini, mengisi amunisi hati, berkontemplasi, dan memanjatkan doa-doa kerinduan sejati. Mina adalah salah satu maqom istijabah, di mana setiap doa yang menguar akan akan tumbuh menjadi permohonan yang dahsyat. Di sini kami berhenti dan merehatkan jiwa, bertanya dan menyiapkan dialog yang akan kami sampaikan di Arafah esok hari. Kami semua terpekur, sibuk mengukur eksistensi diri, “ Kemanakah engkau akan pergi Ibrahim ?” Tanya Allah SWT. Ya, kemana kami akan pergi ? Dan siapakah sesungguhnya diri ini ? Malam itu di atas atap bangunan sementara di salah satu punggung bukit Lembah Mina, aku menatap hamparan ribuan tenda yang dari dalamnya meruap berjuta doa-doa, ya mau kemana semua manusia ini ?
Fajar merekah, hari baru menyingsing, di waktu dhuha kami bergerak menuju sebuah padang. Sebuah gurun kosong tempat berkumpulnya jutaan manusia tanpa atribut apa-apa dan hanya berbekal taqwa. Manusia dari berbagai penjuru dunia, beraneka ragam rupanya, berbagai pula langgam bahasanya. Semua datang ke sini, berkumpul dan bersaksi bahwa “Tiada tuhan selain Allah !” Sebagian dari kami, mungkin juga aku, bingung dan terombang-ambing dalam ketidaktahuan. Sebagian dari kami, mungkin juga aku, bimbang, tak mengerti akan hakikat kehidupan, dan mungkin juga tak mengenal tempat yang menjadi tujuan. Setelah matahari sepenggalan naik dan berkulminasi, maka kamipun shalat berjamaah jama’ taqdim, menggabungkan zuhur dan azhar. Dan perjalanan menjunami relung hatipun dimulai. Pertanyaan kemarin masih terus terngiang, “siapakah aku ini ?””Hendak kemanakah gerangan hamba ini ya Allah ?”Bulir air mata merambat naik melawan gravitasi, ia menghunjam tepat ke inti hati. Aku manusia yang teronggok disini setengah bersila setengah berjongkok, berjuang keras berdamai dengan hati. “Mau kemana aku ini ?” Saat tak ada lagi nafsu-nafsi dan tak ada lagi benda ataupun sesama manusia yang ingin kumiliki, aku bingung, “lalu apa setelah ini ?” Aku menjadi manusia nirkepemilikan, aku tak punya apa-apa. Tak sekedar bersahaja, tapi memang benar-benar dhuafa. Tubuhku terasa ringan dan seolah dapat terbang bak rama-rama. Karena aku bahkan mungkin tak berhak mengklaim meski hanya untuk sekedar sebuah nama. Aku kangen, aku rindu, aku ingin pulang dalam dekapan kedamaian. Aku sadar, bahwa selama ini aku kelelahan dan penat memikul sebuah beban yang bernama kepalsuan. Kini atribut itu luruh, dan langitku kini menyempit, demikian pula jarak antara Engkau dan aku ya Allah ! Air mataku terus bercucuran ke langit, menangisi sepenggal kerinduan yang selama ini kusangkal dengan berbagai bentuk kebohongan. Sungguh sebuah penyangkalan yang menyakitkan, yang melebarkan jarak antara Engkau dan aku ya Allah ! Kini aku papa, kini aku hampa dari berbagai goda dunia, kini hanya Engkaulah yang kupunya ya Allah ! Air mata dan doa-doa terus terpanjat ke langit, dan mataharipun tergelincir karena licinnya tangis jutaan manusia. Kini kami harus berangkat menunaikan sebuah “perang” untuk mendamaikan dunia. Kami yang terhempas dari langit, berjalan memasuki sebuah padang berbukit batu yang bernama Muzdalifah. Inilah garis start untuk memulai sebuah perjuangan “menyeimbangkan dunia”. Karena keseimbangan fitrah adalah pesan Arafah yang teramat penting. Hari Arafah tidak akan pernah tiba bagi kita yang gagal mensinergikan dan mengoptimasikan fitrah sebagai manusia. Maka kita diminta untuk menganalisa dan mengakumulasikan sekurangnya 7 nilai kesesatan yang harus kita lontarkan dan buang jauh dari kehidupan. Semalaman kita diminta untuk meresume perjalanan hidup kita dan membuat butir-butir intisari kesalahan yang akan kita ikrarkan tidak akan kita ulangi lagi di masa depan. Muzdalifah adalah ruang kelas kesemestaan. Bintang-bintang di sini tergantung lebih dekat dan saling berkedipan. Mereka menaungi malam dan menyelimuti jutaan jiwa-jiwa yang rebah kelelahan. Kesalahan demi kesalahan haruslah diterima dengan rendah hati dan dikristalkan untuk menjadi batu-batu yang siap untuk dilontarkan. Lalu aku dan hampir semua manusia berjubah putih di sekelilingku terlelap dalam sebuah tidur yang indahnya terkulum dalam sebuah senyuman. Tidur di Muzdalifah adalah tidur di dalam rahim yang hangat akan rahmah. Dalam mimpiku, satu bintang yang berkedipan mendekat dan memancarkan sinar lembut yang menenangkan. Aku menangis dalam tidurku. Tangis bahagia dari seorang manusia yang kelelahan. Setengah malam aku mencongakkan berbagai kesalahan, dan aku kehabisan ruang dalam memoriku untuk mengingatnya. Naudzubillahi min dzalik ! Banyak sekali ! Aku penat, lelah dalam keputusasaan. Aku menangis dan terus menangis sampai munculnya secercah kepasrahan. Allah Maha Pengampun ! Dan bintang itu seolah berkedip sambil berbisik, “Lepaskanlah segala himpitan bebanmu, jujurlah pada dirimu sendiri, dan pasrah !” Hembusan angin gurun seolah membawa kesegaran yang melegakan ruang bathin. Aku terjaga dalam kebugaran hati yang luar biasa, aku hampir tak peduli, semua kesalahan kukristalkan dalam 7 batu kristal hawa nafsu. Nanti di waktu dhuha akan kulontarkan dan kutinggalkan untuk melangkah menempuhi hari-hari baru. Ya, aku kini merasa terlahir kembali sebagai manusia baru. Aku bergegas bertayyamum dan bergabung menyusun shaf terdepan dalam barisan shalat Subuh di tepi jalan.
Plang hijau bertuliskan “Muzdalifah Ends Here”, perlahan semakin mengecil di kejauhan. Di ufuk timur matahari mulai menerangi kembali Lembah Mina. Aku berjalan dengan langkah-langkah ringan seirama hembusan angin pagi. Setiba di depan Jumrah Aqabah, aku lontarkan kepingan-kepingan “masa lalu”ku. Kepingan-kepingan itu melayang dan hilang dalam sebuah lubang, membawa pergi berjuta penyesalan, kebodohan , dan kejumudan. Lalu waktu berputar cepat sekali, kini dimensinya tak lagi hitam, putih, dan abu-abu tetapi kaya warna dan berputar seperti bianglala. Dan akupun ikut berputar, terus berputar dengan riang dan amat gembira menarikan tarian kerinduan semesta. Aku berputar, terus berputar dalam thawaf ifadhah, tidak lagi dengan jiwa yang gelisah dan tidak pula membawa hati yang resah. Lembar-lembar rambut yang beterbangan helai demi helai ketika tahalul, mengalun segala kegundahan pergi bersama datangnya kesadaran baru. “Menjadi manusia yang sadar diri”, itulah makna seluruh rangkaian perjalanan haji ini ! Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik kala syarikala ka Labbaik, Innalhamda wanikmata laka wal mulk, la syarikalaq !
Sebelum menghabiskan sisa “sekolah” dua malam lagi di Lembah Mina, aku sempatkan nongkrong di salah satu sudut kota Mekkah sembari menikmati ayam grilled yang terasa amat lezat dan nikmat. Kulit coklat keemasaannya menyimpan berjuta cita rasa kehidupan yang didamba banyak manusia, ringan, asin, gurih, dan renyah ! Satu seruput sahi hangat dengan susu, akhirnya melengkapi indahnya senja itu ! Alhamdulillah, hidup itu memang indah, apalagi jika umur kita barokah ! Amin.

Ihram, Masjidil Haram Makkah Al Muqaromah

Nabawwi, Madinah Al Munawarah

WISATA MASJID KELILING DUNIA

Bumi Allah yang luas terhampar adalah “masjid” yang tersedia bagi kita untuk menunaikan “ibadah” dan sarana belajar untuk mendekatkan diri pada-Nya. Nilai-nilai kemuliaan Islampun tumbuh subur di seantero dunia. Tanpa terasa kebajikan dan kebenaran sejati menginfiltrasi, menembus, dan berdifusi di hampir setiap komunitas kehidupan. Mulai dari jazirah timur tengah dan sebagian besar Asia Kecil yang dikenal sebagai tempat kelahiran agama-agama dunia, sampai dengan kutub-kutub poros bumi Islam telah meretasnya. Dari sebuah kota kecil nan dingin bernama Bergen di ujung semenanjung Norwegia sana, sampai dengan sebuah desa kecil nun di Tazmania sana Islam mulai dikenal dan menjadi pilihan. Bahkan di tengah-tengah ganasnya gurun Gobi dan kerasnya alam Siberia, Islampun hadir di sana. Represi komunisme di seantero daratan Cina tak mampu membendung mengalirnya panggilan merdu sang Muadzin dari menara mesjid agung Shenshen dan Beijing. Bahkan Islam telah menyeberangi selat Bering dan mulai berakar di dataran tundra Anchorage di negara bagian Alaska.
Masjid-masjid dalam artian sebenarnya tumbuh dan berkembang di mana-mana. New York kini telah memiliki sebuah mesjid agung di sebuah gedung di sela-sela pencakar langit di Manhattan. Tak pelak kiranya nanti dinamisitas bursa Wall Street dan Fifth Avenue yang sibuk dan kerontang rohani akan disejukkan oleh siraman-siraman pupuk kebajikan yang berkumandang dari masjid itu, dan tidak hanya dari kesejukan buatan Park Avenue di ujung jalan Houston. Washington DC, Ottawa, London, Den Hag, dan Canberra sebagai pusat politik dunia telah dikunjungi oleh sentuhan lembut nilai keislaman yang membawa rahmah. Kopenhagen tempat Jylland Posten diterbitkan juga telah memiliki masjid sebagai tempat berkumpulnya komunitas Islam se-Denmark. Bahkan Islam di Denmark sudah menjadi salah satu mata ajar di Sekolah Dasar. Masjid hadir sebagai sebuah simbol perdamaian dan dapur nilai-nilai kemanusiaan yang diwarnai dengan kebenaran hakiki. Masjid hadir sebagai sebuah stasiun radio yang terus menerus menyiarkan kabar-kabar dari “langit” tentang sebuah janji kebahagiaan.
Masjidil Haram di jantung kota Mekkah dengan titik sentralnya bangunan Kakbah, adalah masjid tersakral dan memiliki aurta spiritual yang sangat luar biasa. Berjuta-juta bahkan bermilyar orang dari segenap penjuru dunia mengarahkan niatnya dan memfokuskan tujuan hidupnya dengan berpedoman keapda masjid yang satu ini. Sebuah masjid yang mencerminkan satu kesatuan tujuan hidup setiap muslim di seluruh dunia. Masjidil Haram sesungguhnya adalah sebuah bangunan yang sangat sederhana, dibangun melingkar, mengitari kakbah. Banyak tiang dan pilar dengan berbagai ornamen yang terpasang di dalamnya. Tetapi bangunan bukanlah parameter sebuah nilai. Nilai yang sesungguhnya adalah “rasa” dan atmosfer kerinduan yang langsung membekap dan mendekap kita begitu kita masuk ke dalamnya. Masjid ini bagaikan sebuah oase di padang pasir, sehaus dan selelah apapun kita, ketika kita menginjakkan kaki di dalamnya segala kepenatan dunia itupun sontak sirna. Di setiap sudutnya tersedia tumpukan Al-Quran yang siap untuk kita kaji dan pelajari, siap untuk menghantarkan kita mencari nilai sejati jati diri. Lalu ada sekumpulan termos air zam-zam yang menawarkan kelembutan dan kebeningan sebuah penalaran. Air yang diminum tidak hanya untuk dahaga kerongkongan, melainkan untuk mengobati hausnya sebuah hati.
Maka Rasulullahpun bertransformasi dalam sebuah perjalanan lintas dimensi, berangkat dari masjid yang suci ini. Beliau menempuh sebuah perjalanan hirarki keyakinan untuk membuktikan sebuah kebenaran hakiki. Dari masjid inilah sebuah rahasia suci tentang hakikat kehidupan dan awal muasal alam semesta menuai sebuah jawaban. Perjalanan horizontal yang sarat dengan penjelajahan nilai kemanusiaan dimulai menuju masjidil Aqsha di Al-Qadisiyah ( Yerusalem), di tanah Palestina tempat kelahiran para Nabi yang semerbak dengan aroma kesucian Illahi.
Masjidil Aqsha adalah sebuah masjid sederhana yang terletak di dalam kompleks Istana Sulaiman atau Kuil Sulaiman (Solomons Temple). Seratus meter di sebelahnya, berdiri berdampingan sebuah bangunan yang dikenal sebagai Dome of Rock atau Kubah Batu. Batu ini adalah saksi sejarah suci tentang sebuah perjalanan vertikal Rasul menemui Sang Hakikat sejati. Batu ini terangkat setengah melayang, tak kuasa menahan beban kerinduan. Batu ini kangen berat pada Khaliknya yang telah melahirkan dan menahbiskannnya menjadi sebuah batu yang sholehah. Masjidil Aqsha juga hanyalah sebuah masjid dengan bangunan yang sederhana. Tetapi kesederhanaan itu sarat dengan berjuta makna. Dari sinilah sebuah sejarah tentang peradaban dimulai. Kisah tentang kelembutan ajaran Allah yang diterapkan oleh Sultan Sallahuddin Al Ayubi, kisah tentang Islam yang damai dan penuh dengan toleransi.
Islam yang berbudaya dan Islam yang beradab teramat tinggi terus menginterferensi berbagai zona-zona geografi di berbagai pelosok dunia. Semua dipancarkan dari trio Masjid Suci. Dan masjid yang ketiga adalah Masjid Nabawi atau Masjid Rasulullah. Sebuah masjid megah yang menentramkan dan menguarkan atmosfer kasih sayang. Di dalamnya ada sebuah taman yang bernama Raudhah, sebuah “hot spot” dimana setiap doa yang ikhlas akan mendapat akses pita lebar. Di sinilah Islam dibangun dan disempurnakan, disinilah akhlak dan adab manusia dikembangkan untuk mencapai suatu keseimbangan lahir dan bathin. Masjid ini adalah suatu muara dari berbagai sungai surga yang di dalamnya mengalir hikmah-hikmah kebajikan.
Melangkah lebih ke utara, di sebuah kota yang dulu dikenal sebagai Konstantinopel, ibu kota kerajaan Romawi Timur atau Byzantium, bertebaran masjid-masjid nan Indah yang menyajikan keutamaan budaya Islam. Dinasti Ustmaniyah dan kerajaan Mamluk mengembangkan sayap peradabannya dari kota ini, yang kelak diberi nama yang jauh lebih indah, Istanbul. Masjid Sultan Ahmad, Masjid Sulaiman, dan Haga Sophia yang semula adalah gereja Katolik Roma, seolah mencerminkan kekuatan konsep “Iqra” dalam pencapaian teknologi Islami. Bangunan-bangunan masjid tersebut seolah menggambarkan “citarasa” dan kualitas seni cendekiawan Islam yang sangat brilian sekaligus religius. Arsitektur masjid serupa dengan desain yang tak kalah indahnya serta mampu berakulturasi dengan budaya lokal dapat kita nikmati juga di berbagai belahan dunia lainnya. Masjid Cordoba di Andalusia, meski kini tak lagi berfungsi sebagai masjid,

Gambar Masjid Agung Cordoba (sumber Ensiklopedia Encarta)
Masjid Agung Samarra di Irak yang dibangun pada tahun 848 sampai dengan 852 M atau sekitar 1 abad sepeninggal Rasulullah,

Gambar Amsjid Agung Samarra (sumber Ensiklopedia Encarta)
Masjid Agung Sarajevo di Boznia Herzegovina yang merupakan bantuan pemerintah Indonesia, Masjid Putra Jaya dan Masjid Wilayah Persekutuan di Malaysia, sampai dengan Masjid Al-Markaz Al-Islami dan Masjid Agung Demak di Indonesia. Semua masjid itu menggambarkan keragaman budaya dan kelembutan seni yang berangkat dari keyakinan dan hati. Masjid-masjid itu dapat menjadi gambaran beragamnya “lagu-lagu” rindu yang tertata dalam melodi-melodi indah yang dinyanyikan dalam berbagai bahasa daerah !

ISTANBUL, PERTEMUAN 2 PERADABAN

Istambul dan Teluk Tanduk Emas (Golden Horn)(foto oleh Tauhid Nur Azhar)

Pagi itu tepat pukul 05.30 kami mendarat dengan mulus di Bandara Kemal Attaturk. Begitu kami keluar dari “belalai gajah” yang menghubungkan pesawat dengan ruang kedatangan, kesegaran udara pagi khas eropa langsung meruyak paru-paru kami, Subhanallah, nikmat sekali rasanya. Setelah sejenak beristirahat di penginapan, sekitar pukul 10.00 waktu Istanbul, mulailah kami bergerak untuk menjelajahi sudut-sudut indah kota Istanbul.
Penjelajahan hari pertama ini dimulai dengan pelayaran “wajib” di selat Bosphorus, sebuah selat unik yang sangat terkenal di seluruh dunia karena memisahkan 2 benua Asia dan Eropa. Dalam perjalanan menuju dermaga kami melewati banyak sekali situs purbakala yang masih terawat dengan baik. Sungguh menakjubkan rasanya melihat sebuah aquaductus kuno (bangunan irigasi dan saluran air bersih) yang mungkin juga dirancang sebagai sebuah jembatan bersusun 3, membentang melintasi jalan yang kami lalui menuju dermaga kapal. Dalam salah satu literatur Romawi kuno ( De Aquis Urbis Romae) yang ditulis pada tahun 97 SM oleh Frontinus, gubernur militer Romawi wilayah Inggris raya, sistem irigasi dan air baku yang dilembangkan oleh kekaisaran Romawi dapat meliputi luas wilayah sekitar 400 Km dengan volume air mencapai 900 juta liter, Subhanallah. Dalam perjalanan menuju dermaga Bosphorus juga kami melalui bebeberapa mesjid kuno dengan arsitektur bergaya Ottoman. Gaya Ottoman ini dicirikan dengan adanya kubah semi bawang berwarna abu-abu dan beberapa minaret yang menjulang runcing. Semua mesjid Ottoman dibangun antara abad ke 15 sampai dengan abad ke 19. Kami juga melawati Spicy Bazaar atau dalam pengertian kita Pasar Bumbu atau rempah-rempah. Sesaat sebelum tiba di dermaga kita dapat melihat sebuah stasiun kereta api kuno yang sangat terkenal, yaitu : Stasiun Istanbul-Orient Express. Stasiun ini adalah stasiun pemberangkatan KA Orient Express yang sangat terkenal , terutama setelah menjadi setting novel thriller detectivenya Agatha Christie. Sesampai di dermaga kami langsung menaiki sebuah kapal pesiar yang akan melayari selat Bosphorus. 15 menit kemudian pelayaran dimulai. Kapal pesiar berjalan zig-zag diantara dua sisi selat. Dubhanallah, pemandangan di kiri kanan sepanjang selat sangatlah indah. Deretan café dan rumah-rumah penduduk dengan teras melayang di atas air yang dipenuhi dengan bunga beraneka warna sangatlah elok dipandang mata. Daratan di tepi selat membukit dan sangatlah hijau asri. Kami terkagum-kagum melihat desain arsitektur rumah-rumah kayu yang berada di tepian selat. Oh ya dalam pelayaran ini kami juga bertemu dengan kapal barang dengan tonase yang cukup besar. Flora dan fauna sepanjang pelayaran juga amat menarik untuk dicermati, ubur-ubur (aurelia spp) amat banyak dan berenang-renang kian kemari di sisi lambung kapal. Burung-burung laut seperti camar dan keluarga kormoran yang sangat besar amat banyak ditemui. Hampir di setiap buoy (pelampung suar) bertengger seekor burung dengan tenangnya tanpa terusik oleh ulah jahil manusia.

Hani Machali (Istri Penulis) dan Putra-Putri Tercinta di Selat Bosphorus (foto oleh Tauhid Nur Azhar)

Setelah melalui 3 dermaga perhentian, kami turun di dermaga ke-4. Seekor bayi camar dengan ukuran tubuh 2 kali ayam jantan menyambut kami di tepi dermaga. Acara selanjutnya adalah makan siang dengan hidangan khas Turki. Restoran yang kami datangi terletak tepat di tepi Bosphorus. Dari jendela-jendela restorang yang sengaja dibuka lebar terpampanglah lukisan alam yang sangat indah : air selay yang hijau membiru, seekor burung berdiri tenang diatas pelampung,dan seorang turis yang asyik berenang hilir mudik di tepian pantai. Makanan lezat segera saja terhidang, ikan bakar khas Turki dengan aroma asap kayu Cheddar yang menggugah selera makan. Meneteslah air liur kami melihat ikan bakar itu. Semilir angin “summer” yang sejuk ( suhu sekitar 230C) membuat acara makan siang ini begitu nikmat kami rasakan.Alhamdulillah.
Perjalanan pasca makan siang kami mulai dengan langkah dan kelopak mata yang memberat, ngantuk sekali ! Tetapi pemandangan yang kami lihat di sepanjang perjalanan darat menyusuri tepian eropa dari selat Bosphorus membuat mata kami terbeliak kagum, indah sekali, subhanallah ! Jalan-jalan sempit menanjak dan berbatu-batu jajaran genjang dengan deretan café dan hotel di kedua sisinya menimbulkan sensasi keindahan yang luar biasa. Turki memamng pertemua 2 peradaban, modern dan klasik. Di tengah jalan berbabtu itu terdapat rel trem yang sangat modern. Kami melihat sepintas stadion Besiktas, markas FC Besiktas, salah satu klub yang disegani di percaturan sepakbola eropa. Stadionnya sangat modern dan didesain dengan sangat indah, kapan ya Persib punya stadion seperti itu ? Akhirnya kami tiba di istana Dolmabahce.

Penulis dan Keluarga Besar di Gerbang Istana Dolmabahce (foto oleh Hani Machali)
sebuah istana dengan desain bergaya campuran antara Gothic dan Barock. Menurut pemandu wisata kami, Istana ini dibangun untuk “pamer” pada negara-negara barat bahwa kebudayaan Islam atau dunia timur sejajar atau bahkan lebih maju dibandingkan dengan budaya barat. Istana ini super megah dengan detail ornamen sangat beragam. Ada satu ruang khusus yang luar biasa besar dan sangat rumit instrumennya yang hanya digunakan untuk 2 acara penting dalam 1 tahun, yaitu : Idul fitri dan Idul Adha. Istana ini terletak tepat di tepi selat Bosphorus. Kami melanjutkan perjalanan menuju Masjid Sultan Ahmed dan Masjid Sulaiman, kedua masjid ini sangatlah megah dan menunjukkan tingginya peradaban Islam di masa jayanya. Sayang di zaman modern ini ghirah umat Islam Turki khususnya di Istanbul tidak lagi berkobar seperti pada zaman ottoman atau Ustmaniyah. Masjid-masjid yang sangat indah ini lebih berfungsi sebagai obyek wisata semata saja. Dalam perjalanan pulang dari masjid, kami “jajan” buah cherry ranum yang amat segar dan buah plum yang kuningnya amat menggoda. Di salah satu gang yang sangat indah, kami membeli sepatu rajut khas Turki, wuihhh rasanya kami kembali ke ruang waktu abad pertengahan lho ! Indah banget dan kuno banget !


Hani Machali dengan latar belakang Masjid Sultan Ahmad (foto oleh Tauhid Nur Azhar)

Keesokan harinya kami mengunjungi Haga Sophia (Aya Sofia), sebuah gereja megah yang dibangun di masa Kekaisaran Romawi Byzantium Timur berkuasa dan berjaya. Uniknya gereja ini kemudian difungsikan sebagai masjid, setelah byzantium timur jatuh ke tangan Islam.

Hani Machali dengan Latar Belakang Haga Sophia (foto oleh Tauhid Nur Azhar)
Kemudian kami berjalan kaki menuju Istana Topkahpi. Di sinalah disimpan berbagai artifak peninggalan Rasulullah SAW ! Kami melihat pedang Rasulullah, cetakan tapak kaki, kotak yang berisi gigi beliau, dan potongan rambut dan jenggot beliau, Subhanallah, rasa haru menyergap diantara kami, rasanya RINDU sekali !!! Kami juga melihat surat asli beliau yang ditujukan pada Herodotus penguasa Byzantium Timur yang berisi himbauan agar memeluk Islam. Di Topkahpi juga terdapat pedang Sayidina Ali Bin Abi Thalib dan Khalid Bin Walid.
Dari Istana Topkahpi kami menuju restoran untuk makan siang. Kali ini kami menyantap olahan daging sapi khas Turki sambil menikmati lembutnya belaian angin sejuk dari arah laut Marmara yang terbentang di hadapan kami.

Turkish Cuisine (foto oleh Hani Amchali)
Perjalanan setelah makan siang dilanjutkan menuju Grand Bazaar, sebuah pasar kuno yang dibangun pada abad ke-16 dan memiliki kurang lebih 6000 gerai dagangan !
Cindera mata dan pernik-pernik amatlah beragam dan beraneka rupa. Ada hal lucu terkait dengan nilai tukar mata uang. Di Turki saat ini berlaku 2 jenis mata uang dengan nilai konversi yang berbeda, yaitu lira lama dan lira baru. 1 lira baru sama dengan 1.000.000 lira lama. Sehingga kami sempat kebingunan ketika membelanjakan uang senilai 10 lira untuk barang berharga 5 lira kok kembaliannya…. 5.000.000 lira !!! Aduh senang juga rasanya jadi jutawan sehari, ha 3x.

The Exotic Grand Bazaar (foto oleh Tauhid Nur Azhar)
Malam harinya kami kembali ke Attaturk Havalimani (airport) dan terbang ke Singapura dengan Airbus A-340 super canggih milik Turk Hava Yollari ( Turkish Airline).
Goodbye Istanbul Bogazi !

PETUALANGAN DI ANGKASA

Mengenal Pesawat Jet Komersial dan Sekilas Teknis Penerbangan
Kemajuan teknologi menyebabkan kendala jarak menjadi tidak terasa. Waktu tempuh dari satu titik ke titik lain di muka bumi semakin lama menjdi semakin singkat. Jarak antara Singapura sampai New York dapat ditempuh non stop 18 jam dengan sebuah Airbus A-340 dengan kecepatan rerata sekitar 890 Km/jam atau sekitar 0,82 Mach (kecepatan suara). Singapore Airline yang pertama kali menawarkan penerbangan non stop tersebut. Kini beberapa maskapai penerbangan sedang bersiap-siap untuk menempuh penerbangan panjang tanpa singgah seperti itu, terutama dipicu oleh hadirnya sang Double Decker Airbus A-380. Pesawat berbadan raksasa 2 tingkat yang bermesin hemat bahan bakar ini mampu terbang terus menerus sejauh 15.000 Km tanpa perlu mengisi bahan bakar. Daya angkutnyapun sangat besar, sebagai gambaran berat yang maksimal pada saat lepas landas adalah 365 ton untuk seri 500 dan 600. Pesawat berbadan lebar lainnya yang telah terlebih dahulu menjadi legenda penjelajah angkasa adalah Boeing 747. Pada seri 400 jarak tempuh maksimalnya mencapai 14.200 Km, non stop. Dengan panjang badan mencapai 70,7 meter dan lebar kabin mencapai 6,13 meter, maka B-747 dapat diibaratkan sebagai hotel yang melayang. Kapasitas bahan bakar yang dapat dibawa oleh pesawat-pesawat berbadan lebar penjelajah angkasa inipun luar biasa banyaknya. Sebagai gambaran Airbus A-380 memiliki kapasitas tangki sebesar 310.000 liter avtur. Sementara B-747 seri 400ER dapat membawa 228.250 liter avtur. Untuk daya dorong dan energi penggerak rata-rata pesawat-pesawat canggih tersebut diperlengkapi dengan power plant (mesin kompresi-propulsi jet) dari berbagai industri seperti General Electric(GE), Pratt and Whitney (PW), dan Rolls Royce (R.R)-Trent, ataupun Aeroengines. Rata-rata untuk pesawat jet komersial masa kini kekuatan setiap mesin berkisar sekitar 63.000 lb. Untuk menjamin kelancaran dan keselamatan penerbangan. Pesawat-pesawat itu juga dilengkapi dengan sistem navigasi dan komunikasi yang sangat canggih. Sebagai penentu arah tujuan digunakan Automatic Direction Finding (ADF) dan VHF Omnidirectional (VOR) yang menggunakan kisaran frekuensi 108,1 sampai dengan 117,95 MHz. VOR ini dilengkapi lagi dengan Course Deviation Indicator atau CDI yang akan menginformasikan dan mengoreksi posisi pesawat berdasarkan masukan dari VOR. Alat navigasi tradisional yang masih cukup efektif untuk dipergunakan dalam kegiatan penerbangan adalah E6B, atau alat multiguna yang menyerupai tabel logaritme serta dapat diputar-putar untuk mencocokkan derajat arah pesawat dengan pengaruh arah dan kecepatan angin. Dapat pula dipergunakan untuk memprakirakan waktu tempuh serta ketersediaan bahan bakar. Tapi di dalam kokpit pesawat-pesawat komersial berbadan lebar saat ini hampir semua sistem navigasi telah dirancang berbasis komputer. Bahkan pada keluarga pesawat Airbus, khususnya mulai dari kelas A-320, sistem navigasi sudah terintegrasi dengan Electronic Flight Instrument System (EFIS) yang menjadi embrio dari konsep “fly by wire”. Inertial Reference System (IRS) misalnya, adalah suatu komponen penginput dalam mekanisme auto pilot. Kecanggihan lain dalam kokpit pesawat jet komersial sat ini antara lain dapat dilihat pada sistem Electronic Centralised Aircraft Monitor ( ECAM). Pada monitor terintegrasi ini pilot dapat mengevaluasi seluruh parameter teknis dalam penerbangan seperti status bahan bakar ataupun gangguan-gangguan elektronik yang mungkin terjadi.


Sistem Navigasi Airbus A-380

Untuk berkomunikasi, baik dengan Air Traffic Control (ATC) maupun dengan sesama pesawat dan ground handling, setiap pesawat dilengkapi dengan radio VHF dan radio gelombang pendek (short wave radio). Jangkauan frekuensi VHF terbatas sekitar 300 Km atau 185 mil. Lebih dari radius tersebut pesawat harus menggunakan radio komunikasi gelombang pendek. Sebagai contoh, suatu penerbangan trans Atlantik dengan B-747 dalam 1 jam pertama penerbangan akan dipandu oleh oleh ATC Amerika Serikat dari Gander di Newfoundland. Lalu setelah berada di atas Samudera Atlantik yang tidak tercakup oleh radar darat, kendali penerbangan dialihkan kepada Gander Oceanic Control yang menggunakan radio gelombang pendek. Setelah mendekati benua Eropa, maka kendali penerbangan diambil alih oleh ATC Eropa dari stasiun Shanwick di Skotlandia.

Kokpit “ramping” Airbus A-320

Kecanggihan pesawat jet komersial saat ini tidak hanya terbatas pada sistem navigasi dan kendali penerbangannya saja, melainkan juga meliputi sistem pendaratannya. Panduan Instrument Landing System (ILS) terintegrasi sempurna dengan sistem navigasi darat pesawat, sehingga dapat menentukan jarak, sudut pendaratan, dan derajat deklinasi (penurunan) yang tepat. Sehingga di masa kini kendala cuaca dan rendahnya angka visibilitas sudah tidak begitu berpengaruh pada proses pendaratan sebuah pesawat. Seorang pilot handal tinggallah mengikuti panduan ATC, mempertimbangkan arah angin dan kemungkinan adanya microburst atau aliran angin mikro yang ekstrem yang dapat menyebabkan perubahan drag (hambatan) dan perhitungan aerodinamika sehingga dapat menimbulkan “stall” di saat-saat aproaching. Selebihnya ikuti panduan instrumen dan perintah digital, termasuk tahapan pengeluaran flap (anak sayap) untuk mempertahankan daya angkat dalam kecepatan rendah, ujung runway pendaratan (misal di Bandara Sukarno-Hatta, pendaratan bisa di ujung runway 07 R atau 25L), dan pengurangan tenaga melalui penurunan throttle secara bertahap, serta jangan lupa keluarkan dan kunci roda pendaratan ( landing gear). Selama penerbangan dan proses pendaratan sebuah pesawat akan dipandu oleh radar posisi, beberapa jenis pesawat diperlengkapi dengan Global Positioning System (GPS). Di masa yang akan datang penentuan posisi ini akan lebih presisi bila sistem penentu posisi Galileo yang dikembangkan oleh konsorsium Eropa telah beroperasi. Selain radar posisi untuk menentukan koordinat letak dan posisi pesawat lain, maka pesawat juga dilengkapi dengan radar cuaca yang sangat membantu untuk mendeteksi perubahan cuaca yang terjadi selama penerbangan. Keberadaan kumulonimbus dan daerah kantung-kantung bertekanan rendah bisa membahayakan bila tidak sempat dihindari. Informasi cuaca juga bisa didapatkan dari panduan satelit cuaca yang dapat diakses dari kokpit.

Kokpit Boeing B-777 dengan Tampilan CDI dan Giroskop




Penerbangan-Penerbangan yang Berkesan

Menurut penulis, naik pesawat untuk menuju suatu daerah wisata sebenarnya juga sudah termasuk berwisata. Bahkan penulis merasa bahawa setiap penerbangan yang pernah diikuti adalah perjalanan wisata yang mengasyikkan. Sensasinya begitu beraneka, ada yang sangat menyenangkan dan ada pula yang sangat “menyeramkan”. Rasa penasaran dan ketegangan yang dialami pada setiap penerbangan menjadikan masing-masing penerbangan meninggalkan kesan tersendiri.
Pengalaman pertama penulis menaiki pesawat adalah ketika penulis menumpangi sebuah pesawat DC-9 Garuda Indonesia (ketika itu masih bernama Garuda Indonesian Airlines atau GIA) dalam penerbangan dari Jakarta menuju Manado dengan transit terlebih dahulu di Ujung Pandang (Makassar). Sampai hari ini penulis masih bersikukuh dengan pendapat bahwa pesawat yang paling enak ditumpangi adalah DC-9, entah karena impresi pertama atau memang berdasar obyektifitas. Yang jelas DC-9 merupakan pesawat komersial Mc Donnel Douglas yang paling laku sepanjang sejarah dan memiliki rekor masa operasi yang paling panjang untuk pesawat jet di kelasnya.
Pengalaman berkesan penulis lainnya adalah ketika pertama kali menaiki pesawat jet komersial berbadan lebar Boeing 747 seri 200, Ketika itu penulis yang masih berumur 8 tahun terbang ke Amsterdam dengan menggunakan maskapai penerbangan KLM. Lama penerbangannya sendiri sekitar 22 jam dengan 4 kali transit di Colombo (Srilanka), Karachi (Pakistan), Abu Dhabi, dan Frankfurt (Jerman, waktu itu masih Jerman Barat). Penulis merasa nyaman sekali berada di dalam pesawat berbadan raksaa itu, bahkan penulis merasa pesawat itu seperti sebuah rumah besar yang penuh dengan hiburan. Ada sajian musik dengan menggunakan earphone, ada film, ada majalah-majalah luar negeri yang bergambar indah-indah, ada makanan “bule” yang lezat-lezat dan disajikan secara terus menerus, ada keheranan dan ketakjuban ketika menyadari bahwa pesawat yang penulis tumpangi ternyata bertingkat dua; ada dapurnya dan WCnya banyak sekali, ada eksotika dari bandara-bandara negara asing yang disinggahi, lalu yang paling hebat adalah ketika penulis mendapatkan penghargaan “wing penerbang junior KLM” karena menjadi penumpang termuda dalam penerbangan tersebut. Semenjak itu penulis menjadi fanatik dengan KLM.
Pengalaman berkesan selanjutnya terjadi dalam sebuah penerbangan singkat dari Jakarta menuju Singapura dengan menggunakan maskapai penerbangan Jerman, Lufthansa. Itulah untuk pertama kalinya penulis naik pesawat dan duduk di C Class alias Bussines Class. Letak C Class berada di bagian paling depan B-747 dan jumlah kursinya sangat terbatas. Ruang gerak di seputar kursi teramat luas, dan kursinya dapat direbahkan hingga menyerupai tempat tidur. Bantalannya sangat empuk dan lembut, lalu ada tempat kaki yang dapat dinaikturunkan secara otomatis. Makanan yang dihidangkanpun luar biasa mewahnya. Kami mendapat caviar, daging ikan Salmon, dan juga berbagai jenis keju. Minumannyapun beraneka jenis dan dihidangkan hampir sepanjang penerbangan. Sayang, penerbangan kami hanya berlangsung 1 jam lebih sedikit, ketika harus turun di Changie penulis agak menyesal dan ingin rasanya melanjutkan penerbangan sampai ke Frankfurt.
Berbicara tentang in-flight service, khususnya yang berhubungan dengan makanan dan minuman, maka layak untuk dikisahkan di sini pengalaman penulis terbang dengan Royal Jordanian (RJ) dari Jakarta menuju Amman. Pesawat yang digunakan RJ ketika itu adalah salah satu bintang Lockheed yaitu TriStar L-1011-500. Pesawat bermesin 3 ini pada masanya menjadi andalan British Airways dan RJ, pamornya menurun seiring dengan diproduksinya generasi modern DC-10, yaitu MD-11. Meski dalam penerbangan itu penulis duduk di kelas ekonomi, tetapi masalah sajian makanan dari pantry RJ memang luar biasa ! Kami disuguhi Kebab, daging domba kukus saus padang pasir, lalu ayam panggang dan nasi briyani, kemudian dessert cheese cake dengan toping whipcream manis, dilanjutkan oleh buah-buah segar seperti apricot dan kiwi, dan tak lupa beraneka juice mulai dari apel sampai tomat mengalir tiada henti. Sungguh penerbangan yang mengenyangkan !
Masih tentang in-flight service, tetapi kini penulis ingin mengupas sedikit tentang in-flight entertainmentnya. Penerbangan paling berkesan dalam hal ini adalah penerbangan penulis dari Kuwait City menuju Singapura dengan Quwait Airways. Pesawat Boeing 757 Quwait Airways diperlengkapi dengan gadget konsol game Nintendo yang terintegrasi dengan layar LCD di depan kursi setiap penumpang. Selain dapat memainkan puluhan jenis game dengan joy stick yang disediakan di pegangan kursi, penumpang juga dapat browsing internet, melakukan telepon sambungan langsung jarak jauh, telpon sesama penumpang (interkom), melihat peta dan informasi penerbangan yang sedang ditempuh, atau menonton beberpa pilihan film yang diputar. Semuanya sangat personal dan sangat membuat penumpang yang mengikuti penerbangan ini merasa “betah”. Fasilitas semacam ini juga penulis jumpai di Boeing 767 milik Malaysian Air System (MAS) dan Boeing 777 milik Singapore Airlines (SQ). Pengalaman penulis menggunakan MAS adalah ketika penulis harus sering bolak-balik antara Kuala Lumpur-Jakarta. Sedangkan pengalaman penulis menumpang B-777 SQ adalah dalam suatu perjalanan antara Singapura-Dubai (Uni Emirat Arab) dan Dubai-Jeddah (Arab Saudi).
Ada beberapa pengalaman mendebarkan yang pernah penulis alami dalam perjalanan udara, salah satunya adalah penerbangan dengan CN-235 milik Merpati Nusantara Airlines dari Semarang ke Bandung. Sore itu cuaca Bandung sedang sangat tidak bersahabat, awan kumulonimbus dan stratokumulus tampak bergulung-gulung kelabu menghitam. Ketika sedang berusaha melakukan approaching ke bandara Husein Sastranegara, pesawat kami terperangkap dalam kantong-kantong udara bertekanan rendah yang mengakibatkan pesawat seperti dikocok-kocok. Tas-tas berjatuhan dari tempat penyimpanan tas di kabin. Ada gelas berisi orange juice yang terbang melayang dan menumpahkan seluruh isinya. Anak penulis yang tergolong infant serta dipangku oleh Ibunya terlepas dan hampir saja terbentur atap pesawat, untung saja masih sempat ditangkap kembali oleh Ibunya. Sungguh sebuah pengalaman udara yang sangat mendebarkan !
Pengalaman menegangkan lainnya dialami penulis ketika menumpang sebuah pesawat Fokker F-28 milik Garuda dalam penerbangan dari Makassar menuju Palu. Saat itu penerbangan kami berangkat dari Makassar pukul 7 pagi hari, setelah tertunda 1 malam akibat kerusakan teknis yang dialami oleh pesawat yang akan kami tumpangi. Setelah sekitar 1,5 jam terbang sampailah kami ke wilayah udara Palu. Penulis merasakan ada kejanggalan ketika pesawat yang seharusnya mendarat justru beberapa kali mengitari bandara Mutiara Palu dengan ketinggian rendah. Penulis menanyakan kepada pramugari, apakah pesawat ini mengalami “overshoot” atau kegagalan pendaratan ? Tetapi pramugari yang ditanya diam saja, membungkam seribu bahasa. Setelah berputar beberapa kali akhirnya F-28 itu mendarat juga dengan mulus. Ketika penumpang mulai turun melalui pintu depan, kapten pilot keluar dari kokpit dan mengucapkan permohonan maaf serta memberikan penjelasan tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Ternyata karena jadwal penerbangan pagi ini tidak diinformasikan kepada petugas bandara, maka petugas ATC tidak berada di tempat, sehingga akhirnya kapten memutuskan untuk mendarat tanpa panduan ATC dan hanya berpedoman kepada arah angin yang ditunjukkan oleh windsock (kantung penunjuk arah angin). Alhamdulillah, kapten pilot beserta krunya adalah para pilot handal yang sudah sarat pengalaman terbang di wilayah Indonesia Timur yang memang amat minim sarana navigasi penerbangannya.
Pengalaman terbang yang mendebarkan dan membuat jantung harus berolahraga keras juga pernah penulis alami dalam penerbangan dengan menggunakan B-747 Garuda Indonesia dalam sebuah penerbangan langsung dari Jeddah menuju Jakarta. Semula penerbangan ini berlangsung mulus dan aman-aman saja, apalagi cuaca di atas wilayah Gulf amat bersahabat. Ketika melintasi Bengal Bay yang terkenal dengan perangkap turbulensinya juga lancar dan aman-aman saja. Nah, ketika pesawat berada di atas Samudera Hindia sekitar 300-400 Km dari pantai barat Sumatera, terjadilah “kehebohan” turbulensi. Anehnya di luar cuaca tampak sangat cerah, bahkan matahari bersinar amat terik. Kami terombang-ambing dilantun langit nan biru. Dari hasil analisa sementara penulis menduga adanya up-wealing atau pergerakan udara panas dari permukaan samudera yang menimbulkan kolom-kolom udara. Kondisi ini biasanya diikuti oleh pergerakan angin dengan arah yang berubah-ubah dan intensitas yang fluktuatif. Memang di setiap lapisan ketinggian arah angin bisa sangat berbeda-beda. Kapten akhirnya memutuskan untuk mendaki ke ketinggian 41.000 kaki dari ketinggian semula, 37.000 kaki. Guncangan-guncangan memang agak berkurang, tetapi satu dua kali pesawat masih juga mengalami guncangan hebat. Penulis khawatir sekali dengan elastisitas sayap, karena teringat akan teori metal fatique dan crack propagation randomnya pak Habibie, kan B-747 belum memakai bahan alumunium lithium seperti A-380 !
Selain pengalaman mendebarkan, banyak pula pengalaman-pengalaman yang bersifat “tak terlupakan”. Misalnya pengalaman ketika penulis untuk pertama kalinya diajak masuk ke kokpit dan duduk di kursi flight engineer dalam penerbangan dari Makassar ke Jakarta. Ketika itu penulis terbang dengan pesawat Airbus A-300 seri B4-200 milik Garuda Indonesia. Pengalaman pertama lainnya yang tak kalah indah adalah ketika penulis merasakan kelembutan dan kenyamanan pesawat Airbus A-340 seri 311/313 milik Turkish Airlines ( THY), dalam penerbangan dari Istanbul menuju Bangkok. Sungguh canggih pesawat yang satu ini, berbagai daerah dengan lapisan-lapisan kumulonimbus dan potensial untuk mengakibatkan turbulensi dilalui dengan mulus dan tanpa guncangan sama sekali. Perlambatan dan percepatan yang terprogram dalam sistem fly by wire membuat pesawat mampu melalui daerah-daerah “kritis” ini tanpa hambatan dan ketidaknyamanan yang berarti.

Kokpit Airbus A-340 dengan sistem kendali Fly by Wire dan ECAM yang Canggih

Tak terasa selama melakukan perjalanan ke berbagai penjuru dunia penulis telah berkesempatan untuk “mencicipi” beraneka jenis pesawat terbang, mulai dari pesawat propeler bermesin tunggal Cessna, F-28, DC-9, L-1011 TriStar, A-300 B4-200, CN-235, F-27, Turboprop HS-748, Turboprop Vicker Viscount, Twin Otter, A-310-304, B-737 seri 200,300,dan 400, A-330, A-340, B-757, B-767, B-777, sampai dengan si raksasa B-747. Alhamdulillah, ketika mengikuti berbagai penerbangan tersebut penulis berhasil memetik berbagai hikmah yang Insya Allah dapat menjadi ilmu yang bermanfaat. Cita-cita penulis dalam dunia penerbangan adalah Insya Allah dapat “mencicipi” nikmatnya menumpangi bus udara “Double Decker” Airbus A-380 dan “Dreamliner” Boeing B-787 yang masih “misterius”.
Marilah kita jadikan perjalanan udara kita sebagai suatu wisata ilmiah yang menyenangkan dan berdayaguna bagi pengembangan pengetahuan kita. Wallahu’alam bissawab.

Pesawat Favorit Penulis (Keluarga DC-9/MD/B-717)

Beberapa pesawat komersial dari maskapai yang beroperasi di Indonesia

Keluarga pesawat buatan Airbus Industry, favorit penulis dari segi teknologi

KL CITY CENTER (KLCC), SMART CITY, KOTA MADANIKAH ?

Kuala Lumpur ibukota negara Malaysia tidaklah seberapa jauh dari Jakarta atau Bandung. Jaraknya hanya sekitar 11/2 sampai dengan 2 jam penerbangan, ke Manado saja masih lebih jauh, apalagi kalau dibandingkan dengan ke Jayapura. Perjalanan kali ini adalah perjalanan ketiga bagi penulis. Penerbagangan dengan Malaysian Air System terasa sangat sekejap, karena baru saja makan siang dihidangkan, pesawat Boeing 777 ini sudah harus mendarat di KL International Airport (KLIA). Sebuah pelabuhan udara antar bangsa yang sangat canggih dan bernuansa gabungan antara teknologi dan alam tropis. Kita patut bangga, karena sebagian besar (hampir 80%) pekerja konstruksinya berasal dari Indonesia. Tak apalah bila kita belum memiliki bandara secanggih itu, sekurangnya kita punya andil di sana. Bandara ini sungguh elok dipandang dan nyaman dipergunakan. Sekeluar dari garbarata (belalai gajah), kita disambut oleh passenger service area yang dipenuhi olehg berbagai fasilitas seperti perbelanjaan (toko bukunya besar sekali lho !), peribadatan, kesehatan, dan informasi (internet gratis). Dari area kedatangan dan keberangkatan itu kita harus menggunakan aerotrain untuk menuju tempat pengambilan bagasi dan pemeriksaan imigrasi. Sungguh sebuah pengalaman yang fantastis berjalan-jalan dengan menggunakan aerotrain ini, keretanya canggih dan menggunakan sistem kontrol artificial intelligence, jadi tidak ada masinisnya. Perjalanan aerotrain melintasi apron dan taxiway yang banyak dilintasi oleh pesawat-pesawat mancanegara berbadan lebar. Setibanya di pemeriksaan imigrasi, tampak suasana yang kontras dengan konter imigrasi di bandara Sukarno-Hatta yang antreannya panjang sampai mengular-ular, disini loketnya banyak sekali, bersih, dan sangat efisien. Pemeriksaan imigrasi berlangsung singkat dan cepat. Setelah mengambil koper dan bawaan lainnya, penulis menghadapi berbagai pilihan transportasi untuk menuju ke kota KL, maklum letak KLIA adalah di Sepang yang masuk negara bagian Selangor dan berjarak sekitar 60 km dari KL. Untuk trasnport dari bandara kita bisa menggunakan taxi limousine (agak mahal tentu), taxi “kodok” (anak penulis menamainya demikian karena mobil MPV yang dijadikan taxi agak mirip-mirip kodok), taxi biasa (berwarna merah), bus Airport Coach, bus biasa, ataupun Kl Express (kereta api canggih langsung menuju KL Central Station/ bandara kota). Penulis memilih metoda termurah dan paling inovatif hasil rekayasa penulis pada dua kali kunjungan sebelumnya. Yaitu menaiki bus biasa (city link) menuju kota satelit Nilai (dengan tiket Cuma 1,5 RM) dan menyambung perjalanan dengan KTM Komuter, kereta api regional KL (biayanya 5 RM). Penulis karena hanya membawa travel bag kecil dan tidak merepotkan, berencana untuk berjalan-jalan dahulu sebelum check-in di sebuah hotel di kawasan Bukit Bintang. Penulis turun di KL sentral dan sempat berkeliling mengagumi stasiun kereta api yang luar biasa canggih ini. Stasiun ini multifungsi, sebagai sebuah stasiun untuk kereta antar kota antar negara, kereta komuter, dan kereta Light Rapid Transport (Putra dan STAR). Selain sebagai sebuah stasiun kereta, KL sentral juga berfungsi sebagai city check-in bagi para penumpang pesawat. Para penumpang ini dapat memasukkan dan mengambil bagasi di KL sentral, lalu mereka diantar ke bandara dengan menggunakan kereta KL Express. Bangunan yang berdesain postmodern ini juga dilengkapi dengan pusat perbelanjaan dan tempat ibadah yang sangat bagus. Dari KL sentral penulis memutuskan untuk menuju KLCC alias KL City Center. Penulis membeli tiket LRT-Putra di sebuah vending machine (di sini tidak ada tukang tiket seperti di stasiun Indonesia). Perjalanan dengan LRT ini sangat exciting, bila anda berangkat dari KL sentral ke arah KLCC, setelah melalui stasiun Pasar Seni kereta anda akan menghunjam masuk kedalam tanah, sehingga anda hanya akan melihat sederetan stasiun saja seperti Masjid Jamek, Dang Wangi, dan akhirnya KLCC. Lorong dari stasiun keluar di salah satu ujung Mal Surya KLCC. Sebuah mal besar yang berada di sebuah gedung yang merupakan kaki menara kembar Petronas (menara kembar tertinggi di dunia). Segera penulis beranjak menelusuri lorong untuk menuju area sentral, tepat di seberang gedung konser Petronas Philharmonic penulis menaiki lift kapsul dan menuju lantai 5. Lokasi favorit penulis di gedung Petronas, yaitu Petrosains. Setelah menitipkan traveling bag, penulis membeli tiket dan menaiki kereta antar masa yang segera saja membawa penulis ke dalam sebuah perjalanan virtual menuju hutan tropis dan dasar samudera serta hamparan bumi di masa lalu. Sungguh sebuah sajian virtual reality yang sangat menakjubkan, bahkan penulis sampai mengira bahwa kupu-kupu yang melintas dekat kereta penulis adalah kupu-kupu aseli lho ! Sesampai di anjung penerimaan, penulis menyewa ARIF, sebuah panduan komputer personal yang akan menjelaskan setiap situs di Petrosain yang tengah kita lewati. Data yang terekam dalam alat ARIF itu bahkan bisa diprint serta dibawa pulang. Berbagai situs ilmu pengetahuan mulai dari ilmu dasar seperti kimia,fisika, biologi,geologi,geodesi,geofisika,meteorologi, astronomi,paleontologi,arkeologi, sampai dengan ilmu terapan seperti teknik kimia, teknik perminyakan, teknik listrik, dan teknologi otomotif, robotik, serta pertanian tersedia di sini. Situsnya sangat fun dan bersifat interaktif. Ada game bermain bola secara virtual, dimana kita diminta untuk menjadi penjaga gawang dan diharuskan menpis bola-boal “maya” yang ditembakkan oleh penyerang lawan. Anak-anak dan pelajar serta para orangtua lanjut usia diberi potongan harga yang cukup besar, sehingga atraksi sains ini dapat menggugah minat anak-anak dan keluarga terhadap perkembangan IPTEK.
Usai berkeliling di Petrosains, penulis mengisi perut dengan Chicken Picnic di food court Surya KLCC, penulis memilih tempat favorit, yaitu sebuah jendela yang mengahdap ke air mancur di taman KLCC. Seusai makan yang Alhamdulillah nikmat banget, penulis beranjak ke lantai 5 lagi tetapi dengan arah yang berseberangan dengan Petrosains. Penulis masuk ke toko buku yang diklaim terbesar di dunia, toko buku Kinokuniya KL. Toko buku ini menyenangkan sekali, walau kita tidak membeli kita boleh menyobek plastik kemasan dan membaca buku sepuas hati, malah disediakan sofa agar dapat membaca dengan lebih nyaman. Di samping itu di beberap titik disediakan komputer mini yang dapat digunakan untuk mencari judul dan peta buku, tetapi hebatnya komputer ini dapat menampilkan abstrak dari setiap buku dan dapat diprint secara gratis. Penulis mengumpulkan banyak sekali abstrak dan resume dari buku-buku mahal yang tidak sanggup penulis beli, dengan cara ini.
Ketika senja beranjak dan kegelapan malam mulai menyergap, sayup-sayup lantang terdengar suara adzan berkumandang. Bergegas penulis setengah ebrlari bersama “rombongan” lainnya berbondong-bondong menuju sebuah masjid indah di tengah taman KLCC untuk menunaikan shalat maghrib (di KL maghrib jam 7 malam). Sungguh perpaduan yang amat serasi antara kemajuan teknologi dan kesalehan masyarakat. Oh ya taman KLCC yang ditengahnya ada masjid ini, Subhanallah, indah sekali lho. Indah dari segi konsep, maupun indah dari segi estetika. Taman ini dirancang sebagai sebuah pusat hiburan keluarga yang sehat. Dimana para keluarga dapat mengkatarsiskan kepenatan mentalnya secara cerdas. Tersedia kolam renang gratis untuk anak-anak, kolam air mancur menari dengan paduan warna-warni cahaya laser dan jembatan-jembatan pengamatan yang sangat cantik, dilengkapi pula dengan area bermain anak-anak super aman (dengan lantai dilapisi karet pelindung), shelter air minum gratis langsung dari pancuran minum, café-café yang indah, dan tentu saja sebuah masjid megah di tengah-tengahnya. Di penghujung senja itu penulis termenung, kapan ya Bandung bisa punya taman seperti KLCC ? Sebuah tempat rekreasi yang cerdas, mendidik, murah, dan dapat diakses oleh semua orang dari berbagai golongan.

SUATU PAGI DI PALESTINA DUA MALAM DI LEMBAH JORDAN

Jarum jam masih menunjukkan pukul 01.30 waktu setempat, ketika pesawat Tristar Lockhead Royal Jordan yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Queen Alya Amman. Seusai pemeriksaan imigrasi yang singkat, kami segera menghambur keluar bangunan kedatangan. Segera kami disergap oleh udara dingin yang membekukan. Ya, di penghujung bulan November seperti ini suhu kota Amman bisa mencapai 0 derajat celcius ! Kami segera memasuki bus jemputan untuk menuju hotel transit. Setelah bagi-bagi kamar, kami langsung beristirahat. Esoknya tepat pukul 7 pagi kami sarapan di lantai dasar hotel dengan menu khas timur tengah. Bagi yang tidak terbiasa pasti akan berkurang seleranya bila mencium bau khas keju fetta. Tetapi bagi saya sarapan “Arab” ini sungguh merindukan dan selalu menerbitkan air liur. Semangkuk yoghutto alias yoghurt dan sepotong roti berlapis daging asap dengan taburan keju kambing, hmm terasa sangat yummy bagi saya. Dilanjutkan dengan semangkuk puding asin dan saus kental manis, lalu ditutup dengan 3 butir zaitun segar yang rasanya pahit-pahit gimana gitu !
Pagi ini kami dijemput sebuah bus besar yang akan membawa kami ke Yerusalem. Bergegas kami memasuki bus itu untuk mencari kehangatan. Tujuan pertama kami pagi itu dalam perjalanan menuju yerusalaem adalah singgah di sebuah peninggalan romwai kuno (Byzantium). Peninggalan itu vberupa sebuah colloseum yang benar-benar kolosal dan sisa-sisa puing istamna Byzantium berupa pilar-pilar super tinggi dan megah. Dahulu kala Jordania dikenal sebagai Syams, dan Rasulullah pernah melakukan perjalanan niaga sampai ke negara ini. Bahkan beberapa sahabat Rasul dimakamkan di negara ini. Dari puing romawi di pinggiran kota Amman ini kami terus dibwa ke sebuah toko cinderamata dekat perbatasan dengan Israel. Produknya lucu-lucu, sayang harganya tidak lucu, maklum nilai tukar dirham Yordan sangat tinggi, mendekati Euro. Dari kedai cinderamata itu kami segera menuju perbatasan menuju ke bagian terendah dari lembah Jordan tempat mengalirnya sungai Jordan. Lembah ini sangat subur dan dipenuhi dengan areal pertanian yang telah menggunakan teknologipertanian canggih. Sistem irigasi yang sangat teratur tampak mengalirkan air di sela-sela tanaman perkebunan. Mengapa kami menuruni lembah jordan ? Di sanalah terdapat perbatasan antara Israel dan Jordania. Kami melalui pos perbatasan Jordan tanpa pemeriksaan yang begitu berarti. Sekitar 1 km kemudian kami memasuki pos perbatasan Israel (jembatan Allenby), Alhamdulillah disinipun lancar-lancar saja, terutama karena kami berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang familier dengan mereka. Sepanjang perjalanan di dalam teritorial Israel dan Palestina (batasnya tidak jelas dan masih saling klaim) kami melihat dataran tandus dengan diselingi beberapa pemukiman sederhana warga Palestina. Rumah-rumah warga Palestina berbentuk seperti kotak sabun dari semen, warnanya monoton abu-abu dan beratap seng. Suasana agak kumuh dan jarang terlihat pepohonan. Yang banyak terlihat di tepi jalan dan juga di daerah pemukiman pendudukan adalah bukit-bukit berbatu dan hamparan tanah gersang. Bahkan lapangan sepakbola anak-anak Palestina terletak di atas tanah lapang penuh dengan bebatuan. Sungguh kondisi alam yang sangat berat dan keras. Belakangan hari saya malah bertemu dan berfoto bersama dengan tim nasional sepakbola Palestina di Jeddah. Saat itu mereka sedang mengikuti turnamen olahraga negara-negara Islam.
Bus kami langsung menuju Istana Sulaiman, yaitu suatu kompleks besar yang diyakini sebagai bekas pusat pemerintahan Nabi Sulaiman AS. Di dalam komplek tersebut terdapat pusat-pusat peribadatan agama-agama samawi. Bagian pertama yang dilintasi dari sebuah lorong batu utama yang gothic banget suasananya adalah tembok ratapan. Sebuah tembok tempat orang-orang Yahudi curhat pada tuhannya. Lalu kami berjalan kembali menyusuri lorong bebatuan abad pertengahan yang megah dan melewati beberapa kios cinderamata, akhirnya kami tiba di ujung lorong yang tertutup dengan sebuah gerbang kuno yangb terdiri dari perpaduan antara logam dan kayu. Begitu gerbang dibuka Dome of Rock terbentang di hadapan kami. Kubah kuningnya yang ternama, terpampang dengan sangat mencolok. Di dalam Dome of Rock terdapat sebuah batu grnit dalam posisi setengah melayang dan saat ini ditahan seutas kabel. Menurut hikayat, batu inilah yang menjadi pijakan ketika Rasulullah melakukan perjalanan mi’raj ke Sidratul muntaha. Dari Dome of Rock kami berjalan menuruni tangga menuju Masjidil Aqsha, sebuah masjid bersejarah yang diperebutkan oleh otoritas Israel dengan Pejuang-pejuang Palestina. Masjid ini sangatlah anggun dan damai, kami sempat sholat sunat tahyatul masjid di sana.

Mengaji di Al-Aqsha (foto oleh Hani Machali)
Menjelang siang kami melanjutkan perjalanan di sekitaran Yerusalem. Kami makan siang di kota kecil Betlehem, di sebuah restoran Muslim Chineese food. Subhanallah, masakannya lezat sekali, bahkan saya belum pernah merasakan kelezatan Chinese food seperti yang di Betlehem ini. Bebek Pekingnya bahkan mungkin lebih kezat daripada yang ada di Peking.
Dalam perjalanan pulang, setelah melewati perbatasan Jordania, kami singgah di makam Nabi Syu’aib AS (mertua Nabi Musa AS), di sebuah daerah bebukitan di selatan Lembah Jordan. Sebenarnya kami juga ingin mampir di Hebron, kota asal Nabi Ibrahim dan makam Nabi Musa AS diduga berada, tetapi karena kondisi keamanan ketika itu tidak memungkinkan maka rencana tersebut diurungkan.
Keesokan harinya sebelum kami berangkat dari Queen Alya airport kami sempat singgah di Danau Laut Mati, yang menurut legenda adalah bagian dari wilayah Sodom (negeri Nabi Luth AS) yang dibalikkan oleh Allah SWT sebagai bentuk azab atas perilaku liwath atau homoseksualitas warganya. Di Laut Mati ini kadar garamnya tinggi sekali dan lumpurnya mengandung mineral yang sangat baik bagi kulit. Tidak bisa berenangpun di danau ini tidak akan tenggelam, karena berat jenis airnya jauh lebih tinggi dari BJ kita. Belum lama ini ramai diberitakan tentang keberadaan sebuah naskah kuno dari era Nabi Isa AS yang dinamai Dead Sea Scroll atau manuskrip Laut Mati yang menerangkan tentang konsep kitab Injil yang sebenarnya.
Sebelum tiba di bandara kami sempat mampir makan sate kambing Jordan di dekat terminal bus kota Amman. Satenya super besar, super gurih, dan super empuk. Dua tusuk saja dijamin kenyang dan sungguh merupakan pengalaman kuliner yang tidak akan terlupakan. Subhanallah !

Saksi sunyi di tepian Al-Qadisiyah (foto oleh Hani Machali)

Bangsa yang tak Larut dalam Duka, tak Hanyut oleh Nestapa

Mereka datang ke tanah Kanaan 3200 tahun yang lampau, menyeberang dari pulau Kreta untuk menjemput sebuah mimpi tentang negeri yang dijanjikan. Mereka menamakan dirinya kaum Filistin, dan tanah yang mereka tempati dikenal sebagai Palestina. Silih berganti tiran dan penguasa menjajah dan berkehendak mengusir mereka dari tanah suci rahim 3 agama dunia. Nebucadnezar dari Babel, Cyrus dari Persia, Alexander Agung dari Imperium Alexandria, Antioch dari Siria, Bangsa Parthian, Raja Herodes, Pilatus Pontius, sampai Timur Leng dari Gurun Gobi, Para Ksatria Salib dari Eropa, Pangeran Ayyubid dari Damaskus, Kekhalifahan Ummayah, Abbasiyah, dan Fatimiyah, bangsa Mamluk dari Mesir, sampai dengan Imperium Ottoman dari Turki silih berganti menjadi pemilik dan mengibarkan panji-panji kekuasaan di seantero Palestina. Lalu pada 1917 datanglah Jenderal Allenby dari pasukan Inggris dan terwujudlah perjanjian Balfour dimana sebuah negeri baru bernama Israel diikrarkan. Akar bangsa Palestina semakin kehilangan tanah tempat mencengkeramnya. Bangsa ini semakin tercabik-cabik, Ramallah, Nablus, Jericho, Hebron, dan juga sempadan Tepi Barat serta Yerusalem tidak lagi menjadi rumah yang hangat dan aman bagi mereka. Tapi lihatlah, mereka tetap tersenyum, hangat, penuh kasih sayang, dan senantiasa menyisakan sejumput harapan dalam tatapan matanya. Bangsa ini sebagaimana juga kita, adalah manusia-manusia yang di dalam separuh hatinya bermekaran bunga-bunga dari taman surga.


Broken Soul, Jiwa-Jiwa Anak Palestina yang Berjuang demi sebuah Keyakinan (foto oleh Hani Machali)

Tumbuhlah Nak ! Ladang Jihad Menantimu…. (foto oleh Hani Machali)

Senyum Sang Mentari ! Tunas-Tunas Mujahid akan Senantiasa Bersemi… (foto oleh Hani Machali)

Hidup ini Terlalu Indah untuk disesali… (foto oleh Hani Machali)

INDAHNYA NAIK KERETA API
Kereta api adalah moda angkutan kesayangan saya. Semenjak usia balita saya sudah “jatuh cinta” dengan kereta api, terutama lokomotifnya. Entah mengapa semenjak kecil saya senang sekali mengamati serta memperhatikan berbagai jenis lokomotif yang beroperasi di Indonesia. Ketika saya berlibur di tempat kakek di kota Bandung, setiap sore ataupun ketika mengantarkan kakek praktek (beliau adalah seorang dokter), saya selalu menyempatkan diri untuk menonoton lokomotif di lintasan kereta api dekat viaduct. Baik itu kereta yang sedang langsir maupun kereta yang akan berangkat menuju daerah-daerah di timur pulau Jawa. Kegembiraan saya bertambah pada saat orang tua saya dipindahtugaskan ke Madiun. Sebuah kota kecil di Jawa Timur yang memiliki sarna transportasi utama kereta api. Meskipun kota Madiun tergolong ke dalam kota kabupaten yang kecil tetatpi stasiun Madiun adalah stasiun utama dalam sistem perkeretapian kita, di Madiun pula terdapat PT. Industri Kereta Api yang memproduksi gerbong-gerbong KA dan belakangan juga memproduksi lokomotif bekerjasama dengan General Electric dari Amerika Serikat. Setiap kali liburan akan tiba atapun di saat-saat lain yang memungkinkan saya untuk naik kereta api selalu menjadi saat-saat yang sangat berkesan. Beberapa hari menjelang rencana keberangkatan biasanya saya sudah “heboh” dan kadang sampai-sampai tidak bisa tidur saking senangnya. Rasa “exciting” itu terkadang sedemikian memuncak, sampai-sampai kami sekeluarga biasanya sudah “nongkrong” di stasiun 1 jam sebelum jadwal pemberangkatan, sekedar memberi kesempatan bagi saya untuk menikmati sepuas-puasnya mengamati kereta api yang berlalu-lalang. Pada saat duduk di bangku sekolah dasar (sekitar kelas 1 sampai 5) saya memiliki beberapa lokomotif favorit yang kehadirannya selalu saya tunggu-tunggu. Bahkan bila kebetulan kereta yang saya tumpangi berlokomotif favorit itu, wuih senangnya minta ampun ! Pada saat itu, sekitar akhir tahun tujuh puluhan, Perusahaan Jawatan Kereta Api masih menggunakan jenis lokomotif disel hidraulik buatan Jerman Fried Krupp dengan nomor seri BB 301. Nomor seri ini bermakna bahwa lokomotif yang bersangkutan memiliki 2 seri gandar roda dalam satu bogie ( dasaran lokomotif). Pada jenis lokomotif disel hidrolik, tenaga disel disalurkan melaui sebuah alat konverter dengan prinsip transmisi,iasanya lokomotif yang beroperasi di Indonesia menggunakan konverter Voith L 630 r U 2 atau 720 r U 2. Jenis motor diesel biasanya 4 langkah dengan turbocharger, tetapi ada juga yang belum menggunakan turbocharger. Jenis kompresor yang dipergunakan untuk menlakukan proses pengereman adalah Gardner Denver. Pada saat itu juga di lintasan Jawa ada beberpa jenis lokomotif disel hidrolik lain yang beroperasi, misalnya BB 304 buatan Fried Krupp, BB 305 buatan Jenbacher Austria, BB 302, 303 dan BB 306 buatan Henschell Jerman semuanya mengguanakn mesin disel MTU-MD 12V. Selain lokomotif disel hidrolik, PJKA juga mengoperasikan beberapa jenis lokomotif disel elektrik seperti BB 200 yang merupakan loko disel elektrik pertama buatan General Motor USA disusul kemuidan oleh BB 201 yang jauh lebih kuat, BB 202 yang hanya ada di Divisi Regional Sumatera ( Dipo Lokomotif Kertapati), serta BB203 yang secara fisik sudah menyerupai CC 201 (lokomotif yang saat ini paling banyak dimiliki PT.Kereta Api persero), BB 203 saat ini juga sebagian besarnya sudah dimodifikasi menjadi CC 201 dengan penambahan 2 motor traksi dan penyesuaian generator dan mesin diselnya. Sedangkan BB 204 adalah loko disel elektrik buatan SLM yang dioperasikan di rel bergigi Sumatera Barat. Lalu ada pula loko dengan seri CC 202 yang merupakan loko terberat ( 108 ton) dan juga seklaigus terkuat (daya kudanya mencapai 2250 di mesin dan 2000 hp di motor traksi. CC 202 juga adalah loko pertama denga sistem listrik AC-DC. Lokomotif dan kereta api juga memiliki sistem pengereman yang unik, ada sistem rem lokomotif yang dipergunakan oleh lokomotif ketika berjalan sendirian ataupun pada saat menarik rangkaian. Rem lokomotif terdiri dari sistem pneumatik atau air brake yang terhubung dengan rangkaian dan sistem pengereman mekanik (dengan menggunakan sepatu atau blok rem) atau sering disebut juga rem parkir. Pada saat lokomotif menarik rangkaian, maka loko akan terkoneksi dengan seluruh rangkaian dengan menggunakan selang pakem. Sistem pengereman pneumatik untuk rangkaian ini bekerja ketika masinis me”release” tekanan dari kompresor utama ke pipa utama dengan tekanan sekitar 5 kg/cm2. Udara yang dikirim akan melewati katup rem dan masuk ke tangki udara pembantu, pada saat ini posisi blok rem gerbong lepas. Kemudian bila masinis mengerem, maka aliran udara dari tangki utama ditutup. Penurunan aliran dari tangki utama ini diikuti dengan pelepasan udara dari pipa abar ke luar, sehingga terjadi penurunan tekanan dalam pipa utama, kondisi ini menyebabkan udara dari tangki udara pembantu akan terbuka katubnya dan mengalir ke silinder rem dan akan menekan batang rem.
Saking hobinya pada perkeretapian saya hampir melalap bacaan apa saja tentang kereta api, khususnya di Indonesia. Mulai dari lebar rel yang 1067 mm sampai dengan sistem persinyalan dan perweselan serta komunikasi antara lokomotif dengan PK saya pelajari. Saya mengenal dengan baik jenis-jenis sinyal seperti sinyal muka, sinyal masuk, dan sinyal keluar atau sinyal bantu. Saya mengenal berbagai semboyan seperti semboyan 40, 41, dan 35. Saya mengerti bila ada kondisi jalan kurang baik atau ada perbaikan maka PPKA stasiun terdekat akan memberikan surat BH (berjalan hati-hati) pada masinis yang lewat, saya juga tahu bahwa setiap masinis harus mengisi laporan harian masinis atau dokumen T-83, di setiap lok ada tabel perjalanan T-100, ataupun buku log/riwayat lokomotif T-200. Saya bahkan hafal reglemen-reglemen yang dibuat untuk meregulasi kinerja masinis dan elemem operator lainnya. Mungkin dengan kemampuan saya itu saya sudah bisa lulus dan mendapat lisensi T-62 atau T-63 untuk keahlian mengendarai lokomotif.
Pada masa-masa kecil yang indah itu saya mempunyai loko kesayangan yaitu sebuah loko dengan seri BB 301 dengan desain dan cat loko yang unik, kalau tidak salah catnya didominasi warna merah jambu (pink) dan biasanya hanya dipergunakan untuk menarik kereta-kereta “bendera” alias kereta penumpang yang istimewa seperti Mutiara Selatan ataupun Bima (Biru Malam). Pada suatu hari saya pernah menaiki kereta Bima dari stasiun Jakarta Kota bersama Ayah tercinta, tetapi alangkah kecewanya saya ketika melihat ternyata lokomotif penariknya adalah si “jelek” BB201, yang dalam pandangan saya ketika itu adalah si “nongnong” dengan hidung yang menjorok kegedean ! Ayah menghibur saya dengan mengajak saya untuk berjalan-jalan dan makan di kereta makan sambil kami memngagumi interior kereta dengan kabin tidur satu-satunya di Indonesia itu. Hati saya agak terhibur dan sempat terkagum-kagum pada keindahan interior gerbong kereta Bima tersebut. Sayang sekali kereta Bima kini tidak lagi mempertahankan ciri khas kabin tidur dan warna birunya lagi.
Dalam perjalanan hidup ternyata saya juga dikarunia Allah kesempatan-kesempatan indah untuk mencicipi berbagai jenis kereta api di negeri orang. Ketertarikan saya tidak berubah, selalu saja saya “terpana” dan terbengong-bengong” menikmati keindahan lokomotif dan kereta api di berbagai negeri. Saya betah berlama-lama di satsiun Gare du Lyon di Paris untuk megagumi loko TGV dengan pantografnya yang belum pernah saya lihat di Indonesia. Pantograf adalah semacam jalur transmisi listrik dari jaringan lokal ke motor listrik di lokomotif. Maklum loko TGV adalah loko elektrik murni. Demikian pula kereta-kereta api Holland Spoor, rerata sudah menggunakan teknologi pantograf. Hanya saja kereta-kereta di Belaqnda itu tidak menggunakan lokomotif, karena motor listrik ACnya sudah menyatu di bogie rangkaian, yang ada hanya kabin masinis saja. Sepintas wajah kereta cepat di Belanda mirip dengan kereta Shinkazen di Jepang. Untuk urusan naik kereta api ini saya pernah melintasi separuh benua Eropa dengan menaiki berbagai jenis kereta api. Dari stasiun Den Haag Central saya menaiki kereta Netherland sampai ke Belgia. Dari Belgia kami para penumpang jurusan Paris pindah kereta dan menaiki gerbong yang bercat hijau tua dari bawah sampai ke atap. Kereta Belgia menggunakan lokomotif elektrik berpantograf. Setelah tiba di Paris 3 hari kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Madrid Spanyol dengan TGV, sesampai di perbatasan Spanyol kami sekali lagi berganti kereta dengan kereta api Spanyol yang masih menggunakan lokomotif disel elektrik seperti di Indonesia. Lintasan atau relnya juga berukuran 1067 mm dan sambungan antar relnya juga pendek-pendek serta menimbulkan bunyi khas yang berisik. Kondisi gerbong kereta api Spanyol tidak berbeda jauh dengan KA Parahyangan kelas eksekutif.
Pengalaman lain mengamati kereta api adalah ketika saya berkesempatan untuk “bermain-main” di stasiun Heritage Kuala Lumpur. Kereta di Malaysia sepintas saya perhatikan justru masih menggunakan lokomotif disel hidrolik sekelas BB 304 di Indonesia zaman baheula. Tetapi kondisi lokomotifnya sangat terawat dan kondisi rangkaiannya sangat baik. Malah Malaysia memiliki rangkaian kereta tidur yang menghubungkan antra Singapura-Kuala Lumpur sampai ke Hat Yai Thailand. Kereta itu namanyapun sangat indah, “Senandung Malam.” Dalam masalah stasiun, kereta komuter, dan Light Railways Transport (LRT), jangan tanya, di Kuala Lumpur dan sekitarnya fasilitas layanan perekertapian ini sudah sangat canggih. Bahkan dalam kunjungan saya yang terakhir sedang dilakukan proses persiapan peluncuran Mono Rail, yang akan menghubungkan titik-titik diagonal yang menyatukan jaringan perekeretapian kota Metro KL. Kereta komuter yang menghubungkan daerah-daerah satelit, sangat nyaman, bersih, dan tepat waktu. Sementara ituy kereta-kereta LRT lebih canggih lagi, kereta dengan operator PUTRA bahkan tidak lagi menggunakan masinis dan sudah diprogram atau dikendalikan dari pusat kendali perjalanan saja. Desain keretanya unik dan dimanfaatkan secara maksimal sebagai moda advertorial, sehingga kita bisa menikmati keindahan gambar-gambar iklan di sekujur tubuhnya. Demikian juga monorail yang berwarna merah, satu diantaranya yang pernah saya lihat, menjadi papan iklan berjalan untuk maskapai penerbangan British Airways.
Allah ternyata amat menyayangi saya, di kemudian hari ketika saya telah beranjak dewasa dan bekerja sebagai dosen serta peneliti di berbagai perguruan tinggi, tugas menghantarkan saya untuk berhubungan kembali dengan dunia perkeretapian. Saat saya menjadi staf di bagian pengembangan pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, terjadi sebuah kecelakaan kereta api yang cukup dahsyat di jalur langsir stasiun Cirebon. Ketika itu lokomotif KA Cirebon Ekspres yang sedang langsing bertabrakan dengan KA Empu Jaya, kecelakaan ini merenggut banyak korban jiwa dan korban luka-luka. Tak lama berselang terjadi lagi tabrakan kereta api yang tak kalah dahsyat di stasiun Ketanggungan Brebes. Berawal dari kedua peristiwa tersebut, pipmpinan instansi tempat saya bekerja mengarahkan agar kami proaktif membantu mencarikan solusi bagi keselamatan transportasi khususnya di bidang perkeratapian. Kontak dan kerjasamapun dijalin dengan pihak PT Kereta Api, tetapi proses penelitian tidak berjalan sebagaimana yang kami harapkan. Beberapa tahun kemudian saya kembali diminta oleh Menristek untuk meneliti kinerja dan sistem operasi KA khususnya yang menyangkut dengan masinis sebagai operator di garda depan. Penelitian dilakukan di dipo lokomotif Bandung, salah satu dipo lokomotif terbesar di Indonesia. Proses penelitian yang cukup panjang ini memungkinkan saya untuk belajar lebih mendalam tentang perkeretapian secara umum dan tentang lokomotif secara lebih khusus. Dalam penelitian ini saya bahkan harus mengikuti “dinasan” dan melakukan perjalanan-perjalanan bersama para masinis yang diamati dan diteliti. Seluruh jalur di daerah operasi 2 PT.Kereta Api telah saya jelajahi dengan berbgai jenis kereta api. Berbagai jenis lokomotif telah saya naiki dan dengan bimbingan instruktur juga telah saya pelajari cara mengoperasikannya. Pada beberapa kesempatan bahkan saya dilatih untuk mengenal lintas di bawah pengawasan. Lokomotif CC 203 adalah favorit dan kesayangan saya, khususnya CC 20306 karena loko itulah yang pertama kali saya operasikan dalam jarak tempuh cukup jauh. Sedangkan loko pertama yang saya kendalikan adalah CC 20193, dalam perjalanan singkat antara stasiun Cimahi sampai mendekati Andir. Saya semula membayangkan bahwa mengemudikan lokomotif adalah hal yang mudah, tetapi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Kesulitan utamanya menurut saya adalah apda sistem pengereman, dimana setiap pengurangan kecepatan ketika mendapat sinyal ataupun semboyan perlambatan, memerlukan penurunan kecepatan yang bertahap dan perhitungan yang cermat agar KA dapat berhenti tepat di titik yang diinginkan. Hal ini dipersulit dengan tidak berfungsinya sebagian besar speedometer di lokomotif. Kondisi yang amat memprihatinkan, mengingat setiap perjalanan KA diatur berdasarkan jarak dan waktu tempuh, tentu sangat riskan bila keduanya diukur hanya berdasarkan kepada pengalaman, perasaan, dan kebiasaan.

Lomotif yang Sedang “Istirahat” di Los Dipo Lokomotif Bandung (foto oleh Tauhid Nur Azhar)
Dari berbagai perjalanan yang telah saya lakukan dari dari atas lokomotif maka saya berhasil emngklasifikasikan keindahan daerah-daerah yang telah saya lalui. Daerah antara Cicalengka-Leles yang melalui stasiun Lebak Jero adalah daerah terindah yang ada di perlintasan KA. Perpaduan antara gunung-gunung yang hijau, lembah, sawah, dan bentangan permukiman dengan kubah-kubah masjid yang berkilau ditempa cahaya matahari pagi, sungguh menghadirkan kedamaian dan ketenangan yang menghanyutkan !
Bertugas di kereta api juga memperkenalkan saya kepada kehandalan para juru masak kereta api yang tergabung dalam PT. Reska alias restoran kereta api. Kereta api dengan juru masak paling jago dan paling lezat masakannya menurut saya adalah KA Bangunkarta yang melayani trayek Jakarta Pasar Senen-Madiun-Jombang. KA milik Daop 7 ini memiliki menu istimewa Bestik Jawa yang super lezat ! Potongan daging sengkel yang besar dan empuk dilumuri oleh saus kecap kental kaya rempah dan legit dihidangkan bersama kentang, wortel, buncis, dan sepiring nasi putih. Oh ya tidak lupa telur mata sapi dan tomat juga tersaji di lodor dagingnya.. Kereta lain yang cukup lezat masakannya adalah KA Lodaya jurusan Bandung-Syogya-Solo. Yang istimewa dari KA inia dalah nasi ramesnya yang sangat gurih, meski penampilan dan jenis lauknya tampak “biasa-biasa” saja. Sebagaimana umumnya nasi rames, nasi KA Lodaya hanya terdiri dari nasi putih dengan potongan semur daging sapi, sambel goreng kentang, dan balado telur serta ditaburi acar timun-wortel di salah satu tepinya, tapi soal rasa jangan tanya ! Masalah makanan di kereta api memang tidak hanya yang tersedia di rangkaian saja, melainkan juga dapat dibeli dan didapatkan dari para penjual makanan di stasiun yang dilalui sepanjang perjalanan atau perlintasan. Saya amat menggemari nasi ayam Cipeundeuy, sebuah stasiun super kecil dimana setiap kereta apapun jenisnya wajib berhenti untuk pemeriksaan rem dan pengisian tabung udara utama, maklum keluar dari stasiun ini jalan menukik dengan curam. Nasi ayamnya khas, dengan potongan ayam yang kecil tetapi dipenuhi dengan taburan serundeng yang gurih dan sambel leunca (sejenis bebijian berwarna hitam-hijau-keunguan khas Jawa Barat) yang dipadu dengan oncom, oh yummy sekali ! Porsinya yang super kecil membuat orang ketagihan dan berulangkali menambah porsi makannya. Nasi Ayam stasiun Banjar lain lagi, stasiun ini juga stasiun wajib berhenti, sebagi stasiun terakhir di wilayah Daop 2 stasiun Banjar menjadi titik pergantian masinis dalam perjalanan ke timur. Selain Banjar titik lainnya adalah Kutoarjo, bagi masinis-masinis kereta kelas Argo yang relatif lebih cepat perjalanannya. Waktu tempuh kereta kelas Argo sampai ke Kutoarjo jauh lebih singkat daripada waktu tempuh KA ekonomi untuk sampai ke Banjar. Nasi Ayam Banjar serundengnya bercampur dengan irisan Laos yang berasa asin-gurih, sambalnyapun sedikit lebih manis dan menggunakan tomat serta ditumis terlebih dahulu. Dahulu ketika PT.Kereta Api masih membuka jalur lintas selatan-utara dengan KA Mahesa jurusan Bandung-Semarang, titik pergantian masinis adalah stasiun Kroya. Nah, di stasiun ini ada makanan yang sangat aduhai, yaitu nasi rames kering tempe super pedas dengan cabe hijaunya yang ‘mlekoh-mlekoh’ dan diorkestrasi dengan rempeyek udang super besar dan super gurih dengan udang yang berasal dari sungai Serayu, wuih sedap sekali ! Lalu ada pula makanan yang segar dan menyehatkan, yaitu pecel Kroya dengan ciri khasnya berupa taburan irisan bunga kecombrang yang berwarna cantik merah muda dan aroma yang segar menyengat. Lain lagi di stasiun Cirebon, di salah satu warung makan yang berjejer di tepi emplasemen (sepur 1) terdapat sebuah warung yang menyediakan menu istimewa cumi-cumi masak hitam. Yaitu cumi-cumi yang dimasak lengkap dengan umbu hitamnya yang dibumbui sehingga menjadi sangat gurih !
Dari berbagai perjalanan dan pengamatan terhadap kereta api sebagai salah satu sistem transportasi penting di tanah air kita dan juga di berbagai negara lain di berbagai belahan dunia, saya menyimpulkan bahwa di dalamnya ada sebuah “jiwa” yang dinamis, yang memungkinkan berbagai proses interaksi antara sub sistem berjalan dengan indahnya, menciptakan sebuah harmoni. Yah, harmoni inilah sebenarnya hakikat dari Kemahasisteman Allah yang menebarkan kasih-sayangNya melalui balutan “jaring-jaring laba-laba” yang teramat rumit dan tak kasat mata. Siapa menduga bahwa hasil lamunan George Stephenson dan Richard Trevitic akan bisa menghantarakan manusia untuk mengekspresikan aktualisasi dirinya ke “maqom” yang lebih kompleks dan sarat dengan nilai ? Sebagaimana mungkin di zamannya orang tak pernah menduga bahwa impian Leonardo Da Vinci dan Wright bersaudara (Orville dan Wilbur) akan mampu menghadirkan peradaban baru yang membuat tata nilai semakin universal dan ruang geografis semakin menajdi sempit ? Bagi Allah tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, Allahlah yang Maha Luas dan kitalah orang-orang yang merindu, yang ebrjalan kian kemari dengan kereta api serta terbang ke sana-sini dan hinggap di berbagai rantaing peradaban untuk menemukan arti dan pemahaman tentang sebuah makna “peran diri”. Yah kereta api dan juga pesawat serta berbagai teknologi rekaan manusia lainnya sesungguhnya adalah suatu infrastruktur yang telah dirancang agar manusia saling meneguhkan konstruksi keimanan dan proses meruaya, kembali ke hulu, kembali kepada sumber dimana semua rasa rindu bermuara ! Sebuah perjalanan dengan stasiun tujuan yang sama di benak setiap orang.

Penulis keika Bertugas di Lokomotif CC 20191 (Emplasemen Stasiun Gambir)(Foto oleh Rudi Nugroho Caturangga)



Bukit Ilongkow, Encik Simbala, dan Udang Sungai Panggang Moutong

Semasa kecil saya adalah seorang anak yang amat menggemari petualangan. Tak terhitung berapa hutan, sabana, bukit, gunung, dan lembah yang telah saya jelajahi. Kegemaran tersebut mungkin terkait dengan profesi Bapak yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum dan Alhamdulillah selalu ditempatkan di daerah-daerah terpencil di seantero Indonesia. Masa kecil saya banyak dihabiskan di Sulawesi, yang kala itu masih asri dan dipenuhi dengan rimba belantara yang teramat lebat. Flora dan faunanya juga istimewa karena sangat khas dan tidak didapatkan di daerah lain. Sebagi contoh, di sana ada Anoa, Babi Rusa, dan juga burung Maleo, seekor burung “aneh” yang telurnya 1,5 kali ukuran tubuh normalnya. Burung yang satu ini hanya bisa bertelur dan menegrami telurnya did aerah dengan aktivitas vulkanik tinggi ataupun di daerah dengan yang memiliki potensi geotermal. Burung ini akan menggali pasir hangat dan membiarkan panas bumi yang menetaskan telurnya.
Sampai kelas 1 SMP saya tinggal di sebuah kota kecil nan sejuk bernama Kotamobagu, sebuah ibukota kabupaten yang bernama Bolaang Mongondow. Kompleks tempat kami tinggal treletak di atas sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Di sekeliling rumah kami kebun, hutan bambu, dan lembah nanas terhampar. Lembah nanas ? Benar, diantara dua bukit yang letaknya berseberangan terdapat sebuah lembah dengan anak sungai kecil mengalir di tengahnya dan ditepiannya terhampar perkebunan anans alami. Betul-betul alami, liar, dan tidak ada yang memiliki. Pada saat itu saya belum menyadari betapa nikmatnya karunia Allah yang dilimpahkan kepada kami sekeluarga, setelah beranjak dewasa dan duduk di bangku kuliah saya baru menyadari bahwa ternyata buah nanas itu mahal juga harganya ! Selain kebun nanas gratis, tepat di halaman rumah kami juga terdapat sebatang pohon durian “raksaa” yang sudah tua dan banyak sekali buahnya. Istimewanya buah durian ini meski ukurannya tidak begitu besar, tetapi memiliki daging yang teramat kuning, pulen, dan tentu saja sangat manis. Pokoknya sangat berbeda dengan durian yang sering kita jumpai di pulau Jawa. Bila datang musim durian, dan durian kami telah mulai masak, maka setiap malam atap rumah kami yang terbuat dari bahan seng sering berdebam dengan nyaring, itulah pertanda ada buah durian masak yang esok harinya siap untuk disantap. Dalam semalam terkadang sampai ada 8 butir buah durian yang jatuh dari pohon, maklumlah po0hon durian kami itu besar sekali. Tepat di depan rumah kami, di seberang jalan kecil yang berliku-liku mendaki ke puncak bukit Ilongkow, terdapat sebuah hutan bambu yang menjorok menuruni tebing. Subhanallah, disini saya belajar banyak tentang keistimewaan rumpun bambu. Akar-akarnya yang mirip dengan serabut-serabut akar kelapa menghunjam tidak terlalu dalam tetapi sangat erat di permukaan tanah tebing. Sehingga dengan demikian keberadaan rumpun bambu tersebut akan mampu menghindari terjadinya erosi, tanah longsor, dan dapat pula memperlambat laju gelontoran air. Manfaat lainnyapun sangat banyak, tunas-tunas mudanya sering dimasak gulai dan opor, serta sambal goreng oleh Ibu saya. Sementara itu di kala hari-hari musim kemarau mulai datang menghampiri dan terpaan angin gunung menjadi semakin deras, saya melihat betapa elastisnya rumpun bambu tersebut meliak-liukkan batang-batangnya seiring dan seirama, serta searah dengan hembusan angin. Kulit batangnya yang pejal dan berserat lurus vertikal, daging buluhnya yang tidak padat dan kaya kandungan air, serta rongga batangnya yang kosong, menjadikan bambu mampu beradaptasi dengan mudah pada kondisi lingkungannya. Dari pengalaman melamun di bawah rumpun bambu tersebut saya kini mendapat ide untuk membuat bahan blok pembangun rumah tahan gempa dengan memanfaatkan serat bambu. Alhamdulillah, bahkan seorang rekan sekaligus guru dari departemen fisika ITB, Bapak Suparno Satira, telah membuktikannya ketika membuat sebuah perahu nelayan dengan bahan fiberglass dengan sumber fiber dari serat alami bambu. Dedaunannya yang runcing-runcing dan berbulu juga merupakan suatu bukti keajaiban alam yang diciptakan Allah dengan sangat-sangat cerdas, struktur daun seperti itu menghasilkan tingkat evapotranspirasi air yang sangat efisien. Sehingga rumpun bambu dapat menjadi “penjaga” cadangan air yang baik dan tidak “rakus” dalam mengkonsumsi air. Bukti menunjukkan bahwa biasanya rumpun bambu memang tumbuh di batang-batang air ataupun di dekat sumber air serta genangan-genangan yang terletak di lereng, tebing, dan cekungan-cekungan bumi. Ketika angin sepoi-sepoi bertiup maka dedaunan yang saling bergesekan juga menimbulkan bunyi yang sangat indah dan terharmoni dengan baik, kita bak emndengar sebuah orkestrasi alam yang nada-nadanya sanagt menyentuh perasaan. Dan itu semua terjadi tanpa mereka harus membaca partitur ataupun dibimbing olehs eorang konduktor. Subhanallah, melihat itu semua kita seolah ditohok dengan kesadaran baru bahwa sebenarnya semua elemen di alam semesta adalah “cerdas” dan mampu menghasilkan kreatifitasnya sendiri sebagai sebuah respon terstruktur terhadap interaksi dengan elemen lainnya. Ada angin, ada rumpun bambu, dan ada simfoni yang melodius, cobalah berbaring sejenak di bawah rerumpunan bambu, saya yakin bila banyak dari kita yang melakukannya maka psikolog dan psikiater akan berdemo karena prakteknya tidak laku ! Keajaiban indah lain yang bsia saya amati dari pepohonan bambu di muka rumah tersebut adalah ketika tiba saatnya waktu maghrib. Tiba-tiba dari berbagai arah berbondong-bondonglah datang koloni burung-burung Cangak Sapi dalam jumlah yang mencapai ribuan ekor. Mereka “mendarat” dan melepaskan penatnya setelah seharian mengais rezeki di seantero bumi Allah. Mereka datang untuk menjalankan sunatullahnya, yaitu mensyukuri nikmat sehat dan mengoptimasi fungsi biologisnya dengan beristirahat. Terkadang saya menjadi jengah dan malu, bukankah Allah justru memberi perintah secara eksplisit kepada kita spesies manusia untuk emnyebar ke seantero penjuru bumi Allah setelah kita shalat, untuk emncari dan mengais rezeki yang telah dijanjikan-Nya ? Burung-burung itu sendiripun sebuah bentuk keindahan lainnya, corak bulunya sedemikian bervariasi berdasar jenis kelamin, umur, spesies, dan siklus reproduksinya. Tanpa perlu belajar khusus ilmu ornithology yang khusus mempelajari tentang perburungan, kita sudah dapat mencermati bahwa setiap karakter khusus dari burung Cangak menunjukkan identitas biologis dirinya. Sekali lagi saya jengah dan dipermalukan oleh koloni burung Cangak itu ! Bukankah kita yang semestinya mengamalkan dalil : “ Wa fi anfusikum afala tubshirun ?” Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang mengenal dirinya. Sampai sejauh ini tampaknya saya belum juga kunjung mengenal diri saya sendiri dengan baik, termasuk apa yang menjadi tujuan hidup dan apa peran yang seharusnya saya jalankan ! Aklau Obbie Mesakh berkesempatan untuk membuat lagu hits keduanya selain lagu hits Semut Merahnya, maka mungkin ia akan memberi judul “ Malu Aku pada Burung Cangak !
Kotamobagu di pertengahan warsa 80-an memang sebuah kota kecil yang ramah lingkungan, sebuah kota yang benar-beanr memperhatikan aspek ekologis. Saya ketika itu bersekolah di sebuah SD Kampung yang bernama SDN V Mogolaing. Sebuah sekolah dasar dengan bangunan standar SD Inpres ala Indonesia, yaitu sebuah bangunan menyerupai barak persegi panjang dengan tembok semenan rapuh dan atap seng tanpa langit-langit. Sehingga pada saat kita melamun di tengah pelajaran yang membosankan kita dapat melihat kuda-kuda atap yang saling berseliweran. Tetapi Subhanallah, para guru di sekolah kampung saya ini sungguh luar biasa dedikasinya. Mungkin mereka tidak memiliki kemampuan pedagogik teoritis yang semestinya harus didapatkan melalui institut-institut kependidikan, tetapi karena mereka mengajar dengan “hati”, maka apa yang mereka sampaikan pada saat itu sampai kini masih terus terpatri di hati saya. Saya pikir dari merekalah saya mendapatkan dasar-dasar budi pekerti, integritas, dan rasa haus akan ilmu pengetahuan. Lokal sekolahan kami membentuk huruf L dan sangat sederhana tersebut ternyata oleh para guru berhati mulia itu dapat dirubah menjadi sebuah “surga” pemikiran yang kelak di dalamnya akan mengalir “sungai-sungai susu intelektualitas”. Saya masih ingat betapa “galak” sekaligus sayangnya Encik Simbala, kepala sekolah yang saklek, disiplin, serta berdedikasi tinggi kepada kami para muridnya. Tak segan-segan beliau menghukum kami membersihkan halaman sekolah, menjemur kami di lapangan, dan melaporkan setiap perkembangan emosi kami kepada para orangtua. Saya masih teringat pula ketika beliau mencucurkan air mata haru dan bahagia, pada saat saya berhasil menjadi murid teladan di tingkat Kabupaten, padahal apalah kami ini, murid-murid sebuah SD kampung reyot yang bangku kayunya saja bahkan peninggalan sekolah di zaman Belanda. Sampai hari ini saya masih teringat pelajaran-pelajaran “hidup” yang diberikan oleh Encik Simbala dan tim pengajarnya yang hanya ada 5 orang, salah satunya adalah sebuah konsep “canggih” yang kini justru menjadi kurikulum “wajib” di sekolah-sekolah “super mahal” dan “super mewah”. Encik waktu itu menetapkan bahwa setiap hari Sabtu pelajaran kami tidak dilakukan di kelas melainkan di kebun sekolah. Pada hari itu kami harus berkebun, menananm kacang, menyiangi tanaman, dan memebrsihkan saluran air di samping sekolah. Kegiatan ini amat menyenangkan, kami berebut untuk bertanya mengapa biji kacang bisa bertumbuh, tumbuhan apa saja yang menjadi gulma, dan mengapa mereka harus disiangi serta dibersihkan, apa maksud Tuhan menciptakan tanaman pengganggu, apa kandungan kacang, apa nama jamur aneh yang hidup dan tumbuh di batang kayu di tepian ladang. Lalu Encik juga membiarkan kami bermain air sepuasnya di saluran air jernih yang berasal dari sumber di pegunungan. Got di tepi sekolah kami itu,Subhanallah, airnya sangat deras dan juga sangat bening, di bawah gorong-gorong tempat got tersebut memintasi jalan depan sekolah banyak sekali tinggal ikan Nila, Mujair, dan ikan Batu. Di hari Sabtu yang indah itu kami yang penat serta bercucuran peluh setelah mencangkul di ladang bersama para guru, menceburkan diri ke dalam got, membersihkan sampah-sampah organik seperti batang kayu dan dedaunan serta sesekali meski teramat jarang, mengangkat pula plastik dan kaleng. Pada saat itu kami diajari prinsip-prinsip dasar tentang daur hidrologi, rantai makanan, keseimbanagn lingkungan, konsep ekologi, apa itu yang namanya habitat, bahkan kalau saya tidak salah saya mengerti konsep taksonomi ataupun pengkategorian spesies makhluk hidup justru dari kegiatan ini. Kamipun dibiarkan berbasah-basahan dan dengan riang bermain sembur-semburan air serta membuat kapal-kapalan. Teori Archimedes diberikan dalam bentuk permainan dan percobaan, teman yang menemukan sebatang pipa besi diminta untuk membenamkannya ke dalam air, teman yang dapat menangkap Anggang-Anggang (laba-laba air) diminta mempertontonkan kepada kami bagaimana hewan tersebut dapat melangkah dengan ringan di atas permukaan. Tanpa teori yang rumit-rumit dan berat-berat, ketika itu Encik telah berhasil menanamkan pengertian tentang konsep Tegangan Permukaan kepada kami. Sungguh sebuah pengalaman hidup yang sangat berbekas pada saya hingga saat ini, hal ini pulalah yang kelak mendorong saya ketika telah berkeluarga untuk memilih bertempat tinggal “terpencil” di kaki gunung yang alamnya masih asri dan bersahabat, saya ingin anak-anak sayapun mendapat pendidikan yang setara dengan pendidikan yang telah diberikan Encik Simbala. Bahkan kini setiap angkatan mahasiswa baru yang saya ajar, akan saya ajak terlebih dahulu belajar di alam, belajar memahami dan memaknai kehidupan yang sesungguhnya !
Ketika saya duduk di bangku SMP kelas 1 saya harus meninggalkan kota kecil nan indah ini, karena Bapak dipindahtugaskan ke Palu, ibu kota Propinsi Sulawesi Tengah. Dengan berat hati kami sekeluargapun berkemas dan pindah menuju sebuah kota yang benar-benar asing bagi kami.
Tak dinyana, ternyata perjalanan pindahan kami ini adalahsebuah perjalanan berpetualag yang Subhanallah, teramat hebat. Bapak memutuskan akan berangkat ke kota Palu melalui jalan darat, sekalian survey, demikian menurut beliau. Maklum sebagai pegawai PU tentulah pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana publik seperti jalan, jembatan, dan saluran irigasi menjadi tugas pokok beliau. Kami sekeluarga amat “exciting” mendengar rencana ini, maklum kami semua menyadari bahwa ketika itu jalur trans Sulawesi masihlah penuh dengan tantangan super berat. Bahkan ketika itu even Camel Trophy, yaitu sebuah even off road tingkat dunia yang terkenal dengan penjelajahan medannya yang sangat berat, dilangsungkan di Sulawesi.
Berombongan bersama para staf Bapak, kami memulai perjalanan dengan menggunakan 8 mobil 4x4 dari jenis Toyota Land Cruiser. Etape pertama sesuai rencana adalah dari Kotamobagu sampai dengan Gorontalo. Daerah yang dilalui secara berurt antara lain adalah : Inobonto-Lolan-Lolak (Molibagu)-Limboto-Gorontalo. Perjalanan diawali dengan menyusur di tepi sungai ke arah hilir sampai tiba di tepi pantai Laut Sulawesi. Di Inobonto arah perjalanan berbelok ke arah barat menuju Gorontalo dengan menyusuri pantai Laut Sulawesi atau lebih tepatnya Teluk Tomini. Perjalanan etape pertama ini relatif ringan, hanya “deg-degan” ketika harus menyeberangi jembatan dengan ketinggian sekitar 30 meter. Loh kok hanya seperti itu ? Memang hanya 30 meter tingginya dan panjangnypun mungkin hanya sekitar 40 meter saja, tetapi jembatannya hanay terdiri dari 4 batang kelapa yang dibuat berbanjar dua dua. Setiap roda mobil hanay bertumpu pada 2 batang pohon kelapa saja, kondisi ini memerlukan konsentrasi penuh dari penegmudi, meleng sedikit saja maka mobil akan terjungkal ke dalam lembah sungai. Rintangan berikutnya adalah sebuah sungai besar dekat Lolan yang belum berjembatan dan tidak ada ponton penyeberangan. Ke-8 mobil 4x4 itu harus menyeberangi sungai sedalam kurang lebih 1-1,5 meter. Alhamdulillah, berkat pengalaman panjang di lapanagn serta dasar keahlian teknik mesin yang dimiliki Bapak, maka kesemua mobil rombongan dapat menyeberang dengan mulus. Kuncinya adalah menjaga agar sistem kelistrikan mobil tidak “tersentuh” oleh air. Caranya adalah dengan membungkus sistem alternator (delco), kabel busi beserta sambungannya, koil dan kabelnya menggunakan lemak atau gemuk stemfat. Kemudian filter udara yang menuju karburator disumbat sementara dengan kain lap mobil, di satu sisi udara untuk pembakaran masih dapat masuk sementara kemungkinan air ikut tersedot menjadi agak berkurang. Gas mobil harus konstan dan mobil dijalankan dengan gigi terendah serta dibantu dengan penggerak 4 roda putaran paling rendah (4 L). Arah menyeberang juga harus diperhatikan dengan cermat, Bapak menganjurkan untuk mengarahkan mobil ke hulu terlebih dahulu baru kemudian masuk ke dalam air dan mengambil arah ke hilir agar mesin tidak mendapat terpaan arus sungai secara langsung dan roda-roda juga akan lebih mudah untuk mendapatkan tempat mencengkeram. Teori ini sudah seringkali terbukti sukses, maklumlah Bapak selain berpengalaman bertugas di Sulawesi juga telah menghabiskan masa kecil sampai remajanya di Sumatera yang kondisi jalannya tak kalah beratnya. Terlebih lagi Bapak banyak sekali belajar dari Kakek yang juga seorang pegawai PU. Tetapi dalam perihal menyeberangi sungai ini, kami pernah memiliki sebuah pengalaman buruk yang tak dapat kami lupakan. Pada suatu hari kami sekeluarga mengikuti perjalanan dinas Bapak menginspeksi proses pembuatan saluran irigasi di sebuah daerah yang sangat terpencil. Tepatnya di jantung Taman Nasional Dumoga-Bone. Sepulang dari base camp tersebut hari sudah beranjak malam, dan segera saja kegelapan yang pekat menyelimuti daerah hutan yang tengah kami tempuhi. Di penghujung perjalanan, mendekati jalan raya, kami terlebih dahulu harus menyeberangi sebuah sungai yang sangat deras arusnya. Pada sore itu turun hujan sangat lebat di daerah hulu, bahkan pada saat kami bersiap-siap melakukan penyeberanganpun hujan gerimis masih saja turun membasahi bumi. Kondisi alam saat itu benar-benar mencekam, gelap menyelimut dimana-mana, di hadapan kami teredengar bunyi arus sungai yang sangat deras dan menderu-deru. Segera saja hati kecil kami ciut. Di sekitar kami di tengah kegelapan, suara-suara hewan malam mulai melengking bersahut-sahutan, diselingi beberapa kali bunyi guntur yang seolah ingin meledakkan nyali di dada kami. Angin kencang yang basah disertai butiran air hujan menerpa deras kulit wajah kami. Bapak turun untuk mensurvey dan mencermati keadaan. Keadaan ini semakin bertambah seram, karena kami terjebak di anatar dua buah sungai yang sedang banjir. Tepat di belakang kami sebuah sungai kecil yang telah kami seberangi dengan selamat kini mulai meluap dan deras arusnya mulai menjilati sebagian lahan yang semula tidak terjangkau air. Bapak harus membuat keputusan cepat, bila kami tidak segera menyeberang maka kami akan terjebak banjir yang dikhawatirkan akan semakin membesar dan menjadi lebih membahayakan. Di seberang terdengar suara-suara teriakan sebagian staf proyek yang menunggu di sisi sungai yang berlawanan. Mereka tengah menyiapkan alat berat Grider (alat untuk meratakan permukaan tanah dengan jumlah roda yang banak, kalau tidak salah 6 roda besar-besar, di masa itu anak-anak di Sulawesi Utara sering menyebutnya sebagai “laga”, semut merah besar) yang akan dipergunakan sebagai alat bantuan dan evakuasi bila terjadi sesuatu. Bapak memutuskan untuk segera menyeberang. Sesuai dengan teori, mobil kami diarahkan dulu ke hulu, tetapi karena area penyeberangan sangat sempit dan di sekelilingnya terdapat tebing batu yang curam, maka proses ini tidak berjalan optimal. Akibatnya mobil kami harus memotong arus sungai secara radikal, langsung tepat embelah derasnya arus yang sedang emngamuk karena banjir. Semula proses penyeberangan ini berjalan lancar, tetapi ketika kami telah tiba di tengah batang sungai Toraut itu tiba-tiba sebuah batang pohon besar berdiameter sekitar 3 pelukan orang dewasa yang hanyut, menghantam mobil kami dengan telak. Mobil bergeser dan roda-rodanya kehilangan cengkeraman. Perlahan tapi pasti mobil mulai teromabng-ambing dan bergser sedikit demi sedikit terseret oleh arus yang semakin liar. Kami hanyut ! Di kegelapan malam yang pekat itu kami mendengar jeritan ketakutan para staf di seberang yang dengan was-was mencoba menyoroti posisi mobil kami dengan spot light dari Grider. Air mulai masuk kabin melalui sela-sela pintu, sementara kami dengan pandangan ngeri melihat di ejndela bahwa arus air yang berbuih-buih putih telah menutupi sebagian kaca jendela, suara hantamannya pada tubuh mobil benar-benar membuat lutut terasa sangat lemas ! Beberapa detik kemudian bencana susulan datang menyergap, sesaat saya ragu terhadap pendengaran saya, seolah terpaan air yang semula menderu-deru itu agak berkurang intensitasnya. Saya menghembuskan nafas agak lega, tetapi sedetik kemudian keringat dingin saya mulai membanjir bercucuran. Ternyata bukannya deru arus sungai yang berkurang intensitasnya, melainkan derum suara mesin mobil kami yang tak lagi terdengar, alias mesin mati ! Seisi perut rasanya bergolak dan mendorong ke arah kerongkongan. Ibu di bangku belakang terdengar beristighfar dan sesekali meneriakkan takbir sambil mendekap erat adik bungsu saya yang masih berusia 4 tahun. Entah bagaimana prosesnya, detik-detik yang mencekam itu tiba-tiba terpecahkan ketika dengan lambat tapi pasti, mobil kami tertarik perlahan-lahan ke tepian. Ternyata di saat-saat yang sangat kritis itu, seorang staf Bapak nekat terjun ke arus sungai untuk memasangkan seling kawat baja ke cantolan di bemper depan mobil. Begitu kawat baja terpasang, maka langsung saja Grider menarik mobil kami keluar dari arus sungai. Alhamdulillah ! Dengan lutut masih bergetar hebat, segera saja kami berhamburan keluar mobil dan bersujud syukur di tepian sungai.
Alhamdulillah pengalaman itu tidak terjadi pada proses penyeberangan di Lolan ini. Ke-8 mobil ekspedisi pindahan sampai di seberang dengan selamat. Selanjutnya kami beristirahat untuk makan siang di pantai Lolan yang teramat indah. Selain masih sangat alami, pantai ini juga memiliki hamparan pasir putih yang sangat lembut. Air lautnya yang bening, biru kehijauan teramat tenang dan nyaris tidak bergelombang. Maklumlah pantai ini terletak di dalam sebuah teluk kecil yang menjorok cukup jauh ke daratan. Di batas tepian pantai berdiri dengan rimbunnnhya deretan pepohonan hutan yang menawarkan kesegaran dan keteduhan. Segera saja saya dan sebagian besar anggota ekspedisi menceburkan diri ke laut, berenang sepuas-puasnya. Seusai berenang kami menyantap bekal nasi bungkus dari Kotamobagu yang lauknya terdiri dari Ayam bakar Rica dan goreng Ikan Tude’ (Kembung). Subhanallah, nikmat sekali rasanya makan siang kami di pantai Lolan itu. Perjalan selanjutnya tidak menawarkan petualangn yang sanggup memompa adrenalin lagi, melainkan justru mampu memompa hormon endorfin alias hormon rasa syukur. Alhamdulillah, di sepanjang sisa perjalanan menuju Gorontalo kami mendapat suguhan pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Deratan pantai yang memanjang di sisi sebelah kanan kami berpadu dengan tegar kokohnya pegunungan hijau di sisi kiri jalan. Demikianlah tanpa terasa kamipun memasuki tapal batas kota Gorontalao. Sebuah kota yang terkenal dengan makanan kahsnya Binte Biluhuta, alias sop jagung dengan ikan tuna. Tentu kami tidak melewatkan kesempatan emas untuk mencicipi makanan super enak ini.
Keesokan harinya Bapak memutuskan bahwa Ibu dan kedua adik perempuan saya akan melanjutkan perjalan ke Palu dengan menggunakan pesawat terbang. Alhamdulillah di Gorontalo ini terdapat sebuah bandar udara (yang dinamai dengan nama pahlawan Gorontalo di era kemerdekaan, Nani Wartabone). Dan pada hari itu ada sebuah penerbangan Bouraq Indonesian Airlines menuju ke bandara Mutiara Palu. Pertimbangan tersebut didasari fakta bahwa kami mendapatkan informasi perjalanan darat Gorontalo-Palu sangatlah berat dan pada saat itu dalam status “belum tembus”. Setelah mengantarkan Ibu dan adik-adik ke bandara, maka kamipun melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan awal sesaat setelah meninggalkan kota Gorontalo kami mendapati bahwa jalan-jalan yang kami lalui meskipun hanya terdiri dari jalan tanah berlapis sirtu (pasir-batu) ternyata sangat mulus dan lebar, maklum ternyata jalan itu dibangun oleh perusahaan HPH yang daerah hutan konsesinya terletak di pinggiran Gorontalo. Tengah hari jalan mulus itu berubah dan berangsur-angsur menjadi sangat jelek. Lewat tengah hari kami memutuskan untuk berhenti makan siang di tepi sebuah sungai besar di daerah Paguyaman. Karena teriknya matahari dan guncangan perjalanan seolah-olah meremukkan tulang, kami mereasa sangat penat. Begitu mata kami tertumbuk pada aliran sungai besar berair jernih yang tampak tenang dan kehijauan itu, terbitlah keinginan kami untuk berenang dan “mendinginkan” diri. Tanpa kekhawatiran, bahkan justru dengan suka cita segera saja kami berlari-lari sembari melepas baju. 3 orang diantara kami telah “meloncat indah” sambil berkoprol dari atas sebuah batang kayu rebah. Baru saja kami akan mulai berenang hilir mudik, sebuah teriakan cemas membahana dari tepian. Mang Sarta. Salah satu anggota rombongan tampak berlari-lari ke tepian sungai sambil berteriak-teriak tidak jelas. Mulutnya meracau dan tangannya menggapai-gapai serabutan. Kami yang berada di dalam air menatapnya dengan keheranan, bingung ! Semakin dekat ke bibir sungai, Mang Sarta tampak menunjuk-nunjuk ke arah satu titik di arah hulu sungai. Sambil masih kebingungan kami menoleh dengan enggan ke arah yang ditunjuk oleh Mang Sarta. Kami melihat ada beberapa batang kayu kecoklatan seukuran sepelukan orang dewasa terdampar di gosong pasir di bawah rerimbunan perdu dan pohon-pohon berdaun lebar sejenis Ketapang. Pada saat kami sedang memfokuskan pandangan, 2 batang kayu itu tampak menceburkan diri ke batang sungai dan mulai bergerak menghilir. Sontak kami segera kami tersadar, benda yang semula kami kira batang kayu besar itu adalah Buaya ! Rasa takut yang menyerang secara tiba-tiba ternyata justru membuat kami seolah lumpuh. Teriakan Mang Sarta dan hardikan Bapak dari tepian kemudian menyadarkan kami, dan kami dengan segala gaya renang yang pasti tidak pernah ada dalam teori renang manapun, berusaha sekuat tenaga mencapai tepian. Tangan dan kaki berkecipak tak beraturan dan beberapa diantara kami malah berenang saling bertumbukan. Dengan centang perenang dan susah payah, akhirnya kami semuapun mencapai tepian. Nafas kami memburu, tubuh kami gemetaran bukan karena kedinginan melainkan karena ketakutan. Melihat kami telah menepi, rombongan buaya itupun kembali ke “markas besarnya” dan melanjutkan program berjemurnya, persis seperti para turis bule di pantai Kuta.
Menjelang petang kami mulai memasuki daerah-daerah tak bertuan dan tak juga dikenal dalam peta. Rawa-rawa dalam menghadang perjalanan kami. Pokok-pokok kayu randu besar tampak seperti monster dengan cabang-cabang keringnya yang menajdi siluet menakutkan diterpa cahay senja yang semakin temaram. Kami berhenti untuk berunding dan menyiapkan temapt menginap. Menjelang malam menyergap tampak ribuan ekor burung Punai (Kum-Kum) berwarna ungu-hijau-coklat-kelabu “menyerbu” dahan-dahan pohon Randu. Rupanya pohon “seram” itu adalah rumah mereka. Di salah satu cabang pohon Eboni atau kayu Hitam yang menjulang tinggi, tampak seekor burung Enggang atau yang dalam bahasa lokal disebut Rangko-Rangko sedang bertengger anggun. Bapak mengeluarkan senjata laras panjang dan mulai membidiknya. Burung Enggang itu tertembak jatuh, itulah makan malam kami. Kami segera menyiapkan api dan bumbu-bumbu sederhana. Burung Enggang kami panggang, dagingnya lezat sekali meskipun hanya dibumbui garam, cabe rawit, dan sedikit kecap. Seusai makan malam kami bersiap-siap untuk tidur di dalam mobil. Nyamuk hutan yang ganas mulai datang menyerang. Suaranya menguing-nguing memekakkan gendang telinga. Tidur kami jadi serba susah, jendela dibuka nyamuk menyerbu, jendela ditutup kami kepanasan dan sesak nafas. Tiba-tiba saya merasa ingin buang air kecil, segera saja dengan berbekal senter saya melangkah keluar mobil dan mencari tempat yang aman untuk buang air kecil. Baru kurang lebih satu meter melangkah dari mobil, tiba-tiba wajah saya seperti ditusuki oleh ribuan jarum halus yang beterbangan. Rupanya cahaya lampu senter saya mengundang pasukan nyamuk untuk datang menyerbu, walhasil kesesokan harinya wajah saya penuh dengan bentol-bentol merah yang nyaris merata disekujur kulitnya. Tidur pertama di alam bebas tidak senyenyak yang saya prakirakan, berbagai suara aneh yang datangnya dari rimba raya di sekitar kami terkadang begitu mengerikannya sampai-sampai bulu roma kami bergidik. Pada saat cahaya matahari pertama menerobos lebatnya dedaunan, maka kami semua beranjak dari mobil-mobil peraduan kami. Saya mendapati di sekitar “perkemahan” darurat kami tampak jejak hewan berbagai jenis dan ukuran. Menurut Om Hattapioka seorang pengemudi dari suku Tolare, jejak-jejak itu adalah jejak rusa dan babi hutan. Mungkin mereka penasaran dengan “hewan” aneh yang mampir ke daerah teritorinya.
Perjalanan lanjutan berlangsung semakin menantang dan tentu saja semakin berat. Persediaan mie instan kami telah menipis, bahkan kornet dan sarden yang di bawa bersama ikan Cakalang FuFu (ikan asap) telah habis terlebih dulu. Kami kini harus rajin memancing dan berburu bila ingin makan yang sedikit lebih bergizi. Rimba raya terkadang tidak memungkinkan sama sekali utnuk dilalui, Bapak sesekali memerintahkan anak buahnya untuk menggergaji dan meratakan terlebih dahulu jalur yang akan dilalui. Rawa-rawa sedalam dada orang dewasa menghadang, ular sebesar paha manusia terlihat asyik bergelung melingkar di dahan-dahan rendah setinggi kepala. Ribuan serangga antah berantah dengan aneka warna dan coraknya yang mempesona tak kunjung lekang kami kagumi dan cermati. Om Hattapioka yang pemberani selalu menjadi sukarelawan yang menjajagi dalamnya rawa-rawa lumpur yang akan kami seberangi. Pada suatu sore yang gelap, kami tiba di sebuah rawa yang menguarkan aura misterius. Airnya kehitaman dan pepohonannya meliak-liuk seperti cakar-cakar hewan fantasi. Om Hatta seperti biasa menawarkan diri untuk mencoba jalur dengan berjalan kaki. Setelah 3 meter menempuhi air rawa hitam sebatas lutut, tiba-tiba Om Hattapioka menghilang dari pandangan kami semua. Kecemasan segera saja meruyak perasaan seluruh anggota rombongan. Di hadapan mata kepala kami sendiri, tiba-tiba Om Hatta raib tak tentu rimbanya. Suasana menjadi hening seribu bahasa. Alam seolah kaku membeku, dan detik demi detik tak terasa berlalu, ketegangan ternyata lebih jauh lebih “dingin” dari setumpukan es batu ! Air hitam rawa misteri tempat hilangnya Om Hatta tampak tenang dan tak beriak satupun. Tiba-tiba, bahkan sangat tiba-tiba, sebuah tangan hitam kekar muncul dan mencuat membelah ketenangan air rawa. Tak lama tangan itupun menggapai-gapai dan berkecipaklah air menjadi tak beraturan. Kami semua tetap terpaku dan malah sebagian beringsut mundur ketakutan, makhluk macam apa pula ini yang akan kami hadapi ? Berjuta cerita dan dongeng tentang misteri makhluk-makhluk gaib yang menyeramkan berkelebat di benak kami. Lalu tiba-tiba dengan tak kalah mengejutkannya muncul sebongkah benda hitam menyeruak menembus permukaan air. Kami semua sudah pasrah dan lemas, pastilah ini penunggu rawa yang mengamuk karena kami mengganggu ketenangannya. Pastilah ini makhluk gaib yang telah “menelan” Om Hattapioka. Dan benar saja, perlahan tapi pasti makhluk hitam legam itu berjalan mendekati tepian tempat kami semua berdiri terpaku. Sekilas bayangan tentang makhluk “Swamp Thing” yang saat itu ditayangkan di TVRI menghantui pikiran kami. Kami sudah terlalu takut untuk berlari, kami semua terdiam. Bahkan sampai makhluk itu tinggal berjarak sekitar 1 meter dari kami, tak satupun diantara kami yang dapat bereaksi. Sunyi, sepi, hening tak ada suara, mungkin jika ketika itu ada sehelai daun yang gugur dan terjatuh suaranya akan terdengar memekakkan gendang telinga. Makhluk hitam seram itu seperti sudah yakin dengan perbuatannya, dan kami juga sudah yakin bahwa nasib kami akan berakhir tragis di sini. Tetapi tiba-tiba dengan bergemuruh, makhluk hitam legam seram itu tertawa terbahak-bahak sampai-sampai terbungkuk-bungkuk menahan geli. Kami tetap terdiam. Ketika ia mengangkat wajahnya dan beradu pandang dengan kami yang tetap membungkam, sekali lagi ia terbahak sedemikian dahsyatnya. Saking hebohnya makhluk itu tertawa, sampai-sampai air matanya jatuh bercucuran. Karena tersaput air mata, lama kelamaan warna hitam pekat di wajahnya mulai agak meluntur, lalu tiba-tiba kami menyadari bahwa makhluk hitam legam seram itu ternyata adalah Om Hattapioka yang terbenam ke bagian yang dalam dan amat berlumpur di rawa hitam itu !
Perjalanan pada hari berikutnya mulai mendekati kaki Gunung Tinombala, atau sudah mendekati perbatasan Sulawesi Tengah. Menjelang siang kami tiba di sebuah air terjun kecil dengan air yang sangat jernih. Tepat di tempat jatuhnya air terjun tersebut terdapat sebuah kolam bening dengan bebatuan alam di sekelilingnya. Dari kolam itu mengalirlah sebatang anak sungai kecil ke lembah di bawah kami. Suasana di air terjun itu sangat tenang dan sejuk. Kami memutuskan untuk beristirahat makan siang di sana. Setelah celingak-celinguk, dan mengamati keadaan secara ekstra hati-hati (mengingat pengalaman berjumpa buaya di sungai Paguyaman), kami meutuskan untuk berenang dan menikmati sejuknya air di kolam kecil itu. Saat saya mulai berenang dan menyelami dasar kolam yang ternyatadangkal, hanya sekitar 1 meter saja kedalamannya, mata saya bersirobok dengan beberapa makhluk yang bertubuh transparan dan sungut yang bergerak-gerak gelisah kian kemari. Sekali lagi hati saya tercekat dan tercekam rasa takut, makhluk apa pula ini ? Begitu pikir saya ketika itu.Bapak yang menyadari ketakutan saya tersenyum, dan memberitahu bahwa apa yang saya lihat di dasar kolam adalah sekumpulan udang sungai yang besar-besar. Maklumlah saya biasanya melihat udang sudah dalam keadaan siap saji atau hanya melihat di pasar saja. Saya baru menyadari bahwa ketika udang masih hidup dan tinggal di jeram-jeram sungai warna tubuhnya transparan, nyaris bening. Tampaknya udang-udang itu belum pernah berjumpa dengan manusia, sehingga sangat jinak dan mudah sekali untuk ditangkap. Tak lama kemudian kamipun telah mengumpulkan sekeranjang penuh udang sungai besar yang segar-segar. Bergegas Om Hattapioka dan Mang Sarta menyiapkan api untuk memanggang, sementara Om Vence, seorang pengemudi yang berasal dari Minahasa, mencari jahe hutan yang berwarna merah serta berukuran besar. Udang-udang sungai itupun kami panggang dengan saus kecap-jahe hutan dengan dibubuhi sedikit garam. Subhanallah, Alhamdulillah, rasanya sedemikian lezat dan gurihnya, sehingga sampai saat ini (sudah 22 tahun berlalu), kelezatan udang sungai panggang itu masih terbayang-bayang di pikiran saya, dan setiap saya membayangkannya kembali, menitiklah air liur saya tak tertahankan.
Siang itu juga kami melanjutkan perjalanan, berdasarkan peta yang kami bawa apabila kami berhasil menembus kaki gunung Tinombala sebelum malam turun, maka kami akan dapat menginap di sebuah perkampungan yang bernama Moutong. Sebuah perkampungan perbatasan anatar Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah, kini perbatasan antara propinsi Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Ternyata perjalanan itu tidak semulus dugaan kami, sebagian badan jalan di tebing tegak lurus yang amat mengerikan ternyata telah tertutup oleh tanah longsor akibat hujan deras beberapa hari sebelumnya. Badan jalan itu memang sudah pernah ada dan mungkin telah dibuat oleh pemerintahan kolonial Belanda. Tingkat kesulitan untuk melaluinya sangat tinggi, karena di sisi kiri badan jalan yang lebarnya hanya sekitar 2 meter itu terbentang jurang tegak lurus yang di bawahnya terdapat salah satu palung Laut Sulawesi. Air laut di bawah kami tampak biru kehitaman, dan ketika kami amati dengan cermat sambil memicingkan mata, kami dapat melihat beberapa sirip punggung ikan Hiu tersembul di permukaan air dan berputar-putar kian kemari. Jarak dari badan jalan hingga ke permukaan air laut berkisar antara 50 sampai dengan 100 meter. Tanah yang menimbuni badan jalan adalah tanah lempung setengah basah yang sangat licin serta berposisi miring ke arah laut. Satu demi satu Toyota Land Cruiser kami tertatih-tatih dan terseok-seok sambil bergoyang “dangdut” kesana kemari berusaha melintasi rintangan berbahaya itu. Bapak memberikan petunjuk kepada para pengemudi untuk menjalankan kendaraannya tanpa keraguan dan jangan sekali-kali mengangkat pedal gas. Bapak sendiri kemudian mencontohkan dengan mengendarai kendaraan pertama yang masuk ke lintasan, yaitu sebuah Toyota Land Cruiser Long Chasis atau tipe Stasion. Bapak melarang saya untuk ikut dengan mobil pertama karena terlalu beresiko. Sesampainya Bapak di seberang, di daerah yang relatif aman, Bapak memberi isyarat pada mobil-mobil berikutnya untuk mengikuti jejak roda yang telah dibuat Bapak di tanah lempung yang licin itu. Satu persatu konvoi rombongan kendaran 4x4 itu berhasil melalui tebing maut Tinombala-Tomini itu. Malam harinya sekitar tengah malam kami tiba di Moutong dan menginap di rumah kepala desa. Pagi harinya penduduk desa mengerubungi barisan mobil kami dan menatap kami sembari terheran-heran, maklumlah sudah lama mereka tidak melihat ada mobil yang datang dari arah Sulawesi Utara. Bahkan para generasi mudanya samasekali belum mengetahui bahwa jalur trans Sulawesi itu sebenarnya ada. Selanjutnya perjalanan dari Moutong ke Palu melalui Parigi dan Kebon Kopi tersa seperti bila kita kini melaju di atas jalan tol yang menghubungkan antara Jakarta-Bandung ! Maklum setelah sekitar 1 minggu berjuang merintis jalan di tengah kelebatan rimba raya, maka jalan desa tak beraspalpun rasanya seperti jalan mulus berhotmix !
Hikmah dari perjalanan ini tentu banyak sekali, bahkan pada saat saya berusaha menuliskan kembali, terus saja pengertian-pengertian dan pemahaman baru yang bersumber dari pengalaman bertualang di tepi teluk Tomini itu mengalir hadir. Mungkin dulu pada saat saya mengalaminya secara langsung saya belum cukup dewasa untuk berpikir dan mengendapkan berbagai hikmah yang saya lihat dan saya petik di sepanjang perjalanan. Beberapa hal yang bisa saya sampaikan di sini antara lain adalah bahwa saya jadi jauh lebih mengenal kemahaberagamannya ciptaan Allah SWT, betapa maha Indahnya desain-desain yang dirancang Allah, dan betapa kecilnya kita di hadapan Allah. Saya juga mendapatkan pemahaman baru bahwa yang namanya rasa takut dan rasa putus asa sebenarnya hanyalah berputar-putar, dibuat dan ditemukan kembali oleh diri kita sebatas dalam benak kita saja. Peristiwa Om Hattapioka, peristiwa tebing “maut”, ataupun peristiwa buaya di sungai Paguyaman menyadarkan saya bahwa manusia “memenjarakan” dirinya dalam kerangkeng ketakutan yang diciptakannya sendiri. Jeruji pikiran itu sebenarnya bisa ditembus, bisa dibongkar, dan bisa didekonstruksi bila kita “ingat” dan hanya percaya kepada Allah semata ! Tapi perlu dicatat juga, bahwa yang namanya ingat, percaya, iman, dan taqwa kepada Allah SWT haruslah bersifat sistematis, berproses dan sesuai dengan fitrah serta sunatullah. Itulah yang dinamakan sabar, sebuah kondisi ataupun sifat yang akan menolong dan menyelamatkan kita dalam kehidupan dunia-akhirat.

SEKOLAH DOKTER, PERKENALAN DENGAN MALAIKAT MAUT

Rumah sakit adalah sebuah tempat yang selalu dikonotasikan dan diasosiasikan orang dengan hal-hal yang buruk dan mengerikan. Tak heran bila paradigma rumah sakit tidak pernah terlepas dari stereotip sebagai tempat yang “menawarkan” kesedihan dan kecemasan. Alhamdulillah, sampai usia saya saat ini yang sudah di pertengahan tiga puluh tahunan, sebagian besarnya saya lalui di lingkungan rumah Sakit. Selama menempuh studi di pergurtuan tinggi setidaknya saya menghabiskan waktu sekitar 8 tahun di lingkungan Rumah Sakit. Maklumlah setelah menyelesaikan jenjang pendidikan di tingkat sarjana, saya berkesempatan untuk melanjutkan ke jenjang magister. Karena baik jenjang sarjana maupun jenjang magister yang saya tempuh adalah di bidang kedokteran, maka tentu saja aktivitas sehari-harinya dilakukan di lingkungan Rumah Sakit. Pahit-getir, canda-tawa banyak saya habiskan di lingkungan yang satu ini. Saya masih teringat ketika awal memasuki dunia perkuliahan dan menjalanani masa orientasi kampus, saya digojlok baik secara fisik maupun mental. Salah satu bentuk “penyiksaan” yang masih terkenang-kenang sampai hari ini adalah ketika saya dan seluruh mahasiswa baru lainnya digiring untuk memasuki ruang praktikum Anatomi. Di dalam ruang praktikum itu terdapat belasan jenazah manusia yang telah diawetkan dengan rendaman zat formalin. Nama jenazah awetan untuyk praktikum itu adalah cadaver. Kami masuk seorang demi seorang ke dalam ruangan yang kaca-kaca jendelanya sengaja ditutup rapat, sehingga suasana di dalam ruangan remang-remang dan menimbulkan efek menyeramkan. Bagi saya dan banyak mahasiswa baru lainnya, saat itulah kami berhadapan langsung dengan belasan jenazah manusia “asli”. Kami diperintahkan untuk menatap, mengusap, dan emmperlakukan jenazah tersebut dengan penuh kasih sayang, hormat, dan takzim, mengingat “jasa” mereka yang sedemikian besar dalam proses pendidikan kami. Kakak senior kami mencamkan bahwa tanpa kehadiran para cadaver itu dalam proses pendidikan kami, maka kami tidak akan mendapatkan pengetahuan yang paripurna untuk mengenal dan membantu proses penyembuhan seorang manusia. Pikiran saya melayang-layang dan terbang kian kemariberkelanan di halaman-halaman buku sejarah kedokteran yang sering saya baca ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya teringat bagaimana buku itu bercerita tentang propses pencarian dan pengamatan Da Vinci yang cermat sehingga dapat emnggambarkan struktur tubuh manusia yang nyaris sempurna. Lukisan manusia Da Vinci dengan tangan terentang horizontal dan kaki membuka itu dikenal sebgai lukisan Manusia Vitruvian. Saya juga membayangkan bagaimana William Harvey dengan telaten dan tingkat kecermatan yang tinggi mengamatri saluran-saluran pembuluh darah yang berseliweran kian-kemari di dalam tubuh kita. Ketika pertama kali berhadapan dengan para cadaver itu saya baru mengerti bahwa untuk mencapai sebuah keberhasilan operasi pencangkokan jantung seperti yang dilakukan oleh Christian Barnard, seorang dokter bedah dari Afrika Selatan, ternyata memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang tentu tidak dapat diperoleh dengan mudah, dan membutuhkan proses belajar belasan tahun. Ketika berdiri hikmat di hadapan para cadaver itu saya juga mengalami sensasi “aneh”, dan menjadi termangu-mangu, mereka semua ini dahulunya manusia ! Sama dengan kita yang bernafas, makan, punya rasa sakit, dan juga dapat merasa sedih serta gembira. Melihat jasad-jasad yang terbujur kaku, diam, dan dingin di meja praktikum ini membuat saya bertanya-tanya, “ di mana mereka kini sang empunya raga ?” Sebersit rasa takut tumbuh dan berkembang dengan cepat, bukan takut pada hantu, penampakan, atau yang sejenisnya, tetapi sebuah rasa takut terhadap kelanggengan eksistensi. Kemana kita semua setelah ruh meninggalkan jasad kita ? Kemanakah tujuan kita sebenarnya ? Sebuah pertanyaan yang juga pernah ditanyakan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS, “Kemanakah tujuanmu Ibrahim ?”
Lingkungan Rumah Sakit kemudian menjadi “guru” yang sangat baik bagi saya pribadi untuk memahami berbagai misteri kehidupan. Di tingkat-tingkat awal perkuliahan saya banyak sekali mendapat pengetahuan baru tentang hirarki sistem biologi dan berbagai fungsinya. Saya jadi tahu bahwa sebuah sel manusia maupun mikroba ternyata sebuah unit yang sangat komplek dan memiliki sistem pengambilan keputusan yang rumit. Saya menyadari bahwa sel adalah makhluk cerdas yang senantiasa bertasbih, siap untuk mengoptimalkan peran diri atau sunatullah yang telah ditetapkan atasnya. Sungguh luar biasa ketika datang masa-masa kami berkesempatan untuk menatap sel-sel sprematozoa hidup yang “berlari-lari”, berlomba untuk menemui sel telur, atau ketika kami menatap cawan petri hasil praktikum kami yang mulai dipenuhi oleh koloni-koloni bakteri yang kurang dari 24 jam lalu baru saja kami biakkan. Ketakjuban kami semakin bertambah ketika kami mulai berkenalan dengan sel-sel darah yang beraneka jenisnya, bentuknya, dan juga fungsinya. Kami baru mulai mengerti bahwa sel darah merah memang didesain untuk menjadi “truk pengangkut” oksigen. Sebagai kendaraan niaga sel darah merah tidak dilengkapi dengan inti sel. Mengapa ? Karena inti sel adalah organela besar yang membutuhkan tempat cukup luas di dalam sel. Ruang yang tersita oleh kehadiran inti sel akan mengurangi kapasitas dan daya tampung sel darah merah, untuk itu sel darah merah dirancang oleh Allah tanpa inti sel. Selanjutnya fungsi inti sel yang antara lain mutlak diperlukan dalam program regenerasi dialih perankan kepada sum-sum tulang yang secara periodik selalu siap untuk membentuk sel-sel darah merah baru. Sel darah meah tidak dapat berketurunan, dan usia maksimalnya tidak panjang, hanya berkisat sekitar 120 hari. Untuk itu Allah menciptakan zat Eritropoeietin untuk membantu sel-sel tunas di sum-sum tulang pipa manusia berdiferensiasi menajdi sel darah merah baru. Sedemikian rumitnya ciptaan Allah ini, tetapi semakin saya belajar di fakultas kedokteran semakin kagum pula saya dari detik ke detik. Mengapa ? Karena ternyata di balik kerumitan itu tampak sebuah sistematika yang indah, sebuah orkestarsi yang menjaga agar setiap sistem tubuh kita harmoni. Setiap protein, mineral, maupun elemen lain di dalam sel dan tubuh kita memiliki fungsi yang jelas dan kemampuan pengendalian diri yang hebat. Sebagai contoh, bila kita bernafas dan udara yang kita hirup melalui jalur hidung-paru dibawa oleh sel darah merah ke sekujur tubuh kita, ada sebuah pertanyaan besar, kapan sel darah merah tahu kapan ia harus mengangkut oksigen dan kapan pula ia harus mengangkut karbon dioksida ? Ternyata mekanismenya melibatkan ke”istiqamahan” unsur dan molekul kimia. Bila darah merah kaya akan asam karbonat maka ia cenderung akan bertukar muatan dengan oksigen di gelembung-gelembung alveoli paru, sedangkan bila ia kaya akan hemoglobin yang berikatan dengan oksigen ia akan cenderung untuk berdifusi menembus dinding pembuluh darah terkecil (kapiler) menuju jaringan dengan bantuan enzim 2,3 Difosfogliserat. Mengapa ? Molekul pertama yang kaya akan asam karbonat bersifat lebih asam dan akan selalu berusaha mencari keseimbangan dengan menyumbangkan sebagian potensi keasamannya. Sedangkan pada molekul yang kedua bersifat lebih basa dan juga cenderung untuk mencari keseimbangan dengan jalan berinfaq pada daerah atau jaringan yang tinggi suasana asamnya (banyak proton atau ion H+ ), yaitu jaringan yang memiliki potensi “gas buang” karbondioksida. Pertukaran ini menjadi mungkin karena adanya desain “reaktor” yang luar biasa hebat, sehingga menjamin semua reaksi berjalan normal dan sesuai dengan kebutuhan fungsional. Dalam proses ini kita dapat melihat bahwa ternyata setiap elemen sub atomi, atom, elektron, ion, maupun molekul mampu menjalankan fungsinya dengan cerdas. Pada proses pertukaran gas di dalam sel darah merah itu ada sebuah ion kecil yang namanya jarang diingat, apalagi perannya, yaitu ion klorida. Ion klorida ini membantu sebagian asam karbonat keluar dari sel darah merah dan memfasilitasi reaksi Bila ion klorida jumlahnya terlalu banyak, maka asam karbonat yang dikeluakan dari dalam sel darah merah menajdi terlalu banyak juga, akibatnya proses pertukaran gas antara karbondioksida dan oksigen di alveolus terganggu. Akibat berikutnya kadar oksigen yang dikirim ke otak juga berkurang, maka seseorang akan menjadi mudah marah dan bersikap emosional. Dari konsep sederhana itu saya mendapat sebuah pengetahuan dan kesadaran baru bahwa yang namanya kebanyakan makan garam tidak hanya mengakibatkan tekanan darah tinggi saja (kalau yang ini disebabkan karena volume plasma atau bagian cair darah meningkat, maklum 1 ion Natrium mampu menariik 4 molekul air) melainkan juga ion kloridanya dapat mengakibatkan seseorang temperamental. Wah, dari sini saya berpikir bahwa akhlaq dan adab seseorang sangat bergantung pula kepada apa yang ia makan dan seberapa banyak yang ia makan, sungguh Islam telah mengajrkan azas kesetimbangan hidup yang paripurna !
Contoh lain ke-Mahasisteman Allah SWT yang tercermin dalam tubuh manusia adalah peristiwa apoptosis. Bila kita sebagai manusia meyakini bahwa umur adalah takdir yang telah ditetapkan Allah atas hamba-hamab-Nya, maka sebenarnya konsep ini dapat dipejari pula di tingkatan sel. Umur sel sudah dirancang oleh Allah agar adaptif dan dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang menstimulasinya. Allah telah memberikan potensi yang bersifat netral, bila keadaan menghendaki umur sel tidak berlangsung lebih lama, maka ia akan segera mengakhiri hidupnya dengan bermartabat. Hampir semua “nasib” biologis dan psikologis sebenarnya telah “tertulis” di ‘Lauh Mahfudz’ tubuh. Bila kita bioteknologi mengenal konsep gen sebagai cetak biru sifat dasar makhluk hidup, maka sesungguhnya gen-gen tersebut baru akan diekspresikan menjadi protein sesuai dengan data-data yang diterima dari lingkungannya. Gen pengatur kematian bermartabat sel (apoptosis) antara lain terdiri dari gen p53, p21, dan keluarga Bcl serta Bax. Ada gen yang bertugas untuk mendorong terjadinya apoptosi dan ada juga gen-gen yang bertugas untuk menghambat atau mengehntikan proses apoptosis. Contoh paling spektakuler yang dapat dicermati dalam proses apoptosis ini adalah pembentukan jari-jemari kita yang berjumlah 5 buah di setiap tangan itu. Pada masa embrional, semula jemari kita itu seperti sepenggal daging bertulang yang menjorok, persis seperti cikal bakal sayap pada keluarga unggas. Tetapi kemudian ada “pesan” bahwa lengan yang menjorok itu harus diorganisasi menjadi bentukan tangan yang mempunyai jari-jemari. Apa yang menstimulasi pembentukan jemari itu ? Dari berbagai faktor yang mempengaruhi, faktor utama adalah adanya sebuah program kematian yang bermartabat pada saat pertumbuhan tulang jemari dimulai. Adanya sinyal bahwa diferensiasi tulang telah berjalan akan mengaktifkan sistem “alarm” usia biologis sel-sel di ujung tonjolan lengan (upper limb). Pesan ini diterjemahkan menjadi kode pembuka program terminasi. Sedemikian terprogramnya proses apoptosis sehingga terbentuklah jemari kita yang sempurna. Dapatkah kita bayangkan jika proses ini tidak ada ataupun terganggu ? Maka anggota tubuh kita menajdi tidak sempurna, bukan karena kekurangan melainkan justru karena “kelebihan” sebagian anggota badan.
Di tingkat-tingkat selanjutnya saya mulai belajar tentang konsep penyakit. Begitu banyak penyakit yang bisa dialami oleh manusia, mulai dari yang bersifat degeneratif alias terjadinya penurunan fungsi oleh berbagai sebab yang bersifat internal, sampai dengan penyakit-penyakit infeksi yang disebabkan adanya mikroba patogenik yang berasal dari lingkungan. Satu demi satu penyakit itu saya pelajari dan berusaha keras saya pahami. Pada awalnya sebagaimana mahasiswa kedokteran umumnya, saya beranggapan bahwa pemahaman terahdap penyakit adalah “hitam-putih.” Bakteri, virus, dan jamur adalah “penjahat”, kanker adalah pembunuh, dan cacat genetik adalah “kutukan” turunan yang kejam. Kami bersikap memusuhi penyakit. Sebuah sikap yang barangkali melahorkan metoda-metoda pengobatan yang invasif, agresif, dan menafikan faktor-faktor penentu lain kualitas hidup manusia. Kami menjadi sekumpulan “robot perang” yang disetting untuk bertempur melawan kematian. Kami para dokter, dididik untuk emnjadi pesaing paling potensial bagi malaikat maut. Pendekatan semacam ini semakin menjauhkan dunia kedoketran dengan “akar masalah.” Pasien tidak lagi dipandang sebagai manusia, melainkan sebagai sederetan “angka” target tanpa identitas ataupun entitas. Ketika seseorang menjadi “pasien” seolah ia telah menanggalkan identitas kemanusiaannya. Dunia kedokteran mengajarkan pada saya cara-cara menggunakan antibiotika dosis tinggi untuk “bunuh”, “bunuh”, dan “bunuh !” Ilmu bedah mengajari saya untuk “potong”, “angkat”, dan “permak”. Ilmu penyakit dalam mendorong saya untuk melarutkan diri dalam “sandiwara simtom”, dimana gejala menjadi satu-satunya parameter yang harus diperbaiki. Dunia kedokteran tumbuh dan tak bisa dipungkiri lagi telah menjelma menjadi gurita industri jasa yang ekspansif. Kapitalisasi merajalela dan korporatokrasi beserta semangat nepotismenya telah berkembang menjadi “kewajaran” budaya, atau yang lebih dikenal sebagai norma dan etika kedokteran. Semangat bersahabat dan mencari solusi damai semakin ditinggalkan, riset-riset dasar dikembangkan semata bagi proses menemukan obat-obat baru yang jauh lebih canggih, dan tentu saja lebih “mahal”. Pada saat-saat galau itu saya berkenalan dengan penyakit yang bernama “kanker”. Perkenalan pertama yang mempesona, melihat bagaimana sebagian “warga” tubuh kita yang “marah” dan memberontak dengan upaya-upaya separatisme. Kanker sebenarnya adalah sebuah ekspresi kekecewaan sistematik. Kanker terjadi pada saat mekanisme adaptasi dan toleransi sistem tubuh telah terlampaui. Ia berkembang dengan “menyabot” jalur suplai energi tubuh. Pembuluh-pembuluh darah yang bak saluran pipa minyak Pertamina, di”sedot” secara ilegal. Sebagian besar nutrisi untuk segenap jaringan tubuh dialihkan dan dialokasikan untuk perkembanagn sel-sel kanker. Inti selnya membesar dan emmbelah jauh lebih sering ketimbang sel-sel normal, lalu kanker mengembangkan sistem enzimatis yang membuatnya awet muda dan berharap untuk tidak mengenal kata mati. Salah satu enzim dari sistem ini yang terkenal adalah telomerase. Kerja telomerase adalah menyandi dan memperpanjang bagian ekor kromosom yang disebut telomer, semakin panjang telomer maka sebuah sel semakin banyak dapat melakukan proses penggandaan diri. Bisa dibayangkan, andai sebuah sel telomernya tidak pernah memendek, maka usianya akan bertambah panjang, terus dan terus saja memanjang. Inilah barangkali perumpaan di dunia perwayangan yang menyebutkan bahwa Rahwana sang Raja Durjana dari negeri Alengkadirja memiliki ilmu “hidup seusia alam semesta”, atau yang dikenal sebagai ajian Rawarontek. Sel kanker memang dapat digambarkan sebagai proyeksi sifat-sifat Rahwana yang jumawa, zholim, dan maunya menang sendiri, bahkan pada sunatullahpun ia hendak melawan ! Eh, jangan-jangan tanpa kita sadari kitapun sedikit-sedikit ketularan ya oleh “virus” Rahwana ini. Mengingat di akhir cerita Ramayana, lakon Rahwana yang terjepit di antara dua gunung kembar yang merupakan jelmaan kepala 2 anak kembarnya yang dipenggal sekedar untuk menipu Dewi Sinta bahwa suami dan adik iparnya, Rama dan Laksmana (yang kebetulan mirip dengan Sondara-Sondari, 2 anak kembar Rahwana itu) telah perlaya, dijejak hebat oleh hanoman dengan aji Bayubrajanya dan terbenam ke lapisan kulit bumi. Sakinmg hebatnya tekanan yang diberikan oleh Hanoman, maka Rahwana terjepit dan tinggal menyisakan bagian kepalanya saja sebatas dagu, yang dapat diamati di permukaan tanah, selebihnya amblas di telan bumi. Dasar biang kejahatan, maka darimulutnya yang megap-megap itu “virus-virus” pikiran terhembuskan keluar bergelembung-gelembung dan terhirup oleh milayaran manusia di seluruh pelosok dunia. Legenda ini sebenarnya ingin menunjukkan kepada kita bahwa yang namanya bibit kejahatan dan angkara murka dapat saja “terhirup” dan menjangkiti semua orang di muka bumi. Kejahatan akan selalu hadir sebagai bagian dari “kegagalan” manusia mengelola konsep dirinya dan “bingung” terhadap “terminal” yang menajdi tujuan akhir perjalana hidup di dunia yang sangat sementara ini.
Kanker memang bukan Rahwana, tetapi ia hadir pada saat kita bersikap seperti Rahwana, kita berperilaku zholim pada lingkungan, pada tubuh kita, dan pada media sosial. Loh kok media sosial ? Yah demikianlah adanya, kanker dapat muncul dan bahkan banyak muncul akibat hubungan sosial yang tidak harmonis. Salah satu ciri dari hubungan sosial yang tidak harmonis adalah tinggi tingkat stress. Semakin orang sering mengalami stres dengan kadar yang tinggi, maka akan semakin rentan pula dirinya untuk diserang oleh penyakit kanker. Mengapa ? Karena pada saat kita mengalami tekanan bathin, maka hormon resah dan gelisah kita akan bersimaharaja lela, akibatnya sistem pertahanan tubuh akan tertekan (disupresi). Selanjutnya bila sistem pertahan tubuh tidak efektif lagi perannya, maka unsur-unsur anarkis akan dapat bekerja dengan lebih leluasa.
Pada tahap studi selanjutnya saya mulai berkenalan dengan kondisi rumah sakit yang sebenarnya. Saya mulai menyelami profesi di bidang kedokteran yang digadang-gadang orang sebagai suatu porofesi yang mulia. Mulia ? Sebelum masuk rumah sakit saya memang yakin dengan adagium itu, tetapi setelah saya “menyentuh” pasien untuk pertama kalinya, segera saja saya menyadari bahwa predikat “mulia” itu terlalu muluk bagi kami. Kami, saya dan hampir semua teman lainnya, adalah sekelompok anak kecil yang gentar, gemetar ketakutan melihat sebuah kenyataan bahwa yang namanya “hidup” itu hanya dibatasi oleh pagar tipis, rendah, dan gampang ambruk, dengan kematian. Setiap tindakan medis di rumah sakit misalnya, selalu berjudi dengan probabilitas sekeping mata uang, dengan gambar malaikat maut pasti menghiasi slah satu sisinya.
Pengalaman pertama saya berkenalan secara tidak langsung dengan sang malaikat maut adalah ketika saya bertugas di runag penyakit dalam kronis. Saya harus menunggui dan emngevaluasi fungsi-fungsi vital seorang pasien pria muda usia pertengahan empat puluh dan sangat optimistik menyikapi kondisi sakitnya. Beliau banyak bercerita tentang anak kesayangannya yang kalau saya tidak salah masih berusia balita. Ketika menceritakan buah hatinya itu wajahnya berbinar-binar, dan tergambar jelas kebanggan serta kerinduan di sana. Beliau di rawat di rumah sakit karena mengalami gangguan faal hati. Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa hatinya mengalami sirosis, atau pengerasan jaringan hati. Keluhan utama yang membuatnya memeriksakan diri adalah muntah darah. Ketika saya tunggui masih tampak bekas-bekas darah segar di sela-sela giginya. Ketika itu ia baru saja menjalani terapi untuk mengurangi proses perdarahannya dengan metoda ligasi (pengikatan) dan pemasangan SB Tube ( pipa Sangsten Blackmore yang biasa digunakan untuk menekan pembuluh darah di daerah kerongkongan yang pecah karena adanya tekanan tinggi akibat dijadikan jalur alternatif darah yang seharusnya melalui hati, darah berpindah jalur karena hati mengeras/”membatu”). Entah mengapa, di luar dugaan kami semua, menjelang sore hari kondisi beliau semakin memburuk. Ketika malam telah menjemput mentari kekasihnya dan memandunya menuju peraduan, tingkat kesadaran pasien saya ini semakin menurun. Sesekali terdengar ia merintih dan memanggil-manggil nama istri serta anaknya. Kesadaran baru rupanya meruyak dalam pikiran beliau, bahwa waktu tak lagi tersedia tanpa batas dan boleh diarungi selamanya. Di detik-detik menjelang kesadarannya menurun ke tingkat yang tidak memungkinkannya untuk berkomunikasi lagi ia berujar lirih dalam bahasa Jawa. Bahasa ibu, bahasa kesehariannya. “Duh Gusti, kawulo nyuwun pangapuro !” “Ya Allah, hamba-Mu memohonkan pengampunan !” Mungkin beliau tidak hapal atau tidak bisa melafalkan istighfar, tetapi apa bedanya ? Ketaqwaan dan keimanan tampaknya menjadi sebuah “ rahasia” yang personal antara Allah dan hamba-Nya. Dua jam kemudian beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Saya bertugas untuk terus memantau proses itu detik demi detik. Saya terpaku setengah tidak percaya, bibir yang kini menyunggingkan senyum beku itu baru saja 2 jam yang lalu melafalkan pengampunan. Kini bibir itu dan si empunya bukan lagi siapa-siapa dan bukan lagi apa-apa ! Sungguh hidup ini hanyalah sebuah fatamorgana, bayangan semu bagi para pengembara yang sekedar ingin menumpang mampir. “Innamal hayatu dunya la ibbu walahwun.”

ANDALUSIA, SEBUAH MIMPI YANG TERTUNDA
Melalui perjalanan kereta api lintas 4 negara selama 1 hari 1 malam, akhirnya sampailah saya di semenanjung Iberia. Lembutnya belaian angin awal musim panas yang masih terasa sejuk menyapa saya di pelataran peron stasiun tua Madrid. Sistem perkereta apian di Spanyol tergolong agak tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain di Eropa. Perbedaan amat terasa ketika saya harus transfer dari kereta api super cepat TGV Perancis yang berangkat dari stasiun Gard du Lyon Paris ke sebuah kereta ekspres Spanyol di sebuah kota kecil perbatasan. Kereta Spanyol masih menggunakan mesin diesel sebagai penggerak utama ( mekanikal elektrik), sementara hampir semua kereta api di belahan Eropa barat telah menggunakan sistem elektrik, dengan kaitan pantograf yang mengambil listrik langsung dari kabelnya di sepanjang perjalanan. Perbedaan kultur juga langsung terasa ketika kereta telah memasuki wilayah Ibiza, suasana latin yang khas kaum nomaden, ramah dan hangat mewarnai percakapan di dalam kereta. Perbincangan berlangsung ramai sekali, diselingi gelak tawa yang menggelegar membahana. Barangkali sebagian diantaranya adalah keturunan para penakluk benua pimpinan Fernando Cortez yang telah memusnahkan orang-orang Indian Inca di kerajaan Techualpa. Sebagian dari orang-orang Indian itu terbantai dalam pertempuran yang tidak berimbang (pasukan Spanyol bersenjata api), dan sebagian lagi tewas karena infeksi virus yang dibawa dari daratan Eropa. Sejarah Spanyol memang amat menarik untuk disimak, sebgaian diantaranya sangat kelam dan mengerikan.
Langkah kaki pertama saya ayunkan untuk menyusuri plaza-plaza yang banyak terdapat di seantero kota Madrid. Air mancur-air mancur menjadi titik pusat dari berbagai plaza tua itu yang ramai dikunjungi orang yang sekedar berjemur untuk menikmati lautan sinar matahari di hari-hari pertama datangnya musim panas. Di beberapa sudut kota tampak sign board bergambarkan foto Raja Juan Carlos yang kegantengannya tak kalah dengan Julio Iglesias. Mungkin perlu saya jelaskan di sini bahwa yang dimaksud dengan plaza bukanlah pusat pertokoan, maklum di Indonesia konotasi plaza adalah sebuah pusat perbelanjaan. Plaza dalam artian sebenarnya adalah ruang terbuka di sebuah kota/kawasan yang biasanya terdiri dari pedestrian (tempat pejalan kaki), taman kota lengkap dengan bangku-bangkunya, dan kolam air mancur. Plaza-plaza semacam ini terdapat banyak sekali di kota-kota tua Spanyol seperti Sevilla, Barcelona, Mallorca, Bilbao, ataupun Malaga. Saya berhenti sejenak di salah satu café tenda dengan payung yang berwarna-warni. Saya memesan segelas Ice Lemon Coke yang segar dan sepiring penuh Calamari. Inilah makanan ringan musim panas Spanyol yang sangat lezat. Calamari sebenarnya adalah potongan cumi-cumi yang dibungkus tepung bumbu serta digoreng garing. Penganan ini biasa dimakan dengan sambal chili dan saus mayonaisse. Ada pula kedai yang menawarkan topping mozzarella. Perpaduan antara kerenyahan calamari yang gurih dengan Ice lemon Coke yang asam-asam segar memberikan sensasi Madrid yang sesungguhnya. Apalagi sembari bersantap di kedai tenda tersebut saya mendapat suguhan tontonan tarian Flamenco yang diiringi dengan petikan gitar akustik yang sangat dinamis. Beberapa turis asal Scandinavia berhidung merah tampak bertepuk-tepuk tangan dan bersuit-suit dengan riang, menyemangati penari Catalan yang cantik dan tampil anggun seperti bidadari.
Keesokan harinya saya berangkat menuju Toledo, sebuah kota kecil yang menyimpan berbagai peninggalan peradaban Islam. Seni arsitektur yang terlihat di bangunan-bangunan kota Toledo mencerminkan kecanggihan budaya Islam di abad pertengahan. Berbagai bangunan benteng menghiasi daerah-daerah perbatasan kota. Tepat di jantung kota terdapat sebuah bangunan besar berkubah bawang dengan sentuhan desain gotik dan mediterania yang kental. Bangunan itu saat ini difungsikan sebagai sebuah katedral, meskipun sebenarnya pada awal pendiriannya dimaksudkan untuk menjadi sebuah masjid. Banyak peninggalan kejayaan Islam yang tersebar di beberapa kota Spanyol beralih fungsi seiring dengan keruntuhan khilafah Islamiyah terakhir di benua Eropa. Aktifitas keislaman di kawasan ini telah lama redup semenjak secara sangat kejam ditindas dan ditumpas oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabel. Istana Merah Alhambra, Universitas Islam Cordoba, dan benteng-benteng pertahanan di Granada kini berdiri diam, membisu, menyimpan berjuta cerita tentang indahnya masa-masa kejayaan Islam di Andalusia. Penguasa Islam terakhir dari dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad runtuh akibat terlena dan larut dalam gelimang kenikmatan duniawi. Padahal sebelumnya mereka dengan semangat jihad yang tinggi berhasil membangun sebuah peradaban Islam yang mampu menjabarkan butir-butir Piagam Madinah secara konsisten. Pada masa itu di Cordoba dan Alhambra yang merupakan pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi beribu-ribu mahasiswa dari berbagai agama dan berbagai bangsa hidup bersama dengan rukun dan saling bahu-membahu dengan amat serasinya. Lautan buku dari berbagai penulis serta dari berbagai zaman dan dari hampir seluruh disiplin ilmu tertata dengan rapi di rak-rak perpustakaan Alhambra. Mungkin inilah perpustakaan terbesar kedua di dunia setelah perpustakaan legendaris Alexandria (Iskandariah). Toleransi dan kebersamaan dalam keberagaman itu mencerminkan sebuah gambaran tentang Islam yang sejuk dan menyejukkan. Kondisi serupa dapat diamati di Al-Kadisiyah atau yang lebih dikenal sebagai Yerusalem di era pemerintahan Sultan Salahuddin bin Ayyub. Umat beragama hidup rukun dan dijamin kebebasannya dalam menjalankan ritual ibdahnya masing-masing, umat Islam, Yahudi, Kristen Ortodok, dan Kristen Koptik berlalu-lalang dengan bebas dan saling bertegur sapa dengan hangat.
Ada satu sisi ringan yang menarik tentang perkembangan dan keruntuhan peradaban Muslim di Andalusia ini, yaitu sebuah fakta bahwa integritas ternyata dihargai hampir oleh semua bangsa. Kepahlawanan Tariq bin Ziyyat yang mampu menaklukkan semenanjung Iberia, terabadikan menjadi nama selat yang kini dikenal sebagai selat Gibraltar atau Selat Jabal Tariq. Selat ini memisahkan antara wilayah Maroko yang terletak di benua Afrika dan Spanyol yang terletak di benua Eropa. Kisah lain justru bercerita sebaliknya, Raja Ferdinand dan Ratu Isabel yang memerintahkan genosida dan pembunuhan massal terhadap kaum Muslimin Andalusia selama ini dikenal sebagai inisiator yang memberi perintah perjalanan keliling dunia Christoper Columbus yang pada akhirnya dianggap menemukan benua Amerika. Kenyataan dan fakta yang baru-baru saja terkuak dari sebuah penelitian kartografis (ilmu pemetaan), menunjukkan bahwa penjelajah pertama yang tiba di benua Amerika bukanlah Christoper Columbus maupun orang-orang Viking, melainkan Laksamana Cheng Ho alias Sam Po Kong seorang muslim sejati yang menjadi panglima armada laut dinasti Han. Subhanallah. Bukti otentiknya adalah peta perjalanan Laksamana Cheng Ho yang kini tersimpan rapi di Amerika Serikat.
Sebenarnya sebelum meninggalkan Spanyol saya ingin sekali menonton pertandingan sepak bola antara “Los Galacticos” Real Madrid versus Barcelona. Kapan lagi bisa menyaksikan bintang-bintang pesepakbola kelas dunia berlaga langsung di depan mata ? Tetapi ketetapan Allah berupa waktu jualah yang membatasi, mungkin lain kali saya bisa menonton sepak bola sembari menjelajahi daerah Basque atau Catalan yang terkenal sangat indah itu. Saat melamun di dalam kereta api yang akan menghantarkan saya kembali ke Amsterdam, terbayang-bayang di dalam benak saya suasana kota Alhambra yang damai dan dipenuhi aura kesejukan yang bersahabat. Sebenarnya itulah bagian dari mimpi-mimpi besar Islam yang bertujuan untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan, tapi sayang tampaknya mimpi indah itu harus tertunda sejenak ! Kapan ya mimpi itu bisa kita wujudkan lagi ?

ICIP-ICIP DI HOBEMMAPLAIN

Waktu di jam dinding kamar apartemenku menunjukkan jam 7.00 tepat. Waktunya sholat subuh ! Anda pasti bertanya, di belahan bumi mana ini kok sholat subuh bisa jam tujuh ? Ya ini hari pertama bulan Februari, di awal sebuah musim nan indah yang bernama spring season (musim semi) di negeri mungil yang bernama Belanda. Di benak kita bila berbicara soal Belanda adalah negeri yang telah menjajah kita selam tiga setengah abad. Dan terbayang secara karikaturis, meneer-meneer bule dengan rambut pirang dan setelan baju ala Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Koen yang berasal dari kota kecamatan kecil Hoorn. Omong-omong soal Gubernur Jenderal yang satu ini, awalnya Batavia atau yang kini dikenal sebagai Jakarta semula akan dinamainya dengan Neu Hoorn sesuai dengan desa asal tempat lahirnya. Perlahan dari jendela apartemen mungilku, mentari pagi mulai beranjak naik dan puluhan merpati milik tetangga bawahku mulai semarak beterbangan kian kemari. Seperti biasa tugasku pagi ini adalah membereskan apartemen, pergi berbelanja, dan tentu saja memasak ! Aku berkesempatan tinggal di Belanda ini selama kurang lebih 2 bulan dan bertugas sebagai juru masak bagi Ayahku yang sedang melanjutkan program pendidikannya.
Kota tempatku tinggal adalah Den Haag, ibukota pemerintahan negeri Belanda. Kasihan Den Haag ini, karena yang sering diduga orang sebagai ibu kota Belanda adalah Amsterdam. Biasanya orang asing mengenal Den haag karena di kota inilah markas dari Mahkamah Internasional yang mengadili masalah-masalah arbitrase antar negara. Lucunya di Belanda ini ada 2 ibu kota, yang satu lagi adalah ibu kota Kerajaan tempat Ratu Beatrix bertahta.
Kami tinggal di sebuah apartemen di jalan Zuiderparklan, sebuah kawasan hunian kelas menengah yang sungguh elok tertata rapi dengan deretan pohon willow berjajar indah dan kini mulai menghijau. Di pertengahan jalan Zuiderparklan membentang rel trem yang menghubungkan banyak titik di kota Den Haag. Hampir tepat di seberang apartemen kami terdapat toko daging halal yang dikelola seorang muslim keturunan Pakistan. Hampir tiap hari saya mampir ke sana dan memesan ½ kilo Calf. Calf adalah daging sapi muda yang kalau dimasak akan mengeluarkan “juice” sari daging sapi atau kaldu yang kental. Yang mengejutkan sekaligus menggembirakan adalah : diujung jalan tempat kami tinggal, tepatnya di pojok kiri dekat setopan ada sebuah toko mungil yang bernama, coba tebak…”Toko Soerabaja” ! Isinya Alhamdulillah sangat komplit dengan berbagai bahan makanan khas Indonesia, mulai dari beras,ikan asin, sampai dengan bumbu pecel semua ada di sini. Dari jendela apartemen hampir setiap pagi aku memperhatikan para kakek Belanda berjalan-jalan menyusuri trotoar yang super bersih dengan “menggandeng” anjing mereka.
Hari ini aku memiliki beberapa agenda pribadi selain berbelanja dan memasak. Aku akan berkeliling dengan term di seputaran Den Haag. Dengan trem no 16 aku berangkat dari halte dekat rumah mengambil arah ke Scaveningen, sebuah pantai laut utara yang “biasa-bisa saja”. Di tengah perjalan aku turun dan menuju Madurodam. Sebuah kota miniatur yang dikreasikan dengan sangat detail dan penuh dengan ornamen yang indah. Di miniatur bandara Schipol terlihat sebuah pesawat DC-10 Garuda Indonesian Airways, wah bangga juga rasanya. Dari Madurodam aku melanjutkan perjalanan menuju Keikenhoof untuk melihat tunas-tunas Tulip yang pertama bersemi. Aduh indah sekali keragaman bentuk dan warnanya. Coba bayangkan ada tulip berwarna hitam legam, ada pula yang berwarna dengan konsep gradasi, dan banyak sekali warna-warna lain yang sangat menyegarkan, Subhanallah ! Dari sana aku menuju Delft, sebuah kota kecil dengan tradisi perguruan tinggi yang melekat. Disana terdapat perguruan tinggi teknik tertua di Belanda. Kotanya sangat asri dengan kanal yang membelah kota dan beberapa jembatan angkat yang terawat rapi. Aku menunggu di bangku tepian kanal, sekedar ingin melihat diangkatnya jembatan ketika sebuah kapal lewat. Delft juga terkenal dengan home industri keramiknya yang disebut Delft Blue. Karena ornamen hiasnya didominasi warna biru. Dari Delft sebenarnya aku ingin mampir ke Volendam, sebuah kota pelabuhan kecil yang sarat dengan toko suvenir dan toko ikan. Orang Indonesia yang berkunjung ke Belanda tampaknya menjadikan Volendam sebagai situs “wajib” yang harus dikunjungi. Mengapa ? Karena di sana ada gerai foto dengan menganakan baju tradisional Belanda dan sepatu kelompen. Karena sudah terlalu sore aku segera kembali ke Den Haag Central Station dengan menggunakan trem no 1. Setelah sedikit berbelanja di F&D aku bergegas mengejar trem no 16 dan mampir dio pasar Hobemma. Pasar ini sungguh unik, dengan tebaran tenda berwarna-warni yang tertata dengan sangat indah. Sama sekali tidak ada bagian yang becek, apdahal ini adalah pasar tradisionalnya Den Haag. Lantai pasar tersusun dari batu jajaran genjang khas eropa di era medieval (pertengahan). Pasar terbuka diselingi dengan hembusan semilir angin musim semi yang masih sangat dingin untuk ukuran orang Indonesia, merupakan atraksi wisata yang khas lo ! Ajaibnya di pasar ini terdapat tukang tahu dan tukang tempe ! Di sela-sela kerumunan pengunjung pasar, Bapak Marsose dengan kuda yang jangkung terus berpatroli menjaga keamanan. Seragamnya seperti tentara yang akan berparade, lumayan bisa jadi tontonan gratis. Di beberapa sudut tukang ice cream Italiano (gelato dan sorbeto), menjajakan ice cream cita rasa Vanilla cappucino.ehm yummy ! Tetapi bagian terunik dari pasar ini adalah kios penjual ikan. Ada 2 jenis ikan yang paling digemari di Belanda, yaitu ikan Herring dan ikan Palling. Ikan Herring biasa dimakan mentah-mentah setelah dibubuhi cuka dan ikan Palling adalah sejenis belut laut (eel) yang sudah diasap. Orang Belanda memakan ikan Herring seperti dalam film kartun, ikan utuh ditelan dengan bagian ekor dipegang, lalu ikan ditarik dan ketika keluar mulut yang tersisa hanyalah sederet tulang dan duri ikan dengan kepala yang masih utuh. Aku sangat menyukai cita rasa ikan Palling, rasanya sangat lezat dengan brasa asap yang kental di bagian kulit luar dan lelehan lemak yang menyelubungi bagian dalam bawah kulitnya. Rasanya memelh di lidah begitu, dan ketika kita menggigit dagingnya rasa gurih seolah tak tertahankan menyeruak, menohok pusat selera kita. Ikan palling memang luar biasa lezat, subhanallah ! Bagi yang ingin praktis dan tidak sempat memasak sendiri, di Belanda banyak terdapat penjual kentang goreng dengan saus mayonaisse dan biasanya juga menjual ayam goreng. Nama kentang goreng mayonaisse ini lucu terdengarnya bagi orang Indonesia, namanya “Pattat”. Bisa berabe nih kalau salah eja atau salah sebut !
Sebenarnya masih banyak lagi obyek wisata yang dapat dilihat di seputaran Den Haag, dan dapat dicapai dengan hanya mempergunakan trem saja. Maklum negeri Belanda memang benar-benar mungil. Misalnya kita dapat mengunjungi museum Madame Tussaud atau lebih dikenal sebagai museum patung lilin yang memperagakan pose tokoh-tokoh dunia yang dibuat dari lilin, yang terdapat di kabarnya mirip sekali lo ! Lalu kita juga bisa mengunjungi industri berlian De Beer, ataupun sekedar berjalan-jalan ke Rotterdam, Groningen, Breda, Soes, dan banyak lagi kota-kota kecil yang mudah dicapai baik dengan mobil ataupun dengan kereta api.

Sepasang Angsa di Danau Zurich

Siang itu sekitar pukul 1.00 PM waktu setempat, pesawat DC-9 maskapai penerbangan KLM yang saya tumpangi dari bandara Schippol Amsterdam mendarat dengan mulus di Bandara International Zurich. Waktu tempuh penerbangan tidak begitu lama, hanya sekitar 1 jam 30 menit. Pukul 3 waktu setempat saya sudah check-in di sebuah hotel butik dengan desain Barok yang teramat indah, tepat di jantung kota Zurich. Detil ornamen penghias bangunannya amat rumit dan dipenuhi dengan ukiran bunga-bunga pegunungan dan sulur-sulur tangkainya merambat ke segala arah. Di beberapa titik tampak potongan ukiran kambing gunung, hewan nasional Swiss. Bangunan hotel ini berlantai 3 dan jumlah kamarnya hanya sekitar 40 buah saja. Saya mendapatkan sebuah kamar dengan jendela yang menghadap ke jalan di sisi depan hotel. Interior kamar yang saya tempati sangat kental dengan sentuhan seni era Renaissance. Tempat tidur besi kuningan berukir dilengkapi dengan bed cover dan selimut tebal berisi bulu angsa terlihat sangat nyaman terhampar di atas kasur yang terlihat amat tebal. Di dinding sebelah atas tempat tidur tergantung sebuah lukisan yang menggambarkan seorang pria Alpen berjenggot sedang meniup terompet tanduknya yang sangat panjang. Lukisan itu mengingatkan saya pada sebuah film dengan tokoh utama seorang anak gadis bernama “Heidi”. Tokoh di lukisan itu mirip kakek Heidi yang juga berjenggot amat lebat serta berbadan besar, khas orang Swiss. Perabotan dan mebel dalam kamar terbuat dari kayu ceddar dengan pelitur gelap dan mengesankan keanggunan serta eksotika kuno. Lapisan kertas dindingnya bermotif paisley dengan warna coklat muda, pemilihan warna ini menjadikan kamar tampak sedikit lebih terang. Kamar mandinya sangat unik dan dilengkapi dengan bathtub akhir abad 19, yang disangga 2 pasang kaki logam bersepuh kuningan. Keran-kerannya juga masih menggunakan keran logam abad 19. Ketika saya menyingkap tirai jendela dan membuka bilah daun jendelanya, maka terhampar di hadapan saya pemandangan sebuah jalan sempit berbatu quadrikel di tengah pertokoan lama kota Zurich. Bila tidak melihat gaya busana orang-orang yang lalu lalang di trotoar, tentu saya akan merasa bahwa saya telah terlempar ke era tahun 1800-an. Berderet-deret toko memanjang dengan etalase dan eksterior bangunan yang teramat mengagumkan. Ornamen bangunan yang terdapat di sepanjang jalan itu mencerminkan kehebatan karya seni abad ke-18. Tetapi yang lebih menakjubkan lagi adalah ketika mata saya menangkap keindahan petak-petak bunga yang beraneka warna. Deretan bunga lili, petunia, begonia, dan juga tulip tampak menggerumbul dari kotak-kotak tanam kayu berpelitur coklat yang menggantung di lantai 2 dan 3 setiap bangunan. Bahkan di bawah setiap etalase toko dan di tepian trotoar petak-petak bunga itu seolah-olah sambung-menyambung. Satu gerumbul bisa terdiri dari 4-5 warna bunga yang diatur berselang-seling dan sangat serasi, Subhanallah ! Indah sekali.
Alhamdulillah saya berkunjung di waktu yang tepat, awal musim semi. Meski udara masih cukup dingin akan tetapi bebungaan khas Eropa Tengah sudah mulai bermekaran di sana-sini. Tak terasa waktu beranjak dengan cepat, dan sudah tiba saatnya saya untuk menikmati santap malam di bistro hotel. Bistro itu sangat mungil dan hanya memiliki 3 meja yang menempel ke jendela. Dari jendela yang bagian atasnya dibiarkan terbuka dapat terlihat dan terasa suasana di trotoar pinggir jalan sana. Saya menghirup nafas dalam-dalam dan merasakan kesegaran khas musim semi mengalir deras berlomba-lomba memasuki rongga dada. Semula saya bingung harus memakan apa, karena Bistro ini kecil maka tidak tersedia sajian buffet, dimana kita bisa memilih sendiri dan makan sepuasnya. Sajian yang ada bersifat ala carte alias kita harus memilih dari daftar menu. Alhamdulillah, ternyata waiter yang melayani berasal dari Turki dan juga seorang Muslim. Ia meyakinkan saya bahwa chef di Bistro itupun seorang Turki dan Muslim juga. Sehingga makanannya dapat dijamin kehalalannya. Bahkan di Swiss telah diberlakukan peraturan untuk mensertifikasi produk halal bagi kaum Muslimin dan kosser bagi bangsa Yahudi. Atas rekomendasi waiter yang baik hati itu maka saya memesan masakan khas Swiss yang diadaptasi dari masakan asli Turki, yaitu Beef Stroganoff. Masakan ini terdiri dari daging sapi Sirloin yang digoreng dengan mentega asli dan diberi bumbu bawang putih, sedangkan sausnya dibuat dari kaldu kental, saus coklat, saus jamur Champignon dan potongan bawang bombay, serta taburan lada. Masakan daging sapi ini dimakan bersama nasi putih ( tak disangka bisa bertemu dengan nasi yang sudah lama saya rindukan !) yang dipanaskan dengan mentega cair dan garam. Amboi, lezat sekali rasanya. Sebagai penutup saya memakan cake buah dengan potongan-potongan strawberry,cherry, dan plum yang disiram dengan cream kepala susu dan ditaburi dengan irisan-irisan almond.
Sesudah menikmati makan malam yang sangat lezat, maka saya memutuskan untuk pergi tidur, beristirahat dan menyiapkan tenaga untuk perjalanan wisata di keesokan harinya. Pagi-pagi sekali setelah sarapan sepotong croissant keju dan secangkir kopi espresso, saya bergegas pergi menuju tepian danau Zurich. Sesampainya di sana sebuah pemandangan menakjubkan telah menanti. Danau Zurich dengan airnya yang hijau jernih terhampar luas dengan dikelilingi deretan rumah-rumah dan toko serta tentu saja bebungaan yang merona beraneka warna. Lalu ada deretan pepohonan yang nyaris tak berdaun tetapi sangat lebat berbubga, warnanya gradasi antara putih sampai merah muda. Saya tidak tahu nama pohon itu, tetapi mirip sekali dengan pohon Sakura. Di kejauhan tampak beberapa kapal kecil dan perahu layar hilir mudik mengarungi danau. Di sepanjang danau terdapat trotoar dengan pagar besi yang sangat apik dan bersih. Pada jarak beberapa puluh meter disediakan bangku-bangku kayu untuk duduk beristirahat dan menikmati pesona keindahan danau. Saya duduk di salah satu bangku yang terletak dekat dengan gerumbul pohon berbunga putih serta petak-petak bunga Begonia. Pandangan saya lepaskan sejauh-jauhnya, dan tampak oleh mata saya jajaran pegunungan Alpen yang puncaknya memutih karena salju di seberang sana. Pegunungan itu panjang sekali. Bahkan menurut literatur yang pernah saya baca, pegunungan Alpen ini adalah salah satu bagian dari sabuk pegunungan yang membentang mulai dari pegunungan Pyrenees di Perancis sampai dengan Pegunungan Himalaya di Asia sana. Saking panjang dan tingginya pegunungan Alpen ini hingga untuk transportasi keluar dari Swiss melalui jalan darat, di salah satu jalurnya dibangun sebuah terowongan menembus gunung yang terpanjang di dunia, yaitu terowongan St. Gotthard, dengan panjang mencapai 16 km. Melihat dari keteraturan rumah-rumah dan keindahan serta kebersihan kota yang sangat luar biasa, maka tak heran pula bila penduduk Swiss dikenal sebagai orang eropa yang paling presisi, semuanya harus serba tepat. Terbukti dari industri mereka yang paling terkemuka, yaitu pembuatan jam tangan dan jasa perbankan. Dua industri yang sangat memerlukan ketelitian. Jumlah penduduk Swiss sekitar 6,9 juta orang dengan luas wilayah berkisar sekitar 41.290 km2, bahasa resmi yang dipergunakan adalah bahasa Jerman, Perancis, dan Italia. Usia harapan hidup penduduknya berbanding lurus dengan tingkat kedisiplinan dan kebersihannya, yaitu dapat mencapai 78 tahun. Ibukota negaranya adalah Bern, meskipun kota yang terkenal dan banyak mendapat sorotan dunia adalah Geneva dan Zurich. Hal ini dapat terjadi karena di kedua kota tersebutlah beberapa badan PBB berkedudukan. Ada satu hal unik yang bisa kita temukan di Swiss ini, di dalam wilayah negaranya terdapat sebuah negara kecil yang bernama Liechtenstein. Negara kecil ini terletak tepat di tengah-tengah jantung wilayah Swiss. Memang di Eropa banyak negara-negara kecil yang letaknya “menempel” di negara yang lebih besar, sebagai contoh adalah Luxemburg dan Monaco.
Ketika hari mulai beranjak siang, sekawanan angsa yang berpasang-pasangan tampak berenang mendekati tepian tempat saya berada. Sepasang kakek-nenek lanjut usia terlihat melemparkan remah-remah sisa roti mereka. Pandangan saya tertumbuk pada sepasang angsa yang berbulu indah dan anggun luar biasa. Sekujur tubuhnya berbulu putih, akan tetapi di daerah mukanya ada lingkaran bulu berwarna hitam pekat dan tepat di sekeliling mata tumbuh bulu berwarna merah darah. Di kepalanya tampak jambul-jambul halus yang bergerak gemulai tertiup angin. Sepasang angsa itu berenang melingkar dan membentuk angka delapan, luwes sekali bak sepasang balerina sejati. Saya jadi teringat sepasang angsa dari jenis yang sama, hanya mereka tinggal di sebuah kolam di taman nan indah di halaman rumah Josephine dan Napoleon Bonaparte di pinggiran kota Paris. Kemesraan yang mereka tunjukkan sungguh menggugah kerinduan dan menghangatkan jiwa-jiwa yang terbekukan, alirannya seperti desiran lembut sungai Rhine, Rhone, dan Danube yang mencair dari gletser di puncak Alpen nun di sana. Terima kasih ya Allah atas semua nikmat keindahan-Mu ini ya Rabb !

Adik Penulis dan Istrinya di depan Patung Merlion (foto oleh Hani Machali)

BELAJAR DI SINGAPORE SCIENCE CENTER

Singapura adalah negeri mungil yang terletak sepelemparan batu dari Pulau Batam atau sepenggalah dari pulau Sumatera. Tetapi jarak yang sangat dekat itu hanya berlaku secara geografis saja, bila kita berbicara masalah pencapaian sebuah negeri maka kesenjangan jarak yang terjadi menjadi begitu jauh. Negeri singa ini sudah semenjak beberapa dekade yang lalu menjadi sebuah negeri Asia yang mampu bersaing di percaturan global. Sebuah negeri yang bahkan hampir tak memiliki sumber daya alam apapun bisa sedemikian hebat mengelola dan mengembangkan aset satu-satunya, yaitu sumber daya manusia. Ya, Singapura tumbuh dan berkembang pesat menjadi sebuah negeri penyedia jasa (service provider). Kemampuan itu ditunjukkan melalui pembangunan fasilitas-fasilitas bisnis dan perdagangan yang berinfrastruktur tangguh, lalu dibangun pula fasilitas transportasi yang meungkinkan lalu-lintas freight forwarder yang sangat vital bagi arus perdagangan dunia. Bandara terlengkap dan tercanggih di dunia selalu diperbaharui (up-dating) setiap kurun waktu tertentu untuk menjaga kualitas layanannya. Bila dahulu kita mengenal pelabuhan udara Singapura adalah Paya Lebar maka kini kita mengenal Changie International Airport. Sekitar 10 tahun yang lalu Changie adalah bandara terbesar, tersibuk, dan tercanggih di Asia Tenggara. Hampir semua maskapai penerbangan dunia yang menjelajahi rute-rute antar benua (Eropa-Asia-Australia-Amerika) singgah dan melakukan stop over di sini. Ground handling yang baik, jasa pengisian bahan bakar dan airport fee yang bersaing, menjadikan Changie diminati untuk menjadi titik perhentian dan titik tujuan hampir seluruh maskapai penerbangan di dunia. Bila beberapa tahun terakhir ini bandara-bandara di bandar-bandar raya besar kawasan Asia mulai bangkit dan membenahi diri, seperti Kuala Lumpur International Airport (KLIA) ataupun Chek Lap Kok Hongkong, maka Changie senantiasa melakukan perubahan yang menempatkannya selalu menjadi bandara terdepan dalam kualiats pelayanan. Singapura tidak hanya memiliki bandara yang bagus saja melainkan memiliki pelabuhan laut yang tak kalah hebatnya. Hampir semua kontainer ekspor dari Asia Tenggara transit atau diberangkatkan dari pelabuhan samudera Singapura. Area bisnis jangan ditanya, untuk industri manufaktur yang memerlukan kawasan terpadu untuk perakitan disediakan kawasan berikat Jurong dan Geylang. Sementara itu untuk jasa keuangan, perbankan, dan trading siapa yang tak kenal Singapore Bussiness Center di Singapore Bussiness Park, atau siapa yang tek kenal Orchard Road, pusat perbelanjaan terpanjang di Asia. Jasa kesehatan dan gaya hidup juga menjadi layanan bisnis yang mengundang banyak devisa bagi Singapura. Hampir semua lembaga riset dan institusi kesehatan Singapura hidup dari devisa yang didatngkan oleh warga negara-negara jiran. Untuk menunjang peran sentralnya sebagai negara jasa maka sektor pendidikan menjadi fokus pembangunan utama negeri yang pernah dipimpin oleh Lee Kwan Yu ini.
Senja itu tepat pada pukul 16.34 Airbus A-340 yang saya dan keluarga tumpangi dari Bangkok mendarat dengan mulus di Changie. Tak lama urusan imigrasid dan bagasipun beres, sangat efisien. Dengan menumpang taksi yang nyaman dan berargo saya menuju sebuah hotel di kawasan Bugis Street, dekat Masjid Sultan. Keesokan harinya agenda saya dan keluarga adalah mengunjungi Singapore Science Center (SSC ) dan menonton pertunjukkan Sentosa Fountain Miracles di Pulau Sentosa. Sebagai sebuah negara yang mengedepankan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, maka penguasaan teknologi menajdi hal yang mendapat prioritas tinggi. Buktinya adalah Singapore Science Center itu. Bekerjasama dengan ebberapa perguruan tinggi terkemuka di Singapura, seperti Nanyang dan National University, SSC menyediakan berbagai wahana sains interaktif sangat menarik dan merangsang minat ilmiah. Selepas memasuki gerbang kedatangan saya kebingungan untuk memutuskan wahana apa yang harus saya lihat terlebih dahulu, ada prototipe pesawat sumbangan Singapore Airlines, ada prototipe tubuh manusia dengan skala yang diperbesar (berikut penjelasan fungsi-fungsinya), ada galeri IT dan multimedia yang sarat dengan info pembuatan piranti keras dan lunak termasuk game. Lalu yang tak kalah menariknya ada laboratorium Bioteknologi yang menawarkan pengalaman untuk mengekstraksi DNA bagi para pengunjung. Dan pemurnian DNA di sini bukan demo ataupun simulasi melainkan praktek yang sebenarnya dengan dibimbing oleh para mahasiswa dari NUS. Di sayap lain dari SSC kita dapat menemukan bioskop kubah seperti teater Imax 3 dimensi yang ada di Keong Ams TMII tetapi film yang disajikan di sini sedikit berbeda. Film-film yang menjadi pilihan sajian terdiri dari film-film sejarah kebudayaan manusia seperti film tentang India dan Jazirah Timur Tengah. Masih di gedung teater yang sama terdapat sebuah cockpit simulator seperti yang biasa dipergunakan maskapai penerbangan untuk melatih para penerbangnya. Fasilitas flight simulator di SSC ini bebas dipergunakan oleh para pengunjung yang ingin merasakan menjadi pilot.
Lelah berkeliling di SSC maka saya dan keluarga bersantap siang di seputaran masjid Sultan. Uniknya rumah-rumah makan yang berjualan di sekitar masjid Sultan ini menyajikan masakan Minang ! Bahkan nama-namanyapun sangat akrab di telinga kita, seperti Sederhana, Takanang Juo, Kapau Jaya dan sebagainya. Memang benar lelucon yang mengatakan bahwa hal pertama yang dijumpai Neil Armstrong ketika mendarat di bulan adalah sebuah warung Padang. Menjelang sore saya dan keluarga menaiki bus menuju pulau Sentosa. Tujuan kunjungan kami ke pulau Sentosa tak lain dan tak bukan adalah untuk menikmati pertunjukkan Air Mancur Ajaib yang mempesona dan hampir menajdi legenda Asia itu. Meskipun sore itu hujan rintik-rintik dan awan tebal bergelayut memayungi langit Singapura, ribuan orang tetap berduyun-duyn memasuki dan memenuhi arena pertunjukkan yang dibangun mirip colloseum itu. Tak lama kemudian tepat ketika matahari telah tergelincir ke peraduannya, dimulailah pertunjukkan spektakuler itu. Perpaduan yang luar biasa antara pencahayaan (lighting), laser, animasi multimedia 3 dimensi, teknologi virtual reality, teknologi hidrolik air mancur, dan script scenario drama yang kuat, serta musik serta pertunjukkan kembang api yang dahsyat memang sangat layak untuk diacungi jempol. Tak terasa semua pengunjung terhanyut dalam kisah tentang seorang putri legenda pulau Sentosa yang mendongeng ditemani oleh Kiki monyetnya yang lucu. Pertunjukkan tersebut selain sarat dengan teknologi sarat pula dengan muatan edukatif. Pengunjung dengan tanpa merasa digurui diajak berpetualang dan mengenali berbagai jenis hewan-hewan dan spesies laut yang terdapat di sekitar pulau Sentosa. Ubur-ubur dan cumi-cumi yang lucu seolah-olah berlompatan keluar dari dasar samudera dan menyapa penonton secara langsung, sungguh efek virtual yang luar biasa.Tak lupa pesan moral tentang kebajikan dan kejujuranpun mewarnai alur drama pertunjukkan tersebut.
Tak terasa malam mulai menyergap dan jarum jampun telah bergeser di sekitar pukul 10. Jalanan mulai lengang dan saya bersama keluarga menelusuri Little India dengan santai untuk mencari pedagang nasi Briyani langganan kami. Perjalanan satu hari kami di Singapura ini seolah mengubah paradigma di mata sebagian besar masyarakat Indonesia, bahwa jalan-jalan ke Singapura itu identik dengan belanja ! Padahal Singapura juga menawarkan paket-paket wisata yang mencerdaskan dan memberi manfaat keilmuan bagi kita semua.

MAKAN “LEMAK” DI PLIMBANG

Pada suatu pagi yang berawan, berangin, dan disertai terpaan butir-butir halus rintik hujan yang membuncah, kami sekeluarga meningglkan Bandara Sukarno-Hatta menuju Palembang dengan menggunkan pesawat MD-82 milik salah satu maskapai penerbangan swasta nasional. Perjalanan ke Sumatera kali ini adalah sebuah perjalanan “pulang kampung” untuk menengok tanah kelahiran Ayah saya. Bekal utama yang saya bawa adalah 3 buah buku yang sedang saya baca, yaitu: Menyusuri Lorong-Lorong Dunia, sebuah kisash sastra perjalanan yang ditulis oleh Sigit Susanto, Hadiah Terindah, sebuah novel grafis yang Subhanallah, luar biasa indahnya, yang dilukis oleh Chun Dong Hwa seorang komikus Korea Selatan paling berbakat, serta sebuah buku dari trilogi Phyllis Reynold, Penyelamatan dari seri Shilloh. 3 buah buku yang sangat inspiratif dan sangat renyah untuk dibaca dalam perjalanan wisata. Tetapi ternyata penerbangan ke Palembang hanya berlangsung dalam tempo yang sangat singkat, kurang lebih sekitar 45 menit kami telah mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II di pinggiran kota Palembang. Bandara ini baru mulai dioperasikan pada bulan September 2005, jadi semua fasilitas yang tersedia masih tampak baru dan terawat dengan baik. Bahkan penampilan dan utilitas dari bandara ini secara sekilas sudah mendekati fasilitas standard yang disediakan oleh berbagai bandara internasional di mancanegara. Bahkan salah seorang anak saya sempat berkomentar bahwa bandara Sultan Mahmud Badaruddin II ini mirip dengan bandara Kemal Attaturk di Istanbul Turki. Tak lama kemudian kamipun meluncur ke tengah kota untuk menginap di sebuah hotel resort yang telah kami pesan. Subhanallah, saya sempat takjub juga melihat hotel resort yang akan kami inapi, karena desainnya sangat unik dan memiliki konsep arsitektur tropis yang luar biasa indah. Sebagian besar bangunan terbuat dari batu kali dan disusun menyerupai kubus-kubus yang berjajar simetris. Interior di bagian front office dan lobby dipenuhi dengan ornamen berbahan dasar kayu yang kental dengan sentuhan rancangan post modern yang mengedepankan kesederhanaan corak dan ketajaman serta ketegasan profil. Warna-warna yang menajdi pilihanpun sangat dinamis dan benar-banar di luar dugaan. Di bagian belakang tampak bangunan kubus tadi tidak lagi berjajar secara simetris melainkan dibangun melingkar (sirkular) mengelilingi area kolam renang yang diselingi taman tropis yang indah. Di bagian bawah tampak teras kayu menjorok ke atas sebuah kolam ikan dangkal yang di dalamnya berseliweran berbagai varietas cyprinus carpio alias keluarga ikan Mas yang berwarna-warni dalam berbagai motif dan coraknya. Setelah rehat sejenak dan beristirahat, maka saya dan beberapa pria sekeluarga pergi menuju masjid terdekat untuk menunauikan sholat Jumat, maklum hari itu jatuh apda hari Jumat. Masjid di Palembang, Alhamdulillah, sangat ramai di saat Jumatan. Padahal masjid yang kami datangi hanyalah sebuah masjid kecil di tepi jalan yang juga tidak ramai. Sepulang sholat Jumat sebagin dari kami mampir di sebuah warug Mpek-Mpek, penganan khas Palembang. Kami yang banyak bermukim dan berdomisili di Jawa agak bingung ketika harus menentukan pesanan, kami pikir kami harus memilih dari daftar menu sebagaimana lazimnya bila kita memasuki sebuah rumah makan. Ternyata di warung Mpek-Mpek di Palembang, seluruh sajian yang tersedia di warung tersebut akan dihidangkan di hadapan kita sebagaimana yang biasa dilakukan di rumah makan Minang. Maklum, mungkin karena masih sama-sama Sumatera ya ? Beraneka jenis Mpek-Mpek terhidang di pinggan-pinggan yanga da di hadapan kami, ada Mpek-Mpek Kulit Ikan, lenggang, Kapal Selam, Lenjer, dan Adaan. Ada yang digoreng dan ada pula yang direbus, cukanyapun ada yang manis dan ada yang asin pedas. Siang dan sore hari itu selepas kami makan Mpek-Mpek di warung depan hotel saya berenang dan membaca buku di taman seputaran hotel. Menjelang waktu makan malam Ayah mengajak kami sekeluarga keluar untuk mencari makan malam. Segera saja kami menuju daerah jalan Dempo, sebuah jalan yang rupanya merupakan pusat wisata kuliner kota Palembang. Berbagai warungd an rumah makan berdiri di sepanjang jalan tersebut. Kami singgah di sebuah rumah makan yang direkomendasikan oleh salah seorang paman yang sudah tidak diragukan lagi selera kulinernya. Alhamdulillah, ternyata rumah makan pilihan paman ini ternyata memang teramat lezat sajian hidangannya. Mpek-mpek di sini terasa jauh lebih gurih dan renyah bila dibandingkan dengan yang dijajakan di tempat lain. Begitu pula bumbu cukanya, segar dan tidak terlalu asam, pokoknya paslah di lidah. Saya memesan seekor ketam rawa besar yang tidak pernah saya jumpai di Jawa. Subhanallah, ternyata daging ketam rawa raksasa itu lezat sekali. Ketam itu dibumbui asam, manis, pedas, sehingga terasa amat menyegarkan di mulut. Seusai makan malam yang sangat nikmat itu kamipun meneruskan perjalanan city tour kami. Kami mengunjungi jembatan Ampera yang legendaris itu, sebuah karya anak bangsa yang monumental dan menunjukkan bahwa para insinyur Indonesia sebanarnya tidak kalah kualitasnya dengan para insinyur mancanegara. Dari sana kamipun beranjak untuk mengunjungi dan melihat-lihat daerah ater front citynya Palembang yang terdapat di daerah Benteng Kuto Besak, yaitu sebuah benteng peninggalan era kolonial yang menghadap lansung ke tepian sungai Musi. Indah sekali panorama sungai di daerah ini, kerlipan beraneka lampu disepanjang sungai menambah kemolekan sungai Musi di malam hari. Rute selanjutnya adalah Masjid Agung Palembang, sebuah masjid yang sangat anggun dan mengedepankan desain Melayu. Konstruksi atap jajaran genjang khas Melayu tampak elegan ditopang oleh pilar-pilar kokoh yang tampak terang benderang dimalam hari akrena disoroti beberapa lampu berkekuatan ribuan watt. Sungguh sebuah konsep kota yang perlu diteladani, dengan masjid menjadi sentral seluruh aktifitas kehidupannya.
Keesokan harinya kami menghabiskan waktu sepagian untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar kami, maklum inilah kampung halaman Ayah saya, tak pelak berbagai paman, Uwak, dan bibi, serta Nenek dan Kakek wajib kami masukkan dalam daftar silaturahmi. Seusai bersilaturahmi maka kamipun melanjutkan program wisata kuliner kami. Adapun pilihan kami kali ini adalah sebuah warung makan Musi Rawas yang terletak di daerah Pakjo, tepatnya di jalan Angkatan 45. Warung kecil ini pada saat jam-jam makan siang ramainya tidak ketulungan. Ketika kami tiba Alhamdulillah, kami mendapati ada 2 meja yang kosong. Segera saja di hadapan kami dihamparkan berpiring-piring sajian ala Plaembang dan Musi rawas. Udang sungai besar goreng, ikan Kelik, sambal Cungkediro, sambal Mangga, dan sambal Belacan/Bekasang secara bersamaan mengepulkan aroma yang sangat menggiurkan. Ternyata itu belum semua, tak lama kemudian dihidangkan pula Pindang Tulang dan Pindang Udang serta Pindang Patin. Pindang ini rasanya amat menggoda, pedas, segar, dan asambersatu dalam sebuah harmoni yang selaras. Udang sungai yang besar dipindang dalam bumbu yang mirip-mirip Tom Yanm Kungnya Thailand, sedangkan Tulang Iga Sapi dipindang dalam bumbu-bumbu yang mirip dengan Asem-Asem dari daerah pesisir Pantai Utara Jawa. Sedangkan Pindang Patin mirip dengan kuah asam yang banyak dipergunakan dalam pelbagai jenis masakan Melayu. Alhamdulillah, makanan di warung itu lezat sekali, sungguh suartu warisan budaya kuliner yang tak berhingga nilainya. Saya berharap bila semakin banyak orang yang dapat menikmatinya maka semakin banyak pula orang yang akan dapat mensyukuri nikmat Allah berupa tebaran potensi kreatifitas yang nyaris tak berbatas. Amin !
Tak terasa 3 hari perjalanan kami di tanah seberang, Swarnadwipa atau tanah emas, usai sudah. Dengan menumpang sebuah Boeing 737-300 kamipun tiba kembali di Jakarta. Dari ketiga buah buku yang saya bawa hanya 1 buku yang berhasil saya tamatkan membacanya, begitu banyak hal menarik yang “wajib” dilihat dan dicicipi di Plimbang. Ayo jangan mau ketinggalan, mari kita icip-icip makanan “lemak di Plimbang ! Lho kok “lemak” sih, nanti kadar kolesterol naik dong ? Nah, ternyata “lemak” dalam dialek melayu Plimbang memiliki arti sebagai “lezat” atau uenaak tenan !

MENYEBERANGI GARIS WALLACEA

Pagi itu sekitar pukul 08.00 BTWI (bagian tengah wilayah Indonesia) saya tiba di kota kecamatan Doloduo. Sebuah kota kecamatan yang terletak di tengah-tengah kabupaten Bolaang Mongondow. Matahari yang mulai naik dari peraduannya terasa hangat dan mengingatkan saya akan datangnya siang tropik yang terik. Dengan menumpangi jip berpenggerak 4 roda saya dan rombongan menyeberangi sungai Kosinggolan. Sebuah sungai yang di batang alirnya telah dibendung untuk kebutuhan air irigasi persawahan di dataran rendah Doloduo. Perlahan bentang alam yang kami lalui berangsur-angsur berubah, dari semula yang sering dijumpai adalah lahan kebun dan persawahan gogo rancah, kini mulai tampak rerimbunan hutan hujan tropis yang semakin jauh kami berkendara semakin lebat dan merapat. Kisah ini terjadi pada medio 80an di saat hutan-hutan di Sulawesi masihlah lestari, indah, dan berperan penting dalam hal konservasi. Saya bergabung dalam sebuah tim survey untuk pembuatan sebuah bendung irigasi. Maklum Ayah saya adalah seorang Insinyur sipil yang bertugas di Departemen Pekerjaan Umum dan spesialisasinya adalah pembangunan jaringan irigasi. Pada sebuah kesempatan liburan sekolah diajaklah saya untuk bertualang di alam bebas, berekreasi sambil berpetualang dan belajar dari alam. Tujuan perjalanan kami adalah hulu sungai Toraut. Sebuah sungai yang alirannya membelah sebagian wilayah taman Nasional Dumoga-Bone. Untuk sampai ke batang sungai ini kami harus menempuh perjalanan off-road yang amat berat. Rawa-rawa berlumpur sebatas pinggang harus dilalui oleh kendaraan kami. Beruntung, Ayah saya adalah seorang pengemudi medan berat yang handal, beliau sangat terlatih karena dalam bidang pekerjaannya menjelajahi medan yang nyaris tak mungkin didatangi orang adalah urusan sehari-hari, rutin. Deru mesin mobil dan guncangan-guncangan hebat membuat jarak yang berkisar hanya sekitar 8 Km terasa sangat panjang dan melelahkan. Walaupun demikian saya merasa teramat senang, kapan lagi punya pengalaman off-road seperti ini. Tetapi ada satu etape dalam rute off-road kami yang benar-benar menciutkan nyali, yaitu ketika jip Land Rover kami harus merayap miring di sebuah punggung bukit bertanah liat licin (1 hari sebelum kami tiba hujan turun cukup deras), dan jurang dalam menganga di samping kiri kami. Jarak dari punggung bukit ke dasar jurang mungkin sekitar 200 meteran, sementara jarak lintasan “maut” yang harus kami tempuh dengan menyusuri punggung bukit ini sekitar 1 Km. Jantung saya berdegup amat kencang, malah dalam benak saya terbayang kalau detak jantung saya sampai dapat terlihat di permukaan baju yang saya kenakan ! Keringat dingin meleleh deras tak terbendung, tanpa saya sadari tangan saya mencengkeram kuat ujung jaket Ayah yang sedang sibuk mengemudi. Tapi hati saya agak tenang, ketika melihat Ayah ternyata santai-santai saja, bahkan beliau sempat-sempatnya tersenyum seolah menertawakan ketakutan saya. Tak lama kemudian kami tiba di sebuah batang sungai berarus deras dengan air yang teramat jernih. Banyak sekali bebatuan besar dan kecil terserak di tengah badan sungai tersebut. Inilah sungai Toraut, sebuah sungai yang kelak di belakang hari banyak dirusak ekosistemnya oleh aktivitas penambangan liar, maklum di sepanjang batang sungai ini ternyata kemudian diketahui banyak memiliki kandungan emas. Karena penat dan banyak berkeringat selama perjalanan yang mendebarkan itu, maka saya tak tahan lagi untuk tidak men’cemplung’ ke dalam sungai yang berair sangat jernih itu. Ketika saya melompat ke dalam air, segera saja terasa oleh saya kesejukan dan kesegaran airnya yang sangat alamiah. Arusnya yang deras seolah memijat-mijat punggung saya yang lelah. Sayapun keluar sejenak dari air dan bergegas mengambil snorkel dari bagian belakang jip Land Rover. Subhanllah, ketika saya mulai menyelam maka pemandangan bawah air yang eksotispun terhampar. Beberapa ekor ikan berukuran besar dengan alat penghisap yang berada di bagian dadanya, tampak menempel di dinding bebatuan. Saking jinaknya, maklum belum pernah melihat orang mungkin, ketika saya dekati dan raba-raba dengan ujung jemari mereka diam saja. Ikan batu ini banyak sekali terdapat di sungai Toraut. Jenis ikan lain yang juga segera tampak adalah keluarga ikan yang secara morfologis mirip dengan Tawes. Sisiknya yang bening keperakan dan perutnya yang agak membuncit serta badannya yang membentuk belah ketupat menyebabkan saya mengira itu seekor Tawes. Tak lama kemudian muncul seekor belut raksasa yangoleh penduduk setempat dinamai Sogili. Bentuknya menyerupai ikan Sidat ataupun Gymnotorax javanicus, kerabat belut yang tinggal di laut. Ukurannya besar sekali, hampir mencapai 1 meter 20 senti. Ketika ia melenggang keluar dari balik sebatang pohon kayu yang rebah ke tengah aliran sungai, saya terkejut setengah mati, saya kira ular Phyton yang datang menghampiri. Tetapi jangan salah, belut ini juga tidak sepenuhnya jinak, ia adalah omnivora, alias pemakan segalanya. Belakangan saya tahu kalau citarasa dagingnya enak dan gurih sekali. Lalu sayapun melihat beberapa ekor udang sungai dari spesies yang berbeda-beda, ada yang memiliki capit berwarna hijau kebiruan, ada yang tanpa capit, dan ada pula yang kecil-kecil transparan. Puas bermain air dan mengamati fauna tersestrialnya maka saya segera mengeringkan tubuh dan memakai pakaian kembali. Salah seorang anggota rombongan memepringatkan saya untuk tetap memakai topi. Saya bingung dan bertanya keapda Ayah mengapa harus memakai topi ? Ayah menerangkan bawha di hutan-hutan tropis seperti tempat kami berada saat ini banyak sekali spesies ular yang siap mematuk dan memangsa dari kelebatan rerimbunan dedaunan tepat diatas kepala kita. Sambil bergidik ngeri langsung saja saya pakai topi yang disodorkan tanpa banyak protes lagi. Sekelebatan, diantara gerumbul dedaunan pohon meranti dan ebony yang sangat tinggi saya melihat bayangan makhluk raksasa yang terbang berloncatan dari satu dahan ke dahan lainnya. Tak lama terdengar kuakan sendu yang menggetarkan. Makhluk apakah itu ? Apakah burung purba ? Ternyata itu adalah profil dari burung Enggang endemik Dumoga, atau oleh penduduk setempat disebut Rangko-Rangko. Ada pula segerombolan burung balam berwarna hijau terang berpadu biru dan hijau pupus di daerah dada, keluarga Columba ini dipanggil oleh penduduk setempat sebagai burung Kum-Kum. Dagingnya enak sekali katanya. Tiba-tiba saya terkejut ketika salah seorang anggota rombongan melompat dan berlari menuju sebatang pohon yang tampaknya baru saja tumbang diterpa angin, mungkin akibat hujan deras kemarin pikir saya. Ia merogoh-rogohkan tangnnya ke sebuah celah di batang pohon yang berdiameter sekitar 3 pelukan orang dewasa tersebut. Tak lama kemudian ia mengangsurkan tangannya yang terkepal kepada saya, di dekat wajah saya tiba-tiba ia membuka genggamannya. Seekor makhluk mungil berbulu hitam putih kecoklatan memandang wajah saya dengan malas. Dalam hati saya bertanya-tanya, apakah ini bayi kuskus ? Ternyata bukan, hewan ini adalah rodentia terlangka di dunia, berukuran terkecil, serta hanya terdapat di hutan Dumoga-Bone, namanya Tarsius Tangkoko. Belum hilang rasa terkejut saya melihat hewan kecil pemalas itu, tiba-tiba terdengar suara bergemerisik ribut di bagian depan rombongan. Lalu sebuah gerumbul perdu seolah-olah tersibak dan sayapun dapat melihat serombongan babi hutan pendek dengan taring atau tanduk yang aneh berlarian dalam barisan yang lurus. “Itu bukan babi hutan”, kata salah seorang anggota rombongan, “itu adalah Babi Rusa.” Satu lagi hewan endemik Sulawesi Utara, satu-satunya spesies yang ada di seluruh dunia. Hanya ada di sini, di hutan-hutan Dumoga. Tak berapa lama kejutan berikutnya datang menyapa, seekor hewan berbentuk seperti sapi tetapi berukuran mungil mirip kancil tengah menatap kami dengan heran. Di mulutnya masih terlihat potongan rumput yang baru dicabiknya dari dataran di sela-sela pepohonan berkayu keras. “Hewan apalagi ini “ pikir saya. “Inilah yang namanya Anoa.” Lagi-lagi Pak Muntu, anggota rombongan yang paling berpengalaman menjelaskan pada saya. Alhamdulillahirobbila alamin, dalam satu hari penjelajahan saja saya sudah menjumpai beraneka spesies yang sangat langka dan beraneka pula rupanya. Kelak di kemudian hari ketika saya mulai meminati ilmu Biologi, saya baru tersadar bahwa petualangan di hutan tropis Dumoga-Bone ketika itu adalah sebuah ekspedisi yang menyeberangi Garis Wallacea. Sebuah garis imajiner yang digagas oleh Sir Alfred Wallace, seorang peneliti biologi Inggris, untuk menggambarkan perbedaan spesies berdasarkan perkembangan pembentukan lempeng benua. Subhanallah, sekelumit kisah perjalanan liburan di masa kecil ini sampai saat ini masih menjadi inspirasi bagi saya untuk terus mempelajari nikmat Allah SWT berupa keanekaragaman hayati dan perannya masing-masing di dalam kehidupan.











Kembara Kuliner dan Lautan Hikmahnya














Sebuah Mukadimah: Makan adalah ibadah, Kelezatannya yang Tercecap adalah Zikir !
“Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu (QS Al-Baqarah ayat 57),
”Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.” (QS Al-An’am ayat 142).

Manajemen makan merupakan suatu “seni” ( art) pengelolaan diri yang dinamis sebagaimana “seni” pemenuhan kebutuhan primer manusia lainnya. Proses ini selalu terjadi secara berulang di setiap hari kehidupan seorang manusia. Peristiwa makan sendiri merupakan suatu tahapan akhir dari serangkaian kegiatan yang mendahuluinya. Secara umum ritual ini diawali oleh adanya rasa lapar yang merupakan sinyal fisiologis adanya kesenjangan antara kegiatan metabolisme dan asupan bahan bakunya. Rasa lapar sebagai suatu sinyal, melibatkan banyak unsur biologis di dalam sistem tubuh dengan mekanisme yang sangat rumit. Sinyal awal berasal dari impuls molekuler yang secara kumulatif akan memberikan pertanda/gejala awal, misal hipoglikemi atau menurunnya kadar gula di dalam darah. Tahap selanjutnya kumpulan sinyal tersebut merangsang aktifitas sel-sel tertentu untuk secara hirarkial memberikan isyarat kepada sistem yang lebih tinggi. Kumpulan gejala molekuler dan seluler tersebut pada gilirannya akan mempengaruhi area preoptik di sistem limbik. Karena berada dalam suatu jaringan interkoneksi yang berbasis neuroendokrin maka sinyal tadi akan direspon oleh hipofise dan hipotalamus. Terjadilah peningkatan sekresi asam lambung, enzim-enzim pencernaan dari pankreas, peningkatan gerak peristaltik usus yang kesemuanya tergabung dalam sistem persyarafan otonom. Kondisi tersebut akan menggeser tingkat kepekaan sensoris untuk menjadi lebih ‘awas’ dalam mengidentifikasi sumber makanan. Sistem pendengaran menjadi lebih peka terhadap bunyi-bunyian yang didalam memori telah terasosiasikan dengan ‘sumber makanan’. Hidung menjadi lebih sensitif terhadap berbagai aroma makanan, demikian pula berbagai indera lainnya. Fenomena biologis ini akan terintegrasi dengan fungsi luhur analitik dan bermanifestasi kepada : “Cara mendapatkan makanan”.
Di titik ini konsep makan-memakan menjadi sangat krusial dan bergeser menuju ranah filosofis. Konsep halal dan haram berkembang tidak hanya terfokus pada substansi bahan makanannya saja, melainkan juga merambah kawasan ‘bagaimana cara memperolehnya?’. Punishment atau konsep dosa di sini dapat diperkaya dengan bentuk hukuman yang bersifat mensupresi/menekan rasa ketenangan dengan menorehkan rasa bersalah yang merubah neraca kesetimbangan psikologis. Sebagai contoh, ketika seorang ayah memberikan uang kepada ibu untuk membelikan makanan bagi kedua anak mereka yang masih balita, maka sang ibu dengan sigapnya segera berbelanja ke tukang daging di pasar langganan.Semuanya tampak biasa dan wajar-wajar saja. Tetapi bila ternyata uang yang didapat sang ayah tadi bukanlah terkategori sebagai pendapatan yang halal, maka jalan ceritanya akan panjang dan pasti tidak akan “happy ending”.Apalagi tokoh sang ibu dalam cerita ini rupanya tengah berbadan dua. Dongeng punya cerita, ternyata setelah diusut-usut oleh KPK, uang yang dibawa pulang oleh sang Ayah adalah uang komisi yang tidak semestinya diterima. Sang ayah yang pegawai senior sebuah instansi itu tentulah tahu dan dapat membedakan, mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan. Akan tetapi karena desakan hawa nafsu ingin tampil sebagai seorang kepala keluarga yang prestatif serta dapat menduduki maqom yang terhormat di mata istri dan keluarganya, maka uang itupun diterimanya. Dengan senang hati ? Tentu tidak. Bahkan jantungnya berdebar sangat kencang, sampai-sampai ia sendiri merasa bahwa jantungnya bisa saja putus saat itu juga. Keringat dingin meleleh disepanjang tulang punggungnya, dadanya terasa sesak, sampai-sampai kemeja yang dikenakannya serasa melekat erat bak pakaian senam. Nafas tersenggal-senggal, dan kepala terasa pening melayang. Ya, itulah pertanda seluruh tubuhnya sepakat menolak untuk ikut berpartisipasi dalam sebuah dosa.
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, (Al-Quran) yang serupa lagi berulang-ulang. Bergetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.” (QS Az-Zumar ayat 23)
Getaran rasa bersalah itu mengguncangkan sistem normalitas dan homeostasis alias keseimbangan internal manusia. Hormon ketakutan (skotopobin) membuncah dan terus mendorong ketidakseimbangan hormonal lainnya. Metabolisma tubuh mengalami perubahan secara drastis. Para elektron, proton, quark,lepton,bosson, dan fermion yang tengah bertasbih dan berthawaf terganggu ritmenya dan membangun sebuah keseimbangan baru sebagai suatu efek kompensasi.Sebagian dari mereka menjadi liar karena kehilangan pegangan. Sunatullah yang termanifestasi sebagai berbagai aturan yang menjamin keteraturan yang bersifat sistematik tidak lagi berjalan semestinya. Sebagai contoh, konsep larangan Pauli yang memisahkan antara elektron dengan arah spin yang sama dalam orbital Bohr yang berbeda,tidak lagi dipatuhi dan para elektron berloncatan semaunya, semuanya semau “gue”.
Uang yang notabene hanya sekedar sekumpulan karbon yang berbentuk kertas dan sama sekali tidak berdosa,bila terpegang oleh tangan-tangan yang chaos akan ketularan dan menunjukkan sifat (fenotip) serupa. Kertas uang akan menjadi media penghantar multi level dosa (MLD). Sang ibu yang kemudian berbelanja dan membeli ½ kg daging has dalam dari seekor sapi yang nyata-nyata halal karena disembelih dengan menyebut nama Allah,akan kecipratan efek tidal dosa yang seperti molekul dalam gerakan Brown, membentur sana-sini dan berzig-zag kian-kemari menciprati tetesan dosa kesana-kemari,terdorong oleh panasnya energi kinetik rasa bersalah. Dan daging has dalam sapi yang halal itu, ketika terpegang oleh lengan ibu yang terkena efek gerak brown dosa, maka akan berubah pula menjadi sekumpulan atom C,H,O,N,P,dan K yang resah dan gelisah (ingat hampir semua elemen di alam semesta bersifat dielektrik). Ya, daging itu telah menjadi medium turunan ketiga dari sebuah dosa. Jangankan terpegang,dikantungi plastik saja dan plastik itu “dicengkiwing” hanya oleh 1 ibu jari dan 2 jari anak buahnya, maka sifat semi konduktornya tetap akan menjadi penghantar bagi proses MLD. Kemudian daging itu disemur, dan dimakan beramai-ramai.Ketika ia sampai di lambung dan saluran pencernaan,amilase,gastrin,pepsin,tripsin,garam empedu,dan juga lipase ogah-ogahan menjamunya karena merasa tak kenal. Jadilah daging itu diolah seenaknya dan tentu semau gue juga dong ! Blok pembangun yang semestinya kelak dapat menjadi bagian dari keshalehan dan kejeniusan otak seorang anak,gagal menjadi protein dan banyak diantaranya menjadi gugus sterol alias lemak. Lemak ini akan terakumulasi menjadi hormon steroid dari anak ginjal yang mendorong terciptanya rasa cemas,gelisah,khawatir, dan ketakutan. Coba bayangkan, hanya dari sekerat daging sapi yang semestinya halal, anak-anak dari keluarga muda itu akan tumbuh menjadi anak-anak yang pemarah,murung,gelisah, dan ketakutan, tanpa mereka pernah tahu apa sebabnya. Dan bila kelak mereka dewasa serta menjadi pribadi yang berakhlaq kurang mulia, siapakah sebenarnya yang bertanggung jawab dan terbebani oleh dosanya ? Tentu bukan para downliner bukan ? Kitalah, para orangtua yang berperan sebagai up-line yang akan menuai badai bonus dosa,Naudzubillahi mindzalik.
Ternyata proses dan fenomena ini tidak hanya terjadi pada kegiatan makan-memakan saja, melainkan pada semua aspek kehidupan seorang manusia. Setiap rasa bersalah karena melanggar perintah dan larangan Allah, yang merupakan kebenaran absolut, maka setiap sel dan setiap unsur di dalam tubuh kita akan bersikap chaos yang pada gilirannya akan mengakibatkan munculnya dampak akumulatif yang mengacaukan sistem bio-psikologis. Jiwa-jiwa kita menjadi sulit untuk mencapai tataran muthmainah,naudzubillahi mindzalik. Seorang ibu yang tegang dan kecewa (tanda-tanda kufur nikmat), pada saat mengandung putranya berarti dapat pula dikatakan berinvestasi pada kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa anaknya di kemudian hari. Demikian pula seorang ayah yang pemarah dan pembohong, setiap belaiannya pada sang anak akan menularkan ketakutan,kegelisahan, dan kekacauan quantum biologis pada anaknya. Oh anak, engkau rupanya sebuah cermin bagi keimanan kedua orangtuamu.
Maka bertaubatlah kita,berdoalah kita, dan berwudhulah kita untuk mensucikan setiap proses interaksi dengan setiap elemen dalam kehidupan. Karena itu pula di setiap perjumpaan diwajibakan bagi kita untuk mengucapkan salam, sebuah doa bagi sesama, dan sebuah doa bersama bagi keselamatan kita semua.
Oleh karena itu pula terkuak makna dalam doa sebelum makan yang memiliki arti tidak sekedar mengharapkan barokah dari makanan yang tersedia, tetapi juga permohonan agar terhindar dari azab api neraka. Doa makan itu rupanya bagian dari proses sterilisasi dan pengeliminasian unsur-unsur dosa (haram) dalam sebuah makanan.
Pada saat bahan makanan yang halal dan thoyib telah didapatkan, berkembang pula suatu proses pelatihan diri yang tidak kalah menariknya. Pada tahapan ini kita dihadapkan pada permasalahan pengelolaan dan pengendalian hawa nafsu. Kita harus secara jernih dan mandiri mengukur tingkat kebutuhan dan kepatutan, baik dari aspek metabolisme maupun kemampuan finansial/ekonomi. Penjabaran sunnah Rasulullah SAW, ‘berhentilah sebelum kenyang’, mengharuskan kita untuk menemukan ambang batas yang tidak menggangu kesetimbangan kecerdasan integratif. Dan kegiatan tersebut harus selalu direvitalisasi setiap hari, mengingat kita juga makan setiap hari, dan proses revitalisasi juga harus mengakomodir setiap perubahan yang secara dinamik pasti terjadi setiap satuan waktu (sunatullah di ranah waktu yang relatif). Seandainya konsep filosofis dari ritual makan-memakan ini bisa kita pahami, maka prosesi makan sesungguhnya merupakan bentuk ibadah ghoirumahdoh yang insya Allah sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas keimanan kita.
Mari kita tingkatkan kualitas keimanan kita dengan mensyukuri nikmat Allah dan membiarkan lidah berdecap lezat dalam zikir kerinduannya pada rasa yang diciptakan Sang Khaliknya ! Ayo icip-icip yuk……






Pantai Bandengan Japara


Asap putih beraroma batok kelapa mengepul-ngepul dan membumbung menyatu dengan atmosfir. Terkadang kepulan itu terburai oleh hembusan angin pantai yang mengalir semilir. Dan bila terbawa ke arah kita, yang sabar menunggu di sebuah meja, maka aromanya akan semakin menggoda. Ya, inilah kedai ikan bakar paling orisinal, asli van Jepara. Warung ikan bakar Yu Sri di pantai Bandengan. Pantai yang dijuluki para meneer dari ordonantie Pati dan ambtenaar lokal “jaman baheula”, sebagai “Litle Schaveningen”. Padahal menurut saya Bandengan jauh lebih eksotis dan jauh lebih indah. Profil geologisnya yang merupakan laguna menjadikan kawasan pantai ini berair tenang dan dangkal. Kejernihan airnya yang berwarna gradasi dari biru sampai kehijauan, berpadu serasi dengan pantai pasir putihnya yang sungguh memikat. Disepanjang pasir pantai banyak sekali beraneka kulit moluska, mulai dari kerang kecil yang unik sampai dengan bekas cangkang kima juga ada. Dan tepat diseberang pantai ini terdapat sebuah warung sederhana, warung Yu Sri namanya ! 3 buah pohon Ketapang berjajar meneduhi halamannya. Di sela-sela pepohonan tersebut berjajarlah beberapa meja. Usai berenang dan bermain pasir di pantai serta mengumpulkan berbagai cangkang kerang aneka warna, maka kita dapat langsung memilih ikan, kepiting, dan kerang sesuai selera. Ikan-ikan yang tersedia biasanya adalah jenis ikan muara seperti sembilang, kakap hitam, dan kakap putih, atau jenis ikan karang seperti keluarga lujanus (siakap) yang dalam bahasa setempat sering disebut sebagai manganti, keluarga ikan kuwe (caranx), balistidae atau dikenal juga sebagai iwak jebong, dan terkadang ada beberapa jenis ikan pelagis seperti tenggiri dan tongkol. Setelah usai kita memilih maka ikan akan segera dibersihkan dan dibumbui. Bumbu rendam ikan ini tampaknya terdiri dari kunyit, bawang merah, bawang putih dan sedikit tumbar serta garam. Yang istimewa adalah proses membakarnya. Pembakaran ikan dilakukan dengan menggunakan batok-batok kelapa yang apinya dijaga agar tetap berasap tebal. Aroma asap ini serta hasil bakaran yang agak-agak gosong ini dipadukan dengan bumbu oles yang terdiri dari minyak kelapa asli yang dibubuhi garam, aduh nikmat sekali ! Subhanallah, seluruh reseptor kelezatan di lidah kita serentak akan bertasbih Alhamdulillah ! Padu padan ikan manganti bakar dengan bumbu oles minyak kelapa asli ini adalah nasi putih sebakul dan sambal kecap sederhana serta dapat ditambahi pula sambal terasi jawa. Menu lain yang tak kalah menggiurkan adalah kepiting saos tomat dengan rasa legit sedikit pedas dan sangat lezat. Oh ya, ada satu lagi yang sangat istimewa dari warung ikan bakar Bandengan ini, yaitu kerang gorengnya ! Kerang sekeranjang direbus lalu digoreng dengan bumbu sangat pedas dan asin. Campuran bumbu gorengnya adalah garam, cabe rawit, bawang putih, brambang, dan minyak kelapa asli. Aduh rasanya lidah kita bisa “mlekoh-mlekoh” menahan nikmat. Subhanallah. Apalagi jika tengah asyik melahap kerang pedes ada sebongkah kecil garam ter”pletus” oleh gigi, aduh asyiknya, rasa asin menjalar ke seluruh rongga mulut. Sebagai orkestrasi penutup tentu tak salah bila kita pilih sebuah kelapa muda dengan gula jawa ataupun gula cair yang diminum sambil merasakan angin semilir !

Hikmah Spiritual & Manajerial :
Setiap melakukan aktifitas bisnis dan berwira usaha jelilah dan peka terhadap budaya dan potensi lokal. Allah telah mengkaruniakan lahan berkreasi seluas-luasnya di sekitar kita. Aspek manfaat dari potensi yang ada jangan selalu didekati dengan pola pikir linier, carilah dan temukan berbagai hikmah dari sudut pandang yang berbeda. Sebagai contoh; limbah dan sampah rumah tangga bila kita pandang sebagai sampah saja maka tidak ada yang menjadi nilai tambah. Sebaliknya bila kita pandang sebagai potensi yang belum tergarap maka sampah itu bisa berubah menjadi sejuta berkah. Misalnya dapat saja menjadi bahan baku pakan ikan yang dipadu dengan kertas koran bekas, apa yang kita dapat ? Sampah organik kita tidak jadi masalah, koran bekas kita termanfaatkan secara maksimal, dan gizi keluarga kita menjadi bertambah melalui ikan yang kita pelihara. Dampak lanjutnya adalah tumbuhnya sifat kreatif, inovatif, dan solutif, serta semangat untuk berwirausaha dan memperbaiki keadaan. Terkadang kita sudah melegitimasi diri kita dengan branding dan positioning yang “underestimate”, sehingga kacamata kita adalah kacamata “nilai rendah”, termasuk dalam menilai diri dan potensi yang ada di sekitar kita. Pada cerita di atas hikmah terpenting selain kemampuan untuk mengoptimalkan potensi lokal (pantai, ikan, batok kelapa, dan pohon yang rindang) adalah kemampuan padu padan atau harmonisasi. Betapa indahnya bila keelokan alam dipadu dengan makanan yang lezat dan disantap di waktu yang tepat. Dalam proses kulinernya juga padu padan antara bumbu, ikan, dan aroma asap menjadi sebuah orkestra yang mampu mengguncang dunia. Kuncinya adalah kesederhanaan. Bila bumbu terlalu kompleks dan dominan maka rasa lezat ikan akan terkudeta dan bahkan mungkin nyaris tak meninggalkan rasa. Demikian pula dalam konsep manajemen, kesederhanaan sistem adalah suatu kecanggihan. Semakin sederhana atau simple, maka semakin pendek rantai algoritme manajerial dan organisasi bisnis akan semakin efektif, efisien, dan aktual. Dalam hidup, konsep kesederhanaan ini maujud dalam bentuk takwa dan tawakal. Sederhana memaknai nilai dan tidak menjadi ribet sampai kejiret oleh proses pemaknaannya. Jika memaknai tanda dan nilai saja sudah menguras banyak tenaga, bagaiaman kelak ketika kita harus menyikapinya dalam bentuk implementasi. Maka berzikirlah,bertasbihlah, ruku’ dan sujudlah hanya dengan kesederhanaan diri, dan Insya Allah juga dengan kejernihan hati.

Catatan :
Jepara adalah salah satu bandar utama Nusantara di Laut Jawa. Hampir semua laporan perjalanan para penjelajah dunia dari berbagai negara seperti Tome Pires, Ibnu Battutah, sampai dengan Rickloff Van Gun menyebutkan keberadaan bandar penting ini. Dalam laporan mereka kota ini dikenal sebagai “Japara”.




Ikan Mas Sawangan


Gemuruh air sungai mengguruh melampaui jeram berbatu-batu. Airnya jernih sekali, dan sesekali dari permukaannya terpantul sinar bening matahari. Di tepiannya tumbuh berpuluh-puluh batang buluh dikitari semak belukar dan dipagari berbagai jenis pohon besar. Disebelah kiri pondok bambu tempat saya berada, terhampar undak-undakan sawah menghijau. Subhanallah, sungguh suatu pemandangan yang sangat indah. Sayup-sayup sampai terdengar suara beburungan bercuit riuh rendah dari hutan di seberang, terkadang suaranya ditimpali oleh jeritan seekor monyet yaki. Oh ya, saat ini saya sedang berada di sebuah rumah makan unik di desa yang bernama Sawangan. Suatu tempat antara Manado dan Tondano. Jadi jika anda berkendaraan dari Manado ke arah Bitung, kota pelabuhan terbesar di Sulawesi Utara, kira-kira 20 Km dari Manado beloklah ke kanan menuju arah Tondano. Anda akan segera melewati situs purba waruga, suatu kampung yang di daerahnya masih banyak terdapat peninggalan pra sejarah ( era megalitikum). Terus saja dan sekitar 5 kilometer dari sana anda akan tiba di desa Sawangan. Hati-hati dan buka mata lebar-lebar, carilah sebuah rumah makan sederhana dengan bangunan yang didominasi oleh bambu dan kayu. Rumah makan ini agak “hanging” , setengah mengambang di atas lembah sungai. Menu utama di sini adalah ikan Mas bakar rica dan udang sungai bakar rica. Meskipun ada beberapa menu lain seperti woku, woku belanga, ataupun ikan mas dan udang goreng, tapi 2 menu yang disebut pertama TOP bgt deh !
Uniknya ikan Mas di Sulawesi Utara ini berbeda dengan ikan Mas dari daerah lain di Indonesia. Meski sama-sama spesies cyprinus carpio tapi ikan Mas di Sulawesi Utara dagingnya sangat gurih dan sama sekali tidak ada rasa tanah atau lumpur. Maklum kolam pemeliharaannya juga berair sangat jernih serta biasanya terus mengalir. Hal ini agak berbeda dengan kolam-kolam ikan di Jawa, yang biasanya keruh berlumpur. Ikan Mas yang saya pesan kira-kira berukuran 1 Kg. Ikan itu kita pilih sendiri dari sebuah kolam tampung jernih, lalu segera dibersihkan dan siap dimasak. Ikan Mas itu akan dimasak bakar rica. Ikan dibakar dengan proses yang sangat sederhana, yaitu dengan hanya digarami dan diolesi minyak kelapa asli (maklum Sulawesi kan gudangnya kopra). Bumbu bakar rica dibuat terpisah, bahannya didominasi rempah pedas seperti jahe, lalu bawang merah, cabe rawit (rica) yang sangat banyak dan juga cabe merah. Bumbu ini ditumis terlebih dahulu. Setelah ikan matang dan berwarna coklat kehitaman maka bumbu rica dioleskan secara merata. Aduhai, rasanya nikmat sekali, mulut kita yang panas menjadikan makan kita sulit berhenti. Peringatan : Bagi yang tidak tahan pedas sebaiknya pesan menu lain saja. Tapi menurut orang Kawanua, sajian itu belum cukup pediis, mereka bahkan menambahi lagi dengan sambal dabu-dabu, yaitu sambal tomat dan rawit yang dibubuhi garam dan air jeruk. Wah mantap man ! Menu kedua adalah udang sungai bakar, Subhanallah, ternyata udangnya berukuran sangat spektakuler, capitnya saja hampir 20 Cm. Udang berwarna hijau kebiruan itu sangat segar karena diambil langsung dari bubu yang dipasang di jeram sungai. Jumlahnya ada 2 ekor. Satu ekor dibakar rica dan satunya lagi digoreng saja. Ketika telah matang dan tersaji di meja, segera saya mulai memakannya. Dagingnya putih kenyal dan mengeluarkan aroma yang amat menggugah selera. Paduan bumbu pedasnya menjadikan rasa lezat udang seolah mengalir dan mengguncang lidah. Apalagi ketika bagian kepalanya saya buka , tampak telur dan dan daging padu bercampur, ketiaka diseruput rasa gurih langsung menyambut !Sungguh suatu pengalaman kuliner yang menakjubkan. Seusai memakan itu semua sya menutup acara makan siang ini dengan sepotong klapertart, yaitu sejenis kue manis dengan dominasi rasa dari kelapa, santan, susu, dan gula.
Sebelum pulang dari Sulawesi Utara sebaiknya anda juga jangan lupa untuk membawa cakalang fu fu garo rica aseli Manado. Cakalang fu fu adalah ikan cakalang yang telah diasap, wuihh rasanya enak sekali, apalagi kalau dimasak garo rica. Garo rica adalah semacam sambal goreng tapi tidak diberi gula atau kecap, sehingga dominasi rasanya adalah pedas dan asin.

Hikmah Spiritual & Manajerial
Transparansi dan kebeningan hati akan menghasilkan kejernihan solusi. Coba perhatikan pada kisah di atas, Ikan Mas yang dipelihara dalam kolam dengan air yang jernih, bersih, dan bersirkulasi akan menghasilkan daging yang prima rasanya. Solusi bisnis yang inovatif dapat muncul setiap waktu dan kapan saja. Tetapi solusi bisnis yang selain inovatif juga berempatif atau peduli pada kepentingan bersama dan sesama hanya dapat muncul pada saat saat kita jernih dalam mencermati setiap permasalahan. Kreatif dan inovatif saja belum menjamin kita terbebas dari aspek manipulatif. Sebagai contoh iklan yang sehat sebenarnya bukanlah sekedar iklan yang mampu membuat produknya liquid, tetapi seharusnya menjadi alat edukasi bagi konsumen dan menempatkannya dalam posisi cerdas memilih. Dengan demikian idealnya iklan adalah sebuah media informasi produk yang mendorong terjadinya pencerahan dan kemampuan untuk mengukur kapasitas diri dan kebutuhan diri.

Catatan :
Sulawesi Utara adalah suatu kawasan dengan biodiversitas unik yang merupakan perpaduan dari dua karakteristik biogeografis yang berbeda. Garis batas biologis ini dikenal sebagai garis Wallace. Babi rusa, Anoa, Maleo, dan Monyet Besar tak Berekor ( Sejenis baboon Asia), serta Tarsius Tangkoko merupakan hewan endemik yang khas Sulawesi dan tidak terdapat di kepulauan lainnya. Taman Nasional Dumoga-Bone adalah suatu “sanctuary” bagi berbagai spesies unik yang merupakan kekayaan hayati Indonesia. Jenis vegetasinyapun sangat beragam, mulai dari kayu hitam atau ebony sampai dengan berjenis-jenis anggrek hutan yang sangat eksotis terdapat di sana. Belum lagi potensi tanaman obat dan endofit yang merupakan sumber plasma nutfah yang sangat berlimpah. Insya Allah segala karunia Allah tersebut dapat dikelola secara bijak bestari dan menjadi rahmah bagi seluruh konstituennya, dan tidak hanya bagi segelintir manusia saja !


Karamba di Teluk Donggala


Laut membiru, dan sejauh mata memandang hanya biru dan biru yang cemerlang mendominasi. Di kiri kanan saya tampak sederet pantai berbatu. Kini saya tengah berada di sebuah warung Ikan bakar di tepi jalan raya antara Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah. Bangunannya sederhana. Berdinding kayu dan beratap seng dibalur sedikit rumbia. Menunya juga sangat sederhana yaitu ikan bakar saja. Ikannya tidak bisa ditentukan jenisnya karena bergantung pada hasil tangkapan nelayan hari itu. Ikan-ikan dan terkadang juga cumi disimpan dalam sebuah jaring tampung di bagang (bangunan bambu yang didirikan di tengah laut untuk menangkap ikan) yang terletak sekitar 200 meter ke tengah laut. Bila kita memesan Ikan Bakar maka sebuah perahu kecil akan segera di dayung untuk mengambil ikan di bagang. Alhamdulillah, hari ini saya beruntung mendapat ikan yang unik, yaitu seekor ikan Kakatua (Nassowrasse spp). Ikannya sangat indah berwarna hijau dengan paduan warna kuning dan biru. Daging ikan ini tebal dan kenyal, sangat cocok untuk dijadikan ikan bakar. Selain ikan kakatua saya juga mendapat 1 kg cumi (loligo vulgaris). Semuanya dibakar dengan bumbu oles warung ini. Sungguh kejutan yang tak terduga saat saya mengetahui bahwa ikan yang saya dapatkan adalah ikan yang tergolong paling enak untuk disantap. Bumbu oles warung ini sangat pedas dan terdiri dari minyak,cabe rawit, sedikit jahe, serta bawang merah. Cumi dan ikan setelah dibersihkan langsung dibakar dengan menggunakan arang batok. Aduh nikmat sekali rasanya ketika ikan bakar dipadu dengan nasi menjadi suap pertama, disusul oleh potongan cumi yang dicocol ke sambal kecap dan nasi panas menjadi suapan kedua. Tak tahan air mata segera saja bercucuran saking pedasnya, tapi semangat makan menjadi semakin menggebu. Selamat datang ke Donggala !

Hikmah Spiritual & Manajerial
Aspek kejutan selalu memberi dampak psikologis yang mendalam, baik itu bahagia maupun larut dalam nestapa. Mendapat hadiah yang tak diduga misalnya, membuat kita terkejut dan terbenam dalam kebahagiaan. Sebaliknya bila tiba-tiba kita ditinggalkan oleh orang yang kita cinta, maka kita akan larut dalam duka dan nestapa. Manakah yang terbaik ? Yang terbaik adalah melatih diri kita agar dapat mengendalikan perasaan saat mendapat sebuah kejutan. Menempatkan diri kita secara pasrah dan ikhlas sebagai makhluk Allah yang lemah, yang tak terlepas dari kewajiban menjalankan takdirnya akan membuat kita tidak terlalu terkejut bila menjumpai hal-hal yang tidak terduga. Dalam manajemen bisnis kondisi ini perlu dilatih yaitu dengan cara bersikap lebih peka. Bukankah Allah SWT telah menggariskan bahwa dicptakan begitu banyak tanda bagi orang-orang yang berpikir ? Dengan mempertimbangkan banyak aspek dan variabel dalam aktifitas bisnis maka seorang pebisnis dapat melakukan proses prakira (forecasting) yang cukup akurat. Dengan prakiraan yang mendekati akurat, maka seorang pebisnis tidak mudah terkejut, karena sudah mengkalkulasi dan menduga akan terjadinya suatu keadaan.

Catatan :
Donggala adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Tengah yang terletak berdekatan dengan Ibu Kota Provinsi. Secara oseanografi bahkan perairan Donggala sebenarnya adalah bagian dari Teluk Palu. Daerah ini sangat unik karena dilintasi oleh garis imajiner khatulistiwa atau equator. Kondisi daerah pada letak lintang rendah ( 00) biasanya beriklim tropis ekstrem. Pada saat matahari melintas tepat di garis khatulistiwa suhu udara menjadi sangat panas. Khusus di Lembah Palu, sehubungan dengan kontur geologisnya juga unik ( dikepung perbukitan), maka curah hujan tahunannya juga sangat rendah.
Suatu Siang di Bosphorus


Pagi menjelang siang. Saya duduk tenang di tepi sebuah jendela geser yang terbuka, tepat menghadap selat Bosphorus di Turki. Ya, saya duduk tenang dang asyik memandang beberapa ekor camar sedang bergembira ria bertengger di atas buoy-buoy tanda navigasi. Saya sedang menunggu pesanan makan siang khas Turki. Tiba-tiba saya melihat seorang lelaki berjalan menelusuri tepian pantai yang telah ditembok rapi. Ia membuka baju dan langsung melompat, berenang menikmati hangatnya air dan teriknya mentari. Memang saat ini Turki tengah memasuki akhir musim semi, dimana suhu mulai menghangat dan bunga-bunga bermekaran indah sekali. Tak tahan saya ingin sekali ikut terjun dan berenang sesuka hati. Sayangnya waktu yang tersedia sangat sempit, dan obyek yang harus dilihat amat padat.
Kurang dari 5 menit kemudian terhidang di hadapan kami appetizer atau makanan pembuka yang terdiri dari salad mediterania dengan campuran keju fetta yang masam. Selain sayuran seperti kol dan radish juga tersedia satu nampan berisi buah zaitun segar berwarna ungu kehitaman. Dressing yang disajikan adalah susu hasil fermentasi. Dressing salad yang terkenal di dunia adalah mayonaisse yang dibuat dari campuran kuning telur, susu, dan garam, atau thousand island. Tetapi di Turki dan beberapa negara perbatasan peradaban seperti Yordania, dressing favorit adalah Yoghuto alias yoghurt. Teman serombongan saya tidak begitu bersemangat menyantap salad “aneh” ini, tapi saya tidak peduli dengan opini rombongan tur kami. Malah saya berterimakasih sekali, karena porsi mereka sebagian dialihkan ke hadapan saya.
Akhirnya menu utama yang ditunggu-tunggu muncul. Yaitu ikan bakar asap kayu ceddar khas Istanbul Bogazi. Ikannya adalah sejenis ikan sardinella atau layang (rustrigler) dengan ukuran cukup besar, sekitar 30 Cm. Dan menurut pemilik restauran, ikan tersebut dijaring dari selat Bosphorus pagi ini juga, jadi sangat fresh gitu loh !. Aroma ikan bakar ini sangat khas, dan saya yakin bumbunya hanya garam saja. Tetapi perpaduan antara garam dan asap kayu ceddar sungguh mampu memunculkan cita-rasa ikan Sardinella ini menjadi begitu merajalela. Lemak di bagian perutnya meleleh ketika dikunyah, dan rasanya sungguh lezat sekali. Bahkan sampai sudut-sudut tulang di daerah kepalanyapun rasa gurih seolah tak ada habis-habisnya., Subhanallah, sungguh rasa ikan bakar yang sangat hebat !

Hikmah Spiritual & Manajerial
Kesederhanaan akan memunculkan kejujuran. Sebagai ilustrasi, ikan sardinella yang dimasak dengan cara sederhana dengan hanya membubuhkan garam dan dibakar dengan jenis kayu tertentu dapat merepresentasikan cita-rasa ikan apa adanya, jujur. Sebuah kesederhanaan dalam merefleksikan diri akan menghindari kita bermanipulasi dan membohongi diri sendiri melalui kepalsuan citra diri. Kesederhanaan pola pikir akan menghasilkan teknologi atau produk yang tepat guna, tepat sasaran. Kejujuran dalam memenuhi kebutahan realita akan menjadikan kita kreatif, inovatif, sekaligus solutif. Sebuah sistem manajemen yang sederhana, naif, dan lugu akan mereprersentasikan sebuah kejujuran. Demikian pula sebagai pribadi, kejujuran adalah kata kunci bila ingin menjadi pribadi bening hati. Masalah bertumpuk dan menggerogoti pikiran pada saat kita terlalu terbebani oleh ekspektasi. Berbagai harapan dan berbagai kekecewaan yang mencerminkan kegagalan mensyukuri nikmat Allah SWT. Orang yang sederhana dan jujur adalah orang yang berbahagia karena dapat mensyukuri berbagai nikmat yang telah dimilikinya. Sebaliknya orang-orang yang tidak sederhana dan tidak jujur biasanya adalah orang-orang yang tamak, kufur nikmat, serta pendengki. Marilah kita menjadi ikan sardinella bakar yang lezat meski hanya berbumbu garam, marilah kita mulai jujur menjadi diri sendiri.
Bila ikan sardinella di Turki itu dibumbui rempah beraneka memang ada 2 kemungkinan, yang pertama terjadi padu-padan rasa yang selaras dan menggoda, tetapi bisa saja terjadi bahwa kelezatan asli ikan tak dapat dinikmati. Kesederhanaan dapat memunculkan potensi asli atau core competency. Atau dalam konteks pendidikan dikenal juga sebagai generic skills atau generic competencies.
Catatan :
Turki adalah sebuah negara yang treletak di 2 benua. Sebagian wilayahnya merupakan bagian dari benua Asia dan sebagian lainnya masuk ke benua Eropa. Pemisahnya hanyalah sebuah selat sempit yang dikenal sebagai selat Bosphorus. Selat ini membentang dan membelah dua kota Istanbul. Sebuah kota tua yang sarat dengan peninggalan sejarah kejayaan Kesultanan Ustmaniyah ( Ottoman Empires). Berbagai masjid eksotis yang telah berusia berabad-abad seperti Masjid Sulaiman, Sultan Ahmad, dan juga Haga Sophia atau masjid merah menghiasi berbagai sudut kota, Begitu juga istana-istana megah bergaya gothic, renaissance, berkubah-kubah bawang khas Timur Tengah dan Asia Kecil dibangun di mana-mana. Ortakoy, Berleybeyi, Dolmabahce, dan Topkahpi sebagian diantaranya.
Palling dari North Sea


Pagi itu pasar Hobbemaplain sedang ramai-ramainya. Maklum ini adalah weekend pertama di musim panas. Pasar ini terletak tidak terlalu jauh dari pusat kota Den Haag, ibu kota administratif Kerajaan Belanda. Suasananya sungguh meriah, payung tenda beraneka warna dan bentuk terpampang di sana. Lorong-lorong berbatu cobbles (batu jajaran genjang peninggalan gothic) memanjang dan membelah pasar dengan sistema tulang ikan. Pasar ini meskipun sama-sama pasar basah, sangat berbeda dengan pasar basah di Indonesia. Pasar Hobbema bersih sekali, tidak ada kesan kumuh ataupun banyak tumpukan sampah dimana-mana. Pasar ini malah seperti sebuah pasar seni atau karnaval yang penuh dengan nuansa warna-warni. Secara periodik polisi marsose melintas dengan uniformnya yang unik dan menunggangi seekor kuda hitam yang gagah. Berbagai jenis daging, sayur, dan ikan dijual dengan gerai-gerai yang sangat higienis, rapi, bersih, dan artistik. Karena populasi masyarakat Indonesia atau ex warga negara Indonesia di Belanda cukup tinggi, maka di pasar Hobbema ini terdapat juga pedagang yang berjualan tahu-tempe !
Tapi tentu tujuan utama saya bukanlah mencari tahu dan tempe yang banyak sekali terdapat di Indonesia, melainkan mencari penjual ikan Palling. Ikan yang paling enak di dunia ! Ikan Palling adalah sejenis ikan belut laut, biasa disebut juga eel atau yang di perairan tropis dikenal sebagi keluarga gymnothorax javanicus. Ukurannya beraneka, mulai dari yang sepanjang 40 Cm sampai ada yang mendekati 1 meter. Ikan ini diproses terlebih dahulu, yaitu dengan diasap. Karena lapisan lemak di bawah kulitnya cukup banyak, maka rasa ikan asap ini didominasi kelezatan lemak yang bercampur aroma asap. Lalu hebatnya lagi, proses pengasapan tidak mengubah tekstur daging ikan. Tekstur daging ikan Palling agak kenyal dan elastis, sehingga ketika kita menggigitnya terasa seperti menggigit buah-buahan yang masih agak mengkal. Lapisan kulitnya terasa seperti selapis karet tipis yang membal. Pokoknya sulitlah untuk diceritakan dengan kata-kata nikmatnya makan ikan Palling. Setiap kali saya ke negeri Belanda, selalu ikan Palling yang jadi menu favorit utama saya, sudah lezat halal pula !

Hikmah Spiritual & Manajerial
Kreatifitas dan sistematika adalah menu wajib dalam sebuah proses cerdas. Kepekaan terhadap “fitrah” setiap unsur akan menjadikan proses pemanfaatan menjadi optimal. Untuk itu diperlukan observasi, penelitian, percobaan dan kesabaran untuk terus mengulang-ulang pengamatan. Sebuah industri yang cerdas memerlukan sebuah sistem pengembangan (research & development) yang berbasis pada pengetahuan (knowledge based). Ikan Pallling yang lezat tadi, tentulah telah melalui proses pengembangan produk dengan berlandaskan pada pengetahuan dasar tentang karakter daging, kulit, dan lemaknya. Sehingga ketika seorang juru masak telah mengenal dengan baik karakter bahan masakannya, ia dapat menampilkan cita rasa kuliner yang optimal pula. Seorang manajer yang baik juga seharusnya mengetahui karakter masalah yang dihadapinya, agar ia dapat “memasaknya” dengan proses dan mekanisme yang tepat pula.

Catatan :
Belanda adalah negeri liliput yang sebagian wilayah pesisirnya bahkan berada di bawah permukaan laut. Metoda pembuatan polder dan reklamasi pantai ini diperlukan untuk menambah luas wilayah. Negeri yang satu ini terkenal dengan kekhasan produk kejunya, kincir angin (Windmollen), bunga tulip di Keikenhoof, keramik biru dari Delft, kota miniatur Madurodam, dan keunikan kota wisata pelabuhan Volendam. Ibukota administratifnya adalah Den Haag.
Sogili Tentena


Menjelang senja, mobil rombongan kami mengular berkelok-kelok menelusuri dan menanjaki jalan sempit antara kota Poso dan Tentena. Tepat setengah jam setelah maghrib kami tiba di sebuah penginapan tua yang terletak di atas sebuah bukit. Suhu udara berkisar antara 15 derajat celsius. Dalam dinginnya malam bergegas kami segera memilih kamar. Saya mendapat kamar yang memiliki banyak jendela yang menghadap ke halaman muka. Menurut penjaga penginapan, kamar itu berpemandangan langsung ke danau Poso. Tapi tentu di malam yang gelap dan dingin ini danau Poso belum dapat terlihat. Tak sabar rasanya menanti matahari terbit di ufuk timur sana. Malam itu setelah makan malam seadanya, kami langsung menunju peraduan, maklum perjalanan darat yang amat panjang tadi siang sungguh melelahkan.
Dan benar saja, ketika cahaya matahari pagi yang pertama mulai mengintip dari balik jendela dan mengguyur alam sekitar dengan terangnya, terpampang di balik jendela sebuah pemandangan yang luar biasa. Danau Poso yang batasnya nyaris tak dapat terlihat, menghijau dikelilingi hutan dan kebun di seputarannya. Lalu tepat di kaki bukit penginapan kami, tampak sebuah sungai mengular berjeram-jeram indah sekali. Sebuah jembatan kayu tua peninggalan Belanda dengan atap sirapnya membelah sungai itu dan menuju sebuah areal yang penuh dengan persawahan. Subhanallah ! Pagi ini kami diajak oleh penjaga penginapan untuk membeli Sogili, belut raksasa, dari pasar di tepi sungai. Pasar Tentena tidak terlalu ramai, terlihat di sana beberapa pedagang ikan lengkap dengan wadah ikan dan beberapa di antaranya membawa bubu bambu berukuran besar. “Itu dia tukang Sogili !”, pak penjaga berkata seraya bergegas mendatangi seseorang yang membawa bubu itu. Rupanya Bapak pembawa bubu itu adalah nelayan Tentena yang biasa menangkap Sogili. Sogili adalah sejenis ikan sidat tetapi tidak beruaya (bermigrasi). Ukurannya pada yang dewasa bisa mencapai sebesar paha pria dewasa dengan panjang lebih dari 1 meter. Ikan ini ditangkap dengan menggunakan bubu dengan umpan tertentu. Pak penjaga penginapan membeli seekor. Segera kami pulang ke penginapan. Pak penjaga sibuk membersihkan Sogili, dan tak lama kemudian kami mendengar dari arah dapur suara-suara penggorengan beradu dengan asap yang mengepul. Sontak hidung kami membaui, aduh yummy sekali !
Sebakul nasi putih dan secobek sambal terasi pedis tersedia mendampingi nampan yang berisi Sogili goreng. “Coba ngana makan depe kulit !” kata pak penjaga. Lalu saya dan rombongan lainnya berebut mencomot beberapa potong sogili, aduh ternyata lemak bawah kulitnya gurih banget bo ! Meleleh di lidah, nempel di hati ! Padahal bumbu gorengnya cuman bawang merah, bawang putih, kunyit, dan garam. So simply, but so delicy ! Paduan nasi putih pulen panas, sambal pedis, dan sepotong sogili goreng, sungguh nikmat dimakan di pagi hari yang cerah dengan angin semilir sejuk membelai. Secangkir kopi asli made in Tentena, sungguh pas menutup indahnya sarapan ½ pagi, maklum udah jam 9 sih !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Sekali lagi kesederhanaan dan kebersahajaan serta kejujuran terbukti mampu menampilkan secara optimal potensi yang dimiliki. Sogili yang diolah dengan sangat sederhana serta minim bebumbuan justru menghasilkan citarasa dan aroma yang “jujur” dan apa adanya. Ada satu istilah melayu yang sangat menarik dalam kaitan dengan sumber daya alam serta lingkungan hidup, yaitu mereka mengistilahkan sumber daya alam esensial adalah “lingkungan semula jadi”. Ini sebuah idiom yang bersifat antagonistik dengan lingkungan binaan atau developed environmental. Ikan Sogili yang segar dan ditangkap dari alam semula jadi menunjukkan suatu hikmah lagi, bahwa lingkungan alami akan memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan lingkungan buatan (artificial model).Begitu banyak variabel yang berkembang dalam sebuah sistem yang dinamis dan begitu banyak probabilitas dalam pertumbuhan sebuah alur algoritma yang dikembangkan dalam sistem lingkungan semula jadi. Hikmah manajerial yang dapat dipetik adalah kesederhanaan dalam setiap proses ternyata perlu dan harus mempertimbangkan berbagai variabel yang mempengaruhi. Pemetaan variabel lingkungan, apapun lingkungan itu hendaknya menjadi suatu langkah awal yang harus dilakukan dalam menjalankan setiap proses manajerial. Seandainya ikan Sogili di danau Tentena kelak akan ditangkarkan atau dibudidayakan dengan sentuhan teknologi perikanan yang canggih, maka belum tentu hasil yang akan dipanen sepadan dalam hal kualitas produk. “Pabrik” alam telah mengembangkan dirinya dengan suatu sistem neural network yang adaptif terhadap berbagai perubahan, dan sangat berkesinambungan. Sistem manajerial yang sering dikembangkan oleh manusia biasanya bersifat stagnan dan pasif bila telah sampai pada suatu tataran capaian yang dianggap maksimal. Proses kreatif terhenti bila target kuantitatif ataupun kualitatif yang telah ditetapkan sudah tercapai. Dinamika kreasi tergantikan oleh dinamika replikasi dan terjebak dalam proses eksploitasi semata. Sistem manajerial artifisial akan terjebak menjadi sistem yang semakin kurang sensitif dan semakin kurang adaptif. Dengan demikian unit bisnis yang menjalankannya sesungguhnya sedang memasuki fase nekrofilia, alias menjemput sakaratul maut. Kebijakan yang mengacu pada proses yang berlangsung pada alam semula jadi adalah kebijakan yang bersifat “tumbuh” dan terus berpikir. Dalam Islam konsep ini dikenal sebagai “Iqra”, atau suatu proses pendidikan berkelanjutan (lifelong education). Contoh sederhana, bila ikan Sogili jadi ditangkarkan, maka kesulitan pertama yang akan dihadapi adalah menciptakan suasana yang kondusif bagi proses “breeding”, lalu perlu belajar banyak tentang pakan alami yang ideal bagi ikan tersebut. Jutaan serangga dan mungkin jutaan pula mikroorganisme yang terlibat sebagai rantai makanan sang Ikan. Pada kasus-kasus terdahulu, biasanya proses domestifikasi akan mengacu kepada pengkondisian yang dipaksakan. Jika melihat contoh nyata, maka kita akan mahfum bila menjumpai kenyataan bahwa rasa daging lele dumbo (clarias batrachus spp) hasil domestifikasi ternyata tidak segurih lele lokal yang hidup di sawah, kali kecil, dan parit-parit nun di pelosok Klaten sana !


Tobuki, telur Ikan terbang


Midori, Midori ? Ya begitu nama rumah makan jepang ini. Mengingatkan saya pada salah satu tokoh kartun di serial Dr.Slump, yaitu bu guru Midori. Tetapi yang menarik adalah di daftar menu terpampang satu kata unik : Tobuki. Apakah itu Tobuki ? ternyata Tobuki adalah telur ikan terbang. Saya jadi teringat pada salah satu buku yang pernah saya baca tentang sebuah in depth study di sebuah komunitas nelayan di Sulawesi Barat. Kelompok nelayan ini memiliki kebiasaan atau ritual tahunan untuk memanen telur ikan terbang. Nama ritual ini adalah Mottanga. Dan biasanya dalam appetizer di rumah makan ikan bakar khas Makassar telur ikan terbang yang diberi garam dan cuka ini menjadi salah satu pilihannya. Tetapi di Midori telur ikan terbang ini disajikan dalam bentuk sashimi dan sushi. Jika pada menu sashimi telur ikan terbang tampil solo tanpa embel-embel bahan lainnya, maka pada menu sushi ia tampil bersama-sama selembar daun dan segumpal nasi. Porsi sushi yang kira-kira seukuran genggaman 4 jari amatlah pas untuk menikmati gurih asinnya tobuki yang mengajak lidah terpesona. Unik sekali ketika telur ikan terbang itu kita kunyah dengan gigi, ia meletus-letus, meletup dan mengeluarkan aroma segar lautan. Asinnya gimana gitu ! Tapi yang jelas sangat terasa gurih dan sekali lagi gurih. Ini adalah sensasi asin gurih yang renyah.

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Kali ini saya tidak akan mengajak berbicara tentang kesederhanaan dan kebersahajaan lagi, meski Tobuki dari ikan terbang tampil dengan sangat lugu dan naif dalam bentuknya sebagai sashimi. Yang ingin saya potret dari kelezatan Tobuki adalah komponen-komponen yang membentuk sebuah orkestrasi kesempurnaan di dalamnya. Tobuki nan lezat yang biasa kita jumpai di restoran Jepang itu adalah sebuah produk antara yang dikembangkan dalam sebuah rantai produksi industri bergenre reproduksi. Ikan terbang atau dikenal juga sebagai ikan Torani, memang istimewa. Tak heran bila salah satu stasiun televisi terkemuka di Indonesia menjadikannya sebagai ikon korporat. Telur ikan, tidak hanya telur ikan terbang, adalah sekumpulan keutamaan biologis yang terdiri dari sumbangan investatif kedua induknya. Komponen genetikanya merupakan perpaduan keunggulan sang induk ditambah merupakan media perbaikan generasi. Dimana kecacatan dan kekurangan pada generasi sebelumnya dapat direparasi dan diperbaiki kualitasnya melalui sistem tawar-menawar (bargaining process). Aspek dominan,ko-dominan, dan resesif alias representasi minoritas saling mempengaruhi dan saling mencari bentuk kesetimbangan reaksi ideal. Dalam Islam, filosofi ini dikenal sebagai proses tawadzhun untuk mencari titik “mizan”. Titik adil, berimbang, dan proporsional. Materi genetika dalam telur ikan dilindungi dan dikelola agar mampu bertahan hidup dan meretas jalan lahirnya sebuah generasi baru. Sekali lagi tampak kebijakan dan kebijaksanaan sistem yang berkembang di “alam semula jadi” memang bersifat antisipatif dan adaptif terhadap dinamika perubahan. Proses “maintenance” dan jaminan keamanan berinvestasi diterapkan disini. Dalam desain produk sudah termaktub berbagai infrastruktur keselamatan (safety) yang dapat diterapkan dalam berbagai skenario ancaman. Hikmah manajerial penting yang dapat dipetik di sini adalah perlunya kita mengembangkan sistem antisipasi terhadap ancaman dengan pendekatan yang bersifat multiperspektif. Pendekatan ini maujud dalam analisis atau kajian skenario ancaman yang mendalam dan menembus dinding dimensi waktu. Hikmah lain yang dapat dipelajari dari telur ikan ini adalah sebuah kenyataan bahwa sebuah produk yang niat produksinya didasari oleh suatu tujuan mulia, dalam hal ini regenerasi dan pengekalan eksistensi untuk menjalankan peran jenis yang kontributif, bermanfaat serta bersifat rahmatan lil alamin, akan menghasilkan produk (dalam konotasi luas, dapat meliputi produk jasa, manufaktur,ataupun consumer goods, malah juga bisa berupa produk kebijakan politik maupun birokratik) yang komprehensif dan bersifat mulia juga. Ciri-ciri kemuliaan sebuah produk adalah keberadaannya tidak menimbulkan keresahan dan kekacauan di lingkungan, mendorong terjadinya proses konstruktif yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan produk itu Sebagai contoh adalah berkembangnya sebuah intelligence market atau smart consumer, yang didorong oleh kehadiran produk mulia tersebut. Dalam contoh yang lebih utopis misalnya dapat saja muncul suatu pranata atau sistem bisnis yang menjadi tulang punggung suatu program community development. Produk mulia adalah produk “mutiara”, ia terdiri dari sekumpulan mineral utama, protein, dan direkat oleh enzim-enzim yang bersinergi dalam bekerjasama. setiap elemen di dalamnya mempunyai peran. Dan peran yang dijalankan biasanya mewakili atau merepresentasi setiap aspek yang terkait dengan produk itu. Dalam tataran aplikatif, peran itu dapat meliputi peran pemasaran, promosi, efisiensi produksi, keamanan produk, dan keberlanjutan proses (process sustainability). Sebuah produk yang tergolong mutiara akan menghasilkan unit bisnis dengan semua lini yang cemerlang, termasuk di sisi konsumen, mitra, dan share holder. Bila nelayan-nelayan Mandar dari Sulawesi Barat sana melakukan berbagai ritual sakral sebelum menejalani kegiatan mottanga, proses mengambil telur ikan terbang, maka memang sudah sepatut dan sewajarnya bila kita hendak memproduksi sebuah produk mulia kita perlu menjernihkan terlebih dahulu hati dan jiwa kita. Apa produk mulia yang paling sederhana ? Jawabnya adalah : “Pernyataan dan kata-kata !” Produk ini bisa jadi mulia bisa pula menjadi sumber malapetaka. Marilah kita teladani induk ikan terbang yang meluruskan niat dan berkonsentrasi secara spiritual dalam menjalankan proses perkawinan dan pembuahan telur-telurnya. marilah sejenak kita renungi dan teladani ikan badut yang harus melalui tahapan pematangan (maturasi) dan proses transeksualitas sebelum dapat diwisuda menjadi seorang ibu/induk. Bila bercermin dari peristiwa itu, kita dapat memetik hikmah bahwa sekedar “melontarkan” sesuatu adalah sangat mudah. Dalam hal ikan badut, proses membuahi adalah mudah dan tidak diperlukan pengalaman serta pelajaran hidup, sehingga dapat dilakukan oleh pejantan yang notabene berarti ikan muda usia. Kita harus melihat pula perjuangan kuda laut sang Hippocampus jantan yang dengan setia menggendong dan menjaga telur-telur yang telah dibuahi. Dari berbagai proses reproduksi keluarga ikan ini kita melihat ada satu lagi hikmah yang tidak sepatutnya lolos dari kecermatan pengamatan kita, yaitu : konsistensi dan loyalitas. Jadi sekali lagi luruskan niat, rencanakan dengan cerdas, dan konsistenlah dalam melaksanakannya !

Catatan :
Ikan Terbang atau Ikan Torani adalah ikan endemis perairan Indonesia. Termasuk salah satu jenis ikan pelagis yang hidup dalam kelompok ( schooling). Pada saat sedang melakukan perjalanan migrasi dari satu daerah ke daerah lain dengan salinitas dan suhu laut yang ideal untuk bertelur ikan ini dapat “terbang” sampai ketinggian sekitar 2 meter di atas permukaan air laut. Bahkan dari kesaksian beberapa awak kapal kayu pelayaran Nusantara, kelompok ikan Terbang ini sering beterbangan dan terdampar di geladak kapal mereka. Jumlahnya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan ekor. Tetapi bagi para nelayan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, sesungguhnya potensi kelautan di daerah mereka tidak hanya ikan terbang semata, perairan daerah ini kaya akan kelompok Ikan Kuwe ( Caranx), para nelayan menyebutnya Mobara, berbagai jenis kerapu ( Goropa), demikian pula keluarga cumi dan udang. Di daerah pesisirnya dikembangkan berhektar-hektar tambak bandeng dan udang.
Sate Pak Bejo


Pagi ini saya dan istri naik becak dari salah satu hotel di kawasan Slamet Riyadi, Solo. Tujuan utama kami adalah rumah makan Sate pak Bejo yang terletak di daerah mBeteng. Pada kunjungan terdahulu pak Bejo ini masih berjualan di warung tenda disamping sebuah gudang tua. Tetapi 3 tahun beranjak dan pak Bejo sudah membangun rumah makannya sendiri. Di sebuah ruang luas mirip garasi terdapat beberapa meja dengan berbagai cemilan di atasnya, lalu di depan sebelah kiri terdapat angkringan gule tongseng dengan pancinya yang menebar sejuta aroma. Di bagian tengah depan terdisplay dengan sempurna sate-sate siap bakar disamping bakaran arang yang cukup panjang. Kami memesan 1 nasi goreng kambing dengan menu tambahan otak goreng, 10 tusuk sate campur, daging gajih dan hati, serta 1 porsi tongseng. Dan tidak lupa 1 piring nasi putih untuk istri tercinta. Minumnya biasalah, namanya juga di Jawa, tentu es teh manis full of gula ! Nasi goreng kambing pak Bejo ini tiada duanya kalau masalah rasa. Gurih dan lezatnya gimana gitu. Ditambah pula daging kambing empuk yang beraroma bawang putih aduh nikmat sekali. Paling cocok nasi goreng ini dimakan bersama otak goreng. Otak agak asin yang digoreng garing bareng dengan bawang putih bonyok, aduh rasanya jelas menohok ! Porsi nasi goreng yang besar ini dalam waktu kurang dari 10 menit sudah licin tandas, begitu pula sate dan tongseng semuanya habis licin tak bersisa. Itulah nikmatnya sarapan di Surakarta !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Kenikmatan dan kenyamanan adalah produk jasa yang paling tinggi nilai tukarnya. Terkadang beberapa produk bergenre kenikmatan dan kenyamanan bahkan tidak lagi dapat dibandrol dengan nilai nominal. Kelezatan makanan, keindahan pemandangan, kenyamanan tempat tinggal, atau mungkin bahkan kenikmatan seksual dapat menjadi kasus anomali dalam konsep pricing policy. Dalam artian luas, produk jasa bergenre pleasure ini dapat menjadi priceless alias tidak memiliki nilai tukar, karena dapat diperoleh melalui interaksi dan qualitative sharing ataupun dapat menjadi priceless saking tinggi nilainya sehingga tidak dapat diukur nilai tukarnya. Produk jasa genre ini juga produk yang paling sensitif dan memiliki bias yang besar, karena terkait dengan selera dan persepsi. Dapatkah kita menyeragamkan pengertian tentang keindahan ? Kelezatan sebuah makanan bagi sebuah kelompok masyarakat dapat saja ditolak dan tidak dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat lainnya. Bila masyarakat Asmat di Papua sana menggemari memakan Karaka (kepiting bakau) bakar dengan bubur sagu (pepeda) yang nyaris hambar dan sepakat bahwa itu adalah makanan yang paling lezat sedunia, tentu orang Ngayogyakarta hadiningrat akan protes berat dan mengajukan klaim bahwa Nasi Gudeg Kendil Bu Juminten dan Sate Kambing Samironolah yang berhak menjadi makanan terlezat di dunia ! Rasa lezat adalah perpaduan beberapa sensor rasa yang menghasilkan suatu sensasi kenikmatan yang disebut “umami”. Dan masalah rasa adalah masalah yang paling subyektif falam kehidupan seorang manusia. Sistem otak manusia yang kompleks menempatkan sebuah “rasa” sebagai suatu produk akumulatif yang terdiri dari memori, fungsi batang otak (respon dasar pertahanan hidup), fungsi sistem limbik (pengendalian emosi), dan sistem analisa cerdas dari neocortex. Rasa berkembang menjadi preferensi dan selera. Melihat struktur anatomi “rasa”, maka pengaruh faktor lingkungan, metoda belajar, dan cerapan pengalaman akan memberikan kontribusi warna pada pembentukannya. Dalam konteks bisnis, masalah “rasa”, selera, ataupun preferensi tidak saja diamati, dicermati, serta disurvei, melainkan juga dimanipulasi. Sebuah iklan televisi yang baik misalnya, akan dinilai dan diklasifikasi ratingnya berdasar prakiraan umpan balik keuntungan nominalnya. Konsep ini melahirkan beban biaya yang disebut “cost perrating point” (CPRP). Captive market yang dituju dipetakan berdasar basis data selera dominan. Bila produk yang ditawarkan bukan merupakan “supply” yang dibutuhkan maka kebutuhan itulah yang harus diciptakan. Terjadilah sebuah mekanisme mesin pemasaran yang ganas dan agresif. mesin ini menebarkan benih-benih virus pikiran yang menimbulkan penyakit dan fenomena konsumerisme. Setiap benih virus membawa penanda (marker) berupa merek dan karakteristik produk yang ditawarkan. Lalu dalam jangka panjang virus ini akan terus bertumbuh dan menjadi kronis. Kondisi kronis ini akan melahirkan penyakit lanjutan yang dikenal sebagai “perubahan gaya hidup”. Bahaya ! Karena perubahan gaya hidup akan berdampak pada perubahan ideologi. Cara pandang dan cara menyikapi hidup menjadi terbebani dengan pesan sponsor yang ditanamkan. Standar kualitas hidup menjadi global dan lintas komunal, bukan lagi berperan sebagai nilai yang personal dan memiliki privasi. Semua itu akan melahirkan tata nilai baru yang pada gilirannya akan memerlukan alat ukur obyektif. Segala kenikmatan dan kenyamanan akan tercapai melalui pemanfaatan alat tukar yang bernama uang. Uang lalu bermetamorfosa menjadi uang kartal, uang giral, dan “spesies” sejenisnya. Uang bahkan saat ini telah menembus dimensi ruang, ia menjadi virtual. Otentifikasi dan klarifikasi memungkinkan uang menembus sekat-sekat geografis dan sekat-sekat politis. Alat tukar ini kini berkembang menjadi tuhan baru, sebuah mahzab keyakinan yang menempatkan kenyamanan sebagai rasulnya. Uang mengikis nilai-nilai Tauhid dalam qolbu manusia. Uang yang sudah bukan lagi berperan sebagai alat penunjang kehidupan akan menggerogoti keimanan dan meruntuhkan banyak keyakinan yang sakral. Runtuhnya benteng nurani manusia akan berdampak pada merosotnya akhlaq dan menyempitnya dimensi waktu. Dalam perencanaan hidup, keberadaan uang, menjadikan domain waktu mengkeret menjadi sebatas kehidupan fisikal. Peran manusia sebagai bagian dari rahmatan lil alamin dan mega sistem Sunatullah menipis dan maujud dalam pola eksploitasi yang bersifat egosentris.
Dari kisah sate Pak Bejo di Solo, dapat kita petik hikmah penting bahwa terkadang suatu kenikmatan yang direguk secara berlebihan akan menimbulkan dampak serius di kemudian hari. Kadar lemak jenuh yang tinggi, kondisi inisial tubuh yang sudah tidak prima karena faktor usia, serta kurangnya aktifitas olahraga sebagai bentuk proses mensyukuri nikmat sehat, akan menjadikan sate,tongseng, dan nasi goreng kambing sebuah berhala baru aliran hedonisme. Dalam bisnis uang bukanlah segalanya, interaksi dan kehangatan bermuammalah serta kontribusi bermanfaat lebih tak bernilai artinya. Ingat sebelum mengenal kepemilikan dan keinginan eksploitatif, Nabi Adam AS dan Siti Hawa berada dalam surga. Tetapi setelah terjebak ke dalam hasrat pemenuhan kebutuhan instan yang bersifat sementara, mereka terlontar ke dunia !

Catatan :
Sate sebenarnya bukanlah makanan yang hanya terdapat di Indonesia saja. Bahkan di hampir setiap negara ada makanan yang secara “konsep” bisa dikategorikan sebagai sate. Di Turki, Jerman, dan Swiss misalnya ada Saschlik. Sementara di negara-negara Asia, sate bisa dijumpai dalam berbagai variasi, baik dari jenis bahannya maupun dari cara memasaknya. Bahkan mungkin konsep Hot Dog yang sangat populer di Amerika Serikat adalah bentuk lain atau varian dari sate. Steak sebagai makanan dengan bahan dasar daging dengan cara memasak dipanggang malah “betul-betul” bisa digolongkan sebagai sate. Di Jepang malahan konsep sate ini justru telah menjadi salah satu konsep kuliner utama. Teppanyaki dan yakiniku misalnya, adalah sate Jepang tanpa tusuk yang kini sudah mendunia dan menajdi makanan favorit di banyak negara. Kalau kita berjalan-jalan di Jepang, banyak penjaja Amaguri di trotoar, ini sejenis sate kacang.
Tongseng Pak Amat


Jarum pendek di arloji saya telah menunjukkan tepat angka 1, tak heran bila perut mulai memainkan langgam keroncongan. Dengan segera saya ajak istri untuk berbegas mencari becak dan meluncur ke jalan Thamrin. Tentu ini bukan Jakarta, melainkan di sebuah kota yang bernama Semarang. Tempat yang dituju adalah warung sate dan gule Pak Amat. Warungnya didominasi warna kehijauan, dan uniknya tempat berjualan malam dan siang berbeda, meski hanya bergeser 2 rumah saja. Menu favorit di warung pak Amat adalah sate dan tongsengnya. Sate gajihnya yahud banget, pemilihan lemaknya sangat tepat, tipis dan mudah mencair di lidah. Sate berbumbu kecap ini juga dilengkapi dengan sate jerohan, mau hati atau ginjal tinggal minta saja. Selain itu sate dapat dihidangkan dengan sundukan bambu ataupun dapat diminta untuk “dilolos”, tinggal daging dan lemak yang bergelimpangan dalam bumbu saja. Yang paling unik dari Warung Sate Pak Amat adalah tongsengnya. Di sini tersedia tongseng kepala, lengkap dengan segala “perabotannya”. Kita bisa memilih otak yang sudah dibungkus daun pisang, kulit, lidah, ataupun tulang muda (rawan). Semua pesanan kita akan dimasak dalam kuah kuning yang menyegarkan, dicampur dengan daun selada, tomat, dan kentang. Bila kita ingin rasa hangat, agak asam, dan pedas maka dapat kita tambahkan cabe rawit yang telah tersedia. Paduan antara tongseng yang segar dan sate gajih yang gurih pasti membuat ketagihan ! Ayo ke Semarang yuk !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Fokus. Konsistensi dan konsentrasi akan membuahkan suatu hasil yang optimal. Dalam kasus Pak Amat, beliau menjadi begitu piawai dalam hal pengolahan rasa karena fokus dalam mengeksplorasi dan mengeksploitasi kambing. Allah SWT memerintahkan manusia untuk menyebar ke seluruh penjuru alam semesta setelah menunaikan shalat (ibadah vertikal) dan berjuang mengais rejeki yang telah dihamparkan. Akal menjadi alat pengasah berlian yang mampu merangkaikan dan mengkilaukan jutaan potensi di alam semesta. Alam semesta adalah pabrik potensi. Ada potensi berupa puzzle yang harus kita rangkaikan sebelum tergambar apa faedahnya, dan ada pula yang berupa sandi yang harus kita pecahkan dan terus kita kembangkan petunjuknya. Unsur, elemen, dan komponen alam semesta menawarkan sebuah perjalanan eksplorasi tanpa batas. Ajaibnya dalam megasistem kesemestaan ini adalah bila kita mengayunkan satu langkah saja maka segera akan tercipta fenomena konsekuensi berupa aturan, dampak, dan rangkaian sebab-akibat. Analisa yang tergesa dan bergenre instan akan menempatkan kita sebagai pendulang akibat yang berkonotasi negatif. Begitu banyak pertimbangan dan perimbangan kepentingan yang harus direnungkan. Konsep dosa virtual memiliki media semua pengambilan keputusan yang terjadi dalam hidup hita. Dosa virtual adalah sebuah “blunder” yang menghasilkan penyesalan. Dan penyesalan yang disadari inilah bentuk azab yang paling canggih. Semakin bertumpuknya azab dan semakin tenggelamnya seseorang dalam lautan penyesalan maka akan semakin terpuruk pulalah kualitas kehidupannya. Fokus, konsistensi, dan konsentrasi akan menyelamatkan kita dari potensi kesalahan pengambilan keputusan. Bila hidup adalah sebuah game strategi yang bersifat “role playing game”, maka kita harus berpikir untuk menjaga eksistensi tokoh “kita” dalam sebuah keberadan yang aman, tenang, dan nayaman secara komprehensif. Sebuah produk bisnis baik dalam genre jasa maupun genre lainnya haruslah mengacu kepada semangat kebaikan kontemporer. Dimana kontribusi bisnis dan aktifitasnya akan dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia, dan bukan sebaliknya !
Kepiting Lemburi Semarangan


Selain sate Pak Amat sebenarnya Semarang punya berjuta penganan enak, sayang tidak bisa kita tulis semua ya. Salah satu yang unik adalah kepiting lemburi. Yaitu kepiting pada fase peralihan cangkang, dimana cangkangnya menjadi sangat lembut dan bisa dimakan dengan mudah. Kepiting ini di daerah Jakarta dikenal sebagai kepiting soka. Ada beberapa rumah makan di Semarang yang menyajikan menu ini, tetapi yang paling istimewa adalah RM Ujung Pandang. Lho kok Ujung Pandang ? Katanya Semarang. Ya ini adalah sebuah ironi, bahwa rumah makan yang mengusung ciri wilayah lain justru dapat menyerap kelebihan lokal menjadi menu yang handal. Pemilik rumah makan ini seorang keturunan Tionghoa berusia mendekati setengah baya. Beliau ini sales yang baik sekali dan dalam berinteraksi dengan konsumen telah menerapkan konsep-konsep psikologi pelayanan. Dalam psikologi pelayanan dikenal elemen courtesy atau dapat pula dijabarkan sebagai keramahtamahan tuan rumah yang elegan. Ciri dari sifat courtesy ini adalah attentive alias dapat memberikan perhatian dengan kadar yang proporsional atau tidak berlebih (over acting), ciri kedua adalah helpful alias tidak enggan untuk menolong konsumen sepanjang masih berada dalam koridor interaksi jasa, ciri berikutnya adalah considerate atau mampu memberikan pertimbangan-pertimbangan yang bijak serta tidak memihak dan memaksa kepada konsumen. Untuk itu semua, sifat courtesy dapat terangkum dalam satu kata yaitu service responsibility.
Aduh, tulisannya kok ngalor-ngidul kemana-mana. Baik, marilah segera kita ulas kekhasan rumah makan Ujung Pandang van Semarang ini. Menu utama yang jadi andalan sebenarnya adalah ikan Papakuluk bakar. Ikan ini di Jakarta dikenal sebagai ikan kambing-kambing atau ayam-ayam, sedangkan di daerah pantura, khususnya Indramayu, dikenal sebagai Etong. Sebenarnya ikan papakuluk ini termasuk dalam keluarga besar ikan karang Balistidae. Kulitnya keras seperti batok kelapa. Bagi yang tidak terbiasa memasaknya akan menemui kesulitan dalam mengolahnya. Tetapi bagi sebagian yang ahli, kulit yang keras ini adalah barokah. Justru bagian kulit ini dapat dijadikan “mangkok masak”. Di RM Ujungpandang, ikan dibelah lalu diberi bumbu ala kadarnya (air jeruk, garam, dan penyedap) lalu langsung dibakar di arang batok kelapa. Minim dan sederhananya bumbu justru mampu menonjolkan rasa dan tekstur daging khas ikan papakuluk ini. Yang istimewa adalah pada saat penyajian, ikan bakar ini selalu didampingi sambal khas Ujung Pandang yang terdiri dari 2 jenis sambal dengan karakter berbeda. Sambal pertama didominasi unsur kacang tanah dan gula merah serta cabe dan daun kemangi, sedangkan sambal kedua terdiri atas campuran petis, cabe rawit, dan tomat . Sebelum mulai menyantap ikan bakar, kedua sambal ini dicampur dahulu hingga merata dan siap untuk dimakan bersama ikan.
Menu berikutnya adalah kepiting lemburi goreng mentega. Menu ini adalah menu favorit saya. Kepiting lemburi yang bercangkang empuk dipotong-potong kira-kira menjadi 4 bagian. Lalu kepiting itu dilumuri oleh tepung beras berbumbu. Setelah tepung merata, kepiting digoreng dalam minyak panas sampai berwarna kekuningan dan tepung menjadi crispy. Lalu setelah itu dibuatlah saus mentega, dengan tambahan saus tiram dan kecap inggris serta perasan jeruk nipis. Kepiting ini sungguh lezat sekali. Saus menteganya gurih dan balutan tepungnya kriyuk-kriyuk, sementara yang paling istimewa adalah rasa cangkang muda dan daging kepitingnya. Sungguh luar biasa, rasa daging kepiting ini seperti melekat di rongga mulut, lezatnya mengalir dan bergulung-gulung seperti ombak. Silih berganti antara gurih, asin, dan manis seolah berlomba menarik perhatian lidah.

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Banyak hikmah yang bisa dipetik dari studi kasus RM.Ujungpandang ini. Tapi saya ingin fokus pada kepiting lemburi, sebuah fenomena transisi yang sangat menarik. Memang dari kasus RM.Ujungpandang kita dapat melihat setidaknya ada perubahan kultural sebuah budaya dengan nilai lokal berhasil diadaptasi menjadi budaya nasional, regional, dan bahkan internasional. “Borderless world”-nya Kenichi Ohmae mulai maujud dalam sebuah fenomena semakin menipisnya batasan fisik antar negara, suku bangsa, ataupun kepercayaan dan keimanan. Di sisi lain, bila makanan yang menjadi duta budaya dapat melakukan penetrasi dimana saja, sebagai contoh adalah fenomena Chinesee food di USA, beberapa polarisasi berbasis keyakinan ruhani justru mengkristal dan menggejala sebagai faktor pembeda. Tentu saja semua fenomena yang terjadi tidak dapat mengekstrapolasi fakta yang sesungguhnya. Begitu banyak pula perdamaian dan saling pengertian yang tercipta dan tumbuh subur secara produktif. Sebaliknya krisis identitas dan peran diri serta nilai acuan mulai menggejala saat banyak personal dan komunitas tercerabut dari akar budayanya. Pada saat Mc Donald, Kentucky, Pizza Hut, Burger King, Hartz Chicken, Ayam Kalasan, Warung Nasi Kapau, atau RM. Dapur Sunda bertebaran di mana-mana, disantap dan dinikmati tanpa curiga, jenggot dan sorban, atau jilbab dan rosario menjadi sumber kekhawatiran dan kecurigaan. Agama makanan menang dalam hal akulturasi. Makanan dianggap sebagai duta tanpa misi kolonialisme. Anti penjajahan dan hegemoni. Karena makanan adalah bentuk kebebasan ekspresi dan preferensi. Kita merasa punya otonomi dan otoritas dalam menentukan selera dan tidak pernah khawatir bahwa selera kita dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Meskipun jika kita berbicara jujur, selera kitapun tak luput dari upaya-upaya manipulasi yang terstruktur. Tetapi kita merasa berkuasa sepenuhnya atas lidah dan kemampuan mencerap rasa. Lalu kita memiliki kebebasan tersendiri untuk menetapkan standar rasa dan parameter yang boleh subyektif. Psikodinamika kontrol menjadikan proses akulturasi makanan sebagai media ekspresi yang merdeka dan terbuka. Bagaimana dengan agama ? Agama dianggap mewakili tradisi hegemoni patrilinial yang identik dengan pemaksaan selera dan tolok ukur yang diseragamkan. Agama menjelma hanya sekedar menjadi dogma. Agama seolah tidak menyediakan “menu” yang renyah, gurih, dan mengenyangkan. Sementara makanan dapat menyediakan menu yang universal. Global, dan cakupan seleranya luas serta multidimensi. Apakah agama memang seperti itu ? Tentu tidak, agama adalah sajian dengan selera yang paling universal dan sangat adaptif dengan berbagai pola kehidupan manusia. Hanya saja kini “klaim” kelezatan, kerenyahan, dan kegurihannya yang terjebak dalam bias katarsis kepemilikan dan keakuan penganutnya. Agama dipahami sebagai hak milik dan diterjunkan dalam sebuah bentuk kompetisi. Padahal dalam Al-Quran secara tegas disampaikan bahwa agama adalah bersifat personal dan mengandung nilai privasi yang sangat tinggi, “Bagiku agamaku dan bagimu agamamu !“
Para pemuka dan pemikir agama kini haruslah mengubah paradigma filsafati agama, agar agama dapat tampil renyah, gurih, dan lezat. Agar agama dapat menjadi kudapan yang selain mencerahkan juga menyehatkan. Agar agama tidak menjadi faktor instigasi yang mendorong terjadinya proses agresi sebagai dampak dari iklim berkompetisi. Kompetisi antar agama dan keyakinan sesungguhnya adalah hal yang positif selama dilandasi konsep berlomba-lomba dalam kebaikan dan kemanfaatan. dan bukannya menjadi lomba eksistensi egosentrisme. Biarlah keyakinan merupakan yang “terbaik” tumbuh dan mekar di hati setiap pemeluk agama, dan biarkanlah pranata sosial menilai siapakah yang paling kontributif dan paling berperan dalam menumbuhkan rasa kasih sayang di dalam peradaban.
Fase kehidupan kita saat ini sedang dalam masa transisi sebagaimana kepiting lemburi yang dimasak oleh Tante Ujungpandang. Masa transisi dalam kehidupan kepiting (scylla serrata spp) ternyata dapat menghasilkan sebuah “ultimate pleasure”. Justru bukan pada puncak usia kematangan ataupun kemudaannya seekor kepiting berkulminasi, melainkan pada saat-saat transisi. Hal ini sangat menarik dan sangat seksi untuk didiskusikan. Mengapa demikian ? Masa transisi atau masa perubahan adalah masa-masa yang paling dinamis dan fluktuatif. Arah perubahan dapat bersifat deterministik ataupun keotik. Perubahan dalam sedikit saja proses transisi akan dapat mengubah hasil akhir secara radikal. Fase transisi adalah fase dimana adrenalin ketidakpastian bergejolak. Keadaan yang tidak stabil dan cenderung tidak pasti ini memberikan berjuta peluang yang seolah mendadak terbuka. Dari perspektif bisnis, fase transisi adalah fase terbaik dalam menyusun rencana bisnis strategis. Guncangan pada pasar modal dan pada kemapanan ekonomi makro dari aspek moneter maupun fiskal akan melahirkan algoritma baru yang menghasilkan sebuah turbulensi yang bersifat dualistik. Di satu sisi dapat menjadi “the great disruption”, alias guncangan yang menjatuhkan ataupun sebaliknya dapat menjadi celah pembuka pelangi. Yang jelas dalam setiap turbulensi akan muncul upaya alami untuk mencapai kesetimbangan. Dan dalam proses mencapai kesetimbangan akan tercipta begitu banyak faktor predisposisi, baik yang bersifat revitalisasi, reformasi, ataupun rekadaya,rekacipta, dan rekayasa. Fenomena brownies kukus Amanda di Bandung, adalah contoh kongkret dimana fase transisi pasar penganan yang mulai jenuh dengan stagnannya kreasi dapat menciptakan sebuah pasar baru yang sangat dahsyat. Hal ini juga yang menjadikan extreme sport sebagai salah satu jenis olahraga yang tak pernah surut peminatnya meskipun mahal dan negara berada dalam kondisi ekonomi yang kritis. Ada kenikmatan tersendiri ketika kita mengarungi gelombang ketidakpastian dan pada akhirnya berhasil mengontrol keadaan. Katarsis kekuasaan seperti ini menjadikan fase transisi adalah “Disneyland” bagi jiwa-jiwa petualang manusia. Bagaimana jika fase transisi dalam bisnis tak kunjung datang ? Dorong dan inisiasilah gelombang perubahan dengan cetusan-cetusan inovasi ! Sebuah temuan yang jeli dari hasil pengamatan yang cermat, terbukti dapat menghasilkan suatu jenis masakan kepiting lemburi dengan cita rasa istimewa yang sungguh luar biasa !






Bebek Peking Betlehem


Jerusalem pagi ini dingin sekali dan berkabut. Saya berjalan mengitari tembok ratapan dan lurus menuju gerbang halaman Dome of Rock. Setelah sejenak mengunjungi Dome of Rock serta menjalankan shalat tahyatul masjid di Masjidil Aqsa, tak terasa matahari telah tiba di titik kulminasinya. Saya bergegas menyusul rombongan yang sebagian besar telah meninggalkan pelataran istana Sulaiman. Tujuan kami berikutnya adalah makan siang di Betlehem. Kami diajak mengunjungi sebuah rumah makan kecil di salah satu sudut Betlehem. Dan rumah makan itu ternyata sebuah moslem chinesee food. Berbagai menu khas chinesee food terpampang di daftar menu. Saya memiliki paduan antara capcay, nasi putih, dan bebek peking yang terkenal itu. Meskipun banyak orang mengatakan bahwa bebek peking yang paling enak di dunia terdapat di 2 rumah makan tertua khusus bebek peking di Beijing, saya toh penasaran ingin mencoba bebek peking van Betlehem ini. Cap cay ternyata datang terlebih dahulu, wuihh nikmat sekali cap cay Betlehem ini, sayurannya segar, kuahnya kental dan beraroma kaldu daging segar, potongan hati ayam, udang, dan daging sapinya banyak dan tidak sporadis seperti cap cay di Indonesia. Yang membuat saya kagum pada chefnya adalah bumbunya pas betul. Saya mulai merasa bahwa saya akan mendapat kejutan nih pada menu berikutnya. Akhirnya yang dinanti-nantipun tiba. Seekor bebek peking utuh dengan kualitas bakaran yang sempurna, hal ini terlihat pada warna coklat keemasan kulitnya, dihidangkan diatas meja. Seorang pelayan keturunan tionghoa dengan menggunakan sebuah pisau yang amat tajam mulai mengiris-iris kulit dan daging daerah dada. Dengan sangat cekatan ia mencelupkan kulit-kulit coklat tadi dengan lapisan lemak bawah kulitnya yang tampak mencair dan menguarkan aroma lezat, ke dalam mangkok bumbu kuah kental. Selanjutnya ia menggulung kulit bebek itu dalam selembar kulit lumpia. Dan gulungan ‘misterius’ itu diletakkan di piring saya, segera saja saya lancarkan gigitan pertama. Alamak…….mak nyuss rasanya lezat dan gurih sekali. Entah rasa apa saja yang berpadu di dalamnya. Tampaknya gurih dari lemak dan kulit bebek berpadu dengan tekstur daging daerah dada, dan disempurnakan dengan pemberian saus yang rasanya gurih, asin, manis, kental, nah lho ? Waduh, Hong Bin Lao di Niaga Tower Jakarta juga lewat nih ! Subhanallah, ternyata di sudut pelosok Betlehem nun jauh itu terdapat rumah makan mungil yang memasak bebek Peking paling enak sedunia.

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Keterampilan atau skills adalah suatu bentuk dari hasil pelatihan dan proses belajar yang berkelanjutan. Untuk memasak dengan tingkat kerumitan tinggi dan memerlukan perpaduan antara estetika, naluri, dan analisa cerdas diperlukan suatu generic skills yang hanya bisa terwujud melalui proses belajar dan berlatih. Dimana posisi bakat ? Bakat adalah adalah suatu ketrampilan yang diturunkan dan teroptimasi melalui media atau lingkungan yang tepat. Sebagian dari kita dilebihkan dari sebagian yang lain termasuk dalam berbagai hal yang bersifat ketrampilan hidup (life skills). Satu ketrampilan yang sebenarnya semenjak awal harus sudah terasah adalah ketrampilan untuk melakukan penilaian diri sendiri (self assesment). Kemampuan evaluasi diri menjadi begitu penting karena dari basis data yang bisa dihimpun dapat dilakukan program optimasi pada potensi yang sudah melekat. Demikian pula yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan untuk menumbuhkan semangat pembelajar. Al-Quran telah menegaskan dan memberikan prioritas sangat tinggi pada proses belajar. Iqro, atau bacalah, adalah suatu bukti nyata yangs ecara eksplisit memerintahkan kita, ummat manusia untuk senantiasa menjadi pribadi pembelajar. Scholar spirit, atau semangat santri sepanjang hayat ini dibutuhkan untuk mengembangkan suatu kemampuan adaptif yang membuat hidup seorang manusia akan selalu sarat dengan nilai tambah (added value). Jika kita simak studi kasus RM.Bebek Peking di Betlehem, maka kita akan menemui sejumlah alasan yang rasional bagi seorang koki untuk menurunkan standar kuliner masakannya. Keterbatasan pengetahuan tentang ilmu kulinari Cina karena rentang geografis dan juga mungkin rentang waktu biologis yang amat lebar antara lokus sumber pengetahuan dengan lokus delicti alias tempat kejadian. Keterbatasan bahan baku, sarana dan prasarana, serta akulturasi selera lokal, bisa saja menjadi alasan yang masuk akal bahwa capaian maksimal kuliner sang koki adalah standar Betlehem saja. Tetapi tentu scholar spirit yang menggelegak dalam dynamic soul-nya sang koki mendorong dirinya untuk terus menuntut ilmu profesi dan mengembangkan metoda-metoda yang sitematis untuk menghasilkan standar cita rasa yang bahkan dapat melampaui benchmark-nya. Lintasan sejarah telah membuktikan bahwa indikasi geografis bukanlah jaminan keunggulan sebuah produk. Sebuah karpet dengan gaya Turki dan dipintal dengan metoda Turki, mungkin yang terbaik justru bukan berasal dari Ankara atau Adana, melainkan dari Guang Zhou ataupun Taipeh. Gudeg kendil yang paling mak nyuss mungkin kelak bukan lagi produksi Bu Juminten atau para expertise gudeg di selokan Mataram ,melainkan bisa saja kreasi Sous Chef Andrea Risoto dari Milan sana. Indikasi geografis adalah suatu komparatif advantage tetapi bukanlah competitive advantage. Jiwa pembelajar, dan semangat untuk mengeksplorasi kemampuan diri dengan arah yang benar, konsentrasi yang terjaga, serta kejujuran terhadap proses evaluasi diri tentu akan menghasilkan karya yang tak lekang oleh zaman. Dedikasi pada optimasi pengembangan diri adalah suatu wujud nyata konsep mensyukuri nikmat Illahi. Kedalaman proses introspeksi dan kontemplasi akan menjadikan prestasi bukan sebuah target melainkan sebuah rapor sampai dimana kita melangkah, dan hendak kemana kita menuju ? Pertanyaan ini disampaikan Allah SWT pada Nabi Ibrahim AS. Hidup dengan visi yang jelas akan menghasilkan konsep diri yang tertata, yang pada gilirannya akan menelurkan nila-nilai acuan yang dijalankan dengan istiqomah dan qona'ah. Kreasi kuliner chef di Betlehem sana, telah meruntuhkan mitos-mitos tentang keterbatasan manusia dan memundurkan limitasi kemampuan manusia menjadi nun jauh ke ufuk sana. Kita, manusia bisa menjadi apa saja yang kita cita-citakan asal punya tujuan yang jelas dan merencanakan pencapaiannya dengan cermat. Dan tentu saja diperlukan kesabaran, konsistensi, dan proses dalam mencapainya. Hirarki pendidikan profesi menunjukkan adanya pembenaran konsep belajar hidup tersebut. Seorang Chef di sebuah dapur hotel berbintang 5 tentulah telah melalui berbagai tahapan pendidikan dan pematangan profesi, di sana ditempa keuletan, kearifan, dan kebijakan dalam menghadapi serta menyelesaikan masalah. Resolusi terhadap masalah terkadang bukan selalu berkonotasi solusi, tetapi dapat juga hanya berakhir pada sebuah proses kontemplasi. Hirarki pendidikan ini juga berlaku pada profesi pilot, dokter, perawat, tentara, dan banyak profesi lainnya. Hirarki ini adalah sebuah “perjalanan spiritual” yang diperlukan (a spiritual neede journey). Perjalan spiritual seorang santri kehidupan haruslah melalui berbagai tahapan yang akan semakin melengkapi spektrum bianglala jiwanya ! JAdi bila anda datang dan menikmati kelezatan bebek peking nun di Betlehem sana, jangan lupa, bahwa sang koki untuk dapat menghidangkan bebek panggang berkulit coklat keemasan itu telah menempuh sebuah perjalanan panjang sebagai musafir nilai kehidupan.





Sate Kambing Queen Alia


Sepulang dari Jerusalem dan Betlehem dengan bebek pekingnya yang luar biasa, saya berjalan-jalan di seputar Amman, ibu kota kerajaan Jordania. Setelah berputar-putar mengunjungi berbagai situs purbakala dan budaya, termasuk gua ashabul kahfi, itu lo sekelompok pemuda dan anjingnya yang tertidur selama 300 tahun, saya memutuskan untuk mencari tempat makan siang. Karena dalam berkelana saya menggunakan bus, maka tempat makan yang saya cari adalah yang berada di sekitar terminal bus. Saya iseng saja berjalan menelusuri trotoar yang terbentang rapi. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada sebuah warung yang didepannya banyak orang mengantri. Perlahan saya coba menyibak kerumunan itu, dan mencoba melihat apa yang sedang terjadi. Segera saya pahami bahwa kerumunan orang yang mengantri itu adalah para calon pembeli yang sedang menunggu pesanannya jadi. Warung itu ternyata adalah warung sate khas Jordania. Satenya distusuk dengan tusukan yang terbuat dari besi, dan dagingnya besar besar hampir setengah kepalan tangan. Satu tusuk terdiri dari 5 kepal daging kambing. Dagingnya dipilih daging has yang banyak berlemak. Sayapun ikut mengantri dan membayar untuk 3 tusuk sate. Setelah tiba giliran saya, saya mendapat 3 tusuk sate raksasa dengan lemak yang masih menetes dan menebarkan aroma setengah gosong, aduh nikmatnya. Cara membakar dan bumbunya sangat sederhana, mungkin hanya menggunakan garam dan minyak zaitun saja, tapi alamak, rasanya ruaar biasa !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Udara dingin, sate, lemak, dan berbagai jenis makanan atau minuman tinggi kalori adalah padanan kata yang serasi bila dipadukan. Jika kita menghabiskan malam di pegunungan Rancawalini-Ciwidey tentu jamak bila kita harus menyebut bandrek, bajigur, ataupun kambing guling. Amman, winter, dan sate kambing raksasa, sungguh suatu laras yang harmonis. Tetapi mengapa begitu ? Mengapa pula asosiasi dan konotasi Iglo adalah lemak Paus, ikan asap, dan mantel bulu ? Manusia adalah mesin defensif yang paling sempurna. Kemampuan adaptifnya diatas rata-rata. Program operating systemnya diawali dengan kata “survival”. Program mulianya adalah mengoptimasi jatah hidup menjadi makhluk yang berharkat, bermartabat, dan bermanfaat. Aspek ketiga bersifat multiperspektif, dapat bermanfaat bagi diri sendiri ataupun bermanfaat bagi sesama. Atau kita masih bingung dan rancu ? Karena implikasi dari bermanfaat bagi sesama biasanya akan menjadi bumerang dan berbalik menjadi bermanfaat bagi kita juga. Sehingga terjadi pergeseran motivasi, setiap orang menjadikan kontribusinya sebagai torehan prasasti kemenangan. Dalam Islam kemenangan sesungguhnya adalah pada saat kita berhasil meniadakan rasa “menang” di dalam hati kita. Pada saat ke“akuan” runtuh dan menghablur menjadi kesadaran sosial kosmis, bahwa segal kelebihan kita adalah faktor kontribusi produktif untuk melengkapi sebuah kesetimbangan besar. Tapi manusia gagal mengenal dirinya, apalagi fungsi dan peran yang sesungguhnya. Kebutaan identitas itu menimbulkan teror ketakutan, dimana setiap kepentingan menajdi bagian yang harus diamankan. Lalu manusia mengembangkan angkatan perang dan membelanjakan 30-40% sumber daya yang dimilikinya untuk “memerangi” ketakutan yang ditumbuhkannya sendiri di dalam hatinya. Ketakutan ini seperti wabah, ia menyebar dan menjadi suatu paranoia komunal. Langkah-langkah agresi dilakukan dengan alasan “it's all about time”, kalau tidak saya dahului maka ia yang akan menindas saya. Ketakutan ini menjadikan manusia sebagai kelompok makhluk yang depresif berat, lalu bertransformasi menjadi sekumpulan makhluk manik dengan sindroma bipolar. Muncullah gejala split personality yang dianggap normal. Di satu sisi menjunjung tinggi nilai norma dan asas keadilan di sisi lain membenarkan konsep preventif yang represif. Sebagian manusia terbenam dalam kegilaan membentengi diri dan kepentingannya secara luar biasa. Mereka menutup semua ruang untuk berbagi dan mengisi ruang-ruang imperialisme itu dengan lautan kecurigaan dan periskop yang tidak mencerminkan kesetaraan. Anggaran pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan termarginalisasikan oleh kepentingan pertahanan. Ansietas atau kecemasan meningkat secara eskalatif. Setiap teknologi dan produk investatif yang berpotensi menjadi alat kontrol diperebutkan dan dibandrol, baik dengan harga maupun dengan label kepemilikian. Hak paten dan kekayaan intelektual menjadi uatu mekanisme kontrol yang efisien. Penguasaan akses terhadap peradaban menjadikan terjadinya pergeseran pertempuran bathin manusia dari domain fisik ke domain virtual. Kepemilikan menjadi suatu alat penjajahan baru, dimana status “memiliki” menjadi jaminan keamanan dan ventilasi ketenangan sementara. Jaminan tak terabaikannya kepentingan.
Lihatlah nilai luhur Ibu-Ibu kita yang dengan ikhlasnya mewariskan 75% materi genetika (50% cDNA dari nukleus dan 100% mtDNA dari mitokondria).Dari 75% materi genetika yang dihibahkan, didalamnya meliputi modal dasar kesabaran, kecerdasan, dan software kebijaksanaan menata hidup. Dalam perjalanannya, manusia yang bergender wanita bahkan sering dianggap warga dunia kelas 2. Tetapi kontribusi faktual yang ikhlas memang tidak membutuhkan bentuk-bentuk apresiasi yang komikal, biarlah ia menguar menjadi bentuk-bentuk abstrak yang segera saja akan menghablur dengan tarian kesemestaan yang nirpamrih. Dalam perspektif bisnis, jadilah seorang manajer atau pelaku usaha yang tidak dimotivasi oleh hanya sekedar ketakutan. Bisnis yang bersifat defensif akan menjadi bisnis yang garang dan target oriented. Pada perjalanannya tipe bisnis ini akan menjadi bisnis yang bersifat instan dan cenderung menafikan proses, apalagi hirarki. Bisnis tipe ini akan memilih proses “karbitan” ketimbang proses matang di pohon !
Catatan :
Jordania adalah sebuah negara yang di zaman Rasulullah SAW dikenal sebagai Syam. Beberapa kali di usia mudanya Rasulullah berniaga ke negeri yang satu ini. Secara historis negara ini juga menyimpan peninggalan sejarah eberapa Nabi seperti Nabi Syu’aib, Musa, dan Harun. Pertempuran besar di era Islam juga pernah terjadi di sini. Jordania adalah front terdepan pasukan Muslim yang berhadapan dengan pasukan Kekaisaran Byzantium Timur ( Romawi Timur). Salah satu panglima besar kaum muslimin yang memimpin pertempuran ini adalah Khalid bin Walid.
Lele Abang di Bukit Bintang


Siang ini saya kehausan dan kelaparan setelah seharian berputar-putar dan berkeliling mengurus visa study di kantor imigresen Malaysia. Saya melangkahkan kaki menuju daerah bukit Bintang untuk mencari makan siang. Maklum bagi yang berpengalaman, di lorong-lorong kecil Bukit Bintang banyak warung tenda melayu yang menyajikan makanan murah meriah dan juga dilengkapi dengan es Bandung. Lho kok ada es bandung di Kuala Lumpur ? Es Bandung ala KL sebenarnya adalah es sirup merah dengan paduan susu kental manis, rasanya menyegarkan sekali, apalagi kalu diminum siang hari.
Siang ini saya memutuskan untuk makan di warung Abang di belakang hotel Agora, tempatnya agak tersembunyi di belakang deretan pertokoan dan sederhana sekali. Abang setiap harinya menjelang makan siang, menggelar sebuah meja panjang dan 2 buah payung tenda. Di meja panjang itu diletakkan beberapa baskom ukuran besar yang di dalamnya terdapat berbagai jenis masakan khas melayu. Menu ikan adalah menu utama, hampir setiap harinya ada 3-4 jenis maskan ikan yang terhidang. Dan ikannyapun beraneka jenis dan beragam pula cara memasaknya. Di warung Abang ini menu yang paling digemari adalah sotong masak pedas. Yaitu sotong besar dengan bumbu berupa campuran antara santan, cabai merah, kunyit, sedikit jahe, bawang merqah, bawang putih, garam, dan daun sereh. Wuihh rasanya mantap banget bro ! Dari berbagai jenis ikan yang terhidang masakan gulai atau kari yang paling banyak diminati, ikannya aneh-aneh dan jarang dijumpai di Indonesia. Kepala ikan juga tersedia dalam kuah gulai, sangat nikmat menyeruput dan menyedot sari-sari ikan yang gurih di sela-sela tulang kepala, dan bumbunya sungguh pas terasa di lidah. Bagi yang menggemari ikan goreng jangan khawatir, karena baik ikan goreng biasa maupun ikan goreng balado selalu tersedia. Tetapi yang menjadi favorit saya adalah balado Lele. Ikan yang satu ini rasanya amat berbeda dengan lele yang sering kita jumpai di warung pecel lele di Indonesia. Lele Malaysia meski masih sama-sama spesies Clarias Batrachus tetapi ukurannya besar dan dagingnya gurih sekali, bahasa melayunya adalah ikan Keli’. Bila di Indonesia lele yang besar adalah lele dumbo, tapi sayangnya dari masalah rasa sering dikomplain karena terasa hambar atau tawar. Sedangkan lele di tempat Abang Bukit Bintang rasanya nendang lho ! Digoreng garing dan dipulas dengan bumbu balado yang pedas, merah, dan berminyak, aduh nikmat sekali bila disuap dengan nasi yang pulen. Alhamdulillah, nikmat sekali rasanya bersantap siang di warung si Abang di bukit Bintang ini !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Melongok di warung Abang di Bukit Bintang ini mengingatkan saya akan sebuah buku yang ditulis oleh Prof.Dr.Deddy Mulyana,MA, judulnya : “Komunikasi Efektif”. Tema yang diusung adalah berkomunikasi secara efektif dengan pendekatan lintas budaya. Ada satu artikel di dalam buku tersebut yang sangat menggelitik serta menohok urat tawa. Betapa naifnya kita jika harus memaknai sebuah perbedaan. Meskipun kita semua memahfumi bahwa perbedaan muncul sebagai suatu proes dinamis yang dilahirkan oleh mekanisme adaptasi dan pranata sosial budaya yang dikembangkan. Ada beberapa bangsa yang menjadi sangat teliti dan cermat dalam menata kehidupan mereka, ada pula yang bersifat avonturir alias mengedepankan spontanitas, dan ada pula yang “moderate” alias merepresentasikan gabungan berbagai budaya. Kisah kocak yang digambarkan Prof.Deddy adalah petunjuk penggunaan sikat WC yang dipasang di fasilitas WC umum di Jerman. Keterangannya sangat detail dan ilustrasi yang diberikanpun sangat filmografis. Tergambar di sana bahwa sikat WC bukanlah sikat gigi, bukan pula sikat (maaf) pantat, melainkan sikat kloset. Sedemikian terperinci informasi dan aturan yang diberikan oleh bangsa Jerman di fasilitas publiknya. Kondisi ini mencerminkan bahwa bangsa Jerman adalah bangsa yang menginginkan kepastian dan berharap kepastian bersifat deterministik. Jadwal angkutan umum (kereta, pesawat, bus,trem) semuanya terukur dan dan dapat ditepati sampai dengan skala detik. Rasa aman yang diperjuangkan bangsa Jerman adalah kemampuan untuk meramalkan dan memprediksi apa yang akan terjadi, dan apa yang akan terjadi itu haruslah sesuai dengan perencanaan. Sebuah gambaran sistem yang “mendekati” sempurna. Airbus sebagai salah satu raksasa industri pesawat terbang eropa, banyak sekali diwarnai konsep deterministik dan efisiensi ala Jerman. Kemungkinan kecerobohan manusia (negligence, human error) diminimalisasi dengan mengurangi peran kontrol manusia. Peran pilot dikudeta dan diserahkan kepada junta perangkat kontrol digital. Konsep fly by wire diperkenalkan. Piranti lunak dan berbagai program yang dikembangkan menjadi sangat antisipatif dan memiliki algoritme yang rumit, dipersiapkan untuk menunjang sistem operasi penerbangan. Seri A-320,A-340,sampai dengan A-380 memiliki kokpit yang sangat simpel dan sederhana, dimana peran pilot sudah sangat minimal. Mengapa ? Karena pilot adalah manusia, dan manusia rawan atau berpotensi untuk berbuat kesalahan. Apakah paradigma ini benar 100% ? Prof.Oetarjo Diran pernah menceritakan pada saya sebuah tragedi nahas yang dialami oleh pesawat model Airbus di suatu Air Show (Paris ?). Pada saat demo touch and go pilot lupa menonaktifkan auto pilot, akibatnya sistem kontrol pintar pesawat bingung dan tidak mengenali kondisi yang sedang dialami oleh pesawat. Data yang masuk menunjukkan bahwa pesawat sedang dalam proses landing, tetapi ada perintah manual untuk segera tinggal landas kembali. Upaya pilot mengambil alih kendali gagal, throttle dan flap terkunci. Pesawat nahas itu tidak memiliki energi kinetik yang cukup untuk mengalahkan drag dan melawan gravitasi. Jatuhlah pesawat demo itu. Tapi dari peristiwa itu para insinyur Airbus menjadi lebih bersemangat untuk mengembangkan piranti lunak kendali pesawat yang lebih kompleks skenarionya. Mereka membangun sistem neural network dan mengembangkan kemampuan forecasting, serta beradaptasi dengan berbagai kondisi penerbangan. Dan inovasi mereka masih terus dan tidak akan pernah berhenti. Ini seperti sebuah satire tentang manusia yang mendesain alat bantu untuk mengurangi kecacatan dan kelemahannya. Manusia dalam hal ini me“masrah”kan nasibnya pada sistem yang dibuatnya sendiri. Kita menjadi tidak confidence terhadap kemampuan kita yang rawan kesalahan tadi. Lalu bagaimana kalau kerawanan kesalahan itu maujud dalam bentuk desain sistem kendali yang tidak sempurna ? Para insinyur mengembangkan sistem kerjanya dengan menerapkan quality control bertingkat dan mengembangkan pula panduan operasional. Kesalahan personal akan diminimalisasi dengan kecermatan komunal. Dan memang hasilnya cukup berhasil, saya pernah terbang dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat di atas Srilangka, Bengal Bay, dan sebagian India (Mumbai). Perjalanan pertama ke arah utara dengan menggunakan sebuah Boeing 777 milik SQ. Terlihat di bawah kami lapisan cumulonimbus yang menggetarkan hati. dan memang, tak berapa lama kemudian B-777 ini berguncang-guncang dalam perangkap turbulensi. Sekitar 1 jam kondisi ini berlangsung. Dalam perjalanan pulangnya saya menggunakan sebuah A-340 milik Turkish. Di daerah yang sama cumulonimbus itu masih tetap ada di sana. Tetapi A-340 secara otomatis langsung mengurangi kecepatan jelajahnya menjadi sekitar 640 Km/jam dan mempertahankan ketinggian di 34.000 kaki. Hampir tidak ada guncangan yang terasa, sungguh suatu penerbangan yang sangat nyaman. Pada saat melintas dengan B-777 Captain in command bahkan sampai memutuskan untuk menambah ketinggian jelajah sampai sekitar 38.000 kaki. Pernah pula dengan B-747-400 Garuda ketinggian jelajah dinaikkan sampai 41.000 kaki. Sistem fly by wire berhasil mengantisipasi kondisi penerbangan yang cukup ekstrem.
Lalu apa hubungannya ini dengan warung Si Abang ? Warung Abang di Bukit Bintang adalah sebuah refleksi budaya masyarakat Melayu yang hangat dan bersahabat. Keteraturan dan sifat deterministik cair di sini. Higiene,sanitasi, ataupun perpaduan gizi menjadi pertimbangan nomor kesekian, yang penting komunikasi dari hati ke hati dan keakraban tercipta di sini. Apakah semua pengunjung warung Abang menjadi disentri, kolera, atau tipus ? Ternyata hampir tidak ada komplain tuh, artinya semua sehat-sehat saja. Sebuah sistem yang deterministik ala Jerman menghasilkan sebuah Airbus yang sehat dan canggih, tetapi sebuah warung non steril dan di bawah standar kesehatan komunitas juga berhasil menjadi provider jasa yang sehat dan canggih. Airbus dan Warung Abang jadi homolog, walaupun beda genre dan beda filosofi !
Bila berorientasi pada hasil, mana yang anda pilih ? Manajemen dengan aturan atau manajemen gembira ria ? tentu saja bergantung kepada konsumen yang anda hadapi, apakah yang mereka inginkan ? Apakah yang menentukan apa yang mereka inginkan ? Persepsi tentang nilai dan hasil belajar tentang “kehendak”. Budaya kita adalah budaya instan yang kurang usaha dan cenderung mengemohi proses. Lihat saja Low Cost Carrier yang menjamur di tanah air. yang penting murah, cepat, dan selamat. Yang terakhir ini agak kontroversial, karena untuk status selamat kuncinya doa, yang kita lupa ikhtiarnya mana ?

Catatan :
Kuala Lumpur ( KL) adalah sebuah kota yang sangat bersahabat. Kota ini dirancang untuk dapat mengakomodir berbagai kebutuhan fisik dan psikologi warganya. Fasilitas transportasi publik sangat baik. Kereta api KTM Komuter menghubungkan simpul-simpul kluster hunian satelit dengan pusat kota dan kluster lainnya, lalu ada pula Light Railway Transport ( LRT) dan Monorail yang menghubungkan bebragai titik strategis di dalam kota. Keberadaan stasiun KL Sentral sebagai hub yang menghubungkan antara KL dengan daerah lain dan bahkan Bandara Internasional KLIA adalah salah satu kekuatan tersendiri. Layanan kesehatan yang paripurna bagi warga juga merupakan salah satu keunggulan KL. Rumah sakit UKM yang terletak di Cheras misalnya, adlah salah satu rumah sakit pendidikan dengan teknologi pelayanan yang dapat dikategorikan sebagai yang terbaik di Asia Tenggara. Sektor pendidikan baik formal maupun informal juga mendapat porsi perhatian yang sangat besar. Pusat edukasi sains banyak dididirikan di seputaran KL.
Kepiting di Simpang Lima


Di salah satu sudut Simpang Lima Semarang, tepatnya di depan STM Pembangunan, ada satu warung tenda yang khusus menjual sea food, namanya warung Nikmat Rasa. Pemiliknya seorang Mbak-Mbak berusia di awal tigapuluhan, beliau ini ramah sekali pada para pembeli, khususnya pembeli yang sudah menjadi langganan. Yang istimewa dari warung ini adalah display kepitingnya. Dua keranjang plastik besar berisi kepiting super atau jumbo dengan ukuran spektakuler dan kepiting telur di letakkan di jalan masuk ke warung. Pembeli dapat memilih kepiting yang dikehendakinya dan memesan masakan sesuai selera. Tetapi sesungguhnya di sini ada menu istimewa yaitu kepiting goreng caos. Caos yang berpadu dengan kepiting telur yang digoreng garing memberikan sensasi rasa yang luar biasa, Subhanallah ! Caos terdiri dari gerusan kacang tanah, sedikit cabai, saus tomat warungan, dan mungkin ada unsur bawangnya. Kepiting digoreng dengan minyak yang sangat panas sehingga garing sekali bagian-bagian cangkangnya. Setelah kepiting masak maka caos pun dicampurkan dalam suhu tinggi, lalu kedunya menyatu dan saling memperkuat rasa.
Menu lain yang tak kalah nikmatnya adalah udang goreng garing/mentega ataupun goreng caos. Udang yang berukuran tidak terlalu besar (penaeus) digoreng garing dengan minyak sangat panas dan dipadu dengan caos sebagaimana kepiting caos. Pokoknya warung sea food nikmat rasa ini nikmat sekali deh !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Keselarasan adalah tujuan adiluhung yang didamba setiap unsur di alam semesta. Setiap makhluk ciptaan Allah SWT didesain untuk dapat tampil selaras dan sesuai dengan proporsinya. Dalam studi kasus kuliner di atas, sizing adalah suatu fenomena menarik. kepiting ukuran jumbo apakah lebih gurih dari kepiting yang berukuran lebih kecil ? Belum tentu. Kepiting kecil mungkin akan terasa lebih nikmat dan proporsional dengan jumlah nasi yang terhidang serta jumlah rupiah yang dipasang. Keselarasan meliputi keseimbangan kuantitatif dan juga keseimbangan kualitatif. Kedua keseimbangan ini mendorong terciptanya kepuasan psikologis. “Whorted”, kata anak sekarang, “Six Sigma”, kata pakar manajemen. Keselarasan juga tercipta dari pemilihan padanan yang sesuai. keserasian padanan membutuhkan kecermatan dan ketrampilan tersendiri. Si Mbak Nikmat Rasa berhasil memadupadankan bumbu kacang, saos tomat, cabai, minyak kelapa, dan kepiting. Jadi dari contoh kecil dan sederhana di atas kita dapat memetik hikmah bahwa secara praktis sizing dan partnering akan menentukan keberhasilan keselarasan sebuah produk. padahal “selaras” adalah sebuah nilai yang punya selling point khusus.

Catatan :
Kepiting atau Scilla Serrata spp adalah keluarga crustacea yang banyak dijumpai di daerah air payau, muara, dan hutan mangrove. Tempat pemijahan idealnya adalah di sela-sela akar pohon bakau ( rhizopus) dan Avicenna. Di Indonesia, khususnya di daerah kepualauan Tarakan Kalimantan Timur terdapat jenis kepiting yang berukuran amat besar, yaitu Ketam Kenari atau Birgus Latro spp. Dagingnya sangat gurih dan amat lezat jika dimasak dengan berbagai bumbu. Ketam ini bisa memanjat pohon kelapa dan memakan daging buahnya. Sementara itu keluarga crustacea terbesar di dunia adalah Kepiting laba-Laba Jepang atau Macrocheira Kaempferi, rentang capitnya bisa mencapai 4 meter !





Kepiting Gemes Yu Nani


Masih bicara soal kepiting nih, keluarga Scylla Serrata yang lezat rasanya ! Di Pekalongan tepatnya di jalur antar kota menuju Pemalang terdapat rumah makan Yu Nani. Rumah makan legendaris yang sempat membuka cabang diberbagai kota yang sayangnya tidak begitu berhasil. Setiap melakukan perjalanan darat dari Bandung ke Semarang atau sebaliknya saya selalu singgah di rumah makan ini. Seperti sudah menjadi ritual khusus begitu. Dan menu yang selalu saya pesan adalah Kepiting Gemes Jumbo. Menu ini lezat sekali, sulit untuk mengatakannya dengan kata-kata, lebih baik anda juga langsung merasakannya. Kepiting yang berukuran Jumbo alias raksasa digoreng terlebih dahulu lalu kemudian dibaluri dan “direndam” dalam saus gemes. Saus gemes ini mengandung misteri karena rasanya gurih sekali. Dari pengamatan saya tampaknya ada unsur tomat, cabe merah, penyedap, bawang putih dan beberapa unsur lain yang masih misterius. Tapi yang jelas saus ini pasti akan membuat anda menjilati jari-jemari anda jika di sana masih sedikit tersisa sausnya. Pokoknya saus ini imajinatif banget, sebuah terobosan kuliner yang sangat spektakuler. Sehingga sebenarnya saya ingin mengusulkan pada pak Bondan (Jalan Sutra) agar resep saus kepiting ini dinobatkan menjadi salah satu warisan kuliner Nusantara. Masak kita kalah dengan resep bebek Peking yang sekarang sudah mendunia !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Yu Nani adalah sebuah brand. Sebagai Brand ia sudah dikenal setidaknya di regional Jawa Tengah. Brand yang terkait dengan nama biasanya menunjukkan reputasi dan kredibilitas. Bila nama itu terkait dengan bisnis jasa kuliner, maka reputasi dan kredibilitasnya pasti terkait erat dengan masalah "rasa". Kemampuan untuk menghadirkan cita-rasa dengan kualitas khusus serta bersifat ajeg bukanlah perkara mudah. Variabel yang terlibat di dalam proses produksi cita rasa amatlah beragam. Mulai dari kualitas bahan, kondisi bumbu, karakteristik minyak, bahkan sampai menyangkut pada personal mood. Kemampuan untuk mereplikasi sebuah resep yang terstandar sekalipun merupakan usaha yang sangat sulit. Bukankah sering kita dapati resep-resep masakan di majalah atau tabloid yang sudah sedemikian detail memberikan ukuran dan takaran bumbu serta bahan lainnya, tetapi ketika selesai diolah cita rasa yang diharapkan tidak muncul. Mungkin kita juga sering terperangah melihat ketrampilan para koki handal seperti Pattirajawane di Gula-Gula Trans TV, Pak Bondan di Bango Trans TV, Adi di TV 7, Mas Rudi Choerudin di beberapa televisi, atau mungkin Bu Sisca Suwitomo di Indosiar. Dapat juga kita saksikan beberapa chef jawara berlaga di kitchen stadiumnya Derry Drajat di Indosiar. Tetapi semua resep yang disampaikan, dicontohkan, bahkan terkadang disertai tips-tips yang amat praktis, gagal diterapkan pada proses yang kita lakukan. Dalam bisnis dan manajemen hal demikian sering pula terjadi. nasihat dan tips-tips canggih dari Philip Kotler, Steven Covey, Al Ries, Hermawan Kertajaya, Kahfi Kurnia, Mario Teguh, sampai Danah Zohar dan Daniel Goleman sering kita coba terapkan tetapi gagal memperoleh hasil akhir seperti yang kita harapkan. Berbagai teori tentang branding, focus, anti marketing, aplikasi spiritual quotient, 7th&8th habitsnya Covey, sampai marketing in venusnya Hermawan sudah tersedia dalam bentuk "resep" yang amat lengkap dan tersistematika dalam urutan langkah-langkah yang harus ditempuh dan diterapkan. tetapi sekali lagi, hasil akhir bisa jauh berbeda dari perkiraan. Marilah kita mengacu pada proses memasak dan produksi cita rasa. Resep yang lengkap dan terkuantifikasi secara amat rinci masih amat dipengaruhi oleh berbagai variabel perancu seperti : tingkat kesegaran bahan yang bersifat amat relatif, kandungan zat aktif dalam bumbu yang juga sangat relatif (bergantung pada umur, tempat menanam, kondisi cuaca pada saat menanam dan panen, proses pengolahan pasca panen, pola distribusi, pola penyimpanan, dan juga pola pengolahan akhir sebelum dimasak). Secara ekstrem bahkan cara memotong, menggerus, ataupun mengiris bahan atau bumbupun sangat mempengaruhi kualitas cita rasa. Sehingga bila kita melihat segala kerumitan dan faktor yang mempersulit tersebut, maka proses produksi dalam industri cita rasa adalah sebuah proses industri yang sangat rumit. Sungguh luar biasa mereka yang dapat mempertahankan standar kualitas cita rasa dan mampu secara berkesinambungan dan berkelanjutan menghasilkan sebuah standar cita rasa yang stabil atau ajeg. Manajemen ini patut untuk dijadikan acuan bagi berbagai jenis dan genre manajemen lainnya. Kecermatan dan kemampuan serta ketrampilan untuk menegakkan standar operasi yang mampu meminimalisasi bias, diterapkan mulai dari kriteria pemilihan bahan. prasyarat bahan baku yang baik haruslah disusun secara sangat sistematis dan mampu mengurangi faktor penyimpangan. Proses pengolahan juga haruslah dijalankan dengan panduan yang teramat ketat dan dan menggunakan kaidah-kaidah yang senantiasa terukur dan sama persis di setiap tahapannya. Seni memasak Jepang adalah salah satu contoh kesempurnaan metoda dan standar cita rasa. Terkadang ada beberapa jenis makanan tertentu yang disesuaikan dengan musim agar hasil optimal dapat tercapai. jenis masakan kaiseki sangat mempertimbangkan potensi musim seperti semi atau panas. Kesempurnaan cita rasa tidak hanya tercermin melalui pemilihan bahan dan kesesuaian musim, bahkan pada ukuran, warna, dan garnis serta saus yang dipilihpun dapat menjamin tingginya tingkat akurasi dan kepresisian. Coba kita lihat sushi, onigiri, ataupun gorengan tempura. Ada semangat untuk menjaga standar tertentu yang menjamin kesetaraan cita rasa. Tetapi dalam manajemen kuliner ada sekurangnya dua fenomena yang amat menarik, yaitu : penyederhanaan proses dan optimasi pemanfaatan teknologi seperti yang dilakukan oleh berbagai bisnis makanan waralaba siap saji. Mesin pengolah seperti kompor, penggorengan, pengaduk tepung dan bumbu, serta lemari penyimpanan diseragamkan. Jumlah dan kadar bahan serta bumbu dibuat dalam takaran-takaran baku. Lalu rasa yang tersaji hampir semua "plain" alias datar. kesederhanaan makanan waralaba memang pada akhirnya dapat menjamin mutu dan standar cita rasa, tetapi makanannya seolah "hambar tak berjiwa". Untuk segi kepraktisan dan kecepatan serta efisiensi pelayanan maka produk ini punya keunggulan. Produk makanan waralaba ini memiliki filosofi dasar seperti Airbus, berusaha meinimalisasi human error melalui penerapan sistem yang teramat ketat. Sumber daya manusia hanyalah menjadi salah satu komponen dari rantai produksi. Mereka menjadi alat produksi sesuai dengan jenis pelatihan yang mereka terima. Dalam hal ini terjadi proses mekanisasi, otomasi, dan robotisasi. Senyum customer service-nyapun terprogram dan tidak keluar dari hati. Sebagai sebuah mesin uang, sistem ini berjalan dengan baik. Tetapi sebagai sebuah instalasi seni, industri ini kehilangan ruh kemanusiaan. Padahal memasak adalah sebuah olah pikir yang sangat humanistik. Maka fenomena kedua yang berkembang adalah "pengayaan intuisi" atau saya lebih senang menyebutnya "kecerdasan integratif". Tipe kecerdasan ini merupakan gabungan antara kepekaan inderawiah dan kepandaian analitik. Kecerdasan jenis ini mengeksplorasi seluruh potensi akal budi. Peran fluktuasi jiwa dengan letupan-letupan emosinya serta cetusan-cetusan gagasan segar dari neocortex akan berpadu dengan memori dan pengalaman yang dihimpun melalui proses belajar. tidak cukup hanya berhenti di sana, semua potensi itu masih diimbuhi pula dengan ketrampilan psikomotorik yang terasah melalui berbagai latihan yang didapat selama menjalankan proses "magang". Industri makanan bergenre ini biasanya membawa "kelezatan" tersendiri, yaitu kelezatan yang datang dari hati. Tengkleng Pasar Klewer, tongseng Banyumas, Sate Kambing 29 gereja Blenduk, gatot, tiwul, ataupun mie Jowo Mugas semuanya dimasak dengan hati. Mereka tak punya takeran, tak punya mesin canggih yang terprogram secara komputerial. Yang mereka punya adalah pengalaman bathin "mengulek", mencium, membaui berbagai jenis bumbu dapur, kejelian pengamatan visual, serta kepekaan lidah yang super cerdas. Semua potensi itulah yang berkembang menjadi ketrampilan generik terprogram yang sering disebut sebagai "feeling" dalam memasak. Kedua fenomena ini sama baiknya, bila yang pertama dapat mendunia, mengglobal melintasi batas negara, suku bangsa, dan agama, maka fenomena dan pendekatan yang kedua hanya berkembang dalam skala lokal. Sistem yang dikembangkan untuk meregenerasikan keilmuannya adalah dengan proses "melakukan" dan memberikan pengalaman profesional. Beberapa jenis industri makanan berupaya menggabungkan keduanya dan memetik hikmah dari setiap keunggulan masing-masing pendekatan. Tapi dari segi kualitas kepuasan, fine dining yang sesungguhnya adalah menyantap semangkuk rawon dengkul panas yang langsung dimasak dan disajikan oleh sang "super chef" nun di pelosok Kabupaten Malang sana.
Dalam konteks manajemen, anda punya pilihan, ingin mengoptimalkan fungsi dan potensi adikodrati seorang manusia, atau mungkin anda ingin mengembangkan sebuah supra sistem yang digdaya dan minim kesalahan. Tapi mesin tidak punya jiwa lho !

Catatan :
Pekalongan adalah sebuah kota tua di pesisir utara Jawa yang terkenal karena industri batiknya. Sebenarnya selain batik, Pekalongan juga memiliki tempat khusus dalam sejarah kesusateraan Indonesia. Alkisah dalam dongeng sejarah klasik jawa “Roro Mendut”, pujaan hati tokoh Mendut adalah Pronocitro yang tak lain dan tak bukan adalah putra seorang taipan wanita asal Pekalongan bernama Nyai Singobarong. Dalam hikayat ini dikisahkan bahwa Nyai Singobarong adalah seorang enterpreuner tangguh yang bisnisnya bergerak dalam hal ekspor-impor domestik dan internasional. Armada kapal dagangnya mengarungi seluruh lautan Nusantara dan bahkan banyak singgah di pelbagai pelabuhan manca negara. Epik Jawa di era kejayaan Mataram ini memperlihatkan sebuah fenomena konflik yang halus antara budaya agraris yang cenderung patrilinial, primordial, dan hirarkial dengan budaya bahari yang bersifat terbuka, egaliter, emansipatoris, dan partisipatoris. Tak heran di jaman kiwaripun pengusaha boga yang terkenal dari Pekalongan adalah Yu Nani, seorang wanita enterpreuner yang tangguh.

Kambing-Kambing Babe Lili


Di suatu siang yang terik, sepulang dari RSCM/FKUI dengan menumpang bajaj yang terus saja gemeteran, saya melewati sepenggal jalan Wahid Hasyim bagian ujung untuk menembus ke stasiun Gambir. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada satu titik dimana terlihat asap mengepul-ngepul sangat dahsyat, saya menduga tentunya ada kebakaran di sana. Segera saya bertanya pada abang tukang bajaj, “Bang apa di sana itu ada kebakaran ?”, tapi sang abang bajaj tenang-tenang saja malahan sedikit tertawa, “Oh itu Babe Lili Mas !” Babe Lili ? Saya jadi penasaran, siapa pula si Babe ini ? Akhirnya karena penasaran, saya minta abang bajaj putar haluan dan tancap gas dengan tujuan meluruk si Babe Lili. Tapi alamak, mendekatpun kami tak bisa, radius seratus meter dari sana jalanan sudah macet total. Mobil-mobil mulai yang mewah sampai yang angkutan kota berderet-deret menunggu giliran untuk parkir. Walhasil sayapun melompat dari Bajaj dan bergegas berjalan mendekati warung si Babe Lili. Benar dugaan saya, baru saja saya melangkah mendekati pintu masuknya sudah terlihat antrean yang mengular, masing-masing sibuk berteriak mengomandokan pesanannya. “Kambing-kambing 10 !”, “Cumi 5”. Terus terang sayapun bingung apa lagi ini maksudnya kambing-kambing ? Tapi kalo kelihatan bloon gengsi kan ? Maka saya langsung ikut berteriak “Kambing-kambing 2 !”, cumi 1 bungkus !”. Lalu saya mengantri kursi, karena tidak satupun kursi yang tersisa. Ketika saya dapat kursi tak lama berselang pesananpun tiba. Wuih, aduhai, amboi, Subhanallah ! Surga dunia ini, rasa ikan kambing-kambing bakar ini ruaaar biasa ! Perpaduan bumbu dressing seperti kunyit bawang merah, bawang putih, santan, dan gula terpadu sempurna dengan bumbu bakar seperti kecap dan minyak kelapa. Eh terus dimix dengan tekstur dan rasa daging kambing-kambing yang khas. Pas bener ! Nikmat cing ! Penasaran saya mengintip cumi dalam bungkusan, sebenarnya cumi ini oleh-oleh buat istri tersayang, tapi apa boleh buat aromanya sangat menggoda sih ! Saya mencomot sebuah kepala cumi dan langsung mengudapnya, Alhamdulillah, rasanya lezaaat sekaleee ! Ya Allah terima kasih atas hidayah-Mu yang telah membimbingku hingga dapat sampai di sini melalui sebuah peristiwa yang jelas tidak disengaja.

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Babe Lili ini tergolong manusia langka yang jeli. Terkadang di tangan orang-orang yang termat jeli seperti Babe Lili, lumpurpun bisa jadi berharga. Inovasi dan kreatifitas olah pikirnya menembus dinding keterbatasan dan terkadang merobohkan tembok ketidakmungkinan. Ikan Kambing-kambing adalah sejenis ikan karang dengan kulit yang teramat keras. Karena banyak orang tidak tahu cara mengolahnya, maka harga ikan ini menjadi sangat murah. Pernah terjadi harga ikan ini di pasar ikan Muara Angke hanya Rp.2000,-/kg. Lalu muncullah sosok Babe Lili, yang dengan cerdasnya mengatasi permasalahan kulit keras ikan kambing-kambing. Kulit ikan yang seperti mangkok itu dilepas terlebih dahulu dengan teknik pemotongan yang tepat. Keluarlah daging ikan yang sangat kenyal dan gurih. Tekstur daging ikan ini sangat cocok untuk dibakar. rasa gurih proteinnya berpadu serasi dengan kelezatan lemak dari minyak kelapa. Terlebih lagi Babe Lili membakar ikan ini dengan arang batok kelapa. Aroma khas dari batok kelapa akan menyatu dengan cita rasa daging ikan bakar dan memberikan kesan legit yang mendalam. Sesungguhnya keberhasilan Babe Lili adalah pada teknik inovasi sederhananya, yaitu berhasil mengembangkan metoda kupas yang efisien. Itu saja, selanjutnya gerbang kesuksesan sudah terbuka sendiri baginya ! Bagaimana para pelaku bisnis ? Apakah anda sudah mulai merancang "teknik kecil" yang akan mengubah jalan hidup anda ?
Soto Kadipiro


Hari ini Sabtu, saya dan keluarga sedang berlibur di Yogya. Kami menginap di Hotel Santika, sebuah hotel kecil yang lumayan strategis dan punya akses ke setiap obyek penting di kota Yogya. Kebetulan dalam perjalanan wisata ini saya sekalian menyambi tugas mensurvei dan mengobservasi sebuah perkampungan yang didesain dan dibangun oleh romo Mangun Wijaya, yaitu kampung kali Code. Hotel kami ini ternyata letaknya tepat di sebelah perkampungan itu. Tetapi bila berbicara Yogya kami sekeluarga punya ritual istimewa yang tidak akan ditinggalkan bila singgah ke sana. Apalagi kalu bukan berwisata kuliner ke daerah Kadipiro. Sasarannya tak lain tak bukan adalah warung soto Kadipiro. Dahulu kala warung soto di daerah ini hanya 1, tetapi kini di sepanjang jalan kadipiro sudah muncul belasan warung soto. Tapi jujur, semuanya sama enaknya. Dan persis seperti anda duga, pagi ini kami sekeluarga sudah nongkron di salah satu warung soto Kadipiro. Lumayan meski hari masih pagi anteran yang terjadi sudah cukup panjang. Beruntung pelayanan pemesanan di sini berlangsung amat cepat dan tak lama kemudian semangkuk soto campur yang bening sudah terhidang di meja kami. Lalu saya mulai memilih padu padan lauk yang ada, mau tempe-tahu bacem atau sate jeroan ya ? Soto ini sebenarnya kalau dari penampilan agak tidak meyakinkan, bening banget dan dagingnya sporadis alias jarang-jarang. Tapi begitu dibumboni sesuai dengan selera kita, yaitu dengan menambahkan kecap dan sambal, maka suapan pertama akan langsung membawa anda terbang ke langit kelezatan dengan awan-awan gurih yang senantiasa memayungi kepala anda. Pasti ekpala anda langsung nyut-nyutan, ingatlah berhenti sebelum kenyang ya ! Soto ini tentu di saring agar rasa kaldu tetap bertahan sementara kuah bisa bening. Dan kaldu pula yang bila dipadu dengan bumbu akan menghasilkan rasa gurih yang tak tertandingi. Jika boleh berhipotesa, soto ini tentu dibuat dengan daging, balungan, dan berbagai bumbu dengan tingkat yang paling krusial adalah pada saat pembuatan kaldu. Pokoknya seruput dulu deh, baru komentar !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Dari studi kasus Soto Kadipiro ada hal menarik yang ingin saya bahas di sini. Terkadang penampilan sebuah produk tidak mencerminkan kualitasnya. Soto kadipiro yang cita rasanya dahsyat tampak seperti semangkuk kuah bening yang miskin aroma. tetapi rupanya di balik kebersahajaan tampilan sang Soto, tersimpan saripati kaldu yang super lezat, super gurih. Inti dari kebijaksanaan soto ini adalah : sebuah keistimewaan terletak apda seberapa banyak nilai yang dapat diserap dari sebuah proses. Proses bisa berlangsung dalam berbagai tahapan yang panjang dan melelahkan, tetapi sebaliknya dapat pula berlangsung dalam tahapan yang sedikit dan kurun waktu yang sangat singkat. Hakikat dari menjalani sebuah proses sesungguhnya adalah mencerap sebanyak mungkin pelajaran dan nilai yang terdapat dan berkembang dari mekanisme proses itu sendiri. Itulah hakikat hidup. Banyak dari kita berpikir bahwa hidup itu hanyalah sebuah permainan dengan hasil akhir yang telah ditentukan. Banyak pula yang berpendapat bahwa hidup itu adalah sebuah perjuangan untuk mengekalkan eksistensi dan mempertahankan nilai yang diyakini. Ada pula sebagian pendapat lain yang mengemuka bahwa hidup itu hanyalah sebuah daur ekosistem yang senantiasa berputar dan tidak akan berakhir dimana-mana, just goes on ! Tetapi bila kita cermati, setiap unsur dalam elemen kehidupan memiliki dan mengembangkan sistem. Di dalam sistem ini berllaku dan berlangsung berbagai proses, bisa tunggal bisa jamak, dan bisa soliter, serta bisa pula saling berinteraksi serta saling mempengaruhi. Sebagai sebuah proses hidup memiliki serta mengembangkan cara kelola atau nilai manajerial. Setiap proses dalam hidup dapat berjalan dengan mengacu kepada kesepakatan dan berbagai sub proses tawar (bargaining) yang akan menghasilkan sebuah proses yang diperlukan sebagai suatu konsekuensi wajar. Andai hidup kita ini adalah semangkuk Soto Kadipiro, maka hidup kita ini bisa berasa lezat dan gurih bila dalam setiap proses kehidupan di dalamnya kita senantiasa mampu memetik nilai dan hikmah yang menjadi saripati sumsumnya ! Tetapi awas ! Hidup kita juga bisa menjadi semangkuk air putih yang tawar dan tidak berasa, bila setiap kita menjalani suatu proses kita tidak mampu mencerap apa-apa. Maka hidup kita akan berakhir paling-paling sebagai "kobokan".Tempat elemen lain dalam kehidupan silih berganti mencuci tangan dan meninggalkan setumpuk kotoran yang mengeruhkan. hidup kita akan jadi "butek", dan dalam "kebutekan" pasti kita akan kehilangan orientasi. Terciptalah kehidupan yang sarat dengan rasa frustasi ! Naudzubillahi minzalik !







Angkringan Pasar Kembang-Bestik Lidah


Pada suatu malam di bulan Desember, saya mendarat dengan mulus di stasiun Solo Balapan setelah melakukan dinas penelitian masinis dengan kereta api Lodaya dari Bandung. Pikir,punya pikir sebelum saya menumpang tidur di rumah saudara ada baiknya keluyuran dulu nih, mumpung belum sempat makan malam. Tapi apa yang jadi pilihan ? Maklum Solo adalah gudangnya makanan. Akhirnya sebuah ide brilian terbersit di benak saya, bagaimana jika saya makan di angkringan dekat pasar kembang, sudah menunya komplit murah pula. Maka dengan sebuah becak segera saya meluncur ke sana. Pasar kembang ini terletak pada jalan menuju Lawiyan atau pusat batiknya Solo. Suasana kota Solo semakin malam semakin ramai, khususnya di daerah-daerah pusat jajanan dan makanan seperti di keprabon yang sangat terkenal dengan sego liwetnya (yang paling ramai adalah lesehan Bu Wongso Lemu), kemudian angkringan hek di depan Sriwedari di jalan Slamet Riyadi, warung chineese food jowo dekat hotel Kusuma Sahid, bakmi Bu Prawiro ataupun beberapa lokasi lain yang tersebar di berbagai penjuru kota Solo.
Tak berapa lama setelah menikung melewati gedung pusat perbelanjaan Matahari, becak yang saya tumpangipun merapat ke sisi kiri. Segera saya membayar becak dan bergegas mencari tempat di warung yang mulai padat. Kemudian sayapun mulai menelusuri daftar menu bolak-balik yang sangat padat dengan berbagai jenis makanan. Mungkin warung ini menyediakan hampir 60 pilihan menu. Saya memilih bestik lidah, bestik brutu, dan kulit ayam goreng garing. Bestik lidahnya sungguh nikmat dan lezat sekali. Tekstur lidah bagian tengah yang lembut terpadu serasi dengan kuah bestik yang manis gurih dengan dominasi kecap. Bersama bestik disediakan juga kentang goreng dengan dressing salad khas Solo, yaitu dressing kuning dengan rasa gurih dan manis. Untuk menemani bestik disediakan sepiring nasi, karena bestik Solo lebih mengarah pada modifikasi semur dan bukan bistik standar barat yang cukup dimakan dengan kentang. Bestik brutu pesanan saya berikutnya juga tampil tidak kalah menawannya. Beberapa brutu ayam terhidang dalam larutan kuah kental, rasanya gurih dan pounya cita rasa unik tersendiri. Secara bersamaan dengan para bestik dihidangkan pula kulit ayam goreng garing. Wah yang satu ini highly recommended deh ! Sensasi kriuk-kriuk garing berpadu dengan rasa asin dan gurih yang muncul dari efek penggorengan pada lemak bawah kulit ayam menjadikan gorengan ini cocok sekali dikudap mendampingi menu utama. Ah, Alhamdulillah, nikmat sekali rasanya. Akhirnya saya menutup acara makan malam ini dengan segelas wedang jahe yang hangat, suatu minuman penghantar tidur yang tepat !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Keragaman produk adalah suatu bentuk apresiasi terhadap selera konsumen. tentu sebelum memutuskan mendiversifikasi produk dengan sejumlah varian tertentu, kita harus mempertimbangkan beberapa hal berikut : segmentasi konsumen, daya beli, tingkat kesulitan proses produksi, dan kesamaan metoda produksi. Sebuah produk bisa didiversifikasi menjadi banyak varian produk secara efektif bila terdapat kesamaan dasar-dasar proses produksi. Misal produk berbasis kopi, dapat dikembangkan menjadi begitu banyak karakter produk hanya dengan menambahkan komposisi atau merubah ingredient. Perpaduan dengan bahan yang tepat akan memberikan aksentuasi dan nuansa yang berbeda. Variasi banyak jenis produk dalam hal ini tidak menjadi masalah dan dapat tercakup dalam biaya operasional yang wajar. Tetapi bila diversifikasi produk berarti pula pengembangan sistem dan lini produksi baru, maka keberagaman produk justru akan menjadi beban bagi perusahaan. Perlu diperhatikan juga tingkat penjualan dan tren laju peningkatan penjualannya. Sales dan marketing memang terkadang aneh, sulit untuk diprediksi dengan eksak. Terkadang produk yang sama sekali tidak diunggulkan justru dapat terjual dengan nilai penjualan yang fantastis. Selera pasar yang dinamis dan penetrasi pengaruh global yang menderivasi secara kuat akan banyak mempengaruhi keputusan untuk membeli. Angkringan di Pasar Kembang ini memanfaatkan psikologi pembeli dengan menempatkan dirinya sebagai suatu titik one stop shopping dalam hal penganan malam semi tradisional. Sebetulnya aneka menu yang 60-an itu secara garis besar hanya terdiri dari beberapa kelompok masakan dengan cara pembuatan dan bahan yang nyaris serupa. Investasi ketrampilan dan variasi sederhana yang kreatif mampu mewujudkan suatu konsep food display yang meriah. Konsep ini sebenarnya cukup beresiko, karena akan mendorong konsumen dalam sebuah dilema dan kebimbangan yang dapat mengganggu pengambilan keputusan konsumsinya. Semakin banyak produk yang ditawarkan dengan spesifikasi yang saling mendekati justru akan melahirkan "pertimbangan-pertimbangan" kecil yang tidak perlu dari calon konsumen. Tetapi strategi ini juga dapat berjalan dengan efektif bila loyalitas konsumen rendah. Profil psikologi konsumen yang satu ini memiliki kecenderungan untuk mencoba-coba sesuatu yang baru dan unik. Sementara produk unggulan akan tiba di suatu fase pemantapan, dimana loyalitas dan bahkan mungkin fanatisme akan terbentuk dan melekat menjadi bagian dari gaya hidup.

Catatan :
Masakan dan makanan lezat adalah suatu hasil karya seni dengan proses kreatif yang teramat dinamis. Selera, rasa, dan kecenderungan (preferensi) adalah bagian dari akulturasi terhadap budaya, lingkungan, dan pandangan hidup. Kelezatan adalah sebuah keagungan yang dapat tercermin dari berbagai komposisi citarasa. Bisa dari bahan dan cara olah yang sangat sederhana, es Kopyor misalnya, dengan bahan yang sederhana sudah sangat terasa kelezatannya. Atau mungkin kelezatan bisa tercipta justru dari sebuah proses rumit yang membutuhkan kecermatan dan kesabaran seperti membuat Crème Brulle atau Tiramisu. Ilmu yang mempelajari seni kuliner dan masalah citarasa ini disebut gastronomy. Salah satu tokohnya adalah Bhuria Savalan yang hidup di abad ke-17.





Mbah Semar


Bila anda berkendaraan dari Solo menuju Yogya ataupun Semarang, anda akan melewati sebuah kota kawedanaan kecil yang bernama Kartosuro. Atau mungkin anda akan pulang ke Jakarta melalui bandara Adi Sumarmo anda juga akan melewati daerah ini. Tepat di setopan tengah kota berbeloklah ke arah kanan menuju bandara atau pabrik gula Colomadu. Kurang dari 100 meter, di sebelah kanan anda akan menemui sebuah warung tua berwarna kehijauan. Warung ini bernama Mbah Semar. Entah mengapa dinamai demikian, mungkin pemiliknya berharap mendapat kebijakan luhur seperti tokoh Semar. Yang paling diburu orang dari warung ini adalah pis roti dan garang asemnya. Tetapi menurut saya semua menu yang ditawarkan di Mbah Semar sedap semua. Sebuah daftar menu unik ditulis di atas blabak (papan tulis) dengan cat dan kuas tangan berisi beraneka jenis penganan, mulai dari sosis solo, berbagai jenis bestik, berbagai jenis selat ,sate, gule, tongseng, dan ada satu jenis makanan yang selalu menggoda saya karena namanya yang unik, Suryandadari alias matahari terbit. Sebenarnya makanannya adalah bestik dengan telor ceplok yang menggambarkan matahri pagi, tapi rasanya memang menggugah semangat dan membawa keceriaan pagi.
Satu hal lagi yang cukup unik adalah selat Solo. Sebenarnya makanan ini adalah adaptasi dari salad. Tetapi dalam prakteknya selat Solo justru lebih mirip dengan bestik, hanya dibubuhi sayuran selada dan dressing kuning. Pada kesempatan kali ini saya memilih menu bestik sapi, garang asem, dan tongseng. Sungguh suatu perpaduan yang tidak lazim. Mungkin anda bertanya kok bisa pesan menu sampai tiga ? Apa sanggup menghabiskannya ? Uniknya pedagang makanan di Solo ini, porsinya kecil-kecil sehingga kita bisa menikmati suatu wisata kuliner dengan memesan beberapa jenis makanan sekaligus. Konsep ini juga yang diterapkan di sebuah rumah makan modern di Jl.Slamet Riyadi milik penari nasional Sardono W Kusumo, nama rumah makannya Kusuma Sari. Porsi steak western ala jowo di sini juga kecil-kecil dan tentu harganya murah sekali.
Pesanan saya akhirnya lengkap terhidang, saya memulai dengan menyantap garang asem ati-rempelo dengan telur ayam yang menyelubunginya. Sesuap nasi saya barengi dengan potongan hati, sepenggal kuning telur, dan sepotong tomat. Lalu saya susul dengan mengkletus cabe rawit yang terdapat dalam kuah garang asem. Aduh segaaar sekali rasanya, perpaduan antara kelezatan dan keceriaan. Menu berikutnya adalah bestik sapi, dagingnya diiris tipis-tipis sangat empuk dan bertekstur. Yang istimewa adalah kuahnya, baik dari segi aroma mapun rasa kuah bestik di Mbah Semar memang luar biasa. Kuah ini perpaduan antara keluarga bawang, merica, tomat, dan kecap yang dimasak dengan anglo, sehingga menimbulkan aroma khas yang sangat unik. Semua hidangan siang ini sangat istimewa, dan saya mencuci mulut dengan hidangan pis roti, sebuah makanan khas jawa tengah khususnya Solo dan sekitarnya yang berupa roti tawar yang “direndam” dalam larutan air kelapa, gula, dan dibubuhi daun pandan. Amboi gurih dan wangi sekali !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Mbah Semar adalah sebuah tradisi. Sebuah produk kultural yang merepresentasi selera genetis. Sebagai sebuah tradisi, preferensi kuliner juga menempatkan produk cita rasa sebagai suatu ritual ibadah wajib. Kunjungan ke tempat makanan wajib kultural dapat diibaratkan seperti sebuah perjalanan ziarah atau perjalanan spiritual mengunjungi tanah atau situs suci agama. Dalam konteks ini terkadang kemasan, rasa, dan harga tidak lagi menjadi soal utama. Kerinduan akan nilai dasar dan representasi identitas budaya menjadikan ritual mampir makan ini menjadi sebuah peristiwa nan sakral. Dalam konteks bisnis banyak produk dan jasa sebenarnya yang dapat dikemas menjadi sarat dengan nilai kultural. Sebuah mesin pencari dunia maya paling terkenal (Google.com) bahkan telah merilis edisi boso jowonya. Fanatisme budaya menjadikan sayapun cenderung memilih google jawa sebagai mesin pencari saya. Sebuah terobosan bisnis yang sangat inovatif. Produk lain yang bisa merepresentasikan identitas budaya adalah busana. Mari kita lihat tren busana muslimah yang kini marak di Indonesia, kental sekali dengan budaya busana jazirah timur tengah. Memang harus dimaklumi berdasarkan historiografi Islam memang diturunkan di jazirah Hijjaz yang notabene adalah wilayah timur tengah. Identifikasi dan karakterisasi kelompok menjadikan fashion sebagai suatu model ekspresi yang paling visualistik. Langsung terlihat dan dapat langsung membangun konotasi dan asosiasi. Peluang yang belum banyak tereksplorasi sebenarnya justru adalah re-identifikasi kultur dengan mengedepankan pendekatan lintas budaya. mengapa kita tidak mendesain jilbab dengan nuansa Pottala dari Tibet ? Atau membuat pakaian casual berbasis batik dengan rimpel ala Milan. Atau mungkin corak tekstil Indian Maya (dari pegunungan Andes) dengan pola-pola Macchupicu dipadupadankan dengan busana bergaya sari India ? Demikian pula dalam hal seni kuliner, mengapa kita tidak memadukan Foie Gras dengan bumbu kacang sate Ponorogo ? Atau mungkin caviar beluga dengan saos minyak wijen dari Cina ? Google telah memberikan contoh yang amat menarik, dimana kecanggihan teknologi informasi dapat dikemas dalam keprimordialan sebuah budaya !
Catatan :
Makanan sebagai tradisi dan karakter genetika dapat dianalogikan sebagai kunci dan rumah kuncinya ( key and lock). Makanan dapat merubah struktur dan profil genetika, serta sebaliknya profil genetika seseorang dapat menenetukan preferensi selera orang tersebut. Di beberapa daerah pedalaman Afrika, ulat pisang ataupun ulat tanaman lainnya adalah makanan mentah terlezat yang kaya protein dan padat gizi. Tradisi serupa dapat dijumpai di Papua dengan ulat sagunya, ataupun di Flores dengan cacing Nyalenya. Bangsa Jepang juga memiliki tradisi makan ikan laut “mentahan” dalam bentuk shasimi. Sementara itu orang Belanda dan bangsa Scandinavia juga menggemari Ikan Herring Laut Utara mentah. Jika itu diberikan apda orang Jawa, dijamin mereka akan muntah-muntah. Di Myanmar dan sebagian wilayah Vietnam, lain lagi, penganan gorengan yang paling favorit adalah laba-laba goreng garing. Hal ini menunjukkan bahwa ada kebijakan tersembunyi dari setiap komunitas yang dapat mengeksplorasi manfaat penting dari bahan makanan.
Sop Buntut Pak Supar


Di jalan Suyudi Semarang ada sebuah warung kecil yang selalu padat pengunjung. Rupanya warung itu adalah sebuah warung makan sederhana yang hanya punya 2 menu utama, yaitu Sop Buntut dan Ayam Goreng, lainnya tidak ada. Dan lebih unik lagi, minumannya hanya es teh manis atau air putih saja. Tapi hebatnya dengan kesederhanaan itu, warung Pak Supar ini selalu dipadati pengunjung. Apa yang istimewa ? Sop buntutnya gurih banget, kaldunya kental dan pemilihan buntutnya pas. Buntut dari sapi yang terlalu tua akan liat, sementara buntut dari sapi yang sangat muda ukurannya kecil. Buntut di warung Pak Supar selalu pas, dan kaldunya itu lo selalu kental dan gurih. Menu lainnya dan menurut saya justru yang paling istimewa adalah ayam goreng. Padahal ayam goreng ini hanya dibumbui seperti bumbu rumahan biasa dengan menyertakan keluarga bawang, berbagai rempah seperti kunir Cs, lalu digoreng dengan minyak yang sangat panas, tentu setelah diungkep. Yang tidak kalah spektakulernya adalah sambal ayamnya. Sambal cabai merah goreng dengan rasa manis ini bisa membuat ketagihan. Prinsipnya sederhana ayam goreng panas dipadu dengan sambal yang manis ditingkahi suapan sop buntut yang gurih. Waduh suatu orkestrasi yang sangat harmonis. Ternyata sederhana itu memang indah ya ?

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Metoda pemasaran Pak Supar sedikit nyeleneh. Bila diperhatikan produk dengan tingkat penjualan tertingginya bukanlah produk unggulan yang bahkan di jadikan bagian dari brand, yaitu sop buntut. Produk yang paling seksi dan laris manis di warung Pak Supar justru ayam gorengnya yang notabene merupakan lauk pelengkap. Wah, lho kok dagangan sekundernya yang jadi primadona ? Inilah keunikan Pak Supar. Ada suatu bentuk asosiasi simbiosis yang coba beliau tawarkan. Sop buntut tanpa ayam goreng adalah kurang mak nyuss, sebaliknya ayam goreng saja tanpa kehadiran sop buntut juga akan timpang. Konsep ini barangkali bisa dinamai Manajemen Komplementer. Dimana setiap produk akan selalu bersifat saling melengkapi. Karena rasio setiap mangkok Sop Buntut idealnya ditemani 2-3 potong ayam goreng, maka tentu saja tingkat penjualan ayam goreng Pak Supar perpotong menjadi sangat tinggi. Pernahkan terpikir oleh anda untuk membuat beberapa produk yang bersifat saling komplementer ? Di satu sisi konsumen akan terpuaskan karena ia mendapatkan produk yang lengkap dan sempurna, di sisi lain anda dapat meraup 2 keuntungan atau lebih sekaligus. Produk komplementer biasanya dijual secara terpisah dan bersifat vertikal. Bila seseorang membeli sebuah produk yang perlu produk pendamping ada kemungkinan yang bersangkutan harus mencari di gerai yang lain. Sebuah perusahaan hardware komputer misalnya, seringkali tidak menyediakan software, akibatnya pembeli haruslah mencari supplier software untuk melengkapi perangkat yang telah dibelinya. Sebuah gagasan yang cukup orisinal adalah dengan menggabungkan software house dengan perakitan hardware dalam satu unit usaha. Sekarang bertumbuhan software house yang memproduksi aplikasi-aplikasi yang sangat bermanfaat dan bebas lisensi (open source), tetapi karena akses pasarnya kurang, produk software itu tidak dapat dinikmati secara luas. Dalam hal customer satisfaction, penyediaan produk komplementer dalam satu gerai akan memberikan tingkat kepuasan yang lebih maksimal. Keuntungan yang didapat konsumen adalah efisiennya waktu, kebijakan harga rabat, dan competitiveness level yang berdampak pada kualitaas produk. Bagi pebisnis, konsep ini akan meningkatkan penjualan, memudahkan layanan purna jual, dan membuka pasar baru bagi beberapa produk yang selama ini tergolong marginal.

Sop Kaki 2 Saudara


Sekali lagi saya akan bercerita tentang makanan yang bukan produk domestik suatu daerah. Sop kaki kambing dikenal orang adalah makanan khas betawi yang banyak dijual orang dengan label kumis bersaudara. Tetapi justru yang akan kita angkat pada tulisan ini adalah sop kaki kambing yang ada di Semarang. Terus terang saja berdasar pengalaman pribadi menjelajahi berbagai gerai sop kaki kambing di Jakarta dan juga di kota-kota lain, tidak ada satupun yang rasanya sedahsyat sop kaki kambing Dua Saudara di Simpang Lima Semarang. Bahan dasarnya sesungguhnya sama saja. Kambing dan berbagai komponennya disajikand alam bentuk setengah jadi dan kita diperkenankan untuk memilih sesuai selera. Ada baskom berisi rebusan kaki dan tulang pipi, ada baskom berisi otak, paru, hati, dan limpa, ada pula baskom berisi lemak dan daging kambing. Puas memilih, mangkok kita akan segera diproses. Direndam dengan kuah kaldu bersantan , diberi potongan tomat dan kentang rebus, ditaburi bawang daun dan bawang goreng, serta dibubuhi minyak samin yang segera saja menghablur karena mencair dalam kuah yang panas. Jadilah menu racikan sop kaki kambing yang panas dan nikmat. Sebagai pelengkap kita juga dapat memesan sate kambing campur yang terdiri dari daging dan hati. Segelas es jeruk tepatlah kiranya menajdi teman makan yang pas. rasa sop kaki Dua Saudara ini unik, karena tidak menyengat dan terasa sekali dominansi rempahnya. Kuah sop Dua Saudara terasa lembut di lidah dan tidak mencerminkan suatu kuah yang sarat lemak. Agak ringan tetapi sangat gurih. Hal ini berbeda sekali dengan sop kaki sejenis yang banyak dijual di Jakarta dengan label "Kumis". Memang ironis, bahwa sop kaki yang khas Betawi ternyata justru mencapai puncak cita rasa kulinernya di sebuah kota nun di jantung Jawa Tengah. Dan lebih ironis lagi, penjualnya malahan berasal dari Rajapolah Tasikmalaya !


Hikmah Spiritual dan Manajerial
Ada sebuah kalimat bijak : "Manusia bisa terbenam di lautan airmatanya sendiri, bisa pula terbenam dalam samudera keringatnya sendiri, dan terlebih bisa pula terbenam dalam air bah liurnya sendiri !" (Tauhid Nur Azhar,penghujung 2005)
Upaya kita untuk memaksimalkan kenikmatan,kenyamanan, dan kelezatan adalah suatu upaya yang nyaris tidak mengenal kata puas. Selalu saja ada kekurangan yang terdeteksi dan selalu saja ada ide-ide baru yang mendesak untuk diimplementasi. Dari studi kasus Sop Kaki tampak bahwa upaya memaksimalkan kelezatan dengan menambah kuantitas bumbu rempah dan meningkatkan kadar molaritas kaldu kuah justru dapat menimbulkan sebuah rasa yang sudah "melompati" ambang batas kelezatan. Dalam bahasa kerennya kondisi ini disebut "over eksploitasi". Produk-produk yang over eksploitasi biasanya terlahir dari iklim usaha yang sangat kompetitif. Iklim yang terlalu kompetitif pada gilirannya akan menghimpit dan membuat inovasi sesak nafas. Secara linier daya saing yang dipercaya sebagai variabel paling signifikan dalam penjualan digeber habis. Akibatnya pengembangan produk akan terjebak dalam ranah kuantifikasi. "lebih banyak, lebih besar, dan lebih segalanya", akhirnya produk itu menjadi "berlebih-lebihan" ! Produk seperti ini sudah kehilangan jati dirinya dan tergolong ke dalam sampah komersialisasi. Nilai dasarnya seolah teraborsi dan tersingkirkan oleh nilai-nilai baru yang muncul dalam sebuah kompetisi. Kebijakan harga yang darurat perang (banting habis-habisan), kuantitas produksi yang tidak lagi mengabaikan kurva permintaan, serta biaya promosi yang terlalu elastis sehingga menjadi tidak realistis, adalah beberapa faktor yang menjadikan banyak produk yang lahir dalam iklim kompetisi yang keras berakhir dengan proses terjun bebas. Fenomena ini dapat kita simak pada persaingan yang terjadi di sektor minuman suplement. Dalam budaya instan seperti yang sekarang sedang mewabah dan menggejala di Indonesia, minuman ber-energi adalah sebuah produk yang merupakan jawaban kebutuhan. Tanpa latihan, tanpa istirahat, dan tanpa proses-proses terkait lainnya, orang ingin tampil bugar, berperforma prima, dan fit setiap hari. Sayangnya dengan maraknya minuman suplement ber-energi ini kok prestasi bangsa Indonesia di bidang apa saja tidak kunjung beranjak ke tempat yang bergengsi !
Sop Kaki memang sudah menjadi makanan wajib nasional, seperti juga Pecel Lele, Ayam Bakar, Soto, dan Mie Bakso. Saking kondang dan menasionalnya itu, Sop Kaki menjadi sangat diminati sekaligus memiliki potensi bisnis yang cukup tinggi. Sayang, pada akhirnya banyak Sop Kaki berubah menjadi produk kuliner yang kehilangan identitas asli.





Nasi Ayam Serdang


Di suatu hari yang berawan dan sesekali diselingi rintik hujan gerimis, saya asyik masyuk dalam sebuah diskusi Biokimia tentang aktifitas apoptosis (kematian sel yang terprogram) yang dipicu oleh zat aktif dari tumbuhan sambiloto alias andrographys paniculata spp. Teman diskusi istimewa saya kali ini adalah 2 orang berbeda bangsa yang dipertemukan di sebuah institusi bernama Universiti Putera Malaysia. Rekan diskusi yang pertama adalah Dr.Johnson Stanlass, seorang peneliti kanker dari fakultas kedokteran UPM, sedangkan rekan diskusi lainnya adalah Chong, seorang mahasiswa program master di tempat yang sama. Sedangkan saya adalah mahasiswa program doktoral yang dikirim oleh supervisor saya di Universiti Kebangsaan Malaysia untuk berkonsultasi dengan Dr.Johnson. Peneliti kanker yang satu ini berdarah India dan masih jomblo ! Terlalu banyak pilihan katanya. Sementara Chong adalah keturunan Tionghoa yang sudah menjadi warga negara Malaysia semenjak beberapa generasi. Johnson dan Chong sempat mengerjai saya, mereka membawa saya dan Dr.Noor Wijayadi rekan saya dari Universiti Kebangsaan Malaysia ke kebun percobaan. Di sana kami diminta untuk menggigit selembar daun, ternyata daun itu rasanya pahit sekali. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak sampai-sampai hampir mengucurkan air mata. Lalu Johnson bertanya, “ Did you know, this plant name ?”, “of course we know”,rumble both of us,”this is sambiloto, the bitter plant, andrographys paniculata !” Ya, di negeri kita tanaman ini sangat populer sebagai jamu yang super pahit. Ternyata Chong dan Johnson sedang mendesain sebuah obat kanker payudara baru dengan menggunakan potensi pro-apoptotik dari sambiloto. Kami kemudian melanjutkan diskusi yang hangat tersebut di ruang kerja Johnson. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul setengah dua siang. Perut kami keroncongan, dan kami tak menolak ketika Johnson menawari kami untuk ditraktir makan siang di kedai Nasi Ayam paling enak se-Serdang, katanya ! Kami berempat bermobil bersama keluar sedikit dari kompleks kampus UPM dan memasuki sederetan ruko yang dipenuhi oleh penjaja penganan. Dr.Johnson sempat mengajari kami tentang sejumput tanaman yang dipetiknya dari dekat parkiran mobil.”Tapak dara”, gumamnya,”telah disintesa menjadi Vincristin, suatu obat sitostatika yang cukup ampuh bagi pasien kanker.” Kami mengangguk-angguk, tak kuat menahan lapar !
Johnson memesankan kami masing-masing seporsi nasi ayam istimewa. Sepintas ketika kami memasuki kedai, kami dapat melihat beberapa ekor ayam panggang yang siap untuk dipotong dan dihidangkan. Ayam-ayam itu dipanggang dengan sangat sempurna, warna kulitnya menjadi coklat tua keemasan. Dan kulit itu tampak renyah sekali. Dengan sangat ahli, tukang nasi ayam ruko Serdang ini membelah ayam dan memotong-motongnya menjadi beberapa kotak kubus yang artistik. Potongan ayam dengan kulit renyah ini dihidangkan di atas nasi panas yang berlemak. Sejenis saus khusus yang terdiri dari minyak wijen, jahe, dan saus tiram disiramkan diatas potongan ayam. Dan yang paling teristimewa adalah sambal ayamnya. Sambalnya sendiri punya penampilan yang kurang meyakinkan, cabenya sporadis, dan kuahnya agak kental. Tidak jelas apa saja campurannya. Tetapi ketika masuk mulut, aduhai sungguh perpaduan yang sangat sempurna antara kulit ayam yang asin renyah, daging yang gurih, kuah yang kaya rasa, dan sambal yang menyengat. Apalagi itu semua diorkestrasi oleh nasi panas yang lezat. Subhanallah, kami semua seolah melayang terbuai oleh kelezatan yang luar biasa.
Sore itu berakhir indah, segelas es tebu menjadi penghantar perpisahan kami. Saya dan Dr.Noorpun bergegas mengejar bus untuk menuju stasiun kereta komuter. Bye,bye Ayam Serdang !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Ayam. Ayam adalah produk pangan yang barangkali paling diminati di seluruh penjuru bumi. Hampir setiap komunitas masyarakat merupakan konsumen daging ayam yang fanatik. Tekstur dagingnya sederhana, dan hampir semua komponen tubuhnya dapat diolah menjadi produk pangan. Tetapi hampir di setiap komunitas pula terdapat berbagai jenis masakan ayam yang sangat khas. Spesifisitas yang terjadi mencerminkan bahwa dari bahan dasar yang sama ternyata dapat dikembangkan beraneka produk olahan. Alasan manusia menggemari ayam tampaknya harus diperhatikan secara lebih teliti. Salah satu faktor yang cukup signifikan adalah fakta bahwa ayam termasuk hewan unggas yang paling mudah untuk didomestikasi. Proses penangkaran yang sederhana, pembibitan serta pembesaran yang relatif mudah menjadikan ayam memiliki nilai strategis tersendiri. Secara politis ayam adalah analogi yang sempurna bagi paham kapitalisme sederhana. Menyelinap ke hampir seluruh peradaban manusia dan menumbuhkan nilai-nilai ekonomi yang berdampak pada nilai tukar. Kapitalisme mendorong terjadinya proses eksploitasi dan komersialisasi kreatifitas. Bila kapitalisme dapat mempengaruhi dan mengubah gaya hidup suatu komunitas maka demikian pula dengan ayam. Kehadiran ayam tanpa disengaja telah membangun suatu proses desegmentasi. Kehadiran ayam mampu meruntuhkan penyekatan kelas yang mendewakan elemen-elemen perbedaan. Ayam memang bersifat sangat universal dan dapat dinikmati oleh hampir seluruh lapisan masyarakat dari berbagai karakter demografi. Nilai ayam merentas melintasi seluruh batas negara di dunia. Ayam menjadi ruh pemersatu bagi banyaknya perbedaan yang diekspos ke permukaan. Ketika berhadapan dengan ayam, manusia sampai pada suatu kesepahaman bahwa ada satu unsur setidaknya di dunia yang dapat mewakili kepentingan bersama. Ketika di hadapan kita, di sebuah meja, terhidang entah itu ayam jahe, ayam kecap, tim ayam, ayam bakar Klaten, ayam Hainam, ayam in the basket, ayam sorry :) dan berbagai jenis ayam lainnya, yakinlah bahwa di berbagai belahan dunia yang lain, di setiap meja yang dihuni oleh masakan ayam, berjuta-juta manusia pada saat yang bersamaan melontarkan puji syukur ke hadirat Tuhan. Semua berkat ayam, sebuah kelezatan yang mampu menyeragamkan persepsi manusia tentang sebuah tujuan. Setidaknya tujuan untuk memakan dan menikmati ayam yang sudah tersedia sebagai bentuk hidangan !

Si Man Dewi Sartika


Kota Bandung semenjak ba’dha azhar terus diguyur hujan yang cukup lebat.. Udara dingin terasa sangat menusuk sampai ke sumsum tulang. Jam saat itu telah menunjukkan pukul 21.00 tepat, ketika tiba-tiba istri saya dengan mesranya merayu untuk pergi makan ke Dewi Sartika. Why not ? Pikir saya, toh perut sayapun terasa lapar terus di udara yang dingin ini. Lalu kamipun bergegas hanya dengan menyambar jaket dan sweater, memacu kendaraan kami menuju jalan Dewi Sartika. Sebuah jalan protokol dekat alun-alun kota Bandung. hujan masih saja turun merintik, dan udara malam terasa semakin dingin menggelitik. Dari kejauhan kami sudah dapat mengidentifikasi gerobak biru dengan cat yang mulai rontok dan memudar di sana-sini. Kaca samping kanannya pecah dengan sisa-sisa kaca berujung runcing yang tampak menyeramkan. Sinar petromaksnya redup dan cahayanya berdegup-degup, terang-gelap,terang gelap. Jelas petromaks ini kurang pompa, kurang tekanan. Lalu sosok mirip Gajah Mada itupun muncul dari bayangan kegelapan. Senyumnya yang lebih mirip orang meringis terkembang ketika melihat istri saya, maklum si Man tampaknya ngefans dengan istri saya. Malam itu mungkin karena hujan tidak ada pengunjung lain di warung tenda si Man. Jalananpun semakin sepi, jumlah kendaraan yang berlalu kini dapat dihitung dengan jari. 'Pesan apa Boss ?" Tanya si Man dengan semangat 45. "Biasa", jawab istriku."Kepiting, kerang, udang, dan nasi goreng". "Pedes gak ?" Tanya si Man lagi. "Sedeng ajalah", jawab istriku. Tak lama kemudia si Man tampak asyik berkutat dengan kompor minyak tanahnya yang berpenampilan bak kompor dari zaman megalitikum itu. Ia menumis cabe rawit tampaknya, sebab mata dan hidung kami mulai terasa perih. Kepiting direbusnya dan kerang dibersihkannya. Tak berapa lam ia beranjak keluar dari "sarang"nya itu. Kami tak tahu ia hendak kemana. Paling-paling ia akan mencari nasi putih. Sebab pada pengalaman kunjungan kami yang terakhir Man kehabisan nasi putihnya dan harus membeli dulu di salah satu warteg. Cukup lama ia meninggalkan kami, sampai kami juga merasa jenuh dan menyusul keluar untuk membeli minuman. Maklum Man hanya menyediakan satu jenis minuman saja, yaitu : teh pahit. Ketika kami bergegas menuju warung terdekat, tampak oleh kami sosok Man yang sedang berjongkok. Astaghfirullah, ternyata ia bukannya sedang mencari nasi putih, melainkan sedang memasang nomor untuk judi togel ! Melihat kami memergokinya iapun bergegas kembali ke tenda birunya. Ketika kami kembali seraya membawa 2 botol teh botol, tampak Man sedang sibuk mengolah udang di penggorengannya. Disusul kemudian secara estafet, kepiting memasuki wajan. Lalu terakhir sekali kerang yang mendapat kesempatan olahan chef jalanan kelas satu. Setelah seluruh hidangan sea food tersaji Man segera mencuci dan mengganti wajan saktinya dengan sebuah wajan yang tadinya disembunyikan di atap gerobag. Wajan kedua ini khusus untuk memasak nasi goreng.
Semenjak beberapa waktu lalu, tepatnya setelah kunjungan pertama saya ke warung si Man, saya ingin sekali mengetahui rahasia di balik kelezatan kasakannya. Sebab terus terang saja, pada saat pertama kali berkunjung ke sana saya agak meragukan kemampuan si Man ini. Potongannya nggak meyakinkan gitu loh ! Ternyata, Subhanallah, cita rasa masakan yang dihidangkannya sungguh luar biasa uenaaaak tenan ! Pada kunjungan berikutnya (akhirnya kami menjadi pengunjung rutin yang sangat loyal) saya berusaha mengintip berbagai bumbu apa saja yang beliau gunakan. Surprise kedua segera saya petik. Ternyata bumbu-bumbu yang dipakainya hanyalah bumbu-bumbu sederhana yang jumlahnya minim pula. Kalau boleh saya sebut di sini, bumbu andalan si Man hanyalah bawang putih, cabe rawit, mentega, bumbu masak, saus tiram, dan saus Inggris, serta bawang goreng. Masakan dengan bahan apapun, oleh Man selalu dimasak dengan bumbu-bumbu itu. Tetapi hasilnya sungguh luar biasa, cita rasa dan aroma yang berhasil diciptakannya sangat-sangat menggugah selera. Apakah ini yang dinamakan memasak dengan hati ? Saking naifnya si Man, pada kunjungan kami yang pertama nyaris terjadi sebuah insiden. ketika istri saya hendak memesan makanan, maka ia bertanya jenis masakan apa yang paling enak dan paling banyak dim inati ? Man tidak menjawab secara eksplisit, malahan hanya menyodorkan pilihan bahan baku, "Mau udang, kepiting, atau kerang ?"Tanyanya. Kontan istriku yang temperamental melonjak urat marahnya. "Bisanya masak apa?" Tanyanya dengan judes. Si Man masih tetap dengan wajah naifnya kembali tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu serta ngeloyor pergi. Lalu kamipun memesan asal-asalan dan nyaris kehilangan harapan akan mendapatkan hidangan yang istimewa. Dalam benak kami segera saja terpatri suatu kesimpulan bahwa paling-paling makanan di warung ini standar atau bahkan di bawah rata-rata. Yah, kami hanya ingin menghargai saudara kami yang sudah memberi rekomendasi saja. Yang penting kami sudah mampir di sini. Lalu keajaiban itu terjadi, di hadapan kami terhidang beberapa piring masakan sea food yang tidak jelas masuk ke dalam jenis masakan apa. entah saos tiram, entah goreng mentega. Dengan sedikit mengernyit dan wajah penuh keraguan, istriku mulai menyuap hidangan tadi sedikit sekali, karena mungkin khawatir akan berdampak buruk apda kesehatan ! Lalu sonta raut wajahnya berubah dan matanya berbinar-binar. "Mas,Mas, ini...ini...ini enaaaak sekalee !" Saya tentu saja masih tetap pada pendirian semula dan memantapkan keyakinan untuk tidak percaya. Pengamatan visual yang saya lakukan dengan mata seolah-olah seorang ahli kuliner tingkat dunia, menunjukkan data-data yang sama sekali jauh dari kesan meyakinkan. Tetapi akhirnya saya tergoda juga untuk mulai mencicipi. Perlahan-lahan tetapi pasti, arus kenikmatan itu mulai bergelombang dan menohok-nohok girus cingula saya. Saya nyaris terlonjak karena kegirangan akibat merasakan masakan yang bercita rasa sangat fantastis ini. Sungguh luar biasa ! Ternyata kemudian kami mendapatkan sebuah pengakuan sederhana dari si Man, bahwa memang dia sejujur-jujurnya hanya bisa membuat satu jenis masakan, ya seperti yang dia hidangkan itu ! Tapi untuk masalah rasa, jangan tanya !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Keluguan dan kejujuran untuk bersikap transparan dan apa adanya adalah suatu barokah yang sudah hampir punah. Kini setiap orang bagaikan burung Merak, berlomba-lomba memanipulasi citra dirinya. Kenaifan yang sangat tidak naif dari si Man adalah refleksi dari berbagai nilai hakiki yang tidak saja mulai tersembunyi melainkan juga sebagian diantaranya sudah "mati" dieksekusi. Kasus Man ini adalah sekumpulan fenomena anti tesis. Masakan lezat lahir dari seorang koki informal. Masakan lezat hanya dibumbui oleh kurang dari 6 jenis bumbu dapur. Masakan lezat hanya dijajakan di sebuah gerobag dagang butut di emperan jalan. Dan seorang pria hampir setengah baya yang hanya bisa memasak satu jenis makanan saja, berani berjualan dan berusaha di industri kuliner meskipun di level pas-pasan. Terkadang dalam hidup kita mesti melakukan terobosan revolusioner yang mampu melompat ke seberang normalitas.Ketidak normalan bisa jadi merupakan gejala awal suatu perubahan. Abnormalitas siapa tahu merupakan energi penghantar munculnya tren baru.
Man memberikan sebuah hikmah lagi tentang dahsyatnya imajinasi. Terkadang daya nalar akan tertinggal dalama sebuah pacuan cita rasa bila bertanding melawan integritas yang tumbuh dari hati. Dalam kasus Man, integritasnya yang tinggi dan dedikasinya pada makanan dengan olahan sangat sederhana, ternyata mampu menghasilkan sebuah orkestrasi yang luar biasa. Begitu banyak teori memasak di lu8ar sana, sampai-sampai tak sedikit pula bermunculan berbagai perguruan tinggi dari tingkat akademi sampai dengan sekolah tinggi yang mengajarkan ilmu perdapuran (kitchen science). Tetapi Man menyajikan sebuah anti tesis, anti teori dan anti kompleksitas. Kesederhanaan Man menjadikan hidup lebih bahagia dan lebih berwarna. Setiap polah Man adalah sebuah doa. Ia menginginkan untuk selalu dapat menyajikan makanan yang terlezat bagi tamu-tamunya. Dan untuk itu ia bahkan tidak pernah mau mengangkat seorang asisten yang dapat membantu dirinya dan memenuhi pesanan pelanggan yang terkadang sampai bosan dan jemu menunggu. Si Man lebih suka membiarkan dirinya menajdi korban "protes" para tamunya dan bahkan dia "tega" untuk "mengusir" tamunya bila dirasa ia takkan sanggup melayaninya malam ini. Ia hanya menwarkan sebuah solusi sederhana, "Mau tunggu ?" Demikian ujarnya seraya tetap saja menyeringai. Dedikasi Man membuatnya harus memasak sendiri setiap pesanan, satu persatu. Bumbunya diracik perporsi dan tidak pernah dibuat massal. Skala ekonomi tidak pernah menjadi pertimbangannya. tetapi herannya ia selalu saja berhasil survive di setiap zaman. Relasinya yang terdiri dari pelanggan-pelanggan setia selalu saja rutin mengunjungi dan di setiap kedatangannya mereka akan saling bertukar sapa, canda, dan cerita. Kunjungan ke gerobag butut si Man telah berkembang menjadi semacam ritual "ibadah", yang menyediakan ventilasi dan ruang untuk mengkatarsiskan serta meleburkan kepenatan serta kelelahan yang ditimbulkan oleh hiruk pikuknya masalah kehidupan. Di sudut kota yang temaram, tepatnya di jalan Dewi Sartika, akan selalu ada sebuah ruang sempit yang dapat menjelma menjadi sebuah lift menuju surga. Masakan Man adalah sebuah mantra, rapalan sakti yang diramu dengan kebeningan hati. Kesederhanaan yang tercermin dalam masakan dan tempat berjualan Man hanyalah sebuah fatamaorgana. Bagian dari tipuan visual yang bernama "kesemuan". Ketika Man telah menetapkan niat untuk membahagiakan setiap konsumennya lewat masakan, maka semua fatamorgana duniawiah yang semu itu akan hancur tertiup menjadi debu. Tinggallah sebuah istana emas dengan cinta menjadi menaranya.
Dalam perspektif bisnis dan manajemen diri, memberikan layanan terbaik yang muncul dari lubuk hati yang terdalam, serta niat untuk membahagiakan orang adalah salah satu kunci kesuksesan spiritualitas. Pada saat kondisi ini tercapai, maka makna setiap sen dolar ataupun rupiah akan bergemerincing lebih nyaring ! Gemanya menjadi genta, dan merobohkan semua penyakit hati yang didapat dari kerasnya kehidupan. Inilah yang disebut kualitas capaian. Barangkali secara kuantitatif, uang yang dihasilkan tidak seberapa, tetapi media bisnis kita seolah akan menajdi lift "ke surga".

Api HDL yang Hebat !


Warung tenda yang satu ini terletak di jalan Cilaki dan terhimpit di tengah-tengah beberapa tenda penjaja makanan lainnya yang memanjang di sepanjang trotoar taman kota itu. Cilaki adalah nama jalan yang berada nyaris tepat di belakang Gedung Sate, Bandung. Dari parkiran saja warung ini sudah terlihat beda. Di pintu masuknya biasanya sudah mengular antrean barisan pemesan makanan. kontras dengan tenda-tenda tetangganya yang tampak lengang dan pengunjungnya hanya satu-dua. Dari dalam tenda biasanya akan keluar asap putih mengepul-ngepul dahsyat. Terkadang bila kita bisa mengintip ke arah tempat memasak, maka kita akan melihat atraksi flambee, alias tarian bunga api di atas wajan. Tapi flambee di sini spektakuler sekali, apinya menjulang tinggi dan nyaris menyambar atap tenda yang terbuat dari terpal. Tetapi para juru masak biasanya tenag-tenag saja, malah sering bekerja sambil bercanda dan tertawa-tawa. terasa sekali suasan kerja yang sangat gembira. MAskan istimewa mereka adalah udang dengan berbagai bumbu dan cara masak yang disajikan menggunakan hot plate. Masakan lain yang tak kalah istimewanya adalah Kangkung Hot Plate, yang kaya rasa, kaya warna, dan kaya keragaman isinya. Masalah kualitas cita rasa tentu di atas rata-rata. Time to servenya juga tergolong sangat cepat. Pembagian kerja cukup efektif, dan tingkat rotasi pengunjung dapat dipersingkat. Yang paling menarik adalah pertunjukkan kemampuan mengolah bahan dengan api yang sangat efisien. Sungguh luar biasa menyaksikan beberapa juru masak muda yang dengan santai tetapi sangat efektif memproduksi order demi order dengan tingkat presisi yang sangat tinggi.

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Api identik dengan energi. Pemanfaatan energi secara optimal akan menghasilkan sebuah kinerja dengan prestasi efisiensi yang sangat tinggi. Pada kasus HDL, para juru masak dengan sangat cerdik mengolah api justru tidak dengan mengubah-ubah intensitasnya. Banyak juru masak bahkan yang sangat profesional sekalipun mengubah-ubah besar-kecil api untuk mendapatkan daya bakar atau panas yang sesuai. Para "cowboy" HDL tidak demikian, melainkan menjaga konsistensi energi dan memanfaatkan jarak sebagai pengatur intensitas. Wajan bergagang yang jadi senjata andalan mereka adalah "alat perang" yang sangat ampuh. Mereka bagaikan menari; mengangkat, menjauhkan, tiba-tiba mendekatkan serta mengeser-geser wajan bergagang mereka secara horizontal. Mereka dengan piawainya membalik-balikkan makanan di wajan agar panasnya tersebar merata dan tingkat kematangan masakan terjaga. Kemampuan mengolah energi yang bijak ini patut dijadikan hikmah kita kali ini. Intensitas energi yang fluktuatif sesungguhnya adalah sutau proses pemborosan. Untuk mencapai kalori yang diharapkan akan dibutuhkan pasokan energi pendorong yang lebih besar dari energi di titik tujuan. Bila kita mempertahankan energi di titik yang kita harapkan, maka kita tidak akan kehilangan energi momentum dalam bentuk energi starter. Untuk memulai baru sebuah proses tentu diperlukan pendorong yang harus melawan kelembaman (hukum Newton).
Dalam perspektif bisnis konsistensi untuk mempertahankan energi kinetik bisnis dalam sebuah proses bisnis yang telah berjalan akan menentukan efisiensi pemanfaatannya. Apakah analogi "energi: dalam bisnis ? Struktur permodalan, equitas, operational cost, production cost, harga persatuan, selling prices, biaya promosi, dan juga semua biaya serta sumber daya yang terkait atau merupakan implikasi dari sebuah proses bisnis. Inkonsistensi dan fluktuatifnya intensitas penggunaan energi akan menghasilkan disparitas tenaga. Kondisi ini akan menjadikan proses bisnis akan menghasilkan produk yang berbiaya tinggi. "Mesin" usaha yang boros dan "angot-angotan" lajunya. Jadi apalah gunanya "silinder" yang besar, tenaga kuda yang ribuan, ataupun pembakaran turbo yang dilipat duakan, bila ternyata untuk mencapai sasaran "ongkos bensinnya" jauh di luar prakiraan !

Catatan :
Udang, lobster, kopepoda adalah keluarga Arthropoda yang tergolong ke dalam genus Crustacea. Ciri dari kelompok hewan ini adalah memiliki cangkang atau kulit yang cukup keras. Sedari dulu dalam dunia masakan, kulit udang biasanya dianggap sebagai faktor “pengganggu”. Tetapi Subhanallah, kini mulai trekuaklah berbgaai keutamaan kulit udang dan crustacea lainnya. Di dalam kulit yang keras tersebut ternyata terkandung bahan yang disebut sebagai chitin dan chitosan. Kedua bahan tersebut memiliki manfaat yang luar biasa, mereka dapat berperan sebagai anti oksidan dan mampu pula memperbaiki profil lemak darah ( menurunkan kolesterol).




Sate Blendug 29


Tulang pipa yang tampaknya berasal dari tulang kering kambing ini aneh sekali. mencuat 3 potong dari sebuah mankuk yang berisi kuah kuning dengan aroma rempah menyengat. Kuah kuning itu agak kental dan nyata terlihat bercak-bercak minyak mengambang di permukaannya. Jelaslah sudah, bahwa kuah ini mengandung santan. Dari aromanya dan juga dari rasanya ini pasti gule atau gulai ! Tapi 3 tulang yang nongol secara sporadis dan mencolok mata ini apa maksudnya ? Oh la la, kebingungan ini akhirnya terjawab sudah. Seorang pramusaji dengan ramahnya menerangkan bahwa di dalam tulang itu terdapat sum-sum tulang yang sangat lezat bila dinikmati secara panas. Bagaimana caranya ? Kita harus menghisap kuah panas dari mangkuk melalui tulang pipa tadi. Dan benar saja, ketika saya coba, aliran kuah panas dari mangkuk membawa serta gumpalan-gumpalan sum-sum dari dalam tulang pipa. Seketika rasa gurih dan kelezatan lemak membanjiri rongga mulut saya,Subhanallah ! Bergegas saya menyuapkan sesendok nasi putih dan sesendok sate lolosan yang ada di piring sebelah. Apa itu sate lolosan ? Yaitu sate yang tidak lagi bertangkai alias sudah dilolos. Sate kambing campur di RM Sate 29 Gereja Blendug juga teramat istimewa, terdiri dari berbagai organ dalam kambing seperti hati, ginjal, dan juga limpa, serta usus, dipadu dengan sate daging dan sate lemak, serta dilengkapi dengan sate buntel. Wuaduh yummy sekalee ! Tapi tunggu dulu, itu belum semua. Di hadapan saya ada sebuah pisin atau piring kecil yang berisi sebuah bungkusan daun seperti pepes yang sudah setengah terbuka. Makanan di dalamnya didominasi warna merah dan putih. Warna merah tampaknya berasal dari cabai dan putih berasal dari sesuatu yang tampak lembut-lembut kenyal. "Namanya olor-olor", demikian pramusaji yang ramah itu kembali menjelaskan."Tali kolor ?" kernyitku heran. "Dari bahan apa 'kolor-kolor' ini?" Tanyaku sangat memalukan."Bukan kolor Mas, tapi Olor ! Olor ini adalah sum-sum atau otak tulang belakang (medula spinalis)." Bentuknya persis pepes, tetapi ternyata olor-olor ini bila diulur panjang juga, persis seperti kabel setrika. Segera saja saya coba melahapnya, wuihhh ternyata rasanya istimewa sekali. Enak dan sangat lezat. Pepesan ini tidak begitu pedas, ada rasa manisnya, dan olor-olornya terasa sangat gurih !
Begitulah kisah kunjungan pertama saya ke Rumah Makan Sate 29 Gereja Blendug, selanjutnya tentu saja saya menjadi pelanggan setianya !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Sekali lagi terpaksa saya harus memberi komentar senada, "kreatifitas memang tak terduga !" Siapa sangka tulang pipa yang "cengkreng mereng" seolah menjungkirbalikkan nilai dan standar estetika justru menyimpan "kekuatan" yang luar biasa. "Olor-olor" yang bak kabel setrika ketika diolah ternyata menjadi potensi kuliner yang bisa saja mendunia. Atau perpaduan kelezatan dari berbagai organ kambing yang tertata dan tersaji dalam bentuk sepiring sate campur, tidak saja mampu menciptakan harmoni, melainkan juga mampu menumbuhkan sebuah sensasi. Luar biasa !
Eksperimen dan keinginan untuk terus mencoba menemukan sebuah formulasi ideal adalah salah satu kunci dari keberhasilan sebuah proses inovasi. Coba dan terus coba lagi ! Tidak cepat berpuas diri dan tidak mudah patah semangat adalah dasar dari sebuah perjuangan dalam mendapatkan hasil yang menjanjikan. Dalam perspektif ruhiyah, ibadah adalah eksperimentasi yang senantiaa harus terus dikembangkan agar kita dapat mencapai kualitas formula hidup yang kita harapkan, dambakan, serta sebuah prestasi yang ingin selalu kita perbaiki dan kita pertahankan kinerjanya. Bahkan dalam Islam ada sebuah dalil yang sangat kuat yang secara sederhana dapat disimpulkan sedemikian ; bahwa di setiap kesulitan akan didapati suatu kebaikan, dan apabila kita telah mengerjakan suatu kebaikan maka kerjakanlah kebaikan berikutnya ! Inilah produktifitas ruhaniayah yang sangat dinamis dan berkelanjutan. Dimana sebuah proses perlu terus dimaintance dan dijaga konsistensi kinerjanya, bahkan seharusnya terus diperbaiki kualitasnya. Dalil lainnya adalah sebuah pernyataan tentang "iman". Iman itu "naik-turun" seperti sebuah Yo-Yo. kadang dapat berada di tataran kemuliaan dengan kualitas tinggi, tetapi terkadang pula berada di derajat yang menyedihkan. Kondisi ini dapat menyebabkan manusia sekali waktu menduduki peran sebagai anggota "societeit" yang terhormat dan mulia, tetapi terkadang pula manusia mendapati dirinya terpuruk dalam peran-peran yang teramat nista. Manajemen diri dan manajemen bisnis wajib mengakuisisi nilai-nilai ini. Sebuah proses bisnis haruslah memiliki sistem pengembangan dan pengelolaan diri yang adekuat dan konsisten. Ide-ide perbaikan, quality control ataupun dalam domain yang lebih besar,quality assurance, haruslah menjadi pedoman dan acuan dalam proses perbaikan diri. Self asessment yang berkesinambungan serta kerendahan hati untuk mau mengakui berbagai kelemahan dan kekurangan adalah salah satu resep yang jitu agar proses kendali mutu dapat berlangsung dengan jujur. Mengapa harus jujur ? Kejujuran adalah suatu hal yang teramat langka dalam berbagai pola interaksi antar manusia dan antar sistem manusia. Penilaian adalah sebuah proses yang sangat subyektif, meskipun telah diterapkan berbagai parameter yang menjaga obyektifitas serta standarisasi penilaian, kehendak manipulatif biasanya berpengaruh lebih kuat. Proses manipulatif terbesar biasanya justru terjadi pada saat kita diminta untuk menilai diri kita sendiri. Kejujuran terhadap diri sendiri adalah jenis kejujuran yang paling mewah dan tentu saja paling mahal. Kita selalu didorong keinginan eufimisme, menipiskan keburukan dan mempertebal gincu kepalsuan. Kita akan lebih sakit hati, sedih, dan bahkan depresi bila mendapati berbagai kekurangan pada diri kita sendiri. sebaliknya kita akan bersuka hati dan bergembira ria bila berhasil mendapati keburukan orang lain. Kondisi ini sebenarnya retrofleksi, dengan menemukan keburukan orang lain seolah kita memperoleh "excuse" untuk keburukan kita sendiri. Fenomena ini adalah hiburan semu, dimana nilai-nilai dalam kehidupan terlanjur sudah terjebak dalam pusaran "kompetisi". Lalu nilai-nilai itu sendiri tentu saja menjadi tidak murni !
Catatan :
Daging kambing atau domba yang berlemak memang menjanjikan kenikmatan dan kelezatan yang tiada taranya. Tetapi seiring dengan tawaran kelezatan itu ternyata daging-daging yang berlemak ini juga menyimpan potensi bahaya, khususnya bagi kesehatan. Kadar kolesterol, trigliserida, dan lemak LDL yang tinggi merupakan faktor pencetus terjadinya penyakit jantung koroner. Kadar lemak dalam darah yang tinggi akan diolah tubuh menjadi radikal lemak dan dapat menimbulkan kerusakan sel pembuluh darah, yang pada gilirannya akan mengakibatkan aterosklerosis atau penyumbatan pembuluh darah. Untuk menghindari kondisi tersebut, kita harus lebih arif, bijak, dan cerdas terutama dalam proses manajemen makan. Makanan dengan kadar lemak tinggi dapat dinikmati ( wajib malah) tetapi tetap dengan mengacu kepada azas kepatutan dan proporsionalitas. Lalu juga diimbangi dengan asupan serat, anti oksidan, dan sumber nitrik oksida yang memadai. Sumber serat mikro yang baik antara lain adalah agar-agar dari rumput laut. Kemudian selain makanan pendamping yang menyehatkan, diperlukan juga aktifitas fisik berupa olahraga yang teratur.
Ayam Taliwang Bedugul


12 tahun yang lalu saya bersama istri berbulan madu di Pulau Bali. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Bedugul, suatu kawasan dataran tinggi dengan hamparan danaunya yang indah sekali. Alam yang masih asri, bangunan pura yang menjorok bak mengambang di tepi danau, serta udara yang dingin sekali, secara akumulatif menghasilkan suasana romantis yang terlalu indah untuk dilupakan, Alhamdulillah ! Tanpa kami sengaja sewaktu hendak mencari makan siang yang halal, pandangan kami tertumbuk pada sebuah warung di tepi danau yang setengah mengambang ke atas air. Warung itu menjual menu Ayam Taliwang. Ayam ini sebenarnya adalah makanan khas dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, tetapi karena kedekatan geografis dan kultural tampaknya sudah menjadi salah satu makanan "endemik" di pulau Dewata. Walhasil kami mampir dan mencobanya. Ayam yang dihidangkan adalah seekor ayam muda dengan ukuran kecil yang dipanggang cukup kering. Sebagai pendamping dihidangkan pula secawan sambal santan yang terasa amat gurih. Tak lupa sepiring plecing kangkung dengan sambal tomatnya juga tersaji melengkapi. Udara dingin berpadu dengan perut yang keroncongan merupakan prasyarat utama nikmaynya sebuah proses makan. Semua prasyarat itu berpadu secara harmonis di siang hari di tepi dananu Bedugul itu. Ayam taliwang kecil ini luar biasa pedasnya, tetapi rasa asin dan gurih yang mendominasi sampai ke tulang-tulangnya sungguh luar biasa. Apalagi bila kita bubuhi sambal santan yang tak kalah pedasnya, rasanya lidah kita dibuai sensasi yang bak orkestra lengkap mengguncang semua sistem syaraf yang ada. Rasa pedasnya memicu kehangatan yang segera saja mengalir ke sekujur tubuh, tak lama bulir-bulir keringat sebesar jagung mulai meleleh bak air terjun menjunami kening. Yang lebih seru lagi hidungpun mulai berlepotan dan berulangkali terpaksa kami menyedot-nyedot hidung seperti orang yang sedang menderita flu berat. Luar biasa ! Sensasi yang ditimbulkan sangat komprehensif dan menjadikan metabolisme tubuh berlonjakan sangat liar. Daging ayamnya sangat empuk, bagian kulitnya yang sedikit gosong dan berlumur bumbu pedas sangat lezat dan terasa setengah garing setengah gurih, ajaib pokoknya ! Berpiring-piring nasi harus kami pesan sebagai tambahan karena mulut rasanya tak pernah mau berhenti. Lidah terus berdecap-decap kepedasan !Ini yang namanya makan secara "mantap" ! Sambal santanya yang setengah encer itu juga teramat mengundang dan tak kalah sensasionalnya, bahkan akhirnya kami tuangkan saja seluruhnya di atas ayam yang tinggal setengah. Waduh sungguh sebuah pengalaman kuliner yang luar biasa !
Setelah bermukim di Bandung beberapa tahun kemudian, kami menemukan rumah makan yang juga mengkhususkan diri menjual ayam Taliwang khas Lombok ini. Rumah makan ini berlokasi di kompleks Setrasari Mall, sebuah kompleks pertokoan di salah satu kawasan di Bandung Utara. sensasi pedas dan gurihnya tak kalah dengan ayam Taliwang di Bedugul. Bahkan karena keberadaan rumah makan ayam Taliwang itu, kini kami sekeluarga, khususnya saya dengan anak-anak punya tradisi baru, yaitu lomba makan pedas. Setiap 2 minggu sekali, sepulang kantor saya mampir di rumah makan itu dan membeli 2 ekor ayam Taliwang bakar lengkap dengan sambal dan lalabnya untuk dibawa pulang. Sambil bercengkerama santai di ruang keluarga, kamipun mulai "berlomba" untuk menyantap ayam super pedas itu, barangsiapa yang tidak tahan dan bergegas berlari mengambil minum, maka ia kalah. Perlombaan ini berlangsung amat seru, karena tak satupun dari kami ingin menjadi orang yang pertama mengambil minuman. Akibatnya, peluh bercucuran dan mulutpun tak henti-hentinya mendesah-desah, bahkan nafaspun jadi mendengus-dengus seperti kereta api uap yang sarat dengan beban. Sungguh makanan ini telah berhasil menghadirkan dan mengalirkan semangat kebahagiaan dan kebersamaan di keluarga kami !

Hikmah Spiritual dan Manajerial

Semua produk baik manufaktur maupun jasa terkategorisasikan dalam kelompok sesuai dengan jenis ataupun fungsinya. Ada yang terkategorisasi sebagai consumer goods adapula yang tergolong dalam public goods. Dan masih beragam lagi tipologi penggolongan dan pengelompokkannya. Tetapi ada pula beberapa produk yang tergolong secara istimewa ke dalam "kebutuhan hati". Produk-produk ini menghadirkan dan mengalirkan kebahagiaan. Produk-produk ini memiliki kemampuan menjembatani hati manusia, mencairkan kebekuan, dan menautkan tali silaturahmi dan berbagai interaksi komunikasi. Budaya pub di Eropa dan Kepulauan Inggris Raya merupakan salah satu contoh bahwa ada produk jasa yang diperlukan untuk memfasilitasi kehangatan dan persahabatan. Budaya minum teh di sore hari yang seolah sudah menjadi "ibadah wajib" bagi bangsa Inggris, ataupun budaya meminum "sahi" di India dan sebagian jazirah Arab, teh tarik di Malaysia, minum kopi Starbucks di seluruh dunia, minum ocha di Jepang, ataupun kopi seduh di Banda Aceh adalah produk jasa "pertautan hati". Ruangnya menjadi tempat saling berbagi dan saling melepaskan kepenatan diri, minumannya menjadi media pencair kebekuan hati. Ada rasa yang menjadi penghantar sensasi tenang dan bahagia, lalu ada atmosfer yang tercipta dan dari sana muncul sebuah kebutuhan baru. Kebutuhan ini berkembang menjadi kronis dan secara periodik harus dipenuhi. Tetapi konteksnya sangatlah positif, sebagai makhluk sosial yang memiliki banyak sekali tekanan dalam kehidupan, seorang manusia membutuhkan "aliran kehangatan" yang menjadi pupuk bagi tunas-tunas perdamaian di hatinya. Rasa damai, tenang, dan tenteram adalah sebuah produk eksklusif yang sulit dinilai secar nominal. Bisnis "kebutuhan hati" yang berhasil akan memiliki pelanggan dengan loyalitas yang sangat tinggi. Sebuah contoh kasus adalah Ayam Bengawan Solo di Bandung. Ayam ini dimasak dengan ramuan tradisional yang kental. Ayamnya sangat gurih karena diungkep dengan air kelapa, terasa lezat dan manis. Ukurannyapun amat pas, ayam muda yang empuk dengan ukuran tidak terlalu besar. Sambal yang menyertainyapun amat membuai lidah. Ayam ini telah melayani pelanggannya hampir setengah abad, dan terus saja bertahan sampai hari ini. Tidak pernah bangkrut dan tidak pernah pula menjadi bertambah besar.Kesetiaan pelanggannya tidak diragukan, ada sebuah keluarga yang turun temurun tetap menjadi pelanggan Ayam Bengawan Solo. Dari kisah keluarga ini terungkap bahwa "rasa" Ayam Bengawan Solo ini mampu mengalirkan kehangatan dan kebersamaan. Ada nilai-nilai tersembunyi dalam rasa yang sangat melekat dengan nilai-nilai kebersamaan. Rasa ini tidak akan muncul begitu saja.sebuah produk untuk memenuhi kebutuhan hati, tentulah harus diproduksi dengan "hati" pula. Produk itu harus punya jiwa. Jiwa inilah yang hilang dan berkurang dalam produk-produk franchise yang sangat terstandarisasi. Meski secara kualitas dan standar dapat dipertanggungjawabkan serta rasanya homogen di seluruh cabang di seantero dunia, makanan franchise sulit menautkan hati. Makanan ataupun produk fabrikan lainnya seolah hambar dan berjiwa "mesin" (deterministik, robotik), dingin, dan tidak mengundang ataupun mengandung kehangatan. Sebaliknya produk yang berangkat dari "hati" seperti Volkswagen Beetle, Combi, dan Safari, sungguh luar biasa ditanggapi sebagai mobil yang patut untuk "dicintai". Bepergian sekeluarga dengan combi yang mogokan, boyot, panas, dan bentuknya aneh malah menghasilkan sensasi kehangatan yang tidak terbeli bahkan oleh Porsche sekalipun. Produk-produk hati ini juga bertebaran, antara lain pada produk kuliner Nyonya Oen, Cafe dan Resto Hotel Tugunya keluarga Pak Anwar Suryahadibrata di Malang dan Bali, sambel Cikawao, Jas dan setelan pantalonnya di Eka Karya Semarang. Banyak produk-produk yang dibuat dengan "hati" akan menjangkau hati konsumen. Skala bisnisnya memang tidak besar, karena sebagian dikerjakan dengan sentuhan-sentuhan personal. Bahkan banyak pula yang dikerjakan dengan air mata. Bisnis pertautan hati ini akan memberikan kepuasan yang berbeda, mungkin bukan keuntungan finansial semata melainkan "manisnya" hubungan antar manusia.
Catatan :
Allah SWT menciptakan bumi berlembah-lembah, bergunung-gunung dan dilingkungi oleh lautan dan samudera tentu dengan maksud agar tercipta sebuah orkestrasi yang harmonis, sinergis, dan saling melengkapi. Bila di lautan ikan-ikan hidup dan berkembang serta menajdi sumber gizi bagi masyarakat pesisir, maka di pegununganpun hidup dan berkembang ikan-ikan air tawar di danau, sungai, dan kolam-kolam pemeliharaan. Suatu fakta yang menarik dan layak untuk dicermati adalah bahwa ikan laut dikenal memiliki kandungan asam lemak tidak jenuh Omega-3 yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, sementara ikan air tawar selama ini dianggap memiliki kadar yang tidak cukup memadai. Tetapi kini diketahui bahwa ikan-ikan air tawar yang hidup di daerah pegunungan bersuhu rendah memiliki kandungan Omega-3 yang cukup tinggi. Allah Maha Adil !
Kisah Kuliner Orang-Orang Cilacap


Kabupaten Cilacap secara geografis adalah sebuah wilayah yang membentang di pesisir selatan Pulau Jawa. Wilayahnya bervariasi, mulai dari daerah pegunungan berkapur, dataran rendah lembah sungai Citanduy dan Serayu, sampai daerah pantai yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Banyak potensi sumber daya alam yang menjadi unggulan kabupaten yang satu ini, mulai dari produk pertanian, perikanan, sampai dengan bahan galian seperti bijih pasir besi. Di kota Cilacappun terdapat beberapa obyek vital yang memiliki peran strategis di tingkat nasional. Di kota ini terdapat kilang penyulingan Pertamina yang memasok kebutuhan BBM dalam negeri, lalu ada Pelabuhan Samudera yang cukup besar dan merupakan pintu keluar masuknya beraneka produk ekspor dan impor dari Jawa Tengah dan Jawa Barat ke dan dari mancanegara, dan yang tak kalah pentingnya adalah keberadaan penjara Nusakambangan. Penjara yang satu ini semenjak zaman Belanda sudah dikenal sebagai tempat pembinaan para narapidana kelas “kakap”. Selain adanya berbagai obyek vital yang telah disebut di atas, Cilacap juga memiliki suatu keunikan ekosistem. Ada sebuah laguna yang terletak di mulut muara sungai Citanduy yang dikenal sebagai Segara Anakan. Sebuah wilayah berhutan bakau yang merupakan lokus ekosistem Estuaria terunik yang pernah ada di dunia. Di tempat ini memijah ribuan spesies makhluk aquatik, termasuk keluarga crustacea seperti udang-udangn dan kepiting, beberapa jenis ikan pelagis, serta juga menjadi tempat singgahnya penyu-penyu seperti penyu hijau dan penyu belimbing.
Tetapi Cilacap punya prestasi lain yang tak kalah spektakulernya, yaitu kemampuannya mengekspor tenaga kerja sektor informal ke berbagai kota di Indonesia dan bahkan ke berbagai kota di mancanegara. Daerah-daerah seperti Sidareja, Jeruk Legi,Karang Pucung, Kebasen, Maos, maupun Kesugihan adalah daerah yang sebagian besar penduduknya merantau dan berkelana menjelajahi berbagai kota dan negara. Sektor pertanian, perikanan, dan industri kecil domestik tak mampu lagi menahan mereka untuk mengembangkan kampung halamannya. Daya tarik kota besar dengan iming-iming gaji dan gaya hidup yang glamor membuat sebagian besar pemuda dan pemudi Cilacap memilih mengadu nasib di kota besar. Tetapi Cilacap masih tetap unik, secara kuliner orang-orang Cilacap yang menyebar dan melakukan penetrasi di banyak keluarga di kota-kota besar, secara konsisten “menularkan” selera mereka dalam masakan para tuan rumah tempatnya bekerja.
Sebagai contoh nyata dapat kita simak kisah Mbak Partinah di bawah ini. Sebagai seorang gadis yang dibesarkan di Kesugihan Mbak Partinah dididik oleh kedua orangtuanya untuk dapoat memiliki ketrampilan bertani dan ketrampilan rumah tangga. Ibunya mewariskan resep-resep tradisional yang sudah menjadi tradisi kuliner di kalangan petani. Karena di sekitar desanya membentang ribuan hektar areal persawahan dan banyak di dapati pula batang-batang sungai anak sungai induk Serayu, maka Mbak Partinah dan keluarganya sering mengolah hasil perikanan tawar alamiah tersebut sebagai tambahan lauk pauk yang bergizi. Berbagai jenis ikan seperti sidat, gabus, lele, nila, dan juga belut menjadi menu keseharian keluarga itu. Di musim kemarau cuaca menajdi sangat panas dan tidak bersahabat, areal persawahan mengering dan tanahnya sampai pecah-pecah, bahkan di beberapa daerah bisa sampai terbelah. Air bersih menajdi langka, dan batang-batang sungai berair jernih susut menjadi sebuah aliran got yang airnya banyak tergenang di sana-sini, dan lama kelamaan menghitam karena endapan kotoran. Alam yang keras dan kadang tidak bersahabat itu membentuk selera kuliner mereka yang menyukai rasa yang “kuat”, pedas dan asin. Ketika pada akhirnya Mbak Partinah dipersunting oleh Mas Radimin, seorang pengemudi yang bekerja untuk sebuah keluarga dokter di Bandung, maka Mbak Partinahpun melakukan eksodus meninggalkan kampung halamannya. Segera saja Mbak Partinah menjadi juru masak kesayangan keluarga tersebut, masakannya yang pedas dan asin sangat digemari dan cocok di lidah sohibul bait. Tetapi ada saat-saat yang sangat teristimewa dalam parade kemampuan kuliner Mbak Partinah ini,yaitu pada saat ia baru saja mudik dari kampungnya. Mengapa demikian ? Karena setiap ia mudik ke Kesugihan ia akan pulang kembali seraya membawa belut sawah Kesugihan. Anehnya citarasa belut ini lain dari yang lain, meskipun ukurannya tergolong kecil tetapi rasanya gurih sekali. Mbak Partinah akan memasak belut ini dengan bumbu yang sangat sederhana, campuran antara garam, cabe rawit dalam jumlah sangat banyak, bawang merah, bawang putih, potongan cabe hijau yang “tidak kira-kira”, dan sedikit gula putih. Belut yang digoreng garing dipadupadankan dengan campuran bumbu yang telah ditumis lalu dibubuhi sedikit kecap manis. Amboi rasanya ! Pedas, asin, manis berpadu dan menghantar kita untuk tidak henti-henti mendecakkan lidah, Subhanallah ! Apalagi bila nasi putihnya pulen dan hangat !
Kisah berikutnya yang hampir serupa adalah tentang Mbak Purwati yang berasal dari dusun Kunci Kecamatan Sidareja. Daerahnya yang tak kalah eksotisnya dibandingkan dengan kampung halaman Mbak Partinah, bila musim penghujan banjir merendam dan air melimpah ruah di mana-mana, sedangkan bila musim kemarau datang tanah retak dan terbelah-belah. Mbak Purwati ini semenjak usia 12 tahun sudah memulai kariernya sebagai pekerja urban di sektor informal ( rumah tangga). Pada akhirnya Mbak Purwati atau yang akrab disapa Mbak Jhony, demikian anak-anak dalam keluarga tempatnya bekerja memanggilnya, berkarya di sebuah keluarga yang tinggal di sebuah kompleks perumahan nun di punggung pegunungan Bandung Utara sana. Mbak Jhony ini disaat-saat udara pegunungan mulai dingin menggigit dan mencubit tulang sum-sum, sering memasak pindang tongkol ala Cilacap. Bumbu dasarnya tampaknya sama dengan resep Mbak Partinah, maklum masih satu daerah, satu guru-satu ilmu. Rasanya yang pedas menyengat dan tongkolnya yang digoreng garing asin, mampu mencairkan kebekuan iklim pegunungan. Alhamdulillah, budaya kuliner Cilacap telah mampu memberi warna pada alam pegunungan Priangan yang sejuk dan indah. Itulah perpaduan, sebuah harmoni yang merekatkan dan menafikan jarak sebuah perbedaan dan menghasilkan sebuah simfoni keselarasan.
Peristiwa lain yang dapat memberikan gambaran betapa kayanya khazanah kuliner Cilacap adalah kisah perjalanan yang saya lakukan sendiri. Pada saat kereta api jurusan Bandung-Semarang ( KA Mahesa) masih harus melalui jalur selatan-tengah-utara, maka salah satu stasiun wajib transit adalah Kroya. Mengapa ? Karena kereta dari Kroya harus berbalik arah ke arah Purwokerto. Sebenarnya bila saya dimintai komentar oleh PT.Kereta Api, saya akan menjawab jujur bahwa perjalanan KA di jalur ini adalah “masterpiece”. Indah sekali ! Ketika kita keluar Bandung dan mulai merayap mendaki lereng-lereng pegunungan di sisi selatan cekungan Danau Bandung maka segera saja kita akan disuguhi sebuah panoram pegunungan yang menghijau dengan hamparan sawah berundak-undak yang sangat memanjakan penglihatan. Saat kereta mulai menuruni lembah Leles melalui stasiun Lebak Jero maka pemandang khas ala pedesaan dan kampung-kampung Jawa Barat terbentang. Demikian seterusnya sampai kita meninggalkan stasiun Banjar. Daerah Cilacap menyuguhkan pemandangan dengan suasan berbeda, sawah-sawah datar meluas sampai batas cakrawala, rombongan kerbau dengan gembalanya berendam di parit-parit coklat yang memanjang. Sungai-sungai dan beberapa saluran irigasi tampak centang perenang meningkahi hamparan hijau persawahan. Setelah melalui Kroya dan berbalik arah menuju Purwokerto maka akan tersaji pemandangan lembah sungai Serayu nan indah berbatu-batu, 2 terowongan pendek yang berurutan di daerah Notog-Kebasen menambah eksotisnya perjalanan. Seleapas stasiun Purwokerto pemandangan menjadi bertambah indah, nuansa pedesaan di kaki Gunung Slamet berpadu mesra dengan aliran sungai-sungai pegunungan yang jernih dan deras. Sawah dan ladang berlatar belakang jeram sesekali melintas di jendela kereta api. Aroma petualanganpun merebak ketika kereta mulai berjalan meninggalkan jalur utama. Balapulang-Tegal adalah jalur “mati” yang sepi dan stasiun yang terlewati tampak seperti setting rumah-rumah hantu di film-film tempo dulu. Mendekati Semarang, kereta melaju di daerah Plabuhan yang jarak antara rel dengan bibir pantai kurang dari 1 meter. Indah sekali melihat ombak-ombak berkejaran dan memecah di hamparan pasir berkarang. Di senja yang indah kereta akan berhenti di stasiun Tawang.
Tetapi pengalaman perjalanan kereta ini tak akan lengkap bila kita tidak mencicipi jajanan dan penganan khas Kroya. “Stop over” di Kroya yang lumayan lama, karena lokomotif harus dipindahkan ke arah yang berlawanan, memungkinkan kita untuk jajan dengan tenang. Makanan khas Kroya dan Maos adalah rempeyek Udang kali Serayu. Rempeyeknya lebar sekali dan udangnyapun besar-besar. Rasanya gurih dan asin, khas Cilacap ! Lalu untuk melengkapi rempeyek itu tersedia nasi bungkus dengan kering tempe yang lagi-lagi menggunakan cabe hijau dan rawit yang terasa pedas dan asin. Selain rempeyek dan nasi kering tempe, yang tak kalah uniknya adalah Pecel Kecombrang. Bumbu pecelnya pedas dan asin lalu aroma bunga kecombrangnya sangat menyengat. Pecel jenis ini tak akan dapat kita jumpai di daerah lain, sangat khas Kroya. Bila kita menikmati penganan ini sembari menikmati pemandangan yang tersaji sepanjang perjalanan menelusuri kaki Gunung Slamet, Subhanallah, rasanya hidup itu indaaaah sekali !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Terkadang untuk bertasbih, mngingat Allah, berzikir, dan mensyukuri nikmat-Nya, kita perlu melakukan sebuah “perjalanan”. Tidak hanya perjalanan bathin saja melainkan melakukan perjalanan yang sesungguhnya. Dengan banyak mengenal budaya, profil geografis, karakteristik manusia, ciri kuliner, dan pola komunikasi antar manusia di berbagai daerah dan negara kita akan menjumpai begitu banyak “keindahan” yang tersirat dalam berbagai bentuk keragaman dan keselarasan. Berbagai perpaduan antara sifat alam dengan mekanisme adaptasi manusia dapat menjadi hikmah manajemen yang penting. Sebagai contoh, alam yang keras dan musim yang ektrem menjadikan orang Cilacap senang rasa asin dan pedas. Dalam bersikap hal ini dapat dianalogikan dengan ketegasan ,kelugasan, dan berkesan “tidak peduli” dengan opini atau kesan orang lain. Sifat lain yang mungkin muncul adalah budaya komunikasi yang “nylekit” atau tajam, kritis, dan tersaji secara “pedas” ! Komentarnya mungkin akan terdengar tidak enak di telinga, tetapi kandungan kebenarannya tidak perlu diragukan. Sayangnya kondisi ataupun profil yang melekat ini dapat pula menghasilkan sifat-sifat adaptif yang kurang konstruktif. Kekuatan dan kekerasan hati yang dilatih oleh kondisi alam yang berat terkadang juga dimanfaatkan secara menyimpang menjadi keberanian yang salah sasaran. Jiwa pemberontak dan penentangan terhadap segala tata nilai dan aturan juga dapat menjadi ciri yang muncul sebagai bentuk adaptif antara manusia dengan lingkungannya.
Semakin banyak kita “mengembara” di bumi Allah, maka akan semakin banyak pula referensi kita tentang sifat-sifat dan budaya manusia. Semakin berkembangpulalah pemahaman-pemahaman kita tentang fitrah dan potensi keberagaman, tentang tugas “kontributif” kita, tentang manfaat diri dan peran diri yang dapat kita jalankan di dalam hidup kita.

Catatan :
Di daerah pesisir selatan Jawa yang berhadapan langsung dengan perairan Samudera Hindia, banyak bermuara sungai-sungai besar seperti Citanduy dan Serayu. Di sungai-sungai ini hiduplah Ikan Sidat yang memiliki budaya kembara, menjelajahi hulu sungai sampai ke samudera dalam untuk pada akhirnya kembali meruaya ke daerah hulu.
Perjalanan spesies ikan Sidat dan juga saudaranya ikan Salmon nun di Kanada, Alaska, dan Greenland sana bukanlah sebuah perjalanan wisata ataupun perjalanan petualangan yang sia-sia, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang “wajib” dilakukan untuk menguak sebuah makna hidup. Ikan-ikan ruaya ini mengemban visi hidup dan menegakkan konsep keimanan “kembali ke sumber”. Mereka dilahirkan dari telur yang ditetaskan di daerah jeram-jeram dan lubuk-lubuk pegunungan, bagi ikan Salmon mereka dilahirkan di danau-danau pegunungan tinggi di sekitar Anchorage. Mereka secara genetika dan biologis diwarisi pesan untuk mengoptimalkan “manfaat” hidup dengan melakukan perjalanan menuju samudera. Samudera adalah sebuah lambang kebebasan, sebuah dunia yang luas dan wahana berinteraksi yang sulit untuk diprediksi. Dengan kata lain, samudera adalah kehidupan sebenarnya. Ada mangsa dan ada pula pemangsa, bila Sidat-Sidat kecil dan Salmon-Salmon kecil kehilangan orientasi dan integritas dirinya maka ia akan larut dan sekedar menjadi garam yang m”mengasinkan” lautan. Sidat dan Salmon muda akan menghiliri sungai untuk menimba hikmah dari lautan kehidupan. Mereka dituntun oleh kebutuhan biologis untuk mendapatkan makanan dan kondisi lingkungan yang kondusif bagi proses tumbuh kembangnya. Selama menjalankan ibadah biologis itu pula mereka membangun dan menyiapkan ladang-ladang amalnya. Sepanjang perjalanan menuju samudera mereka memiliki peran yang signifikan dalam mata rantai makanan, sebagian dari mereka disantap oleh apra predator yang memang amat bergantung apda populasi ikan-ikan ini. Pengorbanan mereka tentu tidak akan sia-sia, mereka adalah pahlawan yang merupakan bagian dari sistem “mizan” atau kesetimbangan biologis. Mereka adalah apra tokoh ekologis yang beramal dan belajar di sepanjang hayatnya. Setibanya di laut mereka terus belajar dan mendewasakan diri. Berbagai fase kehidupan mereka lewati dan berbagai daerah di kedalaman samudera mereka jelajahi. Setelah mereka beranjak dewasa dan dianggap telah memiliki kebijakan hakiki, maka mereka siap untuk bereproduksi, menyambungkan nilai-nilai fitriah Illahi. Mereka, Sidat dan Salmon, menuju daerah dengan kedalaman lebih dari 300 meter untuk mendinginkan hati dan memulai proses reproduksi tidak semata dengan hanya bersandar pada nafsu duniawi melainkan menjalankannya sebagai bagian dari misi suci, mempertahankan sistem yang telah diciptakan oleh Sang Maha Pemberi. Mereka harus memilih tempat yang tenang, dingin, dan sepi, agar hati mereka tidak bergejolak, agar hormon nafsu-nafsi mereka tidak menjadi dominan dan terdistribusi membutakan hati.
Setelah para betina mengandung telur yang telah dibuahi, mulailah mereka, jantan dan betina, melakukan perjalanan “haji” ke tanah suci. Dengan pengalaman hidup, proses belajar, dan “kebeningan” hati mereka melakukan perjalanan meruaya, melakukan napak tilas menelusuri jalur fitrah sejati. Mereka dengan mudah menemukan jalur “pulang” menuju ke tempat asal. Mereka berlomba-lomba dengan penuh semangat menggelora menghului sungai berarus deras dan berjeram-jeram curam, berjuang sampai mati untuk menggapai puncak kerinduan sejati. Mereka pulang untuk mengekalkan sebuah nilai yang bernama “eksistensi”. Mereka terkadang jauh lebih tahu daripada kita, manusia, untuk apa mereka menjadi, apa yang mereka cari, dan hendak kemana mereka pergi !
Tugas terakhir para Sidat dan Salmon dewasa adalah menjaga kontinuitas sebuah keyakinan, sebuah keimanan. Mereka bertanggungjawab untuk melahirkan dan menghasilkan generasi penerus yang istiqomah, yang integritasnya tercermin sebagai sebuah bentuk konsistensi dalam memahami dan memaknai jati diri !

Apakah Warung Padang sudah Buka di Bulan ?

Lelucon tentang astronot Amerika yang kaget setengah mati ketika mendarat di bulan adalah lelucon antropologi kuliner yang sangat cerdas. Alkisah ketika Neil Armstrong dan Edwin Aldrin akan menjejakkan kakinya di bulan, mereka sangat optimis dan berbesar hati karena meyakini merekalah yang akan mengukir sejarah sebagai manusia pertama yang akan menjejakkan kakinya di bulan. Tetapi apa yang terjadi ? Benda bulan yang pertama kali mereka temukan adalah sebuah papan reklame rumah makan yang bertuliskan : Mari Singgah di RM. Bulan Purnama, sedia Masakan Khas Minang, Buka 24 Jam.
Lelucon lain tentang orang dan masakan Minang yang tak kalah lucunya adalah kisah tentang seorang mahasiswa Minang perantauan asal Padang Panjang yang sedang menaiki kereta api menuju kota Bandung, kota tempatnya akan menuntut ilmu di salah satu Institut Teknologi terbaik di seantero negeri. Pemuda kita meninggalkan ranah Minang melalui pelabuhan Teluk Bayur dengan menggunakan kapal KM Kerinci. Setibanya di pelabuhan tanjung Priok, sang pemuda menyambung perjalannnya dengan bus Damri menuju stasiun Gambir, demikian petunjuk Abangnya yang sudah sangat berpengalaman berniaga ke pulau Jawa. Ketika pada akhirnya sang Pemuda kita, calon mahasiswa teladan ITB, berhasil mendapatkan sebuah kursi di salah satu gerbong KA Parahyangan maka iapun bergegas menghempaskan tubuhnya yang terasa amat penat. Tanpa disadari perutnya mulai keroncongan, maklum semenjak meninggalkan kapal tadi pagi ia belum sempat makan. Tak lama kemudian datanglah seorang bapak bertubuh tinggi besar dengan perut yang membuncit. “Permisi ya Dik,” demikian ujarnya ketika ia mulai mengatur barang bawaannya dan menduduki bangku kosong di samping pemuda kita. Ketika kereta sudah mulai berjalan dan akan memasuki stasiun Jatinegara, bapak tadi mulai membuka pembicaraan dengan pemuda kita. Ternyata beliau berasal dari Siantar, sebuah daerah terkenal di Sumatera Utara. Percakapan ngalor-ngidul, ke sana ke mari melompati batas-batas geografis dan disiplin ilmu. Bapak gendut yang menyenangkan ini ternyata adalah seorang pedagang yang kerap berkeliling nusantara. “ Sudah sering saya menjumpai mahasiswa-mahasiswa Minang seperti adik ini yang bersekolah di berbagai perguruan tinggi negeri ternama, mereka rata-rata sangat pandai dan acapkali bahkan menjadi mahasiswa teladan ! Apa sebenarnya rahasia kecerdasan kaum kalian itu Nak ?” Tanyanya penasaran. Kebetulan pada saat itu pemuda kita sedang mengeluarkan bungkusan bekal makanannya yang terdiri dari sebungkus nasi putih yang sempat dibelinya di warung dekat pintu keluar pelabuhan Tanjung Priok, dan sebungkus rendang daun singkong bekal dari Emaknya di Padang Panjang. Bapak gendut dari Siantar melirik sejenak dan ikut-ikutan mengeluarkan bekalnya yang terdiri dari 2 kemasan kontainer makanan. Subhanallah, bekal makanan Bapak gendut ini lengkap sekali, ketika dibuka aromanya menguar dan mengundang air liur untuk jatuh menitik. Ada ayam goreng laos, sambal terasi, semur lidah, balado ikan kembung, dan sebungkus Sop buntut dalam plastik.Pemuda kitapun sambil bersiap-siap untuk makan menjawab; “menurut ninik mamak di nagari saya, anak-anak kami menjadi pintar serta banyak menjadi cerdik-cendekia negeri ini, tak lain dan tak bukan karena makanannya !” Bapak gendut asal Siantar, tertegun dan menghentikan suapan pertamanya. Matanya berbinar-binar amat penasaran. “Bagaimana bisa begitu buyung ?” Tanyanya heran.” Salah satu makanan kegemaran kami adalah rendang daun singkong sederhana ini, harganya murah, rasanya enak, tahan lama, dan yang terpenting kandungan gizinya bisa mencerdaskan !” Pemuda kita menjawab sambil bersiap-siap menyuap nasi rendang daun singkongnya. “Tunggu !” Pekik Bapak gendut. “Jangan kau suap dulu bekal kau itu, mari kita bertukar bekal Nak ! Aku ingin merasakan efek dari makanan kecerdasan ala Minang itu !” Maka merekapun lalu saling bertukar bekal. Sang pemuda melahap bekal Bapak gendut dengan lahap dan gusto, sementara Bapak gendut melahap nasi rendang daun singkong dengan dahi berkernyit dan rasa penasaran yang jelas tercermin di wajahnya yang berkeringat. Usai makan mereka berdua bersandar puas di bangku kereta, sambil menyulut rokoknya Bapak gendut bertanya; “Aku kok belum merasakan efek makananmu ya Buyung ?” Pemuda kita menengok cepat dan balik bertanya, “setelah makan bekal saya tadi apa yang sekarang bapak rasakan ?” Sesaat pembicaraan terpotong ketika kereta menderu memasuki terowongan, suaranya gaduh sekali dan gerbong mereka menjadi gelap. “ Aku masih merasa lapar dan berpikir bahwa makanan bekalmu ini tak sebanding dengan bekalku yang kutukarkan padamu ! Demikian jawab Bapak gendut setengah menyesal.” Nah, berarti efek rendang daun singkong sudah bekerja Pak ! Buktinya Bapak tahu kalau bekal saya tidak mengenyangkan dan rasanya sederhana saja !” Bapak gendut menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dan menyesal membayangkan bekal makan siang istimewa yang telah dipersiapkan istrinya secara khusus kini telah licin tandas disikat sang calon mahasiswa ITB !
Pengalaman pribadi saya dengan masakan Minang sangat beragam. Ada beberapa kisah tentang masakan Minang yang saya pikir layak untuk disampaikan di sini. Salah satunya adalah pengalaman yang dipetik dari perjalanan “ekspedisi Sumatera”. Ketika itu usia saya masih berkisar antara 15 sampai dengan 16 tahun, dan duduk di bangku SMA kelas 1. Untuk mengisi libur panjang sekolahan orang tua mengajak pulang kampung ke Lahat, sebuah kota kecil di Sumatera Selatan, dengan menggunakan jalan darat. Walhasil berangkatlah kami bermobil dari Bandung menuju Lahat. Di sepanjang perjalanan setiap kali kami singgah untuk beristirahat, pastilah tempat persinggahan itu rumah makan Minang. Anehnya citarasa masakan Minang di pulau Sumatera terasa berbeda dengan yang banyak dijumpai di Jawa. Rasanya lebih asin, pedas, dan bumbunya terasa lebih pekat. Alhamdulillah, di setiap rumah makan Minang yang kami singgahi standar kulinernya luar biasa tinggi, semuanya menyajikan masakan Minang yang lezat sekali. Baru kali itulah saya berkesempatan mencicipi kelezatan masakan Minang asli. Baladonya merah, asin, dan pedas. Daging dendengnya gurih, kering, dan getas, sehingga terasa renyah menyatu dengan bumbunya yang kaya rempah. Gulai otak dan gazebonya berkuah santan kental berwarna kekuningan yang pekat dengan kegurihan kelapa dan kaldu daging. Wuih, sepulang dari tour of the Sumatera berat badan saya naik hampir 5 kg !
Pengalaman kedua dengan masakan Minang di pulau Sumatera adalah ketika saya berkunjung ke kota Medan, Sumatera Utara. Saat itu seorang rekan dan sahabat baik keluarga menyarankan bahkan setengah mendesak agar saya mencicipi kelezatan masakan Minang di rumah makan Garuda. “Itulah masakan khas Medan, Bung !” Ujarnya sembari tersenyum. Kesannya memang satire sekali, masak masakan Minang justru menjadi kebanggan kota Medan yang notabene beda propinsi dan beda budaya ? Saya jadi penasaran, macam apakah rumah makan Minang yang satu ini. Ketika saya menyempatkan diri untuk makan siang di sana, menu andalan yang direkomendasikan oleh para pelayan yang ramah-ramah adalah lele goreng. Bentuk lele goreng ini agak ajaib, bahkan cenderung beraliran abstrak, kribo-kribo gimana gitu ! tetapi ternyata rasanya, jangan ditanya, sedaaaap sekali ! Apalagi bila disantap dengan kuah gulai dan sambal merah. Lelenya gurih, renyah, dan kulit pembungkusnya yang kribo itu terasa asin dan “kriuk-kriuk”. Wah pantas bila orang Medan membanggakan rumah makan yang satu ini sebagai ciri khas kuliner kotanya. Dari segi rasa memang rumah makan yang satu ini layak untuk jadi juara se-Sumatera Utara !
Pengalaman kuliner lain saya yang berhubungan dengan masakan Minang adalah ketika saya menunaikan ibadah umroh ke tanah suci. Ketika itu, di medio 80-an, suasana kota Madinah belumlah secanggih dan semodern saat ini. Saya tinggal di sebuah hotel kecil semi apartemen yang meskipun sederhana tetapi sangat nyaman dan penuh dengan aura kekeluargaan. Hotel itu bernama Bahauddin. Saking sederhananya hotel ini, sampai-sampai ia tidak memiliki fasilitas room service atau pemesanan makanan ke kamar. Kafe ataupun restoran juga tidak ada. Walhasil maka sayapun berikhtiar memesan kebutuhan makanan dengan cara berlangganan katering. Pemilik merangkap juru masak utama katering itu adalah seorang Minang perantauan. Masakannya sangat spektakuler dan kaya rasa. Saya sampai heran, bagaimana ia bisa memasak begitu beragam makanan khas Minang di negara orang yang teramat jauh dari tanah air ? Kali itu pula saya pertama kali berkenalan dengan yang namanya kemasan styrofoam. Saya bingung sekali ketika melihat kotak putih rapi yang mewadahi jatah makan siang saya. Benda apakah ini ?
Pengalaman kuliner masakan Minang yang tak kalah serunya adalah ketika saya diajak oleh seorang sahabat keluarga untuk makan siang di Singapura. Letak rumah makannya terkucil di tengah-tengah deretan pertokoan dan nyaris tak nampak dari pinggir jalan. Tetapi masalah rasa dan selera, sulit mencari tandingannya, bahkan di Indonesia atau di kota Padang sekalipun !
Pengalaman berikutnya dengan masakan Minang yang masih melekat di benak saya adalah kenangan tentang sebuah warung makan Minang kecil yang terletak di sudut terminal lebak Bulus Jakarta. Namanya Mak Datuk. Keberadaannya kini sudah tidak jelas, mungkin telah berpindah ke suatu daerah antah berantah seiring dengan perluasan terminal Lebak Bulus. Masakan di warung yang satu ini jenisnya standar saja dan dapat dijumpai di setiap Warung Minang. Akan tetapi soal rasa, sungguh luar biasa ! Bahkan istri saya tercinta pernah berkomentar, “Biar hanya berlauk daun singkong dan kuah gulai saja, nasi bungkus Mak Datuak ini luar biasa enaknya !” Setiap kali kami berkunjung ke Jakarta dan menginap di rumah orang tua yang kebetulan terletak tepat di belakang terminal Lebak Bulus, maka kami selalu memesan nasi bungkus dari warung ini. Saking lezatnya masakan Minang di warung ini kami ( saya dan istri) sempat curiga dan bertanya-tanya apakah ada kemungkinan bahwa masakan di Mak Datuak ini menggunakan bumbu ganja ? Habis membuat kecanduan sih !
Berbicara tentang masakan Minang, salah seorang mahasiswa saya yang bersuku Minangkabau, pernah menuliskan tentang kedahsyatan masakan bernama “Buke” dalam tugas psikologi faal tentang “selera dan budaya” yang saya berikan sebagai tugas akhir semester. Buke ini sangat spesial dan hanya dapat dijumpai pada even-even tertentu saja seperti hari Lebaran Idul Fitri. Menurut mahasiswa Minang ini, Buke terdiri dari daging dan jeroan sapi yang dibumbui oleh 39 jenis rempah dan bumbu masak. Waktu memasaknyapun terbilang cukup lama, dan memerlukan kesabaran serta kecermatan. Tetapi segala jerih payah dalam upaya memasaknya itu memang sebanding dengan kualitas citarasanya yang luar biasa dan cocok untuk menjadi hidangan istimewa di hari-hari yang istimewa pula !
Selain Buke, ada lagi hidangan istimewa produksi dapur rumah tangga di hari Raya, yaitu Rendang Paru. Salah seorang tante saya yang bersuamikan pria Minang tulen amat piawai dalam membuat rendang Paru yang lezat. Saking lezatnya rendang paru buatan sang Tante, ketika ada anggota keluarga kami yang akan berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji ataupun umroh, tak lupa selalu meminta bekal berupa rendang paru. Karena selain lezat rendang yang satu ini juga awet. Sayangnya keawetan masakannya biasanya tidak berbanding lurus dengan keawetan persediaannya, rata-rata pada hari ketiga di Mekkah rendang sudah amblas !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Menyimak lelucon tentang warung Minang di bulan, kita selayaknya merenung. Suatu stigma dan sebuah stereotipe yang dibangun berdasarkan pengalaman, memori, dan sentuhan berbagai interaksi ternyata dapat “dipercaya” melampaui fakta atau kenyataan. Banyak mitos berkembang dari stereotipe yang tidak akurat dan non faktual. Tetapi banyak pula stereotipe yang berhasil menumbuhkan motivasi laten dan menjadikan suatu kaum optimistik serta penuh dengan pengharapan. Orang Minang yang dipercaya mampu pergi ke bulan, adalah bangsa yang karakternya dibangun oleh suatu keyakinan dan etos kerja yang diwarnai dengan keuletan serta ketelitian. Maka barangsiapa beriman, yakin, ulet, dan teliti dalam merencanakan hidup dan berikhtiar maka ia telah men”cap” dirinya sendiri (self stereotyping) sebagai manusia ahli husnuzhon (berprasangka baik) yang mampu melompat melampaui batas-batas fakta dan kenyataan. Bukankah Allah SWT lebih dekat dari batang urat nadi kita ? Dan kemanapun kita menghadapkan wajah, kita akan menjumpai wajah-Nya ? Lalu mengapa kita tidak menjadi seperti bangsa Minang yang bahkan “didoakan” orang untuk sampai lebih dulu di bulan ? Seperti juga hikmah dari kisah petualangan fiktif jenaka Sir Edmund Hillary ketika pertama kali menaklukkan puncak Mount Everest. Pemandangan pertama kali yang dilihatnya adalah sebuah toko kelontong Cina yang menjual berbagai bendera negara di berbagai belahan dunia, tersedia lengkap dengan tongkat pancangnya siap untuk ditancapkan di puncak dunia !
Merpati tak Pernah Ingkar Janji


Pengalaman pertama saya menyantap kelezatan daging burung dara atau Merpati adalah ketika saya berumur 8 tahun. Pada suatu malam Ayah mengajak saya pergi makan ke rumah makan Ramayana yang terletak di sebelah bioskop Merdeka tepat di jantung kota Madiun. Sebagai anak kecil yang miskin pengalaman kuliner, maka saya main asal tunjuk saja ketika disodori daftar menu. Ternyata yang saya tunjuk adalah menu Burung Dara Goreng Mentega. Tak berapa lama kemudian sajian burung dara itupun terhidang di hadapan saya. Burungnya tergoreng dengan sempurna, menampilkan warna coklat kehitaman. Tekstur dagingnya lembut dan bagain-bagian tertentu seperti kulit dan sayap terasa amat garing dan renyah. Kelezatan burung dara goreng ini diperkuat dengan saus menteganya yang tampaknya terdiri dari tumisan bawang putih, mentega cair, kecap, saus tiram, serta kecap inggris. Jangan heran, meskipun saya masih kecil tetapi “jam terbang” membantu Ibu memasak di dapur sudah cukup tinggi. Yang sangat unik dari burung dara goreng mentega di rumah makan Ramayana ini adalah bumbu “cocol”nya yang terdiri dari garam dan Ngohiang. Biasanya bumbu ini disajikan bersanding dengan burung dara atau ayam goreng garing, tetapi di sini justru disajikan dengan burung dara goreng mentega. Ternyata sensasi yang diberikan luar biasa, sangat enak !
Ketika saya sudah menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di ibukota Jawa Tengah, setiap kali mudik ke Banjar Patroman-Ciamis saya selalu melalui jalur lintas Jawa bagian tengah. Selain kepadatan jalan di wilayah ini relatif lebih rendah ketimbang jalur utama Pantura ataupun lintas selatan, pemandangan di sinipun sangat indah. Perjalanan melalui jalur ini akan melintasi kota-kota kecil nan asri seperti Ungaran, Ambarawa, Temanggung, Parakan, Wonosobo, Banjarnegara, Klampok, Banyumas, Wangon, dan Majenang. Jalannya terkadang berkelok-kelok dan menyusuri punggung perbukitan di sepanjang batang sungai Serayu. Di suatu daerah persawahan yang membentang hijau antara Temanggung dan Parakan terdapat sebuah warung makan kecil yang menyediakan burung dara goreng yang sangat lezat. Setiap kali mudik ke rumah orang tua atau sebaliknya, saya selalu mampir di warung ini dan membungkus barang satu atau dua ekor burung dara goreng. Bumbunya manis mirip dengan bumbu baceman tahu-tempe, lalu gorengannya pas, asin dan renyah berpadu dengan rasa manis. Bila dimakan dengan nasi hangat dan sambal goreng ala Kalasan, wuih rasanya mak nyuss !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Burung Dara atau dalam taksonomi biologisnya dikenal sebagai Columba Livia atau Columba Domestica adalah seekor burung yang kaya hikmah. Tak heran bila sebagian bangsa di dunia sepakat untuk menjadikannya sebagai lambang atau simbol perdamaian. Pasangan burung dara adalah contoh ideal bagi keluarga yang menghendaki predikat sakinah, mawaddah, wa rahmah. Sebab sekali burung dara menentukan pasangan hidupnya maka ia akan setia pada pasangannya sampai hanya maut yang dapat memisahkan mereka. Burung dara jantanpun dapat menjadi contoh atau teladan bagi para bapak sedunia, dengan temboloknya dan bantuan hormon prolaktin mereka dapat menghasilkan susu bagi anak-anaknya. Burung inilah satu-satunya pejantan yang membantu menyusui anak-anaknya. Dalam hal orientasi hidup, burung inipun memiliki patokan dan parameter yang jelas. Setiap burung dara selalu dapat menentukan tujuan perjalanan dan tempatnya untuk pulang. Ia tak akan pernah lupa akan asalnya dan selalu bisa mencapai tujuannya. Bukankah kita, manusia, ingin menjadi seperrti mereka ? dan bukankah banyak di antara kita yang mengalami disorientasi dan lebih parah lagi bahkan sampai kehilangan arah dan makna hidup ? Contohlah burung dara, dengan memanfaatkan medan geomagnetik bumi serta perbedaan spektrum sinar Ulta Violet dari matahari mereka bisa menentukan tujuan hidupnya. Bukankah Allah SWT telah mengaruniakan alam semesta berikut segala isinya sebagai petunjuk juga bagi kita ? Tetapi sedikit sekali kita bersyukur !



Catatan :
Burung dara dan lumba-lumba hidung botol (tursiops javanica sp) adalah 2 hewan yang diketahui paling sering menolong dan membantu manusia. Bahkan dalam sejarah perang dunia kedua, ada seekor burung merpati pos yang mendapatkan bintang penghargaan setara dengan Silver Cross. Ketepatan, kecepatan, serta kecerdasannya dalam menghantar pesan melintasi garis depan pertahanan lawan menyelamatkan ribuan jiwa pasukan sekutu yang tengah terkepung. Tak kalah heroiknya adalah kisah tentang berbagai proses penyelamatan dan evakuasi di lautan yang dilakukan oleh lumba-lumba. Naluri dan keinginan menolong manusia yang sedang berada dalam kesulitan di lautan merupakan salah satu faktor utama yang membuat lumba-lumba menjadi begitu dicintai oleh para nelayan dan para pelaut yang mengembara di berbagai samudera. Lumba-lumba dengan pemancar gelombang elektro magnetik di dahinya, biasa disebut Melon, dapat melakukan komunikasi jarak jauh ( ada laporan yang menyebutkan terjadinya komunikasi antar lumba-lumba yang berada di samudera Pasifik dengan yang berada di samudera Atlantik), dan dapat menentukan posisinya secara geomagnetik di seluruh permukaan bumi, serta dapat menemukan korban-korban kapal tenggelam. Kemampuan lain dari lumba-lumba adalah kemampuannya untuk mengusir kelompok ikan Hiu yang akan memangsa para korban kapal atau perahu tenggelam. Lumba-lumba dengan sekuat tenaganya akan menumbukkan kepalanya ke badan ikan Hiu. Kekuatan tumbukan itu mampu membuat ikan Hiu jera dan menjauhi mangsanya.























Pecel Madiun

Berkunjung ke Madiun bila tidak berkenalan dengan pecelnya tentu kurang afdhol. Apalagi bagi saya yang menghabiskan 4 tahun masa kanak-kanak yang amat berbahagia di sana. Pecel sudah menjadi suatu kebutuhan pokok kuliner, tanpa pecel dunia terasa hambar. Yang paling istimewa dari pecel Madiun adalah bumbu kacangnya yang perpaduan antara gurih, asin, dan manis. Terlebih bila bumbu ini dibuat setengah kering alias tidak diencerkan seluruhnya. Bahkan pecel kegemaran saya justru pecel dengan bumbu yang kering. Dari semua keistimewaan pecel itu, ada 2 pecel yang akan saya kenang terus sepanjang hidup. Yang pertama adalah pecel yang dijajakan bakul-bakul pecel (Mbok Pecel) door-to-door di setiap pagi, dan pecel Warung Pojok. Pecel Madiun di pagi hari adalah sarapan yang paling bergizi sekaligus paling menyegarkan. Hampir setiap pagi di depan rumah saya berlalu-lalang para bakul pecel yang menggendong keranjang dagangannya. Dan hampir setiap pagi pula kami memanggil salah seorang diantaranya untuk mampir. Amsalah rasa dan kualitas hampir setiap Mbok pecel ini punya standar cita rasa yang nyaris sama. Sepincuk nasi putih hangat segera ditaburi sayuran di atasnya, bayem dan kecambah adalah yang utama, lalu bumbu kacang disiapkan serta disiramkan di atasnya. Si Mbok lalu menawarkan pilihan rempeyek, mau kacang, dele, atau teri asin ? Saya biasanya mau tiga-tiganya ! Bumbu spesial saya adalah bumbu kering yang tidak dicairkan atau hanya setengah dicairkan. Nasi yang terukur secara proporsional, sayuran yang segar dan bumbu kacang yang legit menyatu dalam sebuah harmoni di dalam rongga mulut. Sungguh suatu bentuk sarapan yang sarat akan cita rasa ! Kebutuhan karbohidrat, protein, dan serat tercukupi, sementara estetika rasapun melampaui standar kuliner yang sekedar "biasa-biasa" saja. Sungguh nikmat. Anehnya ritual sarapan pagi dengan pecel Madiun ini tidak pernah membuat bosan. hampir setiap hari dalam 4 tahun saya menyantapnya, dan hampir setiap hari pula saya merasakan sensasi yang sama.
Jenis pecel yang kedua adalah pecel yang dijajakan di Warung Pecel Pojok. Warung ini hanya berjualan di malam hari saja. Warungnya sangat bersahaja dan sederhana sekali. Bagian depannya malah hanya merupakan bangunan semi permanen, dengan dinding bilik (gedeg). Di dalamnya ada 2 meja saja. Yang satu berhadapan dengan sang penjual dan satu lagi terletak di ruang depan.Bila kita memesan maka sang penjual akan membuatkan pincuk-pincuk nasi Pecel untuk kita. Bumbunya pekat dan legit. Tapi yang istimewa dari warung ini adalah lauk-pauk pendamping Pecelnya. Di meja di hadapan kita tersedia beberapa nampan dan piring yang berisi berbagai jenis gorengan. Lauk favorit saya adalah otak goreng tepung. Otak sapi yang dari sononya memang sudah lezat digoreng dengan tepung yang menghasilkan sebentuk gorengan dengan warna kuning kecoklatan. Kulitnya renyah dan gurih serta otak di bagian dalamnya kering tetapi sangat lembut. sungguh teknik menggoreng yang amat istimewa. Demikian pula campuran bumbunya, sangat pas. Sehingga kelezatan otak dapat muncul maksimal dan kerenyahan tepung terjaga. Otaknya tidak lembek tetapi kering. Anehnya meskipun kering otak ini terasa sangat lembut. Bila dimakan dengan nasi pecel dan bumbu kacangnya maka akan tercipta sinergi rasa yang luar biasa !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Dalam konsep manajemen Positioning- Differentiation- Branding adalah sebuah segitiga keramat yang diusung oleh Hermawan Kertajaya dengan MarkPlus&Co-nya. Strategik, taktik, dan value serta kemampuan segmentasi atau mapping adalah elemen penting lainnya dalam sukses pemasaran. Di sisi lain positioning adalah suatu upaya elementer lain untuk merebut perhatian dan konsentrasi konsumen. Dalam praktiknya bila sebuah unit usaha telah memantapkan posisinya (positioning) maka langkah selanjutnya adalah melakukan proses diferensiasi yang di dalamnya terdiri atas 3 instrumen dasar, yaitu : content (what to offer), Context (How to offer), dan Infrastructure atau enabler. Muncullah brand image dan brand identity. Tapi ini adalah teori Pak Hermawan Kertajaya, dalam kasus bakul pecel barangkali saya punya teori tersendiri yang lebih membumi. Positioning yang dilakukan para bakul pecel bukanlah sebagai konglomerat dan korporat penghasil rupiah melainkan sebagai "smile" generator. membikin pagi lebih indah dan hari-hari akan lebih berarti karena diawali dengan keceriaan hati. Integritas adalah kata kunci bagi apra bakul pecel Madiun. Trust dan kebutuhan akan kehadiran mereka yang diharapkan setiap pagi oleh para pelanggan menjadi lokomotif motivasi bagi perputaran dan kelangsungan bisnis ini. Diferensiasi justru terjadi elemen enablernya. yaitu mulut dan produk bahasa. Setiap pagi mereka akan saling bertukar sapa, bertukar cerita dan saling menumbuhkan optimisme. Tidak ada keluh kesah dan tidak ada penyesalan yang berkepanjangan. Semua harus ceria dan semua harus bisa menikmati indahnya pagi. Teknologi yang termaktub dalam elemen enblernya adalah teknologi untuk meramu kesederhanaan bahan, ketepatan bumbu, dan kefasihan dalam mengolah canda dan cerita. Fasilitas yang dimiliki adalah kepahitan hidup dan berbagai pengalaman di dalamnya, lalu kapasitas personal yang mampu mengendapkan serta memetik hikmahnya adalah elemen people yang ""charm" and "warm". Mengapa kita tidak meneladani para bakul pecel ini dalam "menguyahi" (menggarami) dunia ? Barangkali keuntungan rupiah mereka teramat kecil, tetapi berapa puluh orang setiap harinya yang terbuka kesadarannya akan "indahnya" hari yang akan mereka hadapi. berapa puluh orang setiap harinya yang akan tumbuh optimismenya dan muncul kembali semangat juangnya ? Berapa puluh orang setiap harinya yang akan mensyukuri nikmat Illahi ? Betapa tak terperi "sentuhan" kecil dari para bakul pecel ini. Apapun bisnis dan profesi kita, peluang untuk menjadi "bakul Pecel" yang baik senantiasa terbuka. Tularkanlah semangat dan optimisme, warnailah hari-hari klien kita sehingga menjadi berbianglala. Apapun bisnis yang kita jalankan, alangkah berbahagianya jika itu juga menjadi media beribadah kita. Menjadi "bakul pecel" sudah selayaknya menjadi cita-cita kita semua.


Pecel Lele,Ikan Bakar, dan Ayam Bakar Telkom


Jarum jam tepat menunjukkan pukul 11.00 BBWI. Tenda norak dengan dominasi warna hijau dan biru itu tampak menjorok agak melampaui sepadan jalan Japati. Terletak tepat di samping kantor pusat PT.Telkom, Tbk sebuah warung pecel lele, ayam, dan ikan bakar berdiri. Kepulan asap yang masif menandai mulai beroperasinya warung tenda ini. Aku dan istriku bergegas memesan 1 porsi pecel lele, 1 porsi ayam bakar, dan 1 porsi bawal bakar. Lelenya garing dan gurih, ayamnya lezat dan empuk, bawalnya segar dan renyah. Tapi yang teristimewa dari itu semua adalah sambel terasi tomatnya yang istimewa. Sambel ini segar dan nikmat sekali. Tidak terlalu pedas, tidak juga terlalu manis, tetapi mampu menimbulkan kesegaran yang khas. Lele,ayam, dan bawal menjadi terasa ringan dan segar serta tidak membosankan rasanya bila berpadu dengan sambel istimewa itu. Dan berkat sambel ajaib itu pula warung tenda ini kebanjiran pengunjung. memang mayoritas pengunjung didominasi oleh pegawai dari PT.Telkom, tetapi banyak juga pengunjung yang penampilannya seperti mahasiswa dan remaja-remaja ABG. Terkadang rasa memang bisa melompati batas-batas kelompok usia dan strata sosial. Harga makanan disinipun tergolong murah dan terjangkau oleh setiap kalangan. Servicenya cepat, ramah, dan disertai kehangatan personal Suasana kekeluargaan memang menjadi atmosfer di warung ini, tegur sapa dan saling menanyakan keadaan atau perputaran cerita keseharian biasanya menguar darui meja ke meja. Sambel dahsyat di warung sederhana ini tampaknya tidak menggunakan media promosi khusus untuk menarik pelanggannya, hanya dari mulut ke mulut dan kesetiaan dari para pelanggan yang awalnya hanya iseng coba-coba. Kami yang sekali mencobapun akhirnya ketagihan dan menjadi pelanggan tetap. Kualitas cita rasa menjadi satu-satunya andalan yang punya selling point. barangkali kebijakan harga yang terjangkau serta pemilihan lokasi yang strategis juga cukup mendukung, tetapi seklai lagi tampaknya loyalitas yang terbangun berangkat dari kecocokan rasa. Banyak kompetitor yang menawarkan jenis produk yang sama dan dengan harga yang bersaing, serta berada di lokasi yang tak kalah strategisnya, tetapi tidak sesukses warung samping Telkom ini. Pemiliknyapun tampak yakin dengan kehandalan rasa yang menjadi materi utama jualannya. Ia tak pusing-pusing mencetak leaflet ataupun memasang poster di mana-mana.
.
Hikmah Spiritual dan Manajerial
Belum lama ini saya membaca satu seri komik Jepang yang terdiri dari 4 buku, judulnya Daikichi’s Salesmanship. Isinya sangat menggugah minat baca, santai, penuh petualangan komikal, akan tetapi membawa muatan keilmuan yang dahsyat. Dalam setting kehidupan remaja usia SMP, berbagai persalan bisnis dan pemasaran dapat diusung dengan plot cerita fiksi hiburan tetap terjaga. Tidak ada rasa digurui ataupun beban berat sebagaimana bila kita membaca buku ajar manajemen ataupun pemasaran. Daikichi berhasil mengaksepsi atau menyerap berbagai teori pemasaran praktis dari berbagai pengalaman yang dilaluinya. Lucunya yang menjadi “dosen” atau “guru” dalam kisah petualangan Daikichi ini adalah seekor kucing ajaib yang dapat berbicara. Jadi “Phlip Kotler”nya Daikichi adalah seekor dewa kucing yang “genit”. Bila kita kaitkan dengan studi kasus warung pecel lele di samping telkom, maka ada satu kisah di komik Daikichi’s yang sangat relevan dengan fenomena yang dapat diamati di warung itu. Pada suatu hari Daikichi ingin menolong seorang nenek pemilik toko permainan dan penganan tradisional yang jatuh bangkrut dan akan segera menutup tokonya ( pailit). Mundurnya usaha sang nenek ditengarai karena makin maraknya berbagai permainan dan penganan yang dibuat dengan sentuhan teknologi masa kini. Berbagai permainan berbasis teknologi digital membuat segmen pasar mainan tradisional yang sederhana dan banyak memiliki sentuhan personal termarjinalkan. Demikian pula kehadiran berbagai penganan modern yang bersifat praktis dan instan semakin marak dan semakin membuat penganan tradisional tidak kebagian tempat. Daikichi, tentu saja dengan bantuan kucingnya, memberikan solusi yang jitu agar toko tersebut dapat bertahan dan bahkan dapat memetik keuntungan. Daikichi melancarkan kampanye promosi dengan target advertorial didasarkan pada kategori kohort. Sasaran promosinya bukanlah anak-anak yang notabene merupakan captive market dan target pemasaran potensial produk yang djual di toko nenek. Target Daikichi adalah para Bapak di awal usia 40an yang memiliki kenangan dan nostalgia yang indah dengan berbagai permainan dan penganan yang dijual di toko nenek. Kelompok usia ini memiliki rekaman fotografis yang indah tentang masa-masa kecil mereka yang sarat dengan keceriaan. Dan biasanya kelompok ini mau membayar dan menukar dengan apa saja, sepenggal atau sepotong pelangi kebahagiaan mereka itu. Sebenarnya ini adalah fitrah atau naluri manusia. Allah SWT telah menciptakan hardware dan software penyimpan memori tidak hanya sekedar sebagai bagian dari sistem survival dan security melainkan juga agar manusia memiliki kelembutan hati, keceriaan, dan kebahagiaan yang tumbuh dan berkembang secara akumulatif dengan dipupuki oleh berbagai kenangan indah dalam hidupnya. Strategi Daikichi ini tentu saja berhasil, kan dia tokoh utama komiknya  Lalu dalam manajemen pelayanan dalam sebuah proses penjualan ( selling & marketing) dalam skala retail, Daikichipun menerapkan konsep-konsep sederhana nan canggih. Dalam konteks ini Daikichi memperkenalkan konsep kategorisasi calon pembeli, menjadi 2 kelompok utama (mainstream). Yang pertama adalah calon pembeli atau konsumen yang memiliki sifat Ikan Ayu ( Plecoglossus Altivelis spp), ikan ini amat sensitif dan bersifat “pemalu”. Bila seorang salesgirl atau salesmen terlalu proaktif dan mencoba melakukan interaksi yang intens terhadap kustomer semacam ini, maka mereka akan segera “lari” menghindar. Transaksipun akan batal. Jenis calon pembeli kedua adalah jenis Ikan Mas (Cyprinus Carpio spp), ikan yang sangat ramah dan “tidak takut” pada manusia. Bila kita mengulurkan tangan atau jemari kita ke alam kolam maka ikan jenis ini justru akan datang menghampiri. Calon pembeli berkategori seperti ikan Mas ini akan sangat senang dan merasa amat terbantu bila pemilik toko ataupun sales personnya bersikap proaktif. Pada kasus Warung Pecel Lele Telkom, atmosfer kekeluargaan yang terbangun dengan adanya interaksi antara penjual dan pembeli serta faktor “kekerabatan” temporer akibat persamaan misi pelanggan, akan mendorong terciptanya jenis-jenis pelanggan “ikan Mas”. Jadi secara praktikal tipe calon pembeli ataupun pelanggan dapat dikondisikan dan dibentuk melalui manipulasi atmosfer dan penciptaan budaya. Kondisi warung yang norak, sederhana, bersahaja, dan bersempit-sempit ria di atas sebuah got, justru merupakan “media” yang kuat untuk memancing kedatangan calon pembeli yang berjenis “ikan Ayu”. Calon pembeli jenis ini akan berkurang rasa “minder”nya dan menjadi tidak terlampau terbebani oleh rasa malunya, dan pada gilirannya akan memberanikan dirinya untuk mencoba memasuki warung ini. Citra norak dan kampungan ternyata merupakan umpan yang akan langsung disantap oleh para calon konsumen tertentu. Mengapa demikian ? Ada sebuah teori yang menarik dari seorang ahli psikologi persuasi asal Italia, Roberto Cialdini. Menurut beliau manusia itu memiliki beberapa sifat dasar yang hampir melekat dengan kepribadiannya. Salah duanya adalah comparison dan liking. Seorang manusia memiliki kecenderungan untuk membanding-bandingkan “nilai”. Antara nilai eksternal dan nilai internal ataupun antara nilai ekternal dengan nilai “ideal”. Kemudian bila ternyata gap atau kesenjangan dari hasil perbandingan itu tidak begitu mencolok perbedaannya, maka ia akan mengembangkan suatu sifat liking, alias menyukai. Sifat ini dapat berkembang menjadi sangat subyektif, radikal, dan fanatis.
Tetapi dalam bisnis warung pecel lele di atas, segala potensi dan kelebihan yang ditawarkan dan dimilikinya dapat berbalik menjadi handycap alias faktor yang mempersulit. Coba anda bayangkan, bila sebuah warung yang sempit penuh dengan atmosfer kekeluargaan yang hangat dan marak dengan canda tawa serta memiliki makanan murah yang lezat dan bergizi, apa yang terjadi ? Para konsumen akan merasa betah dan sulit beranjak dari tempat duduknya. Akibatnya apa ? Tentu saja warung ini akan memiliki tingkat turn over yang rendah ! Kualitas penjualan OK, tapi kuantitas penjualan not OK. Bagaimana caranya agar potensi tadi tidak berubah menjadi faktor kendala ? Kuncinya adalah jangan menambah kapasitas ! Lho kok begitu ?Atmosfer hangat hanya akan tercipta bila ruang tidak terlalu luas dan jarak biologis antara komunikator dan komunikans tidak melampaui kemampuan fisiologis pancainderanya. Interaksi antar manusia terjadi tidak hanya bertumpu pada contentnya saja melainkan juga pada proses deliverynya. Kedekatan secara fisikal menjadikan sebuah keakraban yang jauh lebih cair dibandingkan adanya rentangan jarak. Tetapi sesungguhnya ada beberapa hal penting lainnya yang bisa diraih dengan memanfaatkan “ruang bisnis” yang sempit ini. Kembali apda teori Cialdini, ada satu fitrah dasar manusia lagi yang dikenal sebagai reciprocity atau resiprositas. Secara sederhana sifat ini dapat diartikan sebagai “rasa turut bertanggung jawab” atau “korelasi rasa bersalah”. Bila seseorang melihat seseorang lainnya berdiri menunggu dalam jangka waktu yang lumayan lama, maka ia akan segera menyadari bahwa peristiwa yang dialami oleh orang yang dilihatnya adalah sebuah pengalaman yang tidak menyenangkan dan tentu saja tidak nyaman bagi yang bersangkutan. Salah satu pikiran yang akan mengganggu dan bersemayam di benaknya pada saat itu adalah “ aku berkontribusi pada ketidaknyamanan orang itu”. Karena pada saat itu kita sedang duduk nyaman sambil menikmati hidangan yang lezat dan mengobrol dengan penuh canda tawa. Fitrah resiprositas kita akan mendesak kita untuk mempercepat ritme makan kita dan sesegera mungkin memberikan tempat bagi barisan orang yang sedang mengantre dengan tidak nyaman tersebut. Sifat dasar inilah yang menjadi spirit dari seluruh konsep ibadah muammalah.”Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya”. Sifat kontributif dan menebar manfaat ini pulalah yang menjadikan seorang manusia dapat memperoleh kesempatan untuk membangun “surga” dunia, sebagai malaikat agen “rahmatan lil alamin”.

Jajanan dari Berbagai Penjuru


Malam-malam di Madiun adalah sebuah anugerah waktu yang teramat indah bagi pencinta kuliner. Pengalaman yang tak terlupakan selama saya tinggal di Madiun adalah ketika hampir setiap malam kami sekeluarga “nongkrong” di teras rumah untuk menghadang dan mencegat berbagai penjaja makanan angkringan dan beroda yang lalu lalang. Adu argumentasi biasanya berlangsung panas dan diwarnai hujan interupsi yang mengguyur deras. Topik perdebatan apalagi kalau bukan tentang “strategi penyergapan” dan jenis makanan apa yang malam ini akan disergap. Terkadang kami juga membuat menu kombinasi “ala carte”. Kebingunan dan adu argumentasi ini bisa terjadi akibat sangat beragamnya jenis penganan yang dijajakan berkeliling melalui jalanan di muka rumah kami. Jajanan favorit keluarga yang hampir tidak pernah terlewatkan di setiap malam adalah Tahu Reng. Penjualnya bisanya bapak-bapak setengah baya atau bahkan telah berusia lebih lanjut lagi, dengan menggunakan angkringan kayu sederhana. Secara kuliner jenis penganan ini tampaknya biasa-biasa saja, hanya tahu yang digoreng garing sampai terasa renyah dan disiram dengan saus yang terdiri atas perpaduan bumbu kacang, kecap, dan juga mungkin petis, serta sedikit cuka. Ditaburi sedikit bawang goreng ataupun irisan kol dan seonggok sambal di ujung sendok, selesailah sudah satu porsi tahu reng. Anehnya, tahu yang biasa-biasa saja dan bumbu yang tidak istimewa ini saat disantap di malam hari dengan angin lembah yang semilir, wuih, Subhanallah, nikmat sekali !
Jajanan peringkat kedua yang juga memiliki rating keminatan cukup tinggi adalah tahu campur. Penganan khas Jawa Timur yang melegenda dan merakyat di hampir semua daerah kabupaten dan kota di seantero jawa Timur. Tahu campur langganan kami bergerobak dan menimbulkan suara yang cukup spektakuler keras dalam mengundang pelanggan. Menu yang satu ini sedikit lebih kompleks dibandingkan tahu reng. Unsur tahu juga ada, jelaslah karena namanya juga tahu campur. Tahu di tahu campur juga digoreng garing nan renyah, lalu dikombinasikan dengan mie kuning, kuah kaldu kikil sapi yang kental, dan potongan kekiyan kuning yang kinyol-kinyol gurih. Perpaduan kuah kaldu lezat, panas, dan asin dengan mie serta tahu goreng garing yang dilengkapi kekiyan kuning, menghasilkan cita rasa yang sungguh luar biasa !
Ketika saya kuliah dan pada gilirannya bertugas sebagai pengajar di perguruan tinggi almamater, saya juga memiliki menu jajanan pedagang keliling favorit. Di daerah Candi tempat saya tinggal, khususnya di daerah permukiman belakang Akademi Kepolisian, setiap pagi berlalulah sebuah gerobak besar berwarna kuning kusam. Sebagian catnya sudah luntur, pudar, dan rontok di sana-sini. Gerobak ini adalah gerobak Soto Ayam Pak Gito. Bapak pedagang soto ini juga sebenarnya adalah salah seorang tetangga kami, beliaua juga tinggal di daerah perumahan kami ini. Setiap paginya dari bulan ke bulan dari tahun ke tahun, bahwan dari windu ke windu, Pak Gito senantiasa setia menyambangi rumah-rumah kami. Sapaannya yang ceria dan “ledekannya” yang memerahkan telinga, membuat kami menjadikan ritual makan soto di pagi hari ini adalah tradisi “wajib” bagi seluruh warga area Tengger, begitulah daerah kami dikenal. Pak Gito terkenal bermulut pedas dan berlidah tajam bila kita tidak “setia” membeli sotonya ! Tapi sebenarnya tidak usah dipaksa ataupun disindir kami warga Tengger hampir dapat dipastikan bila sehat dan tidak dilarang dokter, pasti mengkonsumsi 1-2 mangkuk soto di setiap pagi. Soto Pak Gito ini unik, karena meskipun dimakan hampir setiap hari, rasanya tidak pernah membosankan. Bahkan makin hari makin gurih dan lezat citarasanya. Saya ataupun warga lain tidak pernah tahu apam sebenarnya resep rahasia pak Gito. Sebenarnya kami takut untuk menanyakannya, maklum beliaukan berlidah silet, bisa-bisa kami yang kena semprot dan didamprat habis-habisan. “Wis gampang gari mangan wae kok mbanjur takon-takon barang ! Arep nyaingi aku dodolan soto opo piye ?” Tanyanya dengan wajah angker dan kumis japlangnya yang tak henti-hentinya diplintir. “Tinggal makan dengan mudah saja kok ya pakai nanya-nanya segala seh ?” Begitu mungkin dialognya bila Pak Gito terlahir di Betawi. “Ape elu mau nyaingin gue jualan soto ?”
Keistimewaan soto pak Gito ini tidak hanya terletak pada kuah kuning dengan tetelan ayamnya yang sporadis jarang-jarang itu, melainkan juga pada menu pelengkap yang senantiasa mengiringi semangkuk sotonya. “Ubo rampe” atau “tetek bengek” pelengkap yang wajib tersedia adalah sate ayam bumbu manis yang terdiri dari uritan, jeroan, dan kulit. Bumbu manis pada sate ini berupa saus rendam yang mungkin terdiri dari air kaldu rebusan, bawang putih, beberapa rempah lain, dan yang pasti ada unsur kecapnya. Semakin lama diungkep semakin gurih pula sate dan kuahnya ini.
Itu Madiun dan Semarang, bagaimana denga kota atau daerah lain ? Pernah pada suatu senja selepas maghrib, saya dan istri yang kebetulan transit 2 malam di Singapura setelah melakukan penerbangan yang melelahkan non stop 12,5 jam dari Istanbul, iseng untuk berjalan-jalan melemaskan kaki ke bulevar di belakang masjid Sultan di Bugis Street. Pemandangan yang kami nikmati sore itu lumayan berkesan, sederetan rumah tua dari era kolonial akhir abad 19 berjejer rapi memagari sebuah plasa yang tegak lurus ke arah masjid. Di tengah-tengah plasa itu tumbuh sederetan pohon palem yang sudah membesar dan cukup rindang. Suasana di plasa itu cukup hening karena terpisah dari jalan raya dan tersembunyi di balik bangunan-bangunan tua. Rumah-rumah era kolonial Inggris itu kiini menjadi kedai-kedai cantik yang menjajakan cendera mata, toko buku langka, penginapan, dan satu rumah di ujung jalan berubah fungsi menjadi café kecil yang hangat dan menyenangkan. Pemiliknya adalah sekeluarga Melayu Singapura. Mereka berjualan beraneka penganan mulai dari yang ringan seperti otak-otak ikan dan es Bandung sampai dengan makanan berat seperti nasi campur. Kami mencoba otak-otak ikannya. Ternyata otak-otak Singapura sedikit berbeda dengan otak-otak ikan di Indonesia. Meskipun sama-sama berbahan baku ikan, dibungkus daun pisang, dan juga dipanggang di atas bara arang, tetapi otak-otak Singapura lebih menyerupai pepes ikan yang dipanggang. Citarasanya lezat dan ikan yang telah digiling bersama tepung memancarkan aroma santan dan rempah-rempah yang pekat. Sambal kacangnya mirip sekali dengan otak-otak Indonesia, tetapi secara keseluruhan otak-otak Singapura ini memiliki ciri khas yang khusus dan sangat lezat.
Pernah pula pada suatu hari saya dan istri kehausan dan kelaparan setelah melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta KTM Komuter dari stasiun KL Central menuju kampus Universiti Kebangsaan Malaysia ( UKM) di Bangi. Selepas keluar dari peron stasiun kami beringsut-ingsut dalam udara yang gerah dan pengap menjelang hujan, menuju sebuah terminal bus lokal khusus milik UKM. Karena teramat haus maka kami singgah di salah satu kedai pinggir jalan tepat di samping pintu masuk terminal mini. Kedai itu menyajikan beberapa penganan kecil dan es Bandung yang terkenal di seantero negeri Melayu itu. Istri saya kegirangan karena ternyata kedai tersebut juga menjual Cempedak goreng, makanan favoritnya. Penganan berbalur tepung itu memang sangat lezat dan mampu mengguncang gema gustatoria di lidah kami. Rasa Cempedak yang manis pekat disertai sensasi gurih mirip mentega butter itu seolah meleleh ketika kami mulai mengunyahnya panas-panas. Tak lama kemudian es Bandungpun terhidang. Es ini memiliki warna yang spektakuler dan amat menggiurkan barang sesiapa yang melihatnya. Warna utamanya adalah “pink” alias jambon alias merah muda. Di wadahnya yang transparan tampak bongkahan-bongkahan es batu mengambang di permukaannya. Kalau ditilik dari segi rasa, tampaknya es Bandung ini berbahan dasar sirup dan diimbuhi susu. Tetapi yang istimewa adalah ketepatan komposisinya. Dengan komposisi yang tepat dan disajikan dengan suhu dingin, maka es Bandung adalah minuman impian di tengah hari Selangor yang biasanya sangat terik.
Masih di kompleks kampus yang sama, kami berdua memiliki tempat makan favorit, yaitu Pusat Makan Universiti yang terletak di lantai dasar gedung utama. Meja-meja yang tersedia banyak sekali, tetapi bila tiba saat makan siang dapat dipatikan penuh semuanya. Bahkan banyak calon pembeli yang harus sabr dan mengantri tempat duduk. Konsep penyajian makanannya mengadopsi konsep fast food, dimana pembeli bebas memilih lauk yang akan dimakannya. Setelah nasi, lauk pauk, dan minuman kita pilih dan letakkan di nampan maka kita tinggal membayar semuanya di kasir. Yang spektakuler dari cafetaria ini adalah begitu berlimpahnya jumlah makanan yang disediakan. Berbagai jenis ikan laut dan tawar bertumpuk-tumpuk menggunung dengan berbagai jenis ikan dan juga berbagai jenis cara memasaknya. Demikian pula daging, ayam, dan sayuran semuanya serba berlimpah. Aromanya jangan ditanya lagi, sebuah harmoni perpaduan antara aroma masakan Melayu yang bersantan dan kaya rempah, kari India, dan bau menyengat khas Timur Tengah. Rasa setiap masakan sangat istimewa, sungguh suatu pertunjukkan seni kuliner kelas dunia. Suasana makanpun sangat santai, tak jarang ada sekelompok mahasiswa dari Timur Tengah makan sembari mengangkat kedua kakinya ke atas kursi, maklum demikianlah budaya dan tradisi di daerah asal mereka. Banyak sekali mahasiswa Melayu yang makan dengan tangan, tetapi ada pula 1-2 mahasiswa atau dosen asing asal Eropa yang makan dengan tertib dan menggunakan set lengkap pisau garpu. Jika anda mau melihat indahnya keragaman budaya dunia singgahlah sekejap ke pusat makan ini.
Bila berbicara tempat makan di kampus tentu saya juga harus bersikap adil. Selain tempat makan nyaman di Bangi itu, sayapun sebenarnya adalah penggemar setia Nasi Lemak di cafetaria Hospital Universiti Kebangsaan Malaysia yang terletak di Cheras, sebuah daerah komuter di dekat Bandar Tun Razak, sekitar 10 Km dari KL. Dengan berbekal kartu pegawai “Perubatan” maka semua menu sarapan di café ini mendapat potongan harga yang lumayan. Karena hospital ini berskala internasional dan tim medisnyapun begitu heterogen terdiri dari berbagai macam bangsa, maka cafenyapun diperlengkapi dengan menu-menu yang dapat mengakomodir selera berbagai bangsa. Di salah satu sudut misalnya, tampak pastry yang menyediakan beraneka jenis roti mulai dari croissant sampai dengan roti baquette. Di sisi lain ada korner khusus masakan kari India. Lalu ada konter ayam Hainan masakan khas negeri Cina. Dan yang menurut saya paling penting adalah gerai yang terletak di tengah, disana disajikanlah menu favorit saya, nasi lemak nan gurih yang kental bersantan dengan taburan kacang dan suwiran ayam di atasnya. Sesendok sambal belacan, maka lengkaplah sudah sarapan saya di café ini. Sebenarnya waktu kami sempat tinggal untuk beberapa lama di sebuah hotel sederhana di kawasan Bukit Bintang ( pusat perdagangan dan turisme KL), ada seorang Haji yang setiap pagi menggelar dagangan nasi Lemaknya di atas sebuah meja di trotoar tepat di bawah jendela kamar hotel kami. Masalah rasa dan kenikmatan tampaknya Nasi Lemak Pak Haji tak ada duanya ! Nasi Lemaknya selalu lembut dan selalu hangat. Dan yang paling teristimewa adalah lauk sotong santannya. Alamak, gurih sekalee ! Subhanallah, Walhamdulillahirobbilalamin !
Meski mungkin sudah agak terlewat, sebenarnya sayapun memiliki histori tentang makanan bersejarah yang dapat ditemukan di rumah sakit. Saat saya menjalankan program kepaniteraan ( Clerkship) di Rumah Sakit dr.Karyadi Semarang, ada satu warung soto kumuh yang terpencil dan tersembunyi yang menjadi favorit saya. Baru mengetahui letaknya saja biasanya kita sudah merasa “serem” dan enggan untuk mampir di warung ini. Warung ini terletak begitu terkucil dan diapit oleh dua buah bangunan peninggalan Belanda yang menjadi bangsal perawatan penyakit dalam. Bangsal ini sering disebut bangsal kematian, karena tingginya angka mortalitas pasien yang dirawat di bangsal tersebut. Sebagian masyarakat Semarang mengenalnya sebagai Ruang VIII, tempat para pasien penyakit kronis dengan stadium lanjut dikumpulkan. Di bagian belakang dari Ruang VIII yang terdiri atas dua sayap bangunan berbentuk huruf U ada sebuah warung reyot setengah permanen, inilah warung legendaris itu. Sebenarnya semua yang dijual di sana sederhana dan “biasa-biasa” saja, misalnya soto, bakso, dan gorengan. Tetapi di balik encernya kalu soto ini ada mutiara yang tersembunyi. Yaitu; sate usus bumbu Klatennya. Sate usus ini sedemikian mungilnya, sehingga untuk semangkuk soto saja saya pernah menghabiskan 20 tusuk sate sekaligus. Jangan ditanya masalah rasa, so pasti yummy sekali ! Saking lezat dan gurihnya sate usus di warung legendaris ini, sampai-sampai berhembus isu-isu yang kurang sedap bahwa sebenarnya bahan baku sate ini adalah umbilikus atau tali pusat bayi yang dilahirkan di RS dr.Karyadi. maklum letak warung ini juga hanya sepelemparan batu dari kamar bersalin ( VK) dan ruang X tempat perawatan pasca melahirkan. Sampai kami meninggalkan rumah sakit seusai program kepaniteraan dan bahkan sampai warung legendaris ini turut dirobohkan bersamaan dengan program regenerasi rumah sakit, kami tak pernah berhasil menyibak misteri kelezatan sate usus itu. Sering terlintas dalam pikiran kami, “barangkali kelezatannya memang berasal dari tali pusat ya ?”
Masih membicarakan penganan dan jajanan di seputaran Semarang, saya dan istri punya tempat nongkrong yang agak horor, yaitu di taman seputaran Keerkof alias makam Belanda di daerah Candi. Tentu siang hari, tidak terbayang memang suasananya bila malam hari, agak-agak merinding gitu loh ! Lho kok bisa hang-out di deket makam ? Begitu pasti kalimat tanya yang segera tersirat di benak anda. Ada 2 hal yang memotivasi kami untuk selalu mampir di daerah ini bila mendapat kesempatan untuk singgah di Semarang, yang pertama adalah Ayam Bakar Mbak Cicik dan yang kedua adalah Soto Kikil Mbak Cantik. Mereka hanya berjualan beratapkan tenda sederhana dan memanfaatkan ruang masak dia atas sebuah colt tua bak terbuka. Ayam bakarnya mungkin dapat diklaim sebagai yang terlezat di seluruh dunia. Rasa asin, manis, gurih, renyah, empuk, dan berjuta rempah yang terserap sempurna menghasilkan sebuah perpaduan citarasa yang luar biasa. Bahkan saking lezatnta ayam bakar ini, saya senang sekali “menyedot-nyedot” dan “menyesap-nyesap” tulang ceker yang sudah nirdaging lagi. Pokoknya kelezatannya terasa sampai di sum-sum tulang, tulang ayamnya dan juga tulang saya. Sementara itu soto kikil, kaki, dan daging sapi Mbak Cantik tidak kalah spektakulernya. Padahal kuahnya bening dan tidak meyakinkan. Bahkan di awal perkenalan saya sempat meragukan kandungan kaldu yang terdapat di kuahnya. Tetapi setelah satu sendokan pertama membasuhi lidah saya, maka saya percaya bahwa kesegaran dan kelezatan soto Mbak cantik adalah satu dari 7 keajaiban dunia.
Masih di daerah yang sama, tepatnya di pertigaan Tong Hien, terdapat sebuah warung tenda dengan lampu teplok yang redup. Terpal dan kain penutupnya kusam termakan usia dan terkena debu jalanan. Tulisan tangan dengan cat merah di kain kuning lusuh itu berbunyi ; “ Nasi Goreng Babat Pak Baru”. Saya dulu sempat tertegun, yang baru saja sudah bobrok begini, apalagi yang lama ! Ternyata nasi goreng babat olahan pak Baru ini sangatlah istimewa dan sangat bertolak belakang dengan penampilan warungnya. Babatnya banyak dan empuk, isonya berlemak dan gurih, lalu nasi dan bumbunya pas sekali di lidah, tidak terlalu pedas tidak juga terlalu asin, dan porsinya tidak terlalu besar. Pas sekali. Pak Baru dengan telaten membuatkan satu persatu pesanan dari tamu-tamunya. Hebatnya racikannya bisa terstandarisasi dengan sempurna, dari satu piring ke piring yang lainnya citarasanya bisa selalu terjaga. Sungguh inilah nasi goreng yang paling orisinil sekaligus paling lezat di dunia ( mungkin).
Tidak seberapa jauh dari Kota Semarang, terdapatlah sebuah kota yang dikenal sebagai kota Kretek. Semenjak Nitisemito membangun dan mengembangkan imperium pabrik rokok kreteknya, maka kota inipun identik dengan industri rokok. Meskipun sebenarnya predikat ini tidak selamanya tepat, karena Kudus dikenal juga sebagai gudangnya santri dan kaum ulama. Tak heran, karena di masa awal-awal penyebaran Islam di Nusantara, Kudus adalah salah satu sentra dakwah di pulau Jawa. Bahkan kota ini memiliki salah satu tokoh yang termasuk dalam jajaran Wali Songo, yaitu; Sunan Kudus. Kudus juga dikenal sebagi kota Jenang alias makanan lengket yang terbuat dari ketan dan gula merah. Tetapi yang akan kita bicarakan adalah kehebatan Sotonya. Pengalaman pertama saya berkenalan dengan Soto Kudus adalah ketika dalam sebuah perjalanan dinas dari Semarang menuju kampus Undip Teluk Awur Jepara, Bapak Pembantu Dekan IV FK-Undip selaku pimpinan rombongan memutuskan untuk singgah dan sarapan di kota Kudus. Pak sopir langsung mengarahkan kendaraan kami memnuju alun-alun kota dan segera parkir di sebuah pelataran geduang yang menyerupai pasar. Saya bingung, mau makan apa kita ini ? Ternyata bangunan yang tampak seperti los-los toko di pasar tersebut adalah sebuah pusat penjualan soto di tengah kota Kudus. Bapak PD IV mengajak kami memasuki sebuah warung dengan label “ Soto Kebo Pak Denuh”. Wah memang luar biasa soto Kudus ini, kuahnya kental, kaldunya terasa sekali, dan yang paling meanrik adalah lauk pendampingnya. Ada usus, paru, limpa, hati, daging, lidah, dan otak. Kelebihan lain dari soto ini adalah kita diberi kebeabsan untuk meracik sendiri bumbu pelengkap yang sesuai dengan selera kita. Segera saja saya tuangkan kecap manis dalam jumlah banyak, lalu menyusul jeruk dan garam. Sebagai sentuhan akhir segera saya masukkan satu sendok sambal rawit. Alhamdulillah, Subhanallah. Allhuakbar, nikmat sekali rasa soto kebo ini, sungguh luar biasa !
Berbicara makanan denngan bahan baku yang agak tidak umum seperti Soto Kebo ini saya jadi teringat pengalaman perjalanan bulan madu saya dengan istri ke danau Sarangan. Mungkin pembaca masih ingat bahwa dalam bab sebelumnya saya juga pernah menceritakan perjalanan bulan madu kami ke danau Bedugul, Bali. Yah, memang bulan madu kami agak panjang, karena rasanya dalam 5 tahun pertama perkawinan kami, setiap bulan adalah bulan madu . Sarangan adalah sebuah daerah peristirahatan klasik yang telah berkembang semenjak masa kolonial Belanda. Letaknya di punggung Gunung Lawu yang menajdi perbatasan geografis antara provinsi Jawa Tengah dan provinsi Jawa Timur. Sarangan terletak di provinsi Jawa Timur, tepatnya di kabupaten Madiun. Panorama di Sarangan ini masih sangat asri dan etramat indah. Di punggung perbukitan dan gunung Lawu terhampar hutan pinus yang berwarna hijau tua, bahkan agak sedikit kelam. Sementara di lekukan lembah Sarangan terdapat sebuah danau yang bernama Telogo Pasir. Sebuah danau yang berukuran tidak begitu besar tetapi sangat cantik. Di tengah-tengah danau tersebut terdapat sebuah pulau kecil yang dirimbuni dengan berbagai jenis pepohonan sehingga menimbulkan kesan angker. Memang berbagai mitos tentang adanya hewan “aneh” penghuni danau kerap terdengar dari mulut ke mulut. Tetapi kondisi itu semakin menambah eksotisme Sarangan dengan Telogo Pasirnya. Salah satu hotel tua peninggalan Belanda yang terawat apik dan memiliki panorama paling indah adalah hotel Sarangan. Letaknya yang tepat berada di punggung Gunung Lawu memungkinkan para tetamunya menikmati hamparan pemandangan Telogo Pasir secara maksimal. Semua kamar di hotel ini di desain menghadap ke danau. Kamar-kamarnya sangat nyaman dan luas, hampir setiap kamar diperlengkapi dengan ruang tamu yang lebar dan perapian yang hangat. Ada satu kamar, atau lebih tepat disebut paviliun yang terletak paling ujung dan dibangun dengan desain art deco. Deretan jendelanya yang menghadap ke danau dibuat melengkung. Sehingga dari kamar No.1 ini kita akan mendapatkan pemandangan yang nyaris memiliki sudut pandang 1800 . Keelokan Sarangan juga amat ditunjang oleh udaranya yang sangat sejuk. Bahkan pada malam-malam di musim “mediding” atau pancaroba pergantian musim, suhu udara bisa sangat dingin dan membekukan. Keaasyikan lain yang dapat kita rasakan bila berlibur di sana adalah memancing. Saya dan istri yang memang hobi berat memancing seringkali menghabiskan waktu berdua dengan memancing di tepi danau. Ikannya cukup banyak dan beragam pula jenisnya. Kami pernah mendapatkan ikan Tawes dan Nila, sementara saudara kami di kesempatan yang berbeda bahkan pernah memperoleh hasil pancingan berupa Ikan Gabus. Keasyikan lain yang tak patut untuk dilewatkan adalah menyantap sate Kelinci. Kelinci ? Ya benar, sate kelinci adalah jajanan dan penganan khas Sarangan. Daging kelinci berwarna putih dan bertekstur lembut seperti ayam, tetapi lebih empuk. Dari segi rasa juga mungkin lebih enak. Banyak pedagang menawarkan sate kelinci ini sampai ke teras penginapan, dan hampir semua sama enaknya. Coba bayangkan, dingin-dingin kita menyantap sate hanget yang lezat dengan lontong yang kenyal, dan siraman bumbu kacang yang pedas, ah nikmatnya !
Tidak jauh dari Sarangan ada sebuah rumah makan yang sarat dengan nostalgia masa kecil saya. Rumah makan ini terletak di pemandian Ngerong. Sebuah pemandian dengan mata air asli dari sumber alamnya yang amat jernih dan sejuk. Jarak dari Sarangan ke Ngerong tidak seberapa jauh, mungkin sekitar 10 Km. Untuk mencapai Ngerong kita terlebih dahulu harus melewati satu lagi danau yang terdapat di punggung Gunung Lawu. Danau ini bernama Telogo Wurung. Danau yang satu ini sarat dengan misteri, karena dilarang untuk didekati. Sebabnya ? Danau ini adalah salah satu pangkalan rahasia TNI-AU. Ketika saya masih kecil, setiap kali melewati danau ini khayalan saya mengembara dan membayangkan bahwa di dataran sekitar Telogo Wurung terdapat ruang-ruang rahasia bawah tanah. Bila ada pesawat asing atu musuh yang mendekati pangkalan utama TNI-AU Iswahyudi di Maospati Madiun, maka tanah-tanah di pinggir danau akan terkuak dan dari dalamnya akan bermunculan rudal-rudal anti serangan udara, ah alangkah hebatnya fantasi itu. Rumah makan tua di pemandian Ngerong itu sudah bobrok dan tampaknya tidak pernah direnovasi secara serius semenjak zaman kolonial Belanda. Pemiliknya yang sekaligus berperan sebagai juru masak utama adalah seorang keturunan Tionghoa yang sudah tua. Amat ramah dan acap kali senang bercerita dengan pelanggannya. Rumah makan itu terletak di salah satu sudut kolam renang, berdempetan dengan deretan kamar ganti pakaian. Di bagian belakangnya hampir membentuk sudut siku 900 dengan bangunan rumah makan, terbentang kolam air deras seukuran 1x 20 meter, memanjang sampai mendekati sebuah kandang dan menara lompat indah. Dahulu pernah kandang itu dihuni oleh segerombolan kera yang sangat nakal. Dalam salah satu kunjungan saya bersama Ayah,Ibu, dan adik-adik, gerombolan kera ini pernah berhasil mencopet kunci mobil kami. Cukup lama juga barulah kunci tersebut dapat diambil kembali. Menu favorit saya di rumah makan ini adalah Ayam Kuluyuk. Dari tahun ke tahun setiap kali saya mampir di Ngerong menu itulah yang selalu saya pesan, dan anehnya saya tidak pernah bosan tuh. Lucunya ritual sayapun setiap kali berkunjung ke sanapun tidak pernah berubah. Datang, ngobrol-ngobrol sebentar, berenang, ganti baju, lalu makan, selalu begitu. Ketika saya datang dengan istri sayapun ritual itulah yang saya lakukan. Datang, berenang, ganti baju, dan makan. Istri saya tidak ikut berenang, baru mencelupkan jempol kakinya saja ia sudah bergidik kedinginan. Ia duduk tenang memperhatikan saya berenang dengan ditemani secangkir kopi susu yang mengepulkan uap hangat. Usai berganti baju, pesanan kamipun datang, Ayam Kuluyuk Legendaris. Rasa tepungnya yang tebal sungguh gurih, lelehan saus merahnya yang manis dan lezat mengalir melalui lidah yang terus saja berkecap-kecap menyerap rasa nikmat. Tak terasa dua piring nasi putih hangat licin tandas,begitulah kehebatan Ayam Kuluyuk Ngerong yang legendaris itu !
Jajanan dan penganan unik lainnya yang tak kalah sensasionalnya justru saya dapatkan dalam berbagai perjalanan kereta api. Kebetulan selain berprofesi sebagai dosen, saya juga menjalankan tugas sebagai peneliti dengan kajian khusus pada Teknologi Terapan. Terkait dengan tugas tersebut saya pernah menjalankan sebuah penelitian di PT.Kereta Api Indonesia. Penelitian itu bertujuan untuk menyelidiki faktor-faktor yang mempersulit tugas seorang masinis dalam menjalankan kereta apinya. Bagi sebagian kalangan, khususnya yang awam terhadap permasalahan transportasi, memang tugas masinis ini tampaknya amat mudah dan ringan-ringan saja. Lha wong sudah ada jalannya dan tinggal maju dan ngerem aja kok, demikian tanggapan sinis sebagian orang. Tetapi bila kita dalami dan cermati tugas-tugas masinis dalam mengoperasikan kereta api pada umumnya dan lokomotif pada khususnya, maka kita akan mengetahui bahwa tingkat kesulitannya cukup tinggi dan permasalahan yang dihadapinya juga cukup rumit. Jadi bila disimpulkan secara sederhana, untuk mencapai suatu kondisi “train worthiness” diperlukan pendekatan multi aspek pada sistem operasionalnya, termasuk masinis sebagai sumber daya manusianya dan teknologi sebagai daya dukungnya. Wah kok jadi ngelantur ? Padahal fokus kita dalam tulisan ini adalah “makanan” ! Memang masih ada hubungannya sih, karena ketika saya berdinas di lokomotif, otomatis saya menjadi tahu kualitas masakan masing-masing gerbong restorasi dari berbagai kereta yang berbeda-beda. Ada kereta dengan juru masak yang hebat banget. Meskipun bahan dan alat masaknya sangat sederhana serta ditingkahi pula guncangan kereta yang tak henti-henti, juru masak kereta tertentu punya kemampuan luar biasa untuk menyajikan hidangan yang lezat. Kami para masinis yang berada di lokomotif selalu mendapat jatah satu set rantang perorang ditambah masing-masing satu termos kopi manis dan satu termos teh pahit. Menu rantang memang monoton, variasinya paling-paling hanya nasi rames dan nasi goreng saja. Tapi ada saja kesempatan emas dimana kami bisa merasakan nasi rames dan nasi goreng yang super lezat. Bahkan terkadang racikan kopipun berbeda kenikmatannya dari satu kereta ke kereta yang lainnya. Yang ingin saya ceritakan di sini adalah kehebatan salah satu chef kereta api dalam menghasilkan masakan yang berstandar kuliner tinggi. Di kalangan awak kereta api, baik itu Petugas Lintas KA atau PLKA, Kondektur pemimpin perjalanan kereta api, ataupun masinis, ada satu kereta yang dapur restorasinya menjadi legenda. Restorasi KA legendaris itu adalah restorasi KA Bangunkarta alias Jombang-Madiun-Jakarta. Pengalaman pertama saya mencicipi kehebatan chef Bangunkarta ini justru terjadi jauh hari sebelum saya melakukan penelitian di PT.Kereta Api. Dalam sebuah perjalanan pasca mudik ke Semarang, kami sekeluarga memilih untuk menumpangi KA Bangunkarta yang berangkat dari stasiun Pasar Senen Jakarta, dengan alasan tiket kelas eksekutifnya jauh lebih murah bila dibandingkan dengan berbagai jenis kereta Argo jurusan timur via Semarang yang berangkat dari stasiun Gambir, dan juga jam keberangkatannya pas, pukul 13.30 BBWI. Mengapa pas ? Karena kami membawa anak-anak yang ketika itu masih bayi, sehingga jadwal yang terlalu pagi dan juga terlalu siang terkadang menyulitkan kami dalam mempersiapkan anak menjelang keberangkatan ke stasiun ( masih jam tidur atau istirahat). Ketika KA mendekati daerah Cirebon, tepatnya setelah melalui stasiun Arjawinangun, pramugara dan parmugari mulai menawarkan menu makan siang. Tanpa berpikir panjang saya dan istri langsung memesan Bistik Sapi, karena memang itulah menu favorit kami di kereta api. Tapi ketika makanan telah dihantarkan dan tersaji di hadapan kami, kami agak terkejut karena penampilannya jauh berbeda dengan bistik sapi di kereta-kereta lain. Ukuran porsinya spektakuler, bistik dihidangkan satu nampan penuh. Dagingnya di”geprek” lembut dan potongannya menjadi tipis, diatasnya tampak taburan merica setengah halus dan potongan-potongan bawang goreng yang sudah layu terkena siraman kuah panas. Kentang gorengnya berbaris dengan rapi dan diris tebal-tebal hampir segitiga, dan bukan diiris vertikal memanjang tipis sebagaimana biasanya. Buncis dan wortelnya tampak layu karena direbus, ketika saya comot satu dan memasukkannya ke dalam mulut ada rasa manis yang menguar dari potongan buncis dan wortel yang saya kunyah. Rupanya kedua jenis sayuran ini direbus dengan bumbu khusus. Tapi keterkejutan kami belumlah selesai, tba-tiba seorang pramugara menyodorkan ke hadapan kami sepiring nasi putih hangat dalam porsi yang cukup banyak dan masih mengepulkan uap panas yang menyegarkan. Kami kaget, karena biasanya di kereta api lain bistik hanya disajikan dengan kentang gorengnya saja, dapat juga kita meminta tambahan nasi putih, tetapi itu bersifat opsional. Ternyata di Bangunkarta, nasi adalah bagian integratif dari set menu Bistik Sapi. Tak sabar lagi segera kami mencoba main course bistik ini, daging kami kerat sepotong demi sepotong dan kami pindahkan ke piring nasi untuk selanjutnya kami sirami dengan kuah kental kecoklatan yang beraroma sangat harum itu. Ternyata aroma memang tidak pernah berdusta, kuah kental itu sangat lezat dan kelezatannya melekat dilidah kami. Kebahagiaan kami terus mengalir, seiring dengan suapan potongan demi potongan daging sapi yang ternyata juga tak kalah lezatnya. Sehingga secara keseluruhan, mulai dari sayuran pendamping, kentang goreng, kuah kental, sampai dengan daging semuanya memiliki citarasa dengan orkestarsi kelezatan sempurna. Apalagi nasi putih yang dihidangkan ternyata juga sangat pulen dan menguarkan keharuman Rojolele aseli. Kejutan belum berakhir ! Ternyata es teh manis yang kami pesan sebagai minumanpun bercitarasa kelas tinggi, sungguh suatu es teh yang pas di lidah, menyejukkan, dan mampu mengkristalkan kelezatan makanan yang baru saja kami santap.
Pengalaman indah wisata kuliner kereta api ternyata tidak hanya saya alami di kereta Bangunkarta saja, melainkan pernah juga saya alami di sebuah kereta kelas ekonomi yang bernama Kahuripan. Kereta ini bertrayek antara Bandung-Kediri. Saya menumpang kereta ini karena akan bepergian ke Banjar Patoman, ketika itu masih merupakan sebuah kota kawedanan kecil di kabupaten Ciamis. Saat ini Banjar telah berkembang menjadi sebuah kota mandiri yang memiliki Walikota sendiri. Tetapi semenjak zaman Belanda, stasiun Banjar sudah menjadi sebuah stasiun yang sangat penting di lintas KA selatan Jawa. Bahkan Banjar merupakan stasiun terbesar kedua di ajwa Barat setelah Bandung. Dipo induk lokomotifnya besar dan setiap kereta utama ( kereta bendera) berhenti dan singgah di sini. Sebagai sebuah stasiun hub Banjar berperan penting untuk mempersiapkan perjalanan berat mendaki punggung-[unggung pegunungan tanah Priangan. Dan sebaliknya tempat berehat dan memeriksa ulang sistem pengereman setelah menuruni jalur yang curam, mulai dari Nagreg sampai dengan Karangkamulyan. Sengaja saya memilih KA ekonomi, karena tiketnya murah dan pengalaman yang bisa didapatkan diatasnya sangat beragam. Ketika KA mulai bergerak dari stasiun Bandung terlihatlah “keriuhan” di setiap gerbong. Beraneka manusia dengan beragam profesi tumpah ruah di dalam gerbong. Ada tukang ayam dengan rombong ayamnya, ada tukang sayur, bakul jamu, tentara berpakaian dinas lengkap, petani, pedagang makanan, tukang kerupuk dengan wadah kerupuk dari sengnya yang memenuhi gang antar kursi, dan banyak lagi bermacam jenis manusia, mungkin copet juga ada ! Ketika kereta mulai menuruni lembah Leles, selepas melalui stasiun Lebak Jero, maka terbentanglah pemandangan persawahan Garut yang mempesona. Berhektar-hektar sawah menghijau indah, ditingkahi satu dua gerumbul pohon kelapa yang menyembul, lalu tampak sekelompok atap genting merah bata rumah-rumah kampung menyeruak kabut pagi yang tertiup dari Situ Cangkuang. Di tengah-tengah gerumbul atap merah bata itu, menyembul secara mencolok sebuah kubah potongan bawang dengan warna perak mengkilat. Bulan bintang terpatri kokoh di puncaknya. Di tepi kampung, empang-empang gurami berkilauan ditimpa cahaya matahari pagi. Beberapa anak ikan mas kumpay berkecipak menimbulkan riak-riak yang sirkuler meluas sampai pecah di tepian. Satu dua pokok keladi bunting atau eceng gondok menyempil di antara bebundaran daun teratai berbunga ungu kemerahan. Jika kereta ini bisa mendekat atau jendela kacanya adalah suryakanta, maka saya yakin akan tampak oleh netra induk katak dengan anak-anak kecebongnya sedang berjemur di perdu-perdu kiambang . Sungguh suatu pagi yang mempesona. Memasuki Warung Kiara matahari sudah sepenggalah, suhu gerbong berangsur-angsur menghangat. Seorang Ibu tua di hadapan saya tengah asyik masyuk mengupas telur asinnya. Pak tentara tertidur dengan mulut yang menganga lebar bak gua Selarong. Seorang anak gundul terkikik geli melihat Pak Tentara yang mulai ngiler, segera saja Ayahnya mencubit keras dan mendelik ganas. Anak gundul itu cemberut, lalu membuang muka ke arah jendela di seberang tempat duduknya. Perlahan tapi pasti abu asem yang bercampur dengan beraneka aroma tak sedap lainnya mulai menghegemoni udara. Sebuah sinergi dari baju-baju yang tak kering ketika dicuci, kaus kaki yang tak diganti selama 2 minggu, bau ketek remaja yang sedang “beger”, iler pak Tentara, jigong si anak gundul, dan tentu saja aroma rokok Klembak Bako si nenek yang tampaknya berasal dari Purworejo. Pokoknya baunya “nano-nano” deh ! Tapi Allah Maha Adil, tak lama kemudian keretapun memperlambat lajunya dan dari arah roda terdengar derit-derit pengereman. Semakin lama seritan itu semakin menusuk telinga, seolah jeritan seorang nenek tua yang tubuh rentanya terseret di dua bilah rel-rel baja. Sinyal muka pertama terlalui, sebuah tiang loreng kuning hitam tinggi dengan lengan merah yang tertutp membentuk sudut sembilan puluh derajat. Sinyal itu menandakan kereta harus berhenti, sebuah sinyal lengan yang kokoh, Westinghouse tentunya ! Dengan kecepatan yang semakin melambat, kereta mendengus-dengus memasuki emplasemen stasiun Cipendeuy. Jeritan terakhir sang Nenek Tua yang memilukan diikuti sebuah guncangan kelembaman yang mendorong gerbong-gerbong berdansa bak Kora-Kora, maju-mundur, mengawali sebuah keheningan gerak. Berhenti total, 10 meter tepat sebelum sinyal keluar Cipendeuy. Aman, jauh dari wesel. PLKA segera berlompatan dan saling berlomba memainkan tetabuhan atau kentrongan ? Mereka dengan bersemangat sekali, maklum mungkin habis menyantap 3 porsi nasi goreng di restorasi dan tentu saja dua gelas kopi plus Sam Soe sebiji, memukuli gandar dan roda-roda rangkaian. Mereka dengan teliti mengamat-amati sepatu-sepatu rem dan tak lupa juga memeriksa selang-selang pakem. Sementara itu di lain pihak, tiba-tiba terdengar ensamble vokal yang monoton dan miskin variasi nada, memekak dengan intensitas sekuatnya; “ Nasi Ayam,Nasi Ayam, Nasi Ayam !” Sungguh kejutan kaudanya mengingatkan kita akan adegan perang di Opera Aidanya Ferdi. Saya bergegas segera beranjak menuju pintu keluar, dengan modal selembar lima ribuan saya mendapatkan dua bungkus nasi ayam hangat dengan sambal leuncanya yang sangat menggoda. Di atas potongan ayam goreng garing yang beraroma kelapa ini tertumpuk serundeng kelapa dan potongan-potongan tipis laos, oh alangkah harum dan gurihnya. Nasi putih sekepalan dan sambal leunca dengan oncomnya yang kecoklatan berpadu mesra dengan kulit ayam goreng renyah yang terselubung serundeng dan laos goreng. Sempurna. Subhanallah !
Yah itulah sekelumit nikmatnya jalan-jalan pakai kereta, mau yang eksekutif maupun yang ekonomi masing-masing punya keistimewaannya sendiri-sendiri.
Ada kisah lain yang tak kalah serunya. Tepat di belakang dipo lokomotif Bandung, di jalan Kebon Kawung persisnya, di setiap sore berdiri sebuah warung tenda nan bersahaja. Bahkan tulisan namanya saja sudah nyaris tak terbaca. Pemiliknya adalah sepasang lansia keturunan Tionghoa. Sepasang orang tua yang patut untuk menjadi teladan dari sebuah konsep yang dikenal sebagai “integritas”. Dalam konteks akidah dapat pula disebut sebagai sikap Istiqomah. Om dan Tante Tua ini menghabiskan sisa hidupnya dan mendedikasikan seluruh pengetahuannya secara konsisten untuk melayani dan memuaskan selera kuliner pelanggannya. Mereka teramat ramah dan gemar bertukar cerita menyampaikan berbagai hikmah kehidupan. Bisnis mereka kecil saja dan semenjak dulu selalu kecil, karena mereka telah berikrar untuk memberikan layanan dengan sentuhan personal. Om dengan berbagai pengalamannya mengembangkan resep-resep unik yang bahkan tidak pernah terdengar di khazanah dunia masakan Cina maupun masakan tanah air. Salah satu contoh kreasi kulinernya adalah Kwa Cho. Apa sebenarnya Kwa Cho ini ? Tak lain dan tak bukan sebuah masakan sederhana berbahan dasar Ikan Kakap yang dikembangkan secara pribadi oleh Si Om sendiri. Begitu sederhananya masakan ini, sehingga saya nyaris tak percaya jika makanan ini dapat menimbulkan sensasi kelezatan yang luar biasa. Fillet Kakap yang dibeli dari pasar basah Pasar Baru, dimarinade dengan bawang putih dan saus tiram serta kecap asin, lalu Om membuat adonan BakPau yang terdiri dari tepung terigu dan ragi. Setelah adonan mengembang maka Om akan mulai memanaskan minya goreng dalam kuali raksasa di atas sebuah kompor kerosin pompa ( kompor Mawar). Setelah minyak goreng panas dan menimbulkan suara mendesis, maka Om segera mengambil 2 batang sumpit. Dijepitnya satu potong fillet Kakap. Dengan ketrampilan yang luar biasa, tentu hasil latihan bertahun-tahun, Om memutar-mutar fillet Kakap di jepitan sumpit dalam adonan Bak Pau. Setelah terbentuk bulatan sebesar bola pingpong, Om segera memasukkannya dalam penggorengan. Demikian terus menerus dan susul menyusul sampai habislah fillet Kakap mentahnya. Lalu kejaiban terjadi, bola pingpong dalam penggorengan melembung dan membesar 1,5 kali lipat dari ukuran awalnya. Warnanya menjadi sangat cantik, coklat kekuningan. Tak berapa lamapun aroma roti goreng bercampur kelezatan ikan Kakap menyergap hidung saya. Api besar berkobar-kobar dan menggolakkan minyak dalam kuali. Tante bergegas menyiapkan lodor porselen berornamen naga di tepi-tepinya. Bola-bola BakPau Kakap itu ditiriskan lalu disusun berbanjar di atas lodor, sebagai sentuhan terakhir Om akan “menyiramkan” sedikit minyak wijen di atas bola-bola BakPau Kakap. Hidangan siap dimakan dengan saus sambal dan nasi hangat, sungguh nikmat !

Hikmah Spiritual dan Manajerial
Ayo syukur nikmat !!! Dan jawablah pertanyaan yang sama dengan yang telah diberikan kepada Nabi Ibrahim AS, “ Hendak kemanakah engkau manusia ?” “Fa ainna tadzabun ?”
Inilah akhir dari kisah perjalanan kelana kuliner tahap pertama kita, Insya Allah dengan kemampuan kita untuk mencerap kenikmatan dari rizki Allah dalam bentuk makanan, maka “metabolisme” keimanan kita akan semakin sehat dan semakin bermartabat.

Warung Sebelah Rumah

Alhamdulillah setiap mudik ke rumah Bapak selalu saja di sekitar rumah beliau ada warung makan yang super uenaak ! Ketika Bapak bertugas di Solo dan saya masih berkuliah di Semarang, tepat di samping rumah beliau ada sebuah rumah makan kecil yang menjual makanan khas Solo seperti Sosis Solo. Ketika akhirnya beliau pindah tugas dan ditempatkan di Jakarta, beliau tinggal di daerah Lebak Bulus, tepatnya di belakang terminal Lebak Bulus dan dekat dengan stadion Lebak Bulus. Nah, di dekat rumah yang ditempati oelh Bapak dan Ibu itu terdapat sebuah warung Padang kecil dengan nama Mak Datuak. Tepatnya warung ini berdiri menempel di tembok terminal, kondisi warung lumayan kumuh dengan bangunan semi permanennya yang catnya sudah mengelupas dan luntur di sani-sini. Tapi soal kelezatan makanan, jangan tanya ! Masakan apapun dari warung ini lezatnya bukan main. Bahkan sering saya dan Pak Parjo, spengemudi setia Bapak yang sudah lanjut usia, hanya membeli nasi bungkus yang terdiri dari nasi putih, kuah, dan sayur daun singkong saja. Tapi alamaaak ! Rasanya tetap mak nyuusss ! Sampai-samapi kami berpikir bahwa jangan-jangan warung ini menggunakan daun ganja sebagai penyedap masakannya. Maklum, kami dengar teman-teman di Aceh justru pada awalnya menggunakan daun ganja ini sebagai bumbu penyedap masakan yang mampu menggugah selera makan.
Kemudian karena Bapak ternyata mendapatkan rumah dinas dari pemerintah untuk ditempati maka Bapak-Ibipun pindah rumah lagi. Kini rumah dinas yang ditempati terletak di jalan BDN daerah Cilandak Tengah. Karena lingkungan sekitarnya adalah kompleks perumahan yang rata-rata adalah rumah dinas pemerintahan, kami berpikir warung makan kecil macam Mak Datuak tak mungkin ditemukan disini. Tetapi ternyata, Subhanallah, Allah Maha Tahu, persis di seberang rumah, meski agak menyerong, terdapat sebuah warung super kecil yang menjual makanan siap saji dan Alhamdulillah ternyata juga sedap sekali. Hanya saja kali ini jenis makanan yang dijajakan adalah makan yang didominasi masakan khas Jawa. Tetapi sekali mencicipi balado kembung dan sayur lodehnya, maka seolah lidah kita tak bisa berhenti bergoyang ! Heran, warung dengan masakan selezat ini kok ya masih tersembunyi, nyempil, dan omzetnya biasa-biasa saja. Padahal banyak rumah makan mewah yang sebenarnya secaraq kulinari tidak menawarkan kelebihan apa-apa.
Itulah sekelumit kisah tentang makanan enak di warung sebelah rumah. Oh ya hampir lupa, di tempat saya tinggal saat ini, sebuah kompleks perumahan di pegunungan nan terpencil di tepian kota Bandung, juga ada sebuah warung kecil di terminal yang nasi ramesnya enak dan gurih sekali. Yah, rupanya nikmat Allah bila kita cermat dan teliti dalam mengamatinya, bisa kita temui dan jumpai di mana saja, bukankah bumi ini adalah bagian dari limpahan nikmat-Nya yang tak berhingga untuk kita ?

Hikmah Spiritual dan Manajemen
Nikmat Allah ternyata tidak usah susah payah dicari kemana-mana, di dekat kita bahkan sampai melekatpun nikmat Allah kita bawa-bawa, sayangnya sedikit sekali kita menyadarinya, dan akhirnya sedikit sekali mkita mensyukurinya. Di saat kita melamun berkhayal-khayal tentang pengalaman makan malam dengan menu bekicot (escargot) di Paris sana, tak lebih dari sepelemparan batu di seberang halamn rumah kitapun ada nasi Rames yang uenaak tenan ! Atau bahkan 10 langkah dari tempat kita duduk berangan-angan itu tersedia nasi goreng hangat dengan taburan pete yang kolosal…ehmmm ! Tidak jauh, nasi goreng itu bisa kita dapati di dapur kita sendiri. Bilangan nikmat Allah tak berbatas, dan kita jarang sekali berusaha untuk mencermatinya. Orang-orang yang gagal dalam mencermati nikmat Allah akan mengembangkan karakter psikologis hedonis, dimana tuuan hidupnya semata hanyalah untuk mengejar kenikmatan belaka. Persis seperti apa yang diuraikan oleh Millon seorang ahli biososial yang mengatakan bahwa manusia akan terpolarisasi ke dalam 3 jurusan, yaitu mencari kenyamanan dan menghindari ketidaknyamanan atau kesakitan, melakukan upaya aktif untuk memodifikasi atau memanipulasi keadaan agar kenyamanan yang diapatkannya maksimal, serta bila terpaksa baru akan bersifat akomodatif terhadap kondisi yang dihadapinya. Padahal untuk apa sesungguhnya kita jungkir balik mengejar kenikmatan, bila kita sebenarnya terbenam dalam samudera kenikmatan itu sendiri ? Nikmat Allah mana lagikah yang ingin kita ingkari ? Karena kita tidak pandai untuk mensyukuri nikmat yang telah kita terima, maka kita merasa masih begitu banyak kenikmatan lain yang harus digapai, dan pada akhirnya proses menggapai kenikmatan itulah yang menjadi tujuan hidup, alias tuhan yang diimani. Bila sebuah proses naik pangkat menjadi tuhan yang diberhalakan, dimanakah gerangan “sosok” Tuhan yang semestinya kita imani kita sembunyikan ?
Proses apapun dalam kehidupan kita, baik bisnis, berkeluarga, berkomunikasi dengan sesama, ataupun berbagai interaksi sosial lainnya, haruslah memiliki “ruh” sebagai sebuah jalan. Yaitu sebuah jalan lurus yang semata bertujuan hanya untuk menemukan hakikat Tuhan !








Epilog
Jalan Syukur


Panulirus versicolor alias Lobster dengan ukuran yang ualamaak nyusss, nongkrong dengan anggunnya di atas nampan beralas pelepah pisang. Dagingnya nan merekah, harum menguar, nikmat aroma. Bumbunya meleleh disekujur tubuh lobster yang padat berisi, ehm pasti yummy sekali, kuningnya pasti dari kunyit, sengatannya pasti dari jahe, aromanya pasti dari bawang putih, dan gurihnya pasti dari santan kelapa. Ikan Layur “bedhog” terpanggang dengan sempurna dengan aroma yang legit dan tekstur yang lembut. Ayam Kodok dengan kuah kental tampak indah memancarkan warna kulitnya yang coklat keemasan. Lalu berturut-turut Sapi Lada Hitam, Kepiting Saos Padang, Tim Ikan Sebelah ( Pihi), Kailan Ca Cumi, Bebek isi Asparagus, Burung Dara Goreng bumbu Ngohiang, Dendeng Balado, Gajeboh Tunjang, Gulai Otak Sapi, Pepes Pedha, Beuleum Petey, Rujak Cingur, Woku Blanga, Kwe Tiaw, Lawar Putih Bali, Spaghetti Carbonara, Tahu Telor, dan bertumpuk-tumpuk lagi makanan lezat tersaji silih berganti di hadapan kita. Semua unsur makanan di alam semesta telah bertasbih dan berzikir kepada Allah SWT dengan menjalankan Sunatullahnya secara kaffah dan istiqamah. Adalah ladang amal mereka untuk menjadi bagian dari santapan dan kenikmatan kita, manusia. Mereka semua, baik hewan maupun tumbuhan, tidak pernah mengeluh akan peran jenisnya yang sebagian besar berakhir di pinggan makanan. Semuanya ikhlas dalam menjalankan takdir dirinya, bahkan bahagia ketika mereka menjadi apa yang seharusnya mereka menjadi. Lalu kita manusia mengembangkan suprastruktur yang bernama sistem manajemen kehidupan. Lalu lambat laun manusia meng”kapitalisasi” semua elemen kehidupan dan menyebutnya sebagai bagian dari ilmu Ekonomi. Bahkan dalam beribadahpun prinsip itu kita gunakan, padahal setiap aspek kehidupan adalah ibadah, bila niatnya benar. Berarti jika setiap aspek kehidupan kita materialisasi dan kapitalisasi maka niat kita sudah menjadi niat “ekonomi”. Sayang sekali, karena ganjarannya akan terdegradasi menjadi hanya sebatas “alat tukar” ekonomi pula. Padahal jika niat kita “ Lillahi ta’ala” maka ganjarannya adalah “bahagia dunia-akhirat”.
Setelah segala nikmat dikaruniakan Allah SWT kepada kita, mengapa sulit sekali bagi kita untuk mensyukurinya ?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home